“Have Something To Say?”

Tanya sebuah aplikasi pengolah kata yang sering saya gunakan akhir-akhir ini.
“Tidak ada. Tapi aku punya segudang cerita yang bisa membuatmu muak mendengarnya. Hahah..”
.
.
Akhir-akhir ini saya suka bercerita tentang Kang Mus ya? Ada apa?. Pernah tidak sih kalian merasa suka dan kagum pada seseorang, tapi bukan deep love seperti ke pasangan/soulmate kita?. Ya suka saja.. there is no need to excuse, hahaha cuma suka. Dan parahnya saya suka dengan suaminya orang. Blahblahblah.. πŸ˜‚
.
.
Suatu pagi, saya males banget. Sampai di tempat kerja Mas Rizki dan Mas Khasan sibuk sekali. Mas Khasan menyuruh saya untuk membangunkan Dika yang sedang tidur di lantai dua.
Dika mah memang begitu, jarang pulang ke rumah dan sukanya nginep di lantai dua. Saya sering bertanya “Kamu nggak kedinginan? Emangnya nyaman?”
Dia jawab sekenanya. Tapi saya ngerti dia sudah tidak nyaman sejak awal, secara batin maupun fisiknya. Mungkin akhir bulan ini Dika mau resign. Karena baginya Magelang lebih nyaman melebihi kota manapun.
Saya naik tangga dong, buka pintu ruangan tersebut dan memanggil Dika.
“Dikaaa…, tangi Dik..” sounds like Dika~ main yuukk.. Afikaa iyaa~
Karena suaraku benar-benar seperti anak kecil. Jadi inget, kalau dulu manggil Mas Ipul. Harus pakai namanya sekalian.. karena dia nggak akan noleh atau dateng kalau aku tidak panggil namanya.
“Mas.. Mas.. ” pura-pura budeg dia..
“Tapi kalau Mas.., Mas Ipul..~” barulah dia dateng dengan tampang jahil.
Lanjut..
“Jam piro ho Sa?” Tanya Dika dengan logat kental Magelang-Jogja sekitarnya.
“Jam piro Sa?” Terdengar suara lainnya. Syok,
“Eh, Kang Mus jebule neg kene..”
“Jam piro?”
“6.30 lebih..”
“Mosok??” Keduanya. Lalu Kang Mus menyuruh Dika untuk mandi duluan.
Saya turun lagi. Laporan ke Mas Khasan.
“Wes do tangi durung mau Sa?”
“Lagi tangi, jebule Kang Mus neg duwur.. hahahaha. Gak bali ndek bengi jebule..”
“Yo kan? Ra jelas..”
Perihal Mas Rizki. Ganteng sih.. tapi agak lekong. Pernah suatu ketika saya lupa tidak mengerjakan sesuatu dan baru separuh jalan, bukannya diingetin langsung. Tapi cuma nyorat-nyoret buku ku dengan “Hello… hello…??”. Sempat kesal tapi yasudahlah.. toh aku yang salah.. mau apa lagi?.. ya kan?.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷”SA..” (YANG)”
Salah satu sisi sengklek diriku mulai menambah-nambahi kata dalam kurung tersebut di dalam hati. Ketika Kang Mus sudah memanggil “Sa..”
Ya Allah.. bojone wong, ojoo saaa… jangan!!! Tidaaaak… πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Kalau “Ris..” kan masih normal, tapi Sa.. aduh, sial baper..
.
.
.
πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€HUMOR DEWASAπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€
Hujan sedang deras-derasnya dan angin kencang sekali.
“Hawane enak e lahpo Sa?”
“Turu..” jawab asal.. emang aku ngantukan orangnya.
“Turu karo sopo?”
“Turu karo guling,” saya benci kalau dia dan yang lainnya mulai bicara seperti ini.
“Mosok turu dewe,”
Lalu saya mengabaikannya.
Di waktu lainnya, entah bahas apa. Saya tidak menanggapi Kang Mus. Melengos dan dia kesal sendiri..
“Asem asem.. diplengosi, aku rasane kayak ra dianggep..”
Aku ketawa
“Aku gak seneng mbahas ngono kuwi Mas, hahahaha”
“Mben gak sepaneng. Guyon sitik lah..”
Gak tak jawab lagi, tapi semenjak saya mengatakan itu dan tidak banyak ikut-ikutan. Humornya tidak sama lagi.
.
.
Kalau denger ada batuk-batuk berdeham di ruang kedua di belakang. Hapal nih kalau ini Kang Mus.
Kalau aku ada salah, tidak marah yang murka. Tapi masih bisa kalem, santai, diingetin. Tapi saya kurang suka dengan gaya bicaranya yang sok menggurui kalau sudah mulai ceramah. Selebihnya it’s okay..
.
.
Pernah saya dibercanda’in Pak Sidiq, lucu ketawa dan wajarlah. Tapi Kang Mus lihatinnya sampai noleh-noleh nunduk penasaran gitu..
Pak Sidiq: Heleh.. heleh.. Mustahik, ngintek-ngintek..
Aku: (kenapa aku tersipu-sipu?? πŸ˜…. Oh lihat tangannya ada cincin 1.2 juta yang dia selalu cerita perihal persiapan pernikahannya.)
Kang Mus: Soale Risa jarang ngguyu seseru kayak ngene,
.
.
Ya kan senyum tulus dan ikhlas itu kalau aku memang jarang. Senyum sopan pencitraan sering.. tapi yang los? Di momen tertentu saja.
.
.
Dan terima kasih pada Mas Mas, yang gak tahu namanya siapa. Tapi tadi aku cuma bercanda malah ditanggepin serius..
Aku: Aku ya mau sih, tapi gak punya uang..
Dia: Yawes, pesen satu. Tak bayarin..
Aku: eh eh, bercanda kog Mas. Soale aku gak bawa dompet.
Dia: Seriusan gapapa,
… dan akhirnya saya pilih satu menu. Dia maksa sih, rejeki jangan ditolak..πŸ˜….
Mas ini sering ketemu sih, tapi tidak secara personal kenalnya. Cuma dia pernah nanya namaku siapa dan mulai melempar jokes garing. Dan kebetulan tadi ketemu tanpa sengaja.
Aku ketawa garing juga sebagai balasannya. Eh malah..
“Mba, jangan senyum. Senyuman kamu tuh manis, nanti banyak yang naksir..”
Ahahaha! Gombal gambil.. πŸ˜‚
Mas yang lainnya juga,
“Eh Cah ayuu..” dia sendirian di salah satu ruangan abis sholat atau mau sholat. Tapi aku tidak jadi masuk, pas dia keluar ruangan digodalah begitu.
Kalau yang khasnya orang satu ini adalah,
“Mba udah lama?”
“Lumayan..”
“Udah lama cantiknya maksudnya..”
“Aduh, jebakan batman.. ” πŸ˜‚
Terus ngacir pergi, dasar aneh kau..
😈😈😈

..
.

Advertisements

2 thoughts on ““Have Something To Say?”

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s