[Primrose] Sesibuk Apa Kamu & Aku Hingga Terlupa Kita?

Masih terngiang jelas bagaimana Sabtu sore itu, kemudian senin setelahnya. Dalam sekejab ritme jantungku tak senada dengan akal sehatnya. Waktu itu aku 16 tahun, dan belum secantik ini. Hahah, mulai memuji diri sendiri.. dasar narsis,
Ku dengar kau di Jakarta, Bandung, Semarang, lalu entah Jawa bagian Timur sana. Lalu tiba-tiba sudah berada di rumah kembali.. kau yang begitu menyayangi ibumu, dasar si anak bungsu..
Sudah berapa keponakan yang memanggilmu Om? Hahah..
Kau bilang aku seperti buku, yang terlalu bagus untuk dihabiskan sekali baca. Ingin kau baca berulang kali, perlahan menikmati setiap lembar yang ada, bukan cuma paham tapi hafal gelap terangku. Baca terus sampai tak ada kisah yang terlewatkan sama sekali.
Huft.. seandainya kau seperti dua sahabatmu itu, pasti sudah jadi playboy kan? Tapi kamu bukan seperti mereka.. tak suka membual dan kau bilang cinta saja tak cukup, meski aku juga merasakan bagaimana sakitnya.
Kau ingin aku mengerti, tapi kau tak pernah dengan tegas memintaku menunggu. Tapi dengan hebatnya aku menunggu.. tanpa kau minta aku pun menunggu, meski kau kuberi tahu juga perihal betapa banyaknya buaya dan kadal yang mendekatiku. Hanya tak ingin kehilangan..
Maka kita tidak berpacaran, kau sibuk dan aku sibuk. Lagipula itulah yang kau dan aku yakini semenjak dulu sebelum saling bertemu.
Bukan bukan.. kau dua kali lipat lebih sibuk dibandingkan aku. Yang kadang-kadang membuatku khawatir betapa kurusnya dan pucatnya garis matamu itu.
.
.
Selayaknya sebagai orang yang sayang, pasti tak ingin apa yang disayangi terluka. Jika itu ibuku.. ketika aku menangis dan mengeluhkan “Kenapa? Kenapa tidak adil?”. Maka beliau akan menyuruhku berhenti.. sudah.. pulang saja ke rumah Nak, Ibuk ikut sedih kalau kamu sedih.
Tapi kamu beda Mas, konyol..
Malah menanggapi “Jingga di bahumu. Malam di depanmu. Dan bulan siaga terangi langkahmu. Teruslah berjalan. Teruslah melangkah, kutahu kau tahu. Aku ada.”
Dari semua yang kutangkap dan narasikan sendiri.
Seolah bilang, Dek.. memang aku tak selalu bisa berada disisimu, apapun yang kau lakukan di hidupmu.. semua keputusanmu, entah seberat apapun aral melintangnya jangan pernah menyerah. Teruslah berjalan. Kau tahu perasaanku. Aku minta pengertiannya, akan ada hari dimana semuanya akan seperti yang kau inginkan. Untuk saat ini engkau marah padaku pun aku tidak masalah.
Ya Rabbi, apakah di kehidupan sebelumnya aku menyelamatkan negara atau bagaimana? Kenapa ada lelaki seaneh ini yang Kau aku taruh hatinya begitu dalamnya dan aku tidak tahu alasannya apa?
Oh Bi.. apakah kau tahu.. aku sebenarnya amat sangat tergila-gila padamu hingga jadi sinting begini? Jadi murahan sekali jika berkaitan denganmu.
Rasanya kesal sekali dan ingin menjambaki rambutmu.
Bagaimana kabarmu? Kakimu sudah tidak apa-apa kan?
Seperti yang pernah ku sampaikan, bawalah hatiku kemanapun kau suka. Tapi jangan pernah lupa untuk pulang kembali ke pemiliknya.

.

.

.

Wanita akan menangis jika merindukan pasangannya? JAWABANNYA ADALAH “FAKTA”
Kalau saja air mataku selama ini dikumpulkan pasti sudah membentuk satu lautan. Lalu orang-orang dengan bingung akan bertanya

“Ini salah siapa?”

Lalu aku menunjuk dirimu.

Advertisements