Cincin Nikah, Bukannya Gak Boleh Pakai Emas? Bawa Kucing Ke Mall.. Hah?

Meski cerewet, tapi sebenernya cerewetnya Kang Mus itu demi kebaikan anak-anak buahnya 😂.
Selain Mas Khasan, saya dapet Kakang lagi berupa Kang Mustaman. Kalau Mas Khasan lebih ke nanya’in yang susah apa? Kalau gak ngerti tanya aja, ngasih tahu warung-warung yang murah dimana.
Mas Khasan itu sudah ada istrinya tapi belum dikaruniai anak. Ceritanya sih ibunya pengen punya cucu cowok karena dapetnya cewek terus.
Akhir-akhir ini dia hobi sekali memanggil semua orang dengan sebutan “Hai Jess!” Dengernya berasa seperti Jessica Kumala Wongso yang ngeracunin kopi aja.. hahah
.
.
.
Eng ing eng..
Suatu pagi, saya sedang mengerjakan sesuatu dan Kang Mus main-main dengan cincin yang melingkar di jari manis kirinya.
Tiba-tiba cincinnya jatoh,
“Eh eh eh, jatuh.. jatuh.. ”
Saya cuma ngelirikin..
“Hilang bahaya nih, 1 jutanan lebih!”
Dia pasang lagi, dalam hati ku nggrundel.. Ya Allah Mas, jan jane ki aku kepo arep tanya-tanya what’s going on dengan cincin dan pernikahanmu. H-1Bln sih..
Aku pun pura-pura sok nggak ngerti apa-apa
“Itu emas ya Kang?”
“Emas, sepasang beliku dulu..”
“Bukannya laki-laki gak boleh pakai emas?”
“Harusnya sih gitu.., tapi beliku sepasang..”
Dia ngulang-ngulang sepasang teruss, dan harganya diulang teruss.. 1 jutanan lebih per cincinnya. Ana tahu, profil picture punyanya Kang Mus kan dia lagi menyematkan cincin ke Mbanya..
“Bukannya pesen yang satu bukan emas bisa kan?”
Entah dia jawab apa, yang jelas whatever lah Kang. Suka suka loe dah..
Kan H-1bln, beliau bakalan cuti. Jadi.. sebagai bawahan yang baik.. ngamplopinya 50k.. 😅. Suka sedih sama mau ketawa, kalau yang nikah atasan.. maka haram hukumnya ngasih dibawah 50k.
Kang Mus punya pemikiran semacam ini.. dia menantang Ubaid untuk segera melamar pacarnya. Tapi Ubaid merasa belum siap karena belum punya rumah. Kang Mus nasehatin. Jangan khawatirkan rumah dulu, dicari bareng-bareng saja.. nanti kedepannya kalau kalian berantem.. jadi gak ada yang ngaku-ngaku ini rumah sesiapa-siapa. Hmm..
Sedangkan Ubaid bilang gini, udah ada dikasih rumah sih sebenernya.. tapi tinggal renovasi sana sini. Jadi intinya Ubaid masih belum berani.
.
.
Saya gak paham, ternyata si meong ada di dalam ruangan sebelah. Beberapa hari lalu Ubaid pernah nanya ke Kang Mus.
“Kang, kucing dibawa ke mall boleh gak sih?”
Edan.. ternyata dia selama ini bawa-bawa tas gede isinya kucing anggora abu-abu. Gila! Nurut lagi..
Kampret sekali kau Baid!
Digendong-gendong, dia taroh bawah AC.. kucingnya anteng gitu.
.
.
Yang saya suka dari kedua Kakang tadi adalah bagaimana mereka bisa spelling namaku dengan benar. Tanpa saya harus menjelaskan atau memohon-mohon “Tolong panggil aku Risa..” 😅
Bagiku bahagia itu sederhana kog, just call me Risa.. hahhaahah

Advertisements

[K-Movie] Daddy You, Daughter Me – Part 5 End

Do Yeon mengutarakan opininya, hanya karena menggunakan idol boyband/girlband dan sejenisnya yang mengutamakan visual belum tentu para remaja akan membeli produk mereka. Ini dikarenakan banyak pengeluaran yang tak terduga, mereka tidak akan mampu membayar 50rb won untuk sebuah produk kecantikan.

Sang Tae di lain tempat merasa kesal dengan Do Yeon. Do Yeon ingin harganya diturunkan, toh kandungan yang terdapat dalam produk tersebut tak beda jauh dari yang sudah ada banyak dipasaran.

Menurut Do Yeon semua produknya Shangpree bagus-bagus, hanya saja harganya tidak cocok untuk kantong anak SMA sehingga banyak yang mengurungkan niatnya membeli. Mereka yang belasan tahun tidak mudah dibodohi, mereka justru merupakan pelanggan potensial Shangpree yang akan datang.

Tolong jangan menganggap mereka bagaikan anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan menjual produk kepada mereka dengan harga yang begitu mahal. Juallah produk yang bagus tersebut dengan harga yang terjangkau. Menurutku, itulah inovasi Shangpree yang sebenarnya.

Salah satu bertanya apakah Sang Tae bisa mempertanggungjawabkan perkataannya tersebut?

“Menurutku pertanggung-jawaban itu harus dimulai dari menerima dan memahami pihak lain. Jika tidak memahami pihak lain, tanggung-jawab seperti apa yang bisa diberikan? Menurutku, demi inovasi Shangpree seharusnya dimulai dengan memahami apa yang dibutuhkan oleh mereka yang berusia belasan tahun. Memahami dan menerima mereka. Jika ini yang dimaksud dengan pertanggung-jawaban, Ya… Aku akan bertanggung-jawab.”

Hoejangnim mengatakan ini memang benar dan masuk akal namun kata-katanya bukanlah sesuatu yang enak didengar.

Do Yeon langsung dikejar ayahnya setelah keluar dari kantor. Sang Tae memarahi Do Yeon yang bertindak seenaknya sendiri, Sang Tae punya tim dan timnya akan kehilangan pekerjaan dengan ulah polosnya Do Yeon. Do Yeon membantah apakah karena ayah adalah ayah makanya selalu berusaha bertanggung jawab atas segala sesuatunya? Dan kenapa Appa selalu saja memaksakan pemikiranmu kepada orang lain? Do Yeon tidak ingin begitu, ia ingin merasakan kekhawatiran yang sama.. menanggung yang sama dengan ayahnya bukan membiarkannya memikul beban sendiri. Do Yeon mengungkit ayahnya di kantor dikucilkan dan diremehkan orang lain.

Sang Tae kehabisan kata-kata. Do Yeon meninggalkannya.

Sang Tae menghubungi sahabatnya, Byeong Jin masih menganggapnya tidak masuk akal. Sang Tae mendatangi Byeong Jin. Ia sempat dilarang masuk.

Di sebuah panggung nyanyi di Gyeongju. Bola ajaib yang berputar dan lampu yang terang. Kita melingkarkan handuk putih di atas jas hitam kita.

Sang Tae menarikan lagu kenangan mereka saat pentas bersama dulu. Byeong Jin sedikit tidak percaya namun ia mulai menari dengan Sang Tae. Barulah Byeong Jin percaya.

Byeong Jin bertanya bagaimana perasaannya Sang Tae setelah bertukar raga dengan Do Yeon. Sang Tae mengungkapkan ini sulit dijelaskan, ujiannya anak SMA jaman sekarang sulit sekali. Byeong Jin balas menggerutu bahwa jaman mereka dulu juga susah.

“Dasar! Kenapa sesuatu yang dirasa susah di zaman itu terasa begitu mudah sekarang?” Ujar Sang Tae

“Apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak? Kau renungkan itu.”

Sang Tae pulang ke rumah, tidak jadi mengetk kamar, malah terduduk di depan kamar. Do Yeon tidak semangat, Jo Daeri menghubunginya dan pergi dari rumah. Ponsel ayahnya ketinggalan, Sang Tae memungutnya.

Sang Tae pergi ke tempat memukul bola bisbol (?). Seorang pria heran bagaimana bisa seorang gadis jago sekali memukul bola? Apa dia ini benar perempuan?.

 Sang Tae mendengar panggilannya Jo Daeri dan mengangkatnya. Tim inventoris dibangkukan atas kesalahannya Do Yeon. Sang Tae bergegas menuju ke perusahaan dengan sepeda.

Do Yeon di perusahaan berusaha mengatasi kesalahannya. Ia sungguh menyesal pada ayahnya telah mengacaukan segalanya. Do Yeon terjatuh di tangga mengejar ketua. Ia memohon pada Hoejangnim agar tim inventoris jangan dibubarkan. Hoejangnim tidak mau peduli, bukankah Sang Tae bilang akan bertanggung jawab? Maka bertanggung jawablah!

Do Yeon bersujud memohon sekali lagi. Sayangnya Hoejangnim pergi mengabaikannya menuju ke mobil. Dengan kaki pincang Do Yeon berusaha mendekati mobil. Dia ditahan.

Sang Tae datang tertabrak mobil Hoejangnim.

Sang Tae di tubuh Do Yeon dirawat di RS. Do Yeon menunggu di luar, ia terenyuh melihat-lihat ponsel ayahnya. Hanya ada foto-fotonya Do Yeon. Do Yeon memsuki ruangan ayahnya dirawat.

“Ayah.. ayah bisa mendengarku?. Itu.. Aku bukannya benci pada Appa. Aku selama ini tidak bisa memenuhi harapan Appa. Aku takut kelak Appa akan merasa kecewa terhadapku. Aku takut sebagai putri Appa… aku akan mempermalukanmu. Karena itulah tanpa disadari… aku semakin menjauh dari Appa. Maafkan aku. Appa, cepatlah bangun. Appa, bukankah Appa selalu bilang jika Appa baik-baik saja? Appa, aku menyayangimu.”

Tubuh Do Yeon yang terbaring pun menitikkan air mata setelahnya.

Dari keajaiban pohon ginkgo sebuah daun melayang terbang membelah langit dengan tenang, terbawa angin menuju rumah sakit, memasuki ruangan Do Yeon dirawat melalui celah jendela. Terjatuh di bantal Do Yeon. Selembar daun tersebut menghilang lenyap dan Do Yeon tampaknya hanya tertidur dengan nyaman.

Sang tae terbangun di tubuhnya sendiri di bangku rumah sakit. Ia langsung mencari puterinya.

“Do Yeon! Do Yeon! Do Yeon!”

“Appa..”

_*Daddy You, Daughter Me*_

“Gwajang-nim, seperti yang Gwajang-nim bilang, jual dengan harga yang lebih murah Hoejang-nim sudah setuju. Gwajang-nim, aku cinta padamu. Sudah kuduga akan seperti ini. Sampai ketemu nanti di kantor.” Jo Daeri menghubungi Sang Tae dengan senang.

Sang Tae berangkat ke kantor. Do Yeon menyusul dibelakangnya ingin berangkat bersama. Padahal biasanya Do Yeon akan melintasi jalan lain asal tidak dengan ayahnya.

Do Yeon bahkan merapikan setelan ayahnya.

“Puteri ayah sudah dewasa”

“Tentu saja. Puteri siapa dulu? Ganteng sekali”

Do Yeon mengajak ayahnya berfoto, tapi belum kena bidikan seseorang menghubunginya. Kang Ji Oh, bahkan namanya penuh dengan emotikon hati di ponsel Do Yeon. Sang Tae bertanya kenapa si kunyuk itu menelepon sepagi ini?

Bukannya menjelaskan Do Yeon malah kabur untuk mengangkat panggilannya.

Mereka menunggu kakek datang, sulit sekali dihubungi. Ibu lupa tadi sudah mematikan gas atau belum. Ayah lalu memarahi istrinya kerjaannya di rumah ini apa saja sampai lupa mematikan gas?. Ibu membantah, tahu apa ayah soal pekerjaan rumah? Do Yeon dan Sang Tae saja tidak pernah mencuci pakaian mereka sendiri, makan 365 hari masakannya tanpa putus di rumah. Memangnya semua ini jauh lebih gampang dari membuat proyek di kantor?. Bagi ibu lebih mending dimarahi atasan ketimbang menjadi dirinya, setiap hari di rumah menyelesaikan kerjaan rumah sampai kena radang sendi. Tidak pernah dapat terima kasih malah diomeli.

Ayah tidak mau kalah, memangnya ibu tahu rasanya dilewati staf yang lebih muda darinya naik jabatan?. Ah sudahlah.. mana mengerti! Saat ayah kesulitan di kantor ibu malah menangis nonton TV,

Do Yeon merasakan hawa aneh dari pohonnya. Ia mengajak semuanya pulang saja. Anehnya ibunya duduk dikemudi sedangkan ayah di bangku sebelahnya.

“Eomma, kapan dapat SIM?”

“Dia bilang tahun ini harus dapat. Setiap hari menumpang mobil Appa dia merasa tersiksa dan malu. “

“Aigoo, kata-kata seperti ini sudah 10 tahun kau ulang-ulang terus. Mau taruhan dengan Appa? Eomma..“

Dengar ucapannya tersebut keduanya lantas melirik ke cermin. Ayah dan ibu bertkar raga. Tapi ketiganya malah tertawa.

FOOTNOTES:

Di endingnya lucu, anak-anak imut mengutarakan mereka sayang ayahnya dan ingin menikah dengan ayah. Lalu gadis-gadis remaja yang mengatakan keinginan mereka, sebelum masuk kamar anaknya diharapkan ketuk pintu dulu, ada yang ingin jalan-jalan di akhir pekan bersama, blablabla dan lain-lain. So sweet lah..

Dan para nenek yang mengutarakan penyesalan mereka dan kerinduan mereka pada ayah mereka karena semasa hidup saat mereka muda tidak sempat mengungkapkan cinta mereka.

Bagaimana pun juga ayah adalah cinta paling pertama dan utama setiap puterinya. Tidak akan pernah bisa digantikan oleh laki-laki manapun. ❤

Jangan mengukur kasih sayang orangtua secara matematis, mereka tidak mengharapkan timbal balik uang secara utuh sejak kelahiran sampai mendewasamu. Namun sebagai anak kita tentu pasti tahu bagaimana seharusnya membahagiakan mereka. Karena semestinya cinta dan kasih sayang memang tidak pernah bisa diparameterkan dalam ukuran apapun, sebesar Tuhan yang mencintai mahkluk-Nya tanpa syarat, sebesar itu pulalah kita membalasnya. Tanpa syarat dan tak terbatas nominal angka.

Sinopsis film lainnya ada di menu/laman Movie. Ciao! ^-^