Terlalu Capek Bahkan Hanya Untuk Marah.

Mbak, Difoto Masnya..
Lagi sibuk ngedumelin anak-anak yang main game. Sore sore.. tuh anak-anak yang sering gw bilangin “Mending buat jajan dek..”
Anak kecil poni lempar sama si kasak kusuk. Cowok, dua kunyil.
Aku lagi nunduk melakukan sesuatu.
Si poni lempar ngomong “Eh Mas’e moto-moto, mba’ kae hlo. Mba difoto Mas e..”
Cuma tak lihat sekilas. Satu diantara Mas Mas yang joging. Halah mbuh dek.. kesel aku, ra ono tenaga kanggo nesu-nesu.
I want my blanket than anymore..
Tidur jam 01.00, bangun jam 5. Siap-siap jam 5.30 lalu berangkat jam 6.30. Pulang jam 15.30 an lah..
Seharian ini pun Kang Mus banyak menertawakan dan menindas diriku yang kelihatan galau dan kesal. Gimana tidak jengkel? Pekerjaan yang tiada akhirnya,
Kang Mus semua..
“Sa.. leren ndisik,”
“Sa! We ki jiaan tenan kog..”
“Aku mesakno kuwe, gawean akeh.. durung bar-bar. Mangan disik..”
“Yo langite galau, udan roh roh panas meneh. Koyok kuwe Sa.. rupane mumet ket esuk.” Iki akeeeeh MAS… mau wae tak belani mangkat gasik! 😭
“Aku pe hemat, wes janji mbi bojoku arep nukokno kalung kog.”
Gembel.. lahpo mbuk pamer-pamerke aku Mas? -_-. Gak tukokno rantai sekalian mben ra mlayu-mlayu minggat..
Ki jiaaan tenan kog, rumangsamu atiku gak panas mbuk ceritani aneh-aneh?.
Mana akhir-akhir ini dia sukanya bahas umur terus. Terus nanya tanpa henti “Kamu kapan Sa?”
Mus: Kuwe seneng wong lanang seng ngerokok gak?
Aku: Ogak,
Mus: Lha pacarmu ngerokok gak?
Aku: Ogak (->duwe pacar!)
.
.
Mus: Doyan coklat gak Sa?
Aku: Pe mbuk tukokno??
Mus: Aku ki takok..
Aku: Lahpo takok-takok neg ujung-ujunge php 😂
Mus: Risa ki ra jelas wonge kog
Aku: Lha takok-takok ngunuwi po pe ditukokno??
.
.
Mus: Wes kulina kerjo kog. Umure xxx
Aku: lahpo bahas-bahas umurku teruss??
Mus: timbang ra ono seng iso dibahas?
Aku: Halaaah.
Mus: Moro-moro sesok metu nikah, Mas.. aku metu ya.. arep nikah..
Aku: Jeh suwee..
Mus: Wis wayahe, kapan??
Rese kuwe ya, tak gembesi ban motormu mbuh. Platnya adalah H &$*$&* BHG (Bahagia? Hahahahahha.. aneh.)
.
.
Saya sangat menyadari bagaimana Kang Mus memanjakanku. Apa-apa dibantuin, digodain, diceramahin? jelas.. karena dia cerewet sekali seperti ibu-ibu komplek.
Meski kadang saya jengkel padanya, masih hloh.. masih Sa.. (yang) hahah.
Umurnya Kang Mus itu 26 tahun, neg dibandingkan denganku yo jaraknya jauh sekali. Baginya aku adalah Dedek gemes, dan bagiku ini orang adalah Om Om.
.
.
Pernah suatu ketika dia duduk lama banget ngobrol sama Mb Indah. Dari jauh gw sama Mas Khasan cuma ngetawain.
“Ngapain sih Kang Mus itu?”
“Biasalah.. ceramah. Dakwah..”
“Edan..”
Cerewetnya itu sudah berubah menjadi. Apa-apa cerita, pernah gak Sa?
Tau gak Sa?
Eh, Sa..
Kemarin gini lho Sa..

Advertisements

Semalam Adalah Kencan Paling Mengesankan.

3 Jam yang sungguh seperti 5 menit rasanya. Ini adalah pertemuan pertama kami setelah sekian lamanya hanya berbincang melalui sosial media.
Pernah bertemu beberapa kali, tapi tidak seintens seperti kemarin. Seromantis tadi malam..
Semula dia mengajak ketemu kisaran pukul 12.00 siang. Tapi Wa ku tidak aktif karena mati listrik, otomatis provider kere-ku kehilangan sinyalnya.
HP mati, saya tinggal begitu saja. Pergi ke ATM untuk ambil uang sekalian ke minimarket untuk bayar belanja online, dengan stresss tingkat tinggiku selama sebulan ini saya dengan sangat sombongnya bisa ngeluarin duit segitu buat shopping..

😂
Beeeen, karepeee.. itu cuma seperenam atau seperdelapan gaji kog. Santai.. paling-paling cuma nggembel doang.. hahah
**
Lalu saya balik lagi, listrik sudah menyala. Lalu saya tanggapi permintaannya tersebut. Abis magrib deh dia ngajak ketemunya.
Sepakat janjian di cafe atau resto. Singkat cerita saya sudah sampai lalu dia menyusul. Semula agak canggung, perutnya sudah membesar dan ini bulan ke-9 nya. Tapi berat badannya cuma 53 kg, karena dia memang bawaannya kurus susah gemuk.
Di sinilah saya menyadari, kalau perempuan lagi hamil itu makin cantik saja dilihatnya. Aura keibuannya muncul dan terlihat menawan sekali.
Lalu kami naik ke lantai atas, dia pengen ke atas. Ya sudahlah.. saya nurut saja.
Lalu saya ambilkan menu untuk kami pesan.
.
.
Kami memilih agak lama, kemudian menunggu pesanan datang. Lalu entah mulai bercerita tentang apa, yang jelas as always.. jadilah aku sosok pendengar yang baik. Kamu tahulah.. aku tak suka banyak bicara kecuali dengan orang yang ku percaya atau dekat sekali atau kalau aku ingin saja. Bagiku luar biasa sekali bisa mengenal sosok ini, sumpah.. seumur-umur baru kali ini merasa seberuntung san sebahagia ini. Betapa pun rumit dan berat hidupku.. masalahku, tak pernah sebanding dengan apa yang dia rasakan.
Bagaimana dia terlihat tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri. Penyesalannya, ketakutannya, matanya yang berkaca-kaca. Tangguh sekali manusia di depanku ini Ya Tuhan..
.
.
Dia adalah orang yang sangat mewanti-wanti diriku. Pokoknya kamu jangan pacaran, jangan sampai kejadian seperti aku. Langsung nikah wae, nggolek wong seng bener!
.
.
Saya bingung urutannya bagaimana, ini tidak bisa menjadi satu postingan utuh. Semalam saja saya pulang pukul 22.00 lebih saking asyiknya bersama dia. Ingin langsung menceritakannya tapi mataku sudah berat, malah ngepost gak jelas, Ibuk sudah senewen karena anaknya belum pulang jam segitu. Dan besok harus kembali ke realitas..
.
.
Poin-poinnya..
(1)
“Gigolo?” Wes tah, pikiranku sudah terasa pening sekali. Mungkin sudah sering saya dengar istilah tersebut dan dunia sejenisnya dari buku-buku yang ku baca. Tapi dengar cerita langsung? Demi apa aku begitu syok..
Dia mengatakan ia sudah begitu terluka, sampai kalaupun satu hari cerai dia sudah ikhlas. Tidak ada niatan untuk menikah lagi. Laki-laki membuatnya trauma.
Jangankan kamu, aku saja cuma dibegitukan.. 15 tahun lalu, sampai sekarang pun sebenarnya masih sangat trauma dengan laki-laki. Mau berapa banyak laki-laki yang sampai berani mendekati.. aku mikirnya lama sekali antara iya tidaknya. Makanya tidak pernah yang namanya punya pacar. Takut sakali kalau disakiti lagi.
.
.
(2)
Bagaimana saya begitu bangga padanya, telah begitu banyak dikecewakan oleh kehidupan tapi masih tersenyum dan bertahan sekuat itu. Ia mengakui dirinya salah, namun tak semua yang terjadi ia menyesalinya. Karena dia mencintai pria brengsek itu sepenuh hati dan apa adanya. Ketika ibunya menjelekkan pria itu.. dia masih membelani..
“Buk, ojo nggelani ngomong peh aku wong ayu kog gelem men mbi wong elek koyok ngunu? Aku ki meski ngene yo pernah seneng mbe deknen.. gawe aku bahagia, kabeh-kabeh tak wenehi.. tak cukupi, sampai aku iso ngisi ngene karena terlalu sayang mbi percoyo.. tapi endinge sopo seng ngerti neg aku ki dikerjani, diporoti duite.”
.
.
To be continued..