2. Ternyata Kamu

.

.
Ternyata kamu, nama yang menggantikan anonim yang selama ini tak pernah luput dari untaian doaku. Doa agar diberikan pendamping terbaik untuk menggenapiku; seorang imam yang bisa membimbingku dalam urusan dunia serta akhirat, lelaki bertanggung jawab yang busa menerimaku dengan sepenuh hati, juga seseorang yang aku harap bisa membuat hatiku tentram tanpa melakukan apa-apa selain ada.
Kita memang pernah saling tahu sebelumnya, sebelum memutuskan untuk saling menggenapkan diri dalam ikatan suci. Tapi ternyata, keberhasilan sebuah hubungan tidak ditentukan dari seberapa dekat atau lama kita memulainya. Tapi dari seberapa kuat kita mempertahankannya sampai akhir. Masih kuingat masa-masa awal kebersamaan kita; betapa banyak ketidaksepahaman diantara kita, betapa aku terkaget-kaget dengan sifat burukmu yang belum aku ketahui sebelumnya, dan betapa semua itu terasa lebih mengecewakan karena sebelumnya aku berharap bangak pada kamu yang sudah aku tahu. Mungkin begitu juga dengan apa yang kamu rasakan. Dan masalahnha jauh lebih rumit karena kita masih malu-malu untuk saling terbuka. Bahagia kita jadi agak ganjil karena banyak yang masih mengganjal di hati kita masing-masing. Awalnya aku pikir, kita hanya perlu waktu untuk saling menyesuaikan diri. Tapi ternyata, masalahnya bukan sekedar waktu.
Aku kira cinta, landasan gabg diperlukan untuk menjalani kebersamaan kita. Maka akupun berusaha untuk mencintaimu. Lagi dan lagi. Kamu-pun demikian. Betapa sering kita mengakh saling cinta, betapa kita saling bahagia mendengarnya. Tapi ternyata, aku salah. Sebagaimana kamu juga salah karena pernah mengira kalau cinta adalah hal yang paling penting dalam kebersamaan kjta. Cinta hanya ukuran suka kita terhadap sesuatu atau seseorang. Ukuran sukaku kepadamu begitu juga sebaliknya. Sayangnya, cinta tidak mengukur apa yang aku tidak suka darimu dan aoa yang tidak kamu suka dariku.
Kenapa seseorang mencintai orang lainnya? Jawabannga boleh beraneka rupa, tapi semua jawaban akan bermuara pada titik yang sama; kelebihan dan kebaikan orang yang dicintai itu. Tak pernah kita temukan dalam kisah cinta paling romantis sekalipun, seseorang mencintai orang lainnya karena keburukannya, karena kekurangannya. Cinta hanya mengakomodir kelebihan kita masing-masing, tapi tidak kekurangan kita. Ah sudahlah, aku cuma ingin bilabg, kalau cinta terlalu kanak-kanak untuk melandasi kebersamaan diantara kita. Dan kebersamaan kita butuh landasan yang jauh lebih dewasa daripada itu.
Beratus kali kurangkai doa, berharap Tuhab memberikan yang terbaik untuk kehidupanku, tanpa sadar sedikitpun, kalau Tuhan sudah memberikannya untukku. Termasuk dengan mengirimkan kamh. Kesasaran itu menghentakku. Jadi, buat apa selama ini aku berdoa jika akh tak mempercayai-Nya? Dia akan selalu memberikan yang terbaik, bukan? Dia Maha mengabulkan do, bukan? Jadi kalau aku meminta yang terbaik, kemudian Dia mengirimkan kamu, itu artinya kamu memang benar-benar yang terbaik buat aku. Sebanyak apapun kekurangan yang kamupnya, yang harus aku lakukan hanyalah menerima. Bukan sekedar menerima kamu, tapi juga menerima ketetapan-Nya.
Lagipula, jikapun orangnya bukan kamu, orang lain yang entah siapalah, dia juga pasti punya kekurangan yang harus aku hadapi, bukan? Bisa jadi malah kekurangannya jauh lebih banyak dari pada kamu. Ada yang pernah bilang, kalau dalam hidup ini, kita hanya akan menghadapi dua hal.
Pertama hal yang busa kita kendalikan, kedua hal yang nggak bisa kita kendalikab. Untuk apa yang bisa kia kendalikan, ya kita harus berusaha untuk memperbaikinya. Sebaliknya, tak perlu susah-susah menghabisjan waktu, pikiran, tenaga, juga perasaan untuk berusaha mengendalikan apa-apa yang memang nggak bisa kita kendalikan. Capek hati pastinya. Sayangnya, kekurangan orang lain, termasuk kekurangan kamu ada dalam kategori kedua.
So, pada akhirnya, ini semua bhkan tentanf kanu atau aku yang banyak kekurangannya, tapi bagaimana sikap kita (yang tentu saja bisa kita kendalikan) dalam menghadapi kekurangab kita masing-masing. Dan ternyata,semuanga akan jauh lebih mudah, kalau kita sudah saling menerima.
Memang harusnga begitu, bukan? Kalau kita percaya bahwa Dia selalu memberikan yang terbaik buat kita, harusnya kita menerima dengan ikhlas segala ketetapan-Nya. Sayangnya, aku terlambat untuk memahaminya. Tapi tak apalah, untuk hal yang lebih baik, late is better than never, right? Well, harusnya sepasang manusia memutuskan untuk hidup bersama karena sudah siap untuk saling menerima. Bukan kareba sekedar cinta, apalagi hanya karena ego semata. Okay, dear you; let start to do it.

Advertisements

4 thoughts on “2. Ternyata Kamu

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s