Amri – 03 (Nyampah)

Jahilnya beliau adalah kenapa suka sekali membercandai saya dengan yang lain?. Karena hubungan ku dengan Imam seperti tikus dan kucing, kalau diibaratkan drama maka jatohnya komedi romantis
Berantem terus dan ujung-ujungnya saling naksir. Sampai dia pernah bilang “Lama-lama kalian akan saling naksir kayak di film-film..”
Enak aja.. 😝
Dan soal Asep si anak baru, karena menurutku Asep itu katrok dan konyol.. otomatis pas lihat dia saya akan ketawa. Inget bagaimana dia pas kikuk kerjanya, cerita dia kecelakaan dan gak inget kenapa bisa kecelakaan? Tiba-tiba bangunnya di rumah sakit.. katanya ditolongin pak RT? Lha itu apa? Hahhahah konyol ini bocah. Gimana gak geli pengen ketawa pas lihat dia? Lha wong konyolnya minta ampun gitu..
Dan Amri seenak jidatnya menggodai, “Kog kamu ketawa lihat Asep sih? Naksir ya?”
Dan saya cuma menatapnya dengan kesal. Ingin ku jelaskan serinci-rincinya.. Mas, gw kalau naksir orang justru bakalan gw cuekin habis-habisan.. kalau dia nge-jokes dan garing saya akan ketawa haha hihi doang. Kalau dia ada di dekatku saya akan pura-pura ke tempat lain buat menghindar. Pokoknya jangan sampai orang tau..
.
.
Ku pikir seorang Amri yang kece ini tidak punya kelemahan. Tapi.. suatu ketika pas cuma berdua’an saya bisa lihat dia jadi grogi.. aduuuh! Gemes pengen nyubit! 😂
Itu cuma berdua..
Lain waktu barengan sama satu orang, entah kenapa dia yang biasanya fokus gitu berubah jadi linglung bingung.
“Tinggal kasih ini aja Mas! Kog bingung?” Kata rekan kami yang satunya dengan tidak sabarnya.
Saya mati-matian nahan senyum, ini orang lucu banget sih??? Mukanya merah gitu kenapa?
Yes!
.
.
Atau ketika dia keluar mau cari makan. Udah ganteng, pakai jaket.. berdiri 10 cm dariku, sandaran di meja.
“Aku mau cari makan, nitip nggak?”
Aku mendongakkan kepalaku, jelas.. tinggian dia kemana-mana..
“Mau cari makan apa?”
“Yang seger-seger dong..”
“Lha kamu mau makan apa?”
“Lhoh, kog malah gantian nanya..” kami sudah tatap tatapan gak jelas, dengan senyuman yang lebarnya gak terukur..
“Nitip ini aja deh, nasi kucing..”
“Abis gajian kog belinya cuma itu?”
“Lagi males makan”

“Ngomongnya harusnya gini dong, Mas.. nitip dong~” itu suaranya beneran dihalus-halusin. Pengen gw jitak tapi takut kualat..

Pak Eko sudah berdehem-dehem di sebelah sana melihat tingkah kami.
Dan dalam hati saya geli banget, kog jadi gini sih? Padahal cuma ngomongin makanan? Tatap-tatapan apa ini?.
Mas Ipul tau kalau aku jarang makannya, sering gak doyan makan. Apalagi kalau sedih banget.. saya gak bisa nelen makanan apapun.
.
.
Orang-orang bilang dia berubah semenjak kenal saya, jadi lebih baik.. gak ngoyo mikir kerja’an doang, berubahlah istilahnya.
Dia bukannya gak ngerti agama, cuma gak dijalanin. Itu bego’nya.. saya bisa kog merubah dia, pelan-pelan tapi.. ini hubungan kami belum apa-apa dia sudah sering dengerin saya.. apalagi.. apa hayoo..
Hahah
.
.
Soal hardworker.. maksudku hidupnya seperti buat kerja doang, pacar aja sampai gak punya. Meski dia bisa gampang tinggal pilih satu diantara para penggemarnya. Tanggungjawab orangnya, tiap ada masalah yang menimpanya dia tidak akan mudah menyerah.
Saya bingung.. ada ya orang semacam ini? Keren Mas.. 😶. Tapi yo aneh 😑
.
.
Cuma satu hal yang saya tidak suka darinya..
Mulutnya yang soak, perlu diajak ke bengkel ketok magic biar halus dikit ngomongnya. Kalau sama gw sih tidak pernah kasar.. tapi yang lain.. sudahlah~

*Ditulis sambil mendengarkan: Blackpink – Forever Young

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s