[Primrose] If We Were Destined..

“Sungguh ku tak ingin hatiku jadi milik yang lainnya. Ku bersumpah kau sosok yang tak mungkin ku temukan lagi..”
Hai, kamu sehat? Apa pura-pura tegar dan sok sehat? Entah.. kamu sendiri yang tau.
Sama sekali aku tak ada niatan menulis ini sebelumnya. Seperti yang kau tau, aku hanya menulis jika ingin. Begitu saja..
Meminjam ungkapan tentang hujan dan seorang ibu yang memanjakan anaknya agar tak sakit dari Buku “Menata Hati” milik Nazrul Anwar, barangkali selama ini aku terlalu memanjakan hatiku dengan cara menghindari kamu. Seperti halnya seorang ibu yang khawatir pada anaknya jika sakit setelah bermain hujan, mati-matian mengurung bocah itu di rumah, dan berakhir dengan bertopang dagu di pinggiran jendela sedih menatapi hujan. Aku adalah seorang ibu itu, anak kecil itu adalah hatiku, dan kamu adalah hujannya.
Menghindar dengan alasan agar hatiku baik-baik saja. Aneh.
Tapi ya sudahlah, aku tak akan melarikan diri lagi. Tapi aku juga perempuan, jangan lupakan fakta itu.

KEJUTAN (?)
Aku bukan orang yang akan mengejutkan kamu tengah malam sambil menenteng-nenteng kue lalu berkata “Kejutan! Selamat Ulang Tahun!” Tiup terompet dan perang kue. Heei, aku takkan senorak itu..
Mungkin hanya akan mengatakan “Hei, pria menawan ini lahir dua puluh sekian tahun lalu. Kamu mau hadiah apa?”
Dan kalau aku tak salah menebak, barangkali yang paling kamu inginkan saat ini adalah kehadiranku, hahah
Bercanda..
.
.
Aku suka geli sendiri dengan kombinasi tanggal lahir kita. Kenapa lucu sekali? Kubilang tanggal lahirmu adalah pin Kartu Kreditku bukan? Tentu tak senaif 07 06.. bodoh, tentu saja dengan angka acak lainnya.

Kamu mungkin cukup gerah kenapa akhir-akhir aku sering bercerita keseharian dan tentang seseorang. Dan itu bukan kamu..
Satu sisi diriku mengatakan “Tak masalah kamu jatuh cinta lagi sebegitu dalamnya, toh kamu juga tidak sedang menjalin hubungan apapun dengan sesiapapun. Kamu masih manusia bebas yang boleh memilih.”
Sisi lainnya mengatakan “Kamu sedang mengkhianati dia Sa, lihat apa yang dia lakukan demi kamu. Tega sekali! Sadarkan dirimu!”
Semula aku dan dia tidak ada apa-apa, kami hanya rekan kerja. Tidak lebih, tapi entah mulai kapan.. entah kapan? Kapan? Yang bahkan aku tidak ingat kapan itu kapan? Ya terjadilah..
Seorang rekan lain mengingatkan bahwa aku tak perlu terburu-buru memutuskan, yang ku ingat sampai membuatku ingin tertawa adalah wejangannya yang ini “Mas Ipul itu nakal, tapi gak kelihatan..”
Hahhaha! Siapa bilang aku tidak tau fakta itu sejak awal, memangnya sejak kapan juga aku tak pernah tertarik dengan lelaki model begini? Yang balance antara nakal dan alimnya. Bukan 90% baik-baik tidak neko-neko sepertimu.. menyebalkan sekali jatuh cinta pada pria sepertimu,

Tapi aku belum memihak siapapun. Aku tidak memungkiri jika ada orang lain mendahului kamu dan dia cocok denganku maka aku akan berhenti menunggu. Sudah kubilang ini berkali-kali bukan? Cinta? Lemparkan ke kolam ikan saja sana!

Bukan hanya dia yang datang sebenarnya, yang tak akan ku ceritakan bagaimana jalan cerita lainnya, sudahlah.. kamu tak akan kuat mendengarnya~ hahahaha.. tetapi hanya dia yang sampai membuatku tidak jelas begini.
.
.
Tapi..
Soal bahagia, kehilangan, kecewa.. astagfirullah.. ketiga kata tersebut seperti menghantuiku.
Aku sampai hafal diluar kepala tau tidak!
*Kalau kau bilang aku harus bahagia, maka kau harus lebih bahagia, … blablabla.. (Maksudmu apa Mas? Jadi.. yakin gak apa-apa saya nikah sama yang lain? 😂, just bercanda lah..)
*Sama sekali aku tak takut membuatmu marah, aku hanya takut membuatmu kecewa. Namun satu hal yang perlu kau tau, aku tak pernah benar ingin kehilangan.. (Bilang saja, tunggu aku Dek.. susah amat? 😅.. iki piye? Aku tidak boleh naksir naksir orang lagi gitu? Hahhaaha)

Sudah kuberi tahu bukan? Jika marah aku juga menangis. Mungkin.. mungkin kuharap ini tidak pernah terjadi juga, kemarahan terbesarku adalah berhenti menunggu kamu. Masih berani bilang tidak takut membuatku marah? Kamu terlalu berbaik sangka padaku.
.
.
Soal “Kamu ibarat buku, …”
đŸ˜¶ Dengan kata lain, bilang saja kau ingin membersamaiku sepanjang waktu, bersedia terima kelebihan dan kekuranganku. Kenapa harus panjang lebar begitu membuat konotasi? Dasar..
.
.
Mungkin di poin inilah yang tidak mudah membuatku lari. Soal kamu yang bersedia menerima kekurangan dan kelebihanku seolah itu adalah sesuatu yang membuatmu antusias serta bersemangat. Karena seharusnya aku tak pernah meragukan kamu, barangkali aku hanya meragukan diriku sendiri.
Terimakasih sudah bersedia sabar padaku, terimakasih sudah lahir di dunia ini.. terimakasih juga atas semuanya.
Salam dariku yang berjarak puluhan kilo meter dari tempatmu membaca ini.
Yang entah kapan.. kapan tidak tahu sejak kapan tahu blogku ini.
Jika pagimu selalu dimulai dengan rindu, maka di detik ketika aku terbangun dari tidurku adalah kamu yang kuingat dan selalu membuatku kuat menjalani hari.
Suatu saat nanti kuharap ketika membuka mata kamu langsung menyapa “Selamat pagi.. mimpi indah kah?” Hahaha..
Drama sekali? ‘Ya kan? Kekasihmu ini memang sukanya nonton drama, makanya semua keadaan disikapi secara romantis.. 😄
Ups.. nulis apa aku tadi? Au ah.. tidur tidur tidur..

22:39 7 Juni 2018

Advertisements

Posted on 7 June 2018, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s