​[Cerbung] Nightfall, Light Up The Sky – Part 4

    Pria di depan mereka memancarkan aura kebingungan setelah melihat Sabina dekat sekali dengan Amar. Senyumannya ramah, ia mengenal Sabina dan Amar namun tak tahu apa hubungan keduanya.

“Sabina.. Amar. Kalian saling kenal? Ada apa ini ‘ya?”

Amar sontak merangkul pundak Sabina erat. Sabina bahkan sempat menoleh ke Amar seolah menanyakan apa maksudnya. 

Diantara semua yang datang,setelah menyapai semua kawan Amar. Seorang pria datang menyapa Amar, baik Sabina dan pria itu sama-sama terlihat kaget. Amar bingung, apa hubungan keduanya? Tatapannya melembut melihat Sabina. Namun berubah defensif melihat Amar. 

“Mas Ibram. Sabina istriku sekarang. Sebelumnya mau mengundang Mas tapi kita lost contact lama.”

Ibram menenglengkan kepalanya sebentar. Lalu ia tatap Sabina dan Amar bergantian. Meski Amar sudah mengetahui Sabina dan Ibram saling kenal, dari cara mereka menatap satu sama lain terlihat jelas. Sabina diam saja sejak tadi.

“Oh, jadi begitu. Selamat ‘ya Sab.. saya tidak menduga kamu menikah dengan Amar.”

Kata Ibram dengan setengah hati. Dari sorot matanya Amar lihat senior dua tahun di atasnya ini ada perasaan pada Sabina. Terlihat jelas ketidakrelaan di sana.

“Maaf Mas Ibram. Terima kasih..”

Ibram mengangguk penuh wibawa. Wajahnya menenangkan bagi siapapun yang memandang, Amar jadi khawatir. Jangan bilang Ibram dan Sabina pernah ada hubungan sebelum kenal dengan Amar.

Amar langsung ambil inisiatif. Ia beralasan ada urusan keluarga dan harus segera pulang. Ia menarik tangan Sabina dan keluar dari gedung tersebut. Melewati kerumunan orang-orang. Sesampainya di parkiran Sabina meronta minta dilepaskan.

“Kamu kenapa sih?”

Sabina gerak-gerakkan lengannya sakit dicengkeram Amar keras barusan.

“Mas Ibram. Kamu kenal? Kenapa tidak cerita ke aku? Ada hubungan apa kalian berdua?”

Sabina mengusap pelipisnya dengan sebal. Ia mengerjapkan matanya dan keraskan rahangnya. Marah pada Amar.

“Cemburu? Heloo.. Mas Amar. Aku jauh lebih sakit hati karena teman kamu kebanyakan perempuan dulu. Kita sudah menikah, kamu pikir aku akan kemana? Jangan seperti ini! Kekanakan tau gak?!”

“Aku takut Sab.. dia lebih sukses dari aku. Pengusaha muda, pelesiran ke luar negeri saban bulan. Jauh sekali dibandingkan aku.”

“Mas, kamu engga’ ingat? Kamu itu hadiah terbaik yang Tuhan berikan ke aku..”

Sabina mencoba meraih tangan Amar dan menggenggamnya.

“Lalu kenapa kamu meminta maaf ke Mas Ibram? Kesalahan apa yang kamu buat?”

“Aku tidak mau menjelaskannya sekarang. Pikiran kamu sedang tidak jernih. Lebih baik pulang.”

Sabina memasuki mobil.

“Baik..”

***

    Faizal menyeruput sodanya sembari berpikir. Ia bersama Amar di salah satu resto. Ia diminta Amar bertemu sore itu. Ia sejak Sabina koma sampai amnesia memang selalu mendukung Amar. Memberikan informasi tentang kakaknya dan cara mendekatinya. Tak pelak kalau ada permasalahan diantara keduanya ia akan senang senang saja menjadi penengah. Amar tak segan memberikannya uang jajan sesekali.

“Mas Ibram itu… kenal kakakku kira-kira ya waktu di luar negeri sih..”

“Teman flatnya?”

Faizal mengibaskan tangannya dan terkikik.

“Bukanlah.., teman satu flatnya kakak itu Kahfi dan Mba’ Heidi.”

Amar masih tampak kalut. Faizal ingin tertawa sejak tadi. Kakak iparnya cemburuan.

“Tapi kenapa harus parno sih Mas? Ceritanya udah basi kali ah.., suaminya Kakakku adalah Mas Amar. Kalau hitung-hitungan cemburu, parahan kakakku ketimbang Mas. Tahulah.. Mas ‘kan fansnya banyak. Dan dulu kakakku tidak tahu perasaannya Mas. Itu sakit Mas..”

Kedua tangan Faizal angkat tinggi-tinggi menjelaskan.

Tapi tetap saja Amar penasaran. 

“Jadi ada apa sampai Sabina minta maaf ke Ibram?”

“Kakak ‘kan cantik. Aku bilang gini bukan karena dia kakakku lho Mas.., wajar perempuan single beberapa kali dipedekate-in orang. Tapi kakak itu dingin,  jangankan kasih lampu ijo.. lampu kuning aja ogah..”

Faizal mengecek notifikasi ponselnya lalu kembali menatap Amar.

“Nah… Mas Ibram sabar pada kakak. Semangat 45 istilahnya. Tapi kakak tetap susah didekati. Mas ingat masa-masa dimana Kakak kabur dan jahat pada Mas? Kakakku juga seperti itu tingkahnya ke Mas Ibram.”

“Sabina memang pemarah.”

“Tapi Mas Ibram tidak mudah menyerah. Sampai pernah dilamar 13 kali. Sering ke rumah juga bicara pada orangtua kami. Hasilnya nol besar, karena keputusan tetap di tangan Kakak. Saat itu aku tidak tahu siapa yang Kakak suka.. cuma Kak Makki yang tahu.”

“Tidak luluh juga?”

“Aku bingung Mas. Sekeren Mas Ibram didiamkan Kakakku.. sekarang ternyata aku sadar, kakak nungguin Mas Amar. Jadi pliis.. jangan berpikiran macam-macam pada kakak. Perempuan seperti kakakku hanya bisa menambatkan hatinya sekali seumur hidupnya Mas.”

Amar mengerjapkan matanya berpikir. Nyaris saja Sabina terlepas ke tangan Ibram dulu.

“Kalau Mas masih bingung. Coba pikir deh, kecemburuan yang Mas rasakan ke kakak saat ini adalah sebanding dengan apa yang kakak rasakan ketika Mas masih memendam perasaan Mas sendirian. Tidak lebih malah”

Amar langsung teringat Sabina mengatakan ia melihat Amar makan dengan wanita lain sebelum kecelakaan dan koma. Sabina juga tidak nyaman ketika bertanya masa sekolah Amar dulu sebelum menghadiri reunian dan bertemu Ibram tanpa direncanakan. Amar terlihat berpikir, Faizal melanjutkan celotehannya.

“Nah, persis! Itu yang Kak Sabina rasakan ketika lihat Mas bersama perempuan lain. Meski itu cuma ngobrol santai gak penting sekalipun.”

“Baiklah. Positif.. kami sudah menikah.”

“Tapi kupikir Mas Ibram orangnya romantis ketimbang Mas. Karena jarak umur mereka cukup jauh, kakak selalu pakai kata ganti saya ke Mas Ibram. Dulu saat masih getol mendekati, kadang aku mikir mereka bisa menjadi pasangan keluarga kerajaan yang serba sopan.”

Amar menatap adik iparnya dengan tajam mendengar itu. 

 “Ups! Maaf Mas. Tapi kulihat dulu kakak nyaris menyerah nunggu Mas juga. 10 tahun! Itu kalau anak sudah SD kelas 4 Mas.. hahaha. Aku mah ogah nunggu selama itu.. manusia di dunia ini ada banyak.”

“Faizal…”

“Bercanda Mas.., kakakku lebih jadi dirinya sendiri tanpa Mas paksa tuntut jadi ini itu ketimbang dengan Mas Ibram.”

“Memang kesalahanku juga sih Zal, aku terlalu fokus pada diri sendiri sampai lupa bahwa Sabina  kadang ada goyahnya. Perempuan..”

“Jadi.. kakak meminta maaf karena membuat Mas Ibram harus menelan pil pahit. Sekeras apapun Mas Ibram mencoba, kakak tidak bisa menerima perasaannya Mas Ibram.”

Setelah itu Amar pulang ke rumah. Sabina membukakan pintu rumahnya. Amar langsung memeluknya dan mencium keningnya, menciumi bibirnya berkali-kali. Sabina kebingungan, 

“Kabar baik? Buruk?” Tanya Sabina masih bingung.

“Engga’ cuma pengen peluk kamu saja Bi.., kangen.. engga’ boleh?”

“Apa? Bi?”

“Beberapa hari lalu aku ketemu Kahfi. Dia cerita soal kamu, aku yang minta. Ternyata dia penulis dan kamu dekat dengan dia sampai selalu diucapi terima kasih di bukunya. Kahfi kadang panggil kamu Bi.. ‘kan?”

“Cih.. Kahfi, padahal aku melarangnya cerita. Reputasinya terancam.”

“Tenang Bi.. aku takkan ember kemana-mana soal identitasnya Kahfi.”

Sabina tertawa mendengarnya. Menepuk-nepuk bahu Amar. Lalu tarik rambutnya sedikit. Terdengar Amar meringis kesakitan.

“Bee tawon atau Bi apa?”

“Kamu tahulah sayang. Tidak perlu dijelaskan. Kamu kan cerdas.”

“Ayo keluar. Antarkan aku ketemu Hugo sekarang. Sudah ah! Lepasin!”

Amar terpaksa melepaskannya. Ia pandangi Sabina yang sudah sewot. 

“Sabina sayang, tunggu sebentar. Aku mandi dan ganti baju dulu..”

**

   Sesampainya di rumah makan yang sama dengan beberapa waktu lalu tempat Makki, Arip, Sabina, serta Amar makan bersama dulu.

Hugo salah satu kawan Sabina di luar negeri. Baru pulang beberapa hari lalu, dan baru bisa bertemu Sabina sebelum pulang ke Selandia baru. Setelah makan mereka mengobrol, keduanya lebih banyak mendengarkan ocehan Hugo yang memang sedang membutuhkan teman yang menyediakan kupingnya.

    “Aku salah apa Saaaab? Dona gak secantik aku yang kejar-kejar banyak, Pika gak sebaik aku kenapa yang mau meminang pada ngantri?? Zeva yang begajulan kenapa yang suka banyak? Aku ini kurang apa? Kenapa tidak ada satu pun yang terlihat suka denganku??”

Hugo kesal dan marah-marah sejak tadi. Ia mengeluh sebenarnya ada apa dengannya sampai tidak ada yang mendekatinya?. Kesal setengah mati. Melihat Sabina sudah menikah membuatnya ingin menjerat leher Amar dengan tali skipping, iri setengah mati. Sabina tak pernah kelihatan dekat dengan lelaki, kalau pun dekat itu sebatas teman, mungkin terkadang ada yang mengekornya namun tak berlangsung lama.

Sabina menahan tawanya sejak tadi. Hugo menarik dan cantik orangnya, karakternya juga baik, kadang bisa emosional pemarah seperti Sabina tapi tak sesering Sabina. Hugo hanya seperti ini jika dengan Sabina. Jika diluar pembicaraan ini Hugo akan bersikap tenang dan tertata, namun Sabina adalah temannya maka dari itu kelakuannya menjadi serba terbuka seperti sekarang.

    “Kasus kamu juga seperti aku dulu, aku merasa tidak ada seorangpun yang menyukaiku. Kadang iri dan hampa, tapi tak ada solusinya, aku bahkan tidak bertemu dengan Mas Amar nyaris 5 tahun. Lebih malahan”

    “Hugo, aku beri tahu rahasia kecil, Sabina tidak banyak yang berani mendekati sampai serius karena tiap malam aku berdo’a supaya semua lelaki itu menjauhi Sabina. Aku mengikatnya dalam do’a, akan menjadikannya istriku selamanya.”

Jelas Amar percaya diri, entah sedang bercanda atau serius yang jelas makin membuat Hugo kesal. Sabina menatap dedaunan plastik di pot bunga-bunga’an di atas meja dengan datar, ia hembuskan nafasnya seolah melepaskan beban dari pundaknya. Dalam hati merutuki Amar, lelaki yang satu ini cara mencintai dirinya benar-benar membuatnya merinding. Membuat Sabina tak urung berpikir, jika saja Sabina bisa diperkecil ukurannya dengan senter pengecil doraemon, pasti Amar akan membawa-bawanya dalam saku setiap hari. Sabina mengerjapkan matanya sekali dan menggeleng. Mengenyahkan pikiran anehnya.

    “Terima kasih ‘ya Mas Amar, sudah membuatku tertekan selama bertahun-tahun.”

    “Itu pujian atau hujatan?”

Amar menatap istrinya dengan manja.

    “Pikir sendiri..”

Sabina bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Lalu Amar kembali ke Hugo.

    “Mungkin karena kamu terlalu mewah secara pribadi bagi sebagian besar pria. Sebagai pria aku paham bahwa lelaki kebanyakan akan memilih istri yang cantik tapi tidak terlalu pintar lebih darinya.. ketimbang perempuan dengan standar tinggi seperti kamu. Aku saja dengan Sabina sering adu pemikiran saking cerdas dan pintarnya dia.”

    “Jangan sok muji-muji. Norak kamu Mas..”

    “Pada kenyataannya kamu memang begitu Sab. Aneh, menyebalkan.”

    “Entahlah Amar.. aku lelah sekali, tolong bagi kontak teman kamu yang cocok denganku, aku stagnasi sekarang..”

Hugo putus asa sudah.

    “Hugo.. aku juga pernah di keadaan kamu sekarang ini. Bingung besar, sebenarnya ada yang mencintaiku tidak? Apa yang kurang dariku? Kenapa yang lain yang dibawahku bisa punya banyak penggemar sedangkan aku tidak? Mas Amar juga tidak jelas!”

Sabina memegangi kedua tangan Hugo dengan bersimpati. Mengingat part hidupnya yang sempat kacau karena Amar. Amar tersenyum sabar pada Sabina.

    “Aku sudah membuatnya menjadi jelas Sab… kurang apa lagi aku ini? Apapun yang kamu inginkan akan kuberi, kamu menginginkan surga pun aku akan mengajakmu ke sana.”

Sabina langsung tertawa mendengarnya, memukul bahu kiri Amar dengan gemas. Amar ikut tersenyum karenanya. Mengenang masa pahit itu dia menjadi sebal, namun dengan Amar yang sekarang semuanya seperti terbayarkan.

    “Sabina, suami kamu ngeri ‘ya orangnya? Cocok ditaruh di museum. Langka, gak umum, aneh. Kamu nemu Amar dimana sih?”

    “Di bumi..”

Ketiganya tertawa. 

    “Untung Amar ganteng ‘ya? Kalau tidak sudah aku siram air kobokan, kata-katanya ya ampun.. Sabina, ini kalau keluar dari mulut orang lain pasti aku menganggapnya tukang gombal, tapi Amar tidak, karena posisinya suami kamu. Hahahah!”

    “Iya ih.. kadang agak jijik akunya. Semua omongannya konyol.”

Amar menyeruput minumannya dengan santai melihat dua wanita ini tertawa tak hentinya.

***

    Di kantor Sabina sendirian. Yang lainnya kebanyakan sudah pulang. Attar sudah satu jam tidur di ruangan pribadinya yang tersembunyi di balik rak buku besar di dalam ruangannya. Hanya ada Sabina di luar, menunggu Amar menjemputnya. Amar bilang ban mobilnya bocor dan harus ditambal. Sabina jangan turun dulu sebelum Amar mengirimkan pesan lagi. 

Lima belas menit yang lalu seorang wanita tinggi dan berambut sedang mendatanginya. Sekarang menjelaskan apa maksudnya ia kemari.

 “Kamu Sabina? Mau maunya dibodohi Amar ‘ya?”

   “Maksudnya apa ‘ya Mbak?”

   “Aku mengandung anak Amar. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan kamu yang seperti anak kecil. Pernikahan itu harus ada anak, apa kami tidak tahu orangtua Amar sudah mendambakan bayi sejak lama?”

   “Mbak siapa ‘ya?”

   “Istri siri Amar. Dia memang sengaja tidak bilang ke kamu karena kamu emosional. Dia cuma kasihan sama kamu Sabina, jangan naif!”

   “Mbak tidak bohong ‘kan?”

Wanita tersebut memberikan selembar foto Amar dengan wanita tersebut. Tampak acara ijab kabul. Mata Sabina memanas melihatnya

   “Bawa saja Sabina, aku punya banyak. Kamu bisa tanyakan langsung ke Amar dengan itu.”

   “Kamu memang tidak ada masalah dengan rahim, tapi temperamental kamu itu yang membuat segalanya jadi salah. Amar sudah lebih dari bersabar menghadapi kamu”

Sabina tak berkutik karenanya. Ia terduduk lemas di kursinya. Sore ini penuh masalah, pabrik kertas mereka terbakar, kesalahan cetak pada judul buku terbaru, ditambah ini juga. Wanita itu pergi begitu saja. 

**

   Amar tidak tahu menahu kenapa Sabina terlihat sedih. Sedari tadi ia bungkam dan lebih memilih menatapi jalanan. Amar beberapa kali membuka pembicaraan namun tak banyak ditanggapi.

   “Bi, kamu kenapa? Ada masalah? Ceritalah”

   “Engga’ kog,”

   “Sabina, kita sudah sepakat sudah tidak ada privasi aku kamu. Semua sudah jadi kita, apapun itu.”

   “Mas, bisa nggak? Kalau aku tidak mau jawab kamu tidak usah maksa terus buat tanya? Ngerepotin tau gak?”

    “Aku tidak suka kamu mengatakan seperti itu. Apa kamu tidak bersyukur dicintai olehku? Sab…”

Sabina menggeleng lemah

    “Bukan seperti itu, soal Mas Ibram juga sama, nggak nyaman Mas. Aku… aku hanya manusia biasa Mas, aku nyaris berhenti menunggu kamu. Dilamar oleh Mas Ibram berkali-kali membuatku terkadang bimbang. Tapi dengan bodohnya aku masih berusaha percaya kamu mungkin punya perasaan yang sama..”

Amar tercenung mengetahuinya. 

    “Tapi jika kita tak berjodoh aku bisa belajar mengikhlaskan meski tidak mudah”

    “Sabina, aku mohon jangan begini.. kamu satu-satunya yang aku cintai.”

    “Tepikan mobilnya Mas..”

    “Sab…”

    “Tepikan sekarang juga!”

Terpaksa Amar menepikan mobilnya. Tanpa menoleh lagi Sabina keluar dari mobil dan mendapatkan taksi dengan cepat. Amar sandarkan dahinya ke kemudi, frustasi. Jika memaksa Sabina tetap tinggal justru akan memperumit segalanya.

Advertisements

Posted on 23 February 2018, in Nightfall, Nightfall Light Up the Sky and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s