​[C-Movie] 20 Once Again – Part 5

“Benar. Kita berhenti saja. Lagipula kesempatan ini hanyalah hadiah pemberian Tuan Tan. Bukanlah masalah besar. Jika kita tidak bersaing, maka tidak akan kalah. Jika kita tidak kalah maka kita takkan melukai kebanggan kita.”

Lijun marah. Ia ambili barang-barangnya dan hendak pergi. Ia telah banyak melihat anak-anak seperti mereka.. tidak berharga.

Qianjin menahannya “Tunggu! Aku tidak ingin menyesal. Mari kita mencoba lagi.”

Lijun tersenyum. Sebenarnya ia mengatakan kata-kata jahat tadi hanya untuk menggertak anak-anak, supaya mereka bangkit dan lebih bersemangat lagi. 

Lijun meminta maaf terlebih dahulu atas perubahan jadwal. Tan Ziming sudah terlihat tak banyak berharap pada band “Maju”. Ia melepaskan jasnya lalu dia berikan ke Cindy. Cindy menyesalkan keputusan bosnya, mereka seharusnya tak banyak membuat pengecualian bagi band tersebut.

Lijun mengatakan ia akan menyanyikan sebuah lagu, lagu kesayangannya yang memberikannya kekuatan untuk berdiri di panggung. 

Lijun menyanyikannya sepenuh hati. Nyanyiannya menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan saat itu.

Terkenanglah masa mudanya, memori yang sulit ia lupakan. Dimana ia menjalani kehidupan demi Guobin anaknya. Tak pernah benar ia nikmati untuk dirinya sendiri. Ia membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Hamil muda, ia harus ditinggalkan suaminya pergi bekerja jauh. Meski sulit ia berusaha tegar.

Ia bekerja keras pula selama mengandung. Bahkan beristirahat sebentar saja pun disela-sela pekerjaan sudah lebih dari cukup.

Guobin lahir dan tumbuh, seseorang datang membawakan surat dan bawaan suaminya. Betapa tak kuasanya ia menahan isakan tangisnya.. mengetahui kenyataan bahwa suaminya telah pergi untuk selamanya.

Ia merawat Guobin seorang diri, melakoni pekerjaan apa saja demi kelangsungan hidup mereka. 

Guobin sekeluarga juga menonton acara tv-nya. 

Li Dahai sudah bercucuran air mata sejak tadi. 

Li Dahai mengomentari rok Lijun terlalu pendek. Lijun rasa ketika ia muda juga sering berpenampilan begini. Li Dahai bilang tak pernah mengizinkan Mengjun memakai pakaian seperti itu.

Seorang pria menggoda Lijun, berbasa-basi mengajaknya menari. Li Dahai mendorong dan memarahinya, Lijun itu berasal dari generasi nenekmu!

Tan Ziming dan yang lain datang. Tan Ziming mengatakan ia baru saja dapat penawaran bagus, band mereka akan naik pentas di Festival musik besar. 

Cindy muak mendengarnya, tawaran apanya? Ialah yang berusaha melakukan ini itu agar band mereka bisa tampil.

Mereka kemudian bersulang. Si drummer mengajak semuanya melantai. Lijun bingung, dua pria menawarkan tangan mereka untuk mengajak berdansa.

Lijun pun meletakkan tangan Qianjin ke tangan Tuan Tan, ia akan di sini saja menemani Kakek Li.

Kakek Li merasa tidak enak membuat Lijun harus diam di sini dengannya. Ia mengajaknya menari saja dengan yang lain. Lijun mengejeknya, bahkan suara musiknya jauh lebih cepat ketimbang detak jantung Li Dahai.

Kemudian mereka melantai. Kakek Li menari dengan semangat, namun tanpa sengaja lengannya mengenai wajah pria yang menggoda Lijun sebelumnya. 

Pria itu sengaja menjatuhkan  botol minumannya, menfitnah Kakek Li adalah orangtua cabul.

Ketika yang lain hendak tak menghiraukan pria aneh tersebut, Lijun justru memarahinya.

Apa pernah pria itu bertugas di militer? Pernah mengemudikan tank? Aku pikir kau bahkan tak bisa memegang senjata. 

Lijun sebutkan jabatan Kakek Li dulu di militer. 

Menjatuhkan botol dan memulai perkelahian. Jika kau memang sehebat itu mengapa tak melayani negara saja?!

Tan Mizing dan yang lain bertepuk tangan setelah sekelompok anak muda tersebut gagal menjawab dan kalah.

Tan Mizing melihat kaki Lijun tergores oleh pecahan botol. Ia menyuruh Cindy membawakan plester. Namun Lijun pikir ini bukan masalah, pamit pergi dengan Kakek Li.

Di rumah mereka coba obati sendiri. Li Dahai mengambil jarum yang besar sekali dan diumpati Nenek Shen. Lijun ambilkan jarum yang sedikit kecilan. 

Kakek Li menusukkannya, karena kaget akhirnya Lijun malah menendang hidung Li Dahai. 

Anehnya setelah diobati kulit di bagian yang terluka tadi jadi keriput. Li Dahai pikir ada jalan untuk membuat Mengjun seperti semula. Sayangnya Li Dahai rasa Mengjun tidak menginginkan dirinya kembali menjadi nenek-nenek untuk sekarang.

Anaknya Li Dahai mendatangi kamar tersebut. Tengah malam begini ada apa ribut-ribut?. Ia terkejut sekali melihat ayahnya satu kamar dengan si penyewa. Syok.. membuatnya berpikiran yang macam-macam. (Dokter-dokteran? Hahahaha.. 😂)

Lijun langsung diusir saat itu juga. Meski Kakek Li sudah berusaha untuk menahannya jangan pergi.

Lijun tidak ada tempat tujuan lain. Kembali ke rumahnya sendiri tentu tidak mungkin. Kebetulan Tan Ziming menghubunginya, memastikan apakah Lijun pulang dengan aman.

Lijun lalu menginap di kediaman Tan Ziming, ia beralasan kelupaan kunci kamarnya. Lagipula kerabat pemilik rumah menginap malam ini.

Lijun menyiapkan tempat tidurnya di sofa. Tuan Tan lalu berbaring di sana, meminta Lijun tidur di kamarnya saja.

Lijun tak bisa langsung tidur. Ia turun lagi untuk mematikan lampu, hemat listrik. Tuan Tan justru terlonjak kaget lampu dimatikan. Lijun menduga Tuan Tan takut gelap. Tuan Tan tak mengakuinya, ia sok mematikan lampunya dan pura-pura tidur.

Lijun kembali naik. Setelah merasa aman, Tuan Tan hendak menghidupkan lampu kembali. Lijun memergokinya hendak menghidupkan lampu lagi.

Tan Ziming beralasan ia mau ke kamar mandi.

Lijun geli, ia lalu menggamitnya menuju sofa. Lijun bilang si “Kancing kecil” keluarga kami juga anak yang takut pada gelap. Menyuruhnya berbaring.

“Siapa itu kancing kecil?”

“Seorang anak kerabat..”

 Ia menyelimutinya. Menutup mata Tan dengan telapak tangannya, menghitung sampai lima lalu buka matamu kembali. 

Maka terlintaslah wajah indah Lijun yang tersenyum tulus padanya, seolah-olah membuat ketakutannya akan gelap tak berarti lagi.
“Yang perlu kita lakukan hanyalah menyesuaikan diri dengan gelap.” Lijun yakin mulai sekarang Tuan Tan tak perlu takut pada gelap lagi.

“Tidurlah..” Lijun menepuk-nepuknya lalu pergi. 

Sepeninggalnya Lijun, ia masih terpana saja. Menghirup aroma selimut Lijun sambil tersenyum. Genap sudah ia jatuh cinta padanya. Melebihi sebelumnya.

Yangqin terbangun tengah malam. Ia mengira ibu mertuanya sudah pulang. Ternyata itu Xinran yang sedang menyiapkan makanan.

Xinran memintanya tidur kembali. Ibunya bilang sudah terlalu lama tidur.

“Xinran. Kau harus lebih baik pada calon ibu mertuamu.”

“Aku tahu. Baik pada ibu mertua.”

Li Dahai bersikeras bahwa Lijun adalah Mengjun. Guobin memberhentikan kelasnya, menyuruh beberapa mahasiswa yang hadir bisa pulang sekarang.

Li Dahai menunjukkan foto masa muda Shen Mengjun. Yang ada malah membuat Guobin mengiranya sakit alzheimer, ia akan mengenalkan Paman Li ke temannya.

Li Dahai geram disebut sakit. Ia ambil fotonya, masa’ anak sendiri tidak bisa mengenali ibunya?.

Barulah ia cek, rupanya foto Mengjun kelunturan air tepat di bagian wajahnya. 

Paket kiriman datang ke rumah Tan Ziming. Cindy datang juga meminta tanda tangan, ia terkejut melihat Lijun ada di rumah tersebut. Langsung ia tinggalkan berkasnya dengan kasar.

Tan Ziming tak suka dengan lagu yang Lijun nyanyikan. Ia menyuruh Cindy mencarikan komposer untuk band ini. Cindy tak menggubrisnya.

Qianjin tersinggung. Ia telah menulis banyak lagu, apa tidak ada yang memenuhi seleranya Tuan Tan? Setidaknya berikan umpan balik. 

Tan Ziming tegas mengatakan semua lagunya Qianjin sama saja, terkesan salinan dari lagu lain. 

Qianjin naik pitam, ia pikir yang Tuan Tan pentingkan hanyalah Lijun disini. Qianjin dan Cindy keluar ruangan. Sama-sama tak betah berada di ruangan yang sama dengan Tan Ziming ataupun Lijun.

K O M E N T A R:

   Saya tidak sepenuhnya memihak posisi mertua atau menantu disini sih. Meski iya.. saya sudah lama ketakutan dengan image “Mertua itu galak”..  Hahaha, terdoktrin dari cerita para mamah muda yang telah berumahtangga. Kalau di part 1 saya seperti memihak sekali pada menantu.. ya memang~ ‘kan ada alasannya, buktinya juga banyak. 

Saya cuma berpikir, kalau punya suami nanti maka akan menganggap ibu mertua sebagai ibu sendiri. Titik, tidak bisa diganggu gugat. Bukan karena cari muka/terpaksa, murni terpikirkan karena menikah bukan urusan perorangan.. sayangi juga keluarganya.

Karena saya seperti dipukul telak dengar cerita seseorang, datang padaku dengan tangisan.. betapa teganya para mantu membiarkan mertua sakit hanya dirawat pihak anak kandung yang perempuan. Saya terkadang geram dengan konsep “kandung2” karena apa? Ternyata sulit ‘ya.. menemukan orang yang berpikiran bahwa; kita itu di dunia ini semua serba titipan, baik yang kandung2 tadi atau apapun siapapun itulah.. jadi kalau mau berdarma/berbaik-ria kenapa harus tanggung-tanggung?. Kenapa harus pilih kasih pada yang serba sedarah  baru ikhlas bantu? Mungkin beliau bukan melahirkanmu Teh.. tapi beliau yang melahirkan suamimu, didik, nyemangatin masa-masa sedihnya. Itu saja sudah sakral kedengerannya.

Inget aja deh, apapun yang kita lakukan entah plus/minus pasti balik lagi ke diri kita sendiri. Mungkin tidak balik langsung, tapi ‘ya pasti balik lagi ke kita diwaktu yang tak terduga.

   Jadi saya lebih ke lihatnya. Bukan Yangqin yang salah, bukan sepenuhnya Shen Mengjun yang salah juga disini. Mereka cukup saling terbuka enaknya gimana nih.. Nenek Shen ingin Yangqin ini itu, Yangqin berusaha.. kalau pun belum sesuai harapan? Coba lagi.. lagi, seatap ‘kan? Masa’ saling menggerutu dibelakang? Tidak enak didenger ayam 😅, karena hubungan keluarga bukanlah seperti “Ketawa karir” semua pasti beres. Ketika bos ngajakin kita ngobrol tapi pas kita lagi bad mood/dan ceritanya gak menarik sama sekali tapi dia ketawa sendiri.. kan ga enak kita natapin doang. Dengan “Ketawa karir” pasti beres. Setelahnya bisa melipir menjauh, ngaso cari minuman adem, kan hubungan keluarga tidak sesederhana itu.. hahahaha.

​[Cerbung] Nightfall, Light Up The Sky – Part 4

    Pria di depan mereka memancarkan aura kebingungan setelah melihat Sabina dekat sekali dengan Amar. Senyumannya ramah, ia mengenal Sabina dan Amar namun tak tahu apa hubungan keduanya.

“Sabina.. Amar. Kalian saling kenal? Ada apa ini ‘ya?”

Amar sontak merangkul pundak Sabina erat. Sabina bahkan sempat menoleh ke Amar seolah menanyakan apa maksudnya.

Diantara semua yang datang,setelah menyapai semua kawan Amar. Seorang pria datang menyapa Amar, baik Sabina dan pria itu sama-sama terlihat kaget. Amar bingung, apa hubungan keduanya? Tatapannya melembut melihat Sabina. Namun berubah defensif melihat Amar.

“Mas Ibram. Sabina istriku sekarang. Sebelumnya mau mengundang Mas tapi kita lost contact lama.”

Ibram menenglengkan kepalanya sebentar. Lalu ia tatap Sabina dan Amar bergantian. Meski Amar sudah mengetahui Sabina dan Ibram saling kenal, dari cara mereka menatap satu sama lain terlihat jelas. Sabina diam saja sejak tadi.

“Oh, jadi begitu. Selamat ‘ya Sab.. saya tidak menduga kamu menikah dengan Amar.”

Kata Ibram dengan setengah hati. Dari sorot matanya Amar lihat senior dua tahun di atasnya ini ada perasaan pada Sabina. Terlihat jelas ketidakrelaan di sana.

“Maaf Mas Ibram. Terima kasih..”

Ibram mengangguk penuh wibawa. Wajahnya menenangkan bagi siapapun yang memandang, Amar jadi khawatir. Jangan bilang Ibram dan Sabina pernah ada hubungan sebelum kenal dengan Amar.

Amar langsung ambil inisiatif. Ia beralasan ada urusan keluarga dan harus segera pulang. Ia menarik tangan Sabina dan keluar dari gedung tersebut. Melewati kerumunan orang-orang. Sesampainya di parkiran Sabina meronta minta dilepaskan.

“Kamu kenapa sih?”

Sabina gerak-gerakkan lengannya sakit dicengkeram Amar keras barusan.

“Mas Ibram. Kamu kenal? Kenapa tidak cerita ke aku? Ada hubungan apa kalian berdua?”

Sabina mengusap pelipisnya dengan sebal. Ia mengerjapkan matanya dan keraskan rahangnya. Marah pada Amar.

“Cemburu? Heloo.. Mas Amar. Aku jauh lebih sakit hati karena teman kamu kebanyakan perempuan dulu. Kita sudah menikah, kamu pikir aku akan kemana? Jangan seperti ini! Kekanakan tau gak?!”

“Aku takut Sab.. dia lebih sukses dari aku. Pengusaha muda, pelesiran ke luar negeri saban bulan. Jauh sekali dibandingkan aku.”

“Mas, kamu engga’ ingat? Kamu itu hadiah terbaik yang Tuhan berikan ke aku..”

Sabina mencoba meraih tangan Amar dan menggenggamnya.

“Lalu kenapa kamu meminta maaf ke Mas Ibram? Kesalahan apa yang kamu buat?”

“Aku tidak mau menjelaskannya sekarang. Pikiran kamu sedang tidak jernih. Lebih baik pulang.”

Sabina memasuki mobil.

“Baik..”

***

    Faizal menyeruput sodanya sembari berpikir. Ia bersama Amar di salah satu resto. Ia diminta Amar bertemu sore itu. Ia sejak Sabina koma sampai amnesia memang selalu mendukung Amar. Memberikan informasi tentang kakaknya dan cara mendekatinya. Tak pelak kalau ada permasalahan diantara keduanya ia akan senang senang saja menjadi penengah. Amar tak segan memberikannya uang jajan sesekali.

“Mas Ibram itu… kenal kakakku kira-kira ya waktu di luar negeri sih..”

“Teman flatnya?”

Faizal mengibaskan tangannya dan terkikik.

“Bukanlah.., teman satu flatnya kakak itu Kahfi dan Mba’ Heidi.”

Amar masih tampak kalut. Faizal ingin tertawa sejak tadi. Kakak iparnya cemburuan.

“Tapi kenapa harus parno sih Mas? Ceritanya udah basi kali ah.., suaminya Kakakku adalah Mas Amar. Kalau hitung-hitungan cemburu, parahan kakakku ketimbang Mas. Tahulah.. Mas ‘kan fansnya banyak. Dan dulu kakakku tidak tahu perasaannya Mas. Itu sakit Mas..”

Kedua tangan Faizal angkat tinggi-tinggi menjelaskan.

Tapi tetap saja Amar penasaran.

“Jadi ada apa sampai Sabina minta maaf ke Ibram?”

“Kakak ‘kan cantik. Aku bilang gini bukan karena dia kakakku lho Mas.., wajar perempuan single beberapa kali dipedekate-in orang. Tapi kakak itu dingin,  jangankan kasih lampu ijo.. lampu kuning aja ogah..”

Faizal mengecek notifikasi ponselnya lalu kembali menatap Amar.

“Nah… Mas Ibram sabar pada kakak. Semangat 45 istilahnya. Tapi kakak tetap susah didekati. Mas ingat masa-masa dimana Kakak kabur dan jahat pada Mas? Kakakku juga seperti itu tingkahnya ke Mas Ibram.”

“Sabina memang pemarah.”

“Tapi Mas Ibram tidak mudah menyerah. Sampai pernah dilamar 13 kali. Sering ke rumah juga bicara pada orangtua kami. Hasilnya nol besar, karena keputusan tetap di tangan Kakak. Saat itu aku tidak tahu siapa yang Kakak suka.. cuma Kak Makki yang tahu.”

“Tidak luluh juga?”

“Aku bingung Mas. Sekeren Mas Ibram didiamkan Kakakku.. sekarang ternyata aku sadar, kakak nungguin Mas Amar. Jadi pliis.. jangan berpikiran macam-macam pada kakak. Perempuan seperti kakakku hanya bisa menambatkan hatinya sekali seumur hidupnya Mas.”

Amar mengerjapkan matanya berpikir. Nyaris saja Sabina terlepas ke tangan Ibram dulu.

“Kalau Mas masih bingung. Coba pikir deh, kecemburuan yang Mas rasakan ke kakak saat ini adalah sebanding dengan apa yang kakak rasakan ketika Mas masih memendam perasaan Mas sendirian. Tidak lebih malah”

Amar langsung teringat Sabina mengatakan ia melihat Amar makan dengan wanita lain sebelum kecelakaan dan koma. Sabina juga tidak nyaman ketika bertanya masa sekolah Amar dulu sebelum menghadiri reunian dan bertemu Ibram tanpa direncanakan. Amar terlihat berpikir, Faizal melanjutkan celotehannya.

“Nah, persis! Itu yang Kak Sabina rasakan ketika lihat Mas bersama perempuan lain. Meski itu cuma ngobrol santai gak penting sekalipun.”

“Baiklah. Positif.. kami sudah menikah.”

“Tapi kupikir Mas Ibram orangnya romantis ketimbang Mas. Karena jarak umur mereka cukup jauh, kakak selalu pakai kata ganti saya ke Mas Ibram. Dulu saat masih getol mendekati, kadang aku mikir mereka bisa menjadi pasangan keluarga kerajaan yang serba sopan.”

Amar menatap adik iparnya dengan tajam mendengar itu.

 “Ups! Maaf Mas. Tapi kulihat dulu kakak nyaris menyerah nunggu Mas juga. 10 tahun! Itu kalau anak sudah SD kelas 4 Mas.. hahaha. Aku mah ogah nunggu selama itu.. manusia di dunia ini ada banyak.”

“Faizal…”

“Bercanda Mas.., kakakku lebih jadi dirinya sendiri tanpa Mas paksa tuntut jadi ini itu ketimbang dengan Mas Ibram.”

“Memang kesalahanku juga sih Zal, aku terlalu fokus pada diri sendiri sampai lupa bahwa Sabina  kadang ada goyahnya. Perempuan..”

“Jadi.. kakak meminta maaf karena membuat Mas Ibram harus menelan pil pahit. Sekeras apapun Mas Ibram mencoba, kakak tidak bisa menerima perasaannya Mas Ibram.”

Setelah itu Amar pulang ke rumah. Sabina membukakan pintu rumahnya. Amar langsung memeluknya dan mencium keningnya, menciumi bibirnya berkali-kali. Sabina kebingungan,

“Kabar baik? Buruk?” Tanya Sabina masih bingung.

“Engga’ cuma pengen peluk kamu saja Bi.., kangen.. engga’ boleh?”

“Apa? Bi?”

“Beberapa hari lalu aku ketemu Kahfi. Dia cerita soal kamu, aku yang minta. Ternyata dia penulis dan kamu dekat dengan dia sampai selalu diucapi terima kasih di bukunya. Kahfi kadang panggil kamu Bi.. ‘kan?”

“Cih.. Kahfi, padahal aku melarangnya cerita. Reputasinya terancam.”

“Tenang Bi.. aku takkan ember kemana-mana soal identitasnya Kahfi.”

Sabina tertawa mendengarnya. Menepuk-nepuk bahu Amar. Lalu tarik rambutnya sedikit. Terdengar Amar meringis kesakitan.

“Bee tawon atau Bi apa?”

“Kamu tahulah sayang. Tidak perlu dijelaskan. Kamu kan cerdas.”

“Ayo keluar. Antarkan aku ketemu Hugo sekarang. Sudah ah! Lepasin!”

Amar terpaksa melepaskannya. Ia pandangi Sabina yang sudah sewot.

“Sabina sayang, tunggu sebentar. Aku mandi dan ganti baju dulu..”

**

   Sesampainya di rumah makan yang sama dengan beberapa waktu lalu tempat Makki, Arip, Sabina, serta Amar makan bersama dulu.

Hugo salah satu kawan Sabina di luar negeri. Baru pulang beberapa hari lalu, dan baru bisa bertemu Sabina sebelum pulang ke Selandia baru. Setelah makan mereka mengobrol, keduanya lebih banyak mendengarkan ocehan Hugo yang memang sedang membutuhkan teman yang menyediakan kupingnya.

    “Aku salah apa Saaaab? Dona gak secantik aku yang kejar-kejar banyak, Pika gak sebaik aku kenapa yang mau meminang pada ngantri?? Zeva yang begajulan kenapa yang suka banyak? Aku ini kurang apa? Kenapa tidak ada satu pun yang terlihat suka denganku??”

Hugo kesal dan marah-marah sejak tadi. Ia mengeluh sebenarnya ada apa dengannya sampai tidak ada yang mendekatinya?. Kesal setengah mati. Melihat Sabina sudah menikah membuatnya ingin menjerat leher Amar dengan tali skipping, iri setengah mati. Sabina tak pernah kelihatan dekat dengan lelaki, kalau pun dekat itu sebatas teman, mungkin terkadang ada yang mengekornya namun tak berlangsung lama.

Sabina menahan tawanya sejak tadi. Hugo menarik dan cantik orangnya, karakternya juga baik, kadang bisa emosional pemarah seperti Sabina tapi tak sesering Sabina. Hugo hanya seperti ini jika dengan Sabina. Jika diluar pembicaraan ini Hugo akan bersikap tenang dan tertata, namun Sabina adalah temannya maka dari itu kelakuannya menjadi serba terbuka seperti sekarang.

    “Kasus kamu juga seperti aku dulu, aku merasa tidak ada seorangpun yang menyukaiku. Kadang iri dan hampa, tapi tak ada solusinya, aku bahkan tidak bertemu dengan Mas Amar nyaris 5 tahun. Lebih malahan”

    “Hugo, aku beri tahu rahasia kecil, Sabina tidak banyak yang berani mendekati sampai serius karena tiap malam aku berdo’a supaya semua lelaki itu menjauhi Sabina. Aku mengikatnya dalam do’a, akan menjadikannya istriku selamanya.”

Jelas Amar percaya diri, entah sedang bercanda atau serius yang jelas makin membuat Hugo kesal. Sabina menatap dedaunan plastik di pot bunga-bunga’an di atas meja dengan datar, ia hembuskan nafasnya seolah melepaskan beban dari pundaknya. Dalam hati merutuki Amar, lelaki yang satu ini cara mencintai dirinya benar-benar membuatnya merinding. Membuat Sabina tak urung berpikir, jika saja Sabina bisa diperkecil ukurannya dengan senter pengecil doraemon, pasti Amar akan membawa-bawanya dalam saku setiap hari. Sabina mengerjapkan matanya sekali dan menggeleng. Mengenyahkan pikiran anehnya.

    “Terima kasih ‘ya Mas Amar, sudah membuatku tertekan selama bertahun-tahun.”

    “Itu pujian atau hujatan?”

Amar menatap istrinya dengan manja.

    “Pikir sendiri..”

Sabina bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Lalu Amar kembali ke Hugo.

    “Mungkin karena kamu terlalu mewah secara pribadi bagi sebagian besar pria. Sebagai pria aku paham bahwa lelaki kebanyakan akan memilih istri yang cantik tapi tidak terlalu pintar lebih darinya.. ketimbang perempuan dengan standar tinggi seperti kamu. Aku saja dengan Sabina sering adu pemikiran saking cerdas dan pintarnya dia.”

    “Jangan sok muji-muji. Norak kamu Mas..”

    “Pada kenyataannya kamu memang begitu Sab. Aneh, menyebalkan.”

    “Entahlah Amar.. aku lelah sekali, tolong bagi kontak teman kamu yang cocok denganku, aku stagnasi sekarang..”

Hugo putus asa sudah.

    “Hugo.. aku juga pernah di keadaan kamu sekarang ini. Bingung besar, sebenarnya ada yang mencintaiku tidak? Apa yang kurang dariku? Kenapa yang lain yang dibawahku bisa punya banyak penggemar sedangkan aku tidak? Mas Amar juga tidak jelas!”

Sabina memegangi kedua tangan Hugo dengan bersimpati. Mengingat part hidupnya yang sempat kacau karena Amar. Amar tersenyum sabar pada Sabina.

    “Aku sudah membuatnya menjadi jelas Sab… kurang apa lagi aku ini? Apapun yang kamu inginkan akan kuberi, kamu menginginkan surga pun aku akan mengajakmu ke sana.”

Sabina langsung tertawa mendengarnya, memukul bahu kiri Amar dengan gemas. Amar ikut tersenyum karenanya. Mengenang masa pahit itu dia menjadi sebal, namun dengan Amar yang sekarang semuanya seperti terbayarkan.

    “Sabina, suami kamu ngeri ‘ya orangnya? Cocok ditaruh di museum. Langka, gak umum, aneh. Kamu nemu Amar dimana sih?”

    “Di bumi..”

Ketiganya tertawa.

    “Untung Amar ganteng ‘ya? Kalau tidak sudah aku siram air kobokan, kata-katanya ya ampun.. Sabina, ini kalau keluar dari mulut orang lain pasti aku menganggapnya tukang gombal, tapi Amar tidak, karena posisinya suami kamu. Hahahah!”

    “Iya ih.. kadang agak jijik akunya. Semua omongannya konyol.”

Amar menyeruput minumannya dengan santai melihat dua wanita ini tertawa tak hentinya.

***

    Di kantor Sabina sendirian. Yang lainnya kebanyakan sudah pulang. Attar sudah satu jam tidur di ruangan pribadinya yang tersembunyi di balik rak buku besar di dalam ruangannya. Hanya ada Sabina di luar, menunggu Amar menjemputnya. Amar bilang ban mobilnya bocor dan harus ditambal. Sabina jangan turun dulu sebelum Amar mengirimkan pesan lagi.

Lima belas menit yang lalu seorang wanita tinggi dan berambut sedang mendatanginya. Sekarang menjelaskan apa maksudnya ia kemari.

 “Kamu Sabina? Mau maunya dibodohi Amar ‘ya?”

   “Maksudnya apa ‘ya Mbak?”

   “Aku mengandung anak Amar. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan kamu yang seperti anak kecil. Pernikahan itu harus ada anak, apa kami tidak tahu orangtua Amar sudah mendambakan bayi sejak lama?”

   “Mbak siapa ‘ya?”

   “Istri siri Amar. Dia memang sengaja tidak bilang ke kamu karena kamu emosional. Dia cuma kasihan sama kamu Sabina, jangan naif!”

   “Mbak tidak bohong ‘kan?”

Wanita tersebut memberikan selembar foto Amar dengan wanita tersebut. Tampak acara ijab kabul. Mata Sabina memanas melihatnya

   “Bawa saja Sabina, aku punya banyak. Kamu bisa tanyakan langsung ke Amar dengan itu.”

   “Kamu memang tidak ada masalah dengan rahim, tapi temperamental kamu itu yang membuat segalanya jadi salah. Amar sudah lebih dari bersabar menghadapi kamu”

Sabina tak berkutik karenanya. Ia terduduk lemas di kursinya. Sore ini penuh masalah, pabrik kertas mereka terbakar, kesalahan cetak pada judul buku terbaru, ditambah ini juga. Wanita itu pergi begitu saja.

**

   Amar tidak tahu menahu kenapa Sabina terlihat sedih. Sedari tadi ia bungkam dan lebih memilih menatapi jalanan. Amar beberapa kali membuka pembicaraan namun tak banyak ditanggapi.

   “Bi, kamu kenapa? Ada masalah? Ceritalah”

   “Engga’ kog,”

   “Sabina, kita sudah sepakat sudah tidak ada privasi aku kamu. Semua sudah jadi kita, apapun itu.”

   “Mas, bisa nggak? Kalau aku tidak mau jawab kamu tidak usah maksa terus buat tanya? Ngerepotin tau gak?”

    “Aku tidak suka kamu mengatakan seperti itu. Apa kamu tidak bersyukur dicintai olehku? Sab…”

Sabina menggeleng lemah

    “Bukan seperti itu, soal Mas Ibram juga sama, nggak nyaman Mas. Aku… aku hanya manusia biasa Mas, aku nyaris berhenti menunggu kamu. Dilamar oleh Mas Ibram berkali-kali membuatku terkadang bimbang. Tapi dengan bodohnya aku masih berusaha percaya kamu mungkin punya perasaan yang sama..”

Amar tercenung mengetahuinya.

    “Tapi jika kita tak berjodoh aku bisa belajar mengikhlaskan meski tidak mudah”

    “Sabina, aku mohon jangan begini.. kamu satu-satunya yang aku cintai.”

    “Tepikan mobilnya Mas..”

    “Sab…”

    “Tepikan sekarang juga!”

Terpaksa Amar menepikan mobilnya. Tanpa menoleh lagi Sabina keluar dari mobil dan mendapatkan taksi dengan cepat. Amar sandarkan dahinya ke kemudi, frustasi. Jika memaksa Sabina tetap tinggal justru akan memperumit segalanya.