​[C-Movie] 20 Once Again – Part 3

   Ketika ditanyai namanya siapa. Mengjun mengatakan namanya Meng Lijun. Kakek Li jadi teringat Nenek Shen suka sekali pada Teresa Teng dulu.

Anaknya mengingatkan bahwa Bibi Shen pasti baik-baik saja sekarang. Lijun kemudian naik ke atas meninggalkan keduanya.

   Lijun meninggalkan kertas di rumah. Ia sempat berpapasan dengan Guobin anaknya. Yangqin dan Guobin heran darimana datangnya surat ini? Keduanya mengedarkan pandangan namun tak ada siapapun.

Yangqin, jangan lupa minum obatmu. Aku akan menjadi orang yang pergi dari rumah. 

Guobin kebingungan, namun Guobin tersenyum tahu ibunya baik-baik saja. Yangqin kembali ke dalam. Nenek Shen menuliskan ia baik-baik saja dan tak perlu khawatir. 

  Kakek Li bermain mahjong dengan Nenek Chen juga. Lijun memperhatikan ubinnya sambil makan kuaci. Ia juga ikut mengatur ubinnya Kakek Li. Kakek Li dihubungi oleh Qianjin, ia tak jadi main. Lijun akan menggantikannya, ia mengaku sebagai penyewa tempat tinggal Kakek Li Dahai. 

Lijun senang sekali bisa memperolok Nenek Chen dengan memanggilnya nenek sementara dengan yang lain ia panggil kakak. Nenek Chen sampai kesal dibuatnya, 

Lijun menang terus.

Tan Ziming dan Cindy menyaksikan pertunjukan musisi jalanan. Cindy masih berusaha mencari tahu selera yang Bosnya inginkan.

Hujan turun. Keduanya menuju ke pelataran pusat lansia untuk berteduh. Cindy masih berusaha membujuk Tan Ziming. Orang terakhir yang audisi dengan mereka sebelumnya lumayan bagus. Bos tidak bisa menuntut orang langsung sempurna seperti keinginannya, tak ada yang lahir langsung menjadi musisi handal. Cindy harap Tan Ziming bisa mempertimbangkan bakat-bakat muda.

Nenek Chen kesal dipermainkan Lijun. Ia daripada rugi bandar lebih baik berhenti main saja. Ia lalu naik ke panggung untuk bernyanyi.

Qianjin barusan dari kantor polisi. Melaporkan neneknya yang menghilang. Polisi mengatakan kasusnya tidak bisa diproses karena neneknya pergi atas kehendak sendiri.

Nenek Chen hendak bernyanyi. Yang membikin syok adalah, ia mendedikasikan lagunya untuk Li Dahai. Kakek Li sampai syok dibuatnya. “Jangan!”

Qianjin geli melihatnya.

Lagu dinyanyikan. Lijun muak mendengar nyanyian Nenek Chen yang fales. Ia ambil mikrofon di kursi dan memotong nyanyiannya. Naik ke panggung. Mic Lijun dimatikan Nenek Chen.

Lijun gantian mencabut kabel Nenek Chen. Mereka berebut mikrofon. Penonton serempat menutuo kuping saat keduanya berteriak-teriak. Akhirnya Nenek Chen mengalah turun, lagipula sejak tadi dia disoraki untuk turun.

Lijun menyanyi dengan merdu sekali. Tan Ziming dan Cindy ikut menyaksikan. 

Kakek Li dan Qianjin juga terpana melihat Lijun bernyanyi.

Mempesona sekali hingga Tan Ziming tersenyum bangga melihatnya, ini yang dia cari selama ini. Qianjin tak bisa berkata-kata saking bagusnya.

Qianjin menanyakan siapa dia ke Kakek Li. Kakek Li menjawab itu adalah penyewa rumahnya. Lijun melihat cucunya di sini, merasa takut ia memilih kabur. 

Tan Ziming berusaha memperkenalkan dirinya. Qianjin juga hendak menahannya.

Lijun dan Kakek Li menonton tayangan puteri Huanzhu. Lijun merendam kakinya dengan air hangat. Keduanya mengobrolkan jalan ceritanya.

Qianjin datang hendak menanyakan tentang gadis yang bernyanyi tadi di pusat lansia. 

Melihat Lijun, Qianjin langsung tersipu-sipu. (Eh sumpah.. di bagian ini Qianjin kelihatan malu grogi campur jadi satu. Imut.. lucu..:D)

Sedangkan neneknya sudah was-was jika cucunya salah paham padanya. 

“Kenapa?”

Kakek Li bertanya. Qianjin bilang ia hanya mencarinya.

Neneknya masih was-was “Untuk apa?”

Qianjin menjawabnya agak lama. Masih dengan muka tersipu-sipunya. Qianjin mengambil duduk dekat Neneknya.

Neneknya sudah memikirkan yang tidak-tidak.. bagaimana kalau Qianjin naksir padanya. Karena Qianjin lama sekali mengutarakan niatannya..

Lijun jadi makin khawatir. 

“Kalian saudara sedarah. Tidak boleh tertarik satu sama lain..”

Kakek Li mengomentari acara tv.

Lijun berdiri karena kesal. Siapa juga yang tertarik pada Qianjin?. Salah paham wkwk

Qianjin ingin bicara serius dengan Lijun.

Mereka minum bersama. Muka neneknya masih masam sejak tadi. “Kau Lijun ‘kan?”

“Iya” jawab neneknya ketus

“Sudah lama sejak terakhir kali minum dengan laki-laki.” Tebak Qianjin. Neneknya mengiyakan lagi. 

“Kenapa kau menundukkan kepalamu terus? Apa aku semenakutkan itu?”

Tanya Qianjin. Neneknya langsung menatapnya. Justru Qianjin yang jadi grogi, ia minum segelas untuk membuatnya lebih berani.

“Sebenarnya.. sejak pertama kali bertemu.. kau memberikan perasaan istimewa.” Kata Qianjin

“Perasaab istimewa seperti apa?” Neneknya ketus. Qianjin kesulitan mengutarakan kata-katanya.

“Aku.. aku punya permintaan. Tapi aku takut.. kalau aku mengatakannya kau akan menolak.”

“Jangan katakan!”

“Tidak bisa! Aku harus bertanya..”

Mereka berdebat begitu terus.

“Kubilang jangan katakan!”

“Aku ingin bertanya bisakah kita..”

Belum selesai Lijun sudah memotongnya. Tidak mungkin bisa mereka menjadi pasangan! Tidak akan pernah bisa jadi pasangan! Tidak mungkin bisa!

Ia beranjak dari duduknya. Karena gebrakan meja dan teriakannya mengundabg perhatian. Lijun balas menyentaki mereka “Bukan urusan kalian!”

Qianjin meluruskan. Ia ingin menjadikan Lijun sebagai vokalis bandnya. Vokalis lamanya berhenti. Lijun beralasan keluarganya takkan mendukungnya ikut band.

Giliran Qianjin bercerita. Keluarganya juga tidak mendukungnya, hanya neneknya yang mendukung Qianjin. Sayangnya nenek pergi dari rumah dan sekarang entah berada dimana.

Iba melihat cucunya bersedih. Lijun mengalah, ia bersedia menjadi vokalis bandnya. Ia memberikan kupasan udangnya ke Qianjin untuk dimakan. Qianjin tersentuh dibuatnya.

Hari lainnya Qianjin menunjukkan bandnya pada Lijun. Yang ada Lijun terkena gangguan pendengaran karena diteriaki begitu, yang katanya Qianjin adalah musik rok.

“Kau ini.. menyeret seorang gadis kemari. Berteriak dan meratap.”

“Ini rock n roll”

“Roll apanya. Kau berguling-guling dimana?” (Hahahahaha)

Lijun juga berkomentar pada anggota lain. Yang satunya cuma ber ah oh saja. Yang satunya set drumnya kebanyakan. Bagaimana caranya membawa kemari?

Lijun tidak mau menjadi vokalis mereka. Namun ketiganya bertanya apa jenis musik yang suka Lijun nyanyikan? Mereka bersedia menurutinya.

Lijun diminta menyanyikannya. Lijun bilang ia terpikirkan satu lagu yang cukup up beat menurutnya. Namun setelah ia lantunkan malah membuat ketiganya heran. Lagu lawas sekali.

Mereka melakukan pertunjukan dan dapat respon yang bagus. 


Lijun membawa ketiga cucu ke salon dan membenahi penampilan mereka.

Mereka kemudian makan bersama. Si drummer hendak memesankan makanan paling mahal di sini untuk Lijun, si nenek melarangnya. Makanan di sini mahal-mahal tidak usah.

Dulu ketika pertama kali dibuka.. restoran ini sangat ramai, menyediakan porsi banyak serta murah. Semakin lama harganya naik hingga sepi pengunjung. 

Ketiganya heran. Dari mana Lijun paham? Pertama kali dibuka restoran ini adalah 50 tahun lalu. Untuk mengalihkan perhatian Lijun mengajak ketiganya bersulang.
   Tan Ziming berkendara dekat pasar. Ia tanpa sengaja melihat Lijun sedang menawar harga. Lijun mencoba makanan ringan dan  bertanya harganya. 

Karena terus mencicipi tanpa terlihat ingin membeli. Iapun dimarahi penjualnya. Lijun minggir dan menggerutu, bagaimana bisa ia beli tanpa sampel?

  Di dekat pedagang buah semangka. Lijun menawarkan diri menggendong si bayi sementara ibunya mengambil uang. Tan Ziming mengikutinya sejak tadi.

Melihat Lijun yang masih muda luwes sekali menggendong bayi membuat Tan Ziming tertarik. Bayinya terus menangis, Lijun menanyakan apakah si ibu membawakan dot susunya?

Lijun juga mengomentari bayinya harusnya dipakaikan pakaian yang lebih hangat, pakai kaos kaki juga. Nenek si bayi juga ikut-ikutan mengomeli, tadi sudah ia ingatkan tapi ibu si bayi tak mau dengar.

Si ibu mulai tidak nyaman. Ia ambil lagi anaknya. Lijun lihat susu di dot cair, apa ini ASI atau susu formula? Neneknya menjawab itu ASI meski membuat cucunya diare.

Lijun berkomentar dengan ASI yang kental bayi akan kenyang, tumbuh sehat dan berkulit putih.

Si nenek juga ngomel-ngomel. Anaknya ini memang susah dinasehati, setelah melahirkan tidak mau makan ini itu. ASI nya jadi encer tidak berkualitas karena ibunya kurus kurang gizi begini. Pasti perawatan pasca melahirkannya buruk sekali.

Lijun iba melihat bayinya menangis. Adik kecil.. kau menangis ya karena lapar, susunya encer dan membikin diare. 

Ibunya tersinggung. Anak muda seperti Lijun kenapa bicara soal ASI berkualitas? Memangnya hanya ASI miliknya Lijun berkualitas? Kalau begitu kenapa tidak susui anakmu sendiri!

Tan Ziming tertawa geli menonton sejak tadi.  

Ibu bayi dan neneknya pergi. 

Lijun kesal, tentu saja ASI-nya berkualitas. Ia membesarkan seorang dosen.

Tan Ziming mendekati Lijun yang berjalan menjauh. 

“Hai, Nona. Kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Dimana?”

Tan Ziming mengatakan dia pernah bertemu Lijun sebelumnya, mungkin Lijun tak ingat. Bagaimana kalau kita cari tempat untuk mengobrol?

“Kau berasal dari era mana? Masih menggunakan trik semacam itu. Duduk dan mengobrol. Mengapa kau tidak langsung bertanya mengajakku ke kamar hotel?”

“Sebenarnya sejak tadi aku memperhatikanmu.”

Lijun makin salah sangka. Ia menodongkan lobak ke Tan Ziming.

“Apa yang kau inginkan?!”

“Aku bukan orang jahat..”

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s