​[C-Movie] 20 Once Again – Part 2

Akhirnya Xiaomei mengusir anggota bandnya. Ketiganya memohon diampuni Xiaomei, tidak akan begitu lagi. Xiaomei mengunci ruangan tersebut.

Set drum milik drummernya masih ada di dalam. Xiaomei tak mau ambil pusing, ia sudah terlanjur  marah. Dia tendang drumnya hingga jatuh ke tangga. Lalu pergi begitu saja.

Nenek Shen pulang ke rumah. Melihat rumah tak beres membuatnya kesal. Ia memanggili menantunya. Tak ada respon. Menantunya dibawa ke rumah sakit dengan ambulance.

Guobin, Xinran, dan Qianjin datang.

Guobin bertanya bagaimana keadaannya Yangqin sekarang? Sudah baikan? Ingin minum?.

“Ibu..” katanya lirih.

Nenek Shen salah sangka, ia pikir Yangqin ingij berbicara dengannya. Guobin mengingatkan, maksud Yangqin.. ia ingin Nenek Shen menunggu di luar. Terpaksa Nenek Shen keluar.

Dokter mengatakan Yangqin baik-baik saja, perlu melakukan diet sehat dan menjaga kondisi psikisnya jangan stres. Guobin tampak berpikir setelahnya.

Guobin mendiskusikannya dengan si kembar. Keputusan mengeluarkan Nenek Shen dari rumah memang sulit. Disini Xinran sangat setuju jika Nenek ditempatkan di panti jompo sementara waktu, kondisi ibu memburuk karena Nenek.

Qianjin membela Neneknya. Ia tak mau melakukan hal tersebut. Sementara itu Guobin berpikir keras.

Xinran bilang sekarang panti jompo bagus. Makanannya enak-enak dan nyaman. Ia harap ayahnya mau menerima usulnya. Sedangkan Qianjin tidak terima. Kalau memang nyaman kenapa kau tidak tinggal saja di sana?. Ayah, bayangkan dia akan mengirimku ke sana suatu saat nanti. Keduanya saling lempar bantal.

Nenek Shen mendengarkan pembicaraan mereka. Ia melintas dan terlihat oleh ketiganya, Guobin merasa tidak enak.

“Ibu, kau disini? Sebentar lagi putri Huanzhu tayang. Biar aku hidupkan tv-nya.”

Nenek Shen berlalu tanpa menanggapi.

“Nenek.. Nenek..” Qianjin hendak menyusul Neneknya. Namun ditahan ayahnya, biarkan Nenek sendirian.

Nenek Shen menceritakan permasalahannya ke Kakek Li. Kakek Li sedih mengetahuinya, ia bahkan berkaca-kaca. Nenek Shen menenangkannya, tempatnya satu jam an dari sini dan Kakek Li bisa mengunjunginya kapan saja.

Nenek Shen makan malam bersama Guobin dan Xinran. Ia mengupasi udang untuk diberikan ke Guobin dan Xinran. Guobin memintanya berhenti mengupas, ia juga memberikan daging ke ibunya.

Guobin dengan canggung mengatakan, ia janji setelah Yangqin baikan pasti akan menjemput ibunya.

“Baik-baiklah padanya. Lain kali jangan salahkan aku.”

Nenek Shen enggan ikut mobil Guobin. Ia beralasan ingin jalan-jalan serta mengunjungi Kakek Li Dahai. Guobin memaksa ingin mengantarkannya. Tetapi Nenek Shen menolak. Akhirnya Guobin melajukan mobilnya, Xiang    Xinran masih fokus dengan ponselnya. Mengangkat telapak tangannya tanpa menatap Neneknya.

Nenek Shen berjalan dengan sedih. Dia melamun di halte. Kemudian menerima panggilan Qianjin. Qianjin tadi tidak ikut makan malam bersama karena malas  dengan ayah serta Xinran.

Nenek Shen menduga Qianjin belum makan malam. Ia akan mentraktir Qianjin dengan teman-temannya. Qianjin diminta menunggunya.

Nenek Shen heran melihat studio foto yang secara tiba-tiba ada di sana, di etalasenya dipajang foto para lansia, sebelumnya tak pernah ia tahu terdapat studio tersebut. Ia memasukinya, takzim betapa besar dan luasnya tempat tersebut.

Ia disambut fotografernya. Ia kemudian bersiap berfoto, masih merasa heran karena tiap hari melintasi jalan ini namun tak menyadari ada studio foto ini. Ia tak pernah foto di studio sebelumnya.

Ia harap hasil fotonya bagus, sehingga keluarganya bisa menggunakannya sebagai foto pemakamannya. Memberikan kenangan pada mereka. Sewaktu muda ia sangat menyukai Teresa Teng. Ia ingin fotonya seperti beliau.

Fotografer memberikan aba-aba untuk lihat kamera. Bayangkan dirimu berada dalam puncak kecantikanmu.

Dengan terenyuh Nenek Shen mengingat kembali memori masa silam. Ketika muda ia membiarkan waktunya berlalu begitu saja. Bukan karena ia yang menginginkannya, namun keadaan memaksanya.

Nenek Shen keluar dari studio foto. Ia secara ajaib berubah menjadi muda kembali, ketika ia sangat cantik dan masih gesit. Ia dihubungi Qianjin bertanya Neneknya sudah sampai mana?

Neneknya bilang akan bergegas ke sana. Setelahnya Qianjin bingung,ada yang aneh dengan neneknya.. suara sedikit berubah. Teman-temannya sudah kelaparan sejak tadi.

Nenek Shen mengejar bus. Ia masih belum menyadari perubahannya. Dua orang pemuda tertarik melihat kecantikan Nenek Shen. Nenek Shen tadi buru-buru masuk dan tanpa sengaja menginjak kaki salah satunya.

Keduanya menggodanya. Nenek Shen berpikir ia hendak diperas. Nenek Shen akan dimaafkan, asal bersedia menciumnya. Nenek Shen mengiyakannya saja. Menyuruh pemuda itu lebih dekat lagi, lagi, lagi.. lalu menggamparnya.

Kesal dipermainkan, berani-beraninya bercanda dengan wanita tua. Bagaimana jika itu nenekmu?!. Kau pikir usiaku berapa?!

**

Nenek Shen menjewernya. Ia langsung syok melihat ke jendela. Wajahnya muda sekali.

Pemuda tadi langsung menebak-nebak umurnya barangkali 20, 19, 18?

“Kyaaaaaa!!”

Nenek Shen menjewer kupingnya keras sambil berteriak syok.

“18? 17?” Yang dijewer terus mengurangi jumlah umurnya.

Qianjin dan temannya masih menunggu Nenek Shen. Heran ponselnya mati. Temannya Qianjin mengajak makan saja dulu, nanti Nenek Shen akan menyusul.

Nenek Shen kembali mencari studio tadi. Tapi tidak ada, lenyap. Malah dia ditawari melihat-lihat sekalian mencoba.

Nenek Shen geram dibuatnya, apa maksudmu? Bicara seperti itu pada wanita tua sepertiku?!

Nenek Shen sudah memikirkan yang tidak-tidak. Xinran dan Qianjin berebut siapa yang berhak menempati kamar nenek. Yangqin datang menyuruh mereka jangan bertengkar, akhirnya ia terbebas dari mertuanya.. Yangqin bahagia sekali.

Pertama-tama mari keluarkan barang-barangnya. Guobin memarahi semuanya yang ribut. Ia bilang telah memikirkan kamar Nenek lama.. akan Guobin jadikan ruang belajar baru. Semuanya bersorai senang.

Mimpi buruk. Nenek Shen terbangun dari tidurnya. Ia masih belum percaya ini adalah kenyataan. Ia duduk melihat para lansia senam pagi.

Guobin mengira ibunya merajuk dan menginap di tempatnya Paman Li Dahai. Paman Li khawatir, ibunya Guobin benar-benar tidak ada di sini. Ia takut kalau Mengjun terjatuh di suatu tempat, Guobin harus menghubungi polisi untuk menemukannya. Guobin bilang kalau menghilangnya baru sebentar polisi tak langsung bisa memprosesnya.

Anaknya Kakek Li langsung menyahut. Mana mungkin.. fisiknya Bibi Shen itu kuat dan mentalnya sehat.

“Bagaimana kalau dia tertabrak mobil? Bagaimana kalau diculik?” Kakek Li khawatir sekali.

“Jangan berspekulasi macam-macam..”

Bahkan jika Mengjun diculik ia rela menjual rumahnya sebagai tebusan. Anaknya tidak terima, bagaimana dengannya jika rumah ini dijual? Lebih penting mana ia dengan Bibi Shen?

“Tentu saja dia!”

Anaknya kesal sekali. Harusnya ayahnya memihaknya, malah membela Bibi Shen.

“Berhenti. Cari suami sana!”

Sedangkan itu Mengjun ikut senam dengan yang lain. Kemudian dia pergi ke salon, berbelanja baju. 

Dan mempercantik dirinya sesuai dengan tren masa mudanya dulu. 

Retro retro hahaha

Ia akan menyewa ruangan di rumah Kakek Li Dahai. Anaknya memahal-mahalkan harga. Mengjun tidak bisa dibodohi, ia akan pindah hari ini dan meminta lemari kaca peninggalan istrinya Li Dahai ditaruh ke kamarnya.

Mengjun berbohong ketika ditanya apa mereka pernah bertemu sebelumnya?. Ia bilang tinggal dekat dekat sini dulu, makanya sedikit tahu.

Kakek Li datang. Mengjun tak berani melihatnya, takut Li Dahai mengenalinya. Anaknya memberitahukan bahwa gadis ini hendak menyewa ruangan di atas.

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s