[K-Movie] Memoir Of Murderer – Part 1

Kim Byeong Soo di kantor polisi setempat, ia nampak linglung ditanyai petugas. Ini adalah kesekian kalinya Kim Byeong Soo lupa alamat rumahnya sendiri, ia menderita demensia dan sering melupakan banyak hal.

Bahkan Ahn Byung Man dia lupakan, Ahn Byung Man sudah memancing-mancingnya dengan name-tag tapi tetap tak berhasil.

Walhasil dia memilih main dengan anjing. 

Eun Hee berlarian menuju ayahnya, ia mengkhawatirkannya.

Bertanya apa ayahnya tidak apa-apa?.

Eun Hee menunjukkan cara menggunakan alat perekam pada ayahnya. 

“Hari ini aku makan jjajangmyeon dengan Eun Hee. Malam ini aku harus pulang.”

Eun Hee memperingatkan ayahnya, jika lupa pasti tidak akan pulang. Kim Byeong Soo mengatakan ia menulis semuanya di jurnal. Ia pikir jika tak ingat untuk merekam, apa gunanya juga?

Eun Hee menyuruhnya menjadikanlah kebiasaan, agar tak lupa. Eun Hee sudah muak berkali-kali menjemputnya di kantor polisi.

Eun Hee pindah duduk, ia menggertak ayahnya dengan mengatakan ia telah merekamkan lagu Spring Rain disana, tetapi jika ayah tak mau ya sudah. Kim Byeong Soo langsung menahan alat perekamnya dan memasukkannya ke dalam saku. Eun Hee juga memberikan liontin berisi alamat rumah mereka. Ada potret Eun Hee juga di dalamnya.

    3 bulan yang lalu Kim Byeong Soo didiagnosis mengidap demensia (penurunan daya ingat).

Dokter mengatakan ini merupakan demensia vaskular, ingatannya akan berangsur-angsur lenyap, secepat kilat. Tidak bisa disembuhkan namun bisa diperhambat.

Dari rekam medis sebelumnya dokter juga terkejut bahwa Kim Byeong Soo sempat menjalani operasi otak kanan, bisa jadi itulah penyebab demensianya.

   Sebelumnya ketika muda Kim Byeong Soo memang sempat kecelakaan. Mobilnya terbalik di tengah salju turun, kepalanya terhantam cukup keras bersamaan tubuhnya terpelanting.

Kini Kim Byeong Soo sedang mendengarkan lagu kesukaannya melalui alat perekam dari Eun Hee.

Eun Hee menyaksikan berita, terjadi kasus pembunuhan gadis berusia 20an dengan metode yang sama dengan sebelumnya. Kemungkinan besar dibunuh oleh pembunuh berantai.

Kim Byeong Soo terkejut menyaksikannya, ia kemudian bergegas menuju ruangannya. Membuka lemari, ia ambil sepatu putihnya.

Eun Hee hendak pergi menemui temannya yang akan merayakan ulang tahun. Ayahnya khawatir karena kasus pembunuhan di kota sebelah. Eun Hee meminta ayahnya hati-hati menyalakan kompor selama Eun Hee tinggal.

“Pembunuhan tidak terjadi sesering itu..” Ujar Eun Hee santai.

Namun dalam benak ayahnya, iya memang tak sesering itu. Tapi ada kemungkinan pasti terjadi.

Kim Byeong Soo menulis di laptopnya. Ingatan yang ia miliki. Karena ia juga merupakan seorang pembunuh.

Dibukanya folder ingatan, berisi jurnal pembunuhannya. Ia mulai mengetikkan ceritanya. 

Musim gugur 1971, ketika Byeong Soo pulang ke rumah ia mendapati ibu beserta saudara perempuannya telah lemah selepas disiksa ayahnya. Yang paling membuatnya marah adalah salah satu sepatunya kotor, 

Nampaknya sepatu putih yang terlihat baru itu sudah lama ia dambakan. Ia ambil dengan asal dari ayahnya, sebelah sepatu yang bernoda saus kimchi itu digunakan sebagai bantalan tidur ayahnya.

“Byeong Soo, apa kau tak menyapa ayahmu ini?”

Byeong Soo dipukuli habis-habisan, ia juga ditendangi. Namun Byeong Soo tidak membalas, baginya tak terlalu sakit dan ia bahkan memeluki sepatunya meski pukulannya makin banyak.

Sampai akhirnya ayah makin menjadi-jadi, ia mengajaknya ke ruangan sebelah untuk menghajarnya lebih lagi.

Namun justru Byeong Soo lah yang bertindak berani, ia bungkam ayahnya hingga meninggal. Itu merupakan pembunuhan pertamanya, malamnya langsung ia kuburkan.

Sepanjang malam ia ketakutan dengan hasil perbuatannya, ia khawatir polisi penjaga keamanan yang sedang patroli malam akan menangkapnya. Namun esoknya, serta hari-hari lainnya tak ada yang terjadi. Semenjak ayahnya mati keluarga mereka hidup damai nan tenang.

Byeong Soo berpikir, tak ada salahnya membunuhi orang-orang sejenis ayahnya. Ia tidak menyebut tindakannya sebagai pembunuhan, namun pembasmian. Ada banyak orang jahat yang menurutnya pantas mati.

Seorang wanita yang tega memukuli anjingnya hingga tewas hanya demi cincin berliannya yang tertelan, ia bawa ke Byeong Soo untuk dibedah perutnya. Akhirnya Byeong Soo justru mencekik wanita tersebut serta membuat wanita tadi menelan cincinnya sendiri.

Byeong Soo membunuh demi sesuatu yang ia anggap baik. 

Meski tindakannya melawan hak asasi manusia. 

Sebagian besar korbannya ia kubur di hutan bambu. 

~ Memoir Of Murderer ~

   Kim Byeong Soo merupakan seorang dokter hewan. Meski ia membunuhi banyak orang, ia juga menyelamatkan banyak hewan cacat. Menurutnya kehidupan hewan dan manusia apa bedanya?

Eun Hee membawakan pangsit jumbo kesukaan ayahnya, antrinya cukup lama. Namun ayahnya bilang ia tak menyukai pangsit. Eun Hee sedikit kecewa, terserah pangsitnya mau dimakan atau dibuang, ia meninggalkan ayahnya. Namun ketika Eun Hee tidak ada, Byeong Soo memakannya satu dengan lahap. Eun Hee yang mengintip dari luar sejak tadi pun senyum-senyum geli melihat ayahnya kepanasan,

Ia kembali dan makan pangsit bersama ayahnya. 

Meski menderita demensia Byeong Soo senang ia masih bisa bekerja. Bertahun-tahun menjadi dokter hewan telah menjadikannya terbiasa dengan apa yang ia lakukan.

Sayangnya ia terlupa salah suntik, Michele si kucing meninggal setelah 3 kali suntikan anti kanker. 

Pemiliknya sedih sekali kehilangan kucing tersayangnya.

Kim Byeong Soo merekam apa yang ia lakukan dan akan ia lakukan. Jam 7 ia akan menghadiri kelas puisi. Eun Hee yang mendaftarkannya, katanya bagus untuk penderita demensia. 

Meski Byeong Soo tak paham benar apa ada manfaatnya, kalau ia masih muda jelas akan membunuh pengajarnya. Sang pengajar membacakan hasil karya Byeong Soo. Puisi tentang pembunuhan.

Bagi si pengajar, puisinya indah sekali. 

Ketika ditanya apakah Kim Byeong Soo pernah membuat puisi sebelumnya, ia menjawab tidak pernah.. apa perlu sekolah puisi dulu?. 

Mentornya bilang tidak, justru terlalu banyak belajar puisi akan merusak kata-katanya. Puisi tidak bisa dipelajari, harus menggunakan pemilihan kata-kata yang tepat dan alami sehingga Tuan Kim puisinya terdengar seperti pembunuh sungguhan.

Pengajar bahkan membercandainya, apa Tuan Kim ini pembunuha sungguhan?. Semuanya tertawa kecuali Kim Byeong Soo. Ia merasa tak lucu,

Responnya dalam menanggapi humor memang sedikit terlambat dari orang normal lainnya. Seperti ketika menonton tv dengan Eun Hee, Eun Hee tertawa duluan sedangkan Byeong Soo belakangan.

Ia memang tak bisa menunjukkan emosi, namun tetap bisa merespon humor. 

Setelah kelas puisi selesai ia baru tertawa keras, Jo Yun Ju yang terkagum-kagum sejak tadi dalam kelas pun membuntutinya untuk berkenalan. Ia juga memuji puisinya Byeong Soo sangat menyentuh.

Terlebih dengan metaforanya. Byeong Soo tanya apa itu metafora. Dijawab perbandingan. Byeong Soo bilang ia tak membandingkan apapun,itu adalah sungguhan. 

Yun Ju rasa Byeong Soo hanya sedang bercanda. Pak Kim lucu sekali! Hahahaa

“Apa aku orangnya lucu? Mau aku kuliti kau?” Tanya Byeong Soo dengan muka mengerikan.

Justru Yun Ju makin menilai Byeong Soo ini lucu.

Byeong Soo risih melihat Yun Ju. Ia dikejar-kejar terus untuk diajak minum teh bersama. Sungguh ia ingin membunuh wanita ini tapi sayangnya ia tak bisa membunuh lagi.

17 tahun yang lalu adalah terakhir kalinya ia membunuh.

Ia tak ingat mengapa membunuh wanita tersebut di hutan bambu. Setelah menguburkannya, dalam perjalanan pulang ia mengalami insiden kecelakaan.

Pasti itulah yang menyebabkannya menderita demensia. Jika membunuh seseorang disebut puisi, maka merawat anak adalah membuat prosa. Dibutuhkan kemampuan untuk membunuh 10 orang, itu mungkin baik.

Eun Hee kecil iba melihat ayahnya banyak berlumuran darah. 

Ketika ia mulai kejang maka merupakan sebuah pertanda ia lupa ingatan dan melupa jalan pulang.

KOMENTAR:

Butuh adrenalin untuk mengenyahkan bosan, salah satunya dengan konsen movie sejenis ini.. disini saya tidak tahu harus mempercayai siapa, aje gileee bagusnya! Hahaha, saya suka film genre thriller seperti ini. 

Di Memoir of Murderer.. Membuat kesimpulan setelah detik terakhir pun terasa seperti mengunyah koral, ya sudahlah.. hahah. Setidaknya ada satu scene yang bikin saya nutupin mata tapi ngintipin penasaran, sewaktu Kim Nam Gil dibunuh. Waaaaw… jadi ini teh saha wae yang waras? Saha teh yang lieur.. saya.. *hoh. Pokoknya jangan percaya siapa-siapa di film ini, jangan percaya saya juga. Kkkk

Advertisements

2 thoughts on “[K-Movie] Memoir Of Murderer – Part 1”

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s