[Cerbung] Nightfall, Light Up the Sky – Part 2

    Hening sesaat tatkala Faizal mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta pada seorang perempuan tuna rungu. Amar dan Sabina tak berani banyak berkomentar. Seorang Faizal yang suka gonta-ganti perempuan kini jatuh cinta sungguhan dengan hati terdalamnya. Namun Faizal tak hendak membahas lebih jauh lagi, ia baru mengenal perempuan itu ketika beberapa saat lalu sering antar jemput Sabina ke tempatnya Shafa. 

Pembicaraan sengaja Faizal setir ke kehidupan Amar dan Sabina kembali. Faizal cukup penasaran dengan kisah cinta kakaknya, bagaimana pun juga ia baru mengetahui bahwa kakaknya menyukai Amar sejak lama. Sabina cukup tertutup perihal masalah hatinya. 
Faizal benar-benar geli dengan kakaknya yang menurutnya kelewat bodoh, Amar menceritakan bagaimana stresnya dia ketika Sabina hilang ingatan. Ia ratusan kali bertanya pada Sabina apa yang dia mau agar diizinkan memasuki kehidupannya. Terlalu kacaunya Amar sampai menawarkan kartu kredit dan ATM beserta pinnya. Sabina mengelak ia merasa dibeli kalau menerima semua uang Amar. Murahan dan menjijikkan. Faizal tercengang mengetahuinya.
    “Serius kalian ini bukan anak SMP? Kakak itu yang norak, laki-laki itu.. kalau sudah suka seseorang biasanya ada keinginan untuk memberi. Berupa barang atau uang, juga perhatian, biasanya aku juga begitu.. perasaannya disalurkan segala sesuatu yang berwujud dan bisa dilihat. Itu namanya ego lelaki, alias kebanggaan diri.. ada rasa bangga tersendiri melakukannya. “
    “Pantesan mantan kamu matre semua ‘ya? Royalnya adekku ini..”
Sabina memuji Faizal seolah bangga, padahal sedang menyindir.
    “Itu namanya cinta.. Kakak.. ya ampun, makanya jangan heran kalau dulu Mas Amar begitu. Karena normalnya seperti itu..”
    “Tapi ‘kan aneh Zal, untung dia ketemunya aku. Coba setipe mantan kamu bagaimana? Abis itu duitnya.”
    “Ya itu Kakak yang o’on, tinggal minta kartu kredit sama pin ATM malah gak mau? Kakak ini gak main otaknya. Ckckck, coba aku jadi kakak ya? Akan ku daya gunakan semua kekayaan Mas Amar dengan bijak.”
    “Mas Amar tidak seperti kamu ‘ya.. gak suka buang-buang uang buat yang gak penting.”
Sabina ikut duduk di bawah menjewer kuping adiknya. Faizal mengernyit kesakitan meminta tolong pada Amar. Amar hanya mengangkat bahunya asyik menonton obrolan kakak beradik ini.
    “Aduh!…aduh aduh! Ya karena Mas Amar sudah di titik bingung plus bosan mau ngapain sama duitnya Kak, karena saking banyaknya. Lagi apes aja dia sukanya sama Kakak…”
    “Faizal… kakak punya uang sendiri, jangan minta yang macam-macam dari Mas Amar tanpa sepengetahuan kakak ‘ya?!.”
Sabina melepaskan tangannya dari kuping Faizal. Faizal mengusap-usap kupingnya kesakitan.
    “Apa?! Makanya Mas Amar, bagi modal buat aku memproduseri band kami. Atau bantu mewujudkan mimpiku membuat label indie sendiri, RCM Label.”
Amar mengerutkan alisnya. 
    “RCM? Seperti pernah dengar..”
Amar tertawa mendengarnya.
    “Republik Cantrang Manajemen! Aku akan ajak para nelayan bikin lagu demo melaut. Hahaha!” Tukas Faizal asal.
    “Jangan Mas, jangan nuruti anak rese’ ini.”
    “Boleh, kalau dia bisa melipatkan modalnya 3 kali lipat paling tidak. Aku setuju..”
    “Mas Amar… i love you!!”
Sabina malas menanggapi keduanya.
***


    Amar membolak-balik salah satu majalah anak yang dibawa khusus Sabina untuk anak-anak pengajiannya Shafa. Sabina sedang memperhatikan sobatnya tersebut bercerita.
   “Aku lebih suka Shafa ketimbang ISK. Ukhti dalam artian yang sebenarnya.. pikir deh Mas, dia gak punya akun pribadi media sosial, ada instagram dakwahnya tapi itu cuma ada contact person komunitas serta foto kegiatan anak-anak. Alami sekali dan sholehah orangnya..”
   “ISK siapa? Artis itu? Sholehah tau’ kelihatannya.. patut ditiru remaja sekarang.”
Amar menanggapi tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.
   “Kamu ngerti gak maksudku? Harusnya para muslimah yang suka pamer foto dan kegiatan pengajiannya malu sama Shafa.”
   “Lhoh, maksudnya? Itu bukan pamer sayang.. tapi menggalakkan dan menyebarkan kebaikan.”
   “Jadi muslimah sejati, tidak perlu menunjukkan kesalehannya biar dicap saleh dan baik.. cukup Tuhan saja yang tahu.. dan aku belum bisa seperti dia,”
Amar menutup majalahnya dan menatap dalam-dalam mata istrinya.
   “Kamu tahu jalannya, tinggal dilaksanakan saja pelan-pelan. Berproses denganku juga.. kamu itu idaman sekali Sab bagi laki-laki muslim yang beres otaknya… dan lagi, kata Kak Makki kamu adalah orang yang sangat mungkin bisa sebulan tidak pegang ponsel dan tetap bahagia. Kog bisa?”
Sabina memutar matanya, lagi lagi Kak Makki menceritakan hal yang tidak-tidak.
   “Karena dunia ini sudah tak begitu menarik bagiku mungkin? Penilaian dimata manusia sudah tak begitu ku perlukan..”
   “Cuek itu namanya. Kita harus jaga silaturahmi dan silaturahim sayang.. meski nanti di hari perhitungan amal sekalipun aku tidak bisa disisimu atau menggantikan perhitungan amal kamu.. dari merekalah kita mendulang amal selama di dunia.. makanya jangan dijahatin.”
Sabina menyipitkan matanya. Semenjak jadi istrinya Amar pembicaraan mereka bisa mengalir kemana-mana, akan terdengar aneh bagi orang lain tapi mereka selalu mengobrol begitu. Meski tak berdebat dan bertengkar tidak jelas seperti ketika Sabina lupa ingatan, mereka selalu adu argumen.
    “Aku melakukannya Mas.. tapi dengan ketemu langsung, aku tidak terima ya.. kamu sebut cuek!. Jadi biasa aja kalau semisal aku berada disituasi gak pegang ponsel selama sebulan, orang ada laptop dan komputer juga.”
   “Kita ngomongin apa sih tadi?”
Amar gemas melihat Sabina wajahnya sudah agak masam.
   “Definisi wanita sholehah yang sejatinya. Shafa adalah buktinya.”
   “Bagiku kamu sudah sholehah, dan akan selalu sholehah dimataku. Tidak ada definisi secara pakem harus seperti apa. Inti dari semuanya adalah dia.. Shafa tidak congkak atas apa yang dia kerjakan, miliki, serta perjuangkan. Kamu juga mempunyainya Sab.. “
   “Dasar tukang rayu..”
Amar menggeleng melihat senyum Sabina sudah mengembang dan pipinya bersemu kemerahan.
   “Serius, aku tidak suka menggombali kamu… percuma juga, bukannya dibales jawab so sweet tapi malah di-skak balik, untuk ngeromantisin kamu agak susah.. kamu itu beda dari yang lain, agak ngeselin sedikit Sab.. tapi ngangenin. Kapan kelarnya nih? Tiba-tiba sudah jam empat sore aja, ayo pulang..”
   “Sabar..”
Amar memandang Sabina sebal.
Sabina hanya meliriknya dan kembali mendengarkan Shafa. Shafa masih sibuk mengajari anak-anak itu. Beberapa menit kemudian datang beberapa wanita lainnya menggantikan Shafa. Shafa kemudian mengajak Sabina dan Amar ke gazebo belakang mengobrol. 
    Sore itu angin semilir menerpa dedaunan tanaman hijau di sana. Kota mereka memang jarang terlihat matahari sejak pagi sampai siang.
Shafa menyiapkan minuman dan makanan ringan.
   “Silakan diminum Sab.. Mas Amar..”
   “Iya. Shafa, aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu tidak pilih Kahfi saja? Aku bukannya tidak suka kamu dengan Kang Arip, tapi ini rumit Shafa..”
Shafa menggeleng ringan. Tiap kali Sabina bertanya hal tersebut ia selalu mengatakan tidak. 
    “Kamu sudah tahu jawabanku Sab..”
    “Kalau boleh tahu sejak kapan kamu suka Kang Arip? Sabina sempat cerita kalau dia kaget betul mendengar permintaan kamu Shafa.”
Shafa tersenyum mendengar pertanyaan Amar, matanya memandang jari jemarinya yang saling meremas dan bertaut karena gugup. Memikirkan Arip dan permulaan ia bisa jatuh cinta padanya.
    “Sejak Sabina mengajaknya kemari. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu. Semula suka saja melihatnya.. lama-lama keterusan jadi suka semua hal tentangnya.”
Sabina heran bagaimana menanggapinya. Shafa dan Arip belum bertemu karena Arip terus menolak permintaan Sabina. Namun Sabina akan membuat keduanya bertemu minggu depan.
    “Minggu depan kamu tolong luangkan waktumu sebentar ‘ya Shafa.., kita ngobrol lebih serius lagi.”
   “Aku usahakan Sab, maaf tidak bisa mengobrol lama. Aku masih ada urusan.”
Ketiganya beranjak hendak pergi. Sebelum Shafa pergi Sabina mengajukan pertanyaan.
    “Ngomong-ngomong ada tidak perempuan seumuran Faizal yang tuna rungu disini Shafa?”
Shafa tampak berpikir.
    “Ada sih, tapi jarang-jarang kemarinya. Zidna namanya, dia tinggal di sekitar daerah sini juga kalau tidak salah. Ada apa ‘ya Sab?”
Sabina menggeleng. Sedangkan Amar menahan senyumnya, perihal Faizal yang playboy katanya sedang naksir Zidna.
    “Nanti aku jelaskan. Kami pulang dulu ‘ya..”
***

  Malam harinya Sabina dan Amar menonton tv di ruang keluarga. Tama menghubungi Amar mengatakan temannya Tama ditahan polisi atas penyalahgunaan senjata berapi, Amar hendak menyusul ke kantor polisi dan menjadi penjaminnya. Sabina melarangnya, sudah hampir tengah malam dan di luar hujan deras sekali. Jarak pandang Amar akan kabur ditengah hujan, ia bisa kecelakaan kalau tidak hati-hati. Amar meyakinkannya tidak akan terjadi apapun, Sabina tak perlu khawatir.
  “Kamu merasa bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Mengurusi masalah semua orang! Itu salah menurutku. Berhentilah bersikap seperti itu! Biarkan mereka menyelesaikannya masing-masing!”
Amar menatap Sabina lembut.
   “Jika dimata orang-orang aku seperti itu, toh bukan salahku ‘kan Sab? Kekuranganku selama ini tertutupi begitu saja tanpa aku bermaksud menjadi sempurna. Tapi ‘kan kamu istriku, mengertilah posisiku, aku bersikap begini karena aku tidak sampai hati membiarkan mereka kesulitan…”
   “Justru karena aku istrimu, makanya aku ingin mengerem sikap sok heroik kamu itu. Jangan bilang kalau kamu ketemu orang gila di jalan pasti kamu kasih uang atau makanan?”
Amar menggaruk tengkuknya dan matanya berkedip tak fokus. Heran betul kenapa Sabina bisa menebaknya semudah itu? Apa memang ia semudah itu untuk ditebak orang-orang? Atau hanya Sabina?. Tidak menjawab, bagi Sabina itu artinya iya.
    “Iya ‘kan? Aduh, sudah kuduga… Mas Amar, kamu benar-benar membuatku jengkel..”
Dan tanpa diminta ia memeluk Amar, bersandar di dada kirinya mendengarkan detak jantung Amar. Gemas dengan kelakuan Amar tak jauh beda dari ekspektasinya. Konyol.
    “Kalau jengkel kenapa dipeluk?”
Amar menahan senyumnya, terkesiap. Padahal ia sudah menyiapkan mental untuk ditampar dan sejenisnya.
    “Jengkel kenapa kita tidak nikah dari dulu saja?” 
    “Hei… Aku tidak mau kamu berada disisiku ketika aku sedang berada di titik terbawah hidupku. Simpel, kepengen kamu senang terus meski tidak tahu kamu maunya apa saja? Setidaknya aku ingin membuat kamu bangga karena sudah dipersunting olehku.”
Amar mengendikkan bahunya. Sabina tak pernah ambil pusing soal materi yang acap kali Amar bahas. Kini pun ia tahu dari mana saja pundi-pundi Amar berasal, selain pekerjaannya sekarang Amar memiliki beberapa usaha dipelbagai bidang, Amar pernah menjelaskannya secara rinci dan gamblang. Kata Amar seluruh uangnya adalah milik Sabina, uang Sabina adalah miliknya sendiri. Dia takkan membuat surat pemisahan harta seperti yang orang kebanyakan lakukan, mereka juga tak membuat surat perjanjian pranikah, namun ada janji-janji tersendiri yang mereka buat ketika sama-sama saling mengutarakan isi hati untuk pertama kali beberapa saat lalu. Sabina mempercayai Amar dan sebaliknya. Amar mempercayakan Sabina yang mengatur semuanya. Sabina tak pernah mengerti dengan gengsi lelaki ini.. soal uang, kendaraan, rumah, tabungan. Sabina bukan perempuan matre, ia punya uang sendiri bahkan lebih banyak dari Amar tapi ia tak ingin Amar mengetahuinya dulu.
   “Kita nikah sudah berapa lama? Kenapa jantung kamu detaknya masih tidak karuan?.”
Sabina mengernyitkan kedua alisnya mendengarkan dentum jantung Amar. Terdengar seperti habis lari maraton. 
   “Mungkin karena terlalu bahagia?. Tahu tidak? Lihat kamu senyum sampai tersipu-sipu itu tidak baik bagi kesehatan jantungku. Nyaris aku terkena serangan jantung.”
Sabina tertawa mendengarnya. Tapi detak jantung Amar benar-benar bertalu dengan ritme acak saat ini.
   “Kalau begitu aku akan senyum terus biar kamu cepat mati!”
   “Astagfirullah..”
   “Bercanda.. “
   “Kalau aku tidak kamu bolehin keluar, aku takkan pergi.”
   “Pinter..”
Sabina mencubit hidung Amar lalu keduanya tertawa. Sabina beranjak meninggalkan Amar untuk naik ke kamarnya sendiri. 
   “Mau kemana?” Tanya Amar bingung. 
   “Tidur! Besok aku ada meeting penting pagi-pagi sekali. Kita LDR an malam ini.”
Amar antara rela tak rela membiarkannya. Tapi ia tidak mau egois. Sabina sudah menaiki banyak anak tangga. Terpaksa Amar melambaikan tangannya seperti mau pisah jauh saja. 
   “Kamu gila ‘ya?” Sabina menanggapinya dengan geli, balas melambaikan tangannya juga. Amar jadi agak sinting setelah menikah dengannya.
   “Sab, kiss bye!”
   “Ogah!”
   “Selamat malam sayang, mimpi yang indah indah ya..”
   “Malam, sampai ketemu besok pagi..”
Ia berlari cepat menuju kamarnya sendiri. Amar lanjut menonton tv, ia akan begadang menonton siaran bola tim favoritnya. Kebetulan ia berlangganan tv kabel siaran resminya.

***
   Pertemuan hari itu berjalan dengan baik meski suasana hati Attar tidak baik. Semua orang keluar dari ruangan setelah rapat usai, tinggal Sabina dan Attar. Mood Attar sedang sangat buruk, ia yang biasanya mudah menerima ide dari bawahannya berubah menjadi ketus dan serba tidak puas.
Seperti halnya saat membalik-balik sebuah naskah print-print an yang dibendel ini.
   “Bodoh! Ini lebih seperti kata-kata mutiara terpisah-pisah yang ditempel-tempel paksa dalam satu wadah oleh penulisnya dan dia merasa puas serta bangga setelah melakukannya. Dia pikir itu keren, tapi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia literasi.. kita menilai ini bodoh sekali, jelek! Dia enggak punya sense of sastra.. jadi penulis fiksi itu susah, tapi pria ini sok keren.. bungkus! Mendingan ini orang jadi joki skripsi aja deh.. jangan jadi novelis!”
Attar naik darah, moodnya sedang buruk sekali. Kali ini ia memarahi Sena karena membawakan draft seorang novelis muda yang memaksa-maksa ingin dipertontonkan karyanya ke Direktur langsung sebelum menyerah pergi. Sena yang tidak tegaan pun menginterupsi rapatnya Sabina dan Attar membahas perkembangan mereka sebulan ini. 
Sabina mengernyit heran melihat Attar, sebenarnya ia ingin tertawa keras mendengar ketika Attar mengatakan bungkus! Tapi Sabina tahan, terserah Attar mau bilang apa.. sepuas-puasnya Attar saja. Sekalipun apapun yang keluar dari mulut Attar semrawut.
    “Tapi Pak Attar, orangnya tidak mau pergi sebelum dengar pendapat langsung dari Pak Attar..”
    “Sena, keluar sekarang!”
Attar membentaknya. Sabina menatap iba pada Sena meminta Sena memaklumi suasana hati Attar. Sena mengambil draft tadi takut-takut dan permisi keluar dari ruangan.
    “I-iya Pak..”
Sabina menatapi Attar geram dengan tindakannya kali ini. Attar tengah uring-uringan karena rencana Sabina beberapa waktu lalu untuk menjodohkan Arip dengan Shafa. Attar menentangnya keras. Attar sempat tidak menegur Sabina selama seminggu. 
   “Attar, kamu dan Kang Arip itu tidak bisa ditakdirkan bersama. Kang Arip punya Tante Ellen yang ingin melihat anaknya menuju pelaminan dengan seorang wanita.”
   “Sabina, sudah aku bilang berapa kali? Hati tidak bisa dipaksa..”
   “Tapi kamu dan Kang Arip tidak akan bisa bersama. Aku akan melakukan apapun agar Kang Arip kembali. Oh iya, aku mau resign.”
Attar menatapi surat pengunduran diri Sabina. 
   “Kenapa kamu keluar? Dilarang Amar kerja?”
Sabina menggeleng santai.
   “Bukan, Mas Amar tidak pernah mengekang apapun yang kulakukan selama masih baik.”
Attar menyobeknya langsung di depan mata Sabina.  Sabina heran bercampur kaget.
   “Attar!”
   “Kamu masih harus mengurusi Kahfi Sab… kamu bekerja pun tidak akan menganggu penghasilan lain kamu. Apa? Aku salah? Tidak ‘kan.. kuharap Amar tidak merasa kecil setelah mengetahui berapa uang kamu.”
Sabina memicingkan matanya geram. Amar tahu pun bukan menjadi masalah.
    “Dasar ‘ya.. aku bohong. Itu bukan surat pengunduran diri. Makanya amplopnya dibuka dulu! Itu surat dari Kang Arip.”
Attar langsung kelabakan bingung, ia berusaha menyusun sobekan kertas tadi. Sabina meninggalkannya di ruangan sendirian. 
Di luar Sena menunggu, ia langsung bertos ria. Sabina menggandeng Sena ke kantin. Keduanya tertawa puas melihat ekspresi Attar tadi.
   “Mba’ Sab ngapain Pak bos?”
   “Ada deh..”
   “Mukanya Mba’… lucu banget! Panik gitu.. ha ha ha!”
   “Mau makan apa? Aku traktir Sen..”
Sena langsung bersemangat lagi.
***

Malam harinya, pukul 19.47. Amar heran dengan Sabina yang terlihat seperti anak kecil mau mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Terlihat muda sekali, siapa sangka istrinya sempat hamil 3 minggu.
         “Sab, kamu mau kencan atau jogging? Atau kamu mau futsal?”
Komentar Amar melihat Sabina mengenakan jins, kaos putih, jaket, dan sepatu kets serta kerudung dengan warna serupa. Tidak ada anggun anggunnya sama sekali. Terlihat seperti anak SMA yang hendak karyawisata. Orang-orang tidak akan menyangka umurnya sudah hampir 30 dengan penampilan dan wajah awet mudanya tersebut. Adakalanya Faizal, Tomo, dan Tama mengejek Amar kelihatan seperti jalan dengan keponakannya daripada istrinya. Karena terlalu mudanya wajah Sabina dibandingkan umur aslinya.
Amar menjumpai Sabina di halaman depan rumah makan tempat mereka ketemuan. Amar tidak pulang ke rumah, sore tadi tiba-tiba mengajak Sabina keluar selepas Isa’. 
    “Bilang kalau mau kencan dong..”
Sabina kesal karena Amar seenaknya sendiri. Ia mengerti barangkali Amar ingin memberikannya kejutan, tapi kalau pada akhirnya malah seperti ini justru gagal total acara kencan mereka.
    “Kamu yang tidak peka..” 
Gantian Amar tidak mau kalah.
    “Udah deh, jangan protes!. Mas, kamu tadi tidak bilang mau kencan. Jadi, aku mengajak Kang Arip dan Kak Makki sekalian. Maaf…”
Amar syok. Ia memegangi pelipisnya frustasi tapi masih berusaha untuk tenang. Makki dan Arip datang bersama. 
    “Amar! Sweetheart! Amar… sudah lama tidak ketemu ya? Sehat ‘kan?”
Arip memiting Amar dengan kesal. Tempo hari lalu Amar memutus pembicaraannya dengan Sabina via telepon.
    “Alhamdulillah sehat Kang..”
    “Bagus…, karena Akang akan membuat kamu tidak sehat!”
    “Angsanya mana Kang? Katanya aku mau disosorin soang?”
    “Kapan-kapan. Sekarang aku sosor aja gimana?”
Canda Arip. Ia dekatkan bibirnya ke pipi Amar dan Amar menjauh sebisanya.
Makki dan Sabina hanya mengulum senyum melihat keduanya.
    “Sudah, sudah.. ayo masuk ke dalam.”
Mereka berempat masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Amar duduk di sebelah Sabina berhadapan dengan Makki dan Arip. Hari ini Makki mengajak Arip menemaninya membeli keperluan bayi yang ingin Makki beli. Arip dengan senang hati mengantarkannya, dari hasil USG terlihat anak Makki perempuan. 1 atau 2 bulan lagi Makki akan melahirkan.
Mereka memesan makanan dan mengobrolkan apa saja. Sampai Arip menjelaskan bahwa Sabina bisa saja hidup sejahtera tanpa menikah.
    “Perempuan akan merasa cemas jika belum menikah dan laki-laki justru banyak cemas setelah menikah. Hmm.. normalnya seperti itu. Tapi kurasa ini tidak berlaku untuk Sabina dan Amar, cemasnya karena dia stres tidak tahu Amar suka tidak padanya tapi bukan karena belum menikahnya itu yang membuatnya cemas.. lebih ke galau dengan perasaannya sendiri. Dan Amar malah makin bahagia dan berseri-seri setelah menikah. Itu artinya Amar tidak cemas.”
Semuanya mendengarkan teorinya Arip. Sabina berulangkali mengangguk menyetujuinya. Amar heran apa maksud Arip sebelumnya tentang Sabina bisa saja tidak menikah dan tetap bahagia.
   “Aku masih heran dengan teori Kang Arip, Sabina berpotensi besar tetap bahagia tanpa menikah?”
Sabina lalu menjelaskan pada Amar dan semuanya. Makki tak begitu terkejut mengetahuinya, namun ia sekarang penasaran dengan reaksi Amar. Adiknya itu memang tidak seperti perempuan kebanyakan yang sehari saja bisa senewen kalau tidak ada pria didekatnya, bukan tipe orang yang butuh diberi perhatian lawan jenis lebih dari biasanya, Sabina selalu punya cara-cara tidak lazim untuk membuat dirinya sendiri tertawa dan terhibur. Namun memang benar bahwa keteraturan yang Sabina bangun bisa koyak karena tidak tahu pasti bagaimana menanggapi perasaannya sendiri pada Amar. 
   “Aku tidak masalah tidak pernah menikah. Lihat dong aku bisa mencukupi diriku sendiri sampai 70 tahun kedepan, menikah itu sunnah.. tidak wajib dan dosa kalau ditinggalkan jika orangnya mampu hidup sendiri, ada juga kan orang-orang jaman dulu yang tidak menikah dan fokus menuntut ilmu atau fokus berkarya serta berkontribusi pada sesama.. lihat tuh ada banyak beberapa ulama dan sufi, filsuf.. kalau kamu mau tahu detailnya lihat aja sejarah. Lagian aku tipe orang yang let it flow aja sama hidup. Santai.. bagiku cinta ke manusia bukanlah segalanya.”
   “Kamu tidak mau punya anak? Dicintai dan mencintai?” Tanya Amar.
   “Adopsi bayi banyak. Cinta? Cinta itu hanya perasaan Mas.. pasti ada ujungnya juga. Manusia lahir membawa dirinya sendiri, ia mati dikubur sendiri. Mempertanggung jawabkan amal perbuatannya pun juga sendiri. Kenapa tidak?”
Amar mengerjapkan matanya berkali-kali, kerasukan jin mana lagi ini istrinya? Istrinya ini memang sudah aneh pemikirannya, tapi Amar baru menyadarinya betul sekarang. Ia memang pernah dengar di sejarah ada orang-orang yang hidup melajang karena alasan besar mulia lainnya, meninggalkan hasrat kemanusiawiannya untuk mencintai hal lainnya. Tapi bagaimana bisa Sabina berpikiran semacam ini?

    “Terkadang aku ingin membedah otak kamu Sab. Entah isinya apa saja sampai kamu bisa mengatakan segala pemikiran aneh itu.. serius. Tidak manusiawi sekali.”
Sabina hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh.
   “Aku sekarang menyadari aku sama sekali tidak takut jika kamu ingin menceraikan aku atau terpikirkan untuk selingkuh. Meski aku yakin kamu tak mungkin melakukannya, kamu orang beragama dan taat pada nilai serta norma sosial.”
   “Aku tidak akan seperti itu. Karena bagiku setiap hari kamu selalu berbeda Sab, sejauh ini saja aku masih merasa asing dengan kamu.”
   “Oke, kalau kamu mendua pun.. itu sudah menjadi bukti Mas.. bahwa kamu tidak pantas untukku. Dan tidak layak untuk dicintai olehku. Jika aku stres atau depresi karena kamu, aku akan minta tolong Kak Makki atau Kang Arip untuk mengembalikan semangat hidupku.”
   “Justru aku yang ketakutan dengan kamu yang terkesan tidak membutuhkan aku Sab. Bukannya aku bermaksud congkak, kebanyakan perempuan didekatku menatap penuh harap meminta dinikahi semua.. sedangkan kamu bahkan terkadang dingin sekali padaku. Kadang aku bingung sebenarnya apa cuma aku yang cinta kamu?”
   “Aku cuma beropini Mas, aku tidak suka lihat anak-anak itu yang belomba-lomba naik ke pelaminan dan atau yang diburu-buru menikah tanpa tahu hakekat hidup itu apa.. aneh tahu tidak? Kita bisa kog hidup aman sentausa sejahtera tanpa menikah kalau mau berpikir diluar normal dan mampu tentunya, mampu secara psikis dan materi. “
    “Sabina.. kamu hari ini perlu di ruqyah deh..  kamu tidak normal Sab..”
Timpal Makki. Sementara Arip malah memanfaatkan ini sebagai tempat rekreasi.. memancing keributan.
    “Tentu saja, aset dan properti Sabina ada dimana-mana. Barangkali penghasilan Sabina dalam sebulan 2 kali lipat dari yang Amar punyai jika sudah termasuk bisnisnya. Belum lagi yang Sabina sembunyikan.”
Amar tersenyum lembut menatapi Sabina, pantas saja istrinya tak pernah minta apapun darinya dalam bentuk materi. Semua keinginan Sabina sejauh ini hanyalah hal-hal konyol. Tapi sudah menjadi kewajiban Amar memberinya nafkah, meski tak sebanyak yang Sabina entah berapapun miliki sekarang.
    “Kang Arip, stop!” Sela Makki, ia tak mau menjatuhkan harga diri Amar.
    “Sabina sayang, hentikan semua pembicaraan ini. Aku tidak tahan mendengarnya..”
Sabina terdiam mendengarnya, ia memutar matanya geli dan menahan tawanya. Lalu tersenyum manis sekali sampai gusinya terlihat semua. Ia tenglengkan kepalanya menggoda Amar yang tampak kalut.
    “Takut ‘ya? Ayolah, aku tidak ingin kamu mencintaiku lebih dari Pencipta kita. Maka dari itu ikhlaskan semuanya,”
    “Aku mencintai-Nya melalui kamu juga Sab.. bersyukur serta merasa damai disetiap harinya. Itulah kenapa aku takut kamu meninggalkan aku.”
Sabina memeluknya, menepuk-nepuk bahu Amar dan menahan tawanya.
    “Mas Amar, santai saja. Dari semua yang ku utarakan tadi, aku hanya coba mengatakan bahwa aku mungkin bisa hidup sendiri tanpa kekurangan apapun secara materi. Pernikahan itu bukan puncak bahagianya hidup. Tapi hidupku akan sangat merasa kurang dan hampa jika tanpa ada cintanya Mas Amar.”
    “Kamu menyebalkan Sab..”
    “Terima kasih, sayang..”
Amar melepaskan pelukannya dan menatap Sabina takjub. Pertama kalinya Sabina memanggilnya sayang, Sabina hanya memanggilnya Mas Amar sejauh ini, kalau kumat kurang ajarnya dia akan memanggil namanya langsung. Ini perlu dirayakan.
    “Apa? Coba ulangi lagi?”
    “Tidak mau.”
    “Ulangi lagi coba..”
    “Enggak mau…”
    “Sab… kamu tadi bilang apa?”
Amar mencubit kanan dan kiri pipi Sabina gemas. Sabina hanya mengangkat kedua alisnya dan menggeleng ringan. Makki dan Arip tersipu-sipu melihat keduanya lucu sekali.
    “Kalian berdua bisa tidak… sehari saja tanpa berantem? Atau membicarakan hal-hal tidak wajar?”
    “Tanya Sabina Kak, dia yang mulai duluan..”
Amar masih mencubiti gemas pipi Sabina. 
    “Tak ada asap tanpa api, Mas Amar yang memicunya.”
    “Sudah sudah, kasihan anakku nanti.. punya om dan tante gak beres seperti kalian.”
Dengar om dan tante membuat Arip terpikirkan ide lucu.
    “Ngomong-ngomong nanti dia panggil aku Om apa tante ya Ki? Aku pengen dipanggil auntie.. manis, enak didengar telinga.”
Arip sudah tersenyum-senyum senang membayangkan ada anak kecil berlari-larian memanggilnya auntie.
    “Kang, jangan aneh-aneh.. sssttt. Malu ini..”
Makki jijik membayangkan anaknya memanggil Arip Auntie.
    “Bodo amat…”
Arip sewot. Makki kembali pada Amar dan Sabina yang kini suap-suapan makanan.
    “Aku mengerti sekarang kenapa kalian belum dikasih anak juga, sebagai orang luar Kakak merasa seru lhoh.. lihat kalian berantem beda pendapat dan suka mengkompromikan segala sesuatu. Sabina yang tidak mau mengalah, Amar yang pengertian.. kalian ini lucu dan manis. Mungkin Tuhan ingin kalian lebih saling mengenal dulu, bagaimanapun juga nanti kasih sayang kalian akan otomatis berpindah ke anak kalian kalau sudah punya anak.”
Arip menyesap minumannya dan tertawa hambar. 
    “Sayangnya aku tidak bisa hamil yaa..”
Ketiganya kaget mendengar celetukan Arip. 
   “Kang Arip…” seru tertahan ketiganya.
   “Apa?”
Arip kembali masa bodoh. Menyendok supnya dengan santai. Beruntungnya tak terdengar oleh para pengunjung lainnya.
    


   

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s