[Cerbung] Nightfall, Light Up the Sky – Part 1

     “Sabina.., tanggung jawab! Egoku terluka melihat penampakan semacam ini.”

Amar memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Rambutnya dikuncir kecil-kecil dengan puluhan karet warna warni. Ia dirias sedemikian rupa, cemong menor sekali, sudah tiga hari Sabina mengerjainya seperti ini. Amar membiarkannya karena Sabina tampak sedikit ceria dengan permainan ini. Tepat tiga hari yang lalu dokter mengatakan Sabina keguguran bayi pertama mereka. Sabina menangis semalaman dan terus menyalahkan dirinya, jika saja ia hati-hati ia takkan terpeleset di halaman dan mengalami pendarahan sampai keguguran janinnya. Amar berusaha menenangkannya, ini bukan salah Sabina.. barangkali Tuhan belum mengizinkan mereka memiliki anak.

Sekarang Sabina di balkon menerima panggilan dari Arip, tampak serius dengan pembicaraannya.

    “Sebentar saja deh Kang, kita ngobrol face to face… ini demi tante Ellen juga.”

    “Terkadang ada kesedihan yang tak bisa dibagi Sab.. karena orang lain yang mendengarkan cerita kita belum tentu merasakan hal yang sama atau paham apa yang kita rasakan. Aku pribadi tidak suka dengan orang yang justru menghujat serta merasa paling benar kepada orang yang mentalnya sedang down dan ingin bunuh diri, bagi mereka itu sepele tapi bagi yang mengalaminya justru berat dan tidak tahu harus apa? Tuhan memang ada, tetapi manusia tak sebaik Tuhan ‘kan Sab…”

    “Aku mohon Kang, Shafa itu baik orangnya.”

    “Bukan soal itu Neng… dia perempuan baik, aku tidak mau merusaknya. Kamu tahu aku kan Neng.. kelihatannya saja dari luar aku sempurna sebagai pria. Tapi aku feminim di dalam Sab.. “

    “Kang Arip…”

 Sabina sebelumnya menceritakan perihal Shafa yang ingin mendekati Arip sedangkan Arip sudah tak tertolong lagi. 

Amar menyambangi Sabina dan menyambar ponsel dari telinganya. Sabina terkejut tapi langsung tertawa melihat tampang Amar sekarang.

    “Kang Arip.. lanjut nanti lagi diskusinya sama Sabina. Kami ada urusan penting.”

Arip diujung panggilan ketus menjawab.

    “Idih! Amar.. yang bantuin kamu deketin Sabina itu dulu siapa?! Inget nak… Aku Mar.. pas Sabina sudah sadar, jadi suami jangan overprotektif gitu dong?! Aku ini Arip Mar.. Arip… Abang sepupu kalian! Kirain kamu dulu tidak cemburuan.. sekarang lihat Sabina ngelus kelinci saja malah kelincinya diusir! Huh!”

Arip mencak-mencak. Amar semenjak tadi me-loudspeaker ponsel Sabina. Sabina makin keras tertawanya melihat tampang Amar dan adu argumen keduanya.

Sabina tertawa terpingkal-pingkal mendengar Arip menyebut dirinya sendiri abang. Amar membalas selorohan Arip.

      “Kang.. Akang ini tidak cocok dipanggil Abang abang.. kesannya seperti tukang palak pinggir pasar. Abang ini nari balet sajalah..” 

     “Hahahaha!” 

Sabina memegangi perutnya dan tertawa sampai menangis. Entah mengapa sekarang Arip dan Amar suka bertengkar akan hal remeh temeh. Sabina bisa membayangkan Arip pasti sedang berkacak pinggang dan memegangi dart siap menancapkannya pada papan yang dipasangi foto Amar di ruangannya. 

     “Heeei… Amarullah! Belum pernah disosor soang ya? Awas kau!! Besok kalau ketemu aku bawakan soang Cilembu!. Aku TUTUP. PUAS?!”

Amar kembali pada Sabina. Istrinya terhibur sekali melihat perdebatan tidak penting barusan.

     “Sab… tanggung jawab.”

Tunjuk Amar pada wajahnya yang cemong. Lain hari Sabina pasti akan memakaikan Amar kebaya. 

    “Oke oke, kamu jangan seperti itu pada Kang Arip dong..”

Sabina menggamit lengan Amar dan mengajaknya ke meja rias untuk dibersihkan wajahnya. Keduanya duduk bersebelahan, Sabina mulai mengambil kapas dan pembersih untuk menghapus make up di wajah Amar. Ia menyeka wajah Amar pelan.

    “Sab.. sebelum kamu terlibat mengurusi cinta segitiga antara Kang Arip, Kahfi, dan Shafa mendingan kamu urusin aku duluan.”

    “Kang Arip Mas… aku ingin dia sadar. Kamu sih, tidak tahu bagaimana perjuanganku merubah dia.., mengurusi kamu soal apa lagi? Kamu ini sudah gede! Gak perlu aku juga biar tetap hidup.”

    “Cinta kita..”

    “Ya ampun… dibahas lagi?? Kamu mau apa Sab? Tinggal bilang ke aku, kalau aku bisa akan aku usahakan. Aku pernah dengar itu dimana ‘ya?” Sabina menirukan cara bicara Amar dan mengoloknya.

Amar memegangi kedua tangan Sabina dan mengusap-usapnya.

    “Aku yakin Kang Arip bisa sadar. Kita akan cari cara untuk menyembuhkannya. Namun aku ingin kamu fokus dulu pada dirimu sendiri, pada kesehatan kamu.. kita baru saja berduka.”

   “Aku tidak apa-apa, aku sudah ikhlas.. kamu tidak usah khawatir. Penyembuh stress-ku adalah ini…”

Sabina menjambak ikatan rambut Amar yang sudah banyak kuncirnya dan tertawa lagi. Amar mengernyit kesakitan.

   “Aduuh! Sepertinya besok dan lusa kamu akan memakaikan aku gaun atau kebaya’.”

Tapi Amar takkan bisa percaya begitu saja. Bisa jadi saat ini Sabina ceria, namun malam harinya ia kembali menangis jika tanpa sengaja menonton acara ibu dengan anak balita mereka.

   “Mau lihat istrinya bahagia? Makanya nurutlah..”

   “As you wish Ibu Suri, terserah aku ingin kamu apakan. Aku ini abdi dalem setia kamu..”

Sabina geli mendengarnya. Amar yang ia kenal telah kembali.

   “Kog Ibu Suri sih? Tua dong? Ibunya Ratu atau raja..”

   “My Queen? Bagaimana?”

   “Boleh, kamu rajanya..”

   “Jangan, aku lebih suka Perdana Menteri yang selingkuh dengan Ratunya. Lagian kalau dalam catur Raja enggak bisa gerak bebas.. monoton.”

Sabina mengerutkan alisnya bingung.

   “My Queen.. Dalam monarki kerajaan kan biasanya rajanya terpilih berdasarkan garis keturunan, bisa tak ada harganya jika dibandingkan perdana menteri yang terpilih berdasarkan kemampuannya.”

   “Pak supir aja deh..”

Tampang Amar sudah agak sebal dipanggil Pak supir lagi. 

   “Kalau kamu perdana menteri yang selingkuh dengan ratunya. Lalu rajanya siapa? Kahfi? Eh.. sorry..”

Sabina kelepasan mengatakan hal yang seharusnya tak perlu Amar ketahui. Tentang Kahfi yang menjadi kandidat utama calon suaminya jika Amar tidak menikah dengannya. Amar terlihat curiga.

   “Ada satu pertanyaan yang tidak pernah mau kamu jawab. Sebenarnya hubungan kamu dengan Kahfi seperti apa dulu?”

Sabina memutar matanya. Ragu-ragu.

   “Teman biasa. Titik! Jangan tanya-tanya lagi..”

   “Suatu hari nanti kamu harus cerita.”

Sabina hanya mengendikkan bahunya ringan, lalu menarik paksa bulu mata palsu dari mata Amar tanpa aba-aba. Amar mengernyit kesakitan dan mengaduh menjerit kecil karena terkejut. Sabina sendiri tertawa puas melihatnya. Lalu mencabuti karet dari rambut Amar. Setelah beberapa menit kemudian ia menyisirkan rambut Amar kembali seperti semula.

   “Kak.. Kakak! Aku panjangin rambut boleh nggak?”

Tanya Faizal dengan suara memohon sembari mengetuk pintu kamar mereka. 

    “Apa? Tidak boleh! Kalau kamu berani manjangin rambut kamu nanti aku akan potong rambut!”

Giliran Amar yang terkejut. Ia sudah pernah melihat foto-foto di album keluarga bagaimana wajah Sabina dengan berbagai model rambut. Masih cantik mempesona seperti biasanya. Namun baginya ia lebih suka rambut istrinya panjang.

   “Atas izin siapa kamu boleh potong rambut sayang? Enggak boleh!”

   “Sejak kapan aku potong rambut minta izin dulu ke kamu? Terserah aku dong.. rambut yang punya siapa? Suka-suka aku dong..”

   “Aku suami kamu. Dari atas sampai bawah tubuh kamu adalah hak milikku.”

   “Oke tahu, tapi Mas Amar.. omongan kamu lebih seperti pria yang posesif! Ngeri tahu nggak?, kita buat kesepakatan.. kalau kamu ingin manjangin rambut kamu. Barternya aku akan potong rambutku. Deal?”

   “Setuju! Itu sama sekali bukan gayaku. Orang kantoran dilarang manjangin rambut.” Mereka bersalaman sepakat. 

Sabina dan Amar belum membukakan pintu yang terkunci. Membiarkan Faizal menunggu di luar dengan tampang sewot.

   “Buka dong kalau gitu pintunya! Mentang-mentang pengantin baru.. kalian ini ngapain? Lagi caturan pasti ya.. Minggu lalu saja pas aku buka kamar kalian.. eh malah main ular tangga dan saling colek bedak. Progress kalian terlalu lambat.. payah!”

Amar mengecek wajahnya di cermin. Normal, ia beranjak menemui Faizal. Ia bukakan pintunya dan menatap adik iparnya agak kesal. Faizal sendiri heran melihat Amar memegangi mata kanannya sekilas. Keduanya adu pandang, seolah ada aliran listrik diantara kedua mata mereka. Seperti kebiasaan Faizal jika bertemu Amar, ia selalu ingin bernyanyi tanpa diminta.

   “Bila nanti.. saatnya tlah tiba.. ku ingin kau menjadi musuhku~. Berjalan mengitari arena ring tinju… sudikah kau menjadi… musuhku?!”

Sabina menyusul dan memisahkan keduanya sebelum terjadi debat panjang. Dan sekali lagi, hanya gara-gara rambut. Ini adalah pertanyaan Faizal yang ketiga kalinya dalam sebulan itu soal boleh tidaknya memelihara rambut. Dengan alasan Faizal ingin menjajal genre rock dan biar lebih meyakinkan ia ingin rambutnya dipanjangkan. Sabina melarangnya, nyanyi saja tak usah terlalu memusingkan rambut. 

    “Kamu berani adu pukul sama Mas?” Tanya Amar menyingsingkan lengan bajunya untuk mengintimidasi. Lumayan keder Faizal melihatnya, ia kira setelah rutin menemani Kahfi nge-gym gratisan ia bisa lebih berotot seperti Amar.

    “Mas pakai steroid ‘ya? Kog aku nge-gym gini gini aja?” Faizal melihat lengannya sendiri. Masih kerempeng saja.

    “Enak aja, kamu baru ke gym berapa bulan? Aku sudah bertahun-tahun Zal… kalau aku pakai steroid pasti sudah segede Ade Ray Zal.. umur kepala 3 gini harus ngurangin nasi putih dan banyakin sayur buah serta protein. Tanya kakak kamu tuh, dia ahli gizinya Mas..”

    “Soalnya Mas Amar ‘kan sudah tua. Nasinya diganti nasi merah atau asupan karbohidratnya dari umbi-umbian yang zat gulanya sedikit, gak jaman lagi wisata kuliner malam-malam. Kalau dia sayang padaku dan tidak mau menyusahkan aku sebagai istrinya dengan berbagai komplikasi penyakit di masa tua makanya pola makan Mas Amar yang seenaknya sendiri dan banyak junk food yang dulu harus dirubah. Ayo ngobrolnya di bawah aja..”

     “Aku belum setua itu sayang, aku kog terkesan sudah bau tanah dalam penjelasan kamu Sab.. ” Sabina geli mendengar protesnya Amar.

Sabina mengajak keduanya turun ke ruang tamu bawah. Mereka duduk santai di deretan sofa keluarga.

Faizal tiduran di karpet bawah. Sabina dan Amar duduk di sofa.

    “Tapi kenapa kakak tidak pernah nasehatin aku seperti itu? Pilih kasih nih.. gak asik!”

    “Kamu 23 tahun Zal.. Kakak tahu kamu tiap bulan ganti pacar dan seperti anak muda lainnya kalian suka jalan-jalan dan makan-makan. Pasti tidak akan mau dengar nasehat Kakak yang menurut kamu sok bijak dan menggurui.”

Faizal merenggangkan badannya mengerti.

    “Iya deh.. tapi sebulan ini aku lagi kosong loh Kak.. bosen. Tapi heran deh, kalian berdua betah banget hidup melajang lama sebelum nikah?”

Sabina dan Amar saling pandang penuh arti. Untuk urusan semacam ini orang seperti Faizal tidak akan mengerti mau diterangkan seperti apapun itu. Jikalau pun mengerti pasti cara memandangnya dari sudut yang berbeda, tak benar sepaham.

    “Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik disimpan di akhir Zal, biar lebih berarti dan lebih ada maknanya jika dirasa. Seperti kamu makan bakso, pasti pilih habisin mie dan kikilnya duluan baru bakso untuk akhirnya. “

   “Aku pesannya bakso kosongan Mas.. tidak ada mie.. ha ha ha”

Kata Faizal jahil.

    “Menurutku kalian dulu bisa lho pacaran. Sekadar berteman biasa dan komunikasi sewajarnya, merasa memiliki satu sama lainnya tanpa terlibat sampai terperosok jauh. Kalian ini kan hebat ngatur emosi juga..”

Faizal kini duduk dan bertopang dagu dengan bantal di pangkuannya, dari dulu ia tidak bisa mengerti bagaimana logika keduanya. Amar kembali menjelaskan dengan cara yang mudah, ia tak mau terlihat kaku pada pendiriannya.

   “Tidak bisa. Coba kamu pikir deh.. kalau itu terjadi yang ada Mas akan video call-an, telfon terus-menerus sama Kakak kamu tiap menit dan detik, ada kecenderungan ingin selalu saling lapor diri sedang apa dan di mana serta cemburuan tanpa sebab. Kesemuanya justru menganggu konsentrasinya Mas, pengennya ketemu terus.. kangen-kangenan terus.. itu bisa menjadi masalah Zal.. orang yang sedang jatuh cinta terkadang bisa tidak rasional pemikiran serta tindakannya. Setidaknya itu yang akan terjadi padaku jika pacaran dengan kakak kamu sebelumnya. Saking terlalu sukanya..”

Faizal makin tertarik dengan pembahasan kali ini. Ia perhatikan kakaknya sama kagumnya mendengarkan penjelasan Amar. Meski Faizal menduga kalau Sabina akan mengatakan hal serupa jika diminta menjelaskan padanya. Bedanya kakaknya akan lebih main emosi ketimbang Amar yang logis. Terlepas dari keduanya sebenarnya sangat religius, Faizal paham bahwa Amar ingin membukakan jalan pikiran Faizal dengan logika sederhana.

    “Apa itu karena Mas, maaf.. gak bisa mengontrol diri? Buktinya aku tidak pernah tuh hamilin anak orang? Atau ke tempat yang tidak sepantasnya. Aku palingan cuma ngobrol, diskusi, main.. seperti teman biasa aja. Bedanya temen yang bisa bebas dibilangin sayang, cinta dan kangen, saling menyemangati dan mendukung. Mencari kecocokan, mengenal karakter lawan jenis.”

Sabina lalu yang menjawabnya.

    “Bukan, justru karena Mas Amar bisa mengontrol diri Zal. Dia ingin menempatkan cinta pada tempat yang lebih tinggi. Bukan menjadikannya ajang main-main atau pelampiasan kesenangan sesaat, apalagi ajang berkeluh kesah. Mas Amar dan Kakak menghargai perasan cinta itu, makanya memilih proses kami seperti ini.”

Amar menepuk-nepuk puncak kepala Sabina lembut bangga seperti ke anak kecil. Keduanya saling tersenyum lembut. Amar kembali menatap Faizal hangat.

   “Soal mengenal karakter seseorang tidak harus dengan pacaran Zal. Temenan biasa aja juga sudah bisa terlihat kog.. manusia itu bisa dipelajari dan ada ilmunya, meski tentu tidak semua segamblang itu semudah terlihat dan dalam prakteknya ada bedanya sedikit..”

Faizal tak pernah dengar yang satu ini. Lebih tepatnya ia tak begitu percaya hal seperti ini bisa terjadi dan mulus jalannya.

    “Bisa gitu ya? Saling memendam?”

    “Nah, biasanya kalau pakai biodata diri.. kelihatan tuh visi misi dalam pernikahan itu apa saja, dalam prosesnya kita harus melibatkan Allah. Kalau dirasa kurang cocok setelah komit saling mengenal serius.. boleh berhenti dalam prosesnya daripada kalau diteruskan malah banyak mudharatnya atau sia-sianya. Pernah tidak kamu dalam pacaran ada obrolan seserius itu sejak awal nembak? Katanya ingin saling mengenal karakter? Tapi nyatanya ketika salah satu pihak ngajakin serius datang ke rumah.. eh langsung kabur. Jujur deh Zal.. kamu pacaran cuma buat seneng-seneng ‘kan? Berdalih dengan tujuan mengenal orang dan berpikir kalau ada yang sreg baru mau mikir nikah.”

Faizal terhenyak mendengar penjelasan Amar. Malu mengakui bahwa ia memang cari senangnya saja. 

    “Mungkin di luaran sana ada lhoh Mas yang serius sejak nembak, bagaimanapun juga orang ‘kan beda-beda. Tapi kalau aku pribadi memang tidak pernah ada pemikiran semacam itu sejak awal, ya.. jalani aja, mengalir dan kalau sudah ketemu yang pas serta cocok bisalah menuju pernikahan. Justru aku takut memikirkan komitmen besar itu lho jika di detik awal aku memutuskan untuk pacaran dengan seseorang..”

    “Sudah ngerti alasan kami ‘kan Zal? Bukan berarti kami merasa paling benar sendiri dan yang lainnya salah. Namun setidaknya itulah yang kami yakini dan percaya serta putuskan untuk dijalani.” Kata kakaknya.

   “Wah!, senangnya punya kalian dalam hidupku ya? Kalau ada masalah tinggal ngadu ke kalian nanti aku dapatlah solusinya. Ha ha ha!”

Sabina dan Amar langsung menimpuk Faizal dengan bantal. 

   “Huuu… dasar!”

   “Masih enggak dikasih manjangin rambut nih?”

   “Tidak boleh!” 

Faizal mengerjapkan matanya sekilas, tampak hendak mengatakan hal lain yang jauh lebih menyiksa batinnya.

   “Hmm… Kak, Mas Amar.. sebenarnya aku kemari bukan mau membicarakan rambut saja. Seperti yang ku katakan tadi, sebulanan ini aku sedang kosong dan tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Karena aku jatuh cinta pada seseorang yang istimewa Kak.., aku mengerti kemari adalah keputusan yang tepat.”

   “Siapa? Anak pejabat? Seleb? Bukannya kamu sudah biasa menghadapi sejenis mereka?” Todong Sabina.

    “Dia tuna rungu Kak.. “

Baik Amar dan Sabina sama-sama kehabisan kata-kata.

    Author’s Speech: 

Dibuat 3 Januari 2018, ragu post enggak post enggak hahaha. Ciao..

Advertisements

About Karissa Yi

Someone who can't live without drama. ["chariszha.com" - Can't Life without drama ]

Posted on 15 January 2018, in Drama, Nightfall and tagged . Bookmark the permalink. Comments Off on [Cerbung] Nightfall, Light Up the Sky – Part 1.

Comments are closed.