Aku tersenyum menyaksikan semua ini, perlahan-lahan sosokku pun melenyap bagai debu. Sabina telah mendapatkan kembali ingatannya, aku tak seharusnya ada lagi. Kalian masih ingat siapa aku? Aku adalah bagian dari ingatan Sabina yang terlupa dan selalu mengikuti Amar, mereka semua tak bisa melihatku namun aku bisa ke mana saja dan bebas serta kebas secara fisik. Tubuh ini mulai lenyap, tercerai berai bagai jutaan kristal kecil-kecil. Aku akan kembali pada Sabina membawa ingatan yang ku lihat ketika membersamai Amar. 

Selama di perjalanan pulang Sabina mengirimkan pesan ke Makki untuk mengumpulkan semua orang di rumah. Sudah waktunya mengakui, apa yang perlu ditunda-tunda lagi. Ia tak mau menyakiti Amar lebih lagi.

***

    Seluruh keluarga duduk di ruang tamu. Lambat laun mereka pergi sendiri-sendiri dengan berbagai alasan, para ibu mengatakan ke belakang untuk menyiapkan makana, Si kembar Tama Tomo dan si Faizal anak nakal izin ke kamar Faizal karena hendak bermain ps3. Amar yang duduk membolak-balik koran tak merasakan ada yang aneh.
Sampai ia ditinggal seorang diri, lengang, sepi. Sabina muncul dari ruang belakang menuju Amar, tadi di kamar ia hanya meletakkan tasnya, ia berjalan gusar ke sana kemari berpikir dan menguatkan diri agar bisa mengutarakan permintaan maafnya pada Amar, ia sedikit takut menghadapi ini. Jika biasanya ia menatap Amar garang, maka kali ini sebaliknya.
Amar meletakkan korannya mendengar suara langkah kaki. Sabina nampak kikuk, ada apa ini?
Amar otomatis beranjak dari duduknya mendekati Sabina yang sudah tak begitu jauh darinya. Sabina dengan canggung dan malu-malu menatap Amar.
   “Kamu sebelumnya bertanya berkali-kali apa yang aku mau dan inginkan? Jawabannya adalah kamu..”
Amar sedikit menunduk menatapi kedua bola mata bulat indah itu dengan separuh terkejut. Mulutnya sedikit terbuka namun tak bisa berkata apa-apa.
     “Khalil Moamar Hanaffi, you are the best God gift given to me..”
Sabina menangkup wajah Amar dengan lembut. Disaat itulah Amar mulai berkaca-kaca, nyaris tak percaya bahwa Sabina-nya yang mencintainya telah kembali. 
    “I miss you too..”
Ucap Sabina lirih atas tatapan Amar yang mulai berair, seolah menyuarakan isi hatinya dan Sabina menjawabnya. Sabina mengusap setitik air mata Amar yang nyaris jatuh. Sabina sendiri juga sudah sembab sedari tadi.
    “Jangan nangis.., kamu adalah orang yang sangat kuat, tangguh.. dan aku sangat menyayangi kamu.”
    “Aku tidak keberatan kamu melihat semua titik kelemahanku. Ini benar Sabina ‘kan? Katakan bahwa ini kenyataan?”
Sabina mengangguk ringan atas pertanyaan Amar. 
     “Maaf Mas Amar.. maafkan aku.. aku jahat padamu selama ini.”
Amar menggeleng, ia dekatkan dahinya dengan dahi Sabina.
     “Aku yang harusnya minta maaf sayang, terima kasih untuk sepuluh tahun ini telah menunggu. Apa yang aku rasakan selama kamu lupa padaku tidak seberat itu..”
Keduanya lalu saling tersenyum. Tanpa mereka sadari Faizal merekam reuni mereka sejak awal. Ia tersipu-sipu melihatnya. 
    “Cium! Cium! Ayo dong… aduh! Kalian ini pasangan yang aneh. Sama-sama nyebelin orangnya! Nikah lama baru pelukan sekali, ngenes banget sih kalian?!”
Sabina dan Amar langsung menoleh ke arah Faizal dengan geli. Amar merangkul Sabina. 
    “Anak kecil minggir dulu!” 
    “Cheese! Nah.. ini adalah satu-satunya foto kalian berdua.”
    “Jangan salah Zal.. mereka memang tidak pernah foto mesra berdua sebelum ini. Tapi langsung di buku nikah… Itu bukti, bahwa cinta tidak perlu dikoar-koarkan jika belum pada tempatnya..”
Kata Ikrom sembari menggenggam tangan Makki.
Faizal malah memanggili seluruh keluarga yang semenjak tadi bersembunyi mengintip mereka berdua. Faizal bersiul, semuanya keluar dari tempat persembunyian mereka. 
    “Sabina, Amar! Nampaknya kita harus mengadakan ijab kabul ulang. Sabina tidak pernah dengar lho… Amar dulu keren banget!.”
Kata Makki seraya tersenyum. Ikrom menimpalinya “Setuju! W.O serahin ke aku saja. Pestanya gampanglah..”
    “Ijabnya pakai bahasa arab lho mba Sab..” ujar Tomo.
    “Kupikir Mas Amar mau sok sok an doang, ternyata ya ada alasannya sih. Katanya mba Sabina terlalu berharga makanya Mas Amar mau mengikat janjinya pakai bahasa Allah langsung. Ciee so sweet lah Mas ku yang satu ini..” tambah Tama.
    “Perlu dicontoh ini.. ” timpal Faizal.
Sabina tidak menyangka Amar bisa romantis begitu. Ia sedikit tersipu mengetahui hal tersebut.
    “Tidak takut kan Mar?” Tanya ayah Sabina.
    “Papah ini tanya apa sih? Amar ini hidup matinya sudah untuk Sabina..” Ibu mencubit ringan suaminya.
    “Insha Allah tidak.. “
    “Gak deg degan karena Sabina juga menyaksikan kan Mar?” Tanya ibu Amar. 
    “Iya, sebelumnya istrimu ini kan koma..” tambah ayah Amar jahil.
    “Siapa takut..? Kamu pasti mau dengar juga kan Sayang?” Jawab Amar mantap. Sabina mengernyit geli melihat Amar, jahilnya ide semua orang, kalau dipikir kembali ia memang tak pernah tahu prosesnya karena sedang koma.
    “Boleh, kamu deg degan gak sih waktu itu?”
    “Sedikit, tapi aku harus melaluinya demi memiliki kamu selamanya, aku sudah menantikan momen sakral itu lama. Aku cukup bingung memikirkan maharnya apa. Kak Makki mengatakan sesuatu yang membuatku memutar otak lebih keras.”
Sabina mengangkat sebelah alisnya tertarik. Ia memang sempat mengutarakan keinginannya pada Makki.
     “Gampang kan? Maharku cuma.. sebesar kamu menghargaiku dan sebesar kamu menghargai dirimu sendiri.”
    “Nah, justru itu aku bingung Sab.. kalau bisa aku kasih seluruh dunia ini, bahkan semesta ini. Atau malahan tidak ada yang bisa sebanding sama sekali, besar.. besar sekali sayang… tak terhingga. Kamu terlalu menarik bagiku, aku rela menjadi apa saja dan melakukan apa saja asal kamu disisiku selamanya.”
Sejenak ruangan tersebut menjadi lengang. Semuanya terdiam, hanya Sabina yang tak mengetahui apa maharnya. Namun dulu bukan soal angka yang membuat mereka terhenyak, namun betapa besarnya Amar mencintai Sabina. Bagi Tomo dan Tama ini menjadi hal baru, kakak mereka tidak suka mengumbar kata dan selalu tegas pada semuanya disegala situasi, namun berubah menjadi selembut ini pada Sabina. Faizal tersenyum bangga pada Amar, senang karena kakaknya jatuh pada orang yang tepat. Ayah dan Ibu Sabina saling bergandengan dan saling tersenyum penuh arti pada ayah dan ibu Amar. Ikrom mendapatkan banyak cubitan dari Makki karena iri melihat kehangatan keduanya sedangkan Ikrom selalu kaku dan tak tahu cara beromantis ria.
    Sabina menatapi Amar dengan takjub. Matanya berkaca-kaca hendak menangis. Ia mengusap air matanya sembari tersenyum lebar.
    “Mas Amar…”
    “Iya.. Sabina-ku sayang..”
    “Kamu adalah malaikat yang ayah dan ibuku kirimkan untuk menjagaiku.. terima kasih sekali…”
    “Sabina, terima kasih sudah lahir di dunia ini. Terima kasih sudah menjadi seluruh hidupku. Kalau aku terlahir kembali maka aku akan mencari kamu lagi serta menyayangi kamu seutuhnya..”
Mereka berpelukan erat. Semuanya hanya mengamini keduanya semoga takkan pernah terpisah lagi. Aamiin…
   
    _ e n d _

.

.

.
Author’s Speech:
    Bagiku awkward moment dalam pembuatan cerbung ini adalah ketika Amar pulang dan dinasehati Ibunya. Bener-bener feeling awkward ketika saya menulisnya.. antara ogah ah ogah.. kog terlalu manis gini sih?? yang mana saya harus masuk ke dalam sense of mother yang bijak serta sayang sekali pada Amar dan mendukung anaknya meraih bahagianya. Seorang pria yang sudah matang sekali serta sudah merasa cukup atas segala hal dihidupnya dan saatnya meraih bahagianya sendiri. Owh! Man.. manis banget romantika anak dengan ibunya ini… *kkk, aku pengen jadi ibunya Amar.. kkk. Itu pertama… apalagi ketika saya nulis berbagai dialog Amar, mikir.. memangnya beneran ada orang seperfect ini? Wkwkwk, mungkin.

Keduanya adalah bagian ending ini, ketika Sabina sadar serta mengutarakan permintaan maafnya. Awkward banget bagiku pribadi *hh Saya suka bikin momen manis dalam cerita yang medianya dari keseharian normal lumrah, ketimbang terlalu jauh mewah.. seperti makan malam romantis, naik helikopter/liburan ke pulau mana gitu.  Lebih suka yang sederhana namun mengena.

    Proses menciptakan momen-momen melting itu terkadang agak gimana gitu.. terbikin dari pembelajaran serta perenungan. Saya harus memahami jalan pikiran berbagai macam jenis orang, yang strict lurus, agak nakal dikit, terlalu melankolis, gay, dewasa, childish, dll. Dan yeah! Rampung juga meski agak rempong sedikit. 

Part 9 adalah part yang tidak berani saya baca ulang lebih dari 5 kali… 😝, tingkat termehek-meheknya agak bikin authornya sendiri salting. Hhhh dan gw gak percaya bisa bisanya nulis begitu..

Yaaa, thanks siapa pun kalian yang membaca sampai end. Kita seru-seruan lagi dengan para tokoh yang sama di cerita lain kesempatan yah!.  Magenta Lilac sampai di sini, next chapter dengan judul lain kita bahas Arip dan Shafa, kkk Kang Arip adalah tokoh favoritnya gw 😂

Trims 2017, telah memberikan sekotak kenangan yang pahit, asem, manis! Rame rasanya! Hahaha! 

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s