Magenta Lilac – Part 8

 Seketika ruangan tersebut lengang kembali setelah seorang pegawai magang datang ke ruangan Amar atas aduan supervisor bahwa anak muda tadi membuat masalah dan Amar memotivasinya, memberikan pengertian dan menyuruhnya mengendalikan emosinya. Setelah tenang ia mempersilakan pemuda tadi pergi.

Pintu ruangannya dibuka kasar, Pak Umar mencengkeram kerah dua pemuda di kanan kiri tangannya dan mendorong paksa mereka masuk ke ruangan Amar.
Amar terkesiap, laki-laki paruh baya dan berkumis lebat tersebut mukanya merah padam dan napasnya menderu. Tak seperti biasanya yang selalu nampak hangat khas kebapakan.
   “Mas Amar, mereka berdua membuat masalah. Aku sudah tak bisa menanganinya lagi. Aku serahkan ke Mas.”
Amar berdiri dari tempatnya duduk, menatapi keduanya sudah sama lebam, pakaian kotor, rambut awut-awutan.
   “Mereka berkelahi? Masalahnya apa?”
Keduanya duduk tertunduk takut jikalau Amar memberikan Surat Peringatan atau memulangkan mereka.
   “Biasalah, anak muda.. emosinya masih meledak-ledak. Suka menangnya sendiri”
Pak Umar bersandar di pinggiran meja Amar. Amar bersidekap mendengarkan awal mula pertengkaran kedua pemuda awal dua puluhan tersebut.
Keduanya semula mengemasi barang-barang yang akan dikirimkan ke luar pulau. Salah seorang dari keduanya yang bermata gelap memang diketahui sudah lama tak suka pada si jangkung ini. Ia meledek si Jangkung soal keluarganya yang suka memoroti harta orang. Setelah Pak Umar tekan untuk bicara, duduk permasalahannya adalah si adiknya suka dengan si jangkung dan sering meminta uang keluarga mereka dengan alasan menolong si jangkung. Si jangkung tidak terima difitnah, ia menghancurkan satu kardus lalu ia dipukul duluan. Bahkan si jangkung diludahi wajahnya, walhasil ia balas memukul.
Amar manggut-manggut mengerti. Ia mengambil duduk di kursinya kembali.
   “Kalian tahu kan kita dilarang berkelahi sampai adu jotos di sini? Mohon bedakan antara pekerjaan dan masalah pribadi. Saya yakin kalian bisa menyelesaikan masalah kalian secara kekeluargaan.”
   “Tapi Pak, dia yang mulai duluan! Lihat ini buktinya.” Si Jangkung menunjuk pipinya yang masih ada ludahnya. Segurat senyum terbit di wajah Amar, ia mendekatkan tisu ke pemuda tersebut.
   “Bersihkan itu. Entah siapa yang memulai, sesuai aturan akan saya beri SP1. Hati-hati, jangan gegabah lagi.. nanti kalau kalian jadi kolektor Surat Peringatan apalagi sering ketemu saya di ruangan ini kalian bisa dipulangkan lho..”
Kata Amar santai. Pak Umar menahan tawanya mendengar Amar. 
   “Kalian baikan sekarang! Salaman. Disini kita sama-sama rekan kerja, jangan ada perselisihan lagi.”
Kedua pemuda itu bersalaman dengan enggan. Amar mempersilakan keduanya keluar dan kembali bekerja. Pak Umar duduk di pinggiran meja menatapi Amar dengan bangga yang kini sedang menuliskan sesuatu di komputernya.
   “Mas Amar..”
   “Iya Pak Umar? Bapak mau diberi SP1 juga?” Canda Amar. Pak Umar tertawa keras sekali mendengarnya.
   “Mas Amar ini sudah cakep, baik orangnya, HRD dimana-mana galak dan garang lho Mas.. tapi Mas ini tidak, Mas juga berbakti pada orang tuanya, mapan, kekurangannya cuma satu. Belum ada istrinya, sebenarnya Mas ini cari yang seperti apa sampai melajang lama sekali? Mas ini tidak muda lagi lho..”
Mendengarnya Amar mengangkat sebelah alisnya dengan geli, lalu memandang Pak Umar dengan sedikit terkejut.
   “Pak Umar belum tahu ‘ya? Saya sudah nikah Pak, namun karena ada suatu hal jadi tidak ada semacam undangan resepsinya. Untuk yang ini saya minta maaf.”
Pak Umar menenglengkan kepalanyan heran. 
  “Lhoh.. Kog saya ndak dikasih tahu sih?”
  “Nanti ya Pak, sikonnya tidak mendukung.”
  “Sudah berapa lama?”
  “Jalan 8, 9 bulan.”
  “Alhamdulillah dong. Orangnya seperti apa?”
Amar membalik laptopnya menghadap Pak Umar, memperlihatkan wallpaper dekstopnya. Pak Umar melebarkan matanya senang melihatnya.
   “Namanya Sabina Pak, “
   “Auranya terang bagus, pasti baik orangnya. Mas Amar pasti juga tahu kalau orang tua yang sudah berpengalaman tentu bisa mudah melihat tabiat orang sekali pandang ‘kan?”
Amar menatap Pak Umar lamat-lamat, tertarik.
    “Kalau di jawa ini namanya ilmu titen Mas.. bukan dukun atau yang serba gaib lainnya. Ini dikuasai berkat mengamati dan berinteraksi dengan ribuan orang selama kami hidup.. sejago-jagonya Mas Amar baca gerak tubuh orang berdasarkan ilmu psikologi.. tak lebih jago perihal hal ini dibandingkan kami para orangtua”
   “Ibu’ saya juga pernah mengatakan hal serupa soal titen itu. Mungkin bahasa gaulnya feeling kali ya Pak?”
   “Persis Mas.. Mba’ Sabina cocok dengan Mas Amar. Apapun masalah diantara kalian pasti ada jalan keluarnya Mas. Mungkin ini ujian dari Yang Maha Kuasa.. apa yang sudah ditakdirkan miliknya Mas Amar niscaya akan kembali ke Mas.”
   “Aamiin…”
Pak Umar pamit keluar meninggalkan ruangan Amar
 Amar terhenyak sejenak, ia ingat tak pernah mengatakan apapun soal masalah. Amar bertopang dagu memikirkan kata-kata Pak Umar yang barusan. Ia ketuk-ketukkan ujung jari telunjukknya pada meja kemudian mendengus ringan.
    “Orang tua, sudah merasakan semua pahit manis getirnya hidup.”

***
   Sabina sebelumnya telah menunggu lama orang keluar dari ruangan Shafa. Jika sudah seperti ini biasanya Shafa berbicara serius dengan anak/remaja yang meminta nasehatnya. Beberapa waktu lalu Sabina sedikit mengintip siapa yang berbicara dengan Shafa. Seorang gadis muda, barangkali berada di usia dua puluhan awal. Sabina menunggu di luar, duduk di teras memperhatikan bunga-bunga yang Shafa sengaja tanam. 
Sudah tiga hari ia tak pulang ke rumah Amar. Ia tak habis pikir dengan Amar, kenapa bertingkah seperti itu padanya? Tidakkah Amar bisa mengambil sudut pandangnya sekarang? Ia ini tak mengenal Amar dan tiba-tiba sudah terikat dengannya, ia tak memiliki perasaan apapun pada Amar namun harus tinggal dengannya dan menerima semua cinta Amar, suatu hari nanti ia tentu akan mengingat siapa Amar. Namun apa yang terjadi belakangan ini, baginya apapun yang Amar lakukan selalu salah dimatanya.
   “Sab… ayo masuk..” Panggil Shafa memudarkan lamunannya. Mereka kemudian mengobrol basa basi sebentar dan tibalah Shafa mengutarakan permintaannya. Wanita tersebut mengajak Sabina bertemu, ada hal penting yang ingin ia katakan pada Sabina. 
    “Sab.. boleh aku minta tolong?”
    “Apa?” Sabina menunggu Shafa melanjutkan kalimatnya.
    “Bantu aku mendekati Kang Arip.”
    “APA??! Ka-kahfi bagaimana?”
Sabina mencari-cari apa tadi ia tidak salah dengar? Namun gurat di wajah Shafa menunjukkan keseriusan.
    “Aku sudah minta petunjuk Allah 2 tahun belakangan ini Sab, jawabannya adalah Kang Arip. Hatiku juga lebih condong ke beliau.., mungkin Allah punya maksud lain.”
Sabina mengedipkan matanya berkali-kali masih tak percaya. Kang Aripnya?
    “Jadi inilah alasan kamu menolak Kahfi? Kang Arip? Bukan aku tidak mau membantu kamu Shafa.. tapi Kang Arip itu.. bagaimana menjelaskannya ya? Dia diluar pemikiran kamu sama sekali Shafa.. akan aku pikirkan dulu. Aku akan bicara dengan Kahfi juga.”
    “Sabina, aku benar-benar minta maaf jika permintaan ini berlebihan bagi kamu.”
Bening Shafa memandangnya, berharap Sabina bersedia membantu.
    “Tidak apa-apa..”
Setelah berbicara sebentar dengan Shafa tentang hal lainnya ia keluar dari ruangan tersebut. Kaki kaki Sabina seolah tak bisa menapak tanah lagi. Ia gontai berjalan tertatih berpegangan dengan dinding. 
Shafa ingin didekatkan dengan Kang Arip? Namun bagaimana caranya? Ia ingin sekali Arip kembali pada fitrahnya sebagai lelaki, sayangnya disisi lain Sabina sendiri juga tak tahu caranya. Telah berbagai cara ia lakukan untuk membuat Arip dan Attar kembali. Ini tugas yang sulit, Shafa sahabatnya. Tidak tega ia memberitahukan bahwa sebenarnya Arip gay. 
Shafa pasti telah banyak memikirkannya sebelum mengutarakan permintaannya tadi.
    “Bagaimana caranya?”
Kahfi melenggang mendekati Sabina yang nampak syok akan suatu hal. Berbicara sendiri, memegangi kepalanya bingung.
    “Shafa suka Kang Arip?” Gumamnya masih setengah sadar. Kahfi yang melengganggang santai mendekati Sabina pun terperangah mendengarnya. Sabina langsung gelagapan melihat Kahfi di sini.
    “Kamu jangan bercanda ‘ya? Shafa… Kang Arip? Maksudnya apa?”
Sabina menoleh pada Kahfi didekatnya, muka Sabina pucat seperti habis melihat hantu. Kahfi tidak tahu Kang Arip gay, Kahfi akankah marah? Sabina ketakutan memikirkan kemungkinannya.
    “Yes! Aku punya saingan yang sepadan. Arsitek keren seperti Kang Arip.”
Sabina langsung berdiri tegak mendengarnya. Apa ini? Kenapa dia justru senang?. Alisnya saling bertaut heran. Justru Kahfi nampak ceria dan beringas. 
    “Sabina, kamu pucat sekali. Pasti kurang olah raga, kamu harus ikut aku! Sementara waktu aku akan nge’gym dulu!”
Kahfi menggamit Sabina mengajaknya ke gym yang ia sebagai member di sana. Mereka menuju ke pusat kebugaran langganan Kahfi. Kahfi mengatakan ia sedang menyelami karakter, tokoh utama novel baru lainnya yang tengah ia kerjakan adalah seorang personal trainer dan hidup sehat. 
     Keduanya kini bersebelahan berjalan di treadmill sembari bertukar ide. 
    “Aku bahkan ikut menjalani diet ketat Sab, sebelumnya aku konsultasi ke ahli gizi terlebih dahulu. Aku coba seminggu hanya makan ketimun, walhasil bobotku turun banyak namun massa otot sedikit berkurang karena aku tidak olah raga teratur.”
    “Pantas saja kamu sekarang agak berisi otot sedikit ‘ya. Mengenai Shafa kamu tidak apa-apa?”
Kahfi mengangkat bahunya tenang. Lalu melirik ke belakang bahu Sabina. Sebastien sudah berlari di treadmill dekat Sabina. Ia mengikat rambutnua tinggi dan melabaikan tangannya dengan ceria pada keduanya.
    “Hai hai! Tahu tidak Sab? Aku terbang ke sini dipaksa Kahfi. Kebetulan aku mau jalan-jalan juga.”
    “Kalian sudah baikan?”
    “Aku tahu secara tidak sengaja ternyata perkebunan bunga milik Kahfi ada di pedalaman Inggris. Kalian sebelumnya juga ke Dubai ‘kan? Kenapa tidak ajak aku?”
Sabina menatap Kahfi sebal dan Kahfi hanya menggelengkan kepalanya malas menanggapi.
    “Kalian tidak ada hubungan apapun dengan Amar ‘kan?”
    “Amar? Aku tidak pernah bertemu dengan dia Sab.. Seb palingan yang berkhianat.”
Kahgi menujuk Seb yang memelankan kecepatan treadmillnya. 
   “Aku hanya bertemu dia sekali Sab.. itu pun dia pulang lagi karena ibunya kena serangan jantung.”
Sabina tidak mengetahui ini, ibunya Amar sempat sakit? Sehari yang lalu ketika mengunjungi beliau di rumahnya bersama Faizal ia baik-baik saja. Ia ke sana dan banyak membicarakan Amar, Sabina meminta mertuanya merahasiakan kedatangannya ke rumah mereka.
    “Panjang umur..” bisik Seb lalu pergi ke angkat besi dan menyingkir dari reuni tersebut. Amar dari kejauhan melihat Sabina dan berjalan mendekatinya. Kahfi tersenyum tipis melihat ini, Sabina tampak kaget sedikit. Sesampainya di dekat Kahfi dan Sabina ia langsung bertanya ke mana Sabina?
    “Sab, di mana kamu sekarang?”
    “Di rumahku, kenapa? Kamu takkan kekurangan suatu hal apapun tanpa aku disisimu.”
    “Sabina…” Kahfi mencoba masuk ke garis diantara perang yang Sabina mulai ini. Amar seketika menatap Kahfi dengan pandangan spekulatif. Kahfi kemudian mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
    “Perkenalkan, aku Kahfi.. personal trainer-nya Sabina sekaligus temannya. Salam kenal, kamu Amar ‘kan?”
Dalam hati Sabina mengutuk Kahfi kenapa mengaku sebagai personal trainer? Dasar gila..
   “Amar..”
Amar kembali pada Sabina. Sabina menatapnya malas. 
   “Pulanglah kalau kamu sudah tidak emosi lagi padaku..”
Sabina tidak menanggapinya, ia langsung pergi saja. Kahfi tersenyum kikuk pada Amar dan mengikuti Sabina.
Hati Amar seperti mencelos diperlakukan seperti ini oleh Sabina. Ia kemari karena diajak Rofi yang telah lama mengenal Amar dan tahu Amar ada masalah meski tak pernah dikeluhkan. Rofi menepuk bahu Amar menenangkan.
    Sebulan semenjak kejadian tersebut Sabina masih belum kembali. Amar banyak menanyakan kabarnya melalui Makki, Sabina katanya selalu pergi pagi buta dan pulang larut malam. Menurut Attar Sabina tak banyak berubah kecuali ia yang makin terlihat murung dan tertekan oleh suatu hal, beberapa kali selalu menginterupsi rapat karena mual dan menuju kamar mandi.

***
    Sabina duduk menyadarkan punggungnya ke kursi yang sengaja didesain untuk membuat siapa saja yang duduk di sana merasa nyaman. Ia memejamkan matanya setelah disugesti.
Kahfi di dalam ruangan tersebut mengawasi mereka berdua. Sabina dengan Timothy menjalani prosedur menyelami alam bawah sadar.
Sepulang dari pertemuan tidak sengaja keduanya dengan Amar di pusat kebugaran, Sabina menangis tak tertahankan di mobil Kahfi, Kahfi sampai kehabisan sekotak tisunya berkat air mata dan ingus Sabina. Sabina sesenggukan mengatakan ia sebenarnya tidak sampai hati tega pada Amar, namun tiap melihatnya entah mengapa ada emosi tersulut. Kahfi kemudian mencarikan temannya yang ahli menangani hal semacam ini, Kahfi mengkonsultasikan kondisi Sabina dengan ayah Sabina serta dokter terakhirnya. Lalu mereka setuju merujuknya ke Timothy yang sudah terkenal cakap sebagai hipnoterapis. 
Yang mengetahui ini hanya di lingkaran mereka saja, Kahfi sembari mengamati ia sekalian memikirkan ide menulis. Sabina banyak menangis dan tercekat, menjerit menyusuri alam pikirannya.
 Timothy menyarankan Sabina menyusuri alam bawah sadarnya yang paling dekat dan mengusiknya, ternyata yang dituju Sabina sebagian besar justru kenangan menyakitkan miliknya. 
Karena ingatan Sabina yang muncul kebanyakan rasa sakitnya, ia justru sering mual dan tidak bisa makan. Perlahan-lahan ia ingat Amar. Makin kuat ia tak bisa pulang ke rumah Amar.
    Setelah selesai biasanya Sabina pucat sekali. Timothy menyambutnya.
    “Bagaimana sekarang Sabina? Sudah hampir satu bulan. Progress kamu bagus, nyaris 95%. Besok tidak usah datang lagi tidak apa-apa.”
Timothy memberikan sekotak tisu pada Sabina.
    “Tim, terima kasih.”
Kahfi mengacungkan tinjunya dan Sabina balas meninjunya. 
    “Mata kamu parah Sab.. sudah ingat siapa Amar?”
    “Kamu sudah nikah Sab.. senyumlah.. kurasa kamu masih ada yang mengganjal.”
    “Aku tidak tahu harus apa.., bagaimana ini? Rasanya campur aduk. Aku ingin membunuhnya dan mencintainya disaat yang bersamaan.”
Kahfi dan Timothy saling pandang dan tersenyum melihat Sabina terlihat gamang dan mematung hampa seperti ini. Lalu Sabina berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
    “Hamil?” Tanya Timothy jahil.
    “Jangan jadi biang gosip deh Tim.. kamu kan tahu sendiri dia dan Amar seperti apa hubungannya?!”
    “Hahaha… yayaya..”

***
    Sabina sore itu bersama Shafa. Shafa menanyakan perihal Kang Arip, Sabina mengelak terus bahwa Kang Arip sedang di luar kota mengawasi proyek barunya. Sulit dihubungi. Shafa bersabar dan akan menunggu.
    “Shafa… dengerin aku, kenapa tidak Kahfi saja?”
    “Tidak bisa Sab…”
    “Yasudahlah.. aku pergi dulu.”
    “Ini payungnya. Lihat, sudah gerimis tuh..”
Mereka lalu bersalaman dan pisah. Sabina menyusuri trotoar dengan hati-hati. Sepuluh menit berjalan, ia akan menunggu Faizal di sebuah halte bus tak jauh dari sana. 
Sabina lihat Amar duduk termangu menunduk menatapi ponselnya. Sabina jadi menghentikan langkah kakinya tidak mau melanjutkan ke halte. Kenapa Amar di sana? Tampangnya kusut sekali. Apa mobilnya mogok? Apa sudah panggil derek?
Banyak pertanyaan muncul di benak Sabina. Sudah sebulan lebih lamanya Sabina tidak melihat Amar secara langsung. Ada pergolakan batin pada Sabina, di satu sisi ia ingin berbalik arah dan pergi mengabaikan apa yang dilihatnya saat ini. Di sisi lain ia juga iba melihat Amar, penasaran apa yang terjadi. Ia menggelengkan kepalanya berat untuk memutuskan. Ingatannya telah kembali, hanya Kahfi yang mengetahuinya.
Akhirnya ia melangkah mendekati Amar. Gerimis masih menerpa payung hitamnya, Sabina tidak tega melihat Amar seperti ini. Ia pun memutuskan untuk menyambangi Amar.
    Pukul 17.14 sore itu, di halte tersebut hanya ada Amar seorang. Mobilnya mogok tiba-tiba, sudah coba ia betulkan namun tak bisa. Ponselnya mati karena ia lupa tidak mengisi batereinya. Sebulan ini pikirannya kacau, ia tidak bisa tidur dan hanya menatapi langit-langit kamarnya. Makannya menjadi tidak teratur, rona wajahnya persis seperti sebulan pertama sejak Sabina koma.
Sabina berdiri di depan Amar yang tertunduk lesu. Amar mendongak sedikit melihat Sabina, seperti hendak mengatakan sesuatu namun tiada yang terucap. Sabina meletakkan payungnya, ia duduk di kanan Amar. Mengeluarkan tisu basah dari tasnya, ia mengelap tangan Amar yang kotor. Amar tak pernah menanggalkan tatapannya dari wajah Sabina. Sabina lihat ponsel Amar mati.
    “Kamu takkan kekurangan suatu hal apapun tanpa aku disisimu. Baru ditinggal sebulan sudah seperti ini..”
Sabina lalu membersihkan dahi Amar yang juga kotor, pasti tadi tanpa sengaja Amar menyentuh dahinya dengan tangan bekas oli. Sabina kemudian menghubungi Faizal untuk dibawakan mobil derek sekalian ketika menjemputnya. Amar yang biasanya banyak bicara entah mengapa sejak tadi diam saja.
Amar membuang gumpalan tisu kotor ke tempat sampah di sebelahnya. 
    “Sabina, aku meminta penjelasan dari kamu. Mau ku pikirkan seberapa lama tak pernah bisa aku mengerti dimana salahku?”
Sabina sedikit mengangkat alisnya, suatu hari akan dapat pertanyaan ini dari Amar. Ia sudah berlatih menjawabny lama jauh sebelum ini terjadi.
    “Mas Amar ingin tahu apa kesalahan Mas?”
    “Apa?”
    “Aku tidak masalah kita tidak bisa seperti pasangan kekasih lainnya. Aku tidak akan kesal jika kita tidak bisa banyak bertemu atau terpisah jarak ribuan kilo meter sekalipun. Atau menahan sesaknya rindu.”
Sabina tersenyum getir mengatakannya. Ingatannya sedikit kembali, namun rasa sakit akan penantiannya lah yang datang terlebih dahulu dan mendominasi, baru rasa cintanya ke Amar.
   “Lalu apa Sab? Di mana letak salahku selama ini?”
Amar tampak bingung. Ia tak habis pikir harus berbuat apa lagi. Bagi Sabina apapun yang Amar lakukan selalu bernilai salah.
    “Bukankah sudah aku buktikan aku serius, lihat… aku menikahi kamu. dan akan berusaha membahagiakan kamu, atau setidaknya jika membuat bahagia kamu kedengaran seperti janji yang muluk-muluk.. aku takkan pernah membiarkan kamu sedih atau menangis sejak aku ucapkan ijab sampai akhir khayat.”
Sabina kagum mendengarnya, sejujurnya ia lumayan gugup melihat Amar seperti ini. Amar selalu memegang ucapannya, logis dan tegas.
    “Katakan dimana letak salahku? Akan aku perbaiki.”
Sabina menitikkan air mata mendengarnya. Amar masih menunggu penjelasan.
    “Mas Amar hanya seharusnya cukup bilang padaku untuk menunggu! Tunggu Sab.. tunggu aku,”
Amar memasang kedua telinganya sungguh-sungguh. 
    “Mas Amar, aku hanya ingin dengar itu.. lalu jalani hidupmu seperti yang kamu inginkan. Aku bisa bersabar.. “
Amar menggeleng lemah mengetahuinya. 
   “Tapi kalau aku begitu maka artinya aku sedang berjanji Sab, aku takut tidak bisa menepatinya.. hati manusia mudah berubah.”
Mata Sabina sudah memerah dan air matanya tak terbendung lagi. Amar iba melihatnya, hatinya bagai ditusuk-tusuk besi panas melihat Sabina seperti ini. 
    “Sepuluh tahun. Apa bisa kamu bayangkan rasanya jadi aku? Sakit hati karena cemburu pada teman-teman kamu.. tiba-tiba sedih tanpa sebab melihat kamu akrab atau sibuk dengan perempuan lain. Karena aku tidak tahu dimana hatimu… aku tidak bisa membaca pikiran kamu Mas… baik, aku salah dan egois berharap seperti itu.. tapi ini diluar kuasa hatiku.”
Amar mengerti semarah itulah Sabina padanya. Sabina adalah perempuan, sesabar dan setenang apapun dia pasti rasa cinta yang begitu besar pada Amar justru menyakitinya sendiri. Tapi tunggu.. apa Sabina telah mendapatkan kembali ingatannya?
    “Sab..?”
    “Jika pada akhirnya justru rasa cinta ini menyakitiku.. Aku sungguh ingin pergi dari perasaan ini.. ingin sekali… tapi aku tidak tahu caranya! Aku tidak bisa! Ini menyakitkan… “
Air matanya semakin deras. Amar sungguh ingin merengkuh perempuan yang begitu rapuh ini.
   “Kamu tidak pernah bertepuk sebelah tangan sayang.. aku juga mencintai kamu. Harus aku bilang berapa kali agar kamu percaya?”
Amar mencoba mendekat dan ingin memeluk Sabina yang sudah berurai air mata. Namun Sabina mengambil jarak menjauh.
    “Jangan sentuh aku!”
    “Sab, aku mengerti tidak mudah bagimu melupakan semua rasa sakitnya. Maka dari itu berikan aku kesempatan untuk membuat kenangan-kenangan indah baru sehingga kenangan lama menyakitkan itu tertimbun dan terlupa terabai sendiri.”
Amar ingin Sabina jangan terfokus melupakan, buat saja kenangan baru yang akan menutupi semua rasa sakit itu.
    “Ingatan kamu sudah kembali?” Tanya Amar ragu-ragu tak mau terlalu banyak berharap.
Sabina menatapnya lama, dari sana Amar mengetahui ada yang berbeda dari biasanya Sabina menatapnya selama tinggal bersama. 
    Sebelum Sabina menjawabnya, Faizal datang mengacaukan.
   “Tiap lihat Mas Amar menatap kakak itu.. aku langsung ingin menyanyikan lagunya BCL Tentang Kamu yang bagian ini. Bagaimana.. bila akhirnya ku cinta kau~ dari kekuranganmu~ hingga lebih mu~. Hahaha!”
Keduanya langsung beralih ke Faizal. Keduanya tadi terlalu sibuk sendiri sampai tak menyadari Faizal sudah di sana semenit lalu.
    “Lima menit lagi mobil dereknya sampai Mas. Mas Amar ikut mobil kami saja, sekalian pulang ke rumah kita.. “
Amar menatap Sabina seolah bertanya boleh tidaknya menyambut ajakan Faizal. Sabina mengangguk sekali menyetujuinya. 
    Amar duduk di depan sedangkan Faizal menyetir. Faizal menceritakan bandnya akan mengadakan konser kecil-kecilan. Amar banyak menanggapi Faizal yang super cerewet dalam perjalanan pulang mereka. Sabina sesekali menanggapi.
Sesampainya di rumah entah mengapa semua orang sedang berkumpul di sana. Amar sedikit heran namun masih belum merasakan ada yang berbeda atau istimewa.
   

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s