Magenta Lilac – Part 6

 Amar sampai di pelataran depan kantor Sabina. Pukul 16.47 jam bubaran kantor kebanyakan di kawasan bisnis tersebut. Amar kemari tidak sendiri, ia memberi tumpangan pada Moli rekan kerjanya yang kebetulan ada urusan di sekitar sana. Wanita berambut pirang buatan dan terlihat centil seperti Arip tersebut keluar dari mobil Amar dan bersalaman dengan Amar sebelum pergi. Amar sopan menanggapinya. Sabina memperhatikannya dari kejauhan dengan memicingkan mata. Senyuman wanita itu aneh sekali, jelas sedang menggoda Amar.

Sabina berpikiran bahwa Amar jika tak sebaik ini sebenarnya sangat berpotensi besar menjadi playboy, terlebih dengan kondisi finansial serta wajahnya yang tak berdosa itu. Membuat Sabina muak melihatnya.
     Sabina mendekati mobil Amar dan masuk ke kursi sebelah Amar. Amar tersenyum menyambutnya, Sabina hanya menatapinya malas.
    “Siapa tadi? Selingkuhan kamu?”
Amar diberi pertanyaan ketika hendak memutar arah mobil.
     “Kenapa? Kamu cemburu?”
Tanya Amar santai. Sabina menyeringai mendengarnya.
     “Enggak, aku malah seneng kalau kamu selingkuh. Apalagi kalau sampai ada niatan poligami. Alhamdulillah sekali Amar.. bagus! Aku tidak perlu susah susah melahirkan anakmu. Lalu KB, hormon membludak dan susah payah menurunkan berat badan. Lalu kamu selingkuh dengan alasan sudah tidak cinta lagi, padahal kamu mau enaknya saja ‘kan? Laki-laki itu kebanyakan seperti itu. Mereka selalu ada kecenderungan untuk berkembang biak. Hebat!”
Sabina bahkan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Amar dan bertepuk tangan.
Amar langsung menoleh sesaat lalu kembali menyetir fokus pada jalan, Sabina memanggil namanya tanpa Mas. Kenapa pula pembahasannya bisa menjadi sejauh ini? Ya.. dia bisa memaklumi ini karena Sabina tidak dalam mode jatuh cinta padanya. Maka dari itu Sabina memandangnya sebagai bagian dari laki-laki pada umumnya.
     “Kamu mau ngajakin berantem? Apa? Amar? Aku dua tahun lebih tua dari kamu ya Dek.., aku tidak seperti itu Sab, kamu satu dan untuk selamanya, bagiku kamu yang paling cantik di mataku.”
     “Kamu bisa dapetin yang lebih cantik dari aku. Aku ini cuma istri istrian kamu. Masih ingat kata-kata ku sebelumnya? Siap-siap dapat istri kurang ajar. Aku sudah memulainya pagi tadi dan akan berlanjut lagi.”
Amar masih berusaha bersabar. Langit mulai mendung, petang ini kendaraan di jalanan sudah banyak memicu kemacetan. Amar akan melalui jalan lain yang tak begitu macet.
     “Kamu harap aku akan bilang cerai kan? Tidak akan pernah..”
Sabina menatap Amar lama sekali. Suaminya bisa marah tidak sih?. Tapi saat ini ia tak terkesan sama sekali. 
     “Makanya, poligami saja sana… kamu tidak lihat tadi dia? Sudah cinta mati sama kamu. Aku yakin kamu tinggal menjentikkan jarimu lalu para wanita baris mengantri.”
     “Tapi aku cintanya sama kamu..”
     “Terserah.”
Sabina kemudian menyilangkan kedua tangannya dan menatapi kendaraan lain di kirinya. Diam-diam Amar memperhatikannya, sepertinya ini kebiasaan Sabina jika tak ingin bicara dengannya.
Seseorang tolong pasang termometer suhu diantara mereka, berapa derajat celcius pertengkaran mereka tadi?
                                    ***
     Sesampainya di rumah, terlihat banyak mobil. Sabina menduga semua orang datang untuk menyambutnya. Bagaimanapun juga pulang ia langsung ke rumah Amar. Benar saja, ketika Amar membuka pintu Makki langsung memeluknya. Ayah dan Ibu juga di kursi duduk kemudian beranjak memeluknya. Ikrom hanya tersenyum pada Sabina. Faizal melambaikan tangannya sementara ia sibuk dengan laptopnya di bawah. Tama dan Tomo duduk di sofa kemudian beranjak dan menyalami Sabina. Ayah dan Ibu Amar juga menyambutnya.
Sudah banyak makanan tersedia di meja. Kebanyakan makanan favorit Sabina.
    “Aku ke atas dulu ya..” kata Sabina. Amar meladeni seluruh keluarga sementara Sabina naik ke lantai atas. Meski agak kesal, ia sedikit terharu dengan kehadiran mereka semua. 
Ketika turun ia dengar Faizal dan Amar mengobrol mengintip kolam renang di belakang. 
     “Ckckck, Mas Amar! Enggak ada gunanya juga rumah dikasih kolam renangnya Mas! Kak Sabina itu tidak bisa renang.”
Kata Faizal mengomentari kolam di belakang. Amar baru tahu ternyata Sabina tidak bisa renang.
     “Masa’ sih? Nanti aku ajarin dia, gampang lah.. iya kan Sab?!”
Sabina turun ke bawah, di sana ia memelototi Amar dan Faizal. Amar hanya tersenyum melihat ekspresi lucu Sabina.
     “Yang ada kakak malah ternak lele di sini Mas.”
     “Ide yang bagus Zal, besok aku akan pelihara aligator atau piranha sekalian.”
Mereka kemudian makan malam bersama dan bercengkrama. Sabina banyak tersenyum dan bercanda. Amar selalu memperhatikannya tanpa ia sadari. Jika bisa ia juga ingin sehangat itu mengobrol dengan Sabina, bukan berdebat dan adu argumen atau balas kata-kata.
     Pukul 21.40 mereka semua pamit pulang. Sabina kembali mengabaikan Amar, ia naik ke kamarnya meninggalkan Amar tanpa sepatah kata pun. Amar menghela napas pelan menatapi punggung Sabina menjauhinya.
                                    ***
    Hari itu Minggu, Sabina pagi itu belum memasak. Ia malah berjongkok di dekat kolam ikan koi yang air mengalir dan memercik berkat air terjun mini. Ia mengamati ikan ikan koi dan sesekali melemparinya makanan ikan.
Amar selepas jogging di sekitaran kembali ke rumah dan mencari Sabina. Sabina masih dengan piyama kotak-kotak merah hitamnya dan rambut dikuncir kuda terlihat seperti anak kecil asyik bermain air. Amar ikut berjongkok di kanan Sabina.
    “Lagi mikirin apa Sab? Mikirin aku? Aku tidak akan ke mana-mana.. “
    “Kepikiran aja… kira-kira kalau ikan koi-nya aku ambil tiga ekor lalu masak balado kamu doyan gak ya?”
Amar mengangkat alisnya kaget. Menyurai rambutnya dan terkekeh pelan.
    “Sabina… ini ikan bisa buat beli mobil lagi lho sayang… tega banget sih?”
    “Abisnya lucu tuh, tuh.. tuh.. gemes lihatnya! Ngapain kamu beli ikan mahal-mahal? Mau pamer kamu tajir ya?”
Sabina memegangi kedua pipinya sendiri dan tersenyum lebar sekali seperti anak kecil memperhatikan ikan ikan. Meski gembira melihat Sabina lucu ceria seperti ini, yang jelas idenya buruk.
    “Kamu sakit ya? Ke dokter yuk.. “
Amar mengecek dahinya dan langsung Sabina tolak. 
    “Apa apa’an sih?”
Ponsel Sabina bergetar, ia menghidupkannya. Terlihat Sabina sebelum ini berselancar di internet dengan pencarian aligator yang cocok untuk dipelihara di rumah, murah dan cepat pengantarannya. Amar berkedip berkali-kali tidak percaya.
     “Sayang… kamu ingin bunuh aku ya? Maksudnya cari aligator apa ya?”
     “Wah, negatif thinking.. kalau aku pengen bunuh kamu tinggal kasih racun di masakan yang kamu makan. Ngapain susah susah beli aligator?! Kamu kan terlalu percaya sama aku..”
Seketika mata Amar melembut mendengarnya. 
     “Aku selalu percaya kamu, karena kamu memang pantas untuk dipercayai Sab..”
Sabina berdiri dan hendak kembali ke dalam, ia selalu risih jika Amar tiba-tiba memulai suasana jadi seperti ini mulai agak romantis. Amar mengikutinya. 
    “Mau ke mana?”
    “Bersih-bersih rumah. Rumah ini kegedean cuma buat berdua, sengaja ya? Pamer.. dasar sombong!”
Amar hanya tersenyum mendengarnya. Pagi hari di Hari Minggu dan mereka akan bersih-bersih bersama. Anggap saja ini sedang kencan. Ada kegetiran melihat mata Sabina barusan karena sedari tadi wanita itu tak pernah menatapnya dan hanya menunduk memperhatikan ikan, Sabina pasti hanya ngawur pada Amar tadi, ia cuma bicara soal koi dan aligator untuk menutup-nutupi bahwa ia menangis. Buktinya matanya memerah dan bengkak.
    “Makanya kita harus punya anak biar ramai sedikit rumahnya nanti.”
    “Mimpi ya? Kalau kamu sepengen itu punya anak dariku gimana kalau bayi tabung saja. Kamu kan kaya. Lalu kamu carilah perempuan yang bersedia melahirkan anak kita.. beres kan? Itu anak kita.”
Sebenarnya Amar mau tertawa mendengarnya, masuk akal juga. Tapi ide ini konyol sekali. Sabina benar-benar menyebalkan seperti kata Kak Makki sebelumnya ketika Sabina pergi dari rumah sakit.
    “Mana mungkin? Anak itu buah hati… harus dilibatkan dua hati.”
    “Ngomong apa sih? Makanya silakan poligami Amar.. cari saja hati yang lain.”
    “Ayo bersih-bersih rumah lalu keluar cari angin biar pikiran kamu sedikit jernih.”
Amar malas membicarakan ini. Kenapa Sabina suka sekali membicarakan hal tidak masuk akal seperti ini. 
     Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, resah memperhatikan keduanya memasuki rumah. Mungkin jika itu bukan Amar pasti sudah menceraikan Sabina sejak lama. Sabina keterlaluan pada Amar, ini sungguh membuat kesal bahkan oleh diriku sendiri.

     

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s