Magenta Lilac – Part 5

      Andai tak ada kaca dan pagar pembatas, terlihat sekali pasti gadis itu sudah melompat sejak tadi. Ia kini berada di gedung tertinggi di dunia, daerah memiliki hutan beton disekitar lautnya, memiliki tiga pasar tradisional besar, punya salah satu bandara paling bersih di dunia, Sabina ingin sekali sky diving tiap di sana tapi Kahfi tidak mau menemaninya.

 Kahfi berjalan mendekati Sabina, mereka janjian bertemu di sana pagi hari ketika matahari sedang merangkak naik. 

Kejadian ini terjadi sebelum Sabina pulang ke rumah Amar. 
     “Kamu kelihatan seperti orang yang sudah tidak mau hidup lagi Sab. Kurang makan, kurang tidur, kurang bahagia, jangan bilang kamu juga kurang bernapas. Hahaha!”
Sindir pria kurus dan berkaos hijau daun itu.
     “Kalau kamu mau bunuh diri setidaknya harus minta izin pada orang-orang yang sayang padamu. Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka setelah kamu pergi? Terlebih Amar.. Kamu mau aku melakukan apa agar Sabina yang dulu kembali lagi? Daffina? Kamu ngefans dengan penyiar radio misterius itu kan? Apa kata kamu dulu ya.. suaranya membelai-belai siapa saja yang dengar. Mau aku ketemukan dengan dia? Aku bisa lhoo Sab.. meski dia biasanya menolak semua orang penting sekalipun.”
     “Menurutmu aku harus bagaimana Kaf?”
Kahfi mengernyitkan dahinya dan tersenyum. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 
    “Sudah jelas bukan? Kamu pulang.. jalani dongeng kalian. Aku rasa dulu kamu menginginkan ini Sab.”
    “Semuanya ini aneh sekali. Aku tahu alasannya, aku dengar pengakuannya dan aku yakin pada perasaanku sendiri. Tapi kenapa aku merasa sedih dan tidak bisa terima? Apa yang salah Kaf?”
Kahfi mengambili serat baju yang mengusik matanya sejak tadi di lengan Sabina. Lalu mengendikkan bahunya santai.
     “Itu artinya kamu belum bisa memaafkan Amar. Maaf dimulut tidak sama dengan di hati. Terlebih kamu belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Mungkin saja itu yang menjadi beban kamu.”
Mendengarnya membuat Sabina mengerutkan kedua alisnya menatap Kahfi. Tidak mengerti.
    “Coba kamu mulai menerima dia sebagai dirimu yang sekarang. Bukankah kamu pernah bilang padaku bahwa hidup melajang seumur hidup tak masalah, dijodohkan pun tak masalah asal kamu tahu seluk beluk siapa orangnya. Semuanya dimulai dari nol Sab..”
    “Ralat, aku bilangnya seperti ini… kalau aku dan kamu pada akhirnya melajang sampai diumur dinyinyirin orang-orang kapan kawin.. kita sepakat untuk menikah. Kahfi janji seperti itu padaku dulu, masih ingat kan Mas?” Sindirnya.
Kahfi langsung mengangkat kedua tangannya menyerah. Ia ingat sekali. Mereka sempat sepakat semacam itu jikalau keduanya sama-sama tak mendapatkan pasangan yang mereka impikan. Hidup bersama sebagai partner hidup dalam artian yang harfiah, sekadar teman tinggal bersama dan berbagi pandangan hidup, membuat kartu keluarga sendiri dan suami istri hitam di atas putih. Jika pada akhirnya saling cinta itu adalah bonusnya. Sebuah pemikiran yang tidak membutuhkan perasaan  berbunga-bunga sama sekali. Kenang keduanya sambil tertawa. Dua orang gila.
      “Sayangnya kamu sudah menikah duluan, jika saja disituasi lain tentu janjiku itu sangat berlaku Sab… aku senang punya teman hidup sepemikiran denganku, kita sangat nyambung dalam hidup berimaji.. “
     “Sangat!”
Kahfi senang membicarakan ini. Mereka tak jarang memikirkan betapa cocoknya mereka satu sama lain meski tidak ada ketertarikan hati.
     “Lalu kamu tidak akan merasa aneh jika aku mengatakan hal-hal aneh lainnya, penulis dan editor akan sangat berjodoh Sabina sayang.. hahaha! Secara logika itu masuk akal, tapi aku dan kamu jatuh cintanya pada orang-orang tipe robotik yang bergerak mengikuti jadwal serta sangat disiplin.”
Kahfi seketika mengenang Shafa pujaan hatinya, seorang wanita yang telah mengisi seluruh dunianya. Sabina juga mengenal Shafa. 
     “Dugaan kita benar soal Amar yang terlalu hati-hati. Mendingan kamu pulang sekarang! Masalah dendam kamu itu biarkan saja, tapi aku berharap kamu tak langsung menyerahkan hatimu. Sabina yang aku kenal tidak semurahan itu.”
     “Tentu saja, aku kan tidak ada perasaan apapun pada Amar saat ini. Jadi…?”
     “Jadi… Biarkan Amar membuat kamu jatuh cinta sekali lagi. Pasti ada hal krusial yang membuat Sabina menyukai Amar. Bedanya nanti dia akan tampak berjuang sekali dibandingkan dulu, sebelum koma kamu siap membukakan pintu hati kapan saja.. sayangnya sekarang tidak se-enteng itu. Karena bagiku aku tak percaya hipnoterapi sih Sab.. ini cukup berbahaya jika ada pihak terkait yang ingin memanfaatkan kondisi alam bawah sadar kamu yang sedang melemah. Sebenarnya yang tidak mau ingat itu kamu sendiri, jadi di-hipnoterapi sekali pun takkan mempan jika kamu tidak mau Amar.”
     “Kamu melarang aku hipnoterapi? Setuju…”
Kahfi mengepalkan tinjunya dan Sabina balas meninjunya sebagai tanda sepakat. 
    “Kamu pasti bisa menghadapi pria lurus lurus bihun itu.”
     “Hiks… sudah lama aku ingin punya kakak laki-laki. Kamu selalu menjernikah pikiran kusut ini Kaf..”
Sabina pura-pura mengusap air mata imajinernya. Memang tak salah ia terakhir bertemu dengan Kahfi, banyak berdiskusi dengannya. Kalau nasib berkata lain Sabina sungguh tak keberatan menikah dengan Kahfi, meski tanpa cinta mereka bisa menjadi sahabat selamanya. Nyaman, saling paham, pengertian, takkan pernah bosan. Tentu dalam cinta unsur serupa selalu ada dan lebih kuat.. namun baginya ini masih soal Amar.
     “Saran-saran kamu hebat Kaf. Membuat terharu, seri keempat novel kamu sudah selesai? Aku siap menampung karya kamu.”
Kahfi menjitak dahi Sabina. 
     “Aduh!”
     “Baru setengah jalan. Tapi aku memang tidak akan mau menyerahkannya selain pada kamu Sab. Nanti aku kirim berkasnya, kalau ada yang kurang bilang saja.. opini kamu adalah bumbu penyempurna tiap tulisanku. Bukankah di akhir semua buku Trash selalu ada Thanks to my beloved Bi…
Terkadang Kahfi memanggil Sabina Bi selain Sab. Tidak pernah ada yang melakukannya selain Kahfi. Pria ini romantis sekali.
     “Itulah yang membuat semua orang berpikiran Bi adalah kekasih kamu Kaf. Aku sangat tersanjung, bagaimana ini? Aku sangat ingin berpura-pura mencintai kamu dan menerima perlakuan romantismu… hahaha. Gawat!”
     “Tidak bisa, kamu jadi editor aku saja. Aku punya cinta sejatiku sendiri.”
     “Setuju! Kahfi alias Trash ditunggu sekali bukunya..,”
Mereka bersalaman dan Sabina sudah lega. Ia akan pulang.
      “Shafa!” Panggil Sabina tiba-tiba.
      “Mana? Mana?”
Kahfi celingukan, Sabina mengerjainya. Ia senang membuat Kahfi grogi begini kalau sudah menyangkut Shafa.

                                   ***
    Amar membuka pintu kamarnya. Lepas subuh ia ketiduran di meja kerjanya. Pukul 07.14 saat ini. Ia temukan pemandangan luar biasa. Meja makannya di lantai bawah penuh dengan makanan, namun ada yang menggelitik hatinya sampai ia tak kuasa untuk tidak tersenyum geli. 
Lima jenis minuman di atas meja dan sama-sama baru dibuat. Kopi, teh, susu, jus, dan air putih beserta sticky post bertuliskan [ Aku tidak tahu Mas Amar suka makan atau minum apa untuk sarapan. Aku olah saja bahan yang ada di kulkas. Aku berangkat pagi. ]
Amar gemas sekali, menurutnya perhatian Sabina manis sekali. Ini semua terjadi karena Sabina yang lupa siapa dirinya, maka Amar tidak sanggup membayangkan jika kelak adalah Sabina yang mengingatnya, hari-harinya akan lebih berbunga serta semakin tidak waras dibuatnya. Seketika muncul ide dalam benaknya,
      “Apa harus aku benturkan kepalanya ke tembok?.” 
Amar menghela napas berat menatapi lima gelas minuman.
     “Aku suka teh hangat.”
Ia menyesap minuman hangat tersebut dan kemudian menyemburkan tehnya. Tawar..
Ting!
     Pesan masuk ke ponselnya, dari Sabina langsung muncul di layar ponselnya [Karena aku tidak tahu kamu suka yang manis atau tawar jadi tidak aku tambahkan gula pada semuanya.]
     “Aku suka yang manis,” Amar bicara pada ponselnya seolah Sabina bisa dengar. Belum sempat Amar jawab, pesan lainnya masuk.
[Gulanya habis]
    “Sabar…” gumam Amar. Lantas ia membalas pesan Sabina [Terima kasih sarapannya... ; ))]
     Amar memutuskan untuk makan sekarang, namun ada yang sedikit mengusiknya. 
     “Siapa yang akan menghabiskan semua masakan ini? 1:0 Sab.. aku kalah.”
                             ***

       Seorang kurir membawakan sekantong kresek makanan orderan. Rekan-rekannya senang saja diberi banyak makanannya. Yang membuat alis Sabina bertautan sekarang adalah tanda terima yang harus ia tanda tangani. Pria berhelm dan jaket hijau tersebut dengan sopan dan ramah mengatakan bahwa ia mengantarkan pesanan atas nama Sabina dan alamatnya sesuai.
     “Aku tidak order Mas!?”
Sabina lalu diberitahu layar ponsel si kurir. Atas namanya dan alamatnya memang di lantai 3 kantornya. Dalam hati Sabina menyumpahi Amar, pasti ini perbuatannya Amar. Baru sehari Sabina mengalah menyiapkan sarapan, balasannya sudah seperti ini. 
      “Ini alamatnya benar kan Mbak?”
Dengan sangat amat terpaksa Sabina menanda tangani bukti terimanya. Sang kurir pamit pergi, Sabina langsung dikerumuni banyak orang. Selera makannya benar-benar menghilang. Ia tak mau bedebat dengan kurir atau mengundang perhatian banyak orang.
      “Aku yang traktir! Sebagai perayaan kembalinya Sabina ke kantor. Maaf tidak bisa ikut makan karena lagi diet, silakan dinikmati.” 
      “Yeaay! Sering-sering begini ya Sab!”
      “Serbuu..!”
Sabina lalu meninggalkan mereka menuju mejanya. Ia kembali menulis e-mail untuk salah satu penulis yang bekerja sama dengannya. Dia ingin beberapa bab diubah sedikit untuk memenuhi permintaan pasar dan agar tak banyak dikritik karena kata-katanya terlalu kasar/memihak suatu komunitas.
Ponsel Sabina di meja bergetar, layarnya menampilkan pesan pemberitahuan transfer dari Amar dengan nominal yang tidak sedikit. 
Kepala Sabina makin berdenyut-denyut, ia pegangi pelipisnya dan menutup matanya sebal. 
     “Mau bertingkah seperti suami sungguhan hah?!” Katanya geram pelan.
Sabina daripada menghubungi Amar untuk protes atas orderan makanan dan transferan uang, ia mengirimkan kembali uang Amar. Lalu kembali ke komputernya.
ponsel Sabina bergetar lagi, kali ini Amar meneleponnya. Sabina membiarkannya, ia baru mengangkat di panggilan ketiga dengan malas.
     “Makan siangnya sudah sampai? Kenapa kamu kirim balik uangnya? Itu untuk kamu, mulai terbiasalah Sab..”
     “Aku tidak butuh uang kamu ya. Hentikan semua ini. Jangan bertingkah seperti kekasih ku, menjijikkan..”
     “Kamu memang kekasih ku Sab..”
     “Aku saja masih berusaha membuat diriku nyaman tinggal di rumahmu.”
     “Rumah kita. Kata Attar mobilmu ada di bengkel kan? Pulangnya aku jemput.”
     “Tidak usah, aku naik taksi.”
     “Aku jemput..”
     “Aku bayar ongkosnya.”
     “Mobilku tidak ada argonya sayang..”
Nyaris tersedak dipanggil sayang seperti ini lagi. Entah kenapa kalau keluar dari Amar artiannya jadi sangat berbeda. 
     “Baik Pak supir, jangan telat jemputnya kalau tidak mau aku tinggal pergi.” Karena Amar tidak akan mengalah maka Sabina ikuti saja permainannya.
     “Siap Nyonya!”
Sabina langsung mematikan panggilannya. Amar di lift sendirian menahan tawanya, puas menggoda Sabina.
Ini baru permulaan, permulaan yang baik, semangat Amar!. Gumamnya dalam hati. Menurutnya Sabina lucu sekali, entah dulu maupun sekarang. Poin sekarang 1:1 sama, ia balas atas masakan Sabina yang kelewatan banyak tadi pagi. Akhirnya Amar bagi-bagikan pada petugas keamanan di lingkungan tempat tinggal mereka.

tbc – – –

     

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s