Inspired cerita ini adalah bunga ini, tapi saya pilih yang magenta alias pink pink keunguan.

  Amar sudah berhari-hari terjaga menunggu kabar dari Kevin yang menurut chattingan mereka kini Kevin berada di Roma, di dalam kamar hotelnya Amar berdiri di dekat jendela mengamati pemandangan malam dengan bintang gemintang. Kevin sudah menemukan siapa Sebastien, ia adalah pengelola bisnis traveling di Hongkong. Kemungkinan besar Sabina ikut ke Hongkong karena terdapat jadwal pelayaran beberapa VIP dari Singapura ke Hongkong beberapa hari lalu. 

Maka dari itu Amar bergegas menuju Hongkong perjalanan via udara. Sesampainya di Hongkong ia menemui Sebastien di kantornya. Sebuah gedung di kawasan kota.

       Sesampainya di Hongkong Amar langsung menuju alamat kantornya Sebastien dengan taksi. Sebastien di ruangannya lantai 6, tercengang mendengar nama Amar disebut oleh resepsionisnya melalui telepon beberapa menit lalu. Ia lalu mempersilakan Amar masuk ke ruangannya. Dalam hati ia terlonjak sesaat melihat sosok Amar memasuki ruangannya,  duduk tenang di depannya, tiba-tiba dalam benaknya mengamini candaannya dengan Sabina sebelumnya; Barangkali Amar adalah jodohnya yang salah melepas sauh, berlayar menuju Sabina. Tapi ia juga merasa jahat jika berpikiran Amar salah memilih Sabina dan percuma mengejarnya. Pria ini sudah amat menambatkan hatinya pada Sabina dan akan mencarinya ke mana saja perempuan itu pergi. Harapan konyol Seb nampaknya akan pupus hari ini juga. Sebastien tersenyum ramah khas menyambut rekanan bisnisnya, tak menyangka jadi ini yang namanya Amar?
Mereka berkenalan dan Amar langsung bertanya di mana Sabina. Sebastien panjang lebar menjelaskan bahwa ia juga tidak mengetahui tujuannya Sabina ke mana. Tapi ia ingat memberikan Sabina ponsel sekali pakai.. jadi mereka kehilangan jejak Sabina sama sekali. 

      “Kenapa kamu membiarkannya pergi sendirian? Ini Hongkong, luas sekali.” Amar sedikit cemas.
      “Sabina wanita dewasa dan layak menjalani setiap keputusannya tanpa campur tangan orang lain, ia berhak pergi ke mana saja yang dia mau. Aku dibesarkan untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Dan kamu tidak usah merisaukan apapun, Sabina pernah melancong seperti backpaker ke berbagai negara sehingga bisa kenal aku di Taipei. Maaf jika kedatangan kamu kemari tak banyak mendapatkan hasil Amar..”
       “Kalian sudah berteman lama. Kira-kira negara/kota mana yang dia suka kunjungi?”
Wanita sipit bermata biru itu tampak berpikir mendengar pertanyaan Amar. Ia membenarkan letak kacamatanya.
      “Dia tidak pernah mengatakan spesifik di mana. Suatu kaki bukit yang ada bunga lilacnya, dia selalu ingin ke sana tiap yang warnanya magenta mau mekar.. setahu ku perkebunan milik Kahfi teman kami yang sering ia kunjungi. Ini hanya asumsiku saja, belum tentu dia mau ke sana. Kamu tahulah Amar, Sabina itu seenaknya sendiri.”
     “Kahfi? Di mana?” Gumam Amar setengah tidak percaya.
    “Nah.. masalahnya Kahfi ini benci denganku. Hubungan kami tidak baik. Jadi dia tidak menjelaskan di mana dia tinggal. Cuma Sabina yang tahu”

Amar menghela napasnya berat. Sebastien sedikit kasihan melihatnya tapi ia juga tidak tahu tujuan Sabina.
    Ponsel Amar bergetar, panggilan dari Tama. Firasat Amar tidak enak. Sebastien mempersilakan Amar mengangkat panggilannya.
     “Wa’alaikumsallam, ada apa Tam? Ibu’ kena serangan jantung? Vertigo-nya kumat dan gulanya juga naik? Baik, aku akan pulang..”
Sebastien tidak hendak bertanya, sepertinya di keluarga Amar sedang ada masalah. Amar undur diri, dia akan kembali ke Indonesia. 
Tama mengatakan ibu mereka terkena serangan jantung dan dirawat di UGD. 

                                   ***
     Amar bergegas menuju ke Rumah Sakit tempat ibunya dirawat. Disaat seperti ini ibunya pasti membutuhkan dukungan moriil oleh keluarga. Sementara waktu Amar akan memperpanjang masa cutinya selama dua hari, selama ini Amar tak pernah mengambil cuti tahunannya. Kebetulan atasannya tidak merasa keberatan, kerja Amar bagus dan sisanya bisa diserahkan ke anggota tim yang lain.
Ia akan mengesampingkan dulu pencariannya Sabina. Meski begitu ia takkan putus mendo’akan Sabina semoga segera pulih ingatannya serta pulang.
     Ibunya belum siuman, keadaannya juga masih belum stabil. Amar, Tomo dan Tama mengintip dari luar. Ibunya yang tampak rapuh, gurat-gurat keriputnya terlihat semakin jelas jika sedang sakit. Matanya terpejam dengan belalai alat bantu napas serta monitor ritme jantung di sebelahnya. Namun garis senyum ibunya Amar masih terlihat, selalu mendamaikan. Amar memandanginya dengan mata berkaca-kaca, jika seperti ini saja seakan dunianya runtuh. Maka tak kuasa ia bayangkan rasanya jadi Sabina ketika berusia 6 tahun harus menyaksikan kedua orangtuanya meninggal dipenggal perampok dengan pisau daging.
Amar tahu ceritanya dari Faizal ketika sebulan pertama Sabina koma, Faizal saat itu baru dua tahun dan tak mengerti rasanya ditinggal. Faizal hari itu dibawa nenek dan kakeknya menginap di rumah mereka, Sabina dan kedua orangtuanya berada di rumah. Para perampok datang dini hari, keduanya dipukul dengan vas bunga ketika sedang tertidur di kamar mereka. Ketika sadar mereka mencoba melawan, Sabina kecil disuruh bersembunyi ayahnya di bawah meja dengan taplak menjuntai ke bawah.
Ketika ibu hendak menghubungi polisi dengan telepon kabel, salah seorang perampok menebas badannya hingga berangsur roboh. Ayah mencoba menghentikanya, ia juga dipukul hingga jatuh. Tak puas mendapatkan harta curian, mereka juga menghabisi kedua orangtua Sabina dan memutilasinya. Sabina kecil melihat mata ibunya yang memerah dan sedikit menggeleng agar Sabina jangan menangis atau berteriak keluar dari bawah meja. Sabina kecil menangis tertahan dengan mulut ditutupi menuruti permintaan terakhir keduanya. Darah kedua orangtuanya menggenang menganak sungai sampai ke bawah kaki Sabina kecil.
Pagi harinya barulah Sabina menghubungi petugas yang berwajib. Ia dijadikan saksi tunggal, Sabina ingat detailnya dan mengatakan semuanya ke penyidik namun  setelah itu dan bahkan saat pemakaman orangtuanya ia menutup diri dari dunia, Sabina kesulitan untuk mempercayai siapapun, ia ketakutan. Sabina selama dua tahun tidak mau berbicara, ia juga mendapatkan pendampingan khusus dari psikiater.
      Faizal tahu ceritanya dari Om dan Tantenya yang sekarang ia panggil Mamah dan Papah, Faizal sama sekali tidak bisa membayangkan jadi kakaknya saat itu. Setelahnya mereka berdua diadopsi oleh kakak dari ayah Sabina yang merupakan keluarga dokter. Makki kebetulan saat itu 12 tahun dan ingin memiliki adik, sayangnya ibunya baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim akibat kanker. Faizal dan Sabina mereka rawat selayaknya anak sendiri. Faizal tumbuh menjadi anak yang ceria sementara kakaknya sebaliknya. Dua tahun tak mau bicara dan mengalami goncangan batin seberat itu, Sabina tentu tak bisa dimasukkan ke sekolah reguler umum biasanya.
Akhirnya dengan bantuan Tante Ellen ia diikutkan home schooling yang standar pendidikannya Autralia. Serta melanjutkan sarjana dan masternya di Jerman.
      Amar senang sekaligus terpukul mengetahui fakta ini enam bulan lalu, pertanyaannya seolah baru terjawab sekarang.. jadi karena itulah mengapa 11 tahun yang lalu ketika Amar heran melihat Sabina sering di kafe kukis dan kue, Ellen’s Caffe di jam-jam sekolah. Saat tahun pertama melihatnya Amar belum jatuh cinta padanya, lama-lama karena sering memperhatikannya dia jadi menyukainya.
     Apa yang Amar rasakan saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Sabina. Amar tahu ia tak akan pernah mengerti luka semacam itu, namun Amar ingin sekali menjaga Sabina seumur hidupnya. Amar tak suka melihat Sabina terluka, bahagianya Sabina adalah bahagianya Amar. Jika Sabina sakit maka amar berlipat lebih sakit.
     “Mas, sebelum kena serangan jantung ibu’ mau bicara penting.” Kata Tomo memecah lamunannya. Amar menatap Tomo bertanya apa itu?
     “Sebelum ini ibu’ kenapa? Salah makan atau melakukan aktifitas fisik yang berat?.” Tanya Amar selidik.
     “Ibu’ cuma melakukan kegiatan seperti biasanya Mas. Mungkin beliau ikut kepikiran mengenai Mba’ Sabina, beliau pasti merasakan apa yang Mas rasakan.”
      “Beliau juga mengigau beberapa waktu lalu sebelum Mas Amar sampai di sini.” Timpal Tama.
     “Apa Tom?”
     “Tidak begitu ingat Mas, nyebut nama Sabina Sabina terus. Ibu’ sudah terlanjur sayang dengan Mba’ Sabina,”
      
      Setelah beberapa jam kemudian dokter mengabarkan mereka boleh menjenguknya namun satu satu. Ayah langsung menyuruh Amar saja yang menemuinya terlebih dahulu. Amar mengenakan baju khusus dan masker, ia mendatangi ibunya, berusaha tampak ceria dan tenang. Menarik sedikit ke bawah maskernya.
Tangan ibunya melambai lemah menyuruhnya mendekat. Beliau tersenyum cerah, senyumannya selalu membuat Amar mendapatkan pasokan energi disaat-saat sulit hidupnya. Amar duduk di kursi samping kanannya. Memegangi tangannya dan menciuminya takzim, bersyukur pada-Nya ibunya sudah sadar.
     “Bagaimana dengan Sabina Nak?”
Amar hanya menggeleng lemah. 
    “Minta do’anya ya Bu’..”
    “Nak, kamu jangan terburu-buru. Ibu’ yakin Sabina segera pulih ingatannya. Anak itu manis serta baik sekali hatinya, ibu’ bisa lihat dari caranya bicara dan ketenangannya menghadapi ibu’ meski tahu ia sedikit terpaksa.”
Amar tersenyum mengingatnya. Ia mengangguk pelan setuju.
      “Ibu’ juga yakin hati terdalamnya masih ingat kamu. Kamu yang sabar ya Nak.. jangan pernah kamu lepaskan dia. Kamu cocok dengan dia, Ibu’ ridho sekali Sabina menjadi istrimu. Dia butuh waktu untuk sendiri, jangan dipaksa.. “
     “Aku sudah sabar menghadapinya Bu’. Aku masih berusaha mencarinya,”
    “Amar… dia itu lembut sekali orangnya, perasaannya halus. Ibu’ juga bisa lihat itu, Ibu’ yakin itu karena dia pernah mengalami luka yang besar.. soal kedua orangtuanya yang meninggal dibunuh perampok, tentu dia tidak mudah didekati.”
Tangan ibunya beralih mengusap anak rambut di dahi Amar. 
    “Kamu yang kuat… nanti kalau dia sudah sadar, semua perjuanganmu ini akan terbayarkan. Dunia ini tidak akan pernah bisa sebanding dengan kasih sayangnya padamu. Yang sabar ya Amar anakku.. Ibu’ akan tenang sekali di alam sana kalau kamu bersama dia.”
Mata Amar berkaca-kaca memeluk ibunya.
    “Astagfirullah Ibu’, jangan membuatku takut. Insha Allah kita semua akan tetap bersama sampai suasananya kondusif. Ibu’ harus sembuh dan piknik dengan Ayah, Tomo dan Tama nanti. Ibu’ mau ke mana? Swiss? Jerman? Atau mau umroh lagi? Tinggal bilang Amar Bu’.. jangan tinggalin Amar dulu.”
     “Aamiin.. istiqomah nak, memang susah.. seperti menyiangi rumput dari tanaman yang kita rawat. Sabar..” seru ibunya dengan senyum mengembang sambil mengusap-usap kepala anaknya. Anak sulungnya ini meski dari luar kelihatan tangguh sekali tapi jika sudah dengan ibunya bisa manja juga. Ibunya berpikir, tinggal tunggu waktunya saja sifat manjanya akan beralih ke istrinya nanti. Sabina…

                                       ***

     Menuruti saran ibunya ia kembali bekerja lagi. Sudah dua minggu dan ibunya sudah keluar dari rumah sakit.
Anggap saja Sabina sedang dinas lama. Berusaha keras ia berpikiran positif pada istri di atas kertasnya itu. 
    Jam makan siang telah lama usai beberapa menit lalu, namun kebetulan Amar sedang tidak ada pekerjaan mendesak, kedua temannya juga sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dan baru bisa beristirahat sekarang. Ia duduk semeja dengan dua orang teman karibnya di kantor. Keanu Manajer bagian keuangan yang berkaca mata dan sopan orangnya, Gihon junior yang dibawahi Amar timnya yang suka memakai pomade sampai rambutnya klimis. Keduanya asyik membicarakan pertarungan tinju semalam yang mereka saksikan. Keduanya memasang taruhan untuk dua orang yang sama, Amar menatapi makanannya dan sesekali menanggapi celotehan mereka. Amar tak hendak menjelaskan taruhan itu dosa, bukan urusannya juga. Toh justru dianggap sok suci jika ia mulai menasehati mereka berdua. 
      “Kalian hari gini masih ngomongin tinju?! Ah! Gak asyik!. Lihat nih.. gua baru liburan dari Malibu, terus keliling uni eropa.”
Endri datang memecah kebahagiaan Keanu dan Gihon. Endri adalah CEO berkat nepotisme, ayahnya pemilik perusahaan ini. Kerjanya hanya berangkat kerja. Para karyawan menyebutnya seperti itu, karena memang tak banyak yang ia lakukan. Namun Endri sombong serta suka pamer ini itu pada Amar. Dipikirnya Amar akan iri, tapi tidak pernah sama sekali.
    “Mana mana coba?!” Tanya Gihon merebut ponselnya. Gihon dan Keanu langsung melihat-lihat foto liburan si bos yang kerjanya cuma berangkat kerja ini.
Amar tak begitu tertarik menanggapinya, ia masih mengeker-eker makanannya. Endri yang duduk di kanannya mulai jahil, semenjak Amar ambil cuti selama seminggu lalu otomatis membuat ia penasaran sekali apa yang Amar lakukan. Sepengetahuannya Amar tidak pernah bolos, meski HRD senior diberi kelonggaran berangkat lebih siang dari karyawan.. Amar pun tetap berangkat pagi dan mengecek tim lapangan. Bahkan kadang kadang Amar melakukan pekerjaan yang bukan seharusnya ia tangani tanpa diminta, hari libur pun kadang dia bekerja.. Endri heran sekali Amar itu sebenarnya manusia atau bukan? Kenapa suka sekali bekerja?. Jika Amar cuti tentu ada hal mendesak terjadi. Apakah itu? Si gila kerja tiba-tiba mengambil cuti. Aneh bagi Endri.
     “Elu cuti ke mana aja Mar? Baru sadar tuh tubuhmu butuh istirahat?. Gua kira elu malah sakit kalau gak bisa kerja. Bukannya enggak kerja karena sakit…Tapi elu sakit gara-gara kangen kerja. Ha ha ha!” Pancing Endri dengan menyebalkan. Keanu dan Gihon membenarkan.
    “Iya, ke mana Mas? Mas ini tipikal yang bisa meriang kalau tidak berangkat kerja.” Tanya Gihon penasaran. Amar hanya tersenyum tipis, tidak tahu saja mereka kalau pikirannya kosong sedikit maka ia akan ingat Sabina dan menjadi tidak waras. Bukan berarti ia suka sekali menyiksa diri, hanya saja ia membutuhkan ini agar akal sehatnya tetap berjalan.
    “Ibu kena serangan jantung. Minta ditemani, makanya aku cuti.”
Jawab Amar singkat tanpa mau menjelaskan sebenarnya ia mencari istrinya yang minggat. Tak banyak yang mengetahui bahwa ia sudah memiliki istri, lagipula yang memegang data-data pegawai dan karyawan adalah dirinya. Jika ada perubahan tentu akan dia rubah sendiri, terkecuali perubahan tentang berbagai premi asuransi serta tunjangan ini itu tetek bengek pajak akan berubah, itu pun ia isi via sistem komputer yang terhubung ke divisi keuangan. Yang menguntungkannya lagi bagian keuangan di perusahaan yang mengurusi gaji kebanyakan diisi oleh orang-orang sejenis, kaku, tak suka bergosip atau beragam kegiatan culas lainnya. Jadi kebanyakan orang disini masih mengira ia single. Keanu tak begitu tahu karena ia tidak mengurusi gaji karyawan. Ia dibagian lain.
Ting!
Pesan masuk ke ponsel Amar. Langsung muncul di layar ponselnya, jika itu gambar pun langsung terunduh. Endri membelalakkan matanya, ia ambil ponsel Amar. Endri amati dengan saksama, perempuan? Siapa?
Amar tak begitu memusingkannya, ia menunggu Endri meletakkan ponselnya. Palingan itu WA dari Pak Umar yang suka mengiriminya selfie selepas mengantarkan peti kemas ke pelabuhan. Biasanya di jam jam ini Pak Umar kumat jahilnya.
     “Ini siapanya lu Mar? Mirip boneka, mukanya lucu enggak bosenin.” Tunjuk Endri ke ponsel Amar.
Amar menoleh dengan malas-malasan. Betapa terkejutnya dia karena itu screen-shoot instagram Sabina dari Makki, istrinya berselfie dengan latar bandara Changi plus tiket pesawatnya, caption [ Aku pulang… ]. Jika dilihat dari jam postingnya dan jadwal penerbangan maskapai pesawat tersebut, maka Sabina akan tiba kurang lebih setengah jam lagi kalau tidak delay. 
Keanu dan Gihon berebut melihatnya. 
     “Lucu, Mas Amar diam-diam punya yang secantik ini.” Goda Gihon. 
     “Ciee…” Keanu ikut-ikutan memuji. Amar bergegas, ia ambil ponselnya dan menepuk pundak Gihon.
    “Gihon, aku titip anak-anak dulu. Aku pulang lebih awal, ada yang harus aku lakukan. Kamu boleh kasih aku SP 1 atau 5 terserah..”
     “Tapi ada apa Mas? Mana mungkin aku kasih sampai SP 5? Mas Amar kan yang ngajarin aku kerja!?” Gihon kebingungan.
Amar sudah beranjak pergi. Ia selalu mengunci ruangannya jika sudah keluar, tak akan ada yang perlu dikhawatirkan. Jika ada yang harus diambil di ruangannya maka Gihon sudah lama ia beri kunci cadangan, ia mempercayai anak polos itu.
     Senyum Amar mengembang, meski langit sedikit mendung dan gerimis tipis menjalari seluruh kota, Amar tak keberatan menyetir menembusnya menjemput Sabina. Jika perhitungannya tepat, Amar akan langsung bertemu Sabina sepuluh menit di pencarian awalnya nanti.
                                ***
     
       Di sinilah ia kini telah menemukan separuh hidupnya. Amar mengambil jarak cukup jauh dari Sabina. Setelah beberapa hari berdo’a yang terbaik atas apapun yang terjadi nanti.

Sabina berdiri tegang menatap lurus mata Amar dengan kekhawatiran, tadi dari kejauhan ia dengar seseorang memanggil-manggilnya namun Sabina tak begitu jelas mendengar bahwa itu Amar. Bagaimana bisa Amar datang secepat ini? Padahal ia yakin diluar sana macet dan hujan.
     “Sudah aku duga kamu memang sengaja..” Kata Amar menaiki anak tangga, selangkah lagi dan sekarang hanya terpisahkan satu anak tangga eskalator yang bergerak naik. Sabina baru selangkah ketika Amar mendekatinya tadi, ia berdiri berbalik menghadap Amar.
     “Aku kemari bukan berniat memaksa kamu pulang. Tapi asal kamu tahu, seseorang bisa kehilangan semangat hidupnya gara-gara kamu bertingkah kekanakan seperti ini. Kamu salah mengerti padaku terus menerus.”

Sabina memutar matanya kesal disebut kekanakan. Menurut Amar dia kekanakan? Bagi Sabina Amar itu impulsif, seperti mesin yang menderu keras sekali siap tancap gas kapan saja dan membuat Sabina ingin kabur dengan kecepatan penuh tiap melihat kilatan cinta dimatanya. Jika ini yang Sabina dulu inginkan, justru membuat Sabina yang sekarang tidak nyaman.
     “Teruskan..”
Sabina berkacak pinggang, menaikkan sebelah alisnya dan jelas sekali sudah naik darah. Amar sungguh tidak mau seperti ini, tapi dia harus apa lagi?. 
     “Aku capek petak umpet terus dengan kamu. Beri aku kesempatan walau cuma 0,1%. Pulanglah demi aku, atau setidaknya demi Sabina yang pernah menganggap Amar istimewa. Jangan munafik membohongi perasaan kamu sendiri Sab…”
Sabina menyeringai sebal mendengar Amar menyebutnya munafik. Baru sekali ini ada orang berani mengatainya seperti itu, kalau ingin ia bisa mencekik leher Amar sekarang juga.
    “Aku akan pulang.., ada syaratnya.. Jangan berharap atau meminta apapun dariku.”
    “Pulang ke mana? Rumahmu atau rumah kita?”
Belum lama ini Amar sudah menghuninya sendirian. Ia harap Sabina mau tinggal dengannya.
     “Rumah kamu. Ke mana lagi? Kak Makki akan mengusirku mentah-mentah jika aku berani menginjakkan kaki di sana.” 
    “Rumah kita…”
Seulas senyuman terbit di wajah Amar. Mereka sampai di lantai atasnya, tadi Amar mengira Sabina akan jatuh terjengkang ke belakang. Anehnya seperti bisa memprediksi kapan eskalator berhenti ia pun langsung berbalik. Amar membawakan kopernya dan mereka pulang ke rumah yang Amar beli. 
    Dalam perjalanan pulang Sabina lebih banyak diamnya, ia memperhatikan kendaraan lain di kirinya. Amar sesekali mencoba mengajaknya bicara tapi tanggapannya sepatah dua patah kata saja.

      Sabina melihat rumah yang dituju mobil Amar, pasti laki-laki ini berbohong soal membeli rumah, atau sedang merendah soal penghasilannya. Jelas-jelas ini bangunan baru, tidak mungkin KPR. Sabina cukup melek berapa biaya untuk masalah bangunan seperti ini. Bukan berarti ia mata duitan, perasaannya tidak membutuhkan uang serta ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Sabina melirik sekilas Amar yang sedang berkonsentrasi berbelok dengan jalanan yang licin serta menanjak. Amar tidak bohong soal halamannya yang luas, sayangnya ini hanya rerumputan bak permadani hijau. Sabina gatal ingin mengisinya dengan tanaman hias agar tak menjadi lapangan futsal di sekitar sini. Mereka sampai di garasi, lalu masuk ke dalam.
       Sesampainya di dalam Sabina merentangkan kedua tangannya bingung. Amar disampingnya masih tenang, menunggu komentar Sabina. Sejauh mata memandang tempat ini masih kosong, tidak ada ornamen, foto, vas bunga atau dinding yang dicat warna-warna yang sesuai kepribadian pemiliknya. Hanya ada meja dan kursi tamu. Ini masih polos sama sekali, apa Amar tidak mengerti nilai estetika rumah?
     “Mas Amar..,” Terdengar nyaris seperti bisikan. 
      “Apa kamu menyebut ini rumah?” 
Tanya Sabina spekulatif. Amar hanya tersenyum tipis menanggapinya. Rumah ini memang baru selesai beberapa waktu lalu pengerjaannya. Amar mengendikkan bahu ringan.
    “Ini masih bangunan kosong. Baru benar bisa disebut rumah jika kamu ada didalamnya dan mengisi semuanya. Sisanya terserah kamu mau apakan interiornya Sab.. “
Lumayan mengkal Sabina mendengar balasannya Amar. Apa-apaan maksudnya orang satu ini? Belum pernah digebuk sapu lidi?. Sejak tadi Sabina sudah memikirkan berbagai macam bentuk KDRT agar Amar menyerah dan menceraikannya.
     “Kamarku di mana? Tidak mungkin kan kita sekamar?.”
     “Kecuali kalau kamu ingin kita sekamar.. aku akan mengabulkannya dengan senang hati. Ini rumah kita” Celetuk Amar.
     “Ini rumahmu, aku cuma menumpang. Anggap saja aku ini sedang mengontrak. Aku harus bayar berapa tiap bulan?”
     “Gratis untuk kamu..”
Sabina menginjak kakinya Amar kesal. Amar hanya tertawa lalu mengajaknya ke lantai dua.
Amar menunjukkannya. Keduanya menapaki anak tangga. Di lantai atas terdapat dua kamar yang bersebelahan masing-masing memiliki balkon. Kamar mandi ada di ujung sana dan di bawah.
     Kulkas dan dapur di lantai pertama di bagian agak menjorok di kiri, ada halaman belakang yang juga sama luasnya dengan yang di depan atau bahkan lebih. Dibatasi dinding tembok, kolam renang, jika di luar kosong maka di sini banyak sekali tumbuhan yang indah membuat sejuk mata, terdapat ayunan serta jalan setapak yabg dibuat sedemikian rupa, kalau Sabina tidak jeli ia nyaris tidak melihat kolam ikan koi di ujung dan gemercik air terjun mini. 
Dapur di rumah ini terdapat semacam mini barnya. Amar mulai melakukan touring singkat dengan Sabina, menjelaskan setiap sudutnya.
     “Kalau kamu memasak di situ aku akan duduk di sini menonton dengan sabar walau perut kelaparan.”
Sabina matanya melebar ceria mengeceki kompor gas dan laci-laci dapur.
    “Kuharap khayalanmu itu tidak pernah terjadi.” 
Jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari mainan barunya. Amar sendiri tak masalah jika tiap kata-katanya dijawab agak tidak enak didengar telinga oleh Sabina. Mendengar suaranya saja ia senang sekali. Setidaknya Sabina mau mengobrol dengannya.
    “Sebelum ke Singapura kamu ke mana?”
    “Sebuah tempat yang jual emas di pinggir jalan seperti buah-buahan.”
Amar tampak berpikir. Tak begitu ingat di mana itu.
    “Sab.. boleh aku tahu kenapa kamu menghindari ku? Kamu tidak perlu ada acara kabur seperti ini, semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Kalau kamu tidak mau tinggal denganku aku bisa terima, kamu lupa siapa aku pun aku juga bisa bersabar menunggu. Kamu tidak suka denganku pun aku juga bisa mengerti. Tapi.. ada tapinya, kamu minta cerai Sab.. tidak masuk akal sekali bagiku. Kita itu saling cinta dan sayang sebelum kamu konslet seperti ini.”
Sabina memelototi Amar. Amar sendiri mengangkat alisnya dengan geli, puas sekali menggodanya.
    “Aku belum siap merasakan apa yang Sabina dulu rasakan. Rasa sakitnya.., “
   “Maaf, maaf kalau kamu menderita.. aku sama sekali tidak bermaksud membuat kamu sedih. Yang kamu perlu lakukan cukup bilang ke aku Sab… apa yang kamu mau. Jika aku bisa pasti akan aku usahakan.”
    “Mas Amar, sejujurnya aku tidak tahu pasti apa yang hatiku inginkan,”
   “Baik, intinya kamu masih belum bisa buka hati ke aku.”
yang jelas Amar bisa menerka kepulangannya Sabina pasti ada maksudnya. Menguji kesabarannya agar keluar talak dari Amar bukan? Amar sudah tahu jalan pikiran istrinya yang licik dan cerdik ini..
   “Rumah ini tidak ada serangga rayap atau semacamnya ‘kan?”
Sabina malas membicarakan perasaannya. Jika ini dilanjutkan berarti ia sudah mengaku kalah dari Amar, tidak akan. Ada baiknya membicarakan rumah saja. 
    “Dengar-dengar kamarmu itu tikus dan kecoaknya banyak dan susah diusir.”
Sabina langsung kaku menghadap Amar dengan muka pucat dan mata bulat sempurna.
     “Bohong ‘kan? Biar aku tidur sekamar denganmu? Aku akan menginap di luar kalau kamu seperti ini.”
Amar mati-matian menahan tawanya dalam hati. Dengan memasang muka serius dan sok acuh tak acuh. Ia mengendikkan bahu serius.
    “Kan aku cuma dengar-dengar kabar angin tetangga sekitar, aku jarang di rumah. Belum tentu kebenarannya.”
Sabina meraih ponselnya dari saku untuk menghubungi Faizal.
     “Faizal, temenin aku di rumahnya Amar Dek.. atau jemput aku sekarang juga.”
     “Rumah kita..” koreksi Amar.
Sabina hanya memelototinya.
     “Apa? Ya gak bisa dong! Kamu ini adek macam apa sih?!”
     “Faizal kenapa?” Tanya Amar pura-pura tertarik. Tentu saja Faizal akan mendukung Amar.
     “Dia minta uang permenit sejuta sebagai kompensasi waktunya.”
     “Ha ha ha! Aku cuma bercanda kali Sab.. aku tidak suka maksa-maksa orang. Suatu saat nanti kamu sendiri yang akan ketuk pintu kamarku dan ingin tidur dalam pelukanku.”
     “Mimpi!”
     “Iya. Sementara waktu aku akan mimpi dulu sayang.. Aku tinggal ke atas, buat dirimu senyaman mungkin karena ini rumah kita.. ingat itu.”
Amar berjalan santai meninggalkan Sabina sambil bersiul-siul. Sabina mulai memanaskan air untuk membuat minuman, lama-lama Amar membuatnya makin kesal saja. Ingin sekali ia siramkan air panas ini ke Amar. Dan apa itu tadi? Sayang? Membuat Sabina ingin muntah.

NB:

Trust me, bikin cerbung itu gak lebih sulit dari bikin recap/sinopsis, bisa post tiap hari kalau saya mau dengan waktu terjadwal. Saya tinggal meluangkan waktu sebentar.. sekaligus healing stresku, ini adalah pertama kalinya saya nulis pakai aksen aku – kamu. Sebelumnya saya pribadi lebih suka kau dan aku atau elo gw jika membuat suatu story, tapi yang satu ini minta dibeda’in. Lebih realita.. saya beneran bisa melihat mereka.. ini lucu,

Sabina sudah ada duluan ketimbang Amar. Nama Amar baru muncul dibenak setelah Sabina tuntas, saya udah kepikiran tokoh prianya akan seperti apa karakternya.. tapi nama belakangan baru muncul. Sempat bingung mau dikasih nama siapa ini? Yang terkesan kalem tapi tidak lemah murahan dan menyejukkan.. he’s cool but not cold, keren tapi enggak dingin orangnya.. siapa ya? Setelah berbagai pertimbangan, terpilihlah Amar.. tapi Rofi hanya ngebanyol sewaktu menyebut nama Amar jadi Amarullah.. enggak, nama panjangnya Amar bukan itu..

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s