Magenta Lilac – Part 3

     “Gila kamu Sab, bahkan ini belum jam 3 pagi. Sekarang kita di atas pesawat? Aku tadinya mau berangkat pagi atau siang! Kamu belum pulih betul!” 

Sejak setengah jam lalu di dalam kabin Attar menggerutu, juga mengeluh kedinginan. Rambutnya yang keriting serta sedikit panjang sekarang tak begitu berbentuk berkat berkali-kali ia memberantakkannya sendiri akibat adu mulut dengan Sabina. Ia bolak balik meminta pramugari membawakannya wedang jahe dan kue hangat. Tengah malam seperti ini, dipaksa terbang sedini hari ini, dan berdebat dengan rekan kerjanya yang paling gila ini? Ini benar-benar menguras emosi serta tenaga.
Sabina sendiri justru asyik bercermin membenarkan kerudung warna salem miliknya, susah sekali diatur karena ia sudah lama tidak berkerudung sendiri, saat bertemu dengan kawan-kawan serta pengunjung lainnya di RS ia memakai kerudung langsung pakai tapi semuanya sedang dilaundry Makki. Selama ini ia hanya berhijab jika keluar rumah dan dimuka umum, jika dengan keluarga besarnya ia leluasa menggerai rambutnya. Jadi selama hampir 7 bulan ini adalah pertama kalinya Amar melihatnya tanpa hijab, pantas saja Sabina makin ngeri melihat tatapan Amar yang berbinar penuh cinta. 
Sayangnya di rumah sakit tidak banyak barang-barang miliknya. Terpaksa ia memakai seadanya. Wajahnya masih sedikit pucat, lingkaran hitam di bawah matanya bisa membuat orang salah paham antara selepas semalaman menangis atau kurang istirahat. Meski ia masih butuh banyak istirahat, namun keinginan untuk menghindari Amar jauh lebih kuat.
      “Sssttt! Jangan berisik.. nanti orang-orang pikir aku culik kamu. Mendingan kita tidur lagi,”
      “Yang ada aku yang dikira culik kamu. Ah terserahlah, nanti meetingnya harus lancar disana. Sebagai gantinya kamu harus bantu aku melobi si Mark Mark atau siapalah itu. Bule satu ini pelit banget, huh!” 

Attar memgenakan penutup matanya dan tidur kembali, kesal sekali karena terusik hidupnya oleh Sabina beberapa jam lalu dan jam jam kedepannya. 
      Sebelumnya Sabina memaksa Attar pergi dengannya sepagi ini, ia keluar dari ruangannya membawa paspor dan barang-barang lainnya. Ia tahu Attar hendak ke luar negeri sudah sejak beberapa waktu lalu, setelah mengetahui Attar akan pergi  ke Singapura lalu ke Belanda untuk urusan pekerjaan, Sabina memaksa ikut. Biasanya tiap urusan penting ke luar negeri ia memang selalu mengajak Sabina. Maka dari itulah rumor kedekatan mereka di kantor mulai merebak, dan terendus sebagai hubungan tidak biasa. Semua gosip tersebut sedikit menguntungkan bagi Attar dan Sabina. 

      Hari itu Sabina sudah diperbolehkan pulang, kondisinya sudah mulai membaik meski harus tetap hati-hati dan rutin memeriksakan diri jika ada keluhan. Daripada ia diajak Amar tinggal bersama ia memilih pergi saja. Menurutnya Amar itu terlalu agresif dan tidak memberikannya ruang untuk berpikir. Sabina sudah mempelajari semua kisahnya dengan Amar, baginya aneh sekali namun tak dapat disanggah karena itu benar terjadi. Namun Sabina tidak ingin mengingat Amar terdahulu, seperti apa dan bagaimana Sabina memandang Amar yang menurutnya dulu.. lebih dari sosok yang ia kagumi sebagai lawan jenis maupun manusia, jika hubungan mereka berlanjut dan Sabina mengingatnya.. Sabina yakin cintanya takkan pernah putus pada Amar, sayangnya Sabina belum siap mengingatnya.. kepalanya berdenyut-denyut jika memaksakan diri mengingat Amar. Sabina cukup mengerti kenapa ia tak bisa mengingat segala sesuatu tentang Amar, karena Amar tanpa sadar menyakitinya dan mengguncang dunianya. Tak peduli sebaik apa perangainya. 
Otaknya memblok semua ingatan tentang Amar sebagai akibat perlawanan diri, jika Sabina mau sebenarnya ia cukup  bertemu rutin dengan ahli hipnoterapi yang bisa dipercaya. Sayangnya tidak sekarang, ia ingin sendiri dan memandang hubungannya dengan Amar dengan lebih obyektif dari sisi luar tanpa melibatkan perasaan, itu semua takkan bisa ia lakukan jika ingat perasaan cintanya ke Amar. Ia akan menyelesaikannya, keputusan tetap ditangannya entah ingin meninggalkan Amar atau bertahan. Semua dongeng pernikahan itu hanya akan indah jika ia jatuh cinta, namun ia yang sekarang tidak memiliki perasaan apapun pada Amar selain dendam kesumat.

      Kronologi beberapa waktu lalu Sabina keluar rumah sakit diam-diam dan mengelabuhi banyak petugas, ia memanfaatkan titik titik buta CCTV, Attar dan sopirnya menunggu agak jauh dan membawa mereka ke bandara. Attar menggunakan kartu kreditnya untuk membayar semua keperluan Sabina, Sabina janji akan membayarnya beserta bunganya nanti, meski Attar tak terlalu memusingkan materi.. asal Sabina jangan ganggu hidupnya sudah lebih dari cukup. Sabina tidak mau ketahuan pihak keluarga saat mereka mengecek data transaksi miliknya, ia sejak di rumah sakit juga sudah mematikan ponselnya. 

Kaburnya Sabina ke Singapura tetap akan diketahui Amar, Amar punya jaringan yang sangat luas, hanya soal waktu saja Amar akan mengajaknya pulang. Namun sebelum itu terjadi Sabina sudah banyak berpikir untuk rencana selanjutnya. Sabina merasa harus melakukan ini karena pikirannya sama sekali tidak bisa jernih berkat segala intervensi semuanya. Kak Makki, dan suaminya.. Kang Ikrom, Faizal adiknya tak banyak berkomentar namun dari gelagatnya ia juga berpihak pada Amar, Arip yang selama ini pro padanya entah mengapa juga memihak Amar, kedua orang tuanya pun jangan ditanya lagi.. bahkan menikahkan anaknya ketika koma. Keluarganya Amar juga sama, Amar adalah anak sulung dengan dua adik laki-laki kembar sebaya dengan Faizal, Tama dan Tomo. Mertua Sabina tiap berkunjung ke rumah sakit ramahnya bukan main, terlihat sekali mereka mengharapkan sesuatu dari Sabina. Cucu? Memikirkannya saja membuat Sabina tertawa sampai menangis dan perutnya keram sakit. Siapa itu  Amar sebenarnya sampai membuat seluruh jagat raya mendukungnya? Caranya berbicara dan menatap orang benar-benar sanggup mengendalikan tanpa terkesan arogan, sosok yang niscaya omongannya didengarkan oleh banyak orang, untung saja Amar bukan pemimpin sekte sesat atau ketua partai yang sedang berambisi naik ke kursi presiden. Menurutnya Amar merupakan laki-laki yang misterius namun juga memiliki sisi lembut jika sudah bersama Sabina.
Lantas bagaimana dengan Amar? Laki-laki ini berubah menjadi agresif sehingga membuat Sabina ketakutan. Sabina melirik ke kirinya, Attar didekat jendela sudah damai tampaknya mulai bermimpi. Sabina bersidekap menatap Attar datar, tunggu saja sampai Attar bertemu dengan Amar.. Sabina yakin ia pun akan mendukung Amar melawannya. 

                                  ***

       Pukul 04.38 pagi Amar di apartemen sedang memilah bahan untuk seminar, ia dihubungi Makki tentang hilangnya Sabina. Ikrom menjelaskan bahwa ia sudah mengecek CCTV di ruang keamanan dan tidak terlihat karena Sabina menghindari sorotan kamera.
      Amar bergegas ke Rumah Sakit, ia akan mengeceknya sendiri. 
Sesampainya di rumah sakit Amar dijelaskan duduk perkaranya. Ayah dan ibunya Sabina belum diberitahu karena dikhawatirkan mereka akan syok, sejauh ini yang mengetahui kepergian Sabina hanya Ikrom, Makki, dan Amar. Makki sedikit panik dan Ikrom mencoba menenangkannya.

      “Pasti ketemu. Senekat-nekatnya Sabina pasti dia tidak akan gegabah. Kamu jangan terlalu memforsir diri kamu, anak kita nanti juga terkena imbasnya. Biar aku dan Amar yang cari.”
     “Tapi ke mana dia? Ponselnya saja dimatikan, ini bagaimana Kang?!”
      “Teman-temannya sudah dihubungi?” Tanya Amar.
     “Sena bilang tidak tahu ke mana. Beberapa juga tidak tahu. Amar, kamu harus cari Sabina ya.. kakak minta maaf kamu harus kesulitan seperti ini.”
Amar tampak berpikir. Jejaknya hilang sama sekali, kemungkinan besar Sabina melakukan ini karena tidak terima dengan rencana tinggal bersama yang tempo hari Amar utarakan.     
       Sampai pukul 05.30 mereka masih belum menemukan di mana kemungkinan Sabina pergi.
Ponsel Amar berbunyi. Panggilan dari temannya, Rofi.
       “My brother Amarullah!, tadi aku yang shift dari tengah malam di bea cukai. Sewaktu dari kamar mandi aku lihat Sabina. Kurang jelas sih aku lihatnya dari jauh tadi.. tapi aku lihat pacarmu sama laki-laki di pengecekan barang. Karena aku penasaran makanya aku cek data penerbangan sekarang. Itu beneran pacarmu Mar, Sabina. Mereka ambil penerbangan paling pagi.”
       “Dia ke mana Rof?” Tanya Amar tenang.
       “Singapura.”
       “Thanks Rof. Kapan-kapan kita makan bersama. Aku yang traktir”
       “Sip bos!”

Rofi adalah sahabatnya Amar dan tahu sekali seluk beluk hubungan mereka, Rofi juga mengetahui Sabina sudah Amar nikahi. Dan Rofi suka sengaja mengejek Sabina sebagai pacarnya Amar dan Amar tidak pernah kesal dibegitukan. Ia hanya tertawa geli tiap mendengarnya. Hanya candaan antar kawan.
Amar kemudian mengatakan infonya ke Ikrom dan Makki. Makki berpikir keras, laki-laki? Siapa ya?. Amar terpikirkan satu nama.

       “Apa Kakak tau siapa itu Attar?” Tebak Amar.
       “Attar itu Direkturnya Sabina. Mereka dekat, tapi cuma temenan kog Mar.. jangan curiga’an. Kalau Sabina ngomong macam-macam dan bawa bawa Attar dalam ceritanya itu cuma bohong. Kakak yakin dia akan melakukan apapun agar kamu menyerah Mar.. dia itu memang menyebalkan sekali. Tidak pernah ada yang bisa merubah pikirannya, keras kepala.”
      “Jadi kamu mau menyusul Sabina tidak?” Tanya Ikrom.
      “Kurasa belum saatnya.” Amar akan membiarkannya terlebih dahulu. 
                                     ***

      Sabina dan Attar selesai meeting, mereka keluar dari sebuah gedung dengan berseri-seri. Mark menyetujui menerbitkan beberapa buku dari penulis baru dan akan membantu penerjemahannya menjadi lebih halus tanpa mengurangi makna kepenulisan aslinya. Sabina berhasil membujuknya tadi setelah Mark dan Attar bersitegang selama beberapa menit karena Mark ingin jumlah halamannya dikurangi sedangkan Attar idealis tidak mau merubah apapun. Sabina menawarkan jenis kertasnya saja yang diganti untuk menekan biaya.
Mereka berjalan menyusuri kota, hari ini cerah. Tapi mereka tidak hendak melihat merlion. Sudah membosankan sekali melihat singa ikan tersebut.
      “Kamu tidak mau menghubungi keluarga kamu Sab? Aku benar-benar seperti penculik tahu tidak? Apalagi si Amar akan berpikir yang tidak-tidak.”
  “Justru tujuannya memang itu Attar sayang…”

Sabina menyeringai kemudian melambaikan tangannya pada seseorang yang berjalan mendekati mereka. 
     “Sebastien! Apa kabar?”
Sapa Sabina. Attar mengangkat sebelah alisnya bingung. Baru tadi pagi ia dicap sebagai penculik, sekarang harus siap dituduh tidak bisa menjaga anak orang.
yang dipanggil Sebastien pun memeluk Sabina dan berkenalan dengan Attar. 
      “Well, jadi.. ada apa lagi ini?” Tanya Attar sambil bertopang dagu. Attar menyibak poni rambut keritingnya yang diterpa angin. Jengkel dipermainkan Sabina.
     “Kalau Amar cari aku.. kamu bisa bilang tidak tahu. Karena kamu memang tidak tahu dan karena mulai sekarang aku akan pergi dengan Sebastien. Sampai jumpa!”
       “Sab.. kamu gila. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Sebastien, aku percaya padamu. Kalian hati-hati, aku ada penerbangan lain tiga hari lagi Sab, kamu boleh menyusul kalau berubah pikiran.”
     “Santai saja Attar. Aku lebih lama berteman dengan Sabina daripada kamu”
   “Attar, nanti kalau Amar tanya apa hubungan kita jawab saja baru jadian.”
       “Enak aja! Kalau Arip nanti dengar.. aku jadi korban nyakar-nyakarnya dia dan minta putus Sab!. Tidak bisa! Arip itu satu dari sejuta, langka!”

Sebastien tidak terlalu mengerti mereka membicarakan apa, memangnya ada perempuan namanya Arip. Sabina memutar kedua bola matanya karena Attar tidak bisa diajak kerja sama. 
  “Kamu mau hubungan kalian aku komersilkan di kantor? Biar bawahan kamu hilang hormatnya karena punya Direktur gay?”
Attar menjitak kepala Sabina. Sabina mengusap-usap kepalanya dengan kesal.
       “Dasar nenek sihir!. Soal Amar aku urus apapun caranya, puas? Jangan bawa-bawa Arip.”
       Sabina tersenyum geli mendengarnya. Bosnya yang terkenal digilai banyak pegawai perempuan dan digosipkan dekat dengannya lebih dari teman itu kelemahannya cuma satu.. Arip sepupunya. 
      Semula Sabina tidak tahu menahu tentang pasangan Arip siapa, ia baru mengetahui bahwa Arip gay enam tahun yang lalu, meski tak tahu siapa pasangannya. Lantas semua berubah ketika ada Direktur baru yang dimutasi ke divisinya menggantikan Direktur lamanya yang pensiun, tiga tahun yang lalu. Arip dan Attar selalu mengandalkan Sabina untuk kelangsungan hubungan mereka, terlebih jika keduanya ada masalah. 
Semua orang tidak akan mengira Direktur mereka yang stylist rapi menawan seperti model ini merupakan penyuka sesama jenis.

      Mereka berpisah jalan. Sabina enggan menceritakan ke mana tujuannya selanjutnya. Aku menggelengkan kepala dengan frustasi kenapa Sabina sampai sejauh ini.. kamu menyiksa Amar Sab, aku juga.
                                 ***

       Sebastien dan Sabina pergi ke Hongkong dengan jalur laut. Ini adalah kapal milik Sebastien, sebuah pelayaran wisata. Sebastien adalah keturunan Indo Cina dan Inggris. Mereka kenal karena lima tahun yang lalu sama-sama menjadi pelancong di Taipei dan sering pergi bersama ketika ke luar negeri. 
       “Sabina. Aku tidak akan tanya masalah kamu apa, tapi rileks Sab.. sesama perempuan aku bisa merasa ini bukan masalah seperti biasanya yang kamu sering mencariku dan ingin naik kapal, mencari udara segar.”
Sabina bersandar pada pagar pembatas menatap kapal yang menjauhi pelabuhan.
       “Rumit Seb.. “
Sebastien mengerti, ia tidak bertanya lagi. Memilih menikmati pemandangan lautan lepas dan semilir angin beserta deburan ombak.

                                     ***


        Amar sore itu dua hari setelah kejadian Sabina menghilang, kantor sudah setengah lengang tapi dia masih di ruangannya. Ia sudah mendapatkan nomornya Attar dan masih ragu-ragu mau menghubunginya sejak pagi tadi. Sore ini ia meyakinkan diri untuk menghubunginya. Attar ramah padanya dan mengatakan ia dan Sabina pergi bersama karena Attar butuh bantuan Sabina untuk menemui rekanan. Dia tidak bermaksud menculik Sabina karena ia terdesak dan butuh bantuan Sabina. Ia minta maaf ke Amar karena tidak izin pada Amar, di Singapura mereka sedang sibuk sampai tidak sempat memegang ponsel.
Amar tidak begitu percaya semuanya baik-baik saja. 
       “Bisa aku bicara dengan Sabina sebentar?”
Di kamar hotel Attar memutar kepala. Jika bilang Sabina keluar maka akan jadi aneh, jika bilang Sabina mandi maka Amar akan menunggu, aha! Ketemu!
      “Dia tidur dari tadi pagi. Biasalah… lagi hari pertama datang bulan moodnya jelek dan perutnya sakit melilit, bawa’annya pengen tiduran saja. Aku saja tidak berani bicara dengannya takut dibentak-bentak.. kamu tahulah kalau Sabina ngamuk, tapi aku tegaskan sekali lagi.. aku benar-benar tidak berniat menculik Sabina.”
       “Oke, aku titip Sabina. Bilang ke dia kalau aku akan ke Singapura. Ada yang mau aku bicarakan dengannya. Kirimkan alamat menginap kalian.”

Attar langsung memekik kaget dan segera menutup mulutnya. Amar heran, 
      “Enggak enggak, ini ada kobra punya orang India dari kamar sebelah masuk ke kamarku. Hussh hushh.. Excuse me, Raj! Raj! Your cobra is here! Raj! RAJ!!! Pahit pahit pahit!”

Lalu panggilan Attar matikan. Ia melemparkan ponselnya ke kasur. Ia memegangi kepalanya dan mondar mandir. Pening sekali.

      “Sabina Br*ngs*k! Rese’, awas kau!” Teriaknya frustasi.

      Amar masih di ruangannya bingung menatapi layar ponselnya. Attar memutus panggilan tiba-tiba. Memangnya Attar sedang mengusir tawon atau kobra?

      “Hotel macam apa yang membiarkan pengunjungnya melepaskan kobra? Aneh.”

     Sabina dan Sebastien makan malam bersama di kapal. Kapal tersebut tidak hanya terisi mereka berdua, mereka berlayar dengan beberapa tamu lainnya. Sabina sudah menghubungi Sebastien lama.
di dalam ruangan tersebut mereka juga bisa melihat pemandangan bawah laut melalui lantai kaca. Sebastien sudah mengetahui cerita lengkapnya, dia tidak mau ikut campur dan lebih banyak menjadi pendengar yang baik bagi Sabina.

      “Kita memang tidak pernah membicarakan Amar Sab. Kamu yang lebih banyak menjadi konsultan cintaku selama ini. Tapi dari cerita kamu aku yakin dulu kamu suka banget dengan Amar sekalipun sekarang tidak ingat”
      “Jangan mulai lagi, aku tidak siap membicarakan ini”
      “Memangnya kamu tidak mau menikah? Jadi istri dan punya anak?”
     “Itu masalah lain. Semua orang juga mau Seb, tapi tidak seperti ini caranya… Amar seperti memaksakan aku. Katakanlah aku tergila-gila sekali dulu, tapi sekarang ini aku bingung dengan perasaanku… tapi sedikit jernih memandang hubungan kami berdua dulu yang menurutku kusut, ngomong-ngomong kamu sudah siapkan apa yang aku minta?”
     “Kamu mengubah topik pembicaraan Honey.. ini dia..”

Sebastien memberikan sekotak barang-barang yang Sabina perlukan. Salah satunya ponsel baru, Sabina memiliki rekening di luar negeri atas namanya tanpa sepengetahuan keluarganya dan sistem keamanan bank tersebut sulit ditembus hacker profesional sekalipun karena dirancang oleh hacker terbaik di dunia pada masanya dan sekarang pun masih, bahkan untuk mengetahui nama nasabahnya pun akan berhadapan dengan si pembuat sistemnya, Sabina bisa mengaksesnya dengan alamat e-mailnya yang lain, yang lagi-lagi tidak diketahui siapa pun. Bahkan Sebastien tidak tahu. 

      “Kamu beneran amnesia? Tapi kalau di film film biasanya orangnya akan pegang kepala pusing tiap berusaha mengingat apa yang tak dia ingat? Kamu tidak seperti itu?”
      “Kamu ngomong apa sih? Itu cuma terjadi di film, memang agak pusing jika terlalu memaksakan diri. Namun tidak sampai sebegitunya.”

Sabina tersenyum menyalakan layar ponselnya. Seketika itu Sebastien menebak Sabina pasti akan pergi lagi setibanya kapal menepi di Hongkong nanti. Namun ia hanya mengendikkan bahunya tidak mau ambil pusing kegilaannya Sabina.

     “Kamu mau menghindari Amar sampai kapan?”
Mendengar itu Sabina segera mengerucutkan bibirnya dan menggeleng.
     “Sampai hatiku tenang. Sampai Amar menyerah mungkin?”
     “Kalau Amar tidak mau melepaskan kamu bagaimana?”
     “Entahlah, kita lihat saja nanti.”
   “Sab.. kamu terlihat lebih suka menyiksanya sampai sekarat daripada membiarkannya langsung mati di tempat. Membuatku mulai kasihan dengan siapa itu Amar.”
Sebastien bergidik ngeri melihat tatapan menerawang kawannya ini. Kadang-kadang bisa kejam juga.
     “Kamu ada fotonya? Siapa laki-laki sial yang bisa jatuh cinta dan tergila-gila padamu itu? Barangkali dia jodohku yang salah melepas sauh berlayar menujumu. Ha ha ha!”
    “Cari saja di google.” Canda Sabina kemudian beranjak meninggalkan kursinya.

      Karena Sabina merasa semua orang memihak Amar bahkan seluruh jagat raya ini mendukung Amar, maka Sabina seperti sedang bertarung melawan semuanya. Malam ini Sabina akan menghubungi kawan lamanya untuk menolongnya. Ini adalah bagian terbaik dari pelariannya.
                                    ***

     Amar langsung bertemu dengan Attar setibanya di Singapura. Mereka bicara di restoran di dalam hotel. Ini pertama kalinya Attar bertemu dengan Amar, sesaat ia melupa kata-kata yang telah ia rangkai rapi di dalam kamarnya tadi. Sinar matanya Amar membuatnya benar-benar kagum, air mukanya menenangkan sekali, bagaimana bisa Sabina menghindari pria semacam ini?. Pasti Sabina sudah gila, menurutnya Amar terlalu sayang untuk diabaikan. 

Amar menyesap minumannya dan menatap Attar tajam, ia butuh informasi Sabina sekarang juga dan tidak mau berbasa-basi. Amar bisa melihat Attar gusar dan mencoba mengulur waktu, meski Attar terlihat berusaha tenang dan mengendalikan diri.

     “Sabina tidak ada di sini kan? Dia ke mana?”
Attar membelalakkan matanya tidak percaya bagaimana Amar bisa menebak begitu cepat? Apa Amar dukun?.
     “Well, Amar kamu luar biasa. Tanpa mengurangi rasa hormat dan maaf sekali karena aku merasa menculik istri kamu. Aku sama sekali tidak mengetahui di mana Sabina sekarang. Kami pisah semenjak beberapa hari lalu.”

Amar sudah menduganya sejak berangkat dari bandara, dengan gelagat Attar yang aneh di telepon tentu ada yang tidak beres. Ia pasti menyembunyikan sesuatu.

     “Dia ke mana? Dia mematikan ponselnya, tidak menanggapi e-mail kami, tidak ada data transaksi keuangan dari rekeningnya, terakhir catatan paspornya terdeksi di Singapura. Bahkan sampai di sini kamu pun tidak tahu di mana Sabina. Attar kamu jangan bohong.. kasih tahu di mana Sabina sekarang.”
      “Dia pergi dengan Sebastien. Aku bahkan tidak kenal siapa itu Sebastien.”

Attar mencoba meyakinkannya. Sementara di luar terdengar hujan deras sekali. Amar tampak memandang jauh menembus hujan melalui jendela kaca lebar di kirinya, embun-embun mulai membias di sana sini, kebetulan mereka duduk di pojok ruangan petang itu. Alunan musik jazz yang dibawakan sekelompok pemain musik menemani hangatnya suhu ruangan. Rongga dadanya entah mengapa terasa berat. Ada kawah besar menganga di hatinya. Sabina pergi membawa sepotong hatinya.

     “Aku tidak bisa hidup tanpa Sabina, memikirkan hal itu terjadi saja aku tidak sanggup. Kamu di mana Sab..?” Gumam Amar.

Attar bisa melihat sedalam apa Amar mencintai Sabina, air mukanya melembut dan tatapannya berubah menjadi lebih berbinar. Sayang sekali Sabina sedang tidak waras, tingkahnya jadi aneh lebih dari biasanya. 

Sejauh ini selama mengenal Sabina tingkahnya yang paling aneh sampai membuat Attar mengelus dada adalah menyiapkan hari jadinya dengan Arip seperti pesta ulang tahun anak kecil dengan kue besar plus topi kerucut atau makan malam super romantis di salah satu kawasan elit, paling parah Sabina juga memberikan tiket perjalanan bulan madu ke Hawaii, yang jelas keduanya hadir tapi dengan senyum dipaksakan, itu Sabina lakukan karena sudah menyerah memisahkan kedua pria yang sama menariknya dimata wanita itu dan memilih menghujani keduanya dengan kasih sayang sebagai pelampiasan kekesalan atas hubungan mereka. Sarkasme yang cantik sekali, puji Arip suatu ketika. Jika saja Sabina bukan sepupu Arip pasti sudah Attar habisi sejak dulu.
      Sementara waktu Attar akan mengatur Sabina sebagai cuti dan menyuruhnya bekerja keras sebagai gantinya nanti, kalau tidak kunjung kembali bekerja ia akan memecat Sabina. Sabina takkan kekurangan uang bahkan tanpa bekerja. Attar diam-diam pernah melihat Sabina sibuk mengecek indeks saham dan melakukan aktifitas yang tak begitu Attar mengerti. Attar menyimpulkan Sabina bermain valas juga dengan level yang lebih tinggi, dengan otaknya yang brilian semuanya mungkin. Dibalik semua atribut keduniawian Sabina, Arip pernah menceritakan sejarah hidup Sabina lengkap tanpa jeda, bagaimana menderitanya gadis itu dulu. Attar tak hendak bertanya apakah Amar sudah mengetahuinya? Yang jelas jika Amar berani menyakiti Sabina, selain Arip ia akan berdiri paling depan membunuh Amar. Sebenarnya Attar adalah pemilik perusahaan penerbitan tempat Sabina bekerja, ini masih menjadi rahasia diantara dirinya sendiri dan Tuhan.

     “Setidaknya aku yakin Sabina masih hidup. Amar, aku minta maaf sekali karena tidak ada yang bisa aku jelaskan selain soal dia pergi dengan Sebastien. Ada kemungkinan dia masih di Singapura.”
      “Ini bukan tentang dia hidup tidaknya. Aku tentu bersyukur dia baik-baik saja dan aku harap selalu begitu, tapi aku butuh dia disisiku sekarang dan selamanya.. sudah terlalu lama kami terpisah dan aku tidak akan membiarkannya pergi lagi.” 

Amar masih belum mengalihkan pandangannya dari hujan.
Attar mengedipkan matanya berkali-kali dan mulutnya terbuka sedikit karena takjub mendengar kalimat Amar, dalam hati Attar bertanya-tanya siapa orang di depannya ini? Seseorang tolong jelaskan kenapa Tuhan menciptakan mahkluk seperti Amar? Apa Amar tertarik taken kontrak dengan perusahaan Attar? Sebagai penulis?. 
Jika Arip duduk bersama mereka ia jadi khawatir Arip jatuh hati pada pria ini. Apakah Amar sudah bertemu Arip sebelumnya? Attar menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran bodohnya.

       “Sebelum aku ke Belanda dan kebetulan jadwalku mundur beberapa hari lagi, aku akan bantu kamu sebisa mungkin..”

Dalam hati ia juga meminta maaf pada Sabina. Ia akan membantu Amar menemukannya. Entah mengapa ada keinginan kuat sekali untuk membantu Amar, padahal ia sudah berjanji dengan Sabina dan baru mengenal Amar dalam hitungan waktu.
Amar kembali mantap menatap Attar optimis.

      “Aku kenal salah satu orang interpol. Aku akan sewa ilustrator untuk gambar wajah Sebastien yang kamu ingat. Kemudian cari hacker pro untuk menemukan siapa Sebastien dan melacak Sebastien.”
Attar manggut-manggut mendengarnya. 
      “Sepakat.”

Amar langsung sibuk mengetikkan pesan dari ponselnya. Tiba-tiba baru tersadar satu hal sepele. Amar menatapi Attar curiga,

      “Tapi Sebastien ini laki-laki atau perempuan?”

Attar terbahak kecil mendengarnya. Amar cemburu. Menggemaskan sekali. 

     “Perempuan tulen. Cina bule.. ” jelas Attar menahan tawanya. Tapi Amar masih menatapnya tajam.
     “dan Sabina bukan tipeku, aku sudah punya pacar yang cakep sekali. ”  Tambah Attar.
Sengaja ia mengatakan begitu untuk menyamarkan gender. 
Amar lalu kembali dengan ponselnya. Ia akan menghubungi Kevin. Seorang teman yang sudah lama berkecimpung dalam dunia peretas. 



Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s