Sabina kini mulai melakukan kegiatan ringan kembali. Seminggu ini Amar memilih untuk tidak menemui Sabina dulu. Amar akan membiarkan hatinya dihujam puluhan ribu jarum peniti, bergelantungan nyeri selama seminggu ini dengan tidak bertemu Sabina selama seminggu. 

Makki intens mengirimkan kabar Sabina, sengaja merekamkan pembicaraan Sabina tanpa Sabina sadari, menvideokannya diam-diam, memfoto adiknya yang tengah asyik bercengkerama dengan teman-temannya yang berkunjung, mengirimkan semuanya ke Amar. Mengabarkan kondisi Sabina. Sesekali Amar tersenyum dan sedih memikirkannya. Kebetulan Amar juga sedang disibukkan dengan melakukan interview pada para karyawan baru, ini sedikit membantu meredakan pilunya. Menyibukkan diri adalah bagian dalam membunuhi rindunya.

    Seperti sekarang ini, aku memilih menemani Amar daripada dengan Sabina, jika Sabina di sana cerah ceria seperti taman bunga karena kondisinya maki membaik.. maka Amar justru sebaliknya, tak bisa bertemu dengannya tentu membuat langitnya diliputi mendung selalu. 
Amar selepas dari masjid kembali ke ruangannya. Hari ini Sabtu dan ia sedang tidak berselera makan. Ia tadi menolak ajakan makan di tempat makan yang baru buka dua hari lalu sebelum bubaran kantor. Kawan-kawannya penasaran bagaimana gerangan rasanya, Amar beralasan ada sesuatu yang masih harus ia kerjakan sebelum pulang.
Amar mengecek beberapa berkas kemudian menumpuknya. Terlalu banyak orang yang ingin masuk ke perusahaannya. Banyak yang harus ia pertimbangkan. 

Setelah itu ia meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya sejenak. Baginya lebih baik dimarahi atasan atau dituntut lembur dihari-hari libur daripada merasakan pedihnya akan perasaannya ke Sabina.
   Kulihat setitik air mata keluar dari matanya yang terpejam. Belum pernah aku lihat Amar selemah ini. Perlahan-lahan aku dekatkan tisu.
Terdengar bunyi bip dari komputer Amar. Tanda e-mail masuk. Kotak kecil berbentuk surat muncul di layar. Otomatis pula wallpaper komputernya terlihat, foto Sabina yang tersenyum dengan latar belakang separuh langit biru. Ia suka melihatnya, bukan langitnya yang elok.. melainkan senyum wanita yang dicintainya ternyata lebih indah dari pemandangan dari puncak gunung manapun yang pernah Amar sambangi. Kalau ingin lebih memuja lagi, Amar bahkan rela mengguntingi jari jemarinya demi menyaksikan senyuman itu sepanjang hidupnya. Amar usap setitik air matanya dengan punggung tangan. 
     “Hai cantik, lama ya tak jumpa? Kalau kamu dulu tahu aku menjadikan fotomu sebagai wallpaper dekstopku aku yakin kamu akan marah dan menghapusnya.”
Lalu Amar terkekeh geli memikirkan jika itu benar terjadi. Sabinanya yang memang terkenal temperamental. Atau sebenarnya Sabina hanya lebih emosional jika dengan Amar.
     “Tak apalah. Asal bisa didekatmu aku rela jadi apa saja dan melakukan apa saja.”
Aku ikut tertawa. Amar… Amar… kalau saja Sabina tahu sejak dulu kamu ternyata seperti ini, dan sebegitu takutnya ditinggal Sabina… aku rasa kita semua takkan jadi serumit ini.
     “Benar, malam ini kita harus ketemu.”
Amar bangkit dari duduknya dan memberesi tasnya. Pulang dan menemui separuh hatinya.
                                       ***
    Selama seminggu ini tidak ada yang berani membahas soal Amar. Jadwal Sabina 7 hari terakhir adalah bercengkerama dengan tamu yang menjenguk, banyak makan makanan yang sehat serta bagus untuk penyembuhannya. Lalu latihan berjalan dengan bantuan Arip sepupunya tiap malam.
Makki menyemangatinya dari beberapa meter. Ia tersenyum-senyum melihat Sabina mengenakan syal oranye dari Amar, tapi Makki bohong itu ia beli bersama barang-barang baru lainnya. Tidak sepenuhnya bohong, karena Makki memang membelikannya sendiri dengan kartu kredit Amar. Tadi ia mengirimkan pesan ke Amar untuk menyusul ke koridor tempat mereka berlatih berjalan. 

     Pukul 19.43 Amar mengecek jam di tangan kirinya, bergegas ia menuju lokasi yang Makki tunjukkan. Tapi hatinya Amar bagai dihunus pedang melihat dari jauh Sabina berpegangan dengan besi yang memang khusus ditempelkan di dinding untuk latihan berjalan para pasien. Sabina bersama seorang pria yang sama sekali tidak Amar kenal. Lama ia mematung memandangi pemandangan menyakitkan ini. Tidak, Amar bukan pencemburu dan tipe pengekang. Amar mungkin hanya iri.
    “Amar! Sshh… A maar..” Makki bisik-bisik sampai tenggorokannya terasa kering. Amar tersadar, ia tersenyum pada kakak iparnya.
Amar mendekat. Makki lihat ekspresi Amar tadi dan tersenyum menggodanya.
    “Ya ampun Mar… itu sih Kang Arip. Kamu gak perlu cemburu begitu, mau aku kasih tahu sesuatu? Mm, ini sebenernya rahasia sih…” Makki berlagak membisiki Amar seolah membocorkan rahasia negara. 
    “Kenapa Kak?”
  “Sekeluarga besar cuma aku dan Sabina yang tahu kalau Arip ini gay. Arip jago banget aktingnya jadi laki. Kang Ikrom dan Faizal saja sampai tidak pernah merasa ada yang aneh dari Kang Arip. Lagipula Sabina juga tidak akan mau jika latihan jalan dengan Faizal yang petakilan atau Kang Ikrom yang kelewat tegas.”
    Seketika Amar jadi geli. Tapi baginya masih menjadi masalah. Arip itu masih laki-laki tidak peduli sekemayu apapun yang terlihat sekarang. Kalau boleh memuji, tampan pula. Dan masih menjadi misteri kenapa kebanyakan gay wajahnya high class.
    “Tapi kenapa bukan Kak Makki saja yang bantu Sabina?”
    “Ups! Kamu belum tahu ya? Aku lagi isi, jalan 3 bulan ini. Entar kalau Sabina kumat marah-marah lagi pas aku coba ngobrol soal kamu gimana?” Tunjuk perutnya sendiri. 

Amar manggut-manggut. Ia menyerahkan bungkusan makanan pada Makki. Makki menerimanya dan melongok isinya 3 kardus kecil pisang cokelat, kesukaannya Sabina. Makki tersenyum penuh arti pada makanan tersebut. Dalam hati membatin, bagaimana Amar bisa mengetahui ini? 

      “Tapi Kang Arip tetap saja laki-laki Kak.”
    “Amar.. Amar, sayang Sabina lagi konslet otaknya. Kalau Sabina gak lupa kamu.. dia seujung kuku pun kalau kamu gak suka dia disentuh Kang Arip maka dia gak akan begini. Mohon mengerti ya Mar.., sekalipun Arip adalah solmet rumpinya.”
      “Bisa dimengerti,” jawab Amar dengan geli
     “Bentar deh Mar.. aku punya ide.”
Dengan cepat Makki mengetikkan pesan WA ke Arip. Amar tak berniat mengintip, matanya terus mengekor Sabina yang tertatih-tatih berjalan dengan tangan dan bahunya dipegangi Arip. Keduanya entah mengobrol apa yang jelas tampak seru sekali dari jarak sejauh ini.
     “Amar, kamu ke sana gih..”
Amar bingung. Tapi Makki meyakinkan untuk ke sana. Langkahnya mantap dan perlahan Amar mendekat. Arip menutup mata Sabina dengan scarf, ia melepaskan pegangannya pada Sabina dan mengatakan untuk fokus, Arip mengatakan ia akan diam saja walau Sabina mengoceh tapi ia akan tetap ada menjaga Sabina kalau-kalau oleng dan jatuh.
    “Kog gitu sih Kang? Malah kayak jerit malam pramukanya anak SMP.. tapi seru juga sih.. hahaha”
     “Iya dong sayang, biar kamu ada semangat pengen cepet sembuh dan merasakan langkah kaki kamu sendiri. Tenang aja… Akang stay di sini buat eneng sab..”
     “Okey okey, eneng sab percaya.”
Amar sudah ada di dekat mereka. Arip mengkode Amar untuk menggantikan posisinya. Lalu Arip mundur dan bersidekap gemas memandangi Amar yang tampak kikuk memegangi Sabina. Arip gemas sekali.
   “Huhu… jalan lagi Neng!” Seru Arip dengan suara kemayu.
     Demi apapun, Amar belum pernah sedekat ini dengan orang yang ia dengar namanya saja membikin jantungnya berdenyut-denyut nyeri rindu. Sekarang detik ini bersama dengannya dan mendengarkan suaranya tanpa jarak. Sungguh Amar jika diberi pilihan antara momen ini dengan hal besar lainnya yang sempat Amar impikan, maka Amar takkan menoleh dua kali untuk memilih Sabina.
      “Aku jalan ya?”
Sabina mulai berjalan lagi dengan susah payah. Amar hati-hati dengan sabar menuntunnya. Lima menit pertama mereka sama diamnya, Sabina fokus. Lama berselang Sabina memulai pembicaraan.
    “Kang, aku ngerti orang-orang menghindari konteks pembicaraan tentang Amar, gak mau aku ngamuk lagi. Setelah banyak merenung semingguan ini aku sadar Kang… sadar banget ternyata aku yang dulu sayang dan cinta sekali pada orang yang namanya Amar.”
Amar tertegun sesaat. Namun berusaha mengendalikan diri.
  “Tapi aku lihat aku yang dulu banyak sedihnya karena Amar, sulit dijelaskan Kang, disitu aku tahu juga ternyata aku tidak menceritakan sakitku ke orang lain meski ke sahabat sendiri juga tidak.”
Amar mencoba bertahan dengan kejujuran Sabina. Ia merasa bersalah, ia dulu yang selalu menarik diri dari Sabina. Sorot matanya meremang dan sesekali menarik napas panjang.
     “Kang Arip. Gimana kalau dengan aku yang lupa adalah yang terbaik untukku. Sabina yang dulu banyak menderita karena cintanya ke Amar. Selamanya lupa siapa itu Amar kurasa adalah yang terbaik.”
Arip mendekat untuk membantu Amar. Ia berbicara dekat seolah memang ia yang memegangi Sabina sejak tadi.
    “Tapi cinta kan gak melulu soal bahagia dan tersenyum kan Neng.. kamu kan yang selalu bicara soal keseimbangan, ada tangis dan tawa.. seimbang. Inget dong jeung..”
     “Tapi kayaknya aku yang dulu berkeinginan untuk melepaskan perasaanku dari Amar juga besar. Buktinya aku nangis sewaktu lihat Amar”
    Mereka masih berjalan. Makki cukup jauh mengikuti dari belakang ketiganya.
   “Kalau nangisnya karena kangen gimana coba? 6 bulan lho dan tahun-tahun sebelumnya dihitung juga sudah berapa lama?, aku saja pisah dengan pacarku sehari rasanya berat Sab…”
    “Tapi aku kan bukan pacarnya Amar?! Dan hubungan kalian lebih dari makan dan jalan-jalan bersama, kalian itu membuatku jijik!”
Arip menepuk jidatnya jengkel. Dia tidak marah disebut begitu oleh Sabina bahkan pernah lebih parah dari ini ketika dulu Sabina awal-awal mengetahui jati diri Arip yang sebenarnya, karena ia kenal Sabina dan sepupunya ini mengatakan itu justru karena menyayanginya tapi Arip tetap tidak mau membohongi diri sendiri, bahwa ia tidak tertarik pada wanita.
  “Sab, aku bicara soal perasaan. Kapan terakhir kali kamu suka seseorang? Perasaan semacam itulah yang memicunya, ayolah Neng.. kamu tidak sebego’ itu untuk memahami kata-kataku…”
Sabina mengendikkan bahunya tidak mau ambil pusing.
     “Amar mungkin maunya serius, tidak mau main-main. Kamu jadi perempuan ribet banget sih? Kalau dia ngaku sukanya sejak dulu terus kamu mau ngapain? Mau seperti yang lainnya keluyuran tidak jelas? Enggak kan?. Kamu itu sepupu aku yang paling aneh pandangan hidupnya Sab, gak cocok punya hubungan seperti itu dan pastinya tidak nyambung dengan pemikiran ortodoks kunomu itu.”
    “Tapi aku juga perempuan?!. Mana tahan didiamkan?! Aku kan juga takut kalau dibilang ge’er Kang. Tiba-tiba Amar gandeng perempuan lain, kan ujungnya aku malah jadi stres dan depresi.”
Arip mengernyitkan dahinya heran. Sabina tidak terdengar lupa ingatan tentang Amar. Apa jangan-jangan selama ini hanya akal-akalannya saja?
    “Kamu gak lupa ingatan ya Neng? Tahu dari mana itu tadi?”
  “Aku baca tulisan di draft e-mailku dan menarik benang merahnya. Ternyata aku menulis soal Amar di sana. Mungkin biar aku bisa buka kapan saja dan di mana saja”
    “Yah terserah deh. Amar itu tulus ke kamu, langka lekong begitu jaman sekarang Sab..”
  “Kog Kang Arip malah bela Amar sih?” Sabina terdengar kesal.
   “Akang nyerah deh ya.. seleganya hatinya Eneng aja deh. Coba kamu lagi sadar neng, kamu akan seneng dengan apa yang Akang dan Makki lakukan.”
     “Maksudnya?” Tanya Sabina ketus.
Arip cuma tertawa tanpa mau menjelaskan lebih lanjut apa maksudnya.
Amar menoleh ke kiri dan mengangguk berterima kasih pada Arip. Arip mengedipkan sebelah matanya dengan genit sebagai balasan. Bulu kuduk Amar merinding menyaksikan keganjenan Arip.
      “Akang boleh minta sesuatu gak neng?”
    “Apa Kang? Asal jangan minta duit aja.. lagi bokek ini..” Sabina sudah bersikap tenang kembali.
     “Boleh kan Akang peluk Eneng?”

Sabina tertawa. Amar jadi membelalakkan matanya terkejut, menoleh pada Arip dan menggeleng keras, jangan!. Makki ikut tertawa geli dengan keusilannya Arip.

   “Tumben izin Kang? Biasanya langsung cipika cipiki ke Kak Makki atau aku. Boleh dong..”

     Arip gemas melihat Amar diberi peluang tapi tak kunjung diambil. Arip memelototinya. Amar akhirnya memeluknya dari belakang sambil berdo’a dalan hati jangan sampai Sabina dengar detak jantungnya menderum menggila tidak karuan sampai mau lepas dari tempatnya.

Makki dan Arip sama-sama tersipu melihatnya, ini seperti menonton drama romantis yang mereka bertiga kali terakhir nonton bersama. Terlebih Amar dengan sayang mengecup kepala Sabina. Di momen itulah Arip mulai menari-nari balet saking senangnya.

Diluar dugaan Sabina tidak menyadari ada yang aneh, postur tubuh Arip yang sama tinggi dengan Amar membuatnya berpikir tidak ada yang berbeda. Menurutnya berpikir bahwa Arip sedang banyak ototnya.
     “Rasanya Kang Arip kayak rutin ke gym ih.. jangan keras-keras. Nanti sepupumu ini remuk Kang.” 

Setelah cukup lama Amar melepaskan pelukannya. Arip membisiki Sabina.
    “Sab..”
    “Iya Kang Arip?”
  “Meski kamu belum inget, mau kan mulai besok berusaha mengenal Amar? Sebagai teman semisal? Jangan dimusuhi. Amar bukan orang jahat. Kalian sudah nikah juga. Tante dan Om tidak mungkin melepaskan kamu pada orang yang tidak bertanggung jawab. Pikir lagi ya neng..”

Sabina terdiam sejenak tidak bisa menjawab.
***

     Sabina tetap tidak mau menemui Amar di Hari Minggu sejak malam itu. Setelah seminggu sebelumnya Amar menahan diri, Hari Minggu itu Sabina seharian pura-pura tidur dan tidak mau keluar dari ruangan. Amar datang dan akhirnya hanya mengobrol dengan Makki dan Ikrom. Amar harus bersabar kata keduanya, dalam perjalanan pulang ia putuskan untuk mengalah lagi, ia tunggu seminggu lagi. Amar tunggu-tunggu kabarnya tak ada kemajuan.

Seperti dapat angin segar, seminggu kemudian menurut Makki ia boleh bertemu dengan Sabina. Sabina sendiri yang meminta.
                            ***
     Amar gugup sekali, sambil berjalan ia terkadang meremas tangannya dan beberapa kali memastikan rambutnya rapi. Senyumannya jadi cerah, Amar yang dulu sedikit kembali. Ia menuju ke bangsal pribadi, rumah sakit ini adalah rumah sakit keluarganya Sabina dan selama ini Sabina dirawat di bangsal pribadi khusus hanya untuk keluarga mereka.

Makki mengirimkan pesan bahwa adik perempuannya itu ada di taman. Melamun seperti biasa, menurut Makki Sabina tidak berubah sedikitpun termasuk sifat pemarahnya. Yang adiknya lupakan memang hanya Amar dan Sabina bisa naik darah lebih mudah jika dengar nama Amar saja. Adiknya yang biasanya bersikap manis pada semua orang kini menjadi galak sekali.

 Dari kejauhan Amar bisa melihat Sabina duduk tenang, rambutnya sepinggang terurai. Hari ini langit tak begitu terlihat karena mendung abu-abu menutupi. Amar takut-takut mendekat.
     “Boleh aku duduk?”
Sabina meliriknya dan hanya menggerakkan tangannya seolah berkata silakan. Amar tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa? Cuacanya bagus ya? Kamu sudah makan atau belum?. Tadi di apartemennya tadi aku tertawa keras melihat Amar berlatih berbicara di depan cermin menanyakan kabar, cuaca, atau sudah makan belum. Menghadapi Sabina tak pernah bisa semudah ia bertemu dengan orang-orang lainnya.

   “Setelah keluar dari rumah sakit apa rencana kamu Sab?” Tanya Amar hati-hati.
     “Sama seperti sebelumnya, menjalani hari-hari biasa.” 

Sabina mengangkat bahu acuh tak acuh. Tapi tiba-tiba Sabina mendongakkan wajahnya menatap burung walet yang terbang rendah. Amar mengikuti tatapannya, lebih tepatnya mengamati ekspresi kekasihnya. 

    “Atau kamu ada rencana lain untuk kita? Mengajakku pindah ke tempatmu dan menjalani rumah tangga seperti pada umumnya? Tidak kan?”
   “Bagaimana kalau iya?. Aku sudah membeli rumah yang halamannya luas dan cocok untuk bermain anak-anak kita kelak.” 

Mendengar rencananya Amar membuat Sabina mengernyit risih.

    “Kenapa mau menikah dengan ku?” 

Serang Sabina tanpa basa basi. Amar sedikit sedih mendengarnya, bukan apa yang ditanyakannya. Melainkan karena Sabina berbicara terlalu formal sejak tadi padanya seperti orang asing. Menciptakan jarak.
      “Karena cinta, apa lagi?” 

Amar tidak mau mengatakannya dalam situasi seperti ini, perasaannya seperti tidak ada harganya lagi. Tapi dia memang tidak ada penjelasan lain.

Sabina mengernyitkan dahinya tidak percaya.
    “Saya pikir kamu cuna kasihan kan? Dari yang Kak Makki ceritakan selama ini kau seperti pura-pura tidak mengetahui perasaanku.”
    “Sab.. kamu mau ketemu aku cuma mau tanya soal ini?. Aku mengerti Sab, tidak masalah kamu tidak mau menganggap aku suami. Tapi tolong, jangan mendorongku menjauhimu. Lama perasaan ini ada dan sekarang menemui muaranya, pelan-pelan.. kita mulai jadi teman dulu. Aku tidak akan terlalu jauh kecuali kamu yang ingin aku begitu.”

Sabina menatap mata pria itu lekat-lekat, memastikan tidak ada kebohongan di sana. Tidak ada. Bahkan jika laki-laki ini menipu orang pasti yang ditipu akan senang-senang saja.

     “Lama? Sejak kapan kamu suka Sabina?” Sabina mengatakannya seakan Sabina yang ia maksud bukan dirinya sendiri. Amar jadi menyesal kelepasan bicara tadi.
   “Entah. Lupakan soal hitung-hitungan waktu. Yang jelas saat kamu ingin pergi aku tidak pernah sesenti pun ingin mundur.”

Sabina menatapnya heran, ada kontradiksi di sini. Dari yang Sabina pelajari.. Dirinya merasa Amar tidak pernah mencintainya tapi sekarang apa? Semudah itu perhatian padanya? Ada apa dengan laki-laki yang satu ini. Ia menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran anehnya.

    “Aneh. Tapi sepertinya kamu tidak pernah bilang cinta ke saya dulu atau menunjukkan perhatian lebih. Aku mengatakan ini untuk membela diriku yang ingat siapa itu Amar.”

Sabina bertanya dengan matanya lurus ke depan memandangi kolam ikan. Seolah ini tidak penting.

    “Aku sibuk. Kalau kita mulai menjalin hubungan maka kamu akan merasa ditinggalkan terus dengan alasan yang sama, aku tidak mau membuatmu sedih. Lagipula bagiku aku tidak percaya dengan hubungan semacam itu. Buang-buang waktu. Soal bilang cinta dan perhatian, aku melakukannya.. tapi tidak dengan cara orang kebanyakan. Aku yakin kamu merasakannya tapi banyak tidak menyadarinya dan lebih memilih menyimpulkannya sebagai tidak tahu. Kamu tidak sebodoh itu untuk menyadari hal-hal kecil Sab..”

    “Tapi sepertinya.. aku kecelakaan setelah melihatmu makan dengan orang lain” 

Sabina bertanya masih dengan intonasi datar tanpa perasaan. Meski ia tetap merasa aneh, mengapa hatinya sakit sekali jika melihat Amar. Makanya lebih baik ia menghindari mata pria ini.

     “Teman. Kamu mau aku kenalkan? Dia justru yang menyuruhku kejar kamu sebelum kecelakaan itu. Kamu mau tahu apa yang kami bicarakan saat itu? Aku minta sarannya untuk melamar kamu baiknya kapan.”

    “Ini…, kamu menginginkan komitmen yang besar, dan aku tidak bisa.. ini terlalu cepat. Aku bahkan tidak tahu siapa kamu? Ini masih sulit diterima oleh akal sehatku. Kamu tahu siapa aku tapi aku tidak… ini rasanya tidak adil. Aku seperti dipermainkan nasib. Bukan, lebih tepatnya kamu yang mempermainkan hati Sabina dulu..”

Amar masih mencoba bersabar. Jika yang di kanannya ini adalah Sabina yang ingat padanya, mungkin Amar tak perlu minta izin untuk mengenggam tangannya, tapi Sabina yang sekarang melirik pun tampak tak sudi. Amar mulai bercerita, kesibukannya Amar sekarang adalah melakukan perekrutan karyawan baru dan mentoring karena awal tahun dan banyak yang sudah resign atau pensiun dini, Amar adalah HRD di sebuah perusahaan jasa layanan antar barang. Diumurnya yang sekarang menginjak 29 tahun ia sudah cukup puas dengan pekerjaan maupun pertemanan serta lingkup sosial lainnya. Waktunya ia membangun sesuatu yang jauh lagi, menikah. Rencana menikah dengan Sabina sudah ia pikirkan sejak 10 tahun lalu. Sabina sempat menoleh ketika Amar mengatakan itu.

     Amar mengatakan bahwa ia sadar saat itu terlalu muda memikirkan hal semacam itu, tapi ia memang sudah menemukan keutuhan dalam diri Sabina sejak dulu. Meski ia sadar terlalu kekanakan dan terlalu jauh berpikiran semacam itu. Cukup konyol untuk remaja seusia 19 tahun yang lain. 

    “Tapi aku memang sengaja tidak pernah mengatakannya Sab, takut kamu merasa digantung olehku, meski risikonya aku juga takut kalau kalau ada orang lain yang memikat hatimu. Aku masih terlalu muda, pengecut, dan terlalu meluap-luap.. aku juga tidak mau terjadi yang tidak-tidak. Aku tahu perasaanmu sejelas melihat perasaanku sendiri selama bertahun-tahun. Aku paham perempuan memang butuh dipastikan meski sudah tahu tanpa dikatakan. Tapi banyak pertimbangan mengapa aku menahan diri.”

Amar memandangi Sabina tanpa berkedip sejak tadi. Sabina sendiri antara mendengarkan dan tidak, pun tak menanggapi Amar, kadang melemparkan sobekan roti tawar ke kolam dan ikan-ikan bergerombol mendekat.

    “Aku mengerti itu yang membuatmu dulu marah padaku. Tapi tidak masalah bagiku. Pikirku dulu.. Kelak jika sudah waktunya, ketika aku sudah merasa pantas dan mampu maka akan aku bayar semua itu. Dengan tidak membiarkanmu sedih atau sakit meski itu hanya gigitan nyamuk. Dan sekarang adalah saatnya. Aku minta maaf..”
     “Mas Amar…”
Amar menunggu, meski senang dipanggil langsung namanya ia juga tidak hendak merusak suasana dengan balas memanggilnya sayang. Ini saja tensi diantara mereka sudah cukup tinggi.

  “Aku tidak membutuhkan dirimu untuk memperbaiki apapun,” Kata Sabina tegas, menatap Amar dengan alis mengkerut.

 “Tidak, kamu memang tidak membutuhkanku untuk memperbaiki apapun, tetapi aku akan mendukungmu dan berada bersama disisi untukmu saat sedang sulit.”

   “Tapi boleh minta tolong sesuatu?”
   “Apa?”
 “Tolong kita cerai saja kalau saya sama sekali tidak ingat. Mas Amar bisa melanjutkan hidup.. begitu juga dengan saya. Seingatku sudah ada Mas Attar dia sudah lama ingin serius denganku.”

Senyum di wajah Amar sirna. Siapa lagi itu Attar?

    “Sabina.. tapi kenapa? Kamu tidak mau coba dulu mengenalku?” 
  “Kalau sebagai teman biasa bisa ku pertimbangkan. Tapi lebih dari itu? Saya tidak begitu yakin bisa.” 

Dengar ucapan Sabina membuat Amar dalam hati ia bertekad untuk membuat Sabina selalu disisinya entah amnesia atau tidak.
Sabina beranjak dari duduknya meninggalkan Amar.
    “Maaf Mas. Permisi..”
Amar terhenyak lemas. Dia tidak pernah berani sekalipun membayangkan hal semacam ini terjadi, entah dulu maupun sekarang. Namun ia takkan menyerah. Sabina sudah berlalu jauh. Meninggalkan Amar dengan kekosongan yang dibawa angin.

Tiba-tiba terdengar suara berdebam orang jatuh di rerumputan tak jauh dari Amar, Sabina mengaduh kesakitan. Amar langsung berlari membantu Sabina. 

     “Bisa jalan lagi? Kamu baik-baik saja?” 
Sabina mengernyit kesakitan. Meski sudah bisa berjalan normal tapi otot-ototnya masih lemah dan rentan jatuh tersandung kalau tidak hati-hati. 
Amar membantunya berdiri, memegangi kedua bahu Sabina dan menatap matanya dalam-dalam.
  “Kamu mau apa? Tepatnya, aku harus berbuat apa dan bagaimana agar kamu beri kesempatan? Katakan..”
    “Cerai. Tidak dengar? Saya mau cerai…”
   “Bagaimana kalau aku tidak mau?”
   “Siap-siap saja dapat istri kurang ajar.”
Sabina lalu melepaskan dirinya dengan paksa dan pergi meninggalkan Amar.
  Amar tersenyum kecut sepeninggalnya Sabina, cuma itu? Sabina mengancam akan jadi istri kurang ajar?. Ia juga tahu kadang-kadang Sabina bisa jatuh hati pada pria lain, tapi hanya sekadar naksir remaja yang berlalu cepat sekali dalam hitungan minggu dan bulan saja. Ia juga tidak bisa menyalahkan Sabina jika ada laki-laki lain yang berusaha mendekatinya. Namun sekarang urusannya sudah berbeda, Sabina adalah istrinya meski sedang lupa ingatan tentang siapa Amar. 

    “Yang aku lihat kamu tidak bisa melakukan itu. Aku kenal kamu lama sekali Sab, baik burukmu sudah hampir kulihat semua. Tapi hidup tanpa kamu membuatku lebih takut.”
Bagi Amar ini sama sekali bukan masalah. Tapi orang yang bernama Attar itulah yang kini menjadi masalah. 




Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s