Magenta Lilac – Part 1

​ Lilackarissacom

   Dia sudah terbangun dari tidur panjangnya, bukan sepenuhnya koma karena setelah dokter periksa 3 bulan lalu sebenarnya Sabina sudah sadar, entah mengapa ia tak kunjung bangun dan tak ada penjelasan medisnya. Para tetangga usil hanya menyebut perempuan itu diguna-guna, diteluh oleh musuh musuh keluarga mereka dan sejenisnya. 

  Setelah dibawa ke berbagai kota dan menemui puluhan dokter semuanya hanya sia-sia. Tak ada yang bisa menjelaskan penyakit perempuan itu, ia hanya memejamkan mata lama sekali dengan ekspresi damai di wajahnya tiap terlelap, aku di pojokan ruangan menatapinya getir, ia kini tengah kebingungan dengan kehadiran seorang pria yang memegangi tangan kanannya dan satu menit lalu pria itu mengaku suaminya. Perempuan itu melepaskan genggaman tangan besar dan kokoh itu dengan gusar, hanya menatapinya linglung. Tidak percaya. Suami apanya?

   Sesungguhnya aku tahu apa yang terjadi namun tak bisa menjelaskan padanya. Aku tahu, dia baru 27 tahun lima hari yang lalu setelah tertidur selama 6 bulan lamanya bagai mayat. Aku juga tahu siapa pria itu namun sekali lagi aku tak hendak menjelaskan. Bukan hakku untuk bercerita pada keduanya. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Siapa aku dan kenapa begitu sok tau? Nanti kalian juga akan mengenalku, tapi sekarang kalian konsentrasi saja pada ceritaku tentang kedua orang di depanku ini.

   Pria itu menatapnya dengan penuh kasih, ada kerinduan di sana, cemas, sayang, dan takut wanitanya terluka. Meski aku lihat ia ingin sekali memeluk kekasihnya dan mengucapkan selamat datang, membelai puncak kepalanya dan mencium keningnya. Tapi pria itu mati-matian menahan diri, bukan ia tak mau.. ia hanya tidak bisa. Wanitanya tak mengenalinya sama sekali. Tapi aku heran kenapa pria itu tak kunjung menekan tombol merah di sebelahnya untuk memanggil dokter?

     “Sabina?” 

Panggilnya lembut. Yang dipanggil masih heran dan tak menjawab. Ia hanya masih menatapnya bingung.
    “Kamu siapa? Aku belum menikah. Aku sama sekali tidak mengenalmu.”
   “Kamu tidak ingat aku? Sabina kamu tidak sedang bercanda kan?”
Sabina menggeleng lemah, sama sekali tak ada ide, tapi lambat laun air matanya jatuh dan hatinya terasa ditumbuk setelah lama menatap pria ini. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas, ia pukul-pukul pelan dadanya yang sesak. Ia terisak pedih. Sakit yang tak bisa dijelaskan. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti akan ikut larut dalam dukanya.

   Pria itu buru-buru memanggil dokter dan tak berapa lama kemudian dokter beserta petugas medis lainnya datang. Petugas medis mendorong pria itu untuk keluar ruangan.
Aku mengikutinya keluar bertemu dengan semua keluarga yang hadir hari itu. Beberapa menit ia sibuk menjelaskan apa yang terjadi pada Sabina mereka.
     “Nak Amar istirahatlah dulu. Mungkin Sabina sedang penyesuaian diri. Bagaimanapun juga ia baru bangun. Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya setelah kecelakaan itu.” 

Saran ayah Sabina pada Amar. Amar hanya tersenyum seadanya, beberapa saudaranya juga menepuk bahunya untuk tetap kuat. Pria berambut lebat itu berusaha menerima,
     “Yang sabar ya Amar…” dukung Makki kakak perempuannya Sabina yang terkenal keras dan macho jalannya meski tampilannya ukhti uhkti pengajian. Sekali lagi Amar mencoba tegar, mukanya kuyu sekali dan terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Meski ia sudah terbiasa tidak tidur normal seperti orang kebanyakan, kali ini berbeda, separuh jiwanya pergi sementara waktu. 6 bulan berlalu, tak sedetikpun ia lepaskan penjagaannya dari Sabina. Tiap pulang kerja ia langsung menuju ke bangsal itu. Tak tega berbahagia bersama kolega sementara yang Sabina ia cinta diambang entah hidup atau mati. Sampai beberapa dokter dan suster akrab dengan Amar, sosoknya yang mudah membaur dan memancarkan aura positif membuat semua orang menyenanginya. Mereka tahu dibalik keramahan dan kehangatan Amar, pria itu merana sedih sekali karena kekasihnya tergolek tak berdaya berbulan-bulan.

   Aku mengintip ke dalam sana, setelah keadaannya cukup tenang dokter dan beberapa petugas keluar mengajak Amar berbicara di ruangannya. Ayah dan Ibu Sabina masuk ke ruangan Sabina, setelah berbagi pelukan akhirnya Sabina angkat suara disela tangisnya. Matanya sudah merah dan bengkak, memperparah pucat wajahnya.
   “Pah, Mah… siapa orang tadi? Aku enggak kenal sama sekali. Aneh, aku belum menikah. Kenapa hatiku sakit sekali melihatnya?”
Aku juga ikut masuk ke ruangan, duduk sembarangan. Ayah dan ibunya hanya saling pandang heran. Sebelum ada seorangpun yang menjelaskan pada Sabina, Amar terlebih dulu datang mengajak ayah dan ibu Sabina keluar dan berbicara perihal kondisi Sabina. Sekarang tinggal kakak perempuannya Sabina, Makki di ruangan. Makki memeluknya dan menepuk nepuk pundaknya.
   “Sab, ini enggak lucu sama sekali . Jangan bercanda. Kamu bahkan membicarakan Amar hampir setiap hari padaku selama bertahun-tahun. Dan sekarang kamu enggak ingat? Ayolah… ini tidak lucu! Amar itu orang yang kamu suka sampai jadi sinting. Aku bosan tiap kali bicara denganmu selalu ada pembahasan soal Amar. Persis seperti kaset rusak tau gak?”
Sabina memejamkan matanya sekali, lalu mengerjap kesal. Ia melepaskan pelukannya.
  “Kak! Kakak yang bercanda, kalau memang aku sebegitu sukanya sama dia. Kenapa aku enggak tahu siapa dia?. Dan lagi, tadi dia bilang dia suamiku? Dalam 10 tahun ini aku tidak ada rencana menikah!.”
Makki membelalakkan matanya heran. Ia pikir Sabina yang suka bercanda sejak tadi hanya berakting, untuk membuat kejutan. Tapi ia mengenali tabiat adiknya yang berambut panjang ini kalau marah. Alisnya menyambung seperti sekarang, dahinya mengkerut dan wajahnya makin simetris karena menggertakkan rahang.
  “Sab… kamu kenapa? Untuk fakta terakhir kami minta maaf. Kamu sekarang 27 tahun dan Amar menikah dengan kamu saat kamu koma. Ayah dan ibu yang memutuskannya. Kami pikir itu keputusan yang terbaik untuk kalian.”

Sabina jelas makin mengkal. Teganya ayah dan ibunya menikahkahnya tanpa sepengetahuannya. Aku tahu reaksi Sabina selanjutnya adalah membantingi semua barang yang ada. Aku memilih keluar ruangan bersama Amar dan kedua orangtua Sabina. Vas bunga, jam, bantal, apapun yang terjamah tangannya maka ia lemparkan sekenanya teecerai berai. Seketika ruangan menjadi kapal pecah.
Kulirik Amar yang terlihat makin sayu matanya, belum pernah aku lihat Amar semenyedihkan ini… Amar yang aku kenal selalu ceria, sinar diwajahnya selama ini yang banyak dikagumi orang entah mengapa redup. Ia tahu kenapa Amar begitu, meski samar ia dengar Makki menyinggung soal pernikahan mereka tadi. Ibu dan ayahnya Sabina belum reda dengan perkataan dokter yang disampaikan Amar, sekarang mereka masuk ke ruangan dan mencoba menghentikan Sabina yang menangis dan berteriak-teriak.

  Amar ingin sekali ke sana. Ikut menenangkannya, tapi ia tahu justru Sabina akan marah padanya. Bagi Sabina ia sekarang hanyalah orang asing. Ia memilih pergi ke lorong lain meninggalkan mereka.
Berjalan tanpa arah dengan gamang. Aku mengikutinya, mencoba memanggil-manggilnya namun tak ia dengar. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
    “Amar! Amar… Amar jangan sedih. Kamu harus bersabar. Kamu tidak boleh menyerah! Ya!?”

   Tanpa sadar ia sampai di parkiran basement. Ia langsung memutuskan untuk pulang dan membiarkan Sabina sendirian sekarang. Aku menyelinap masuk ke kursi penumpang di depan. Masih berusaha membesarkan hatinya meski tak digubris.
Amar mengemudi sambil memikirkan perkataan dokter. Ia terkejut karena menurut dokter, Sabina mengalami hilang ingatan seperti yang dokter duga setelah melakukan MRI di hari pertama Sabina sampai di rumah sakit. Namun tak separah taksiran dokter, meski komanya hanya 3 bulanan tapi seterusnya Sabina cuma tertidur, otak Sabina secara aneh menyembunyikan ingatan segala sesuatu yang berhubungan dengan Amar. Amar syok dan bertanya kenapa bisa begitu?

    Dokter menjelaskan tak jarang ini terjadi karena Amar adalah sumber bahagia terbesar dan kesedihan bagi Sabina. Secara berkala manusia memang melupakan kenangan dan pengalaman buruk mereka, tapi kejadian semacam ini bukan berarti tak ada penjelasan medisnya, ini tergolong wajar dan bisa pulih atau terlupa sama sekali jika alam bawah sadarnya menolak mengingat siapa Amar. Setelahnya Amar tak begitu mendengarkan penjelasan medis dari dokter, ia tercenung lama. Sabina melupakannya, sedari dulu melihat gadis itu tertawa-tawa dan bersama laki-laki lain saja hatinya sudah panas. Apalagi dilupakan? Tidak tahu bagaimana menalangi hatinya jika itu benar terjadi dan selamanya?

Kulihat kami sampai di lampu merah kedua dalam perjalanan menuju apartemen Amar. Amar menghembuskan napasnya dengan berat.
    “Setidaknya Sabina bangun. Dia sehat dan sadar itu sudah cukup. Kalau memang dia tidak mau mengingatku… aku akan tetap mencintainya.”
Aku tersenyum getir melihat Amar di balik stir. Oh, Amar.. Pantas saja Sabina menyukai dirimu.
                                   ***
   Kembali ke rumah sakit. Semua keluarga sudah pergi. Sejak tadi ibu, ayah, dan Makki menjelaskan sampai berbusa pada Sabina tentang siapa Amar. Makki tak jarang mengeraskan suara karena Sabina masa bodoh. Ia masih marah, kenapa ibu dan ayahnya menikahkan seseorang yang sedang koma? Bahkan Sabina tidak mengenal pria itu siapa. Makki naik darah, Sabina yang suka Amar pasti akan berterima kasih pada mereka, tapi Sabina yang keras kepalanya kumat ini sungguh menjengkelkan walau sedang sakit.

    “Amar ini.. Kamu suka dia 10 tahun lebih Sab!. Kamu kecelakaan karena melihat Amar makan berdua dengan seorang wanita di salah satu restoran, mobilmu terguling nyaris terlindas kereta. Amar yang bawa kamu ke rumah sakit!” Berbusa Makki menjelaskan. Bahkan ada bukti otentik surat nikah, banyak Makki jelaskan bagaimana Sabina sering curhat padanya.
      “Kalian bisa keluar sebentar? Aku mau sendirian.” Ujar Sabina menyerah. Kepalanya terlalu pusing mencerna fakta tersebut.
Akhirnya mereka semua memilih keluar. Ibu meminta Sabina memanggilnya jika membutuhkan sesuatu.
Sabina membiarkan aku tetap di dalam. Sudah 6 bulan tanpa aktifitas fisik, wajahnya pucat sekali dan berat badannya turun banyak, terlalu lemah bahkan jika itu untuk berjalan. Setelah mengamuk tadi tubuhnya seperti baru sadar bahwa syaraf-syarafnya melemah karena tak pernah dipakai selama 6 bulan dan ia terjatuh di pinggir ranjang rumah sakit. Dokter memeriksa dan meresepkan obatnya, Sabina akan latihna berjalan selama beberapa waktu untuk kembali normal beraktifitas.
  Sekarang ia hanya berbaring lesu memperhatikan buku nikahnya, tepatnya pada foto Amar, laki-laki yang memiliki tatapan meneduhkan bagi siapapun yang memandang. Ia seperti dijebak dalam hubungan yang dipaksakan ini. Ia merasa tidak asing dengan Amar tapi hatinya ngilu sekali jika melihat wajah pria itu. Entahlah, barangkali ia sedang tidak bisa berpikir jernih sekarang.
      “Amar bisa menunggu. Kamu fokus saja dulu pada penyembuhanmu Sab..” ujarku lirih entah Sabina dengar atau tidak.
Tok tok tok!
Makki masuk ke ruangan lagi dengan raut muka tidak enak karena mengganggu. Kakaknya yang wanita macho ini membawa ponsel Sabina yang dia bawa selama Sabina tidak sadar.
    “Sab, maafin kakak tadi kelewat emosi. Coba kamu ingat-ingat lagi. Ini ponsel kamu, Amar itu separuh hidupmu dan kalian sudah seperti magnet yang saling tarik menarik. Bisa jadi kamu akan ingat siapa Amar kalau buka ponselmu. Coba pikirkan baik-baik setelah pikiranmu sudah lurus, kami tidak akan pernah mengambil keputusan tanpa melibatkanmu Dek.. kamu pernah bilang gini ke Kakak, Amar adalah keseimbangan kamu.. dalam hidup ini kamu gak butuh yang sempurna… tapi buat apa jika mudah jatuh ketika kamu bersadar padanya. Kamu menemukan keseimbangan dalam diri Amar. Bukan kesempurnaan yang kamu cari, tapi keseimbangan. dan Amar buat kamu merasa seimbang.”

    Sabina tidak menjawab. Ia tidak pernah merasa mengucapkan kata-kata semacam itu. Kakaknya yang berhijab lebar dan jalannya macho ini juga bukan tipe orang yang romantis dan suka membaca novel sastra. Jikalau mulai sok romantis begini pastilah diracuni Sabina. Meski tak pernah menulis buku sendiri Sabina adakah editor yang memastikan tak melewatkan satu bab pun dalam novel yang ditanganinya.
     “Kakak tinggal di meja ya? Kakak keluar dulu..”
Makki meninggalkannya sendirian lagi. Tak mau memaksa adiknya bicara.
 Ragu-ragu Sabina menghidupkan ponselnya. Ia tidak tahu siapa Amar, yang ia tahu ia kecelakaan menghindari bus yang rem blong dan membanting stir dengan reflek ke sembarangan arah, malah tertabrak mobil lain dari arah berbeda dan terguling melewati rel kereta yang dalam hitungan detik lokomotifnya berjalan konstan nyaris menyambar mobilnya. Hanya itu yang ia ingat, ia tak ingat sama sekali bahwa alasannya mengemudi dengan pikiran kosong adalah Amar. Apakah Makki sudah pandai menulis cerita sekarang? Mengarang-ngarang yang tak pernah ada.
     Sabina membuka ponselnya, ia pelajari semuanya. Akankah ada Amar di sana?
Aku hanya mendengus melihat Sabina berulang kali tercekat sendiri dan mengernyitkan dahinya.
  “Sebenarnya apa yang Sabina dulu rasakan pada Amar sampai ini semua bisa terjadi?” Tanya Sabina pada dirinya sendiri. Aku tersenyum tipis mendengarnya.
   Kamu tidak boleh menyembunyikan Amar dalam kotak kenangan di otakmu Sab, berusahalah untuk mengingat… demi aku. Percayalah, kamu butuh Amar dan sebaliknya.

.

.

.

🔜Tbc part selanjutnya… ➡➡➡

Karissa’s Note:

Anyeong! Oke nyong… 😆. Saya kepikiran cerita ini lama sih, sejelas saya bisa bayangin bentuk ayam hidup duduk di atas meja saat saya lihat potongan sayap ayam di piring. Pernah kepikiran cerita seperti ini tiap saya ke rumah sakit, seru kali ya? Lihat orang amnesia. Kepikiran untuk merealisasikan ceritanya berkat gambar di postingan ini. Ilustrasi dari seorang ilustrator Korea.
Kenapa saya post di sini? Iseng, daripada disimpen sendiri, kalee aja ada yang mau baca. Semoga terhibur yah.. ini dilanjut gak part 2 dan seterusnya? Tergantung mood dan respon yang baca pengen dilanjut tidak?

Advertisements