[Unimportant] Buku-buku Menarik yang Saya Baca 2017 – Edisi November.

dss (29)

Sensei ganteng dari Day Shooting a Star ♡ “Banyakin baca ya Nak…” wkwk

 

  Karena part 1 sudah terlalu panjang untuk diskroling ke bawah, maka saya memutuskan bikin part 2 saja. Lagian kan akhir bulan saya sudah komitmen buat posting buku apa yang dibaca bulan tersebut.

○ 47: Bittersweet Rain – Sandra Brown

Bagaimana jika wanita yang kau cintai menikah dengan ayahmu? Novel barat yang satu ini mengupas perihal permasalahan keluarga yang njlimet. Katakanlah ayah tidak suka anaknya dekat-dekat dengan gadis miskin, bukan hanya itu.. karena ia benci pada anaknya sendiri. Ia memisahkan keduanya jangan sampai bersama, cara-cara yang diambilnya pun cukup licik.. si anaknya difitnah menghamili gadis lain kemudian dinikahkan. Si gadis tadi salah paham dong.. ia kemudian fokus mengejar ambisinya untuk menjadi orang terpandang. Sandra Brown cukup jeli melihat permasalahan sosial, strata dan kultur.. pemahaman soal seseorang status sosialnya ditentukan sejak ia lahir dari keluarga mana dan tidak akan berubah sekalipun si terkait sudah berusaha melakukan social climbing.. whatever! Sekali kau anak penjudi maka selamanya akan direndahkan. Nah, tokoh utama wanita kita tidak mau.. susah payah ia berjuang nyatanya bisik-bisik tetap ada terlebih ia menikahi pesohor kaya raya terpandang di daerahnya.

Singkat cerita setelah perang dingin lama… kedua tokoh utama mendapatkan kebahagiaannya, tidak mau ambil pusing omongan orang-orang.

○ 48: About Love – Tere Liye

Wejangan soal cinta. Kebanyakn sih gini.. cinta itu perasaan irasional tapi kita harus menanggapinya secara rasional. *haha

○ 49: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Danar… kau suka kan pasa Tania sejak dia kena paku payung di bus? Karena dia merefleksikan diri Danar sendiri ketika kecil.

Favoritku adalah Danar dan Tania di Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Masa ngefans pada Alfa yang songong perlente tlah usai… hahaha. Danar ketemu Tania yang sedang mengamen dengan adeknya di bus kota, Danar mulai simpati padanya dan membiayai sekolah Tania dan ikut andil dihidupnya sampai dewasa.. saat pertemuan itu Danar 25 tahun dan Tania 11/12 tahun. Danar membunuhi perasaannya ketika sudah mulai tumbuh, paling ekstrim ia menikah dengan Ratna untuk memutus gundahnya. Helooo.. Danar, kenapa?  Saya merasa Tere Liye riset karakter Danar dari dirinya sendiri *eh. Iya… soal Danar yang bekerja di bidang keuangan dan menyambi menjadi penulis misterius yabg di ceritanya punya nama pena seperti perempuan. Hahaha.. entahlah..

○  50: Boy Candra – Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang

Boy curhat, dan saya tidak keberatan membacanya. Kebanyakan soal penyembuhan hati ke hati baru dan seterusnya. Dari buku ini gw lihat.. Cinta itu bukan perihal sentuhan dan pelukan saja, soal kepercayaan dan ketentraman.

○  51: Tere Liye – Ayahku (Bukan) Pembohong. Mendidik anak dengan cerita, Dam tumbuh mengagumkan berkat cerita-cerita ayahnya. Sayangnya ketika Dam dewasa ia minta penjelasan logis apakah semua ceritanya nyata atau omong kosong?. Ayahnya urung menjelaskan tapi diakhir khayatnya Dam mengerti itu semua nyata, ayahnya tak mengada-ada.

○ 52: Poligami dalam Hukum Islam

Kali aja suami saya nanti kepikiran mau poligami. Gw suruh belajar aja dulu agama yang bener.. sok sok an, elu mau poligami? Punya apa? Iman udah setebel apa? Sanggup nafkahin banyak orang?. Gak kasihan anak-anak lu?. Syarat & ketentuan berlaku tentu, jikalau beliau sanggup maka saya mundur minta cerai saja *huhu. Orang-orang berpikir ini tidak adil, namun terkadang ada permasalahan dan hukum ini diatur demi kemaslahatan bersama.

Memang tak perlu minta izin buat poligami, cuman dikasih pemberitahuan. Tapi kalau tidak ada permasalahan ya mbok ya sadar diri laki-lakinya.. situ kuat nanggung dosa orang banyak di hari penghakiman kelak? Situ hidup bermasyarakay lho.. gak boleh egois. Jika cinta saja yang diutamakan dalam pernikahan toh cinta pada manusia kadang ada naik turunnya, barangkali 5-20 tahun debarannya sudah menyusut, tapi cinta ke Rabbnya harusnya eternal dan selalu diperbarui.

Intinya syarat dan ketentuan berlaku serta manusia nya jangan hanya nuruti nafsu. Dipikir lagi konsekuensinya.

○ 53: Dasar-dasar Memahami Tauhid.

Akhlak dan tauhid selalu berkesinambungan. Islam kan pada dasarnya adalah santun dan luwes orangnya, baru balas mencakar kalau diserang. Pernah denger cerita Rasulullah ngamuk dan bentak-bentak orang? Gak pernah kan? Beliau ini gak pernah marah.. akhlaknya luar biasa. Saya pernah diceritani gini, jikalau nabi Yusuf saja terkenal berkat ketampanannya.. maka Nabi Muhammad itu dua kali lipatnya, ibaratnya semangka dibelah dua.. separuh milik Rasulullah dan seperempatnya adalah Nabi Yusuf. Dan sisanya dibagi milyaran dan triliunan manusia di bumi.

○ 54: Perayaan Tahun Baru itu syiar kuffar

Memang tidak ada tahun baru. Orang islam kan kalendernya hijriah, apalagi yang dibikin sok islami sholat malam bersama.. apa-apa itu pula? Wkwk. Konon katanya perayaan ini bermasa silam merupakan semacam ritual kaum pagan gitu dan pada prakteknya malah jadi jima’ masal.. gw jika sekalipun gak tau menau bab ini.. tetep aja gak suka tahun barunan. Soalnya saya tidak nyaman berada di keramaian. Beda cerita kalau ramainya berdesak-desakan di tanah suci.. pengeeen!! Hahaha

○  55: Kesesatan Syiah

Yagitu deh… hati-hati dalam berislam ria.. islam banyak cabangnya. Kudu pinter-pinter menghindari yang agak ehem… hahaha

○  56: Berjilbablah Wahai Saudariku

Hijab itu wajib tak bisa diganggu gugat lagi, tapi baik buruknya hidupmu adalah pilihanmu. Mau menjemput hidayah atau mengabaikannya. That’s simple.. maksudku gini teh.. hukum perdata dan pidana.. KUHAP pasal berapa pun di suatu negara mengikat dan wajib dipatuhi. Tapi kalau mau melanggar itu hak anda dan konsekuensi ditanggung sendiri.

○ 57: Bantahan Terhadap Pluralisme

Pluralisme apaan sih? Yang digembar gemborkan adalah soal menghargai perbedaan beragama. Saya setuju… tapi di buku ini cukup ngeri pembahasannya. Bagi sebagian orang pluralisme adalah persamaan, sempat di tahun keberapa gitu.. ada beberapa pihak terkait yang mengajak pertemuan dan diskusi ini itu soal agama serta paling ekstrim beribadah bersama dengan cara masing-masing, nyambung dari mana? Lalu ada soal kelompok senewen yang mau mencetak semua kitab dalam satu bendel. Heloo… masuk akal dari mana, itu pluralisme dalam artian keblabasan dan tidak boleh.

Bagiku pluralisme lebih seperti ke hidup rukun bermasyarakat tanpa saling mendiskreditkan satu sama lain. Gak akan nyambung sama sekali kalau kita coba mendiskusikan apa-apa yang masing-masing umat yakini. Iman itu adanya di dalam hati..

○  58: Kunci Rezeki

Ini bukan bukunya Ippo Santosa atau siapalah itu yang nganan nganan itu *wkwk. Saya pernah baca bukunya beliau juga, bagus. Tapi ini buku karangan seorang syekh yang gw males nulis namanya yang cukup jlimet *hahaha, intinya kita kudu banyak-banyak nambal dosa yang terdahulu atau sekarang, banyakin istighfar… bagaimanapun juga semuanya datang dari Allah maka kita harus merayu Tuhan atas segala sesuatunya dalam hidup. Himnae chagiya.. all is well!

○  59: Abdurrahman bin Nashir As-sadi – Meraih Hidup Bahagia

Saya suka ini. Bahagia itu jangan dicari diluar diri kita, ke dalam… ingat sama yang Maha Kuasa. Terus istiqomah atas ketentuan-Nya.

○  60: Wasiat Emas Bagi Pengikut Manhaj Salaf

No comment…

○  61: Adab Penuntut Ilmu

Ilmu adalah cahaya, maka bersihkan hatimu untuk mudah menerimanya. Hatinya dibersihkan, jangan iri dengki, dendam apalagi, selalu bersyukur, ikhtiar tanpa putus Insha Allah Rabb bermurah hati memberikan setitik ilmu-Nya pada kita. Aamiin..

○ 62: Barangsiapa yang Menyerupai suatu kaum maka ia Termasuk Golongannya – dr Nashir bin Abdul Karim al-aql

Boleh gak orang muslim ngucapin selamat atas hari raya umat lain? Di buku ini secara tegas menjelaskan dengan dalil lengkapnya “Tidak boleh”. Jika ada yang protes, lho.. bukannya kita yang penting niatnya ya? Kan jago bahasa arab bukan berarti orang arab ya kan?. Pokoknya dalam buku ini  membantah “Gak boleh!!”. Dari nalarku ke buku ini sih gini.. iman kan siapa yang tahu ya? Tapi iman itu juga harus  dibuktikan dengan tindakan. Muslim dihimbau buat mencukur kumis dan memelihara jambang biar tidak menyamai kaum yahudi/protestan, tapi saya kog merasa anxious tiap lihat orang cambangnya ketebelan… yang tipis-tipis aja deh, iya… saya ngerti itu kulit dibagian sana rasanya pasti panas tiap habis dicukur. Kata cowok-cowok *wkwk.

Ada golongan yang tidak merayakan Maulid Nabi juga.. takutnya menyamai Yesus. Rasulullah saja tidak pernah mengistimewakan hari lahirnya sendiri. Tapi saya juga bisa memahami Maulid ini bertujuan menarik antusiasme anak muda dan anak-anak untuk mencintai Rasulnya. Tapi kalau kita yang udah gede gini, kalau memang cinta ya dimuliakan tiap hari dong.. jangan pas antusiasnya hari lahirnya doang. Beberapa golongan yang kontra maulid ini, menurut pahamku bukan karena mereka tidak senang hari jadi Rasul.. mereka saja sholawatnya bisa 100x dari orang biasa, namun ada keengganan justru malah seolah mendewakan hari jadinya. Logika gw sih gitu..

Kalau saya kenapa kurang suka ultah sendiri? Bukan karena saya pro pihak tadi.. tapi saya merasa umur berkurang apa indahnya? Namun saya sering mengucapkan selamat ke mereka yang ultah karena mereka seneng dibegitukan. Kalau saya yah.. biasa aja. Tak pernah menunggu-nunggu atau nafsuan merayakan, jikalau pun tanpa tau ilmu ini pun saya merasa ultah bukan hari yang spesial kecuali inget Ibu melahirkan. Kalau memang sayang dan cinta padaku.. apa cuma hari lahir saja saya diistimewakan? Hari lain diabaikan?

○  63: Tere Liye – Sepotong Hati Yang Baru

Kumpulan cerpen. Saya suka yang dua anak shaolin, nyonya-nyonya belanda van houten, juga pening gw bacanya pakai ejaaan lamaa? Wkwk  Doeloe, itoe kamoe poenya mata! Hahaha

○ 64: Tere Liye – Rembulan Tenggelam Di Wajah-Mu

Kisahnya Ray yang diajak jalan-jalan malaikat menyusuri kehidupannya sejak kecil sampai tua, ketika koma. Semua pertanyaannya dijawab, kenapa dia harus di panti? Kenapa hidup tidak adil? Kenapa hanya orang-orang baik hidupnya menderita? Kenapa hidupnya hampa?. Ray diajak menerungkan semua yang terjadi di hidupnya, rupanya takdir yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Ia sempat merasa bahagia sekali setelah menikah dengan Fitri si gigi kelincinya, lalu hampa sepeninggal istrinya. Kenapa ray selalu mendapatkan malapetaka di hari raya. Ray pikir semua tidak adil, tapi selama perjalanan jiwa tsb ray tertohok berkali-kali bahwa Tuhan sudah seadil-adilnya menulis hidupnya.

Tere Liye dalam bukunya selalu implisit mengatakan, jangan cari bahagia dari luar diri apalagi nafsu duniawi.. Ke Tuhan teruslah maka akan damai, bersyukurlah, merasa cukuplah dan selalu ikhlas menerima takdir. Jangan menyalahkan Tuhan.

○  65: Tere Liye – Negeri Para Bedebah

Thomas! Maaf kalau gw gila’.. tapi saya beneran bayangin setnov jadi Om Liem, soalnya Om Liem diselundupin Thomas kabur pas digerebek petugas *hahaha!. Thomas ini nerdy nya rada mirip sama Alfa – Supernova Gelombang, songong tapi kompeten jenius. Waktu baca Negeri Para Bedebah saya lagi seneng sama Gibran Marten jadi saya pinjem muka dia jadi Thomas *wkwk.

Kasus bank semesta mengingatkan diriku pada Bank Century, seriously.. bank swasta tapi kalau pailit dan mengkap-mengkap gini negara juga ngikut rugi bandar. Lantas ada pihak lain yang pesta pora. Dan.. as u know, pertumbuhan ekonomi negara kita ini

banyakan cuman hitam di atas putih. Hanya para kaum ataslah yang beneran merasakan keuntungan tersebut, kaum-kaum yang girang kalau dollar naik. Rakyat hanya gelintiran doang, masih sama aja tuh nasibnya.. palingan merasa galau kalau sembako naik, bbm naik, ya gitu gitulah. Dan Tere Liye sangat capable menjelaskan berbagai siklus ekonomi di sini.

Agak riskan memfilmkan novel sesangar ini. Selain karena konten yang cukup menyentil, juga karena pasti lebih seru novelnya yang kayak roller coaster! Wuhuuu… bagus banget!

○ 66: Abdurrahman al-Jami – Pintu Pahala dan Penghapus Dosa.

Konsisten berbuat baik itu susah. Tapi apa sih yang gak bisa di dunia ini?

○  67: Half Girlfriend – Chetan Bhagat

Kisah seorang half girlfriend. Penulis terkenal suatu hari mendapatkan tamu aneh memaksanya membaca diary orang yang sudah meninggal. Tepatnya milik si half girlfriend.

Novel ini ditulis orang india, kurang tau apakah Chetan Bhagat langsung menuliskannya dalam bahasa penjajahnya.

○  68: The Hunger Games 3 MOCKINGJAY

Saya kurang suka ngomongin politik sih. Dan ini novel lebih ke politik, dan ada orang yang lebih jago politik barat sono ketimbang gw. Yang jelas saya menikmati alurnya. Katniss si pemberontak.

○ 69-70-71 Trilogi Dilan

Nyaris lupa mau masukin 3 buku ini. Iya, saya suka Dilan yang lucu meski ujung-ujungnya malah saya agak sedih inget anak nakal model beginian. Kisah cinta remaja banget, novel metropop gitu yang seminggu 3 buku bisa kelar karena gaya bahasanya ringan.

Kalau saja Milea tidak memutuskan Dilan dan Dilan mau menjelaskan situasinya dan bagaimana sebenarnya geng motornya dia, kemungkinan Lia bisa menerima dan mereka langgeng sampai nikah. Sayangnya mereka terlalu muda saat itu.

Tujuan pacaran itu putus entah pisah atau nikah. Tapi Pidi Baiq… itu kagak

berlaku buat orang islam yang menganggap pacaran itu gak ada, kecuali abis nikah. Kayak gw gini… *hahaha.

Banyak sih Dilan lucunya, semua tingkah anehnya dan kocolannya yang tidak terkesan menggombal murahan ke Lia. Saya ngeri sama puisinya dia ke adeknya yang jangan pergi jauh-jauh kau adikku… dalam tubuhmu mengalir darahku. Ih ngeri ini orang! Hahaha.

Yang saya suka dari Lia, padahal banyakan pembaca gak suka Lia. Ya lumrahlah… Lia kan cantik, tipikal heroine novel gitu yang dikejar banyak orang… saya sukanya karena dia bisa terbuka nanggapin Dilan yang sengklek, kagak jaim.

Suka juga pergolakan hatinya Dilan sewaktu tau Lia pergi dengan Kang Adi, ia berdebat dengan diri sendiri bahwa Lia itu bukan pacarnya jadi dia gak ada hak buat kecewa. Tapi ia hanya merasa kesal karena Lia itu masuk daerah teritorialnya dia dan dia tidak suka Lia dekat dengan yang lain. Lalu dia dengan yakin ingin membuat semuanya jelas. Jelas-jelas Dilan cemburu tapi gak mau ngaku. Dasar…

○ 72: Boy Candra – Senja, Hujan, Cerita yang Telah Usai

Saya suka intronya dia yang; Mari mengenang tapi jangan lupa pulang.

Katakan pada masa lalu, kita adalah cerita yang telah usai.

Wkwk, tapi apalah saya ini… saya bukan pecinta hujan, hanya seorang perempuan yang kagum dengan punggung kucing.. betapa anggunnya hewan ini berdiri diam ditatap dari belakang ♡ ugh.. giyeom ♡

Semoga tulisan kali ini tidak menyinggung siapapun, ini murni pendapat saya perihal bacaan saya bulan November ini.

 

Advertisements

[K-Movie] You Call It Passion – Part 1

      Para pemagang diberi wejangan,

“Bawalah pil untuk mual, mulas. dan sakit kepala. Ingat kataku, kalian akan membutuhkannya. Salah seorang belum hadir.”

Seorang pria datang dan meminta maaf, ia adalah Seo Jin. Do Ra Hee ( Park Bo Young ) terkejut melihat Seo Jin. Seo Jin yang terlambat langsung diomeli, hari pertama kerja sudah telat. Kemudian mereka diinstruksikan jangan memanggil senior mereka dengan bujang-nim. Jangan terlalu formal.

Mereka dibawa masuk ke ruangan. Semua artikel kecuali olahraga Dan hiburan di kerjakan di sini. Direktur Oh datang, ia bertanya siapa yang masuk Divisi hiburan? Salah seorang mengangkat tangannya. Kemudian para senior lainnya mencari pemagang di divisi mereka masing-masing.

Ha Jae Gwan marah-marah pada seseorang di  telepon, ia memaki-makinya dan bahkan membanting telepon kabelnya sampai rusak. Para senior dan pemagang memandanginya ngeri, Direktur Oh mengatakan kalau Ha Jae Gwan begitu memang sudah biasa, siapa yang masuk divisi entertainment?

Dengan ragu-ragu Do Ra Hee mengangkat tangannya. Cemas, neraka sekarang tepat di depan matanya.

   Itu adalah telepon rusak yang kesekian kalinya, yang lainnya disimpan di laci. Do Ra Hee berdiri di sekitar sana dengan kebingungan. Ha Jae Gwan turun dari lantai atas. Tangan Reporter Sun Woo terluka karena meliput. Ha Jae Gwan menyarankan untuk dituntut saja penyerangnya biar tahu rasa!

Reporter Sun Woo menjelaskan bahwa ia merekam Woo Ji Han secara illegal, jadi mustahil ia bisa menang. Ia akan kalah nantinya. Ha Jae Gwan ingin sekali menghabisi karir Woo Ji Han, ia marah-marah dan mengumpat. Bawahannya hanya menjawab iya.

Ha Jae Gwan bertanya ke Do Ra Hee kenapa berdiri saja di sini. Ra Hee dengan sopan menjelaskan ia adalah pemagang. Han Jae Gwan memperhatikan penampilan Ra Hee dari bawah ke atas yang terlalu rapi. Ia heran, apa HRD punya dendam dengannya kenapa mengirimkan orang tidak berguna?

Ha Jae Gwan melihat resume yang diserahkan Ra Hee tadi. Merasa lucu dengan namanya Do Ra Hee, ia juga mengatakan bahwa pemagang dapat 900 won tanpa libur dan tanpa bonus.

Ra Hee bertanya apa benar tidak ada liburnya?. Ha Ja Gwan langsung memakinya, gila apa? Sudah jelas tadi dikatakan tidak ada libur! Kalau Ra Hee tidak mau toh penggantinya Ra Hee masih ada banyak yang mengantri. Mau kerja tidak?!

Ra Hee bergegas menjawab ia mau. Han Jae Gwan memarahi Ra Hee kembali karena terlihat tidak bersemangat. Ia menyuruh Han Sun Woo untuk membimbing Ra Hee. Ingat! Semangat!. Sebelum pergi ke Han Sun Woo, Ra Hee disuruh mengatakan “Semangat!” 3 kali. Ra Hee meski kebingungan ia melakukannya dengan canggung. Hasilnya ia ditertawakan para seniornya.

Seo Jin mendekati Ra Hee ketika pulang, ia bertanya kenapa Ra Hee bekerja di sini mengingat Ra Hee pintar dan sering juara kelas. Ra Hee hanya menjawab, ya begitulah. Ra Hee sendiri penasaran kenapa seniornya ini bekerja di sini juga, bukankah sebelumnya membuka usaha fotografi. Seo Jin menjelaskan selagi muda ia mau mencari banyak pengalaman.

Para pemagang tadi makan dan minum bersama, mereka membicarakan betapa tidak adilnya gaji mereka yang kecil padahal sudah belajar mati-matian dan malah diperlakukan seperti sampah. Yang lain berseloroh, mereka ini pemagang tanpa kontrak jadi pantaslah digaji kecil.. jadi jangan mengeluh, jalani saja. Mereka harus bersyukur daripada tidak punya pekerjaan.

Ra Hee tidak bisa minum, Seo Jin melarang salah seorang yang hendak menuangkan minuman ke Ra Hee. Kalau Ra Hee minum ia akan menyebabkan masalah.

Pagi-pagi Ketua Ha Jae Gwang mendapatkan informasi bahwa mobilnya U-Kiss mengalami kecelakaan. Sayangnya ia lihat di papan tugas bahwa semuanya sibuk, ia terpaksa menghubungi Ra Hee yang masih tertidur.

Ra Hee mendatangi rumah sakit, ia banyak terjatuh.

Dokter tidak begitu mengerti pertanyaan para wartawan yang asal ceplos, terlebih si dokter tidak tahu nama-nama member boyband tersebut. Satu yang pirang harus dioperasi, 4 lainnya harus istirahat. Dan pertanyaan paling aneh sehingga membuat semua orang diam adalah, apakah ada kemungkinan dia akan mati? *hahahah

Beberapa wartawan heran, reporter dari mana itu?. Dokter pun tercengan, ia memilih pergi daripada makin runyam.

Ha Jae Gwan menghubungi Ra Hee, Ra Hee menjelaskan Kevin tulang rusuknya patah dan luka di wajah. Ha Jae Gwan bertanya rusuk bagian mana?. Ra Hee mulai kebingungan karena dokter tidak menjelaskannya serinci itu.

Jae Gwan memarahinya, ia menyuruh Ra Hee menghubungi manajernya U-Kiss. Kesal, Ra Hee nyaris mengumpat.

Ia berjalan dan tanpa sengaja berbenturan dengan Chae-eun salah satu seniornya dulu. Chae-eun geli melihat Ra Hee kerja di Dong Myung. Ra Hee minta Chae-eun jangan mengoloknya begini.. ia bagaimana pun juga baru mulai bekerja.

Chae-eun sendiri diketahui sempat kerja di sana selama 18 bulan lalu muak dan berhenti. Chae-eun menunjukkan manajernya  Kevin.

Manajernya juga tidak begitu mengerti. Ra Hee mengirimkan pesan ke Ha Jae Gwan bahwa Kevin di X-ray. Ketuanya menelpon ingin tahu Kevin di X-ray berapa kali. Ra Hee bingung, ia akhirnya mencari manajer tadi dan bertanya. Manajernya mengatakan mungkin 30 kali, ia tidak begitu ingat. 6 diantaranya memperlihatkan sesuatu jadi Kevin akan di CT-Scan besok.

Ra Hee menyarankan untuk manajer, katakanlah nanti ke orang-orang lainnya bahwa Kevin di X-ray 32 kali. Manajernya dengan o’onnya menurut.

Ra Hee melapor. Lagi-lagi Ha Jae Gwan tidak terima, ia mau tahu di X-ray di bagian apa saja?

Ra Hee kesal, ia istirahat sejenak. Di kantor, Ra Hee masuk tivi siaran langsung dari berita tivi lain, Ra Hee tampak makan. Ha Jae Gwan mengumpatinya apa sudah gila? Ia lalu menghubungi Ra Hee, menyuruhnya pergi dari sana. Ra Hee bilang ia baru bisa makan seharian ini. Ia berlarian bingung menghindari kamera.

Tapi malah ditarik si reporter yang mengira ia bekerja untuk U-Kiss. Ha Jae Gwan malah menyuruhnya lakukan interview sekalian sana! Wawancara! Kau pantas makan begitu kalau kerjanya tidak benar?

Ha Jae Gwang memarahinya. Ra Hee sudah diambang kesabarannya, ia balas mengumpati bosnya. Di kantor ia jadi bahan tertawaan.

Di perjalanan pulang ibunya mengubungi, bangga sekali anaknya barusan masuk tivi. Ia juga akan berhenti membantu pembayaran apartemen Ra Hee mulai sekarang. Ra Hee syok, keputusan ibunya mendadak sekali.

-* You Call It Passion *-

      Ha Jae Gwang menyuruh Han Sun Woo meliput Woo Ji Han, namun Sun Woo mengatakan ia harus meliput lainnya. Ketua menyuruh Ra Hee sebagai gantinya dengan alasan pihak keamanan Woo Ji Han tidak mengenal Ra Hee, lagipula Ra Hee kecil mungil dan sulit dilihat.

“Benar, tapi apa yang harus aku liput?” Ra Hee bingung

“Seperti. Dia sombong. Liput aktingnya. Aktingnya itu memang payah.”

“Tapi mereka tidak menampilkan film pada saat wawancara.”

“Bukankah Trailer-nya sudah keluar?” Tanya Ketua ke yang lain. Katanya Trailernya baru keluar satu di sana nanti. Ra Hee lalu bertanya bagaimana bisa menilai akting jelek dari satu trailer?.

Ketua lalu menyuruh Han Sun Woo memberikan contoh artikelnya. Han Sun Woo lalu melisankannya “Peluncuran trailer filmnya diharapkan bisa menaikkan perhatian ke akting Woo Ji Han sekali lagi.”

“Itulah penulis mengagumkan. Bukankah itu mengagumkan?” Ha Jae Gwan bertepuk tangan. Tetap saja Ra Hee tidak setuju, apa bagusnya meluncurkan Trailer dengan menarik perhatian aktingnya?

Ha Jae Gwan kesal, ia memarahi Sun Woo bagaimana caranya melatih Ra Hee?

Sun Woo mengajak Ra Hee keluar, ia menasehatinya. Menurut Sun Woo banyak yang Ra Hee tidak tahu, jika Ra Hee mulai buka suara ia akan jadi masalah. Jangan pikirkan, rasakan atau mengeluh sekarang. Semua itu akan datang saat kau pantas mendapatkannya. Mengerti?

Ra Hee tidak menjawab. Sun Woo membentaknya, dengarkan! Jangan lakukan itu lagi! Jangan perlihatkan perasaanmu!!

Di kursinya Ra Hee frustasi, ia mencari di internet dengan kata kunci “Bisakah pemagang berhenti?”. Ha Jae Gwang bertanya adakah yang bisa melakukan interview dengan Kim Woo Bin besok?. Semuanya tidak ada yang bisa, Ra Hee jadi mengurungkan niatnya untuk berhenti. Ia mengangkat tangannya dengan senang hati dan satu tangan lainnya menghapus keyword pencariannya. Ketuanya malah memarahinya, sudah gila? Mau mengetes kesabaranku ya?!

Ia menyuruh reporter lainnya saja yang meliput. Ra Hee kembali sedih.

Ketua menyuruh seorang reporter mewawancarai grup baru bernama Romio. Yang diberi tugas lalu menyerahkan tugasnya ke Ra Hee, dengan alasan ia tidak mau berurusan dengan grup yang baru debut karena banyak pekerjaan yang lebih penting menantinya.

Ra Hee mewawancai mereka.

Si juru bicara mengatakan lagu utama album mereka sebenarnya payah, ia lebih suka dengan track ketiga. Ra Hee bertanya kenapa tidak menyarankan bosnya menggantinya saja jadi track 1?. Si juru bicara mengatakan bahwa itu lagu ballad yang mendayu sedih, tidak akan banyak menghasilkan uang ketimbang lagu up-beat dengan koreografi.

Bos mereka hanya peduli dengan uang, pernah setelah 6 acara.. anggota termuda mereka sakit. Tahu apa yang bos katakan? “Kalau dia harus tetap bekerja untuk makanannya.”

Ra Hee menulisnya.

Para pemagang saling mengutarakan uneg-uneg mereka. Rata-rata senior mereka berengsek. Seperti contohnya banyak kasus artis wanita bunuh diri, senior banyak menyesalkan kenapa para artis itu tidak menyerahkan tubuh mereka dulu pada pria sebelum bunuh diri?. Benar-bener berengsek!

Yang lainnya mengeluhkan artikelnya ditolaki dengan alasan merupakan copy-paste dari internet. Disumpahi, dan dilecehkan. Dan banyak perlakuan tidak menyenangkan lainnya.