[K-Movie] Midnight Runners – Part 4

Para preman mendekat karena curiga. Mereka mulai memukuli Hee Yeol dan Ki Joon. Mereka terlibat perkelahian sengit, Hee Yeol dan Ki Joon berhasil menjatuhkan mereka. Kemudian mereka menginterogasi si ketua premannya, tapi ia tidak mau angkat suara.

Ki Joon mengambil setusuk sate, kemudian menusuk-nusukkannya ke pantat  si preman.

Mereka menuju tempat dikurungnya anak-anak. Hee Yeol juga melihat plat kendaraan yang sebelumnya ia lihat membawa Yunjung. Hee Yeol mengecek ke atas sendirian, anak-anak meminta dikeluarkan dari sana.

Ki Joon bertanya pada si preman tempat apa ini?. Dikatakan ternyata anak-anak tersebut diculik untuk diambil sel telurnya dan kemudian dijual, meski sel telurnya diambil anak-anak itu masih bisa hidup, Hee Yeol turun mengajak Ki Joon  melihat ruangan atas.

Ki Joon mendobrak salah satu ruangannya. Gadis itu demam dan berdarah karena diambil sel telurnya. Ki Joon mengangkatnya dan berencana ke rumah sakit, saat keluar mereka berdua disambut oleh para preman. Hee Yeol menghalau mereka. Sementara Ki Joon menjauhkan si anak dari mereka. Hee Yeol mulai kewalahan karena sendirian, Ki Joon hendak membantu.

Hee Yeol dipukuli banyak orang. Ki Joon ragu untuk mendekat. Si Ketuanya bertanya siapa Ki Joon? Ki Joon mengaku ia adalah polisi. Si Ketua tidak percaya, ia minta bukti lencana polisi.

Ki Joon dipukuli secara brutal, Ki Joon sesekali membalas sebisa mungkin.

Ki Joon dan Hee Yeol digantung di langit-langit. Hee Yeol yang siuman terlebih dahulu, Hee Yeol mencoba membangunkan Ki Joon dengan menggunakan ludahnya. Sekali gagal, yang kedua kalinya Hee Yeol mengumpulkan ludahnya lebih banyak dan meludah tepat di pelipis Ki Joon. Ki Joon terbangun,

Ki Joon merasa aneh karena ada sesuatu yang menetes di wajahnya.

“Kepalamu berdarah” Hee Yeol berbohong XD. “Aku tahu, rasanya seperti hangat” Ujar Ki Joon ngeri.

Ki Joon mengangkat tubuhnya dan berusaha melepaskan diri. Hee Yeol takjub melihat betapa kuatnya Ki Joon,  bukannya sama berusaha melepaskan diri.. ia malah menyemangati Ki Joon “Wuah! Fighting!” *HHHHH

Ki Joon terjatuh dengan keras, ia kesakitan. Hee yeol dibantu turun oleh Ki Joon. Semuanya hilang, dompet dan telepon mereka. Keduanya hendak keluar, tapi di luar mereka dijagai para preman yang tidur tumpang tindih.

Keduanya berhati-hati menahan napas dan melewati mereka. Terdengar suara orang buang angin, Ki Joon menuduh itu Hee Yeol. Hee Yeol menggelengkan kepalanya, itu bukan dia! Lalu melangkah lagi.

Nahasnya suara alarm jam Ki Joon berbunyi, mati-matian Ki Joon mencoba mematikan dan meredam suaranya. Yang ada para preman justru bangun dan mengejar mereka.

Keduanya berhenti dikejar setelah sampai di pos polisi. Para preman kabur kembali untuk mengamankan anak-anak.

Ki Joon dan Hee Yeol terengah-engah menjelaskan gadis-gadis dikurung di sebuah bangunan terbengkalai dan dimanfaatkan. Petugas mendengarkan, pertama-tama ia menginginkan KTP Hee Yeon dan Ki Joon karena itu adalah mekanismenya.

Hee Yeol memprotes, tidak bisakan dilacak lewat nomor KTP saja? Mereka tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Namun polisi mengatakan tetap tidak bisa, butuh prosedur dulu. Ki Joon murka, apa mekanisme lebih penting daripada nyawa seseorang?!. Si polisi balik marah, justru dengan aturan itulah mereka bisa menyelamatkan nyawa orang.

Ki Joon memakinya, Hee Yeol mencoba menenangkannya. Ki Joon dan polisi masih adu mulut, sampai si polisi menembak keduanya dengan pistol listrik.

Profesor Yang Sung Il datang setelah menerima panggilan. Polisi setempat mengatakan Ki Joon dan Hee Yeol tidak memiliki KTP dan membuat laporan palsu. Prof Yang berujar keduanya adalah taruna akademi kepolisian, ia adalah Prof. mereka.

Keduanya kemudian dilepaskan, mereka menceritakan kasusnya. Anak-anak yang diambil sel telurnya dan dikurung di sebuah bangunan terbengkalai. Hee Yeol menyerahkan buktinya. Prof Yang bertanya di mana lokasinya.

“Tahun 2007, aku menghadapi kasus seperti ini, dan saat itu pertama kalinya aku melihat obat untuk sel telur. Seorang wanita sehat biasanya menghasilkan satu sel telur per bulan. Dengan obat ini, dia bisa menghasilkan hingga 20 sel telur. Mereka menjual sel telur ke pasangan yang tidak mempunyai anak, dan dibayar dengan harga tertentu. Mendengar ceritamu… aku pikir ada organisasi khusus yang menculik gadis-gadis… untuk diambil sel telurnya, seperti di peternakan telur.”

Di TKP semuanya sudah kosong. Prof Yang mengatakan kasus ini bukanlah kasus yang bisa diselesaikan oleh kepolisian biasa, ia akan meminta bantuan Unit Investigasi Regional. Ki Joon dan Hee Yeol bertanya apakah akan segera dimulai investigasinya?

Prof Yang mengatakan tidak akan secepat itu, paling tidak 2 minggu dari sekarang. Hee Yeol bertanya bukankah Prof. Yang pernah mengajarnya yang terpenting adalah waktunya?. Prof Yang menjelaskan, itu benar.. tapi ada banyak kasus yang diselesaikan. Setiap nyawa itu penting.

“Apa ada unit yang bisa memulai lebih awal?” Tanya Hee Yeol

“Ada sesuatu yang disebut penyelidikan berbasis intelijen. Unit Investigasi Khusus (UIK) dan UIR biasanya menangani mereka. Tapi UIK lebih sibuk dari UIR sekarang.” Tukas Prof Yang

“Lalu bisakah kami mencari mereka sendiri?” Tanya Ki Joon. Hee Yeol juga sependapat. Prof Yang memahami perasaan Ki Joon dan Hee Yeol.. namun ini bukanlah sesuatu yang bisa mereka tangani. Kembali saja ke Akademi.

“Prof. Yang! Mereka lebih muda dari kita. Mereka diculik dan dikurung.” Bentak Ki Joon berapi-api.

“Kau kunyuk. Kau bukan polisi. Kau masih pelajar.”

 Bahkan jika kami adalah pelajar, kami menyaksikan kejahatan itu dan memiliki bukti. Kenapa kami tidak bisa melakukan apapun?” Bantah Ki Joon

“Jangan bicara begitu padaku. Biarkan orang dewasa yang menangani ini. Mengerti?”

Hee Yeol yakin pasti Prof Yang adalah seseorang yang bisa mendapatkan informasi pemiik kendaraan dengan sekali panggilan, Hee Yeol mengatakan nomor platnya dan memohon Prof Yang untuk membantu mereka sekali ini saja. Prof Yang lalu menghubungi rekan lamanya yang sudah 10 tahun tidak ia hubungi, mengatakan nomor platnya. Rupanya plat mobil tersebut illegal dan tidak terdaftar.

Prof Yang menasehati mereka untuk berhenti saja, belajarlah dengan giat. Jangan mengada-ada dengan menjadikan kasus ini satu-satunya sehingga menyuruh kasus lainnya diterbengkalaikan begitu saja. Jika keduanya mengurusi kasus ini mereka akan mendapatkan peluang dikeluarkan.

Dengan setengah hati mereka mengiyakan saran Prof Yang.

Ki Joon dan Hee Yeol pulang. Badan keduanya memar-memar dan terluka. Ki Joon dan Hee yeol masih mengkhawatirkan anak-anak tersebut apakah baik-baik saja.

Jae Ho datang, ia bertanya di mana jaketnya. Ki Joon meminta maaf dan akan menggantinya nanti. Jae Ho melihat tubuh keduanya yang babak belur langsung bertanya apa mereka tidak apa-apa?

Hee Yeol teringat bahwa ayahnya Jae Ho adalah polisi, pasti punya kenalan polisi Gangnam yang bisa dimintai bantuan untuk melihat CCTV mobil. Jae Ho mengiyakannya, ayahnya kenal banyak orang.. masalahnya yang di Gangnam itu.. Aku terlalu takut untuk mengatakannya.

Ki Joon dan Hee Yeol memaksanya bicara. Jae Ho takut-takut.

“Medusa!” Jawabnya dengan ketakutan.

Medusa adalah instruktur wanita mereka dulu yang galaknya bukan main. Joo Hee mendapatkan julukan Medusa karena tempernya sudah level setan. Barangkali mungkin setan akan minta maaf kalau ingin melintas di depannya Joo Hee XD

Seperti sekarang, dua orang bapak-bapak saja dia sentaki karena sudah bertindak tidak profesional. Main ponsel saat bekerja.

Hee Yeol menghubungi Medusa. Berbasa-basi terlebih dahulu baru mengutarakan maksud sebenarnya. “Apa yang kau inginkan?”

“Temanku jadi korban tabrak lari di Gangnam. Polisi mengatakan mobil penabrak itu tidak terdaftar.”

“Kami harus mencari secara manual lewat CCTV untuk menemukannya.”

Ki Joon memohon karena ini penting sekali. Joo Hee menyanggupinya. “Nomor plat, tahun produksi dan model… waktu dan tempat terjadinya, dan tempat terakhir terlihat. Kirimi aku semua itu.”

“Ya, Bu. “

“Aku akan menemukannya tidak peduli bagaimana. Kau tangkap pelakunya.”

“Ya, Bu.”

“Jadi tidak akan ada korban lain. Mengerti?”

Keduanya berterima kasih dan semangat. Sekarang Ki Joon dan Hee Yeol tinggal melakukan persiapan diri. Pertama-tama mereka memerlukan senjata.

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s