[K-Movie] Daddy You, Daughter Me – Part 4

Sepeninggalnya Na Daeri, Jo Daeri kesal dengan Do Yeon. Menyalahkan Do Yeon kenapa kejadiannya seperti ini. Do Yeon sendiri tidak mengerti, ia sejak tadi membuka-buka lipgloss perusahaan.

Jo Daeri menerima panggilan, tampa gembira setelahnya.

“Gwajang-nim… Tim marketing berniat menjual masker mutiara di saluran home shopping. Mereka juga bilang akan menggunakan stok 6 pelembab bibir kita sebagai hadiah.  Kau tidak senang?”

Jo Daeri tertawa senang namun Do Yeon tidak menanggapinya. Menurut Jo Daeri kesempatan ini sangat langka, ia lalu menyuruh rekannya untuk mempersiapkannya. Meski senang produknya disertakan, Jo Daeri masih mengangkat ponselnya dengan kesal dan menunjukkannya pada Do Yeon.

Sang Tae terperangah menatapi ranking Do Yeon. Ia diperingkat 29, bisa mati diketawakan Do Yeon kalau begini. Jin Young dan Kyung Mi juga melihat peringkatnya, Jin Young heran kenapa prestasinya Do Yeon turun banyak? Sedangkan Jin Young naik 3 peringkat jadi 26. Sang Tae juga tidak mengerti kenapa Kyung Mi yang kelihatannya pintar bisa jadi di poin buncit, 30. Kyung Mi marah, ia keluar kelas dengan cepat.

Kyung Mi mulai menangis dan Sang Tae menepuk-nepuk punggung Kyung Mi. Sang Tae bertanya kenapa? Apa jawabannya ngaco’ semua?

“Kau sekarang sedang menertawakanku? Bukankah aku ini selalu juara satu dari belakang? Pokoknya apapun yang kulakukan tidak ada yang berhasil.”

“Tidak apa-apa. Kau sudah sangat rajin.”

Jin Young nimbrung dengan mereka. Ia juga mencoba menenangkan Kyung Mi, sejujurnya Kyung Mi jadi lebih rajin dari sebelumnya. Jin Young menyarankan Kyung Mi jangan belajar gila-gilaan lagi, barangkali Kyung Mi tidak cocok dengan di bidang akademik. Jin Young mengatakan semuanya tidak ada gunanya, semuanya akan berakhir di restoran ayam.

Universitas bergengsi, fakultas bisnis administrasi, perusahaan besar, restoran ayam goreng. Universitas nasional, fakultas teknik, perusahaan besar, restoran ayam goreng. Makanya aku… setelah puas melakukan hal-hal yang kusukai, akan meneruskan bisnis ayam goreng keluargaku. (di Korea usaha yang paling banyak adalah restoran ayam goreng, coba deh.. drama apapun! Pasti ada aja ayam goreng.. laris manis, biasanya kalau stres mereka kan beli ayam goreng + soju)

Sang Tae tercenung, dalam hati ia membenarkan pemikirannya Jin Young.

Ada masalah. Jo Daeri mengabarkan ke Na Daeri bahwa Tim yang akan melakukan siaran terlibat kecelakaan dan tidak bisa kemari. Pihak home shopping sudah memberitahukan sebentar lagi akan disiarkan. Jo Daeri dan Na Daeri saling dorong siapa yang akan tampil. Jo Daeri meminta Na Daeri saja. Na Daeri beralasan ia ini fobia kamera dan balik menyuruh Jo Daeri yang jebolan beasiswa yang terbiasa dengan kamera. Jo Daeri ngeles.. ia bukannya tampil live namun hanya melakukan siaran.

Seketika mata keduanya berpaling melihat Do Yeon yang tengah berlatih menari.

“Kesempatan seperti ini jarang sekali ada. Jika Anda membeli 3 set masker Shangpree premium yang menjadi rahasia kecantikan dari Shangpree Spa selama 26 tahun, maka beli satu dapat satu. Tidak hanya itu saja, akan mendapat hadiah satu set lagi secara gratis. Jadi total semuanya adalah 6 set. Produk ini bisa dibeli hanya dengan harga 39 900 (Won). Ah, lalu cuma ini saja? Tentu saja tidak. Di sini sudah tersusun hadiah-hadiah.”

Do Yeon menjelaskannya dengan senang hati. “Nomor enam adalah warna peach. Warna ini sungguh berharga. Mereka yang pernah menggunakannya pasti sudah tahu. Belakangan ini para siswi sekolah menengah atas betapa menggemari pelembab berwarna ini, sudah tahu ‘kan? Para ibu-ibu boleh menggunakan masker ini.”

Bujang-nim dan ibunya Do Yeon juga menyaksikan siaran tersebut. Bujangnim nampak kesal dan menghubungi Jo Daeri menanyakan apa yang terjadi.

Sementara siaran masih berlangsung. Do Yeon bahkan juga menjajal lipgloss-nya bersama si penyiar.

(Ini gimana jelasinnya ya?, kalau pakai lipstick/lipgloss biasanya kita akan otomatis membuka dan menutupnya buat ngeratain.. yang terdengar seperti pakk pakk pakk, dan Do Yeon dengan si penyiar melakukannya di depan kamera sambil bilang pakk pakk pakk. Dan semua yang menontoni mereka juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama meski sedang tidak mengenakan lipstick XD Eee buset!)

Bujangnim, para timnya Sang Tae, ibunya Do Yeon, semuanya yang nonton *hhhhhh geli ih geli.. >_<

Sudah jadi trade mark.

Sang Tae sedang mengalami kesulitan, wali kelasnya bertanya kenapa Do Yeon turun peringkat banyak sekali? Biasanya ia berada ditengah-tengah. Sang Tae meminta maaf sampai berlutut, ia pantas dihukum!

Gurunya bilang Do Yeon tidak perlu sampai begini, tapi ia akan menghubungi ayahnya Do Yeon. Sang Tae berusaha mencegah gurunya denga menutupi telepon kabel yang ada. Guru menggunakan ponsel pribadinya.

Do Yeon akan memanfaatkan nilainya yang jeblok untuk senjata diizinkan kencan dengan Ji Oh Sunbae.

Penyiar home shopping memuji Do Yeon yang hebat, belum pernah dalam sejarah home shoppingnya semua produk ludes disatu waktu. Si Penyiar pergi, kemudian Do Yeon pamit pulang duluan. Jo Daeri mencegatnya, ia minta pertanggung jawabannya Do Yeon atas sarannya yang absurd soal emotikon.

Jo Daeri sampai parnoan dan tidak berani mengirimi Na Yoon Mi pesan lagi.

“Joo Daeri, jika setiap hari kau memperlakukannya tidak jelas begitu mana bisa? Wanita itu harus kau tunjukkan. Di dunia ini mana ada wanita yang benci jika ada orang bilang menyukainya? Tidak ada, ‘kan?”

“Benar bisa begitu?” Masih gamang dengan sarannya.

“Sebenarnya Jo Daeri tidak membutuhkan petunjuk apapun. Jika masih merasa tidak tenang, berikan dia sesuatu yang manis sebelum kau nyatakan perasaanmu. Oke? Hwaiting!”

Jo Daeri menghela napas pasrah.

“Apa ini?”

“Coklat.”

“Aku tidak suka yang manis-manis.”

“Aku… Na Daeri-nim…

(Kalo saya.. mending dikasih sesuatu yang hidup, bukan juga cokelat.. apaan tuh? Basi!. Bunga tapi sama potnya, daripada boneka mendingan kasihlah anggora.. marmut, hamster, kapibara, pokoknya segala sesuatu yang bisa dirawat. HHAHHHHHHA)

Jo Daeri kebingungan bagaimana cara mengungkapkannya. Sebelum sampai ke poin utama, Na Daeri sudah minggat duluan.

“Aku… Aku selalu memperhatikan Na Daeri. Kurasa aku sangat menyukaimu. Jadianlah denganku.”

Pupuslah sudah harapan Jo Daeri.

Tidak. Na Daeri sesungguhnya sedang mendengarkan sambil tersenyum-senyum (Ecieeee… Aaaa! So sweet XD. Sebenernya kalau sudah suka gak usah ngapa-ngapain pun Jo Daeri-nim akan diterima selalu, Na Daeri cuma butuh kejujuran, kepastian dan pengakuan perasaannya Jo Daeri. Saling ngasih kado serta emotikon menjijikkan adalah bagian menjaga hubungan jika sudah memasuki tahapan selanjutnya. Menurutku sih.. kado serta emotikon kalau diawalan kesannya tidak tulus dan hanya main-main. Makanya Na Daeri marah pada Jo Daeri pas momen emot menjijikkan)

*+*DADDY YOU, DAUGHTER ME*+*

      Sang Tae mondar mandir menunggu Do Yeon datang. Do Yeon datang dan langsung memukuli Sang Tae “Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?!”

Wali kelas sampai turun tangan melerainya. Do Yeon meminta maaf karena tidak mendidiknya dengan baik. HHHHHHH

“Do Yeon Abeonim, tenangkan dirimu. Walaupun prestasinya merosot, tapi Do Yeon memiliki karakter yang ceria.”

“Yang lain-lain tidak butuh. Bukankah sering dikatakan jika kebahagiaan adalah urutan dari keuangan, penampilan dan prestasi? Jika miskin dan jelek, maka harus rajin sekolah.”

“Maaf?”

“Oh, Do Yeon yang bilang begitu padaku. Bagaimanapun juga, ini sungguh memalukan. Aku tidak sanggup jadi ayah bagi Do Yeon lagi. Kau masih berani bilang sekolah adalah hal yang paling gampang?”

“Kau juga bilang jadi murid cuma butuh belajar. Apa susahnya? Kuberi kau sandang pangan dan uang jajan. Kau cuma butuh sekolah yang benar. Kenapa begitu saja tidak sanggup? Setiap hari selalu ini yang diulang-ulang terus.”

 (Ahay! Do Yeon balas dendam ke ayahnya yang sering ngomelin dia belajar gak bener XD )

Do Yeon bertanya pada ayahnya apa setelah menjalaninya sendiri baru terasa tidak sanggup?. Do Yeon memukulinya lagi. Ayahnya memintanya berhenti, ia berteriak bahwa nilai bukanlah kebahagiaan. Ayahnya minggat dari ruangan guru.

“Appa! Appa mau ke mana?” Teriak Do Yeon mengejar. Gurunya merasa aneh. Do Yeon mengejarnya dan mengajaknya bicara.

Sang Tae menggerutu, pasti Do Yeon girang karena nilainya jelek, tadi mukulnya semangat sekali!. Do Yeon balas berteriak, memangnya kenapa? Itu nilaiku juga!

Ayahnya sungguh malu. Do Yeon meminta maaf, ia juga yang keterlaluan. Ia sadar setelah menjalani kehidupan ayahnya di kantor.. Do Yeon mengerti tidak mungkin semua orang bisa juara satu. Setidaknya ayahnya berusaha belajar keras dengan begadang sebagai Do Yeon. Karena itu Appa.. pergilah berkencan. Waktunya sudah tiba!

Do Yeon menariknya pulang untuk bersiap-siap.

Do Yeon semangat sekali memilih baju. Do Yeon menemukan baju yang menurutnya bagus, tapi ayahnya tidak suka karena menurutnya terlalu pendek. Do Yeon balas mengatakan ini kompensasi karena Appa membuat nilai ulangannya jelek.

Do Yeon mendandani Sang Tae. Ia sembari bercerita dulu baju ini yang membelikan adalah Appa sewaktu Do Yeon lulus SMP. Sang Tae tak begitu ingat.

Ji Oh mengajak Sang Tae ke sebuah toko musik lawas. Do Yeon membuntuti kencan keduanya.

Saat melihat album “Stasiun kereta di depan Balai Kota” Sang Tae keceplosan bergumam bahwa ia setelah wamil berpikir akan menemukan cintanya. Ji Oh jadi heran, Sang Tae langsung mengelak hanya kepikiran begitu saja karena lagunya.

Jo Oh tadinya khawatir Do Yeon tidak akan tempat seperti ini. Ji Oh memasangkan earphone ke telianganya Do Yeon.

Lagu mengalun lembut disana. Membuat Sang Tae tersenyum, ia berbalik menatap Ji Oh sambil mendengarkan alunan musiknya.

Do Yeon yang asli justru nelangsa mengemil di luaran sana, mupeng seharunya dia yang diposisi ayahnya sekarang *HHHHHHHHHH

Pulang-pulang Sang Tae tertidur. Ji Oh berusaha menjagainya. Sekali lagi! Do Yeon yang asli pasrah menerima ini, baper dibuatnya.. mencemburui tubuhnya sendiri. Do Yeon duduk tidak jenak gara-gara adegan romantis ayah dan Ji Oh *hhhh

Do Yeon ikut turun karena mereka turun. Ji Oh mendekat hendak mencium Do Yeon. Do Yeon yang asli menghambur mendekati keduanya sambil berteriak “JANGAN!”

Ia memperkenalkan dirinya sebagai ayahnya Do Yeon. Ji Oh langsung menyapanya sopan, Do Yeon memanfaatkan momen ini untuk mengenggam tangannya Ji Oh.

Sang Tae memisahkan tangan keduanya. Do Yeon berakting, sebagai ayah ia senang Do Yeon menemukan teman laki-laki yang baik, ia harap Ji Oh bisa menjaga Do Yeon. Ji Oh senang karena diterima, ia bertanya tadi maksudnya jangan apa ya?

Do Yeon langsung balas menjawab “Apanya yang tidak boleh? Apa pun itu, boleh-boleh saja” (HHHHH kampret)

“Kau mau pacaran dengan Do Yeon? Kalau sampai nikah, lebih bagus lagi.”

“Appa, lepaskan tanganmu! Memalukan! Apa-apaan sih ini?”

Pulangnya Do Yeon masih gandengan dengan Ji Oh. Do Yeon di tubuhnya Sang Tae jadi lupa diri, dia bahkan berlari menarik Ji Oh dan mengatakan itu rumahnya. Ji Oh pamit pulang, Do Yeon mengajaknya mampir kapan-kapan.

Do Yeon sedih setelah Ji Oh pergi. Sang Tae bertanya kenapa? Bukannya semuanya berjalan sesuai keinginannya Do Yeon. Do Yeon sedih karena ini adalah kencan pertamanya seumur hidup dan bukan dia yang meghadirinya XD, tapi malah ayahnya.

Sang Tae mengajaknya masuk ke rumah. Keduanya di lantai atas dan cukup jauh dari Ji Oh. Sang Tae memanggilkan Ji Oh dengan suaranya Do Yeon, kemudian menyalakan ponselnya menyuruh Do Yeon melambaikan tangan dari jendela. Ji Oh yang dari jauh tentu tidak tahu siapa yang memegangi hapenya. Yang jelas ia berpikir bahwa itu merupakan Do Yeon.

Ji Oh balas melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“Appa, terima kasih” Meski begini saja Do Yeon sudah senang sekali. Walau momen kencan berduaannya dengan Ji Oh malah direbut ayahnya. Wkwkwk

Dalam hati Sang Tae bahagia, sudah lama sekali sejak Do Yeon mengatakan terima kasih padanya. Ini pertama kalinya setelah hubungan mereka membaik.

     Sang Tae menasehati Do Yeon, ia sudah bekerja keras selama setahun ini. Do Yeon nanti tinggal baca catatannya karena Jo Daeri sudah mengurus semuanya. Karena besok adalah hari terakhir mereka bertukar raga, mari jalani hari terakhir dengan sebaiknya. Nanti Do Yeon katakana saja “Aku akan berusaha semaksimal mungkin”

Sang Tae keluar tidak memperhatikan pelajaran. Giliran Do Yeon melakukan presentasinya. Sang Tae memantaunya dari ponsel. Do Yeon membaca dan Jo Daeri memperagakan produknya.

Do Yeon sedikit terkejut dengan harga produknya 50rb won. Dia disela, Bujangnim. Bertanya siapa yang mau mengeluarkan uang segitu untuk produknya?. Do Yeon melanjutkan membaca, ini akan laku untuk anak belasan tahun. Tim inventoris melakukan presentasinya dengan lancar. Banyak yang setuju dengan idenya Sang Tae, inovatif dan menghemat biaya. Ia menerima tepuk tangan. Di akhiran Sang Tae ketar-ketir dengan Do Yeon, cukup katakana “Aku akan berusaha semaksimal mungkin”

Do Yeon melakukannya. Tapi.. ia menambahi pendapatnya. Menurut Do Yeon produk ini tidak mungkin terjual.

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s