[C-Movie] Never Said Goodbye – Part 3

      Xiaoyou memanaskan air hingga gasnya habis dan bau gasnya menyerbak menusuk hidung karena kompor tidak dimatikan. Ia membiarkan bak mandinya terisi oleh air terus menerus sampai meluber-luber, tetesannya menembus ruangan di bawahnya. Membasahi piano tetangga.

Tetangganya menggedor-gedor pintu Xiaoyou. Minta dibukakan. Xiaoyou membukakan pintunya dengan malas-malasan. Ia kini berubah menjadi mayat hidup.

Tetangganya mematikan gas dan keran air, ia buka semua jendela tempat tinggal Xiaoyou.

Tetangga memarahinya, bertanya apa yang Xiaoyou lakukan. Xiaoyou mengatakan ia mau mandi.

“Mandi? Rumah ini penuh dengan gas. Kau bisa membakar rumah ini. Tidak mematikan keran juga. Airnya bocor sampai ke langit-langit apartemenku. Menumpahi pianoku. Kau tahu tidak? Nona… Bukan hanya kau saja yang sakit hati. Ada orang lain yang mengalami luka yang lebih besar. Tapi mereka tidak menyiksa diri mereka seperti yang kau lakukan saat ini. Kalau kematian bisa menyelesaikan permasalahan. Aku sudah bunuh diri sejak lama. Kita tidak boleh egois. Memikirkan untuk bunuh diri. Jika mereka melihat kita putus asa seperti ini, Bukankah mereka akan sangat sedih?”

“Peliharaanku. Hilang. Bisa tolong bantu temukan dia.”

Xiaoyou masih sibuk mengelas. Lubi mendatanginya dan memintanya jangan terlalu memaksakan diri, mengatakan bahwa Ma mengajak Xiaoyou kembali bekerja. Sambil tersenyum Xiaoyou mengatakan ia melakukan ini bukan demi Ma. Lubi datang membawakan kopi, ia pergi dengan senyum geli karena Xiaoyou keras kepala sekali. Mereka sudah baikan.

Tetangga Xiaoyou membantu mencarikan anjing Bulldog Perancis miliknya. Rekan-rekannya juga ikut membantu mencari.

Xiaoyou ketika hendak melanjutkan las-lasannya ia terperangah melihat instalasinya sudah selesai. Ia kemudian mengecat temboknya dan menggambari dengan emotikon sedih. Di hari lainnya Xiaoyou mengeceknya lagi, emotikon sedihnya dicoret seseorang digantikan senyum.

Xiaoyou keluar ruangan dan mengedarkan pandangannya mencari pelaku. Kali ini Xiaoyou menulisi “Who are you” di dinding dengan kesal.

Kau bilang akan mengajakku ke Italia? Setelah proyek barnya selesai. Park Junho Tunggu aku.

Xiaoyou bertemu dengan Ma dan yang lainnya. Ma memberikannya sesuatu dan menyuruhnya melihat badut boneka. Xiaoyou tidak mengerti kenapa diajak bergabung kembali. Ma beralasan baru menerima proyek barunya Direktur Chen, ia ingin Xiaoyou membantunya. Xiaoyou merendah ia tidak terlalu mengerti dan tidak ingin membebani Ma.

Yang lain diundang mendekat, mereka ingin Xiaoyou kembali. Boneka tadi kini menari-nari lucu di hadapannya Xiaoyou. Terdengar suara napas terputus-putus yang tidak terasa asing, si pemakai kostum kelelahan. Xiaoyou sedikit terkejut.

Xiaoyou melangkah maju menatap dari balik kostum tersebut, kemudian memeluknya dalam tangis. Si pemakai kostum menepuk-nepuk punggungnya.

“Aku tidak akan pergi. Tidak pergi kemana-mana lagi” Ujar Xiaoyou.

Dibalik kostum tersebut adalah Park Junho. Ia terengah-engah dan menangis. Kanker otak. Sudah keturunan keluarga kami. Kanker itu merenggut nyawa ayahku saat aku berusia 9 tahun. Kemudian aku pindah ke Italia dengan kakak perempuanku.

Suatu hari di Italia Junho buang air sembarangan dan terekam CCTV pengawas. Kakaknya memarahinya, kenapa Junho tidak tahu malu? Seluruh polisi mengetahuinya. Kenapa tidak sekalian?

Di hari lainnya suami dan anak kakaknya menjadi model sketsa telanjang bagi banyak pelukis termasuk Junho.

Kakaknya kembali marah sekali, anak dan suaminya bugil di depan umum! Ide siapa ini?!

Semuanya saling tunjuk, kakaknya hari terpikirkan satu orang. Pasti Park Junho!. Kakaknya mengejar Junho si biang keladi.

Sebelum usiaku 22 tahun. Aku tidak pernah membayangkan pergi dari sini. Peluang kerja datang dari Shanghai. Lalu aku melihat Xiaoyou.

Di suatu restoran di Shanghai.

“Aku tidak akan biarkan ayah menikah lagi. Ayah bisa habiskan sisa hidup ayah bersamaku.”

“Kau harus lebih dewasa lagi.”

“Ayah. Dia tidak sebanding dengan ibu. Ayah. Ayah pernah berjanji saat aku masih kecil. Kalau ayah akan selalu bersamaku.”

“Sayang, Kau sudah bukan anak kecil lagi.”

“Pergilah. Nikmati kehidupan ayah bersama istri baru ayah.”

Hari itu. Pertama kalinya aku melihatnya. Gadis yang mengalami luka hati. Selama beberapa waktu.. Tangisannya selalu muncul dalam ingatanku. Aku memiliki keinginan, aku ingin menjaganya selama sisa hidupnya.

Junho menelepon berbohong pada kakaknya, hidupnya di Shanghai berat sekali. Ia tidur di kamar sempit, makan sehari sekali. Tapi ia berpura-pura berbohong tidak akan menerima uang kakaknya karena ia sudah dewasa dan tidak ingin merepotkan. Tapi akhirnya ia mengatakan butuh 50,000 saja sudah cukup. Kakaknya akan mentransferkan uangnya.

Junho kegirangan, “Berhasil!” Pekiknya setelah panggilan diputus. Disaat yang sama Xiaoyou dan kawan-kawannya melintas didekat Junho.

Junho genit pada mereka namun diabaikan sebagai orang gila, dan teringat itu adalah gadis yang menangis yang selalu muncul dalam ingatannya.

Salah seorang gadis memberikan paha babi pada Junho ketika makan. Gadis tersebut adalah temannya Xiaoyou, ia mengadu pada Xiaoyou katanya paha babi lebih menarik ketimbang temannya Xiaoyou. Xiaoyou lalu hendak melabrak Junho yang telah bersikap kasar pada temannya.

Junho sendiri santai saja menanggapinya saat potong rambut di barbershop terdekat. Ia tidak takut.

Xiaoyou mau Junho minta maaf pada temannya jika tidak mau dikeroyok para gadis. Junho mengatakan ia akan minta maaf jika Xiaoyou mau menjadi pacarnya Junho. Xiaoyou mendorongnya, dari itu saja Junho tahu Xiaoyou mengerti bahasa korea.

    Jam makan siang di kantin kampus. Beberapa anak memukul-mukulkan sumpit mereka ke wadah makanan membentuk simponi irama, salah seorang terjatuh lalu disusul flashmob menari dari yang lain. Sebagian besar dari anak-anak kagum dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Hanya Xiaoyou yang malas dengan momen ini.

Ini semua adalah rencananya Junho dalam rangka menyatakan perasaannya pada Xiaoyou.

Xiaoyou membawakan senampan besar daging. Xiaoyou akan menerima Junho dengan syarat makanannya habis.

Setengah baru habis,  Xiaoyou  memotreti Junho dengan geli. Xiaoyou tidak mau tahu, Junho harus menghabiskannya tanpa sisa. Junho sudah ingin muntah, tapi demi Xiaoyou dia melanjutkan makan.

Setelahnya Xiaoyou pergi dan Junho mengejarnya. Junho bertanya apa Xiaoyou hendak kabur? Ia ingin menjadi pacarnya Xiaoyou, jangan keras kepala dan santailah sedikit. Izinkan aku menjagamu mulai sekarang.

Xiaoyou menatapinya dengan bingung, Junho tersenyum.

“Halo Shanghai. Kami Park Junho dan Gu Xiaoyou.”

“Apa ini yang kau bilang mobil limosin?” bentak Xiaoyou.

“Tentu saja. Motor retro tahun 2006. Terlihat jadul tapi jangan salah. Ini motor yang setia. Ayo kita melaju dengan adrenalin.” Junho mengebut. Keduanya berteriak kegirangan.

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s