[C-Movie] Never Said Goodbye – Part 2

Xiaoyou berhasil membawa sketsanya Junho. Pulangnya ia teringat saat bersama Junho dulu,

“Kau tahu tidak? Pohon apa yang paling aku suka di Shanghai? Pohon yang daunnya runtuh bewarna emas saat musim gugur. Menghiasi dunia dengan warna terangnya.” Jelas Junho dengan bahasa korea, Xiaoyou mengerti namun ia menanggapinya dengan bahasa mandarin.

“Apanya yang istimewa? Bayangkan ini. Daun-daun yang kau lihat hari ini. Akan menghilang besok. Dengan menghilangnya daun-daun itu. Jadi tinggal pohonnya saja.”

“Kau begitu pesimis. Saat daun terakhir gugur. Pemandangannya akan berubah.”

“Dan aku ingin berhibernasi.” Tukas Xiaoyou.

Junho tergelak mendengarnya. Ia lalu melanjutkan ceritanya, Junho ingin pohon-pohon semacam ini disekitaran rumah mereka kelak. Saat terbangun di pagi hari maka Xiaoyou akan mendengar burung-burung berkicau, paruhnya besar seperti ini. Kemudian burung itu akan buang air padamu.

Junho menjatuhkan dedaunan kering ke atas kepala Xiaoyou. “Menjijikkan sekali!” Xiaoyou kesal mendengar candaannya Junho. Junho malah mencium kening Xiaoyou dan berlari menghindari amukannya. Xiaoyou mengejarnya.

Semuanya telah usai, kesemuanya itu hanyalah bagian dari kenangan mereka yang takkan mungkin pernah kembali lagi. Xiaoyou mendongak ke atas, Dedaunan kering berjatuhan menimpanya, ia tadahi selembar yang terjatuh ke telapak tangannya.

Xiaoyou berlari, ia buang sketsa yang tadinya ia ambil mati-matian dari Ma.

Xiaoyou pulang ke apartemennya, membantingi semua barang-barangnya, membuangnya ke luar jendela. Ia marah, memaki-maki Junho.

“Brengsek. Bajingan. Terjun saja kau ke jurang.”

Tetangganya bermain piano, Xiaoyou terus berteriak-teriak murka. Sekali lagi terganggu karena Xiaoyou.

“Hei!” Tetangganya keluar dari ruangan, memanggil Xiaoyou dari bawah. Xiaoyou tidak menggubrisnya.

“Park Junho!. Kau pergi ke Italia untuk belajar Opera. Bukan begitu? Aku… Sudah begitu sabar padamu. Selalu dan selalu. Memaafkanmu selalu dan selalu. Menunggumu selalu dan selalu. Kenapa kau tidak kembali juga? Sekarang kau jelaskan padaku. Dasar kau brengsek. Kau ingin mempermainkan aku? Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Aku tidak sebodoh itu.”

Tetangganya memilih naik ke tangga untuk menegur Xiaoyou. Namun langkahnya terhenti, ia tidak jadi melakukannya. Ia memilih kembali ke apartemennya. Xiaoyou menangis.

Hari lainnya, Xiaoyou membuang semua barang-barang yang berhubungan dengan Junho dibantu tetangganya. Lubi datang, mereka lalu makan bersama yang lain. Xiaoyou berterima kasih pada tetangganya.

Xiaoyou bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, ia makan banyak sementara teman-temannya terdiam. Membahas musim gugur.

“Terkadang aku heran. Apakah kau sungguh menyukai Junho.” Ujar Lubi.

“Apa bedanya? Apa itu akan menghidupkannya kembali?” Jawab Xiaoyou masa bodoh.

” Kau sadar tidak. Kami sangat mengkhawatirkanmu. Terutama Nona Lubi,” Ujar yang lain. Sedangkan Lubi sendiri meminta jangan dibahas lagi,

Xiaoyou mulai. Ia mengetahui Lubi sempat mengirimi Junho surat cinta. Lubi membenarkan ia menyukai Junho, lalu apa?. Apa dosa menyukai seseorang?

Menurut Lubi Xiaoyou baru mengenal Junho selama 2 tahun. Apa sungguh Xiaoyou mencintainya? Bahkan di pemakamannya saja Xiaoyou tidak hadir. Karena Junho membuat kesepakatan dengan Ma.. Xiaoyou bisa bertahan bekerja di perusahaan. Xiaoyou tentu mengerti bagi Junho bekerja di luaran sana sebagai arsitek pasti akan menghasilkan banyak uang daripada bekerja di perusahaan ini. Apa Xiaoyou tidak tahu malu?

Xiaoyou mempertanyakan Lubi, jika ia memang sudah mengetahui semua keburukannya Xiaoyou lantas mengapa masih tetap berteman dengannya?. Kalau ini karena kau menyukai Junho. Aku minta maaf. Aku tidak pantas menerima pertemanan ini. Atau aku seharusnya berterima kasih. Mengenai Junho… Dia tidak tertarik padamu. Aku akan mengingatnya. Kebaikan yang kau lakukan untukku. Aku akan membalas kebaikanmu. Setiap kebaikan kalian semua.

“Pelayan! Tolong tagihannya!” Xiaoyou meninggalkan mereka.

Direktur Chen mengira Xiaoyou akan meminta maaf padanya. Xiaoyou ingin melanjutkan proyeknya. Direktur Chen memanfaatkan ini sebagai ajang balas dendamnya, ia menyuruh Xiaoyou membuat instalasi yang melayang di udara, dahulu Junho pernah menjanjikannya pada Direktur Chen. Sekarang Xiaoyou jika ingin diterima kembali maka kerjakanlah sendiri tanpa bantuan orang lain.

Xiaoyou berusaha mengelasnya sendiri. Beberapa pekerja tidak suka dengan keberadaan Xiaoyou, menurut mereka justru menganggu.

-NEVER SAID GOODBYE

Terbangun dari tidurnya. Xiaoyou menetesi matanya dengan obat mata, ia terkejut setelah menoleh ke samping mendapati Junho di sana. Junho mengambil obat tetesnya, mengusap kepalanya

“Kenapa kau melakukannya? Yang lain sudah menyerah. Kenapa kau bersikeras seorang diri?” Junho meneteskan obat mata ke mata Xiaoyou.

“Pejamkan matamu.”

“Tidak. Aku takut kau akan pergi. Setelah aku membuka mata.”

Junho lalu memeluknya.

“Aku ingin mengatakan… Aku sungguh minta maaf. Kalau aku tidak pemarah. Semaunya sendiri. Susah di nasehati. Kau tidak akan meninggalkanku. Kejadian yang terjadi belakangan ini tidak akan terjadi. Benar ‘kan? Aku… Terlalu takut datang ke pemakamanmu. Kalau aku pergi kesana… Aku takut… Kalau aku… Tidak akan menemuimu lagi. Aku… Tidak bisa membayangkan. Hidupku… Dari hari ke hari… Tanpa dirimu.. Aku sungguh.. Tidak bisa membayangkannya.”

“Aku semakin takut. Aku takut. Karena kau sudah disini. Kau tidak akan meninggalkanku ‘kan?”

Xiaoyou tertidur.

*+* Never Saih Goodbye *+*

     Di luar hujan deras sekali, Xiaoyou bersikeras melanjutkan las-lasannya ditemani Guguk anjingnya. Lampu-lampuan di atas terjatuh, membuat Guguk terkesiap kaget dan berlari keluar menembus hujan. Xiaoyou sama terkejutnya, ia memanggil-manggili Guguk.

Xioayou mencari-cari Guguk, ia bertanya pada orang-orang. Guguk ada di seberang jalan. Xiaoyou berusaha menyeberang jalan, jalanan sedang ramai-ramainya. Xiaoyou tidak begitu hati-hati, “Xiaoyou!” Panggil suaranya Junho, Xiaoyou hilang konsentrasi dan menengok ke arah sumber suaranya. Tanpa sadar mobil menabraknya hingga jatuh.

Xiaoyou terbangun di rumah sakit. Ia kembali ke jalanan yang sama. Jelas-jelas tadi ia dengar suaranya Junho.

     Teringat saat Junho memintanya duduk tenang karena ada hal penting yang ingin diurakannya. Xiaoyou menggerutu tadinya ingin memasak ramen. Namun Xiaoyou menurut, Junho membawa sebuah kotak besar dan berlutut di hadapan Xiaoyou. Dalam bahasa korea Junho menyampaikannya.

“Mulai saat ini, kau akan menjadi permaisuriku. Dan aku akan selalu menjadi pelayanmu. Pelayan, Supir, Tukang Masak, Tukang bersih-bersih, Pengrajin. Dan… ATM?”

“Kau yang tidak serius. Kenapa meyuruhku serius?” Tukas Xiaoyou geli, karena tadinya Junho mengatakan ingin mengatakan sesuatu yang serius tapi kini malah bercanda.

“Xiaoyou. Menikahlah denganku.” Junho mendorongkan perlahan kotak tersebut agar Xiaoyou buka.

“Apa ini?”

“Permata hidupku. Inilah hatiku. Disaat aku sudah tiada. Ini yang akan menemanimu. Menikahlah denganku. Dan ini akan menjadi milikmu. Bukalah. ”

“Guguk.”

Seekor anak anjing, mereka namai Guguk. Xiaoyou dan Junho sekarang menjadi Mama dan Papa anjing tersebut. Junho mengambil kalung di leher Guguk dan memasangkannya pada Xiaoyou.

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s