[K-Movie] Daddy You, Daughter Me – Part 2

[ Do Yeon, kau akan ikut audisi ‘kan? Senin jam 4 sore di ruang latihan. Harus datang ya? — Ji Oh Seonbae. ]

Do Yeon senang sekali Ji Oh mengiriminya pesan. Ibunya Do Yeon masuk ke kamar, mematikan lampu dan mengeluh pusing karena ia tadi kebanyakan minum. Do Yeon menanyakan kenapa tadi tidak minum obat flu saja?. Ibunya balas, minum obat flu apaan?. Kemudian tangan ibunya mulai menggerayangi Do Yeon.

Do Yeon mulai panik, hal seperti itu tidak boleh terjadi. Sebelum terjadi yang tidak-tidak ibunya Do Yeon sudah tertidur duluan.

Dalam hati Do Yeon berdo’a pada Tuhan, kelak jika ia sudah normal kembali ia berjanji akan hidup dengan benar seumur hidupnya. Aku tidak akan berbohong mengatakan aku butuh uang untuk beli buku latihan tapi kupakai buat beli kosmetik. Aku juga tidak akan bersikap judes dan nyinyir terhadap teman-temanku. Jadi kumohon kembalikan ragaku padaku.

Do Yeon berselanjar di dunia maya mencari dengan kata kunci “Cara menukar kembali raga yang tertukar.”

Sang Tae juga banyak membaca buku, diantaranya.. Getaran gelombang otak, Cerita jasmani, Pengamat ilmu otak.

Do Yeon tidak mengerti, ia harus masuk sekolah dan jika ini berlangsung seumur hidup ia akan menyalahkan ayahnya. Ayahnya yakin pasti ada solusinya, dan kenapa tiap ada masalah ayah yang harus bertanggung-jawab?.

Sang Tae heran apakah ini karena makanan di rumah ayah mertuanya?. Do Yeon pikir juga ada kaitannya dengan pohon Ginkgo yang diceritakan kakeknya. Mereka lalu menghubungi kakek Do Yeon.

Sambil main kartu kakek Do Yeon mengatakan 7 hari dari permintaan dikabulkan semuanya akan kembali normal, mereka tidak boleh bertengkar selama pindah raga.. seumur hidup akan kelelahan. Sang Tae menyarankan mereka memerankan peran masing-masing, tidak boleh sampai dipecat dan dikeluarkan dari sekolah dan menyusahkan ibu.

Do Yeon mengeluh nanti audisinya bagaimana? Sang Tae juga mengeluh Hari Jum’at masih harus ke Shangpree lagi.

Pagi harinya Do Yeon dan Sang Tae minum minuman mereka yang biasanya. Ibu memprotes mereka kenapa minum minumannya kebalik?. Alhasil mau tidak mau mereka harus tukaran, Do Yeon dan Sang Tae sama-sama eneg dengan minuman masing-masing.

Sang Tae menaiki tangga dengan asal, karena biasanya Do Yeon akan menurunkan tasnya untuk menutupi rok belakangnya saat naik tangga. Do Yeon menutupi bagian belakang Sang Tae yang di tubuh Do Yeon. Do Yeon memarahi ayahnya karena celana dalamnya bisa kelihatan.

Sang Tae menyalahkan Do Yeon, lantas mengapa keluar rumah dengan rok sependek ini kalau takut diintip?. Do Yeon balas, Appa suka jika putrimu kakinya terlihat pendek?.

“Celana dalammu sampai kelihatan. Apa-apaan ini? Dasar anak-anak zaman sekarang.”

“Appa, nanti kalau bicara sama anak-anak kosa katanya yang pendek dan terpisah. Kalau ingin menegaskan sesuatu, depannya tambahkan kata “super” atau “luar biasa”.Super keren, luar biasa smembosankan,super imut. Oke?” Jelas Do Yeon

“Harus bicara yang jujur dan yang positif. Anak-anak zaman sekarang kalau ngomong suka pakai singkatan. Menghancurkan bahasa adalah sebuah permasalahan yang serius.

(Permasalahan di negara manapun, anak-anak mudanya suka buat kosakata baru. Apa-apaan dengan tercyduk, terkejeot, alay, ababil.. dan semuanya itu menambah kazanah bahasa tiap generasinya >_<, )

“Mau gila rasanya. Appa kalau seperti ini bisa dikucilkan. Dan pada saat tidak ngerti pembicaraan anak-anak, amati dan pelajari ekspresi orang lain. Kalau ketawa ikut ketawa. Kalau marah ikut marah. Ngerti, ‘kan? Oh ya, Appa… Tahu teman akrabku si Jin Yeong, ‘kan? Jika dia menyuruhmu ikut audisi hari ini. Jangan ke sana! Jangan! Mengerti?”

“Kau juga, nanti setelah tiba di kantor tidak boleh berperilaku sesuai dengan keinginanmu. Sebelum bicara, dipikir dulu. Atau sebaiknya jangan. Jangan bicara sama sekali.”

“Mingkem saja?”

“Mingkem? Jangan menggunakan kata-kata aneh seperti ini. Jika ditanya oleh staf, bilang saja “lumayan bagus.” Jika ditanya atasan, bilang “Baik, aku akan berusaha semampuku.” Ingat ya! Ada satu lagi hal yang penting. Di kantor jangan sekali-kali kau bilang “aku akan bertanggung-jawab.” Cukup bilang “aku akan berusaha sebaik mungkin”, mengerti?

Sang Tae mangajak Do Yeon tukaran hape. Do Yeon tidak mau. Sang Tae menjelaskan agar tidak ada yang mencurigai mereka. Di kantor nanti Sang Tae akan dianggap psikopat karena berubah drastis begini seleranya. Dengan berat hati Do Yeon memberikannya, ia tidak mau ayahnya membaca pesan-pesannya, setelah 10 detik akan ketahuan. Ayah juga tidak boleh kirim pesan aneh-aneh pada Ji Oh Sunbae.

Ayahnya mengalah mengiyakan saja. Ia pergi dan bergumam “Dasar, anak perempuan tidak berguna.”

     Setibanya di gerbang sekolahnya Do Yeon, Sang Tae pikir ia kan pernah menjalani masa SMA, jadi menjadi Do Yeon sebentar harusnya tidak masalah sama sekali. Semangat!

Di kantor Do Yeon salah mengira ayahnya adalah orang yang punya jabatan tinggi dan disegani banyak orang. Ternyata di belakangnya Do Yeon ada atasannya, jadinya para karyawan mengangguk menyapanya.

Sang Tae masuk ke kelas, isinya hanya murid perempuan sebaya semuanya. Sang Tae memilih duduk di dekatnya Ahn Kyung Mi, kelihatannya dia seperti juara kelas. Sang Tae menyapa Kyung Mi namun tidak ditanggapi. Jin Young mendekati Sang Tae, heran kenapa Do Yeon duduk di sini, apa mau belajar? Menakutkan sekali menurut Jin Young.

Jin Young naik ke meja, membuat Kyung Mi geram. Jin Young membisiki Sang Tae bahwa ia akhir pekan ini mau ke B&B (Bed & Breakfast) dengan pacarnya.. namun ia bilang ke ibunya ia akan ke sana bersama Do Yeon. Jin Young minta bantuannya nanti kalau ibunya menelepon jawab saja ia memang pergi dengan Do Yeon.

Nanti kalau Do Yeon dan Ji Oh Sunbae jadian.. Jin Young akan membalas budi dengan melakukan hal yang sama jika mereka ingin jalan-jalan berdua. Sang Tae kesal, beranjak dari duduknya berteriak pada Jin Young. Jin Young tidak jadi minta bantuannya,

Dalam hati Sang Tae kesal sekali, jadi orang yang Do Yeon taksir namanya Ji Oh.. jadi penasaran seperti apa tampang kunyuk satu ini.

Do Yeon masuk ke Tim Inventoris Shangpree, menurut Do Yeon aneh sekali suasananya. Seperti di gudang. Do Yeon melihat ponsel ayahnya. Jo Jang Won salah satu bawahan ayahnya mendekat, membuat Do Yeon terkejut.

“Curiga kami bermalas-malasan jadi kami dimonitor? Jadi orang tidak boleh begitu. Jujur saja, kerjaan biasanya juga aku yang kerjakan semuanya. Benar ‘kan?”

Do Yeon kebingungan. Jo Daeri duduk di kursinya ingin melihat laporan keuangan Choi Hee Jin. Choi Hee Jin bilang belum selesai baru ia kerjakan. Jo Daeri jadi linglung mau mengerjakan apa.

Do Yeon membaca notes ayahnya. [ Jo Jang Won adalah: Daeri – asisten manajer. peraih bea-siswa. Walaupun selalu sial tapi sangat bertanggung-jawab.]

Sial seperti sekarang, ia tidak ada kerjaan dan memainkan tetikus di mejanya dengan kesal *hhhh.

Do Yeon memperhatikan semua orang yang ada di sana. Ia takjub dengan bodi-nya Na Yoon Mi yang aduhai seksi seperi Joon Ji Hyun, [ Asst. Mgr. Na Yoon Mi, Tangguh dan ramah. Dan juga tampangnya mirip Jeon Ji Hyeon ]

Tampaknya Appa lupa menuliskan tampangnya mirip Jun Ji Hyun dibelah 90 kali *hahahaha.

Saat Na Yoon Mi berbalik, Do Yeon sampai kaget karena diluar harapannya.

Waktunya makan siang, semua orang keluar dan lampu dimatikan. Do Yeon masih tinggal di kantor, merasa dikucilkan.

**DADDY ME, DAUGHTER YOU**

Saatnya audisi, kebanyakan siswi kemari karena ngefans dengan Ji Oh Sunbae (which gw pas jaman SMA gak suka cowok yang kebanyakan ditaksir orang beginian, banyak fansnya, secara langsung maupun enggak mereka pasti ada perasaan congkak, iyaaa kan Ji Oh Sunbaenim??? )

Jin Young menggodai Sang Tae apa tidak grogi? Biasanya Do Yeon suka mencuri pandang pada Ji Oh Sunbae dan sekarang harus bernyanyi di hadapannya. Sang Tae kaget, Do Yeon begitu?

Dalam hati Sang Tae percaya diri. Aku ini jebolan kumpulan penyanyi Jeongyong Taejosan, kampret.

Sang Tae bernyanyi dengan memainkan gitar. Ji Oh sudah terpukau sejak tadi, setelah selesai Do Yeon dipuji pintar menyanyi rupanya dan lagu ini Ji Oh juga suka sekali.

Setelah sendirian di kelas, Sang Tae memikirkan komentarnya Ji Oh tadi. Pintar juga si Ji Oh tahu musik jenis ini.

Timnya Sang Tae rapat. Do Yeon tidak terlalu memperhatikan, Jo Daeri mengingatkannya untuk konsentrasi, meski tim ini dipimpin Won Kwajang.. namun kalau bukan karena kerja kerasnya Jo Daeri mereka tidak akan bisa bertahan di gudang ini.

 Model yang dipilih menurut Do Yeon tidak cocok. Jo Daeri mengatakan model ini Won Kwajang pilih karena punya hubungan baik dengan Ketua. Do Yeon terhenyak. Na Yoon Mi bilang ia sebenarnya juga tidak setuju.

Namun Do Yeon mengatakan lanjutkan ide awal saja.

Do Yeon tidak  bisa minum. Gwon Sajang jadi kesal dan menyuruhnya menyanyi. Jo Daeri mengingatkan jangan merusak suasana. Gwon Sajang janji nanti kalau nilai karaokenya 95 ia akan menandatangani kontrak kerjasama. Do Yeon percaya diri, ia rasa ini mudah.

Do Yeon di tubuh ayahnya menyanyikan lagunya Sistar yang jogetnya seksinya gak ketulungan itu lho.. yang dancenya main kaki kaki, agak lupa judulnya.. lagu jadul sih. Tapi jadi menjijikkan kalau ditarikan pria XD. Nilainya 97, Gwon Sajang diminta membubuhkan tanda tangan. Diberi hati minta empela, begitulah istilahnya.. Gwon Sajang minta Na Daeri duduk didekatnya dan menuangkan minumannya sebelum memberikan tanda tangan kesepakatan kerja.

Ia memuji bodi Na Daeri yang aduhai. Na Daeri mulai tidak nyaman (Memuji seksi dan cantik sesama wanita gak akan jadi masalah karena maksudnya memang enak dilihat mata dan kami menghargainya secara tulus, tapi kejadiannya akan jadi pelecehan secara verbal kalau yang ngomong laki-laki, karena kita tahu pikirannya sudah kemana dulu.. dikalangan mereka juga seringkali menjadikan konteks seksual sebagai bahan candaan vulgar, menjijikan men! -_- apa tidak ada obrolan yang lebih sopan dan cerdas?)

“Perempuan zaman sekarang terlalu arogan. Aku bercanda, dia tersinggung. Katanya itu  pelecehan seksual atau entah apalah itu. Sampai aku jadi takut dan tidak berani bicara. Dasar! Aku bernah bicara dengan karyawanku. Dadamu begitu bombastis, bahumu tidak terasa pegal? Gara-gara begini jadi gaduh! Gaduh! Anu, aku sebagai atasan bertanya jika bahunya tidak pegal karena benar-benar khawatir.”

Na Daeri terus menggeser duduknya, Gwon Sajang juga terus menggeser duduknya.

“Jika begitu saja sampai gaduh, aku harus bicara bagaimana? Ya ‘kan? Ya ‘kan?”

 Na Daeri mengiyakannya dengan enggan. Ia bertanya ke Na Daeri apa bahunya Na Daeri tidak apa-apa?. Na Daeri menatap Gwon Sajang dengan amarah. Gwon Sajang tiba-tiba tertawa dan memukul-mukul lutut Na Daeri. Jo Daeri menyingkirkannya, ia rasa Gwon Sajang sudah kebanyakan minum.

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s