[K-Movie] Snow Is On The Sea – Part 4

¤Snow Is On The Sea¤

Seon Mi perlahan-lahan mulai menangis sesenggukan.

Anak-anak melihat ikan betta yang tidak bergerak, mereka mengiranya mati.

Sang Woo sesampainya di rumah tidak menemukan keberadaan Seon Mi. Sang Woo mencoba menghubungi nomornya namun ponselnya ditinggal di rumah. Digeletakkan di atas meja beserta cincin kawin mereka.

Sang Woo salah menerobos masuk ke ruangan, bertanya di mana Seon Mi sekarang. Pakaian dan barang-barangnya tidak ada di rumah. Ia ini walinya Seon Mi dan berhak tahu di mana Seon Mi sekarang. Dokter menyelanya, seorang wali tapi tidak tahu menahu akan kondisi kesehatan istrinya sendiri.

“Kondisi kesehatan? Seon Mi kenapa?” Sang Woo linglung

“Pada saat seperti ini, keinginan pasien adalah prioritas utama. Karena sakit, ia meninggalkan kehidupan berumah tangganya. Apapun alasannya, ia menolak untuk tetap berada di sisimu. Tolong hargai keputusannya. Akan lebih baik baginya.” Jelas dokter.

Seon Mi berada di ruangan, ia menjumpai Woo Ho yang sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Seon Mi bertanya apakah Woo Ho baik-baik saja?. Woo Ho mengangguk, Seon Mi bertanya Woo Ho tidak akan menyerah bukan?

Sang Woo menjalani kesehariannya tanpa semangat, bekerja di akuarium. Ia pergi ke gereja, rumahnya terasa sepi. Sang Woo juga berusaha tidur di sofa.

Seon Mi: Aku ingin bisa tetap hidup. Sang Woo… Supaya tetap bisa mencintaimu… aku ingin bisa bertahan hidup seperti hari itu. Aku sungguh merindukanmu, Sang Woo.

Seon Mi memeluk dan menciumi jaketnya Sang Woo.

Nam Kochi melatih para atlet, ia ditemui oleh Gomo-nya Seon Mi. Kemudian Nam Kochi menemui Sang Woo yang berada di akurium. Memberitahu Sang Woo soal Seon Mi yang sekarang berada di rumah sakit tempatnya dirawat saat kecil. Sang Woo hendak menyusulnya, Nam Kochi mengatakan kalau kejadiannya sudah sejauh ini mungkin akan semakin menambah masalah, sudah berbulan-bulan berlalu Seon Mi pasti sudah berubah. Sang Woo berterima kasih sebelum pergi.

Teman Seon Mi sudah meninggal, Seon Mi menghadiri pemakamannya. Sang Woo mendatanginya, bertanya apa yang Seon Mi lakukan di sini?.

“Aku tidak ingin main petak umpet denganmu lagi. Cukup sampai di sini.”

“Sang Woo, aku…”

“Ayo cepat bubuhkan stempel di sini!”

“Jangan begitu. Aku tidak bisa begitu. Bodoh ya kau? Tidakkah kau lihat? Cepat lambat aku akan mati seperti Woo Ho.”

Sang Woo memecahkan botol beling di sana dan membuat kaget beberapa pelayat. Sang Woo melukai tangannya sendiri, Seon Mi tercekat melihatnya. Kemudian Sang Woo membubuhkan jarinya dengan tinta darah tersebut ke dokumen yang dibawanya.

“Kau sudah lupa apa yang pernah kau katakana saat berada di bus? Kau bilang tidak akan pernah jatuh sakit. Kau berjanji untuk tetap sehat. Kau bilang seumur hidup akan memegang teguh janji ini dan tidak akan ingkar. Cap di sini dan ingat baik-baik! Begitu kau bubuhkan cap di sini, selamanya kita akan bersama hingga akhir. Selama-lamanya.”

Sang Woo juga membuat Seon Mi memberikan cap jarinya ke dokumen tersebut dengan darahnya. Sang Woo memeluk Seon Mi.

Mulai saat itu Sang Woo menjagai Seon Mi, membelikannya obat tradisional. Mengawasi Seon Mi makan, Seon Mi tidak nafsu makan, Sang Woo memberikan obat tradisionalnya. Sang Woo juga mulai membaca buku yang berhubungan dengan penyakit Seon Mi.

Teman-teman Seon Mi mengunjunginya, mereka bertanya apakah Sang Woo juga menginap di sini? Seon Mi mengiyakan kalau Sang Woo tidur di matras bawah setiap malam terkecuali jika Gomo-nya Seon Mi datang. Mereka juga membawakan barang permintaannya Seon Mi, Sang Woo datang menawari mereka makan. Mereka menolak karena sebentar juga mau langsung pergi, Sang Woo kikuk menyuruh mereka kembali melanjutkan obrolan.

Sang Woo akan keluar. Seon Mi menyuruhnya mencari udara segar, ia baru bisa keluar sebulan sekali dan jangan minum-minum terlalu banyak.

Sang Woo minum dengan Nam Kochi. Nam Kochi bertanya pasti melelahkan bagi Sang Woo menjagai Seon Mi. Sudah coba obat tradisional apa saja?. Sang Woo masih terus mencoba dan akan lihat hasilnya nanti. Pelatih Nam mengingatikan Sang Woo tentang kompetesi renang nasional nanti. Sang Woo bilang ia tidak ada waktu untuk mengikuti kompetisi karena prioritas utamanya adalah Seon Mi.

Sang Woo kembali namun Seon Mi tidak ada di ruangannya. Sang Woo mulai cemas, ia mencari Seon Mi. Seon Mi tidur di kursi, Sang Woo meletakkan bawaannya dan memandangi Seon Mi. Seon Mi tersenyum, ia mencium bau alkohol dari Sang Woo. Sang Woo tanya kenapa di sini? Seon Mi bilang ia menunggu Sang Woo. Sang Woo memarahinya, andai tadi Sang Woo tidak segera pulang apa Seon Mi akan di sini sampai pagi?

Sang Woo memegangi kedua pipi Seon Mi dengan gemas. “Kau benar-benar bandel!” lalu mengecup Seon Mi sekali dan duduk di bangku sebelahnya. (Ugh! Hae-jin aaaah…. Manisnya dirimu sampai menusuk ke ulu hati XD )

“Aku rindu padamu. Bagaimana dong? Saat kau tidak di sini, aku merasa tidak tenang dan takut. Aku ingin melihat salju.  Musim dingin sudah lewat. Sepertinya tahun ini tidak bisa melihat salju. Salju itu memiliki aroma, tahukah kau?”

“Salju juga memiliki aroma?”

“Iya, ada aromanya. Aroma salju. Aroma gang kecil sehabis hujan dan aroma air laut di musim dingin. Seperti kedua aroma ini yang dicampur aduk.”

“Ayo! “

“Ke mana?”

“Melihat salju!”

Mereka ke akuarium, airnya di dalam akuarium bergerak naik seolah terlihat seperti salju. Seon Mi berterima kasih, seumur hidup ia takkan bisa melupakannya.

Sang Woo di luar mendengar suara jeritan dari arah kamar mandi, ia kemudian mendekati Seon Mi yang terjatuh dan dikerubungi banyak orang. Sang Woo berusaha membangunkannya.

Seon Mi dibawa kembali, dokter mengatakan leukositnya tinggi sekali dan semuanya bersifat ganas. Memburuknya kondisi Seon Mi jauh lebih cepat dibandingkan dengan Woo Ho.

“Ada solusi apa?”

“Hanya dengan transplantasi sumsum, transplantasi. Jika tidak segera transfer ke rumah sakit lain, dia bisa mati.”

“Harus transfer rumah sakit? Kenapa begitu mendadak?” Tanya Seon Mi.

“Dokter Cho ada di sini. Karena tidak sempat pamit pada semua orang, jadinya kau merasa sedih? Nanti setelah kondisimu membaik, baru kita mampir mencari mereka.”

Sang Woo meminta Seon Mi makan lebih banyak karena sudah dua hari ini Seon Mi tidak makan apa-apa. Seon Mi bilang tidak mau makan. Sang Woo menyendokkan makanannya dan meminta Seon Mi makan meski hanya 3 suap. Seon Mi mendorong suapan Sang Woo. Sang Woo membawa makanannya pergi, terdengar suara wadah makanan yang dilemparkan keras-keras.

Sang Woo sudah habis kesabarannya, ia memarahi Seon Mi. “Memangnya kau anak umur 3 tahun? Mau merajuk juga harus pada waktu yang tepat. Di sini ada dokter Cho, juga lebih mudah mendapatkan donor.”

“Merajuk? Kapan aku merajuk? Suruh aku periksa, aku periksa. Suruh aku makan obat, aku makan obat. Seumur hidupku ini aku selalu taat bagaikan seorang budak. Orang seperti aku ini punya hak apa untuk merajuk? Aku lelah… harus melihat raut muka orang yang takut jika aku mati. Aku merasa seperti seorang penjahat. Lebih baik mati saja.”

Ayah dan ibunya Sang Woo datang berkunjung. Ayahnya Sang Woo mengobrol dengan Sang Woo di luar. Ayah dengar dari menantu Nam bahwa Sang Woo sedang berusaha mencari donor sumsum tulang belakang. Ayah memberikan catatan alamat yayasan penyedia donor. Sang Woo berterima kasih.

Sementara itu Nyonya Lee bersama Seon Mi, beliau ingin melihat tangan Seon Mi. Seon Mi canggung mengelapkan tangannya ke pakaian sebelum mengulurkannya. Beliau memuji tangan Seon Mi indah sekali, ia mengerti pasti Seon Mi sangat kecewa karena ia tidak datang di hari pernikahan mereka. Seon Mi mengiyakan bahwa ia sangat ingin bertemu Eomoni hari itu.

“Aku masih belum memberi restu pada kalian berdua. Aku juga tidak berencana untuk membantumu. Karena itu, mau hidup atau mati kalian tanggung sendiri. Nanti setelah kesehatanmu membaik, kita bertemu lagi sambil tersenyum. Hanya ini yang kupinta. “

“Eomoni…”

“Aku permisi dulu.”

Seon Mi mencegat ibu mertuanya, ia meminta izin memeluknya sekali saja. Nyonya Lee mengizinkannya, mereka berpelukan. Nyonya Lee menepuk-nepuk punggungnya dan menyemangati Seon Mi harus tabah dan pantang menyerah.

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s