NB: Film ini didedikasikan bagi mereka yang sedang memerangi penyakit ini beserta keluarga mereka dan bersama-sama mendoakan supaya pengembangan obat berhasil.

¤Snow Is On The Sea¤

Film dibukan dengan Sang Woo yang mengendara dengan riang, ia tersenyum sesekali memandangi kotak merah di bangku kosong sebelahnya, ia juga menyapa ibu dan anak yang melambaikan tangan padanya. Tak berapa lama sebuah mobil nyaris bertabrakan dengan truk di depan Sang Woo.

Kemudian latar berubah, kebersamaan Seon Mi dengan ayahnya. Mereka bermain-main di salju.

Seon Mi ketiduran di bus, ia gelagapan karena harus turun. Ia bahkan menjatuhkan barang bawaan di tasnya. Sesampainya di tempat kencan air muka pacarnya sudah tidak enak, Seon Mi meminta maaf karena tadi ia ketiduran. Pacarnya menawarkan mau makan apa? Apa pesan sama saja dengannya? Seon Mi bilang ia tak apa, beranjak ingin pesan sendiri. Pacarnya menahan tangannya dan pergi memesan.

Seon Mi hendak memberikan hadiah tadi tapi sayangnya ketinggalan di bus. Pacarnya juga ada yang ingin dikatakan, ia ingin putus.  Seon Mi berdiri dan mengambil gelas airnya, pacarnya mengira akan disiram. Namun Seon Mi mengambil obat dan meminumnya dengan kasar baru kemudian enyah dari sana.

Sang Woo sehabis membersihkan kolam. Salah satu rekannya mengatakan bahwa seekor ikan yang bernama Dol Mi bergelagat aneh, ia ingin Sang Woo mengeceknya.

“Hari ini jadwal penggantian air, kan?”

“Iya, kenapa?”

“Coba bawa ke sini alat pengukur konsentrasi.” Setelah mengeceknya Sang Woo melihat ikan betta tersebut yang tadinya diam tidak bergerak sekarang berenang aktif. Rekannya heran dengan ikan betta ini, tingkahnya aneh.

Menurut Sang Woo ikan betta yang disendirikan di kolam jadi kesepian, namun jika dipelihara bersama ikan-ikan lain malah berkelahi.

¤ Snow Is On The Sea ¤

    Sang Woo makan ramennya, ia mendengar alunan musik dari kotak musiknya Seon Mi. Tak jarang Sang Woo terus melirik Seon Mi dan membuang muka tiap dipergoki. Seon Mi menjadi jengah, ia pun bertanya kenapa mencuri pandang padanya. Sang Woo beralasan ia hanya melirik karena suka suara musik di kotak musik tersebut, tapi sepertinya rusak. Sang Woo ingin tahu apa judul lagunya? Ia juga ingin coba dengarkan.

Seon Mi tidak menanggapinya, ia berjalan menuju ke bibir pantai.

Sang Woo mencoba mengabaikannya. Seon Mi berjongkok dan teringat pada hari meninggal ayahnya.

“Ayah.. aku.. sangat takut akan datangnya hari esok.” Gumamnya sekarang. Karena Seon Mi mabuk ia lunglai nyari jatuh ke laut.

Untungnya Sang Woo dengan sigap memeluknya erat. “Awas! Hampir saja nyawamu melayang.”

Seon Mi bukannya berterima kasih justru merasa tindakannya Sang Woo ini adalah pelecehan dan membuatnya tidak nyaman. Seon Mi mendorong Sang Woo sampai terjengkang ke belakang.

Bukannya menolong Sang Woo tapi Seon Mi malah kabur. Sang Woo menjadi tontonan merek yang melintas.

¤ Snow Is On The Sea ¤

Rekannya Seon Mi mengira kemarin Seon Mi pasti menerima pujian pacarnya karena diberi hadiah parfum istimewa. Seon Mi menjawab kalau ia diputusin pacarnya.

“Hasil pengetesan lumayan bagus. Hanya saja… Jumlah sel darah terlalu rendah. Aku akan membuka resep obat untukmu. Harus kau makan dengan teratur ya. Hati-hati jangan sampai kena flu.”

“Baguslah!”

Dokter mengajaknya makan bersama dulu sebelum pergi. Seon Mi mengatakan ia tidak bisa karena harus kembali bekerja. Ia juga menyindiri Pak Dokter pasti sudah mengunjungi makam ayahnya karena Seon Mi lihat di sana ada bunganya. Dokter mengatakan ia hanya memberikan salam. Seon Mi mengeluarkan vas bunga beserta bunganya yang manis. Bunga Dapnhne Odora bisa tercium hingga ribuan mil jauhnya.

Seon Mi pamit pergi. Setelahnya Dokter mencium bunga tersebut. Di luar Seon Mi melihat anak dan ayah bersama, ia teringat pada ayahnya saat menjenguknya dan memutar kotak musiknya. Sadar kotak musiknya tidak ada, ia teringat pada Sang Woo.

Pelatih melarang Sang Woo istirahat, ia menyuruhnya berenang kembali 20 kali dengan jarak 50 m. Sang Woo menurut, sebelum pulang temannya tadi menyuruhnya duduk. Mereka sudah berkawan sejak kelas 2 SMP, ia menjadi pelatih perusahaan dan Sang Woo menjadi perenangnya, apa menyenangkan berenang dengan anak-anak lainnya?.

Sang Woo berkata kalau ia melakukan ini bukan hanya demi mengejar kesenangan, kalau memang tujuannya itu pasti sudah sedari dulu ia berhenti. Sang Woo tidak mau berbasa-basi, ia bertanya apa yang mau kawannya ini katakan. Kawannya dengar Sang Woo ditawari menjadi Direktur Akuarium, gajinya juga cukup besar.

Ia memikirkan kelangsungan hidup Sang Woo, usianya juga sudah 30 an dan seharusnya sudah menikah, Sang Woo juga harus mempertimbangkan kelangsungan hidup orangtuanya.

Sang Woo balas mengatakan nanti setelah kawannya ini sudah menikah maka akan ia pertimbangkan dengan benar.

“Aku permisi dulu. Jangan pecat aku. Jika kau berani memecatku, aku akan pindah dan tinggal di rumahmu. Bye!”

Sang Woo kembali ke mobilnya, ia melihat kotak musiknya Seon Mi. Terdapat stiker alamat laboratnya Seon Mi. Sang Woo mendatangi tempatnya. Seon Mi masih di dalam sana, Sang Woo melihat-lihat dari balik jendela. Keduanya sama-sama kaget karena saling menyenteri.

Seon Mi bertanya siapa? Sang Woo bertanya apa tidak ingat padanya? Sebelumnya mendorongnya di sungai Han. Seon Mi ingat, ternyata kau masih hidup!. Sang Woo kemari untuk mengembalikan kotak musiknya Seon Mi. Seon Mi senang sekali, bagaimana Sang Woo bisa mendapatkan ini?. Sang Woo bilang kemarin ketinggalan, tertera kartu bisnis di sana dan sepertinya mainan ini penting sekali. Seon Mi menyergahnya, ini bukan mainan melainkan kotak musik. Sang Woo tergelak, ah.. iya ini adalah kotak musik, ya kan?

Kemudian Sang Woo mempersilakannya kembali bekerja. Seon Mi menahannya, ia mengajaknya makan terlebih dahulu.

Sang Woo diberi bubur, heran kenapa diberi bubur. Seon Mi bertanya apa Sang Woo tidak doyan?. Sang Woo kemudian memakannya dengan lahap membuat Seon Mi senang.

“Tempat ini terlihat seperti sebuah laboratorium.” Sang Woo membuka pembicaraan.

“Aku adalah ahli wewangian yang bertugas meracik aroma parfum dan kosmetik.”

“Ah… parfum? Sebuah pekerjaan yang hebat.”

“Shampoo jenis apa yang kau pakai? Daritadi aku sudah penasaran karena aromanya sangat unik. Daya penciuman orang di bidang seperti aku biasanya jauh lebih sensitif dari orang-orang pada umumnya.”

“Aku tidak pakai shampoo. Cuma pakai sabun saja. Di sini tidak meracik sabun?”

Seon Mi mengambilkannya tisu tapi Sang Woo malah menjilat buburnya yang terjatuh di tangan. Seon Mi geli melihatnya.

“Terima kasih kau telah mengantar kembali kotak musiknya. Bagiku barang itu penting sekali.”

“Pergelangan tanganmu memar. Kau habis berkelahi dengan orang?”

“Tidak, aku ini memang gampang sekali memar.”

Sang Woo mengambilkan obatnya,

“Berikan tanganmu padaku! Pakai saja obat yang biasanya khusus digunakan oleh para atlit. Niscaya besok pagi sudah sembuh.”

¤Snow Is On The Sea¤

 

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s