[K-Movie] Snow Is On The Sea – Part 5 End

¤Snow Is On The Sea¤

Akita, Jepang — Sebulan Kemudian

Sang Woo menawari Seon Mi apakah mau minum sesuatu yang hangat?. Seon Mi bilang tidak usah. Sang Woo mengatakan sebentar lagi orang yang mereka tunggu akan tiba.

Ini adalah Kepala Bagian Bun Hyang Grup divisi Jepang, Kim Gwang Seok. Meminta maaf telat karena harus menjemput puterinya dari TK. Sang Woo memperkenalkan keduanya.

Kim Gwang Seok adalah rekanan bisnis ayahnya Sang Woo. Melihat lautan membentang sepanjang perjalanan membuat Seon Mi meminta mobil dihentikan sebentar.

“Anginnya kencang, kau tidak dingin?” Sang Woo memeluk Seon Mi

“Kebersamaan ini menghangatkan dan memberi perasaan nyaman. Kapan terakhir kalinya turun salju di sini?” Seon Mi bertanya ke Kim Gwang Seok. Ia mengatakan ia bahkan malas mendengar salju, hari-hari sedang cerah sekali. Namun ia ingin Seon Mi jangan khawatir karena segera akan turun salju yang lebat.

“Masih ada sedikit waktu sebelum pertemuan dengan orang-orang kantor. Kau mau jalan-jalan?” Tanya Sang Woo

“Benarkah? Boleh?”

“Tentu saja. Di Akita, istriku adalah bos. Asal jangan bilang kau tidak bersedia melakukan transplantasi.”

( Aw! Manisnya, >_<)

Kemudian Seon Mi mengajak Se Mi berjalan-jalan.

Malam harinya mereka melihat kembang api. Makan di rumah-rumahan salju, dan kembali.

Sang Woo bertemu seorang wanita, Sang Woo meminta Pak Kim menyampaikan rasa terima kasihnya dan bertanya apakah dia sudah menikah?. Pak Kim mengetakan pertanyaan seperti itu tidak pantas diajukan pada seorang gadis.

Sang Woo kemudian mengeluarkan tanaman sebagai hadiah dari pasien. Ini adalah bunga Daphne Odora. Ditanam sendiri oleh pasien. Dengan harapan bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya.

“Sungguh indah sekali. Terima kasih banyak.” Katanya dalam bahasanya sendiri, Pak Kim menerjemahkannya.

Dalam perjalanan ban mobil depan pecah. Pak Kim memperbaikinya, Sang Woo melihat-lihat sekitar. Sang Woo melihat toko kayu, dengan bantuan Pak Kim Sang Woo ingin kotak musiknya Seon Mi diperbaiki. Pak tua mengatakan bahwa kotak musiknya sudah rongsokan dan harus diganti semuanya. Sang Woo meminta disampaikan diperbaiki karena ini adalah barang peninggalan berharga dari ayahnya Seon Mi. Pak Tua tersebut menyanggupi dalam beberapa hari akan ia selesaikan.

      Seon Mi ingin memberikan hadiah pada Sang Woo. Di dalam tasnya terdapat sebuah parfum racikan Seon Mi. Sang Woo heran kapan Seon Mi membuat ini?. Seon Mi mengatakan sebenarnya ia membuatnya sudah lama, setiap pagi ia bersembunyi di ruang ganti perawat dan membuatnya diam-diam.

“Parfum ini memiliki nama?” Tanya Sang Woo

“Lautan bersalju”

Seon Mi menyuruhnya mengocok parfum tersebut, seketiak gelembung-gelembung kecil terbentuk. Cantik sekali, Sang Woo berterima kasih atas hadiahnya. Seon Mi merajuk hadiahnya, tapi Sang Woo mengatakan hadiahnya akan ia berikan nanti setelah Seon Mi melakukan transplatasi.

“Sungguh? Kok rasanya seperti senjata rahasia?”

“Nantikan saja.”

“Persiapannya sudah selesai?” Tanya dokter.  Sang Woo meminta waktu sebentar lagi, ia memegangi tangan Seon Mi.

Bertanya apakah Seon Mi yakin bisa melewatinya? Seon Mi mengitakannya.

Sang Woo menunggu di luar. Operasinya berjalan dengan lancar. Sang Woo menjenguk Seon Mi yang terbaring tak sadar. Ia terharu.

 Pak Kim datang ikut senang, ia dengar operasinya lancar. Sang Woo tidak begitu yakin, bisa jadi nanti ada perubahan namun ia tetap mencoba percaya.

Sang Woo meminjam mobilnya Pak Kim untuk mengambil hadiahnya Seon Mi. Pak Kim menawarkan diri ia saja yang ambilkan kotak musiknya sementara Sang Woo menjaga Seon Mi. Sang Woo tidak mau, ia tetap akan mengambilnya sendiri. Pendonornya Seon Mi sudah terbangun, ia tersenyum melihat tanaman hadiahnya.

Sang Woo mengecek kotak musiknya, ia berterima kasih sekali. Sang Woo gembiara dalam perjalanan pulang,( ini adalah scene awal yang kita lihat di part 1), ia tersenyum-senyum bahka menyapa ibu dan anak dari mobil lain. Kendaraan konstruksi terlihat oleng dan mobil putih menepi menghindar. Sang Woo tidak melihat adanya mobil lain di hadapannya.

Mobil Sang Woo terpental jauh.

Seon Mi terbangun, ia senang memandangi salju berjatuhan dari jendela. Pak Kim datang dengan raut muka sedih.

Seon Mi mendatangi ruangan jenazah. Ia buka kainnya, tak percaya Sang Woo sudah terbujur kaku berlumur darah. Seon Mi mulai terisak, ia tidak percaya bagaimana ini bisa terjadi.

“Kenapa jantungmu begitu dingin? Kenapa jantungnya begitu dingin? Beritahu aku!”

Tangis Seon Mi makin menjadi-jadi, ia teringatkan kembali bagaimana saat kecil dulu ditinggalkan ayahnya.

Nam Kochi dan orangtuanya Sang Woo sudah mendapat kabar meninggalnya Sang Woo.

Di luar hujan namun Seon Mi mengatakan ke nenek bahwa di luar turun salju.

Setahun kemudian,

Seon Mi kembali ke Akita, ia memandangi lautan, mengeluarkan kotak musiknya terdapat surat dari Sang Woo yang tak pernah ia duga ada.

Sang Woo dulu menulis surat itu di mobil, kenangan kebersamaan mereka selama ini menyeruak ke dalam benak mereka meski di waktu yang berbeda.

Sang Woo: Beberapa hari yang lalu aku bermimpi sebuah mimpi yang aneh. Kau dan aku berjalan di sebuah jalanan bersalju di gunung. Saat hampir tiba di tujuan, dengan suara yang lembut kau berkata padaku…”Saatnya bagi kita untuk berpisah telah tiba. Jalan yang akan kita tempuh berbeda. Marilah kita menempuh jalan kita masing-masing.”

Jika mimpi itu adalah sebuah kenyataan, tidak akan pernah aku melepaskan tanganmu. Membayangkannya saja aku tidak sudi. Tapi aku yang berada di dalam mimpi sungguh berbeda. Sambil tersenyum aku berkata padamu…

“Hati-hati di jalan!” Bersamaan dengan saat aku menulis surat ini… Hatiku terasa sakit bagaikan dalam mimpi. Seon Mi, istriku yang paling kukasihi… Janganlah kita sampai terpisah lagi. Sehari, bahkan sedetik pun tidak boleh berpisah. Sekalipun kelak itu hanyalah sebuah perpisahan yang sementara…

“Kita pasti akan bertemu lagi, kan?” Tanya Seon Mi dulu sebelum masuk ke rumahnya diawal perkenalan mereka saat Sang Woo mengembalikan kotak musiknya.

“Iya.” Jawab Sang Woo.

Sekarang Seon Mi menangis tak tertahankan, salju pun turun di laut. Berkat Sang Woo tahun ini ia bisa menikmati pemandangan salju pertama jatuh di laut.

KOMENTAR:

      Nonton ini gara-gara Hae-jin, bodo amat mau jelek apa bagus ceritanya *hahahaha, ternyata lumayan bagus. Namun saya nontonnya dulu tidak lengkap, baru sepotong-sepotong, ragu-ragu melanjutkan bagian surat. Beberapa film maupun novel melow begini biasanya banjir air mata di bagian surat-suratan, tokoh utamanya mati dan meninggalkan surat yang menyanyat hati. Betapa baiknya Sang Woo yang rela melakukan apa saja demi kesembuhan Seon Mi, sabar sekali pada Seon Mi, sepertinya saya dulu masuk forum apa gitu dan membahas film ini dan rata-rata berkomentar kalau suami baik dan ganteng begini gak mungkin ada di dunia nyata *hahaha setuju!.

Hae-jin poninya ganteng banget! XD Kasep euy, kasep! Akhir pekan begini pantengin Hae-jin *hahaha.

Sampai jumpa postingan selanjutnya! Selamat berakhir pekan! Grazie ^-^V

 

Advertisements

[K-Movie] Snow Is On The Sea – Part 4

¤Snow Is On The Sea¤

Seon Mi perlahan-lahan mulai menangis sesenggukan.

Anak-anak melihat ikan betta yang tidak bergerak, mereka mengiranya mati.

Sang Woo sesampainya di rumah tidak menemukan keberadaan Seon Mi. Sang Woo mencoba menghubungi nomornya namun ponselnya ditinggal di rumah. Digeletakkan di atas meja beserta cincin kawin mereka.

Sang Woo salah menerobos masuk ke ruangan, bertanya di mana Seon Mi sekarang. Pakaian dan barang-barangnya tidak ada di rumah. Ia ini walinya Seon Mi dan berhak tahu di mana Seon Mi sekarang. Dokter menyelanya, seorang wali tapi tidak tahu menahu akan kondisi kesehatan istrinya sendiri.

“Kondisi kesehatan? Seon Mi kenapa?” Sang Woo linglung

“Pada saat seperti ini, keinginan pasien adalah prioritas utama. Karena sakit, ia meninggalkan kehidupan berumah tangganya. Apapun alasannya, ia menolak untuk tetap berada di sisimu. Tolong hargai keputusannya. Akan lebih baik baginya.” Jelas dokter.

Seon Mi berada di ruangan, ia menjumpai Woo Ho yang sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Seon Mi bertanya apakah Woo Ho baik-baik saja?. Woo Ho mengangguk, Seon Mi bertanya Woo Ho tidak akan menyerah bukan?

Sang Woo menjalani kesehariannya tanpa semangat, bekerja di akuarium. Ia pergi ke gereja, rumahnya terasa sepi. Sang Woo juga berusaha tidur di sofa.

Seon Mi: Aku ingin bisa tetap hidup. Sang Woo… Supaya tetap bisa mencintaimu… aku ingin bisa bertahan hidup seperti hari itu. Aku sungguh merindukanmu, Sang Woo.

Seon Mi memeluk dan menciumi jaketnya Sang Woo.

Nam Kochi melatih para atlet, ia ditemui oleh Gomo-nya Seon Mi. Kemudian Nam Kochi menemui Sang Woo yang berada di akurium. Memberitahu Sang Woo soal Seon Mi yang sekarang berada di rumah sakit tempatnya dirawat saat kecil. Sang Woo hendak menyusulnya, Nam Kochi mengatakan kalau kejadiannya sudah sejauh ini mungkin akan semakin menambah masalah, sudah berbulan-bulan berlalu Seon Mi pasti sudah berubah. Sang Woo berterima kasih sebelum pergi.

Teman Seon Mi sudah meninggal, Seon Mi menghadiri pemakamannya. Sang Woo mendatanginya, bertanya apa yang Seon Mi lakukan di sini?.

“Aku tidak ingin main petak umpet denganmu lagi. Cukup sampai di sini.”

“Sang Woo, aku…”

“Ayo cepat bubuhkan stempel di sini!”

“Jangan begitu. Aku tidak bisa begitu. Bodoh ya kau? Tidakkah kau lihat? Cepat lambat aku akan mati seperti Woo Ho.”

Sang Woo memecahkan botol beling di sana dan membuat kaget beberapa pelayat. Sang Woo melukai tangannya sendiri, Seon Mi tercekat melihatnya. Kemudian Sang Woo membubuhkan jarinya dengan tinta darah tersebut ke dokumen yang dibawanya.

“Kau sudah lupa apa yang pernah kau katakana saat berada di bus? Kau bilang tidak akan pernah jatuh sakit. Kau berjanji untuk tetap sehat. Kau bilang seumur hidup akan memegang teguh janji ini dan tidak akan ingkar. Cap di sini dan ingat baik-baik! Begitu kau bubuhkan cap di sini, selamanya kita akan bersama hingga akhir. Selama-lamanya.”

Sang Woo juga membuat Seon Mi memberikan cap jarinya ke dokumen tersebut dengan darahnya. Sang Woo memeluk Seon Mi.

Mulai saat itu Sang Woo menjagai Seon Mi, membelikannya obat tradisional. Mengawasi Seon Mi makan, Seon Mi tidak nafsu makan, Sang Woo memberikan obat tradisionalnya. Sang Woo juga mulai membaca buku yang berhubungan dengan penyakit Seon Mi.

Teman-teman Seon Mi mengunjunginya, mereka bertanya apakah Sang Woo juga menginap di sini? Seon Mi mengiyakan kalau Sang Woo tidur di matras bawah setiap malam terkecuali jika Gomo-nya Seon Mi datang. Mereka juga membawakan barang permintaannya Seon Mi, Sang Woo datang menawari mereka makan. Mereka menolak karena sebentar juga mau langsung pergi, Sang Woo kikuk menyuruh mereka kembali melanjutkan obrolan.

Sang Woo akan keluar. Seon Mi menyuruhnya mencari udara segar, ia baru bisa keluar sebulan sekali dan jangan minum-minum terlalu banyak.

Sang Woo minum dengan Nam Kochi. Nam Kochi bertanya pasti melelahkan bagi Sang Woo menjagai Seon Mi. Sudah coba obat tradisional apa saja?. Sang Woo masih terus mencoba dan akan lihat hasilnya nanti. Pelatih Nam mengingatikan Sang Woo tentang kompetesi renang nasional nanti. Sang Woo bilang ia tidak ada waktu untuk mengikuti kompetisi karena prioritas utamanya adalah Seon Mi.

Sang Woo kembali namun Seon Mi tidak ada di ruangannya. Sang Woo mulai cemas, ia mencari Seon Mi. Seon Mi tidur di kursi, Sang Woo meletakkan bawaannya dan memandangi Seon Mi. Seon Mi tersenyum, ia mencium bau alkohol dari Sang Woo. Sang Woo tanya kenapa di sini? Seon Mi bilang ia menunggu Sang Woo. Sang Woo memarahinya, andai tadi Sang Woo tidak segera pulang apa Seon Mi akan di sini sampai pagi?

Sang Woo memegangi kedua pipi Seon Mi dengan gemas. “Kau benar-benar bandel!” lalu mengecup Seon Mi sekali dan duduk di bangku sebelahnya. (Ugh! Hae-jin aaaah…. Manisnya dirimu sampai menusuk ke ulu hati XD )

“Aku rindu padamu. Bagaimana dong? Saat kau tidak di sini, aku merasa tidak tenang dan takut. Aku ingin melihat salju.  Musim dingin sudah lewat. Sepertinya tahun ini tidak bisa melihat salju. Salju itu memiliki aroma, tahukah kau?”

“Salju juga memiliki aroma?”

“Iya, ada aromanya. Aroma salju. Aroma gang kecil sehabis hujan dan aroma air laut di musim dingin. Seperti kedua aroma ini yang dicampur aduk.”

“Ayo! “

“Ke mana?”

“Melihat salju!”

Mereka ke akuarium, airnya di dalam akuarium bergerak naik seolah terlihat seperti salju. Seon Mi berterima kasih, seumur hidup ia takkan bisa melupakannya.

Sang Woo di luar mendengar suara jeritan dari arah kamar mandi, ia kemudian mendekati Seon Mi yang terjatuh dan dikerubungi banyak orang. Sang Woo berusaha membangunkannya.

Seon Mi dibawa kembali, dokter mengatakan leukositnya tinggi sekali dan semuanya bersifat ganas. Memburuknya kondisi Seon Mi jauh lebih cepat dibandingkan dengan Woo Ho.

“Ada solusi apa?”

“Hanya dengan transplantasi sumsum, transplantasi. Jika tidak segera transfer ke rumah sakit lain, dia bisa mati.”

“Harus transfer rumah sakit? Kenapa begitu mendadak?” Tanya Seon Mi.

“Dokter Cho ada di sini. Karena tidak sempat pamit pada semua orang, jadinya kau merasa sedih? Nanti setelah kondisimu membaik, baru kita mampir mencari mereka.”

Sang Woo meminta Seon Mi makan lebih banyak karena sudah dua hari ini Seon Mi tidak makan apa-apa. Seon Mi bilang tidak mau makan. Sang Woo menyendokkan makanannya dan meminta Seon Mi makan meski hanya 3 suap. Seon Mi mendorong suapan Sang Woo. Sang Woo membawa makanannya pergi, terdengar suara wadah makanan yang dilemparkan keras-keras.

Sang Woo sudah habis kesabarannya, ia memarahi Seon Mi. “Memangnya kau anak umur 3 tahun? Mau merajuk juga harus pada waktu yang tepat. Di sini ada dokter Cho, juga lebih mudah mendapatkan donor.”

“Merajuk? Kapan aku merajuk? Suruh aku periksa, aku periksa. Suruh aku makan obat, aku makan obat. Seumur hidupku ini aku selalu taat bagaikan seorang budak. Orang seperti aku ini punya hak apa untuk merajuk? Aku lelah… harus melihat raut muka orang yang takut jika aku mati. Aku merasa seperti seorang penjahat. Lebih baik mati saja.”

Ayah dan ibunya Sang Woo datang berkunjung. Ayahnya Sang Woo mengobrol dengan Sang Woo di luar. Ayah dengar dari menantu Nam bahwa Sang Woo sedang berusaha mencari donor sumsum tulang belakang. Ayah memberikan catatan alamat yayasan penyedia donor. Sang Woo berterima kasih.

Sementara itu Nyonya Lee bersama Seon Mi, beliau ingin melihat tangan Seon Mi. Seon Mi canggung mengelapkan tangannya ke pakaian sebelum mengulurkannya. Beliau memuji tangan Seon Mi indah sekali, ia mengerti pasti Seon Mi sangat kecewa karena ia tidak datang di hari pernikahan mereka. Seon Mi mengiyakan bahwa ia sangat ingin bertemu Eomoni hari itu.

“Aku masih belum memberi restu pada kalian berdua. Aku juga tidak berencana untuk membantumu. Karena itu, mau hidup atau mati kalian tanggung sendiri. Nanti setelah kesehatanmu membaik, kita bertemu lagi sambil tersenyum. Hanya ini yang kupinta. “

“Eomoni…”

“Aku permisi dulu.”

Seon Mi mencegat ibu mertuanya, ia meminta izin memeluknya sekali saja. Nyonya Lee mengizinkannya, mereka berpelukan. Nyonya Lee menepuk-nepuk punggungnya dan menyemangati Seon Mi harus tabah dan pantang menyerah.