[K-Movie] Sinopsis One Day – Part 3

“Apa aku akan terbangun lagi? Kau satu-satunya orang yang bisa aku tanyakan.”

Sesampainya di RS Mi So berterima kasih sebelum kembali ke dalam.

“Terima kasih untuk hari ini. Tentang laporan kecelakaanku. Lakukan apa yang perlu dilakukan. Tidak masalah bagiku.

Kang Soo tidak menanggapi, namun ia menatapi kepergian Mi So dengan ekspresi bersalah.

Malam harinya Kang So makan di mini mart seperti biasanya.

Mi So memandangi tubuhnya sendiri yang tertidur. Mi So tampaknya ingin keluar dari rumah sakit, ia berdiri tak jauh dari pintu masuk, kemudian menghilang.

*ONE DAY*

Manajer Kang Soo bertanya tentang walinya Mi So, Kang So menjawab kalau walinya tampak tidak ingin menyelesaikan ini.

“Jadi kita tidak bisa melakukan apapun? Kita akan terus membayar dan klien kita berakhir di penjara?” Rekannya itu ngotot, Kang Soo tampak malas-malasan.. ia sejak tadi menggambar rumah-rumahan di bukunya.

“Aku mendapat telepon dari atas. Tentang promosimu. Tidakkah kau khawatir sama sekali? Dan kau menghabiskan semua uang yang kau bayarkan untuk membayar tagihan rumah sakit istrimu.

“Apa kau bisa berhenti? Aku mendengar mu.” Kang Soo nyaris mengumpatnya. Kang Soo membawa berkasnya dan pergi kembali ke mejanya.

“Pasti ada cara untuk membuat mereka puas! Kau tahu aku mencintaimu kan Lee Kang Soo?” Rekannya masih mencoba membujuknya, (Kang Soo gak butuh pernyataan cintamu! Dia cuman kepengen hidupnya tenang tanpa rasa bersalah.. hahaha)

Rekannya yang lain kemudian memberitahukan bahwa ia menemukan penemuan yang bisa menguntungkan pihak mereka, di TKP tidak ditemukan adanya tongkat orang buta.

“Aku sudah tahu itu.”

“Kau sudah tahu. Jadi itulah hasil pendapatku. Karena orang buta jarang berjalan tanpa tongkat, ini bisa jadi bunuh diri… “

“Aku akan menangani itu” Segah Kang Soo. Ia kemudian meruat pensilnya dengan alat, memutarnya dengan kasar. Kemudian berbalik

“Dan Pak Cha. Dia bukan orang buta. Dia mengalami gangguan penglihatan. Mengerti?”

Pak Cha mengiyakannya dengan bingung mengapa Lee Kwajang bisa tampak marah.

    Di rumah sakit, Lee Kang Soo melakukan konsultasinya dan sesekali mengedarkan pandangannya mencari Mi So. Kang Soo juga berjalan dengan sesekali menengok ke belakang. Rekannya kemudian menghubunginya, ia tahu di TKP tidak ada tongkat orang buta dan kenapa Lee Kang Soo yang sudah mengetahuinya malah mendiamkannya saja, padahal ini bisa menguntungkan pihak asuransi. Orang buta tanpa tongkat itu namanya bunuh diri, pihak asuransi harus menutupi kasus ini selamanya.

“Apa kau akan keluar? Atau dipulangkan?” Kang-soo mendekati kliennya yang baru saja kembali ke RS. Kliennya berkilah ia ada urusan tadi,

“Aku akan melaporkanmu, sekarang juga.” Kang Soo mengertaknya.. selama ini ia sudah bersikap longgar pada kliennya ini, tapi kliennya bilang ia ini ada berada dalam situasi harus begini. Ia minta bantuannya Kang Soo.

Kang Soo menyuruhnya menandatangani berkas. Tinggal tanda tangan saja dan tidak usah dibaca lagi, kliennya ini sudah tahu isinya.

“Kau tidak memiliki hak untuk mengatakan itu. Banyak orang mencoba menjalani kehidupan dengan tulus. Apa yang kau lakukan sudah mengambil keuntungan dari asuransimu! Kau tidak malu pada keluargamu?”

“Apa yang kau katakan? Sudah selesai?” Kliennya tersinggung. Ia melemparkan berkasnya dan menarik kerah Kang Soo. Kang Soo tidak gentar, malah menyuruhnya kalau mau pukul maka pukul saja, silakan!.

Namun kliennya tidak jadi melakukannya karena aksinya diperhatikan anak kecil dari lantai atas. Anaknya.

+ ONE DAY +

Terlihat di layar ponsel Kang Soo ‘Pak B*jing*n memanggil’ . Kang Soo mengabaikannya. Ia bertanya pada bartender

“Hei, pernahkan kau melihat hantu?”

“Tentu”

“Sungguh?”

“Ada satu sekarang. Tepat di sebelahmu.” Kang Soo langsung melirik kesebelahnya.

     Kang Soo di bangku RS, ia terlihat resah terlebih melihat pasien diturunkan dari ambulance. Mi So mendatanginya, bertanya apa yang Kang Soo lakukan di sini. Kang Soo bilang ia hanya ingin merasakan sinar matahari. Mi So pun ikut bergabung.

Kemudian mereka ke atap gedung,

“Melihat ke bawah dari atas sini, aku merasa seperti manusia yang sangat kecil. Seperti kerikil yang kukumpulkan, bukan begitu?”

“Mengapa kau mengumpulkannya?”

“Aku suka menyentuhnya. Karena kami sangat mengandalkan sentuhan. aku bisa menunjukkan segalanya dengan tanganku. Dan jika tidak, membauinya.”

Lalu Mi So ingin menunjukkan caranya, ia meminjam tangan Kang Soo. Kang Soo enggan, kemudian Mi So memejamkan matanya dan merasakannya.

“Melalui sentuhan… aku bisa merasakan bagaimana orang tersebut menjalani hidupnya, tanpa melihatnya.”

Kang Soo menarik tangannya, lalu Mi So meminta Kang Soo melakukan hal yang sama dengannya. Kang Soo lagi-lagi tidak mau, namun ia memejamkan matanya dan melakukan apa yang Mi So lakukan. Mi So bertanya apa yang Kang Soo lihat?. Kang Soo tidak yakin, ia tidak mengerti.

“Setelah kau terbiasa dengan itu, kau belajar banyak hanya dengan menyentuh.”

“Bukankah lebih baik jika kau bisa melihat sekarang?”

“Tentu saja. Tapi… sekarang aku tidak bisa menyentuhnya. Aneh sekali. Seperti putri duyung?” Kang Soo geli mendengar permisalan tersebut. Putri duyung apaan …

“Tuhan tidak akan memberi kita segalanya. Aku rasa itu baru adil.”

“Hei, ayo keluar dari sini” Kang Soo mengajaknya pergi ke akuarium.

     Mi So memperhatikan segala jenis biota laut dengan senang. Kang Soo menanyakan perasaannya Mi So, Mi So senang. Mi So melihat ibu dan anak perempuannya bercengkrama. Mi So menoleh sekilas, memalingkan pandangannya ke air dengan sedih. Kang Soo menyadarinya, pelan-pelan bertanya apa Mi So ingat sesuatu tentang ibunya?

“Hanya suaranya. Aku terlalu sedikit tahu. Dia meninggalkanku di gereja ketika berusia 4 tahun hanya dengan foto ulang tahun di saku bertuliskan tentang ulang tahun dan namaku. Dia mungkin memberi namaku sebagai ‘Mi-so’ karena dia ingin aku tersenyum. Dia mungkin mengirimku pergi karena sulit baginya untuk membesarkanku. Aku mengerti. Aku akan melakukan hal yang sama jika jadi dia.”

“Apa kau merindukannya?” Tanya Kang Soo tanpa menatapnya.

“Dulu, tapi tidak lagi. Aku sudah dewasa dan…  Itu sudah lama sekali.” Mi So menjelaskannya santai.

   Mereka pergi ke pasar melihat-lihat.

Saat berjalan di trotoar kelopak-kelopak bunga kecil berjatuhan. Mi So dan Kang Soo mendongak memperhatikan, Mi So senang.. bukankah itu terlihat seperti salju?

Kang Soo teringat pada istrinya yang pernah mengatakan hal serupa. Sayangnya kelopak bunga itu hanya menembus melewati telapak tangan Mi So. Mi So terlihat sedih, Kang Soo lalu menadahkan tangannya dibawah tangan Mi So. Secara ajaib satu kelopak bisa berada di tangan Mi So. Mi So tersenyum pada Kang Soo.

“Entahlah… aku sering bepergian.” Kang Soo bicara sendiri. Bartender wanita yang sering mengobrol dengannya nampak bingung Kang Soo bicara sendiri. Kang Soo bilang ia tidak bisa minum karena harus menyetir, apa bartender tidak bisa melihat ia bersama temannya? *wkwk

Bartender meski kebingungan ia pura-pura bisa melihatnya. Menurutnya cantik, dan ia akan mentraktirnya minuman. Mi So takjub, apa benar ia bisa melihat Mi So?. Kang Soo tidak yakin,

 Keduanya jahil dengan mengecek kebenarannya, Mi So duduk di sisi kanan Kang Soo. Si bartender menyajikan minuman di kirinya Kang Soo.

“Kau membuatku takut” Mi So geli. Bartender mengatakan minumannya itu bernama blue Hawaii.. seperti laut. Mi So memuji minuman itu terlihat cantik. Kang Soo dan Mi So menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan segelas minuman hijau yang menarik itu. Kang Soo tidak yakin apa Mi So bisa meminumnya. Saat Kang Soo ingin memberikan minuman itu ke Mi So.. Mi So lenyap.

Kang Soo tidak melihat Mi So di manapun.

    Kang Soo meminta rekannya mencari info Mi So melalui foto masa kecilnya. Temannya pesimis bisa menemukannya karena fotonya sudah lama, tidak mungkin pemilik rumah masih tinggal di alamat yang sama. Kang Soo merayunya, pasti rekannya ini bisa.. kau kan ahlinya. Temannya luluh juga. Kang Soo minta temannya jangan memberitahukan perihal pencariannya ini ke orang lain, terutama Manajer Timnya Kang Soo. Temannya bertanya, apa ini bersifat pribadi?. Kang Soo membenarkannya.

Manajer dan rekan-rekan timnya terdengar bingung mencari Kang Soo, Kang Soo bukannya mendekatinya tapi malah bersembunyi ke bawah.

Mereka pikir Kang Soo izin keluar tadi.

Foto itu diambil di sebuah studio di Gangwon. Di situlah lokasi kecelakaan terjadi. Kang Soo mendatangi studio foto di sana.

NB:

Sewaktu pertama kali melihat scene awal-awal kupikir akan menjadi rom-kom, aku salah, namun endingnya.. yasudahlah. Saya melihat hubungan Mi So dan Kang Soo bukanlah romansa, tapi pertemanan.. sama-sama saling menyembuhkan dan menghibur diri.

 

Advertisements

Thankyou sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar/share via fb/twitter jika berkenan. Boleh panggil apa saja (Karissa/Chariszha) tapi jangan admin, dan lagi … Jangan di-copy paste dengan alasan apapun. Semoga betah di rumah saya ini yah … ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s