[Sinopsis] Save Me – Episode 09 Part 1

Gubernur Han janji soal relokasi jembatan tidak akan ada kesalahan sedikit pun. Pak Cheon mantan gubernur sebelumnya datang, ia bersalaman dengan Han Yong Min gubernur aktif.

Lee Jin Seok menyapa, menanyakan makan malamnya bagaimana?. Pak Cheon menjelaskan pria ini adalah kepala komite pemuda.

Han Yong Min teringat pada Lee Jin Seok adalah anak buahnya Pak Cheon. Pemilik kelab Arabia tempat Dong Cheol bekerja.

Lee Jin Seok memperkenalkan dirinya dan menyapa semuanya, Han Yong Min menyelanya. Lee Jin Seok ini apa benar ketua komite pemuda, sepertinya ia adalah pimpinan para preman. Pak Cheon membelanya bukan seperti itu.

Han Yong Min bersalaman dengan Pak Cheon sebelum pergi, Pak Cheon menyinggung soal Han Sang Hwan yang baru saja pulang ke Muji, apa tidak membuat masalah lagi?. Pak Cheon dengar 3 tahun yang lalu Sang Hwan ada di lokasi insiden yang membuat lumpuh anak Ketua Perserikatan.

Han Yong Min marah, ia memperingatkan Pak Cheon untuk bersikap sopan jika ingin dihormati sebagai manta gubernur. Jangan macam-macam.. mangancamnya dengan memabawa-bawa anak segala.

Pak Cheon setengah hati meminta maaf, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun Han Yong Min tidak mau menyambutnya, mau tahu apa yang harusnya tangan Pak Cheon gunakan? Harusnya untuk menyeka kotorannya sendiri!

Pak Cheon memperingatkan Nona Lee untuk menjaga bosnya itu, mulut kasarnya itu bisa menggigit dirinya sendiri.

“Pak Cheon. Semoga Anda berumur panjang agar pikun dan mengotori tembokmu dengan kotoranmu. Jaga dirimu.”

~ Save Me ☆ ~

Jo Wan Tae menyindir Sang Mi yang mungkin akan kabur lagi. Tuan Im dan Kang Eun Shil yakin tidak akan terjadi lagi, itu hanya masa lalu.

Sang Hwan dihubungi Dong Cheol apakah sudah berhasil menghentikan mereka?. Sang Hwan jawab belum, ia menghadang mobil Sang Mi. Lalu keluar, Kang Eun Shil sudah khawatir Sang Mi akan diambil para iblis itu.

Jo Wan Tae dan Jo Wan Duk keluar untuk meladeni mereka. Sang Hwan bilang dengan pelan, isyarat ke Sang Mi bahwa ia akan menyelamatkannya. Sang Mi mengangguk, Kang Eun Shil memeganginya.

Sang Mi memaksa keluar dengan bantuan Sang Hwan, ia berhasil berlari pergi. Sang Hwan mengambil kunci mobil dan membuangnya ke sungai. Sedangkan Jung Hoon melawan Jo Wan Tae dan Man Hee melawan Jo Wan Duk.

Kemudian Sang Hwan masuk ke mobil melarikan diri dari ketiganya. Kang Eun Shil mengejarnya sampai terjatuh, Tuan Im mengejar tapi terlalu jauh.

     Baek Jung Ki menerima info kaburnya Sang Mi, ia menyuruh para Kang Eun Shil dan yang lain pulang ke Guseonwon. Ia sungguh tidak jenak mendengar kaburnya Sang Mi, Baek Jung Ki melemparkan buku ( sepertinya al kitab, melihat tebal dan pas digenggaman tangan, kalau aku salah tolong dikoreksi ^^ ) , ia lempar ke foto-fotonya bersama keluarga Im sewaktu Sang Mi masih SMA dulu. Ia tampak murka.

    Jung Hoon terluka parah, Man Hee menyetir. Sang Mi dan Sang Hwan di belakang, Sang Hwan lihat tangan Sang Mi terluka dan bergetar ketakutan. Sang Hwan meminta Man Hee menyetir lebih pelan karena tidak ada yang mengikuti mereka.

Apostel Kang tampak gelisah, ia menggigiti kuku-kukunya. Jo Wan Duk mencari-cari kunci mobilnya, Jo Wan Tae sangat kesal. Ayah Sang Mi bertanya-tanya bagaimana mereka dan Sang Mi? Jo Wan Tae tersenyum ramah, meminta Tuan Im jangan cemas.. Apa yang menjadi milik Yang Mahakuasa akan selalu kembali kepada-Nya.

Apostel Jo melihat kecemasannya Apostel Kang, ia menduga pasti Apostel Kang teringat pada Yura.

     Ketegangan sudah mulai mereda, keempatnya cukup terkesima dengan kedatangannya Seok Dong Cheol. Sang Mi dan Dong Cheol berpandangan.

Dulu Sang Mi sempat mengunjungi Dong Cheol di lapas,

“Kenapa kamu ke sini?” Tanya Dong Cheol

“Aku tidak pernah sempat meminta maaf atau berterima kasih. Aku tidak sempat mengatakan apa pun.” Sang Mi merasa bersalah

“Aku tidak perlu mendengarnya.”

“Aku selamat berkat kau. Jika tidak ada yang membantuku hari itu, aku juga akan mati seperti kakakku. Jadi, kumohon… Bertahanlah.”

“Terima kasih. Kalian semua. Terima kasih banyak.”

Jung Hoon menanggapi.. Sama-sama. Tidak apa-apa, hanya terluka sedikit kog.. berkat Sang Mi empat sekawan bisa berkumpul seperti ini.

Sang Hwan pikir situasinya setelah ini akan semakin sulit, Man Hee yakin Guseonwon pasti akan meemerintahkan orang untuk mencari mereka, mereka harus cari tempat sembunyi. Pertama-tama mereka harus mengembalikan mobil pinjaman mereka.

Lalu mereka akan bersembunyi di rumah seorang teman.

     Baek Jung Ki berkata “Untuk menemukan seekor domba yang hilang, aku bahkan mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke lembah kematian. Namun, mereka yang telah kehilangan iman bukan lagi anak-anak Yang Mahakuasa.”

“Bapa Rohani, kumohon jangan tinggalkan dia.” Tuan Im memohon, ia berlutut dan berharap Bapa Rohani menyelamatkan Sang Mi dari para iblis yang membawanya. Baek Jung Ki kemudian memerintahkan Tuan Im untuk mulai berpuasa hari ini, apa yang menimpa Sang Mi karena Apostel Im tidak berdoa dengan sungguh-sungguh. Wan Duk membawanya pergi.

Baek Jung Ki tampak marah pada Kang Eun Shil karena membuat Sang Mi bisa lepas dari tangannya, Kang Eun Shil dianggap tidak layak menaiki perahu keselamatan dan mau ke neraka. Kang Eun Shil mencoba menyela, ia sudah bertindak semampunya. Tapi Baek Jung Kin tak menghiraukanya.

Jo Wan Tae menyindir Baek Jung Ki yang terlalu menakuti Apostel Kang, Bapa Rohani gentian menakut-nakuti Jo Wan Tae.

“Apostel Jo. Tadi pagi, aku mendapatkan telepon dari Senator Park. Mulai sekarang, kurasa kau harus bekerja dengan lebih baik. Kita telah membangun gereja-gereja, tempat-tempat berdoa, dan rumah sakit. kau mau semua kerja keras kita menjadi sia-sia? Para pengikut kita telah bekerja sangat keras untuk Guseonwon. Aku harus menyediakan tumpuan kuat agar iman mereka tidak pernah goyah. Itulah misi dan kewajibanku. Bukankah begitu, Apostel Jo?”

“Doa kita akan terkabul. Aku memercayainya.” Apostel Jo tampak tidak berkutik.

“Kenapa kalian berdua hanya duduk di sini? Pergilah dan bawa kembali Sang Mi.”

    Semua orang dikerahkan, mencari ke berbagai tempat di Muji. Di suatu gang dan Jo Wan Duk lapar, ia meminta makanan. Jo wan Tae tambah kesal, disaat seperti ini Wan Duk malah minta makan. Ia memukulinya di gang lainnya.

Sersan Woo juga belum menemukan Sang Mi juga. Petugas Choi menanyakan ciri-ciri fisik para penculiknya.

“Salah satu memiliki tinggi lebih dari 180 cm, bermata besar dan berwajah tampan. Yang satunya memiliki tinggi sekitar 170 cm dengan wajah bulat. Dia sangat kurang ajar. Yang satunya lagi bertubuh gemuk dengan berat lebih dari 100 kg. Sepertinya mereka sudah lama mengincar kami. Mereka bertiga selalu bepergian bersama.”

(Sersan Woo wajahnya sudah tidak enak, ia kenal betul pemuda pemuda yang Jo Wan Tae sebutkan *kkkk).  Ia tampak berpikir keras.

“Sersan Woo, apakah kau mengenali ciri-ciri ini?”

“Anak-anak sekarang ini kebanyakan terlihat seperti itu. Entah mereka tinggi, pendek, atau gemuk. Semua anak-anak di kota ini seperti itu. Saat bertemu anakku sendiri di jalan, aku hampir tidak mengenalinya  Bukankah begitu?” Tanyanya ke Petugas Choi, ia mengiyakannya.

Petugas Choi optimis bisa menemukan mereka, kalau Apostel Jo menemukannya duluan Petugas Choi memintanya membawa Sang Mi ke rumah sakit.

       Man Hee dan Jung Hoon tepar kelelahan, Sang Hwan dan Dong Cheol duduk beristirahat. Sang Mi di lantai, salah satu teman mereka masuk ke ruangan. Memprotes tingkah malas-malasan mereka, tidak berubah sejak SMA. Jung Hoon minta dibelikan ramen, temannya meski agak kesal akhirnya keluar menuruti permintaan.

Jung Hoon dan Man Hee asyik membicarakan perkelahiannya dengan pria rambut ikal dan si gemuk. Sedangkan itu tangan Sang Mi masih gemetaran, ia ketakutan. Dong Cheol mendekatinya

“Apa kau baik-baik saja? Kini kau baik-baik saja. Jangan gemetaran lagi.”

“Terima kasih.” Sang Mi memegangi tangannya.

“Tentu. Kau harus berterima kasih kepadaku secara khusus. Wajah tampan bagi seorang penyiar itu penting, tapi wajahku…” Jung Hoon berkelakar, tapi Man Hee langsung memukul dagunya untuk berhenti bicara. Jung Hoon yang babak belur tentu saja kesakitan, Dong Cheol menahan tawannya. Sang Hwan lalu bertos ria dengan Man Hee “Kerja bagus!”

Sang Mi tersenyum geli.

Teman mereka sudah berbaik hati memasakkan ramen, Jung Hoon dan Man Hee memesan ditambahkan yang kimchi dan sebagainya. Temannya agak kesal,

Jung Hoon blak blakan bertanya ke Sang Mi soal sektenya, karena ia dan yang lain berhak tahu setelah menyelamatkannya. Sang Mi nampak enggan membicarakannya, Sang Hwan mengalihkan pembicaraan tidak nyaman dengan mengajak semuanya makan dulu, Sang Mi pasti juga lapar. Kita bisa menginap di sini malam ini dan…

“Apa maksudmu?” Temannya yang membuat ramyun protes. Jung Hoon dan Man Hee mengkodenya jangan berteriak.

“Kita menginap di sini saja malam ini dan pergi ke kantor polisi tempat ayah Jung Hoon bekerja besok. Setelah itu, kita mencari jalan keluarnya.” Ujar Sang Hwan.

“Benar.”

Ramennya datang, ia ingin diambilkan buku untuk tatakan panic ramen. “Tuhan Kami Kebahagiaan Kami”

Temannya Sang Hwan protes, dia ini ketua pemuda gereja. Sang Hwan lalu mengambilkan buku yang lain. Jung Hoon langsung  membercandainya

“Aigoo… Keren sekali. kau sangat keren, Pak Haejangnim. Astaga, kau sangat hebat.” (Hahahaha… )

Dong Cheol menawari Sang Mi makan. Sang Mi tiba-tiba mengatakan..

Mereka bilang aku harus menjadi milik ketua kultus agar menemukan keselamatan.

Dong Cheol dan yang lain terkejut.

Seorang petugas membawakan Ny. Im makanan dan menyuruhnya makan. Ny. Im mengira pria dihadapannya adalah orang yang membuat Sang Jin meninggal dulu. Ia hendak menyerangnya dengan sumpit, petugas yang lain datang menyelamatkan.

Sang Mi ditinggalkan sendirian untuk beristirahat. Sang Hwan memberikannya ponselnya Jung Hoon untuk menghubungi mereka sewaktu-waktu, si pemilik rumah juga diajak pergi dari rumahnya sendiri.

Mereka berlima berkumpul di tempat biasa nongkrong. Jung Hoon dan Ma Hee tidak mengerti, berarti ayahnya Sang Mi menjual anaknya untuk dijadikan Bunda Spiritual, menikah secara spiritual. Bagaimana bisa orang-orang seperti itu datang ke Muji?

Sang Hwan pikir tidak ada gunanya membahas masalah ini diantara kita, besok mereka harus menemui ayahnya Jung Hoon, Sersan Woo pasti bisa membantu mereka mengatasinya.

Bibi pemilik kedai menduga semuanya sedang merencanakan hal-hal aneh lagi. Jung Hoon kesal karena Bibi ini menyelinap seenaknya sendiri ketika mereka membicarakan hal serius. Bibi itu balik marah apa Jung Hoon mau diteleponkan ibunya?, ia membawakan makanan gratis kepada mereka.

Dong Cheol yang sejak tadi tidak bicara sedikit pun langsung mengutarakan pendapatnya, menurutnya Sang Mi tidak perlu dibawa ke kantor polisi. Dong Cheol tidak bisa mempercayai polisi, sementara kita bahkan belum punya bukti. Kau pikir polisi akan menyelidikinya dengan baik?

“Sepertinya memang tidak, tapi ayahku bekerja dengan baik.” Bantah Jung Hoon, Sang Hwan juga sepakat. Benar. Kita memiliki korbannya, dan dia bisa memberikan pernyataan detail kepada mereka. Mereka akan menemukan bukti saat menyelidiki.

“Bukti? Kau pikir mereka cukup ceroboh untuk meninggalkan bukti? Meski jika mereka menemukan bukti, itu tidak akan berguna.”

“Aku akan bicara dengan ayahku tentang ini. Jangan cemas.” Jung Hoon mencoba menengahi.

“Di kota ini, jika memiliki uang dan koneksi, seseorang yang tidak bersalah bisa bersalah. Itu sudah pernah terjadi. Benar, bukan?”

Namun Sang Hwan yakin tidak akan seperti itu lagi, percayalah padaku.

    Apostel Kang melamun. Nona Hong  memanggilnya, karena meminta obatnya. Ia juga meminta tolong pada Nona Hong untuk memberikan Kim Bo Eun obatnya, pastikan itu ditelan.

Hong terlihat mengganti obatnya dengan obat pencernaan karena tidak tega, syukurlah tidak ada yang melihatnya.

Quotes:

Menunggu itu menyakitkan. Melupakan juga menyakitkan. Namun, bimbang antara menunggu dan melupakan itu penderitaan yang paling parah.

~Paulo Coelho~

 

Advertisements

Leave A Reply. Never Call Me "ADMIN", My Name is KARISSA/CHARISZHA. Thanks :))

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s