[Sinopsis] Save Me – Episode 08 Part 1

“Aku melihat Sang Mi. Dia sepertinya sedang dalam masalah saat ini. Aku bertemu setelah 3 tahun secara tak sengaja, dan Ia memintaku menyelamatkannya. Bukan orang lain, tapi padaku. Aku tahu … aku melukai … dirimu dan dia.”

Dong Cheol hendak memukulnya lagi.

“Kali ini, aku tidak akan melarikan diri lagi. Aku ingin menyelamatkan dia …”

Sang Mi dan Tuan Im pulang. Tuan Im khawatir kenapa Sang Mi berani sekali melukai wajah Bapa Spiritual? Bagaimana nanti kalau kena masalah?. Sang Mi balik bertanya, bagaimana kalau aku terluka? Apa ayah peduli?

Tuan Im menjawab tentu saja peduli, Sang Mi anaknya. Tapi Sang Mi..

“Dia punya kemampuan, bukan? Kau bilang dia bisa menyentuh api dan menyembuhkan penyakit karena dia penyelamat. Lalu kenapa? Dia hanya meneteskan setetes darah. Apa masalahnya?”

“Ayah cemas Bapa Spiritual akan menghukum mu, makanya aku khawatir.”

“Ayah.”

“Ya.”

“Dalam ingatanku … kau adalah ayah penyayang dan penuh perhatian. Aku harap kenangan itu tidak hilang. Ibu sedang sakit, tapi aku masih bisa bertahan … karena aku mengingat ayah yang dulu. Tapi aku … setiap melihat ayah berubah seperti ini, aku takut kenangan itu akan menghilang.”

Jadi tolong.. Demi aku, berhenti mendorongku melakukan hal aneh. Hmm? Tolong. Aku mohon hentikan.

Tuan Im bilang melakukan ini demi Sang Mi. Karena aku sayang dan mencemaskanmu makanya aku begini. Ayah … kalau kau menjadi Bunda Spiritual dan diselamatkan. Ayah akan melakukan apa saja.

Sang Hwan menemui ibunya. Ia mengambil rekaman dari telinga ibunya. Suara rekaman Sang Hwan sendiri, ia tersenyum tipis mendengarkanya.

“Ibu, kau dengar aku? Aku putra ibu, Sang Hwan. Belum lama ini, aku masuk universitas Seoul. Kalau ibu melihatku, kau pasti akan berkata bangga padaku.”

Sang Hwan yakin ibunya bosan mendengarkan rekaman yang sama terus. Kemudian Sang Hwan bercerita, memulai rekaman baru.

Sang Hwan curhat ke ibunya. “Eomma.. Aku, punya gadis yang kusukai. Waktu SMA, dia pindah ke sini dari Seoul. Cinta pada pandangan pertama. Tapi gadis itu … saat meminta tolong padaku.. ibu tahu apa yang kulakuan? Melarikan diri. Yah … Aku tidak tahu … apa yang dilakukan gadis itu sekarang. Atau … kenapa dia minta aku menyelamatkannya. Aku tidak mengerti, tapi aku terus saja … mencemaskan dirinya.”

Joon Gu mendatangi sebuah bengkel, seorang pria menyambutnya.. dikira hendak memperbaiki motornya. Tapi Joon Gu kemari minta pekerjaan. Si pria itu ragu-ragu menjawabnya. Joon Gu bertanya, apa tidak bisa karena ia mantan napi?

Man Hee menyambutnya. Joon Gu heran Man Hee tambah gendut saja. Si pria tadi bilang kerja di sini gajinya kecil dan keras. Joon Gu tidak masalah, ia cari uang untuk makan. Ia mulai melepaskan pakaian luarannya..

Man Hee lihat tato salib di lengan kanannya, apa Hyungnim masih ke gereja?.

“Hah? Ini … Sudah tidak lagi. Aku dengar sesuatu dari seorang pastor saat di dalam penjara. “Hanya mereka yang tidak berdosa, boleh melempariku dengan batu.” Anggaplah ada orang berdosa melempariku batu. Maka aku akan memberinya pelajaran tak perduli siapapun dia. Bagaimana?”

Ia menepuk lengannya dan minta dibawakan baju kerja.

      Detektif Lee geram karena mobilnya sedang manja. Harusnya tidak dijual ganti yang baru saja.

Baru sebentar bekerja banyak orang datang menemui Joon Gu. Ia menyuruh temannya masuk ke dalam dan ialah yang akan mengurus para preman ini. Terjadi perkelahian sengit.

Temannya Joon Gu melaporkan kerusuhan ini pada Sersan Woo. Premannya habis semua oleh Joon Gu

sampai napas Joon Gu terputus-putus, heran kenapa mudah sekali di-keok kan padahal mereka bukan preman kelas teri. Si bos yang tersisa memilih kabur saat Joon Gu tantang. Kebetulan Detektif Lee di daerah yang sama, ia segera menghubungi Detektif Kim untuk mengirimkan pasukan.

Joon Gu mencari-cari di gereja. Detektif Lee mengikuti Joon Gu. Joon Gu yakin pasti Lee Jin Seok yang menyuruh orang-orang ini menghajarnya. Di luar.. Detektif Lee teringat nama Lee Jin Seok.. orang yang selalu mencoba menghalangi jalannya Gubernur Han.

Joon Gu berhasil membuat preman itu berlutut. Ia memukulnya, lalu ia lihat sosok di atasnya

“Kudengar kau tergantung di sana untuk membayar dosa orang lain, bukan atas perbuatanmu. Berhenti bersikap bodoh. Turun sajalah ke bawah.” Katanya

Di luar Joon Gu dipukul Detektif Lee.

Sersan Woo datang, mereka berebut menangkap Joon Gu. Sersan Woo kemari karena pemilik bengkel menghubunginya dan ini adalah wilayah yuridiksinya. Sersan Woo terkejut melihat Joon Gu, ia menyuruh Petugas Choi mengawalnya ke kantor polisi.

Sersan Woo membisiki Detektif Lee bahwa Joon Gu ini baru keluar dari penjara, salah satu mantan napi yang harus diwaspadai. Bergerak sendiri dan agak aneh orangnya. Hati-hatilah..

“Apa kau tak kenal aku? Lee Kang Su.. Lee Kang Su..”

“Kudengar kau sedang di puncak karier. Kau terkenal di antara orang-orang yang bekerja di bar dan lounge. “

“Preman berusaha menghajarnya segera setelah bebas dari penjara. Mulai sekarang kau akan jadi anjingku. Menyalak, bocah. Guk-guk!” Ucapnya senang yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri sambil menatap Joon Gu.

Lee Ji Hee memberitahukan Gubernur Han yang sedang main golf.. Lee Kang Su ingin bertemu. Senator Park juga menghubunginya tadi. Gubernur Han yakin pasti Lee Kang Sung hendak pindah ke Seoul dan jangan terlalu percaya padanya.. sekali berkhianat tetap pengkhianat.

Senator Park pasti ingin membicarakan soal relokasi terminal. Itu salah satu janjinya, tapi Ia malah mendepat Tuan Cheon.  Lalu sekarang apa? Mau aku membereskan kekacauannya?

“Itu memang janji Senator Park, namun anda dapat mengubahnya menjadi pencapaianmu.” Kata Lee Ji Hee

“Tapi jika aku mengatasi kakek tua licik itu, bukankah aku butuh asuransi?”

“Ya, aku akan memberitahukan kapten Lee soal ini.”

“Baiklah.”

Kemudian Lee Ji Hee memberikan jam tangannya Gubernur yang kemarin tertinggal. (tertinggal di mana? Kamar mu? -_-)

“Ji Hee. Kau tahu betapa penting jam ini buatku? Ayahku, yang tidak lulus SD, mendapatkannya setelah menjadi mandor desa. Pak tua itu pasti sangat bangga akan ini. Sampai Ia meninggal, jam ini tidak pernah dilepaskan. Sebelum meninggal, Ia memberikan ini padaku. “Kau harus sukses” Hanya itu perkataan terakhir pak tua itu.”

Lee Ji Hee memasangkannya di tangan Gubernur Han. Selanjutnya ia ingin Gubernur Han menjadi Gubernur Provinsi.

“Ji Hee. Sepertinya kau sudah jadi orangku. Hmm?” Katanya sambil memegangi wajah Lee Ji Hee. (Owh! Ada crush dan love affair di sini.. ulalala..)

Sang Hwan di teras menyaksikan kemesraan keduanya.

Sadar Sang Hwan ada di sana. Mereka kemudian berpura-pura tidak ada apa-apa. Dengan santainya Tuan Han menyuruh Sang Hwan kembali ke Seoul kembali kuliah hukumnya lagi. Ji Hee membenarkan Tuan Han, jika Sang Hwan rajin belajar pasti ibunya akan bahagia.

Sang Hwan membantahnya. Memangnya kau kira kau ibuku?. Ji Hee bilang tentu saja tidak.. ia sangat menghirmati Nyonya. Hormat? Sang Hwan tidak yakin dengan kata-kata Ji Hee tadi sungguhan hormat atau hanya bercanda.

Ayah menyentaknya, harus bersikap sopan pada Nona Lee. Sang Hwan beralasan ia di sini karena ibunya kesepian. Ayahnya tidak sepaham, tindakannya Sang Hwan yang seenaknya sendiri ini terus menyakiti hati ayahnya.

Ji Hee bilang ia di sini sebagai asistennya Gubernur. Sang Hwan menyelaknya, memangnya Ji Hee pikir ia ini anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Lain kali kalau kau menyentuh ibuku dengan tangan kotormu lagi, aku tidak akan tinggal diam.

Kantor ramai sekali. Lee Kang Su menemui rekannya untuk tahu hasil interogasinya. Joon Gu hanya melakukan pembelaan, pemilik bengkel saksinya dan ada kamera CCTV di sana. Setelah keluar dari penjara Joon Gu menemui Lee Jin Seok dari Geng banteng dan membuatnya remuk, alasannya karena  9 tahun yang lalu Lee Jin Seok dituduh melakukan percobaan pembunuhan. Joon Gu berkata ia pelakunya, dan masuk penjara menggantikan Jin Seok. Tapi sepertinya Lee Jin Seok mengabaikannya dan mengkhianatinya.

Lee Kang Su menyuruh rekannya mengurusi yang di luar. Ia masuk ke ruangan dan mematikan kamera perekam.

Mereka segera berkoalisi, Lee Kang Su menawarkan dukungan untuk menghancurkan Lee Jin Seok. Borgol Joon Gu dilepaskan dan mereka pergi makan sup sapi bersama.

Jung Hoon meminta bantuan temannya yang tidak dekat, si temannya ini tidak mau membantu. Jung Hoon bilang Man Hee ini pelanggan setia restoranmu, pelanggan VVIP. Apa begini caramu memperlakukan pelanggan VVIP? Kalau kau begini terus, aku akan buat kampanye soal rambut di dalam makanan yang kami temukan waktu itu.

“Bukan kampanye, tapi komplain.” Man Hee membenarkan. (lucu soalnya Jung Hoon mengucapkannya dlm bhs inggris dan kedengerannya sama antara kampanye sama complain dlm b.ing*kk)

“Komplain” Jung Hoon mengulanginya. Sang Hwan sendiri hanya tertawa geli dengan tingkah konyol sobatnya ini.

Pemuda itu tanya memangnya Sang Hwan mau berbuat apa?. Sang Hwan menjawab, ia hendak menyembunyikan orang yang kabur. Temannya kaget, berarti Sang Hwan hendak menculik seseorang?

Man Hee dan Jung Hoon tertawa. Sang Hwan malah membenarkan memang benar mau menculik orang. Semuanya terkejut. Sang Hwan segera mengoreksi kalau lebih tepatnya hendak menyelamatkan orang yang diculik. Akhirnya pemuda itu luluh dengan tatapan ketiganya, lalu bagaimana ia mengantarkan makanannya?

Jung Hoon mempersilakan tinggal pilih motor yang hitam atau putih,

Sang Mi khawatir ibunya tak ada dalam ruangan. Ia bertanya pada petugas yang lewat. Katanya Kim Bo Eun izin akan pergi berdoa. Sang Mi mau kembali mencarinya.

Wanita itu bertanya apa benar Sang Mi akan menjadi Bunda Rohani?. Bunda dari segala roh. Sang Mi mempertanyakan mengapa wanita ini kemari?. Dengan polosnya ia bilang ingin diselamatkan dan masuk ke surga. Sang Mi menyuruhnya pergi selagi bisa, kalau tidak bisa maka kaburlah. Jika tinggal di sini terus jiwa dan tubuhnya akan mati.

“Lalu kenapa Sang Mi masih di sini?” Tanya Soo Ri

Sebelum sempat Sang Mi menjawab, dua petugas datang menyapa mereka. Sang Mi kemari mencari pasien dan Apostel Kang memperingatkan untuk jangan ngobrol dengan Sang Mi lagi sekarang.

Sang Mi sampai di ruangan yang terdengar suara jeritan dari baliknya. Ia memberanikan diri memasukinya. Dari lubang kecil per pintu Sang Mi menyaksikan orang-orang memukuli diri sendiri, meratap-ratap, berteriak-teriak dan hanyut dalam doanya.

Dari salah satu ruangan Jo Wan Tae keluar, ibunya ada di sana. Tanya kenapa Sang Mi ada di sini

Jo Wan Tae mengingatkannya untuk memanggil Apostel Jo. Sang Mi mengancam akan membunuh Jo Wan Tae jika berani menyentuh sehelai pun rambut ibunya.

“Menakutkan. Mata Sang Mi terlihat penuh kebencian. Sang Mi, aku dulu sering melihat mata seperti itu. Tapi mereka tidak punya kesempatan menatapku. Kau tahu kenapa?” Jo Wan Tae membisiki Sang Mi, karena aku membunuh mereka duluan. Jo Wan Tae tidak berbohong.

Ny. Im senang sekali karena Apostel Jo bercerita soal main bola dengan Sang Jin. Sang Jin mencetak goal. Sang Mi mengingatkan, Oppa kakinya cacat.

Jo Wan Tae hanya senang-senang saja berbohong Sang Jin hebat main bolanya.

Kemudian Jo Wan Tae berulah. “3 tahun sudah berlalu, tapi rambut Sang Mi masih seperti bayi. benar. Kau akan menjadi pengantin Bapa Spiritual. Aku akan menjagamu baik-baik. Bukan begitu, saudari?”

Tanyanya ke Ibunya Sang Mi. Ibunya minta Sang Jin dan Sang Mi dijaga dengan baik. Setelahnya Sang Mi syok berat.

Ia menemui ibunya. Mengajaknya pindah ke sanitorium daripada di sini, Sang Jin menginginkan hal itu. Sambil berjalan pergi Ny. Im menoleh ke belakang pada Sang Jin yang mengangguk padanya.

Kang Eun Shil berdo’a, ia memandangi fotonya bersama Yura. Terlihat di punggung kanannya Kang Eun Shil  punya luka bakar.

~* Rescue Me *~

Jung Hoon, Sang Hwan dan Man Hee mengamati rumahnya Sang Mi. Pagi hari Sang Mi dijemput untuk ibadah. Sang Hwan segera mengikutinya.

Mereka sampai di gerbang Guseonwon yang mirip kastil. Man Hee ngeri kalau harus memanjat setinggi itu, Sang Hwan yakin pasti ada jalan lain untuk masuk ke dalam.

[Sinopsis] Save Me – Episode 07 Part 2

“Nah semuanya, hari ini aku makan makanan Cina. Aku akan habiskan jjajangmyeon dan jjangpong dalam 60 detik.”

Banyak yang berkomentar Jung Hoon hanya ngibul. Jung Hoon janji akan member masing-masing dari mereka 100 dolar kalau Jung Hoon tidak bisa berhasil menghabiskannya dalam 60 detik.

Tak berapa lama kemudian Jung Hoon mulai. Selesai! Jjampong selesai. Lebih cepat kalau makan jjajangmyeon.

Man Hee masuk dan mengganggu Jung Hoon. Gara-gara Man Hee misinya gagal, tapi Jung Hoon langsung bilang ke pemirsa kalau itu tidak masuk ke hitungan.

Sersan Woo masuk. Jung Hoon mematikan kameranya dan berpura-pura belajar. Ia berlatih dengan Man Hee…

“How are you?”

“I’m fine, thank you. And you?”

Pokoknya tahun ini Jung Hoon harus masuk kuliah. Jung Hoon janji, ia lalu minta uang untuk beli buku. Katanya juga dipakai anak-anak Seoul untuk belajar. Sersan Woo tanya berapa?

Jung Hoon mau minta 30 tapi Man Hee  bilang 20. Jung Hoon pasrah menekuk salah satu jarinya(wkwkwk). Sersan Woo mengingatkan untuk jangan membuat masalah seperti Dong Cheol. Keduanya tertegun, ayah bertemu dengan Dong Cheol?

       Ketiganya bertemu. Man Hee dan Jung Hoon dengar Dong Cheol sekarang bekerja di kelab malam.

Sang Hwan lalu sepertinya hendak ke kelab yang dimaksudkan.

Mengingat masa lalu. Sang Hwan minta ditraktir pizza karena menang tanding basket dengan Dong Cheol. Dong Cheol tidak mau kalah.. tadi itu tembakannya Sang Hwan bernilai 2 poin sedangkan ia 3 poin. Matanya Dong Cheol cukup teliti dan Sang Hwan tanya mau diapakan mata hebatnya itu?

Dong Cheol dengan bangga mengutarakan impiannya, ia ingin menjadi polisi. Menemukan ibunya dan membuat neneknya tidak usah bekerja.

“Anak berbakti. Lakukan semua kebaikan itu!” Puji Sang Hwan dengan nada bercanda. Dong Cheol geli mendengarnya.

“Yaa, tegapkan bahumu.“ Kata Sang Hwan

“Kau yang tegapkan bahu.“

“Aku sudah tegapkan bagu, sekarang giliranmu.”

“Baiklah akan kulakukan sekarang.”

“Terserah. Aku capek”

Kelab bukanya jam 9 malam. Teman Dong Cheol memperingatkan Sang Hwan untuk membiarkan Dong Cheol yang berusaha hidup dengan baik. Apa Sang Hwan mengerti rasanya di penjara? Masa-masa dimana seseorang bukannya merindukan jjajangmyeon atau ayam goreng.. tapi merindukan seseorang. Tidak masalah orang yang kau benci atau kau suka … Tempat itu membuatmu merindukan orang.

“Kau tahu apa?!” Serga Sang Hwan

“Bocah … Tempat ini bukanlah Seoul. Kota ini tidak besar sampai kau tidak bisa menemukan Dong Cheol. Kau bukannya tidak bisa menemukannya. Kau menghindarinya. Mengerti ?”

Kemudian Sang Hwan ditinggalkan begitu saja.

Dong Cheol menjadi kurir, mengantarkan barang-barang. Saat Sang Hwan menunggu lampu merah, Dong Cheol mengantarkan barang ke mini mart seberang jalannya. Ketika Dong Cheol keluar Sang Hwan masih di jalan namun mobil besar menutupi pandangan keduanya.

Saat Sang Hwan pergi Dong Cheol melamun menatap tempat billiard seberang mini mart, tempat ia dan ketiga sekawannya dulu sering bermain bersama.

Para ibu bersih-bersih. Baek Jung Ki hendak ikut membantu, ibu-ibu melarangnya. Dan baek Jung Ki panjang lebar dengan bijak  “Orang-orang yang meninggikan diri akan direndahkan, dan orang-orang yang merendahkan diri akan ditinggikan.” Kalian semua melayani yang mahakuasa dari tempat yang rendah.  Kalian semua akan menaiki bahtera keselamatan dan mendapatkan berkatnya.  (Hmm… caper.. caper.. pertama.. dia mungkin memang aslinya baik atau dia kepengen pamer dia baik sama calon istri.. Sang Mi XD, )

Nenek Jeong Gu datang dan menanyakan keadaannya Jeong Gu. Sang Mi tertegun sesaat. Baek Jung Ki bilang Jeong Gu baik-baik saja, seperti penampakan di film-film dia berlari-lari senang.

Ia menyinggung Sang Jin juga sama halnya seperti itu. Sang Mi tidak percaya, ia mengatakan ke nenek kalau Jeong Gu tidak ke surga. Nenek marah, lalu Baek Jung Ki meminta mendoakan Sang Mi. Ibu-ibua lalu mengerubunginya sambil berdoa.

Detektif Lee dapat telepon dari seseorang, katanya ingin mengenalkan orang baru ke Detektif Lee. Lee Kang Su lalu menatapi dirinya sendiri di cermin, narsis..

~ * Save Me *~

Sang Mi memotongi kuku ibunya. Bercerita dulu waktu kecil ibu memotong kukunya dan Sang Jin sampai keduanya tertidur, sekarang giliran Sang Mi yang melakukannya.

Ayahnya datang, bilang Baek Jung Ki ingin bertemu Sang Mi. Sang Mi tidak mau, ia akan menyelesaikan ini dulu. Ayah terus mendesaknya.

Ayah bertanya ada apa malam-malam begini semua dikumpulkan. Baek Jung Ki datang dan meminta semuanya duduk. Sang Mi. Saat pertama kali kau kesini, masih ingat? Di mataku, Sang Mi adalah domba muda dengan luka besar di hatimu … Kau merasa bersalah dan menyalahkan diri atas penyakit oppa-mu.

“Kau tahu apa? Siapa kau?”

“Sang Mi!” Tuan Im geram dengan sikap Sang Mi

“Yang mahakuasa berata kita tidak boleh mengabaikan keluarga, saudara dan penderitaan tetangga kita. Jadi sebagai gembala, mana mungkin aku mengabaikanmu dan menghentikan cintaku padamu?”

“Bapa Spiritual, aku percaya.”

“Keinginan kami akan terpenuhi”

“Berhenti berbohong. Aku tidak percaya padamu. Kau bukan gembala. Kau adalah rajanya iblis.”

Ayah kembali mengingatkan Sang Mi untuk sopan. Baek Jung Ki mengutarakan keinginannya untuk menyelamatkan Sang Mi sebelum terlambat. Jo Wan Tae langsung berdecak kagum, wa.. akhirnya Sang Mi menjadi Bunda Spiritual (lamaran paling tidak masuk akal, pakai-pakai agama.. ngomong aja naksir sejak pertama.. gak usah sok2 bawa2 atas nama kepengen nyelamatin Sang Mi dari iblis. Geli deh gw.. ini drama ruar biasa!! HHHH)

“Selamat” Kata Jo Wan Tae

“Terima kasih” Ayah seperti merasa tercerahkan.

Apostel Kang membenarkan. Menjadi Bunda Spiritual adalah berkat terbesar dari Guseonwon.

“Kalian sudah gila!” Sang Mi berdiri dari tempat duduknya. Ia tidak mengerti apa sebenarnya ini. Ayah terus mendekatinya, Apostel Jo mengingatkan Sang Mi sudah dewasa.. jangan bertindak kekanakan. Sang Mi mundur karena ayahnya dan membuat Sang Mi nekat memecahkan lemari kaca.

Mengancam akan melukai dirinya dengan kaca. Kalau kalian melanjutkan rencana kalian, aku akan bunuh diri. Apostel Kang teringat saat menemukan seorang gadis bernama Yura meninggal di sungai.

Apostel Kang memekik “Jangan!”. Jika Sang Mi begini ia tidak akan mendapatkan keselamatan. “Keselamatan? Apa yang kalian pikirkan? Pada akhirnya, kalian hanya ingin menyerahkan aku padanya!”

Menurut Apostel Kang.. Rencana yang mahakuasa sulit dipahami manusia. Tapi aku tahu betul, melalui iman dan kepercayaanmu, ang maha kuasa hanya ingin menyelamatkan kita dan memberikan kehidupan abadi. Letakkan itu.

Baek Jung Ki mendekati Sang Mi.

Ia mengatakan kalau ia bukannya meminta Sang Mi karena hasratnya tapi aku hanya ingin menunjukkan pada yang mahakuasa akan imanmu dan kesetiaanmu padanya.. betapa yang mahakuasa mencintai dan mengasihimu … masih belum kau sadari?

Sang Mi kemudian menggorekan kaca ke wajah Baek Jung Ki. Tangan Sang Mi ditahan, Baek Jung Ki bertanya apa Sang Mi tidak takut mati?. Sang Mi muak dengan Baek Jung Ki yang terus mengatakan tentang hidup dan mati, mungkin dia sendiri yang paling takut mati.. bagi Sang Mi ia tidak takut mati.

Ancaman lain datang, Ibunya Sang Mi dibawa masuk ke ruangan tersebut oleh Jo Wan Duk.

Baek Jung Ki: Orang mencari keselamatan dan hidup abadi … karena mereka takut akan kematian. “Jika percaya perkataanku dan patuh padanya, kau akan menaiki bahtera keselamatan. Namun, jika tidak percaya perkataanku, dan menolak patuh padanya. Aku akan mengambil satu hal yang paling kau kasihi.Yang paling .. Kau sayangi”

Sang Mi tidak bisa bertindak lebih nekat lagi demi ibunya. Ibunya mendekati dia dan mengajaknya berdoa supaya masuk surga, lagi-lagi berhalusinasi Sang Jin di sini.

Rupanya yang meneleponnya tadi untuk mengenalkan Detektif Lee pada dua wanita penghibur baru dari Seoul. Detektif Lee menduga pasti mereka berdua diusir Madam mereka karena mencoba mencari uang tambahan diluar kerja. Di Muji ini aneh sekali tempatnya, terlihat tenang dan damai tapi banyak yang busuk. Tapi meski daerahnya pelosok begini.. kalau berhasil menemukan tambang gula kalian akan dapat uang bagus.

Bibi pemilik kedai berkaraoke-an. Jung Hoon sedih karena kehidupan mereka tidak seperti direncanakan, padahal mereka dulu janjian untuk masuk wajib militer bersama.

Pil Soo datang, ia tadi lihat Dong Cheol. Mereka ini teman.. jangan seperti anak kecil, kalau bertengkar harus segera baikan.

Sang Hwan kemudian pamit menemui Dong Cheol di stadion.

Dong Cheol di lapangan, Sang Hwan memanggilnya “Hei! Seok Dong Cheol!. Tegakkan bahu mu!”

Sang Mi bersama ibunya. Ibu resah denga ucapan Sang Jin yang menurutnya aneh, Sang Mi yang menganggap ibunya hanya berhalusinasi pun akhirnya bertanya “Memangnya Oppa bilang apa?”

Ny. Im bilang Sang Jin menyuruh ibunya jangan tinggal di sini. Sang Mi terkejut, benar Oppa mengatakan hal itu?

Kemudian ibunya berjalan mengikuti sesuatu.

“Dong Cheol”

“Sekali lagi memanggil namaku, kau akan mati.”

“Seok Dong Cheol.”

“Kubilang jangan sebut namaku.”

Tiap Sang Hwan memanggilnya.. Dong Cheol memukulnya. Akhirnya mereka berkelahi sungguhan,

Di luar terlihat salib berwarna merah dari atas gedung gerejanya.

Sang Hwan dan Dong Cheol sama-sama babak belur. Dong Cheol kesal kenapa Sang Hwan muncul di hadapannya lagi. Sang Hwan bilang karena mereka ini teman. Seok Dong Cheol adalah sahabat terbaik ku.

       Sang Mi bilang pada ibunya yang tertidur. Ia tidak akan melarikan diri, ia akan menyelamatkan ibunya. Demi Oppa juga.

Sang Hwan dan Dong Cheol terkapar di bawah.

“Sudah lama sekali … tidak melihat langit seperti ini. Sejak kelas 9, kita tidak pernah berkelahi seperti ini, bukan?”

“Jangan mencariku lagi.”

“Kenapa?”

“Aku sulit melihat mu” tukas Dong Cheol. Dong Cheol hendak pergi, lalu Sang Hwan mengatakan kalau baru-baru ini melihat Sang Mi. Nampaknya dia berada dalam bahaya.

“Setelah 3 tahun, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia berkata … selamatkan aku”

Sang Hwan janji kali ini tidak akan melarikan diri lagi.