[Sinopsis] Criminal Minds – Episode 10 Part 2

Ia mulai terisak ketika ibu bertanya, apa kau ingat ibu?. Ia mengangguk, kemudian memeluk ibunya. Tangis mereka pecah. Satu-satunya yang tak kembali adalah Hae Jae. Orang tuanya tak sanggup menghadapi kenyataan anak mereka sudah meninggal.

Ayah dan ibu Hae Jae diberi mainan kesukaan Hae Jae. Karena ini mainan keuskaan Hae Jae, Jin Woo membawa mainan ini ke orang tuanya. Ibunya Hae Jae tanya berapa lama Hae Jae dan Jin Woo tinggal di sana?

Jin Woo mengatakan kalau Hae Jae meninggal karena menyelamatkan Yuna. Aku sungguh menyesal.

Kang Ki Hyung: Harapan, sebenarnya, hal terburuk dari semua kejahatan… karena harapan memperpanjang derita manusia. Friedrich Nietzsche.

Jin Woo ditanyai. Ia bilang ia dan anak-anak yang lain dipukuli, dicambuk berkali-kali. Kang Ki Hyung menunggui di sana. Kang Ki Hyung meminta bantuan Jin Woo untuk mengembalikan lagi anak-anak yang telah meninggal ke orang tua masing-masing.

Caranya dengan membuatkan sketsa masing-masing anak tersebut dari ingatan Jin Woo selama ini. Matanya Dong Ha sangat indah. Hidungnya lonjong. Hee Jae… Sangat manis. Wajahnya lonjong…, dan saat dia tersenyum, matanya seperti bulan sabit. Dia suka mainan robotnya. Dia marah saat orang lain pegang-pegang robotnya.

“Dia tidak suka kalau ada yang menyentuh barangnya, ‘kan?” Tebak Kang Timjangnim.

“Tidak. Itu karena ibunya yang membelikannya. Dia tidak ingin barangnya hilang.”

Kang Hae Jae dimakamkan secara layak, dihadiri para tim NCI.

~* Criminal Minds *~

“Ada yang harus kubicarakan. Penting. Jadi temui aku di alamat yang sudah kukirim padamu.” Pesan Hyun Joon ke Sun Woo.

Mereka bertemu di tempatnya Han Byul. Han Byul keluar bersama Hyun Joon, ia langsung mendatangi Sun Woo. “Bibi Sun Woo!”

“Apa yang terjadi?” Tanya Sun Woo agak bingung

“Ini hari cutimu. Kau lupa? Kita memutuskan bergiliran menjaga Han Byul.”

“Enak sekali kelihatannya. Han Byul, ah.“

Kemudian Han Byul menyuapi Sun Woo. Han Byul bermain-main dengan Hyun Joon dan Sun Woo.

Malamnya Han Byul ketiduran. Mereka mengantarkan Han Byul pulang. Kang Timjangnim menagih katanya Sun Woo hendak mengatakan sesuatu. Karena tampaknya Sun Woo tidak bisa mengatakannya, Hyun Joon saja yang akan mengatakannya.

“Apa ini tentang Reaper?” Kang Timjangnim menyodorkan dokumen yang berkaitan dengan kemunculannya Reaper.

“Jadi.. anda sudah tahu?”

“Aku sudah lupa. Reaper rupanya mengambil anting… yang kubeli buat hari jadi pernikahanku. Aku sangat ceroboh.”

“Tapi kenapa Anda tidak memberi tahu kami?” Hyun Joon heran. Kang Timjangnim balas bertanya kenapa Sun Woo dan Hyun Joon tidak memberitahunya? Ini hal yang harus kutangani sendiri. Kalian berdua tak usah mencampuri hal ini sekarang.

“Timjangnim..” Sun Woo menyelanya. Kang Timjangnim mengutarakan kalau ia tidak ingin melibatkan mereka, jika semakin dalam terlibat makan semakin tinggi resikonya.

Hyun Joon di meja kerjanya. Ia teringat pertanyaan Timjangnim padanya dan Sun Woo. “Apakah kalian berdua tidak mempercayai ku? Aku juga memiliki recana. Jangan beritahu yang lain sampai saat itu.”

Mereka sedang asyik bercengkrama. Di luar sana seorang pria tampak ketakutan, “Tidak.. aku tidak bisa.. aku tidak melakukannya”

“Kau kehabisan waktu. Pergi lewat pintu belakang sekarang.” Perintah sosok lain.

Tamu mereka pergi. Pemuda tadi masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Si istri hendak bersih-bersih, suaminya menyarankan bersihkan saja besok. Istrinya bilang ia tidak mau ada serangganya, suaminya kan benci serangga. Akhirnya sang suami mengalah ikut bersih-bersih. Anehnya pintu belakang terbuka, apakah si istri membukanya tadi?

Sang istri bilang tidak. Mungkin terbuka saat hendak mengambil wine.

Pemuda misterius keluar setelah pasangan suami istri masuk ke kamar. Ia menghubungi 112 center. Menyebutkan alamatnya dan mengatakan di sini ada orang yang dalam bahaya. Tolonglah kami..

Petugas meminta tenang. Apa yang terjadi di sana?. Si pemuda misterius menjawab. Pasangan di rumah ini… terlalu banyak yang dimiliki.

“Apa? Apanya yang terlalu banyak?”

“Uang. Rumah yang bagus. Mobil impor. Perabotan mewah.”

“Penelepon. Harap tenang. Tolong ulangi sekali lagi.”

“Tolong cepat sedikit. Dia akan segera memulainya. Tidak ada waktu. Kumohon.”

Kemudian yang salah satunya datang, ia memberitahu petugas bahwa pemilik rumah akan dibunuh. Petugas 112 center terkejut, kemudian terdengar teriakan pemilik rumah.

Korbannya adalah CEO perusahaan investasi, 34 tahun…, Yoon Sung Jin, dan istrinya, 32 tahun, Lee Mi Hyun. Mereka dibunuh di rumah mereka di Hyungjoo sekitar satu jam lalu. Polisi tiba lima menit setelah mereka dibunuh.

Hyun Joon cukup terkejut karena kejadiannya satu jam yang lalu. Nana juga merasa aneh karena petugas datang secepat itu. Min Young menjelaskan kalau salah satunya menghubungi meminta bantuan dengan suara ketakutan. Sedangkan yang lain mengatakan akan membunuh orang berdosa yang berada di rumah itu.

Polisi menemukan sesuatu di tempat tidur korban, kemudian Nana tampilkan di layar. Lee Han lihat.. Itu “Dike” karya Giuseppe Salviati. Ya. Dia merupakan dewi keadilan dari mitologi Yunani. Dia sering dijadikan simbol hukum. Di pengadilan Korea pun…, ada juga patung Dike…, tapi tidak seperti mitos.., dia memegang sebuah buku, bukannya pedang di tangan kirinya.

 Nana sudah menganalisis bagian-bagian buku itu. Rupanya tentang tujuh dosa mematikan dan keadilan. Dari halaman 32, Bab 1 Partai Keserakahan. Menurutku buku ini tidak begitu terkenal.

Sun Woo: Buku ini membuat opini radikal untuk mengendalikan… masyarakat dan masyarakat dengan hukum. Tujuh dosa mematikan yang dijelaskan dalam buku ini… adalah kecemburuan, kemarahan, kelambanan, nafsu makan…, keserakahan, kesombongan, dan hasrat seksual. Sama seperti apa yang tertulis dalam Alkitab.

Hyun Joon: Kecuali keserakahan. Itulah yang mereka maksudkan saat mereka menghadapi para korban… sebagai orang berdosa.

Kang Timjangnim: Mereka melaksanakan hukum yang mereka ciptakan…, dan membunuh orang untuk melambangkan eksekusi.

Hyun Joon: Jenis penjahat ini… tidak akan berhenti sampai mereka tertangkap. Pasti ada pembunuhan yang akan terjadi lagi.

Pria pembunuh menghentikan mobilnya. Ia dengan nada ketakutan bertanya entah pada siapa.. kenapa melakukan ini?. Kau seharusnya tak perlu sejauh itu. Kemudian ia keluar dari mobil, panik sendiri

“Kau bukannya menghukum mereka karena dosa-dosa mereka. Tapi kau barusan melakukan pembunuhan. Aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana ini sekarang?” Ia menangis meraung-raung.

NCI mendengarkan rekaman pembunuh dengan petugas 112 center malam itu. Pertama terdengar pria yang meminta bantuan segera datang. Keduanya.. menjelaskan tujuh dosa. Yang artinya algojo… akan membunuh semua orang berdosa di sini.

Han berpendapat. Tersangka pertama takut… seakan dia tidak melakukannya atas kehendaknya sendiri. Hyun Joon merasa rancu, jika bukan kehendaknya sendiri…, dia harusnya menjerit atau apalah untuk memperingatkan para korban… dibandingkan melaporkannya.

Menurut Min Young.. Bagaimana jika dia diancam oleh komplotannya?. Namun jika memang benar begitu dia pasti tidak bisa menelepon.

Sun Woo: Pelaku kedua mengatakan bahwa algojo akan membunuh orang. Apa menurutmu ada orang ketiga?

Timjangnim: Kita tidak bisa menyimpulkannya. Pembunuh sering… mengacu pada diri mereka  sendiri pada orang ketiga. Bisa jadi dia meningkatkan statusnya… sebagai hakim untuk  memamerkan kekuasaannya…, atau sebaliknya, menyembunyikan diri.

Han: Benar. Si pembunuh berantai, Yoo Young Chul…, juga menyebut dirinya sebagai “si pembunuh” saat.. menggambarkan pembunuhan  yang dia lakukan. Artinya mereka tidak mengakui kejahatan mereka.

Hyun Joon: Dilihat dari betapa mahirnya mereka membunuh orang dalam waktu singkat…, aku yakin ini bukan aksi pertama mereka.

Kang Timjangnim minta berkas yang berkaitan dikumpulkan semuanya. Sun Woo disurut memeriksa lagi tubuh korban. Jika ini pembunuhan…, pasti ada perbedaan lain yang bisa kita temukan. Min Young, kau kumpulkan informasi lengkap tentang para korban. Jangan sampai terlewat satu pun. Pembunuh ini memiliki tujuan yang jelas yang bergantung pada apa yang dia yakini. Pasti dia selektif memilih korbannya. Pasti ada hubungannya dengan si pembunuh.

Han dan Hyun Joon akan pergi ke TKP.

Ini bukanlah pembunuh gila biasa. Han pikir ini karena rasa tanggung jawab. Holmes dan Deberg menggolongkan pembunuh ke dalam empat kategori… tergantung motif dan karakteristiknya. Keempat golongan tersebut bersifat visioner, berorientasi pada misi…, kekuasaan, dan hedonistik. Dalam kasus ini, si pembunuh berorientasi misi. Mereka membunuh individu atau kelompok yang mereka anggap tidak layak.. sesuai standar mereka. Mereka menganggap kalau ini misi mereka.

Singkatnya menurut Hyun Joon.. si pembunuh memiliki standar yang aneh.. lalu membunuh orang, karena tugasnya. Dan jenis pembunuh itu… cenderung bergerak berkelompok.

“Apa kau sudah dengar rekaman panggilan pelaporan 112? Orang pelapor pertama sepertinya sedang diseret. Apa dia bisa jadi merupakan korban juga?” Tebak si detektif di dekat Han.

Hyun Joon menjelaskan bahwa hubungan antar pelaku tidak sesederhana itu. Dalam kasus dua pembunuh yang membunuh keluarga Hwaseo-dong,,,, salah satu pembunuh, Oh Ji Man, terlalu mendominasi…, dan yang lainnya, Choi Young Soo, orang yang didominasi. Choi Young Soo bahkan tidak suka pergi ke rumah korban.

Tapi pada akhirnya, orang yang  membunuh seluruh keluarga bukanlah… orang yang mendominasi, Oh Ji Man… melainkan si Choi Young Soo, orang yang didominasi. Ada lebih banyak darah… dari kejadian pembunuhan biasa. Dimana korban ditikam?

Detektif bilang korban tidak ditikam, lebih tepatnya digorok lehernya.

Sun Woo mengecek kondisi jasad korban. Luka kedua mayat itu hampir sama. Lukanya panjang dan dalam. Lukanya menembus arteri utama dan vena jugularis di leher. Luka tusukan itu sangat dalam dan jauh dari siku sampai pergelangan tangan.

“Kau harus seberapa paham anatomi jika harus meneliti ini?” Tanya Sun Woo ke rekannya

“Pokoknya hanya perlu tahu dimana letak arteri utamanya.”

“Apa metode pembunuhan bisa menandakan sesuatu?”

“Ini khususnya digunakan buat membunuh binatang, bukan manusia. Ini sangat mirip dengan tukang jagal biasa membunuh binatang.”

Hyun Joon hendak melakukan reka ulang pembunuhan. Si pembunuh tahu bahwa… komplotannya menelepon 112. Lalu polisi sedang dalam perjalanan dan dia kehabisan waktu. Untuk itu dia harus cepat-cepat.

Pembunuh mengawasi dari sebuah ruangan, kemudian menaiki tangga menuju kamar tidur. Pembunuh mungkin membunuh Yoon Sung Jin lebih dulu. Kenapa? Biasanya, bila ada banyak orang buat dibunuh…, pembunuh biasanya mengambil risiko terbesar duluan… agar situasi lebih mudah dikendalikan. Dalam kasus ini prialah yang dibunuh duluan.

Kemudian Le Mi Hyun keluar dari kamar mandi, masuk kembali mencoba menahan diri di kamar mandi.

Tapi pembunuh terlalu kuat. Akhirnya ia diserang di kamar mandi. Detektif pikir agak aneh tidak ada sidik jari di pintu, apa ini karena mengenak sarung tangan?

Hyun Joon sendiri tidak terlalu mengerti. Pembunuh dengan rasa tanggung jawab yang kuat biasanya… tidak meninggalkan jejak mereka di lokasi pembunuhan. Berarti… Orang pelapor pertama… yang mungkin menyingkirkan jejak si pembunuh.

Nana menyaksikan rekaman video rumah korbandari sebuah situs. “Oh my god..” kaget melihat sesuatu.

Hyun Joon yakin pembunuhnya sangat berpengalaman. Menimbang lama waktu yang dibutuhkan buat membunuh dan kabur…, berarti dia menyelesaikan semua ini dalam waktu 3 sampai 4 menit.

Detektif bilang. Kantor polisi yang bertanggung jawab saat itu berpatroli di banyak area. Dan kami kekurangan orang. Jika kami bisa sedikit lebih cepat…

Namun Han membesarkan hati si detektif, 3 menit 47 detik setelah adanya laporan. Tentu itu sudah sangat cepat. Padahal rata-rata nasional biasanya 5 menit 21 detik tahun lalu. Di Seoul pun, yang lebih banyak personil dan kantor polisi…, rata-ratanya 4 menit 24 detik. Tidak jauh berbeda.

Hyun Joon juga sepakat dengan Han, Detektif sudah berusaha yang terbaik. Kejadian ini tidak ada yang bisa mencegahnya.

Nana memberitahukan temuannya ke Hyun Joon. Ia tanya apa di kamar korban ada sofa hitam karbon yang panjangnya 2 m?.

“Ya. Ada sofa” Hyun Joon menoleh ke sofa di belakangnya.

“Aku barusan melihat video di situs platform media.”

“Ya, ada apa memang?”

“Lebih tepatnya, nama situsnya View Inside. Situs web di mana orang berbagi video ilegal dan cabul. Salah satu video yang diunggah… sepertinya adegan pembunuhan sungguhan. Lebih tepatnya…, pembunuhan Yoon Sung Jin dan istrinya.”

“Video tentang adegan pembunuhan?”

“Kameranya sepertinya berada di sudut ruangan, arah sofa.”

Han mengeceknya, yang ada adalah pc yang kameranya terhubung dengan komputer milik pembunuhnya. Saat menyelidiki pun si pembunuh sepertinya sejak tadi juga menonton para agen dan detektif di sana.

“Tidak. Ini sebuah peringatan. Ini bukan film. Ini bukan pertunjukan.” Kata si pria pembunuh dengan nada suara ketakutan..

“Apa kau mengerti… Betapa gilanya dunia ini? Ini baru permulaan. Inilah awal yang sesungguhnya.” Kata seseorang yang entah siapa, ia melirik ke atas

K O M E N T A R:

    Hiks… huuf cengeng, saya nangis waktu orangtua dan anak ketemuan, tiba-tiba merembes sendiri sendiri.. ini siapa yang naroh bawang bombay depan mata saya?? ˘’), terlebih saat Jin Woo bertemu dengan ibunya (﹏╥.

Setelah ber-segmen-segmen terlalu serius.. akhirnya ada manis-manisnya gitu.. ❤ yaaaaaaaah… dikit sih, nope~ sekedar selingan gapapalah.. gak nyangka sudah episode 10, semoga elu strong sampai ending Cha.. ˆʃƪ) 20 episode! Sabaaaaaar…

Duh manisnya… aduh… keluarga kecil yang satu ini, nampak adem dan bahagia sekali..*ehehe~ˆʃƪ). Sudahlah.. kalian cocok!.

Advertisements