[Sinopsis] Save Me – Episode 06 Part 1

Persoalan selesai, mereka sama-sama salah dan memilih mengakhirinya dengan baik-baik. Meski begitu Jo Wan Tae tetap menyisipkan uang ke tangannya Jung Hoon.

Sang Hwan, Man Hee, dan Jung Hoon berhenti sebentar. Sang Hwan memulai pembicaraan, bertanya apakah teman-temannya tadi juga melihat yang ia lihat?. Man He membenarkan, sedangkan Jung Hoon salah paham dikiranya membicarakan Kang Eun Shil, wanita tua yang cantik, kalau saja Jung Hoon 15 tahun lebih tua dari umurnya sekarang pasti sudah merayunya.

Sang Hwan bilang tadi itu Sang Mi. Jung Hoon heran, dikiranya Sang Mi dulu kembali ke Seoul setelah Sang Jin meninggal. Lalu kenapa dengannya?

Sang Hwan tanya apa mereka juga dengar kata-kata Sang Mi tadi?. Jelas Sang Hwan mendengar Sang Mi berkata “Selamatkan aku”

Jo Wan Tae curiga anak-anak tadi mengenal Sang Mi karena mereka sebaya. Tuan Im langsung menyanggahnya, dulu Sang Mi sekolah sebentar saja dan belum sempat mempunyai teman. Karena Apostel Jo bicara terus, Kang Eun Shil menyuruhnya diam dengan merenung dengan sunyi mulai sekarang. Mereka lalu diam dan tunduk berdoa.

Sang Hwan mengikuti mobil Sang Mi, Jung Hoon memanfaatkan momen ini dengan melakukan siaran langsung dengan ponsenya. Siaran penyelamatan seorang gadis.

Sang Mi bisa melihat Sang Hwan, ia lalu mencari kesempatan selama semua orang menutup mata kecuali Jo Wan Duk yang menyetir.

Sang Hwan terjatuh dari motornya saat mobil mengerem tiba-tiba dari arah kanannya. Man Hee dan Jung Hoon khawatir, namun Sang Hwan bangkit dan cepat mengendara lagi.  Jung Hoon sambil berlalu marah-marah pada pengendara mobil tersebut.

Saat lampu merah Sang Mi membuka van hendak kabur, namun ia ditarik masuk ke dalam. Jung Hoon agak heran van tersebut menaati peraturan lalu linta juga. Sayangnya motor Sang Hwan mogok saat hendak mengejar lagi, ia berlari dan kehilangan jejak. Sang Hwan kesal.

Sang Mi dan Tuan Im sampai di rumah. Pagi nanti Jo Wan Tae akan menjemput mereka untuk kebaktian pagi. Sang Mi masih tak bergeming, Kang Eun Shil meminta Sang Mi mengingati ibunya ketika keadaannya sedang sulit dan ingin kabur. Ibunya hanya punya Sang Mi dan Tuan Im.

Tuan Im masuk rumah duluan, ia tanya kenapa Sang Mi tidak ikut masuk? Meski tidak tahu apa yang Sang Mi pikirkan, yang jelas Yang Maha Kuasa bahkan tahu jumlah helai rambut Sang Mi.

Sang Mi tidak mengerti kenapa ayah seperti ini, orang-orang membunuh Jeong Gu dan memperlakukan ibu seperti itu. Ayah menyalahkan ini semua salah Sang Mi, karena terlalu keras kepala. Seandainya ia bisa lebih menyerahkan segalanya pada Yang Mahakuasa, Tuan Im yakin ibunya akan kembali seperti dulu.

“Gubernur”

“Ya?”

“Apakah Anda tidak akan melakukan sesuatu tentang Sang Hwan?”

“Masalahnya begini. Saat burung di dalam sangkar, aku merasa itu burungku. Tapi saat aku membiarkan sangkarnya terbuka, burung itu akan terbang dengan mudah sesuka hati. Bukankah dunia ini terlalu berbahaya baginya untuk hidup tanpa orang tuanya?”

Karena asyik mengobrol tanpa sadar mereka menabrak kijang. Asistennya hendak memanggil bantuan, namun Tuan Han tidak mengizinkannya. Ia justru sekalian menghabisi kijang yang sudah sekarat tersebut.

Sang Mi di dalam kamar. Lampu rumah di ruang tengah berkedip-kedip, sementara Tuan Im  memukulkan palunya ke paku dengan berteriak-teriak do’a. Sang terlihat agak ngeri mendengar teriakan ayahnya. Setelah selesai Tuan Im memasang salip di sana.

Sang Hwan mengunjungi ibunya. Ibunya masih terjaga apa mungkin menunggu Sang Hwan?, entah mengapa ibu terlihat kesepian dan membuat hati Sang Hwan sakit. Melihat tatapan ibunya membuat Sang Hwan teringat tatapan minta tolongnya Sang Mi. Apakah ada yang mau ibu katakan?

Sang Hwan lalu berlutut dan mencium tangan ibunya, Sang Hwan bilang kali ini ia tak akan melarikan diri lagi. Jadi ibu… tolong bantu aku..

Deong Cheol dikenalkan ke Bos kelab tersebut. Ia disuruh temannya member salam.

“Namaku Seok Dong Cheol.” Deong Cheol membungkuk hormat.

“Kau baru saja bebas dari penjara. Kau harus istirahat. Kenapa kau mau bekerja?”

“Untuk mendapatkan uang.”

“Aku suka sikap kasar itu. Kenapa kamu membutuhkan uang? Untuk mendapatkan wanita?”

“Aku ingin membelikan nenekku sebuah rumah.”

Bos tertawa mendengarnya. Heran di penjara Dong Cheol malah jadi anak baik. Ia diterima bekerja di sini.

Sang Hwan melihat Tuan Han mengirisi kijang yang ia tabrak semalam. Sang Hwan memprotes ayahnya karena ibu tidak suka aroma darah di rumah. Tuan Han malah bercerita tentang masa kecilnya dulu, kakek Sang Hwan ayahnya Han Yong Min dulu sudah mengenalkan darah padanya ketika anak-anak kecil berkutat dengan kotak pensil dan semacamnya.

Menyuruh Han Yong Min mengingat aroma darah di kapak ini, dan jangan jadi lemah. Tuan Han cukup mengerti betapa menderita selama 3 tahun ini, sekarang sudah berakhir dan Sang Hwan kembalilah ke Seoul.

Sang Hwan tidak bisa. Tuan Han menasehati Sang Hwan kalau setiap mahkluk hidup sudah memiliki takdir yang telah ditentukan.

“Jadi, takdirku adalah mematuhi semua perkataan Ayah?”

“Tidakkah kau tahu. Aku melakukan semua ini untuk mu!”

Sang Hwan marah, itu tidak benar! Menurutnya Ayah hanya melakukannya demi diri sendiri. Aku tahu Ayah ingin menjadi gubernur provinsi. Seperti 3 tahun lalu, Ayah berusaha menyingkirkan semua yang bisa menjadi masalah.

Seorang pria datang ke “Kelab Arab”, pegawai sedang bersih-bersih dan ia malah menari-nari di lantai dansa. Seorang pria datang memarahinya, lalu pria itu tersuruk di ruangan tempat orang-orang hendak main judi. Pria tadi mencari bos kelab ini,

Bos dengan alasan bosan menyuruh orang-orang pergi. Tinggal ia dan pria tadi.

“Aku merindukanmu, Jin Seok. Aku menunggu sembilan tahun untuk menemuimu.” Kata prai itu ke Bos

“Benarkah? Sudah selama itu?”

“Astaga, jangan menyakiti perasaanku. Aku dipenjara karena kau limpahkan tuntutan pembunuhan kepadaku. Kau tidak bisa melupakan sesuatu seperti itu, Kawan.”

Pria itu membawa alat cukurnya, ia beralasan ingin mencukur rambutnya hari ini tapi sepertinya ia akan biarkan Jin Seok menumbuhkan rambutnya saja, biar punya gaya rambut baru.

Di luar, pria itu disambut oleh anak-anak buah Jin Seok. Pria itu menghabisi semuanya hanya dengan mudah. Dong Cheol yang sedang bersih-bersih merasa tidak asing dengan pria tersebut.

Pria itu adalah pria yang mencukur rambutnya dulu. Orang yang menasehatinya supaya bisa menjalani hidup yang baru. Namun pria itu sedikit kewalahan karena terkena pukulan dari banyak orang. Ia terjatuh di dekat kaki Dong Cheol dan mengambil sapunya, mematahkan kepalanya dan menggunakan gagangnya untuk menghajar.

Ia mendekati Jin Seok an dirinya saat di penjara membaca alkitab. Ada yang namanya Ayub di sana yang menjalani hidupnya penuh penderitaan, dan ia menyamakan Ayub itu sebagai Jin Seok dan prai itu adalah Tuhannya. Lalu pria itu pergi, Jin Seok kesal

Dong Cheol menemui pria itu di luar. Jadi rupanya Dong Cheol bekerja di sini, bagaimana rasanya. Sambil menoleh ke belakang Dong Cheol bilang ia mulai terbiasa. Pria itu bertanya apa Dong Cheol sudah menemui teman-temannya?. Dong Cheol tidak menjawab.

Pria itu mengerti, semua orang sudah bertambah dewasa. Terkadang temanmu menjadi musuhmu, dan kadang musuhmu menjadi temanmu.

“Kau berencana tinggal di mana?” Tanya Dong Cheol

“Ke mana pun aku pergi, aku akan tetap di lingkungan ini.”

“Dong Cheol”

“Ya”

“Kau dan aku memiliki bongkahan baja yang membara di hati kita. Cari aku jika kau membutuhkan bantuan, paham?”

Dong Cheol mengangguk, pria itu lalu melajukan motornya pergi.

Sang Mi tidak menjawab saat Kang Eun Shil tanya apakah tidur Sang Mi nyenyak semalam?. Tuan Im datang, ia bilang sudah mendoakan Sang Mi dengan sekuat tenaga dan Yang Mahakuasa akan segera mengabulkannya. Keduanya lalu sama berucap “Doa kita akan terkabul. Aku percaya.”

“Menjijikkan” Kata Sang Mi

Kang Eun Shil tersinggung. Ayah memastikan sekali lagi apa yang Sang Mi ucapkan benar. Sang Mi makin mengeraskannya, menurutnya keduanya menjijikkan.

“Perkataan kotor seharusnya tidak keluar dari mulut yang indah.” Kata Jo Wan Tae. Ia bersama ibunya Sang Mi. Nyonya Im bertanya apa puteranya sudah berangkat ke sekolah? Tapi kenapa Sang Mi masih di sini?

Jo Wan Tae janji akan mengantarkannya. Nyonya Im berterima kasih karena anak-anaknya dijaga dengan baik.

Jo Wan Tae memperingatkan Sang Mi untuk jangan mengataka hal-hal buruk lagi demi kebaikan ibunya.

Dari atas, ruangan Baek Jung Ki. Ia memperhatikan Sang Mi dan yang lain. Sajangnim peterkanakan sapi, Yoon Dal Sung datang dan langsung bersujud pada Baek Jung Ki. Ia minta diselamatkan. Baek Jung Ki meminta Yoon Dal Sung menceritakan apa permasalahannya.

Yoon Dal Sung bilang baru-baru ini ke rumah sakit dan ia didiaknosa mengidap kanker perut. Ia minta diselamatkan Bapa Rohani karena ia mengkhawatirkan perternakannya. Tolong keluarkan semua yang buruk dari tubuhku.

Baek Jung Ki ikut berlutut dan memegangi tangannya. “Surga adalah tempat bagi orang-orang yang memiliki jiwa yang malang. Jika kau menyingkirkan ketamakanmu, kau akan bisa menaiki Perahu Keselamatan. “

“Aku akan memberikan Dia semuanya.”

Dong Cheol mengunjungi neneknya, ia membawakan kesemek kesukaan nenek. Bagaimana kehidupan di sana? Nenek tidak mengumpulkan kardus juga di sana, bukan?

Aku tidak tahu tentang hal lainnya. Tapi kuharap Nenek akan hidup dengan punggung tegak di surga.

Saat nenek mengunjungi di penjara, ia menangis karena jam besuknya sudah selesai. Dong Cheol terlihat sedih, ia mengecup tangan neneknya dari balik kaca sebelum kembali ke sel.

Dong Cheol meminta maaf, ia sungguh meminta maaf karena membuat nenek meninggal sendirian tanpa Dong Cheol disisinya.

Advertisements