[Sinopsis] Save Me – Episode 03

Kim Bo Eun, ibunya Sang Mi terus menerus memandangi fotonya Sang Jin. Sang Mi meminta ibu setidaknya minum karena belum makan apapun. Ny. Im menyesal sekali.. seharusnya keluargnya tidak pernah pindah kemari.

Sang Mi terus memaksanya minum air. Ny. Im menyentak gelasnya. Marah. Bagaimana bisa ia tetap minum melihat keadaan Sang Jin?

 Hanbok Sang Mi basah, ia tertegun memandangi ibunya . Tuan Im menenangkan istrinya, pada Sang Mi jangan begitu…

“Maafkan aku Sang Mi.. Ibu sungguh minta maaf”

“Tidak apa-apa, Eomma. kau tidak perlu meminta maaf.”

“Seharusnya aku merawat kalian berdua dengan baik. aku sangat menyesal karena aku bukan ibu yang baik.”

Nyonya Im kembali memeluk foto Sang Jin. Ia bergumam dalam tangisnya. Aku tidak ingin hidupku… berubah seperti ibuku, ibuku… meninggal dan meninggalkan anaknya sendirian. Aku tidak ingin menjadi ibu yang tidak bertanggung jawab seperti dia. Tapi pada akhirnya, aku juga tidak bisa melindungi anakku. aku berubah menjadi ibu yang tidak bertanggung jawab seperti ibuku dulu.

    Tuan Im menyuruh Sang Mi keluar untuk cari udara segar. Sang Mi mengangguk mengiyakan.

Sang Hwan mengalami delusional. Ia melihat gadis lain dan dikiranya Sang Mi.

Han Sang Hwan bertemu Sang Mi. Sang Hwan meminta maaf padanya. Sang Mi mempertanyakan tindakan Sang Hwan sebelumnya. Kenapa kau melakukan ini jika pada hari itu mendekatiku.

Saat jam olah raga, Sang Mi sendirian. Sang Hwan mendekatinya. Ia bertanya ke Sang Mi apakah ingat dirinya dan kawan-kawannya yang dulu membantu Sang Mi sewaktu hujan?. Sang Mi bilang iya ingat. Kemudian Sang Hwan mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Perkenalkan aku Han Sang Hwan siswa paling ganteng di sini. Sang Mi tidak menyambutnya sehingga membuatnya kikuk.

“Dan pria berpenampilan bodoh di sana namanya Seok Dong Cheol” Deong Cheol agak tersingungg mendengarnya.

Sang Mi curiga, apa yang sebenarnya ingin Sang Hwan katakan?. Sang Hwan mengajaknya main voli, gadis Seoul bisa main voli kan?

Yang ada Sang Hwan jadi korban dari semua pukulan Sang Mi. Giliran Dong Cheol, ia juga jatuh kena pukulannya Sang Mi. Siswa yang lain terperangah menyaksikan kepiawaiannya Sang Mi.

Sampai Sang Hwan menyerah. Sudah sudah..

Sang Mi geli melihatnya, ia tersenyum. Sang Hwan langsung berkomentar “Kau bisa tersenyum juga ya?”

Sang Mi lalu menghentikan senyumannya.

“Apa kau lihat dia tersenyum tadi?” Tanya Sang Hwan ke Dong Cheol. Dong Cheol hanya memandangi Sang Mi

“Kau terlihat sedikit imut saat tersenyum.” Goda Sang Hwan

Sang Mi agak kesal, ia hendak melakukan servis lagi. “Hei, hei. Jangan!” Sang Hwan panik

Sang Hwan memberikan minuman pada Sang Mi yang sedang mencuci tangan. Pasti capek dengan tangan sekecil itu memukul bola berkali-kali. Sang Mi menolaknya secara halus, dulunya ia berada di tim voli sekolah lamanya. Harusnya Sang Hwan sajalah yang minum karena tadi kena bola berkali-kali.

Sang Mi pergi. Sang Hwan mengikutinya. Ia merasa tidak terkena bola, tadi ia sengaja membiarkan Sang Mi mengenainya. Sang Mi agak jengkel.

“Kenapa kau menjadi seperti ini padaku? Apa karena aku baru di sini dan sendirian sepanjang waktu? Apa kau mengasihaniku?”

“Kita berteman. Kenapa harus ada alasan? Kita berada di kelas yang sama, artinya kita berteman. Apa orang di Seoul butuh alasan untuk berteman dengan seseorang?”

Sekarang Sang Mi mengusirnya.

“Pergi.”

Sang Hwan jangan pernah muncul dihadapan Sang Mi lagi. Kemudian Sang Mi meninggalkan Sang Hwan.

~ * Save Me *~

Dong Cheol di ruang interogasi teringat kematian Sang Jin.

Detektif Lee hendak melakukan penyelidikan kasus kekerasan dalam sekolah. Pak Kim mengatakan tadi baru saja mendapat panggilan dari sekolah, mereka akan mulai penyelidikan dari Dinas Pendidikan. Jadi mereka tidak ingin kejadian ini dibesar-besarkan, masa depan anak-anak masih cerah.

Salah seorang dari ayah pembuli Sang Jin datang marah-marah. Ia merasa anaknya menjadi korban, yang salah adalah Dong Cheol.

Anak-anak nakal tersebut akhirnya dibebaskan. Para orang tua memprotes anak-anak mereka tidak salah, kalau nilai anak-anak mereka turun lalu siapa yang mau tanggung jawab?. Detektif Lee terpaksa, ia diluar tersenyum-senyum dan membungkuk hormat mengucapkan selamat jalan pada satu-satu mobil mereka.

Setelah pergi ia kesal. “Astaga, seberapa parah mereka mendidik anak-anak mereka?”

“Ajussi! Ajussi!”

Sang Hwan, Jung Hoon, dan Man Hee datang. Mereka memprotes kenapa anak-anak dilepaskan padahal Dong Cheol masih di dalam. Si detektif tidak terima dipanggil paman, aku ini detektif!

Karena si detektif tidak terlalu peduli, Jung Hoon langsung pamer temannya ini adalah Han sang Hwan. Dia satu-satunya putra… Gubernur Han Yong Min, pria yang dicintai dan dihormati oleh… Warga negara kita.

“Jadi Apa yang kau mau tahu tuan muda?” Detektif meledek Sang Hwan dengan sebutan tuan muda.

Sang Hwan ingin tahu kenapa Dong Cheol masih di dalam sana. Detektif bilang ia masih harus ikut dalam penyelidikan, jadi hari ini tidak bisa pergi. Aku sibuk, jangan ganggu aku.

Jasad Sang Jin dikremasi. Sang Mi tidak tahan, ia keluar dari ruangan, di luar berpapasan dengan Jo Wan Tae dan Jo Wan Duk. Wan Duk yang tuna rungu bertanya k eke Jo Wan Tae kenapa Sang Mi tadi?

Jo Wan Tae menjelaskan, Sang Mi perlu mencari udara segar.

Sang Mi Sampai di atas bukit. Ia meminta maaf pada Sang Jin, harusnya bisa melindunginya dulu. Sejujurnya Sang Mi merasa sulit hidup tanpa Oppanya, jadi ia hendak menyusulnya.

Namun niatan Sang Mi terhalangi, karena Jo Wan Tae sudah menariknya ketika kaki Sang Mi tinggal melangkah satu langkah terjun dari tebing.

“Sang Mi, kau harus hati-hati. Kau punya masa depan yang cerah di depanmu.”

Sang Mi tercekat.

~* Save Me *~

Dong Cheol di dalam sel penjara, ia mendengar seseorang menangis. Dong Cheol mengamatinya, yang tertuntuk menangis dan tiba-tiba mendongak menatapnya. Itu Sang Jin. Dan rupanya hanyalah mimpinya Dong Cheol.

Detektif membukakan selnya Dong Cheol. Pihak sekolah memutuskan untuk tidak menindaklanjutinya, jadi Dong Cheol sekolah lah dan belajar yang baik.

      Bekas jatuhnya Sang Jin diberi bunga-bunga, ditata kembali.

Salah satu teman sekelasnya Sang Hwan memberitahukan berita besar. Dong Cheol akan dikeluarkan dari sekolah, sementara anak-anak nakal yang terlibat kasus itu hanya menulis surat permintaan maaf karena naik atap tanpa izin. Dan jam berikutnya bukanlah olah raga, tapi wali kelas kita akan masuk ke kelas.

Sang Hwan geram mendengarnya, ia hendak mencari Dong Cheol. Namun Dong Cheol datang ke kelas,

Wali kelasnya menyuruh Dong Cheol pulang. Karena ucapan wali kelas terlalu kasar pada Dong Cheol, Sang Hwan membantahnya. Apa ucapan guru ini tidak kelewatan? Kenapa guru bisa seperti ini, memangnya Dong Cheol yang salah?. Guru membiarkan Sang Hwan karena Sang Hwan adalah Han Sang Hwan.

Dong Cheol mengambil tasnya pergi meninggalkan kelas. Sang Hwan mengejarnya.

Sang Hwan menyayangkan mengapa Dong Cheol tidak berontak seperti biasanya?.

“Sang Hwan. Ayahku… akan bersikap kasar pada pemabuk. “

“Apa yang kau bicarakan sekarang?”

“Ayahku… tidak punya kekuasaan yang dimiliki ayahmu. Itulah yang mau kukatakan. Apa kau tahu yang orang pikirkan saat mereka melihatmu? Ayahmu yang kuat. Tahukah kau apa yang mereka pikirkan saat melihatku? Seorang buruh bangunan. Pekerja kasar.”

“Dong Cheol”

“Kepala sekolah maupun polisi. Tidak ada yang mendengarkanku tidak peduli seberapa keras aku mencoba untuk jelaskan yang sebenarnya. Kau juga tahu itu. Jadi.. Jangan sia-siakan dirimu seperti ini.”

Sang Hwan tak berkutik, Dong Cheol meninggalkannya.

“Hei, Dong Cheol! Kau bukan siapa-siapa selain dirimu sendiri. Kau harus tahu bahwa kau… tidak mengingatkanku tentang ayahmu. Jadi jangan bersikap bodoh! Berdiri tegaklah”

Dong Cheol berbalik. “Berhenti mengoceh, bodoh. Berdiri tegaklah”

“Hei! Aku akan menemuimu sepulang sekolah.”

Sang Hwan ikut melakukan kampanyae ayahnya Han Yong Min.

Dong Cheol sudah setengah teler, ia pergi ke kamar mandi. Jung Hoon mengkhawatirkan Dong Cheol, sejak dikeluarkan tingkahnya menjadi seperti orang gila. Man Hee rasa tidak apa-apa karena Dong Cheol orangnya kuat. Jung Hoon mengungkapkan pemikirannya, sebenarnya ia penasaran kalau antara Sang Hwan dan Dong Cheol berkelahi siapa yang bakal menang?

“Baiklah, tetaplah hidup dengan sederhana. Jangan pikirkan apapun.” Man Hee menanggapi.

“Apa kau meremehkanku sekarang?”

“Ya, benar. Mari kita jatuhkan. Aku akan mengambil air.” Man He eke kamar mandi.

     Dong Cheol memandangi mukanya di cermin toilet. Man Hee bertanya apakah Dong Cheol baik-baik saja?. Dong Cheol hanya mendengus lalu pergi, ia mau merokok.

Saat sedang duduk hendak merokok, di jalan Dong Cheol melihat anak-anak nakal yang membuat Sang Jin meninggal. Man Hee keluar, ia melihat puntung rokok Dong Cheol terbelah menjadi dua. Dilihatnya sosok Dong Cheol dari jauh, ia kemudian memanggil Jung Hoon.

Ada yang tidak beres dengan Dong Cheol. Jung Hoon ikut panik, tapi ia ditahan bibi pemilik kedai untuk bayar dulu. Kalau tidak bayar Bibi akan menghubungi orang tua mereka.

Anak-anak itu keluar dari toserba. Salah satunya berpisah jalan, ia kesal membersihkan sepatunya yang kotor kena es krim. Dong Cheol mengamatinya dari jauh,

Jung Hoon dan Man Hee masih tertahan oleh Bibi kedai. Sang Hwan datang menanyakan di mana Dong Cheol

Setelah itu mereka berlari mencari Dong Cheol. Ketiganya berpencar.

Dong Cheol main hakim sendiri. Ia memukulinya karena Sang Jin meninggal karenanya. Si anak nakal justru tidak merasa bersalah, Sang Jin kan memang sakit mental. Dong Cheol menendang dan memukulnya sampai babak belur dan jatuh ke  tanah.

Anak itu pamer ayahnya, Dong Cheol juga tahu ayahnya kan?. Dong Cheol mendekat, matanya dilempari debu. Mereka bergelung di tanah.

Si anak nakal mengalah, ia janji akan menceritakan kebenarannya pada mereka. Ia mengaku sebenaarnya ia sangat tertekan karena kematiannya. Karena dialah Sang Jin meninggal dan Dong Cheol dikeluarkan. Dong Cheol luluh, ia menyuruh anak itu pergi ke kantor polisi sekarang juga.

Terdengar suara Sang Hwan memanggil-manggil Dong Cheol. Dong Cheol mengedarkan pandangannya mencari sosoknya. Saat lengah itulah si anak nakal mengambil kesempatan itu dengan mengambil payung bekas dan menusukkannya ke dada kiri Dong Cheol.

Dong Cheol berteriak kesakitan. Si anak nakal menyuruhnya teriak yang keras kalau bisa.

Sang Hwan datang menyelamatkan, ia memukulkan botol beling ke kepala anak nakal itu. Ia memapah Dong Cheol untuk pergi. Si anak nakal mencoba membalas dengan membawa potongan beling. Dong Cheol dengan sigap mendorongnya.

Keduanya gulung gulung terjatuh, Dong Cheol terkejut mendapati kondisi anak nakal itu.

Sang Mi meminta maaf, ia tidak bisa menjaga Sang Jin dengan baik. Ibu menyuruh Sang Mi membukakan pintu, Sang Jin tidak bisa masuk. Tuan Im menyadarkan istrinya, Sang Jin tidak ada di sini. Nyonya Im menyalahkan suaminya, ini semua salahmu! Salahnya membawa keluarganya kemari karena memiliki banyak hutang.

Ny. Im juga menyalahkan Sang Mi, kenapa tidak bisa menjaganya dengan baik. Apa tidak tahu betapa menderitanya Sang Jin?.

Ny. Im membuka pintu rumah. Ia berbalik dan mengatakan pada Sang Mi serta suaminya, lihat! Sang Jin menggigil kedinginan.

Di Rumah Sakit Muji. Si anak nakal bisa diselamatkan tapi ia tidak akan bisa berjalan kembali. Ayahnya marah-marah, ia menyuruh dokter mengirim anaknya ke RS Seoul.

Han Yong Min mengetahui kejadian tersebut, ia mengkhawatirkan anaknya. Lee Ji Hee hendak melimpahkan kesalahan pada Seok Dong Cheol. Pemilihan ini sangat penting bagi kita.

Sang Mi di kamarnya Sang Jin. Ia memegangi tag name milik kakaknya. Lalu memasukkannya ke dalam laci, di laci tersebut ada buku pemberiannya Baek Jung Ki “Jalan Menuju Keselamatan”. Sang Mi membuka selembar, lalu teringat perkataan Kakaknya sebelum menjatuhkan diri dari gedung.

Sang Jin meminta maaf, ia merasa sepertinya doanya tidak didengar. Sang Mi ketakutan, ia mengembalikan buku ke tempatnya semula.

Han Yong Min bertermu dengan Lee Kang Su si detektif yang bertanggung jawab atas kasusnya. Han Yong Min tahu Detektif Lee sudah lama dipindahkan dari Seol. Detektif Lee bilang sudah 3 tahun.

Lalu Han Yong Min menghubungi kenalannya, menanyakan kebutuhan Manajer tim baru Divisi Urusan Pidana, ia berencana merekomendasikan seseorang. Detektif Lee mendengarkan, ia langsung tahu kemana arah pertemuan ini.

“Kudengar kau bertanggung jawab atas… penyelidikan kasus mengenai putra Pemimpin Serikat.”

“Maaf” Detektif Lee terkejut.

Akhirnya Han Sang Hwan dimudahkan jalannya, dia akan dilibatkan menjadi orang yang kebetulan lewat dan melihat kejadian tersebut. Tinggal menulis surat, dan bisa di rumah selama beberapa hari atas alasan pasti syok menyaksikan kejadian.

Makanan datang. Han Yong Min bilang cara membuat hidangan ini dengan menguliti sapi. Dan mengumpulkan residu yang ada di bawah kulit. Mereka bilang para peternak biasanya… Gunakan metode itu untuk mendidihkan sup pada masa lalu.

Tuan han mengajak Detektif Lee sesekali makan bersama lagi, kita sudah seperti keluarga.

Detektif Lee langsung berdiri membungkuk hormat. Tuan Han ikut berdiri.

“Aku akan melayanimu dengan baik… aku akan melayanimu dengan baik, Gubernur Han.”

“Gubernur? kau seharusnya tidak memanggilku begitu. Pemilu bahkan belum digelar.”

“Pernah menjadi gubernur, selalu gubernur, pak.”

Keduanya lalu bersalaman.

“Yang aku minta darimu adalah fokus melayani publik dengan baik. Aku yakin kita akan membuat tim yang hebat.”

Jo Wan Tae berolah raga malam-malam, ia menyapa Baek Jung Ki yang hendak pergi. Jo Wan Tae beralasan ia tidak mau menua dan hanya sakit-sakitan di tempat tidur, kalau sehat kan bisa menjalankan misinya dengan baik.

Baek Jung Ki setuju, tapi bukanlah nanti dia akan ke surga?. Menurutnya Jo Wan Tae adalah pekerja keras di masa lalu dan Baek Jung Ki adalah seorang pendosa di masa lalu, sekarang lahir menjadi orang baru dan ia bersyukur karenanya.

Baek Jung Ki melanjutkan jalannya, Jo Wan Tae bertanya kenapa Bapa Spiritual terlalu perhatian pada keluarga yang baru pindah dari Seoul itu?

“Ini adalah wahyu dari Yang Maha Kuasa.” Jawab Baek Jung Ki. Jo Wan Tae tertawa mendengarnya, ia bisa jujur pada Jo Wan Tae kalau mau. Apa itu benar? Apa kau berniat menjadikannya pacarmu? Kau tahu apa yang aku maksud.

Baek Jung Ki mendesah, “Aku meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan pengelolaan Guseonwon… padamu, kan?”

“Ya, benar.”

“Aku yakin kau belum melupakan kenyataan bahwa kau telah… kupercayai dengan apapun yang ada hubungannya dengan… keselamatan. Sang Mi… adalah Perawan Maria kita yang akan menuntun kita… Ke Perahu Keselamatan.” Jo Wan Tae mengangguk sekali, mengerti semacam ancaman halus padanya.

“Alih-alih melihat ini di mata dunia. Cobalah lihat melalui mata jiwa, Rasul Jo.” Baek Jung Ki memandang bengis pada Jo Wan Tae lalu pergi.

Lalu Jo Wan Tae tertawa geli, “Perawan? Keinginan kami akan terpenuhi.” Ejeknya ke Baek Jung Ki.

Sang Hwan mendatangi Detektif Lee. Ia mempertanyakan apa yang terjadi pada Dong Cheol, apa ini karena korbannya adalah anak orang kaya?. Bagaimana pun juga Sang Hwan melihat kejadian tersebut.

Detektif Lee menjelaskan, justru karena Sang Hwan kenal dengan Dong Cheol, maka kesaksiannya menjadi tidak objektif. Jika ingin temannya segera keluar maka jangan melakukan apapun dan dukung saja Dong Chul serta biarkan orang-orang dewasa mengurusnya.

“Jika aku tetap diam. Akankah itu bisa membantu memecahkan masalahnya?”

Sang Hwan pergi. “Dasar. Anak nakal…”

Kang Eun Shil bertelepon dengan Baek Jung Ki, ia akan pergi ke Seoul menemui seorang jemaat. Ia meminta Kang Eun Shil merawat Sang Mi sekeluarga.

Kang Eun Shil sudah berada di rumahnya Sang Mi. Sang Mi menyuguhinya kopi, Jo Wan Tae memuji kopi buatannya Sang Mi enak dan ia bisa buka kedai kopi.

Kang Eun Shil bertanya mengapa pintu rumah dibiarkan terbuka, Sang Mi bilang itu karena supaya ibu tidak pengap. Melihat kondisi tersebut Kang Eun Shil berinisiatif mendo’akan. Mereka lalu berdo’a bersama.

Apapun yang terjadi ini sudah kehendak Yang Kuasa.

      Di taman Sang Hwan membicarakan soal Dong Cheol. Sang Hwan hendak bersaksi di pengadilan, setidaknya hakim pasti bisa memutuskan dengan adil. Tuan Han tidak setuju, kalau diruntut dari awal kejadian ini bermula karena Dong Cheol, lagipula Tuan Han tidak mau mengambil resiko karena sebentar lagi pemilihan umum. Ia sangat ingin menjadi gubernur lagi, demi kebaikan ibunya sang Hwan juga. Kita akan menjadi keluarga bahagia seperti sedia kala.

Para wartawan di ruangan ibunya Sang Hwan. Wartawan menanyakan apakah tidak kerepotan merawat istrinya sementara dengan kampanye?. Tuan Han mendekati istrinya dan menggenggam tangannya, bagiku orang yang paling penting dalam hidupku. Aku sangat mencintainya. Sama seperti aku mencintai istriku. Tidak ada hari yang berlalu… Tanpa menjanjikan diriku untuk mencintai dan menghargai orang-orang Muji.

Sajangnim memanggil-manggil Tuan Im, dia memberikan Tuan Im cuti mengapa di sini?. Sajangnim menyayangkan keadaan keluarga Tuan Im yang merana seperti ini, dunia seperti kiamat saja. Ketika keluarga Im berduka dan mengurusi pemakaman Sang Jin, anak-anak nakal itu bahkan makan enak di rumah mereka masing-masing, polisi tidak menahan mereka. Mereka adalah anak-anak orang yang berpengaruh di daerah ini.

Jung Hoon dan Man Hee mengunjungi Dong Cheol. Jung Hoon berkomentar Dong Cheol jadi kurus. Sang Hwan tidak bisa datang karena sibuk dengan kampanye ayahnya, Jung Hoon dan Man Hee yakin Sang Hwan bisa bersaksi dan membebaskannya karena malam itu ia menyaksikan semuanya. Jung Hoon dan Man Hee mengirimkan uang atas nama Dong Cheol, jadi ia bisa beli makanan yang ia mau. Dong Cheol hanya tertawa kecil

“Kalian tidak punya uang. Cepatlah dan bayar semua yang kau beli secara kredit.”

“Astaga, jangan khawatir  aku akan membayar semuanya setelah aku dapat uang dari video online.” Jung Hoon berkelakar.

Sang Hwan sedang gamang antara datang ke persidangannya atau tidak. Ia barusan menerima pesan dari Jung Hoon untuk memastikan datang tidaknya Sang Hwan sebagai saksi.

       Tuan Im mencari karaoke K. Ia sudah menyiapkan palu untuk anak-anak nakal tersebut. Pikirannya sudah tidak jernih mengingat anaknya tidak bersalah meninggal sedangkan pembulinya justru bebas berkeliaran senang-senang.

Sang Hwan mengabaikan panggilan Jung Hoon. Jung Hoon terus mengiriminya pesan kenapa tidak jawab panggilannya. Sang Hwan menaiki motornya dan pergi, sepertinya sudah mengambil keputusan.

Dong Cheol memasuki ruangan persidangan. Man Hee, Jung Hoon, dan nenek juga berada di dalam ruangan.

Tuan Im berdarah-darah, ia dipukuli dan ditendang. Si bertopi menahan temannya yang hendak memukul Tuan Im dengan palu. Ia khawatir nanti kalau Tuan Im mati. Temannya dan yang wanita berpikiran sama, bahwa mereka ini hanya melakukan pembelaan karena ada orang yang datang menemui mereka membawa palu dan hendak membunuh mereka.

Si topi memilih kabur daripada dapat masalah, kedua temannya menyusul.

      Di persidangan pihak Dong Cheol sedang menunggu saksi karena hakim menanyakan adakah saksi.

Tuan Im berjalan terseok-seok, Sang Hwan melihatnya terjatuh. Ia membantunya. Sedangkan itu Dong Cheol dibawa polisi memasuki bus tahanan, sebelum masuk ia menoleh ke belakang. Sepertinya mencari Sang Hwan.

Sang Mi datang ke rumah sakit, ayahnya terluka. Tuan Im meminta maaf pada Sang karena dia keadaan keluarga mereka menjadi sulit begini. Sang Mi berlutut dan menolak ini bukan salah ayahnya, ia meminta ayahnya tetap kuat dan jangan pernah menyerah.

     Sang Hwan ngebut dan hampir tertabrak kendaraan lain. Ia mengikuti arah bus Dong Cheol. Sekarang laju motor Sang Hwan menyamai busnya, ia memarkirkan motornya di depan bus yang berjalan. Membuat bus berhenti.

Sang Hwan menggedor-gedor jendela, Dong Cheol tak menoleh sedikit pun. Sang Hwan memintanya berdiri tegak. Polisi menghentikan aksinya Sang Hwan. Sang Hwan meminta maaf pada Dong Cheol.

Dong Cheol menitikkan air matanya.

KOMENTAR:

    Katanya pemerannya Dong Cheol mirip dengan Seo Kang Joon. Yep! Waktu pertama kali saya lihat posternya sempat kepikiran seperti itu, matanya yang sipit apalagi kalau dari samping memang mirip. Woo Doo Hwan ini masih pendatang baru, aktor rookie tapi emang bener kalau justru saya lebih memperhatikannya ketimbang Taecyeon (Sang Hwan) *kkkkk. Perpaduan antara Kim Woo Bin dan Seo Kang Joon. Ini masalah wajah dan karakter pemberontaknya yang saya suka.

     Untuk kocak dan cerianya Jung Hoon lebih dapet, lucu kalau Jung Hoon keluar.. suasana jadi lebih ceria. Man Hee jarang kesorot sih. Ugh.. lucu sekali persahabatan antara pria, terkadang lebih so sweet daripada wanita. Meski mereka cara mengungkapkan sayang ke satu sama lain tidak seperti wanita yang bisa-bisanya manggil temennya “Sayang”, “Beb”, gandengan atau pelukan bahkan cipika-cipiki. Care-nya beda, tapi kalau sudah melakukan kesalahan fatal & benci.. paling parah bisa saling bunuh.

     Betewe jangan mempermasalahkan kog Save Me agak mirip dengan Lookism ya? Readers yang juga baca webtoon, heloo… saya juga membaca webtoon dan suka banget dengan Lookism dengan konsep yang bawa “Hidup akan lebih mudah jika tampan, yakin?”

Wkwkwk, maksudku Save Me ini diadaptasi dari webtoon lhoo, tapi rilis webtoonnya sudah cukup lama daripada Lookism yang edisi “Sesat”.  Saya lupa judulnya apa, wajar sekali kepikiran “Kog sama ya?”, eniwei edisi sesat kan menyembah anjing Poongsan yang padahal akal-akalan si pendetanya doang, dan dia juga suka Mijin.

Secara tampak depan memang agak – agak mirip, tapi kita tilik lagi konsep sesatnya apakah sama?. Saya bener-bener belum tahu Save Me menganut aliran sesat yang seperti apa? Ataukah yang menyembah hewan-hewan seperti Lookism atau yang si pendeta membelotkan ajaran umum yang seharusnya sesuai kepentingan pribadi?.  Kan belom jelas..

Mirip dan terkesan sama antara satu karya dengan yang lain itu memang normal, tak mungkin suatu karya bisa lepas dari yang lain.

Dan sementara seperti yang kita tahu kalau Save Me mengambil masalah pembulian dan perbedaan strata sosial di masyarakat. Ketidakadilan, sesalah-salahnya anak.. sebegajulan apapun bocahnya pasti dibela orangtuanya lah.. Poor Dong Cheol ♥… (﹏╥ya… hidup emang gak ada yang adil toong~   (.“)   wkwkwk, sini Noona peluk *eh°\(‾‾)/°

Advertisements