[Sinopsis] Save Me – Episode 02

“Kau bisa sembuhkan mata orang buta … Dan sembuhkan orang-orang yang lumpuh. Ya ampun. Hiburlah tubuh dan jiwa Sang Jin yang terluka. Tolong sembuhkan dia.“

“Keinginan kami akan terpenuhi.” Kang Eun Shil mengaminkan rapalan do’a Baek Jung Ki

Kemudian Baek Jung Ki tangannya beralih ke paha Sang Mi, ia meremasnya dengan sengaja sehingga membuat Sang Mi yang khusu’ menutup mata berdo’a terkesiap kaget tapi ia membiarkannya. Baek Jung Ki tetap menjalankan modusnya berdo’a demi kebaikan Sang Mi dengan sanjungan-sanjungan berlebih.

“Sang Mi cantik seperti porselen … Dan harum seperti balsem. Berkah Yang Maha Kuasa ada bersama kita. “

Sampai ketika tangan itu merangkak lebih naik dan kembali meremasnya. Sang Mi menatap Kang Eun Shil seolah minta bantuan. Tapi Kang Eun Shil mengabaikannya dan kembali memejamkan mata.

     Dong Cheol dan Sang Hwan balapan, mereka menyalip mobil di depan mereka. Kemudian di depannya lagi melaju mobilnya Keluarga Im. Mereka tetap lurus, baru berbelok di sisi kanan dan kirinya saat dekat. Insiden tersebut membuat Keluarga Im terkejut. Sementara itu Dong Cheol dan Sang Hwan kegirangan

Tuan Im memaki mereka seperti anak muda di Seoul saja nakalnya. Nyonya Im bertanya apa Sang Mi tidak apa-apa? Sang Mi lalu keluar untuk menenangkan diri. Ia berpegangan pada pohon, Ibu menyusulnya dan memegangi paha kirinya membuat Sang Mi terkejut, sepertinya trauma dengan sentuhan pendeta tadi.

Sang Mi tidak mau buru-buru, ada yang aneh dengan orang-orang di gereja itu. Nyonya Im memeluk anaknya, menurutnya Sang Mi berpikiran begitu karena belum mengenal mereka.

~ * Save Me * ~

      Man Hee asyik makan, kakaknya datang dan marah-marah uang kerja kerasnya habis untuk memberi makan adik satu-satunya ini. Kesal karena Man Hee adalah satu-satunya keluarganya. Man Hee beralasan kalau ia hanya bisa tidur kalau perutnya kenyang.

Man Hee membungkuskan daging ke dalam selada, kakaknya kira mau menyuapinya. Nyatanya malah dimakan sendiri. Makin membuatnya kesal saja.

     Jung Hoon sedang melakukan siaran langsung (semacam paprika TV yang bisa dapet duit kalau dikasih balon/semacamnya pas siaran). Ia hari ini akan mencoba memasukkan mentos dan cola ke mulutnya.

Ibunya Jung Hoon berkali-kali menyuruhnya makan. Jung Hoon menolak dan bilang sudah makan. Jung Hoon mulai, ibunya datang memarahinya. Otomatis Jung Hoon menyemburkan colanya ke si ibu. Ibu marah, ia memiting kepala anaknya dan menyuruhnya makan. Jung Hoon masih sempat-sempatnya berpamitan ke penontonnya (wkwkwk)

Keluarga Im datang ke rumah baru mereka. Kata Jo Wan Tae ini adalah sumbangan dari salah satu jemaat yang berbaik hati pada mereka. Semuanay nampak gembira kecuali Sang Mi.

Setelah selesai memindahkan barang-barang, para anggota jemaat hendak pergi, namun Nyonya Im menahan mereka untuk makan bersama sekalian.

Kang Eun Shil dan Jo Wan Tae sedang dalam Pelayanan sukarela pada para tunawisma. Kang Eun Shil berpikir kalau alangkah mudahnya kalau punya anak-anak muda untuk membantu. Tuan Im berinisiatif mengizinkan anak-anaknya ikut membantu. Sang Mi menyela, ayah! Kami masih belum selesai menata barang-barang kami.

Ayah bilang ia dan ibu akan menyelesaikan sisanya. Kang Eun Shil kemudian lega sekali karena tadinya orang lain yang hendak membantu tidak bisa hadir karena suatu hal, syukurlah ada anak-anak ini, kalian tidak keberatan kan?.

Sang Mi menoleh ke kakaknya, mereka tidak ada pilihan lain.

Sang Mi dan Sang Jin diminta membagikan selebaran untuk menyumbangkan baju bekas. Jo Wan Tae memuji kalau orang-orang pasti akan berebut selebaran dari Sang Mi karena ia cantik. Kang Eun Shil menyergahnya tidak boleh berkata begitu, karena orang-orang lebih baik melihat ketulusan kita yang cantik. Jo Wan Tae kemudian meminta Sang Mi jangan memasukkan perkataannya tadi ke dalam hati.

    Sang Jin hendak ke kamar mandi. Jo Wan Tae geli melihat Sang Jin, sepertinya sudah kebelet dari tadi. Sang Mi memperhatikan kakaknya, khawatir.

Di kamar mandi beberapa siswa memasuki kamar mandi, mereka membicarakan karena gadis Seoul itu membuat semuanya terprovokasi. Sang Jin tanpa sengaja menyenggol salah satunya, ia sudah minta maaf. Tapi anak-anak itu tetap tersinggung, terlebih aksen bicara Sang Jin Seoul. Mereka mulai mengerjai Sang Jin, hendak membuka resleting celananya, Sang Jin kesulitan menghindar tapi tetap menjauhkan tangan-tangan mereka.

Sang Mi menunggu Oppanya, Oppanya itu datang dengan baju yang kotor dan muka sedih. Sang Mi bertanya apa Oppa tidak apa-apa?. Sang Jin bilang tidak apa-apa.

Dalam perjalanan Sang Mi menanyakan apakah Oppa mual?. Lagi-lagi Sang Ji bilang tidak apa-apa.

“Kudengar anak kembar dapat saling memahami … Bahkan tanpa harus berbicara satu sama lain. Apa benar kalian bisa … Berkomunikasi secara telepati?” Jo Wan Tae penasaran.

“Kadang aku bisa merasakan apa yang dia lakukan bahkan saat dia tidak mengatakan apapun.” Jawab Sang Mi

“Aku iri padamu, Sang Jin. Punya adik yang cantik”

Kang Eun Shil menuangkan teh dan mencampurkannya dengan suatu cairan. Lalu memberikannya ke Sang Jin.

     Mereka berpamitan pergi karena harus beribadah. Maaf tidak membelikan mereka makan malam, di Muji ada restoran daging sapi yang enak. Lain kali mereka akan makan bersama. Sang Mi memakluminya.

Setelah mobil itu menjauh Sang Mi mencegat Oppanya. Ia yakin pasti terjadi sesuatu tadi pada Sang Jin. Sang Jin mengelak tidak ada apa-apa. Sang Mi tetap tidak percaya. Sang Jin akhirnya meminta Sang Mi jangan memberitahu ayah dan ibu karena keadaan mereka sedang sulit. Sang Mi mengerti.

    Baek Jung Ki memandikan seorang kakek. Dua orang wanita datang ke tempat itu, menyayangkan kenapa Bapa Spiritual melakukan pekerjaan ini? Kan ada mesin cuci?. Baek Jung Ki bilang tidak keberatan, ini tidak kotor.

Mereka lalu menggantikan pekerjaan Baek Jung Ki.

      Im Sang Mi masuk ke kelas yang sama dengan Dong Cheol dan Sang Hwan. Guru menyuruhnya memperkenalkan diri.

“Namaku Im Sang Mi”

Perkenalan singkat tersebut disambut riuh tepuk tangan dah uuuuu dari teman-temannya. Terkejut karena aksen bicara Seoul Sang Mi.

Kemudian Sang Mi duduk di bangku kosong di dekat Sang Hwan. Sang Hwan senang sekali, ia tersenyum-senyum dan meliriknya. Sedangkan Dong Cheol hanya meliriknya sekali lalu kembali tidur.

      Sang Jin berada di kelas yang berbeda. Ia satu kelas dengan anak yang membulinya sebelum ini. Anak itu tetap menganggau Sang Jin di kelas. Melemparkan potongan kertas bertuliskan “Apa kau sudah melakukannya dengan benar?”

Sang Jin meremas kertas itu, mencoba tidak terlalu memperdulikan.

Saat makan siang Sang Jin juga diganggu, makanannya dicampur dan diludahi. Sang Jin tidak segera memakannya sehingga membuat anak itu marah dan membuat Sang Jin jatuh.

Anak itu menyuruh Sang Jin makan makanan yang ada di lantai. Sang Jin hendak menurutinya, Sang Mi datang dan melemparkan sekotak susu pada anak itu. Anak itu marah, mereka dengan mudah mengenali Sang Mi adalah saudarinya Sang Jin.

Sang Mi akan melaporkannya ke polisi atas tindakannya tadi. Anak itu tidak takut, tidak ada yang lihat kog, ya kan?. Semuanya tidak ada yang berani melawan/

Anak itu mengajak Sang Mi pacaran, Sang Mi makin kesal. Ia memukul anak itu dan menolong kakaknya. Anak itu tidak mau kalah, ia menarik Sang Mi. Sang Hwan baru masuk ke kantin langsung melompati meja dan kursi untuk melawan anak itu.

Anak itu merasa terhina, ia hendak adu jotos dengan Sang Hwan. Namun temannya menahannya karena Sang Hwan adalah Han Sang Hwan. Mereka kemudian pergi dengan alasan bel masuk sudah berbunyi.

Sang Hwan menanyakan keadaan si kembar. Lain kali kalau terjadi lagi laporkan saja pada guru. Sang Mi berterima kasih dan bilang akan mencari tahu cara mengatasinya sendiri.

Man Hee dan Jung Hoon main basket, mereka dengar tadi Sang Hwan dan Dong Cheol berkelahi dengan si pembuat gara-gara di kantin. Dong Cheol balas membanggakan Sang Hwan, mereka langsung kabur tahu nama Han Sang Hwan.

Jung Hoon yakin Sang Hwan akan jadi anak Gubernur sungguhan.

Mereka akan ke warnet untuk main, tapi Sang Hwan tidak bisa ikut hari ini. Dong Cheol menyamai langkahnya Sang Hwan, Dong Cheol tahu ini hari ulang tahun ibunya Sang Hwan.

Jo Wan Tae menjemput Sang Mi dan Sang Hwan. Ia beralasan tadi sedang melakukan pekerjaan sukarela dan kebetulan melihat keduanya. Nyonya Kang juga hendak memberikan sesuatu ke mereka, kalian tidak keberatan mampir kan?. Sang Mi menyanggupi.

Sang Hwan membawakan sesuatu untuk ibunya, di depan ibunya sudah ada bunga dan kartu ucapan dari Tuan Han. “Ibu, beristirahatlah dan segera pulang. Aku dan ayah menunggumu.”

Sang Mi rikeuh menerima hadiah itu karena kelihatannya mahal. Ia akan minta izin ayahnya dulu. Nyonya Kang mencegahnya, apa begini caranya menerima ketulusan?. Sang Mi merasa tidak enak kerena melukai hatinya. Ny Kang bilang ia tidak tersinggung, menurutnya dalam iman mereka bisa berbagi segalanya tanpa perlu memandang besaran kecil nilainya.

Sang Jin berdo’a di depan salib, ia ingin hidup normal seperti anak-anak biasanya. Baek Jung Ki menyentuh pundaknya. Sang Jin pamit dan meminta maaf dan hendak pergi.  Baek Jung Ki bertanya maukah Sang Jin ditunjukkan cara terlepas dari kesusahan? Baek Jung Ki memberikannya buku Jalan Menuju Keselamatan.

Sang Mi mencari-cari Sang Jin, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Sang Mi mencari di bangunan yang masih dibangun, ketika masuk di sebuah ruangan ia mendengar ada suara aneh. Sang Mi masuk lebih dalam lagi, ketika hendak membuka pintu ia dicegah Jo Wan Tae.

Jo Wan Tae bertanya kenapa Sang Mi di sini?. Sang Mi mencari Oppanya. Jo Wan Tae menyentuh wajah Sang Mi, “Kulitmu lembut sekali”

Di belakang pintu terdengar suara aneh. “Tak perlu menyesal. Ini adalah tempat dimana orang-orang yang setia … dengan rasa sakit yang mendalam datang … Berdoa untuk kesusahan mereka. Karena itu, doanya kadang termasuk tangisan, dan terkadang malah menjerit” Kata Jo Wan Tae semakin mendekat ke Sang Mi.

Jo Wan Tae bilang ia lihat Sang Jin tadi di luar, lain kali kita berdoa di sini bersama.

Makan malam, ayah dan ibu merasa senang diberi hadiah terus menerus oleh mereka.. membuat mereka harus datang ke gereja minggu ini, ayah dan ibu menanyakan hari pertama sekolah si kembar. Apa sudah dapat banyak teman?

Sang Mi dan Sang Jin mengiyakan tidak ada kesulitan, lagipula baru hari pertama. Sang Jin izin tidur dulu, ia tidak nafsu makan. Ibu khawatir, apa kau mual? Tetap saja harus menghabiskan makan.

Ayah mereka membiarkan Sang Jin, mungkin karena Sang Jin lelah beradaptasi dengan lingkungan baru.

      Sang Jin di kamarnya mulai membaca buku pemberian Baek Jung Ki.

~* Save Me *~

   

Tuan Han membaca naskah pidatonya. Asistennya memberitahukan harus berangkat segera. Tuan Han bertanya tidak bisakah kalimat “aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungimu”? diganti?

Asistennya terpikirkan bagaimana kalau menjadi “Aku akan melindungimu seperti ayah.”

Sang Hwan hendak berangkat ke sekolah, Tuan Han mencegatnya merapikan pakaiannya. Tuan Han janji kali ini akan memenangkan posisi Gubernur dan membuat kondisi ibunya membaik. Sang Hwan lalu pamit pergi, ia tidak boleh terlambat.

Setelah Sang Hwan pergi Tuan Han memilih mengganti kalimat di pidatonya menjadi “Aku akan melindungimu seperti ayah.”

   Guru menjelaskan materi pelajaran, tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Guru mengingatkan jangan pergi ke tempat billiard, kalau sampai tertangkap nanti akan terkena konsekuensinya.

Sang Hwan dan Dong Cheol hari ini harus bersih-bersih kelas, setelah itu melapor pada guru.

Sang Hwan dan Dong Cheol malas-malasan, mereka lalu batu gunting kertas untuk menentukan siapa yang harus bersih-bersih. Sang Hwan kalah, ia berlutut minta bantuan Dong Cheol.

Man Hee dan Jung Hoon main basket menunggu keduanya kenapa tidak segera keluar. Jung Hoon melihat Sang Mi si gadis Seoul tampaknya menunggu seseorang. Man Hee tanpa sengaja membuat bola mengenai Jung Hoon. Jung Hoon kesal.

Dua orang mengobrolkan si anak Seoul yang harusnya tadi melapor guru, salah satunya menyuruhnya jangan ikut campur. Sang Mi dengar percakapan mereka, ia hendak bertanya mereka sudah pergi.

Sang Hwan dihajar habis-habisan di atap sekolah.

Sang Mi terburu-buru naik ke tangga dan jatuh, Dong Cheol dan Sang Hwan sama-sama mengulurkan tangannya hendak membantu. Sang Mi memegangi tangan Sang Hwan, ia minta tolong pada keduanya karena Oppanya sedang dalam masalah.

Dong Cheol langsung hendak ke atap, tapi Sang Hwan tidak bergerak sedikit pun. Itu karena ia teringat perkataan ayahnya tadi pagi, ayah akan memastikan diri menjadi gubernur jadi Sang Hwan jangan membuat masalah di sekolah.

Dong Cheol tidak jadi membantu karena Sang Hwan tidak membantu. Sang Hwan beralasan karena Sang Mi sebelumnya di kantin dulu bilang akan mengurusnya sendiri. Laporkan saja pada guru.

    Sang Mi tidak menghiraukannya, ia langsung ke atap.  Dong Cheol menduga pasti karena ayahnya yang menyuruh Sang Hwan hati-hati bertindak. Sang Hwan pergi, Dong Cheol hendak membantu.

Sang Mi melihat Sang Ji memegangi celananya. Ia menyuruh Oppanya jangan menuruti perkataan mereka, Sang Hwan menyuruh adiknya pergi. Sang Mi meminta Oppanya dilepaskan.

Si anak nakal tidak mau gratisan, dia akan melepaskannya dan Sang Mi harus melepaskan pakaiannya sebagai penggantinya.

Dong Cheol melempar mereka dengan pot ketika Sang Mi hendak dibuka bajunya. Dong Cheol dan mereka berkelahi, Sang Mi mengambil kesempatan menyelamatkan Sang Jin. Anak perempuan dari kelompok itu bergelut dengan Sang Mi.

      Pikiran Sang Hwan tidak tenang, ia melihat Sang Jin di pinggir atap. Sang Mi menahan kakaknya, Oppa jangan!

“Seharusnya aku tidak dilahirkan” Kata Sang Jin.

Bagi Sang Jin di sini sama saja. Sang Mi janji ia akan mengubah keadaannya. Sang Jin teringat ucapan Baek Jung Ki sebelumnya, Yang Maha Kuasa selalu menerimamu dalam tangan yang terbuka.

“Maafkan aku Sang Mi, kurasa doaku tidak akan dijawab.”

“Apa maksudmu?”

Sang Jin menjatuhkan dirinya ke belakang. Sang Hwan datang, Dong Cheol syok menyaksikan Sang Hwan tak bergerak di bawah sana.

Sang Mi menangis “Selamatkan aku..”

~* Save Me *  ~

    Dong Cheol dan geng onar dibawa ke polisi. Jung Hwan bilang ke ayahnya kalau Dong Cheol tidak salah. Namun Sersan Woo yakin Dong Cheol ada apa-apa. Sang Hwan membela temannya, Dong Cheol tadi hanya membantu Sang Mi.

Sang Hwan dilarikan ke RS. Nyonya dan Tuan Im dihubungi, keduanya terkejut bukan main mendengar kabar anaknya. Sedangkan itu Dong Cheol dipenjara.

Seorang anak kecil yang berkebutuhan khusus melihat lampu salib besar di atas gereja yang berwarna merah mati ketika rombongannya datang. Para jemaat bernyanyi pujian dengan semangat.

Sang Jin dioperasi, Tuan dan Nyonya Im menunggui dengan cemas. Sang Mi memakaikan sandal pada ibunya karena tadi berlari kepayahan sampai lupa tidak mengenakan alas kaki.

      Baek Jung Ki disambut bak artis.

~o0o~

Ibu duduk dan melihat sosok Sang Jin, ia memanggilnya lalu berjalan pergi. Nyonya Im mengikuti arah anaknya berjalan.

Baek Jung Ki bercerita kalau tadi pagi, ia bertemu dengan Yang Mahakuasa. Yang Mahakuasa berkata “Anakku, kau harus menyebarkan rahasia demi keselamatan … Dan menyelamatkan jiwa-jiwa malang itu … Terpuruk dari rasa sakit dan kesakitan bahkan sampai saat ini. Itulah Kenapa..aku mengirimmu ke Muji-gun.”

Sang Mi datang membawa makanan, tapi ibunya tidak ada di sini.

Baek Jung Ki bertanya di mana iblis berada? Iblis tidak terlihat, bisa jadi dalam bentuk teman, suami yang rupawan. Yang akan menggoyahkan imanmu. Si Nenek bertanya bagaimana cara mengatasinya?

Baek Jung Ki minta percaya pada Yang Maha Kuasa dan padaku. Aku percaya! Aku percaya! Kata nenek itu.

Nyonya Im melihat Sang Jin berdiri di tepi gedung. Sang Jin.. kemarilah..

Baek Jung Ki masih berkhotbah. “Yang Maha Kuasa telah menciptakan surga untuk kita, kita harus… Naik Perahu Keselamatan karena apa kau pikir ada orang yang bisa berada di kapal itu? Apa setiap orang bisa masuk ke Perahu Keselamatan? Tidak, jelas tidak. Kejahatan menguasai dunia sekarang. Bangunan besar runtuh, Pesawat terbang menerjang, dan gempa bumi sedang terjadi. Itu semua karena energi jahat.”

“Kami percaya itu!”

“Kami percaya itu!”

Para jemaat sahut menyahut.

“Satu-satunya jalan… Kita bisa diselamatkan dari dunia jahat ini … Adalah melalui keyakinan kita kepada Yang Maha Kuasa. Apa kalian semua percaya?”

“Kami percaya! Kami percaya!”

Tuan Im dan Sang Mi mencari Nyonya Im. Nyonya Im di atas gedung melihat Sang Jin di sana. Tuan Im menyelamatkan istrinya. Kemudian bayangan Sang Jin di mata Ibu menghilang.

Sang Jin meninggal dunia, Jo Wan Tae dan rombongan datang ikut berbelasungkawa.

Baek Jung Ki mempertanyakan kenapa Yang Maha Kuasa mengambil Im Sang Jin anak yang baik ini. Bukankah tak dibiarkan anak-anak Yang Maha Kuasa diterlantarkan?

Baek Jung Ki menangis dan memukul-mukul dadanya.

“Anak ini berteriak padamu … Dan memintamu untuk menyelamatkannya dengan sangat putus asa! Apa Kau benar-benar berpaling dari itu?”

K O M E N T AR:

    Dari awal saya lihat cara memandangnya Baek Jung Ki ke Sang Mi memang… yah, gw gk tahu cara ngomong sopannya gimana. Tapi semenjak di peternakan sapi risih sekali memikirkan ini, duh Cha! Cepetan apa? Just say it!!? Hmmm, tapi memang tidak ada istilah lain dalam nyebutin maksud tatapannya Baek Jung Ki ke Sang Mi selain “Om om mesum

Itu ngapain tangan berselancar kemana-mana?? Itu pelecehan namanya! Panggil Bu Susi.. mari tenggelamkan!. Dia gak inget rambutnya sudah memutih gitu?.  HaHaHaHaHa!

    Sesat yang kelihatan baru-baru ini, sepertinya mereka memuja Baek Jung Ki bak Tuhan. Masih misteri.. gak tahulah.. ah molla..

 

Advertisements