Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 9 Part 2

     Kono lihat ada obat, mainan di mejanya dari rekan-rekannya, Yoneoka menyemprotkan minyak wangi ke Kono. Mereka berharap Kono bisa semangat dan ceria lagi seperti semula.

Masamune datang, ia penasaran kenapa Kono-san tidak seperti biasanya?. Yoneoka segera menarik Masamune-nya itu untuk jangan mengganggunya.

Kono membawa barang-barang tersebut dan pamit pergi.

Di luar Shesiru mengajaknya minum. Senpai hari ini tidak seperti yang biasanya, meski tidak tahu apa masalahnya ia rasa dengan minum-minum akan membuat lega. Yukito datang, bertanya apa Ecchan bisa? Ada janji ya?

Shesiru menarik Kono dan memberikannya sedikit lipstick. Kono masih lesu, ia berterima kasih dan didorong Shesiru ke Yukito.

Kaizuka datang ke Lassy mencari Kono. Morio bilang senpai baru saja pergi, Morio menduga pasti Kaizuka bicara sesuatu pada senpai bukan?

Kaizuka kikuk menanggapinya, aa.. tidak.

      Ecchan dan Yukito melihat pemandangan malam hari. Yukito menunjuk taman di bawah sana, taman itu sering digunakan bermain oleh anak-anak dan syukurlah tidak ada yang terluka ketika bermain. Kenapa? Karena ada petugas yang setiap saat mengecek dan  memperbaiki semua permainan di tamannya. Juga di rel kereta api, selalu ada petugas yang mengecekny secara rutin. Jika ada sambungan rel yang tidak rata segera mereka ganti.

Berkat mereka kita bisa dengan aman naik kereta. Jembatan juga, yang tingginya 120 m dan ada petugas khusus yang membetulkan palang yang kendor. Sehingga jembatan tidak roboh dan mengalami kecelakaan fatal. Ada juga petugas yang memeriksa tower listrik yang tinggi.

Kono takjub, baru pertama kali tahu pekerjaan ekstrim semacam ini. Beresiko sekali, dibutuhkan dan jarang orang yang tahu. Semua yang mereka lakukan tidak pernah ada yang memuji mereka, kapan mereka mengerjakannya pun Yukito tidak tahu. Mereka sangat hebat!

“Hal yang kita kira sudah jelas, dan hal jelas itu bisa, karena dibaliknya, terdapat orang-orang yang berusaha melindungi hal tersebut.”

“Benar-benar seperti itu. Kenapa aku melupakan hal yang sudah jelas ini.” Kata Kono

“Menurutku tak apa-apa. Meskipun keberadaan mereka jarang ada yang mengetahui, mereka tetap melakukan  tugasnya. Oleh karena itu, aku berpikir untuk menulis tentang mereka, yang melakukan pekerjaan akan hal-hal  yang terlihat sudah jelas bagi kita.”

Etsuko tidak menyangka Yukito yang mencari semua informasi ini. Yukito membenarkan kalau ia sangat ingin menulis buku ini. Etsuko yakin bukunya Yukito yang ini akan bagus sekali, sangat bagus!

Yukito berterima kasih, ini semua berkat Ecchan. Ecchan yang memproofreading novelku sehingga aku bisa mengenal Ecchan. Membuatku tertarik pada pekerjaan koetsu. Ternyata ada pekerjaan seperti itu, di tempat yang tidak diketahui ada banyak orang-orang hebat.

Makanya aku ingin membuat buku ini.

“Yukito-kun..” Etsuko tersentuh.

“Ecchan, aku… aku sangat bersyukur bisa bertemu Ecchan. Mungkin terdengar lebay sih, tapi aku sangat bersyukur telah dilahirkan.”

“Terima kasih. Begitulah penulis, terlalu lebay!” Keduanya tertawa.

“Sekarang ini bukan maksudku untuk mengulanginya lagi, tapi kali ini akan kukatakan dengan benar. Ecchan, denganku…”

“Sebentar!”

“Eh?” Yukito bingung

“Sebentar. Ano.. Maaf. Ano… tunggu, tunggu dulu…  berikan aku waktu. Mohon tunggu sebentar,  kumohon beri aku waktu. Ano.. Aku benar-benar minta maaf.”

Etsuko kemudian pergi meninggalkan Yukito.

Etsuko menuju rumahnya Morio. Ia meminta izin pada Morio untuk berpacaran dengan Yukito, kalau Morio ada perasaan pada Yukito.

Morio tidak masalah, ia tidak ada perasaan pada Yukito. Bohong! Morio menanggapi ucannya sendiri. Sebenarnya ada perasaan pada Yukito tapi hanya sedikit saja. Saat masalah dengan pacar dan pekerjaan.. kebetulan Yukito ada di rumahnya. Rasanya menyejukkan. Ketika tidak ada seperti sekarang, sekejap di dalam seperti ada lubang yang kosong.

Tapi sungguh tidak ada apapun sekarang. Lagipula daripada Yukito sebenarnya Morio lebih menyukai senpainya ini. Suka dalam artian kagum, dulu ketika SMA ia selalu ingin lebih hebat daripada senpai. Tapi saat bersama Etsuko ia terkadang merasa dirinya payah dan membuatnya sedih.

Tapi selalu berjuang dan tak peduli dengan omongan orang. Jujur saja Morio ingin seperti senpai yang selalu ia idolakan ini. Ia tidak nyaman dengan senpai hanya karena Yukito. Jika memang Morio menyukai pasti sudah ia rebut dari senpai.

Etsuko lalu menangis, Morio memeluknya. Ketika melihat dirinya di kaca Etsuko merasa penampilannya parah sekali. Morio tertawa, baru sadar sejak seharian ini?. Morio membawakan membantunya menyelamatkan penampilan. Etsuko tidak menyangka hanya dengan sedikit tambahan pakaiannya terkesan lain.

Morio terima kasih!, semoga sukses dengan proposalnya. Aku juga akan berjuang!.

Kono pamit, ia minta maaf karena sudah mengganggu waktunya Morio.

     Kono kembali bekerja dengan semangat penuh. Buchou datang menengok keadaan Kono, syukurlah tidak memasang muka lesu seperti tadi siang. Tadi Takehara ikut pertemuan sesame Buchou dan Sachou menyapanya sudah lama tidak bertemu ya Takehara-san?.

Kono merasa itu jahat. Takehara malah senang dengan sapaan semacam itu, jika Buchou tiap departemen jarang bertemu dengan Sachou berarti pekerjaan di departemen mereka lancar-lancar saja dan tidak membuat masalah besar.

Kono bertanya, kalau begini apa pintu masa depan masih terbuka?. Takehara menunjuk ke depan, menurutnya akan selalu terbuka bagi siapapun yang menginginkannya.

Kono hendak bekerja kembali. Takehara pergi.

~ * Jimi Ni Sugoi! *~

     Kono masuk kerja siang, dia kembali ceria. Shesiru bertanya kenapa kog Koetsu senpai masuk siang. Kono menjelaskan ia kemarin lembur, jadi sekarang bisa masuk siang sesuai perintah Buchou. Tadi tidurnya nyenyak, bisa sarapan, keretanya lancar.

Ah, senangnya… ingin segera naik jabatan. Semangat!. Shesiru senang Kono kembali seperti semula yang ceria dan bersemangat.

Kono masuk departemennya, ia menyapa semuanya dengan semangat. Semuanya juga senang melihat perubahan Kono. Kono mencari-cari di mana kotak pensilnya. Fujiwa rasa masih ada di Lassy.

    Di proofreading majalah Lassy ada catatan kata-kata Kawaii diganti menjadi Kakkoi karena tidak ada pembaca yang menyadarinya. Layoutnya bagus dan sesuai dengan majalah mereka. Tiba-tiba listrik mati.

Yang mematikan adalah Kono.

“Jangan-jangan lagi berpikir kalau listriknya bakal mati dan hidup sendiri. Berpikir kalau kereta pasti bisa berjalan sendiri? Yah kemarin aku juga lupa hal itu. Bisa ada listrik, kereta bisa berjalan. Ditempat yang tidak terlihat, agar tidak terjadi kecelakaan, terdapat orang-orang yang memeriksanya. Kami juga,  sebagai peninjau. Kami juga melakukan pekerjaan seperti itu. Berusaha memahami pembaca juga. Tapi, bagiku dari A sampai Z, kata demi kata saat membacanya,”

“Karena kuyakin banyak orang-orang  yang menyukai majalah fashion. Untuk mereka, kami juga pasti akan melindunginya. Koreksi cetakan terakhir, silahkan di periksa!.” Kono menunjuk koreksi terakhir yang di depan para editor.

 “Ah ada.” Ia mengambil wadah pensilnya.

“Terima kasih banyak atas pengalaman berharga yang diberikan dalam seminggu ini. Lassy memang luar biasa! Majalah yang paling kusuka! Aku menantikannya, edisi bulan depan Permisi!”

Kono membungkuk dalam-dalam, lalu pergi.

Kepala Editor datang, menurutnya Kono adalah Koetsu yang memiliki keteguhan luar biasa. Kepala Editor melihat koreksi dan notes di sana, ia menanyakan siapa yang bertanggung jawab dan meminta anak buahnya memperbaiki.

” Ini isinya sama dengan Lassy 5 tahun lalu yang kubaca begitu maksudnya. Yang bertugas, siapa?”

“Iya.”

“5 tahun yang lalu, tidak ada di halaman pembukanya,  tapi lewat artikel, dia mengingatnya. meskipun terlihat sepele, meskipun ada satu pembaca pun kecewa dengan isi majalahnya,  berapapun banyak yang dicetak, tidak akan dijual menurutku. Sampai dilingkari oleh Koetsu-san, dan tidak ada yang mengetahuinya, hal yang memalukan bukan. Baiklah, mari kita kerjakan lagi.”

Hatano kembali ke mejanya, ia melihat berasnya masih di sana. Ia kemudian tampak berpikir.

   Hongo-sensei memuji non-fiksi yang tengah dikerjakan Yukito. Bukan hanya dari materinya saja yang menarik, namun sudut pandang Yukito tentang objeknya juga menarik. Penulis memang hebat. Hongo-sensei menyarankan bagaimana kalau dibuat serinya?

Melihat respon Yukito.. Hongo-sensei bertanya ada apa? Sedang tidak bersemangat?. Yukito bilang kemarin saat ia mau meminta Ecchan untuk jadi pacarnya, tiba-tiba Ecchan minta maaf dan meninggalkannya.

Hongo-sensei tertawa. Ini pertama kalinya anakku tanya tentang masalah cinta. Yukito membenarkannya. Hongo-sensei menjelaskan kalau ucapan minta maaf itu bukan berarti NO, kan?

“Hmm, tidak. Dia bilang minta sedikit waktu” Kata Yukito

“Kalau begitu diam dan menunggu saja, jangan berpikir aneh-aneh, tunggu sampai hatinya siap, dengan begitu…”

Ponsel Hongo-sensei berbunyi sebelum selesai bicara. Ada panggilan tentang pekerjaan. Beberapa detik kemudian Yukito juga menerima pesan dari Ecchan, minta bertemu nanti.

Hatano memuji hasil kerjanya Morio. Memang tidak baru namun ini adalah sesuatu yang Morio banget. Hatano memberikan beras kepada Morio dan satunya untuk teman Morio dari Koetsu itu. Hatano bercerita tentang permasalahannya kalau kakaknya hendak mengambil alih sawah tapi awalnya tidak setuju. Tapi mendengar penjelasan Etsuko tadi ia pikir pasti kakaknya sudah membulatkan tekad, kadang-kadang Hatano pulang untuk membantu juga.

    Kepala Editor memanggil Morio, ia ingin bicara.

“Sudah tidak menunggu, kan?” Tanya Yukito

“Hmm.”

Etsuko lalu berdiri.

“Yukito-kun.”

“Iya” Yukito ikut berhadapan dengan Etsuko

“Saat pertama kali bertemu, aku selalu menyukaimu. Yukito-kun yang luar biasa ganteng juga,  YUKITO sebagai model juga, Sebagai penulis…  Ahh… Sebagai Korenaga Koreyuki-san juga… Kapanpun itu, aku selalu bisa menjadi diriku sendiri,”

“Perlahan aku menemukan apa yang ingin kulakukan. Aku selalu menyukaimu. Jika boleh, jadilah pacar…

Suara ponsel Kono menganggu, telpon dari kantor. Yukito dan Kono tertawa geli, momennya tidak pas. Yukito mempersilahkan Ecchan untuk mengangkatnya. Morio yang meneleponnya.

Senpai ada di mana sekarang?. Kono bilang ada di sekitar kantor. Morio dengan bersemangat mengatakan kalau Kepala Editornya Kamei-san ingin bertemu dengan senpai. Senpai akan dipindahkan ke Lassy!

Pindah ke Lassy??

KOMENTAR + SPOILER:

     Drama ini menceritakan perjuangannya para koetsu yang kadang gak dianggap tapi pekerjaannya membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, kalau salah sedikit saja pasti diprotes. Koetsu dibutuhkan namun tidak dianggap berharga, tapi saya bikin sinopsisnya kadang males ngecek ulang XD, gak sabar buat ngecek ulang *kkk, maafkan kalau ada salah-salah kata ya readers~. Benar-benar kagum dengan para proofreader!

Jimi Ni Sugoi Episode 10

Wah, episode 10 menurutku manis sekali. Cluenya adalah … Semuanya bisa kalah dengan kata nyaman. Selalu ada hal-hal yang tak terduga dalam hidup.  How beautiful life … ː̗(^^)ː̖

Advertisements