Ini sudah bukan tempat kami berada lagi… Tersudutkan, Azusa dan Ryuuji untuk mencari tempat peristirahatan terakhir, mereka menuju Tohoku dengan kereta. Saat berjalan di hamparan salju, mereka berdua akhirnya menemukan tempat yang mereka tuju. Keesokan harinya, di bawah pohon besar… Mereka berdua ditemukan tidak bernyawa dalam kondisi berpelukan. Sebagai simbol cinta sejati mereka,

 

disekitar tempat mereka, semuanya “Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih”.

“Tunggu sebentar. “Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih”? Kalau begitu bagaimana dengan jejak kaki mereka yang tidak ada? Lalu bagaimana caranya mereka bisa sampai kesini?”

“Kalau di pikirkan lagi benar, bukan? Setelah mereka mati, butiran salju langsung jatuh dan menutupinya.”

“Tidak, di 2 halaman sebelumnya, tertulis “Salju berhenti turun pada tengah malam”.”

“Ah.. Kalau begitu.. Tolong diganti. “Salju terus turun hingga subuh”

“Tidak, kalau seperti itu keesokan paginya mereka tidak bisa ditemukan. Terlebih lagi “Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih” ini Bagian ini apa boleh diganti?” Sela Kono

“Tidak! Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih. Bagian ini harus tetap seperti itu.” Kata Aoi-sensei berapi-api.

“Kalau begitu dengan mereka naik helikopter, mereka bisa sampai kesini, bagaimana?” Saran Kono

“Eh? Apa yang kamu katakan! Kenapa, pasangan bunuh diri tersebut tidak naik helikopter, kan!”

Kaizuka memintakan maaf karena Kono menyarankan yang tidak-tidak. Bukannya marah Aoi-sensei justru mempertimbangkan idenya Kono yang masuk akal tersebut. Sebagai kenangan terakhir, dari atas langit mereka melihat pemandangan salju.

Etsuko mengungkapkan pendapatnya. Sepasang sejoli yang bersedia mati dari atas pesawat… Akan menjadi pemandangan yang indah, menurutku. Jadi.. mereka berdua adalah anggota lari lompat jauh. Kaizuka gerah mendengar ide aneh tersebut, oi! Kenapa pasangan bunuh diri tersebut sama-sama anggota klub lari lompat jauh?

“Tolong diam!” Kata Aoi-sensei.

“Ehh?” Kaizuka tidak mengerti. (Sabar Tako-chan.. beginilah kalau dua orang gila ngumpul jadi satu.. Wkwkwkwk)

“Awalnya mereka adalah teman sekelas waktu SMA. Kemudian, mereka satu klub lari lompat jauh, dan menjadi sahabat saat perlombaan. Makanya sebagai kenangan terakhir, agar sama seperti waktu itu, mereka lari dan melompat!”

“Sehingga, tidak ada bekas jejak kaki di atas salju.”

“Boleh juga! Itu bisa!”

Kaizuka linglung dengan pembicaraan ini.

“Sebagai tambahan, rekor lari lompat jauh bagi anak SMA yaitu untuk laki-laki adalah 7m 96cm, sedangkan perempuan 6m 44cm. Dalam radius 5m ini, jejak kaki tidak dapat dibuat. Cukup masuk akal.”

“Sekarang tinggal ini… “Tadi malam, Azusa salah satu pasangan bunuh diri mengenakan kaos dalam berwarna merah.” akan tetapi, hari ini dia memakai baju berwarna putih. Untuk memperjelas, bagaimana jika kaosnya tidak dipakai. “

“Kaos dalam… Ah tapi, kaos dalam merah dan baju putihnya juga ingin kugunakan.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau diganti. Pakaian ini tidak terbuat dari bahan cotton. Namun jika diganti dengan bahan Wool tidak akan terlihat, karena tidak tembus.”

“Ayo pakai itu! Kamu itu dapat diandalkan, ya!”

“Terima kasih banyak.”

~ * Pretty Proofreader Kono Etsuko *~

Ini adalah hari yang sudah ditentukan bagi kami. Selalu menahan diri dari publik… pertama kalinya kami keluar untuk pergi berkencan. Tempatnya… Nezu Kaiwai. Museum kecil yang kebetulan kami lewati. Kami membeli towel yang sama.

“Ah Sensei bukankah ini bagus.” Kono memilihkan towel ke Aoi-sensei.

“Ehh bukankah terlihat biasa saja?”

“Bukankah sama denganmu.” Sama-sama mencolok kalau pakai baju.

Kaizuka kemudian menunjukkan satu yang motifnya ramai bunga-bunga. Menurutnya wanita cocok dengan yang seperti ini.

“Norak!” Seru Kono.

“Cerewet!” Kaizuka tidak terima.

“Norak!” Kata Aoi-sensei.

“Eh!”

Mereka lalu membeli Taiyaki sembari mengecek naskahnya. Saat membeli satu taiyaki, dibagi dua dan kami berdua memakannya. Karena rasa lembut yang manis ini, 2 hati yang tersambung menghadirkan sebuah keyamanan.

Penjualnya memuji Aoi-sensei dan Kono adalah ibu dan anak yang sama-sama cantik. Aoi-sensei membenarkannya, iya.. anakku cantik bukan?. Kono meminta maaf.

Mereka melanjutkan perjalanan, sekarang foto-foto di jembatan.

Yukito memuji Ame saiku (pembuat permen yang bisa dibentuk-bentuk di Jepang). Ia ingin dengar cerita dari pria itu mengenai pekerjaannya.

     Aoi-sensei senang karyanya bisa lancar dengan bantuan Kono. Ia memuji kinerja Editor Kaizuka yang cakap. Tiba-tiba Aoi-sensei terjatuh, Kono membantunya bangkit. Aoi-sensei beralasan ini karena belum makan seharian. Menulis membuatnya lupa makan.

Kono izin meminjam dapurnya.

Di kantor, Kaizuka memuji dulu Aoi-sensei bersama Kaizuka-san adalah partner yang hebat. Menghasilkan banyak buku yang bagus. Takehara berkomentar kalau Aoi-sensei orangnya memang keras, pernah suatu malam menelfonnya minta dibelikan cheese cake tapi berubah pikiran ingin kue lainnya. Entah sudah berapa ponsel pula yang ia rusakkan selama itu. Aoi-sensei melalui karya-karyanya telah banyak mempengaruhi Takehara-san menjadi lebih bersemangat dan positif.

Kono memanggil Aoi-sensei ketika makanannya sudah siap. Sensei tidak menyangka dibalik penampilan Kono ia ternyata pandai dalam urusan masak-memasak. Kono minta jangan menilai orang dari penampilannya.

Makanannya enak sekali menurut Aoi-sensei, suasana hangat seperti itu dipikirnya tidak ada di dunia ini. Ia selama ini menulis cerita-cerita menyakitkan sebagai pelarian dirinya. Kono terenyuh mendengarnya. Kemudian Aoi-sensei mulai memikirkan tentang menu makanan pasangan yang bunuh diri itu.

Ah.. sensei, jangan sekarang. Kumohon sekarang fokuslah makan. Potong Kono.

Morio memanggil Kaizuka. Ia menunjukkan foto perhiasan untuk digunakan bukunya Aoi-sensei. Ia dengar senpai-nya meninjau karyanya, jadi ia pikir perhiasan ini cocok. Kaizuka ikut senang, ia akan menanyakannya ke Aoi-sensei.

Di hari lainnya, Kono masih berkutat dengan naskahnya Aoi-sensei. Kaizuka datang dengan naskah terakhirnya, tolong dikoreksi kesalahan katanya saja. Kono heran. Kaizuka sebenarnya tidak ingin memberitahu semuanya perihal sakitnya sensei, sudah cukup lama ia tutup mulut. Semalam sensei pingsan dan sekarang sudah dirawat di Rumah Sakit, kata dokter penyakitnya sudah menyebar.

Sekarang yang terpenting adalah kesehatannya sensei, Koetsu. Terima kasih sudah menjawab karyanya sensei dengan sekuat tenaga. Permisi..

Tunggu!,aku tidak bisa menerimanya. Kono yakin sensei juga tidak bisa menerimanya bukan? Sensei juga sudah berusaha keras demi karya ini. Kalau diperiksa setengah-setengah sensei pasti tidak bisa menerimanya, ‘kan?

Kaizuka bersitegang dengan Kono, jika diteruskan bukankah ini mempertaruhkan nyawa beliau?. Kono ingin bertemu sensei. Takehara-san berpikiran sama dengan Kono, karena menurutnya sensei selalu mempertaruhkan nyawanya di setiap novelnya.

      Mereka di rumah sakit. Kono berkunjung setelah Takehara-san. Sensei berkata ia akan melakukan yang terbaik demi karya terakhirnya ini. Kono sedih, baginya ini bukanlah karya terakhir sensei.

Salju lembut yang turun dari atas, membuat dua bayangan yang berdekatan bertemu, berubah menjadi salju.

Takehara membantu menulis sementara Aoi-sensei berbicara.

Waktu itu.. pertama kalinya aku menyadari arti dari kita berdua menjadi satu. Shoon.. kau punya anak buah yang luar biasa. Pertama kalinya ada yang mengerjakannya dari awal hingga akhir. Sakurawa-sensei menyesal karena pertemuannya dengan Takehara membuat Takehara mengalami kesulitan. Seandainya mereka tidak bertemu pasti sekarang Takehara menjadi Editor yang hebat.

Takehara menanggapi, dirinya tidak menyesal sama sekali. Novel yang kamu tulis dengan sekuat tenaga, dan hari demi hari yang sekuat  tenaga kamu lewati demi menulis,bagiku itu adalah hal yang tak tergantikan.

Bagiku sekarang ini adalah pekerjaan yang luar biasa, meski cahaya matahari tak terlihat lagi… meskipun tidak ada lagi yang memujiku, kupastikan pekerjaan ini adalah tempat untuk selalu mendukungnya. Koetsu adalah pekerjaan dimana seseorang terus maju untuk berusaha sekuat tenaga dan berusaha sekuat mungkin membantu penulis. Takehara mencintai pekerjaan ini..

   Novelnya sudah jadi, Sakurawa sensei sudah keluar dari rumah sakit. Menurut Takehara sifat keras kepala sensei kembali lagi, itu berarti dia sudah sehat. Kono dapat pesan dari sensei, ide novel terbaru sudah ada dan selanjutnya ia minta Kono yang meninjaunya.

     Yukito menunjukkan ketertarikannya pada mereka yang mencintai pekerjaan mereka, ini adalah hal yang sangat berbeda dari tulisannya yang lain. Namun Yukito ingin sekali menulis ini. Kaizuka setuju, mari kita coba.

Kono menceritakan soal Sakurawa-sensei. Kemudian hati-hati Kono mengutarakan kekhawatirannya jika hubungan mereka menjadi Shizen Shoumetsu. Yukito-kun sangat sibuk menjadi model dan penulis. Selama ini aku menahannya, padahal kan kalau ingin bertemu tinggal katakana saja. Shizen Shoumetsu.. yah, padahal kita memang belum..

Yukito menyelanya, bukan Shizen Shoumetsu.

“Aku menyukai Ecchan. Perasaan ini bukanlah Shizen Shoumetsu.

“Yukito-kun..”

Taisho diam-diam menguping, sudah hentikan. Sudah waktunya bagiku menerima hal ini. Yukito dan Etsuko serba salah. Yukito lalu ganti topiknya, Ecchan! Aku menemukan sesuatu yang ingin kutulis!

Eh, iya? Benarkah?. Tanya Kono antusias.

Morio dan Kaizuka bersama. Morio senang berkat bantuan mereka penggarapan novelnya Sakurawa-sensei berjalan lancar. Berkat Kaizuka-san pula Morio bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Kaizuka balik memuji Morio, karena bantuan Morio ia benar-benar bersyukur.

Morio merendah, tidak.. tidak. Karena kita sama-sama saling membutuhkan. Mulai sekarang, mohon kerja samanya!

“Nee.. Morio-chan..”

“Hmm?”

“Ano.. “ Kaizuka menenggak minumannya baru melanjutkan bicaranya “Denganku..”

“Berkencanlah denganku..” Kata Kaizuka dengan suara opung-opung TBC atau radang tenggorokan *HHHHHHH. Kaizuka tersedak saking groginya.

“Jadilah pacar…” Kaizuka masih dengan suara opung-opung TBC-nya XD

Morio tidak langsung percaya. “Bercanda ya?”

“Tidak, aku tidak bercanda.. Aku benar-benar serius.” Suara Kaizuka sudah normal kembali. Morio tidak enak menjawabnya, bukankah ini terlalu cepat untuk menuju kearah itu? Bukannya apa….

“Ano.. bukan seperti itu maksudku, hanya saja orang yang selalu dekat denganku, aku memikirkannya saat berpisah dengannya. Hanya saja aku juga tidak begitu memahaminya.”

    Kono dan Yukito masih mengobrol.

“Eh apa? Sesuatu yang ingin kamu tulis. Hmm, masih rahasia.”

“Eh apa? Aku ingin tahu.”

“Taisho apakah ada saran!”

“NO.”

“Orang yang selalu dekat?” Tanya Kaizuka.

“Eh ahh Tidak… Tidak ada apa-apa kok. Tolong jangan dipikirkan. Ano.. Lupakan saja.”

“Hari ini ada menu baru, lho.”

“Eh apa?”

“Hei, Uinnaa!”

 

Advertisements

One thought on “Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 8 Part 2

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s