Kembali ke masa sekarang. Jane menjawab pertanyaan Lokhan saat itu..

“Karena…”

Yumi dan Hur Jong Gu.

“Itulah yang kulakukan, dan sekarang aku inginkan.” Pisau di leher Yumi, Yumi lalu mengambil pisaunya sendiri.

“Itu karena pisau, kau seorang pencuri, bukan seorang perampok.”

“Ini untuk perlindunganku.  Pisau ini hanya mainan. Jangan kaget, ini sangat tumpul.”

Jong Gu membuktikannya dengan memukul-mukulkannya ke lehernya sendiri.

Jong Gu rupanya kenal dengan Yumi. Jong Gu diberi makan tahu (bagi yang gak ngerti kenapa? Karena ini semacam tradisi di Korea sono kalau orang baru keluar penjara harus makan tahu dengan harapan tidak masuk ke penjara lagi. Kepercayaan saja..)

Yumi menagih janji ke Jong Gu untuk tidak membunuh orang atau semacamnya. Jong Gu mengiyakan, ia tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Mencuri saja ia pilih rumah yang kosong kog.. (dan bego’nya dia dua kali ketangkep dekat koper yang ada jasadnya XD )

Yumi diberikan kalungnya Jane. Yumi senang, sudah lama menginginkan ini. Lucunya mereka berkaca di pisau daging :v (Geloooo, ini hurang teh minta diruqyah biar nyaho.. huuuy dasar.. XD )

Jong Gu mengajak Yumi tinggal di Hawai karena ia di Korea sudah jadi buronan. Yumi tanya apa Jong Gu punya uang?

Tidak sih. Jawab Jong Gu.

Yumi menyarankan bagaimana kalau kita rampok saja gedung ini? Karena penghuninya kebanyakan pergi dan rumah-rumah sedang kosong. Jong Gu langsung memuji-muji Yumi yang tidak hanya cantik tapi juga pintar. Tidak sadar Jong Gu mengetuk-ngetukkan pisau besar ke lehernya sendiri.

Oppa.. itu pisau sungguhan. Jong Gu langsung menjerit histeris. Yumi menyingkirkan pisaunya.

     Jane mengembalikan kalung pemberian Jason, ia tidak bisa bersama dengan Jason. Jason menebak alasannya pasti karena si Lokhan bukan? Meskipun Lokhan pembunuh?. Jane membenarkannya, ia merasa perlu berada disisi Lokhan.. karena setiap kenangan yang ia jalani selama ini baik susah dan senang selalu ada Lokhan bersamanya.

Jane khawatir jika ia meninggalkan Lokhan, pria itu akan mengalami masa yang berat kedepannya. Tak peduli kalau ia pembunuh atau bahkan lebih buruk dari itu, Jane ingin tinggal disisi Lokhan.

Rekannya Lokhan mengambil selfie sementara Lokhan terlihat masam dan muram, di depannya ada boneka wanita meringkuk di koper. Lokhan menyesal, ia pikir dirinya juga cocok menjadi profiler. Ia berlatih membunuh dengan boneka. Karena ia ingin membantu Jane. (Manekin yang sepanjang episode selalu muncul, yang bentuknya mirip sekali dengan manusia. Cantiknya ngalahin manusia malahan ̩̩̩̩̩̩ƪ)  )

Rekan Lokhan kemudian pamit pergi padahal shift jaganya belum selesai, karena ia harus segera pulang, mood istrinya tampaknya sedang buruk karena pms. Ia minta Lokhan yang jaga menggantikannya. Lokhan mengingatkan kalau kepala bisa marah nanti. Sebelum pergi rekannya menasehati Lokhan

“Sesuatu tentang hubungan, kau harus mempertaruhkan segalanya untuk itu. Bahkan jika itu untuk istri yang sedang haid.”

Jane menerima pesan dari rekannya Lokhan, sebuah gambar selfie yang diambilnya tadi. Dengan pesan, Lokhan bahkan berlatih membunuh demi kau.

Jane merasa lega sekarang. Dugaannya salah tentang Lokhan.

“Bagaimana jika aku pembunuhnya?” gumam Jason tanpa Jane sadari.

Lokhan berpikir, FBI dan Polisi Korea. Ia menghembuskan nafasnya kesal, tidak bisa dibandingkan. Panggilan dari pihak lab “Sunbae! Dari mana kau dapatkan sampelnya?”

“Kenapa? Milik Jane lagi?”

“Salah satu dari 4 adalah DNA korban”

Lokhan langsung bergegas menemui Jane.

Bagaimana jika aku pembunuhnya?, tanya Jason. Dengan santai Jane menjawab kalau begitu ia harus pergi. Jane pergi, Lokhan menelfonnya memberitahukan DNA korban yang Jane temukan.

Lari Lokhan semakin kencang ketika ia mendengar jeritan Jane.

Jason mencekik leher Jane dengan ikat pinggang. Jason baru mengerti apa yang dimaksud lebih baik membunuhnya jika tidak bisa dimiliki. Ia akan memalsukan kematian Jane sebagai perbuatan Lokhan, DNA dan sidik jari Lokhan akan ditemukan di mana-mana, Lokhan sudah menguntit seorang gadis selama 30 tahun. Membunuh gadis itu dan dirinya sendiri.

Jane berhasil melarikan diri, ia mendorong Jason dan kembali ke rumahnya sendiri. Jane mencoba menghubungi pihak keamanan gedung. Nahasnya yang menjawab panggilannya malah Jason.

Jane dilanda panik, ia memutuskan untuk turun dengan tali. Disaat yang sama Jason datang, membuka pintu rumahnya.

Jason bilang ia tidak pernah ingin melakukan ini, tapi dia sekarang akan melakukannya. Jane melompat ke jendela. Jason memegangi talinya, ia menariknya.

“Kau bisa mengerti kalau Lokhan yang melakukannya, tapi kenapa tidak denganku??!”

“Apa kau harus bertanya? Kau ini pembunuh!” jerit Jane, ia mengarahkan alat penyetrum ke wajah Jason.

Jane langsung terjatuh karena Jason melepaskan talinya. Jane bergelantungan karena terlilit kakinya Jason.

Jane mencoba menghancurkan kaca di depannya, kacanya tak bergeming karena terlalu keras. Tapi jendelanya terbuka, ia menggesernya.

Hur Jong Gu dan Yumi kebetulan ingin merampok rumah yang ada Jane nya. Jong Gu bertingkah seolah ingin membunuh orang. Yumi menjewernya “Kenapa kau membawa pisau?”

Menariknya pergi. (HHHHH kocak kocak kocak)

Gerbang apartemen ditutup, Lokhan tidak bisa masuk. Ia menghadang pembawa motor, ia gunakan motornya dan menabrakkan diri ke gerbang sampai ia terjatuh tapi setidaknya bisa masuk.

Jane mengendap-endap. “Anyeong haseyo Han Jane-ssi..” sapa Hur Jong Gu, membuat Jane terkejut dan berteriak-teriak, Hur Jong Gu membungkamnya. Beberapa saat yang lalu Jason sudah terbangun dari pingsannya, sedang menelusuri di mana Jane.

Karena Hur Jong Gu cerewet, Jane membungkamnya sadar kalau Jason bisa saja mengetahuinya.

“Eonni!”

Jane dan Jong Gu menoleh. “Eonni, itu pacarku.”

Jane tidak menyangka Jong Gu adalah pacarnya yang dirindukan selama ini. Jane meminta mereka menghubungi polisi, Jason itu pembunuh. Jane lagi-lagi buang angin, baunya yang busuk membuat pasangan rampok tersebut keluar ruangan.

Siapa sangka dibalik pintu Jason sedang menunggu. Hur Jong Gu menggerutu, lalu ia dipukul oleh Jason. Jane menutup pintunya, sempat tangan Jason terjepit pintu karena mencoba menahan Jane.

Jong Gu menyuruh Yumi pergi, ia meyakinkan Yumi kalau tidak akan apa-apa. Mereka akan ke Hawai nanti. Yumi pergi, Jong Gu melawan Jason dengan sebisanya. Jane tidak tega melihat Jong Gu dipukul dan ditendangi Jason.

“Oppa!!!” Panggil Yumi dari sisi lain gedung

Jane membuka pintu dan mengenai Jason. Ia menyeret Jong Gu ke dalam ruangan.

Lokhan terseok-seok menuju ke ruang keamanan, ia menghubungi Jane. Jane kau di mana? Maafkan aku datang terlambat..

Jane balik menghubunginya, ia minta Lokhan pergi saja. Jason akan menjebak Lokhan nantinya. Lokhan tidak peduli, apapun yang terjadi dia akan tetap ke sana.

Lokhan berlari ke tangga, Jason menghadangnya. Mereka terlibat adu jotos, Jason dengan mudah menendang Lokhan ke tangga. Ia juga mendorong Lokhan ke kaca, mendorongnya sampai kaca pagar pecah,

Lokhan meminta Jason jangan macam-macam pada Jane,

Yumi mendorong barang-barang ke arah Jason, Jason terkapar. Yumi mencoba menolong Lokhan. Jason kembali bangkit, ia mencekik Yumi dan menyeretnya.

“Hentikan!!!”

Jane mengacungkan senjata api ke Jason. Jason melepaskan Yumi. Jason terus mendekat,

“Apa kau tidak penasaran bagaimana rasanya membunuh seseorang?” Tanya Jason. Perlahan ia mengarahkan senjata di tangan Jane ke tubuhnya sendiri, tepat di jantungnya. Jason menekankan jarinya ke pelatuk, Jane takut-takut menekannya

Dorrrr! Terlihat api keluar,

Jason berpura-pura kena tembak. Ia terkekeh, isi selongsong peluru pertama di polisi korea selalu kosong.

Jason menyingkirkan senjata api dari tangan Jane dengan mudahnya.

Ia mencekik Jane. “Perasaanku padamu itu sungguh-sungguh!” Kata Jason.

Lokhan datang dengan pisau. Jason memukul jatuh Lokhan. Saat Jason hendak mendekati Jane lagi, Lokhan memegangi kaki Jason. Ia menyuruh Jane pergi. Jason menendang Lokhan.

“Apa lagi sekarang?” Tantang Jason pada Jane.

Jane mengeluarkan alat penyemprot api.

“Dasar pambunuh Psiko!!!”

Jason kepanasan, ia jatuh ke bawah menimpa meja di lantai dasar.

Jane mencoba menyelamatkan Lokhan, ia melakukan CPR. Lokhan terbangun, setelah membuka mata Lokhan mengatakan “Sekarang kita berciuman. Aku keluar dari friendzone.”

“Aku pikir kau sudah mati”

“Mengapa aku akan mati? Aku akan bersamamu selamanya.”

Jane memukulnya, kesal. Kata siapa memangnya?, meski sakit sungguhan Lokhan malah terkikik senang.

Kali ini Jane mencium Lokhan sungguhan. Bersamaan disaat itu matahari terbit,

Rekan Lokhan dan polisi yang lainnya datang. Mereka sibuk mencari Lokhan, sedangkan Lokhan masih berbaring di atas bersama Jane.

~* Life Risking Romance *~

Pembunuh berantai di Itaewon dengan tersangka Jason Chen diektradisi ke Amerika Serikat. Buronan Hur Jong Gu dilaporkan telah melarikan diri ke Hawaii bersama pacarnya Jung Yu Mi. Penulis Novel Byeon mempunyai skandal plagiat.

Sekarang Jane dan Lokhan sedang liburan.

“Begitu banyak udara kotor di otakku. Aku mendapatkan begitu banyak ide.”

Lokhan menyiapkan makanan. “Jangan kau pikir novel yang agak terlalu tradisional?”

“Lalu apa? Membuat tokoh pembunuh sahabatnya.” Tantang Jane,

“Ide cemerlang.”

“Itulah mengapa emosi ini penting, emosi. Apa yang utama dari emosional?”

“Lihat dirimu, kau tahu itu semua.”

Lokhan mencari-cari pisau, tidak ada. Jane pindah ke tenda orang di sebelahnya. Ia ingin meminjam pisau pada pria itu.

“Apa kalian pasangan? Kalian berdua terlihat bahagia.”

Jane hanya mengangguk-angguk. Pria itu membuka perkakasnya, ada begitu banyak pisau sampai membuat Jane ternganga.

“Ini sedikit berlebihan tapi nyaman untuk digunakan. Tunggu sebentar. Apa kau Jane Han Penulis ‘Psikologi pembunuhan’?”

“Iya, memang aku.” Jawab Jane bangga.

“Benar. Benar. Aku tidak pernah membayangkan akan bertemu penulis buku terlaris di sini. Aku merasa terhormat. Bolehkah… Minta tanda tanganmu?”

Jane menandatangani punggungnya. Jane bertanya “Apa sudah semua ‘Noh Duk-sul’?”

Pria itu bingung bagaimana Jane tahu namanya. Jane sendiri juga linglung “Entahlah..” ia menimbang-nimbang. Bagaimana aku tahu namamu?

Jane langsung menjerit “Kyaaaaaa! Noh Duk Sul, tidak membayar gaji, melakukan percobaan pembunuhan.”

Jane dan Lokhan mengejarnya, tapi karena Noh Duk Sul membawa pisau ia pun berbalik mengejar.

Tidak ada pilihan lain selain melompat dari tebing. Jane marah kenapa Lokhan tidak bisa melawan?. Lokhan balik meneriaki Jane kenapa penulis menghafal semua poster paling dicari?

Dok Sul menantang mereka untuk melompat. Jane mendorong Lokhan duluan.

“Emosional utama yang ada dalam hidupku. Bersama Lokhan..”

-END-

 

S T I C K Y  –  N O T E S:

Jason… yang kamu lakukan ke saya itu jahat! Kenapa Chen Bolin diawal-awal manis dan diakhiran jadi super duper menakutkan? Kokoh.. aku padamu laah (╭ ̄.)charming abis..

Tolong dikondisikan gantengnya Koh.. itu kumisnya yang tipis-tipis benar-benar mengganggu penglihatanku.. kog bikin tambah cakep sih? ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Diawal-awal saya banyak ketawa, geli, lalu kaget, ketawa lagi. Life Risking Romance sukses mengaduk-aduk emosi (˘_˘٥)

Film yang menarik. Nice nice nice…

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s