Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 7 Part 1

  Sedari tadi Yoneoka terus mendesah sebal, membuat Etsuko tidak bisa berkonsentrasi. Ia bertanya ke Yoneoka apa yang sedang terjadi? Apakah patah hati karena anak percetakan itu?

Tidak tidak, bukan begitu. Yoneoka meminta Kono mendekat. Yoneoka sedang frustasi mengerjakan naskah “Kisah Detektif di Sekitaran Jalan”, seri terkenal dari Kitano Shoutaro-sensei. Dalam kasusnya menggunakan jadwal pemberangkatan kereta untuk penyelesainnya, dan masalahnya Kitano-sensei tidak memperhatikan jadwal pemberangkatan kereta yang baru.

Kalau begitu tinggal koreksi saja kan, usul Kono. Yoneoka bilang tidak bisa semudah itu, karena harus memperhatikan apakah hujan, terik matahari, kondisi pembangunan daerah sekitar juga. Ini sungguh menjengkelkan, Yoneoka juga tidak mau ambil resiko. Benar-benar membikin frustasi.

     Kono setuju, tapi bukankah kalau sudah dikoreksi nanti kita akan menemukan solusi penyelesaiankan bukan?

     “Koetsu!”

Editor Kaizuka memprotes tindakan Kono yang mengoreksi judul. Apa-apaan ini?. Kono menjelaskan bahwa selama ia memproofreading naskah ini ia merasa judulnya tidak cocok, “Takeko yang Tidak Disukai Setiap Harinya” padahal diceritanya si Takeko ini makin hari makin banyak menerima cinta dari orang-orang terdekatnya. Jadi tidak benar-benar dibenci.

Kaizuka naik darah, apa Kono bercanda? Judul adalah wajahnya buku! Dan kau menyama-nyamakan judul buku ini dengan wajahku!!??

     Yoneoka terguncang memperhatikan perdebatan Kono dan Kaizuka. Mengkoreksi judul?? Aku  tidak  bisa melakukan peninjauan yang  beresiko seperti itu. Ia mulai menangis dan membanting-banting barang di mejanya.

~* Jimi Ni Sugoi *~

Yukito dipakaikan jas dan rapi, semuanya senang karena Yukito cocok untuk projek mereka ini.

Yukito tidak nyaman mengenakan jas dan dasi yang ketat. Ia juga tidak sabar pemotretan segera dilakukan supaya segera berakhir. Morio mengingatkan Yukito untuk jangan mengeluh seperti amatiran begitu, karena Yukito sudah profesional.

     Kono, Yukito, dan yang lainnya merayakan keberhasilan Yukito menjadi modelnya Lassy. Yukito merendah, ini bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan. Semuanya tidak setuju, kedengarannya menjadi model itu menyenangkan.

Yukito tanya adakah matsutake Taisho? Karena Yukito suka aneka jamur. Dengar kata suka membuat Kono teringat saat Yukito bilang suka padanya.

Karena Kono tak segera merespon, Yukito menghindar dengan cara bilang mau ke sana dulu. Sampai jumpa.

   Kono menimbang-nimbang apa itu sungguhan atau tidak?. Yukito menjadi model berkat usaha keras Morio, Morio pasti senang sekali sekarang.

Kono mulai bercerita mengenai impiannya yang ingin menjadi desainer dan mengadakan fashion show di Milan. Yukito tanya, apa pantat nanti tidak sakit? Kan perjalanan ke Milan cukup jauh?

“Taisho tolong tacos kinchaku.” Pesan Yukito

“Oke”

Kono jadi tersadar. Sedangkan para pria asyik mengobrol

*~ Pretty Proofreader ~*

Hongo-sensei datang, ia mencari Kono. Seperti biasanya Etsuko selalu ceria, Etsuko bahkan memuji syal Hongo-sensei yang manis. Kaizuka mengingatkan Kono untuk jangan bertindak yang tidak sopan.

     Hongo-sensei secara khusus datang ke Departemen Koetsu untuk menyerahkan essay miliknya untuk ditinjau oleh Etsuko. Essay tersebut nantinya akan diterbitkan ke dalam majalah bulanannya K-Bon.

    Mereka mengantarkan Hongo-sensei keluar. Etsuko minta ditraktir makan setelah selesai menggarap essay Hongo-sensei. Shesiru berterima kasih pada Hongo-sensei atas oleh-olehnya.

Disaat yang sama Yukito terlihat, “Bahaya!” Kaizuka langsung panik dan berusaha menghalangi pandangan Hongo-sensei ke Yukito.

“Sensei! Terima kasih banyak untuk hari ini.”

Kaizuka langsung bertingkah lebay. Semuanya bingung dengan tingkah Kaizuka.

Yukito memanggil Etsuko. Air mukanya langsung berubah dari ceria ke sebaliknya ketika berpandangan dengan Hongo-sensei. Tanpa diminta Etsuko langsung menjelaskan siapa Yukito, penulis Korenaga Koreyuki dan juga modelnya Lassy.

Hongo-sensei berkomentar, penulis yang benar-benar masih muda.

Kaizuka langsung tidak nyaman, ia mengantarkan Hongo-sensei pergi. Sedangkan Yukito mengambil card dan langsung meninggalkan Kono di lobi.

*~ Simpleness is Great! ~*

 

Yukito menyela sebentar, ia minta nama aslinya jangan digunakan. Ia beralasan agak malu dengan nama aslinya.

Kepala Editor menyetujuinya, Penulis Korenaga Koreyuki dan model Yukito. Menarik juga, terkesan misterius dan menimbulkan rasa penasaran.

Kono takjub, ia bertepuk tangan berkali-kali. Proofreader yang lain penasaran ada apa? Kono menjelaskan mengenai essay milik Hongo-sensei yang amat menyentuh hati dan menyenangkan. Hongo-sensei sangat hebat! Tapi masalahnya judulnya tidak sesuai dengan isinya yang menghangatkan ketimbang menyedihkan.

Ketika Kono hendak mengoreksi judulnya, Takehara mencegahnya. Semua judul essay yang akan terbit di majalah bulanan dibuat oleh para sensei-nya sendiri, jadi Takehara mohon Kono jangan mengkoreksi judulnya. Cukup itu saja yang dibiarkan. (Wkwkkk)

Sumire, sumire, sumire.. apa itu sumire? Kono bingung dengan kalimat anak laki-lakiku menggunakan sumire untuk menyendok kuah ramen. Apa itu sumire sejenis bunga atau apa? Bukankah nanti kalau digunakan malahan tumpah?

Benar juga, Kono dan Yoneoka memikirkan hal yang sama. Fujiwa berpikir, jangan-jangan itu renge (merupakan sendok mangkuk yang biasa digunakan saat makan ramen.). Barangkali Hongo-sensei keliru menulis rengen menjadi sumire.

Tapi Kono belum sepenuhnya yakin. Akan jadi masalah besar kalau penulis sekelas Hongo-sensei melakukan kesalahan semacam itu. Jadi Kono memutuskan untuk mengeceknya sendiri.

Ia memakai jaketnya, pamit pergi ke atasannya. Atasannya santai sekali memintanya hati-hati. Fujiwa protes, apakah Takehara-san tidak terlalu santai?. Takehara bilang ia keceplosan saja. Lalu ngomong-ngomong Kono mau ke mana?

Hari terburuk dalam kehidupanku. Adalah saat istriku memintaku untuk menjaga anak laki-lakiku. pertama kalinya aku menghabiskan waktu bersamanya dengan mengajaknya keluar. pada hari itu, aku.. agar terlihat menjadi ayah yg keren, aku membuat rencana hebat untuknya.

pertama, demi manga kesukaan anak laki-ku, kami datang ke tempat kerja mangakanya. untuk bisa bertemu langsung dengan mangakanya. tapi, anakku langsung bilang gambar ojiisan payah. aku langsung mengusap keringat.

Etsuko memperhatikan gambar-gambar yang ada. Semuanya dikhususkan untuk anak-anak namun Etsuko tidak yakin apa anak-anak mengerti maksud gambar-gambar ini.

Setelah itu. waktu itu aku menulis sebuah karya orisinil, tentang pertunjukan musikal. Tapi, pikirku apa anakku menyukainya tidak, tersentuh, tertidur. saat dia naik panggung, aku langsung melarangnya.

Kono mengeceknya dengan meteran. Tinggi anak 3 tahun kira-kira 97 cm. Karena panggung ini tingginya 60 cm maka masuk akal juga. Konfirmasi oke!

saat makan siang, aku mengajaknya ke restoran tradisional yg sudah kupesan saat bekerja. Spesial di waktu makan siang anak-anak.Tapi anakku tidak mau, ia ingin makan ramen. Anak laki-lakiku memakai sumire untuk memakan makanan kecil di kuah ramen,

Kono bertanya ke pegawai di sana soal renge. Pegawai membenarkan itu bukannya sumire. Kono tidak menyangka itu memang renge.

    Di kedainya Taisho. Kono menceritakan keasyikannya mengecek tempat-tempat yang kunjungi untu melakukan konfirmasi essay. Makanan Taisho hari ini enak sekali.

Yukito kemudian meminta Etsuko mengambilkan sumire yang ada di dekatnya Etsuko. Etsuko bingung tapi tetap ia ambilkan. Yukito, ini namanya renge.

Yukito menceritakan kalau semenjak kecil ibunya sering menyebut ini sumire di rumah. Jadilah kebiasaan sampai sekarang. Menyebut renge sebagai sumire. Kono terkejut sekali, kebetulan apa ini? Hari ini ia mengerjakan essaynya Hongo-sensei. Ini aneh, beliau juga menyebut renge dengan sumire. Kono kira itu kesalahan ketik atau semacamnya.

Aneh. Ternyata di dunia ini adalh yang menyebut renge sebagai sumire. Yukito merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Ia memukulkan renge ke wadah.

“Bisakah dihentikan? Pembicaraan itu”

“Eee kenapa memangnya?”

Etsuko berpikir kalau jangan-jangan Yukito membenci Hongo-sensei. Tadi suasananya juga canggung ketika bertemu di lobi. Tapi kenapa? Hongo-sensei kan hebat dan baik orangnya? Apa karena beliau lebih terkenal dari Yukito sehingga membuatnya kesal?. Yukito makin tidak nyaman dengan pembicaraan ini, ia meletakkan makanannya dan meninggalkan kedai.

    Morio masih bekerja, ia menjadi sibuk sekali tapi sangat menikmatinya. Yukito ikut senang, ia akan membuatkan Morio kopi. Morio mengingatkan soal tempat tinggal Yukito. Yukito sedang memikirkan hal tersebut.

Kono merasa bersalah, apa ia tadi sudah keterlaluan pada Yukito. Ia kemudian membaca essay Hongo-sensei lagi, saat itu anaknya berumur 3 tahun dan terakhir kali bertemu dengannya adalah 20 tahun yang lalu. Umur anaknya sekarang berusia 23 tahun. Lalu Kono terkejut mengingat umur Yukito sekarang 23 tahun, juga hal-hal yang terlampir di data diri Yukito mirip dengan ciri-ciri anaknya Hongo-sensei.

     Etsuko menarik dari Kaizuka dan meminta izin Takehara-san untuk menggunakan ruangan sebentar. Takehara meminta pendapat Fujiwa. Fujiwa mengizinkan mereka 5 menit saja.

Etsuko berterima kasih dan kembali menarik Kaizuka ke ruangan. Fujiwa mencari-cari timer, ia benar-benar member waktu 5 menit saja.

Di dalam. Kono bicara serius, ia sampai-sampai memanggil Editor Kaizuka dengan namanya, karena biasanya ia memanggilnya Tako.

“Kaizuka-san”

“Kaizuka (-san) ?”

“Anosa…”

Kaizuka-san yang dipepet mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ia mengelak tidak bisa berbuat seperti itu.

“Karena aku senpai mu. Sudah berpengalaman akan hal itu. hmm boleh kok, coba katakan”

“Apa? Kenapa aku harus mendengarkan saran dari pekerja kantoran sepertimu. Dasar Tako! Berisiknya! kenapa selalu saja mengatakan hal seperti itu.. beneran nih !”

Di luar semuanya menguping pembicaraan keduanya.

“Gara gara kamu aku gagal membeli Yakisoba tahu.”

“Halah kemarin juga makan Yakisoba gitu”

Keduanya berdebat tidak jelas. “Sudah 3 menit!” Kata Fujiwa mengingatkan. Kono kesal, ia lalu mengutarakan pikirannya ke Kaizuka, Hongo Daihaku itu ayahnya Yukito kan?. Kaizuka terkejut bagaimana Kono mengetahuinya?. Kono berkesimpulan kalau Hongo-sensei tidak mengetahuinya.

Kaizuka mengingatkan jangan sampai Kono membeberkan rahasia ini. Di perusahaan hanya ia dan Kono yang tahu fakta ayah anak tersebut. Kaizuka meminta Kono jangan melibatkan persoalan tentang Hongo-sensei ke Yukito. Bagi Korenaga pembicaraan tentang Hongo-sensei harus benar-benar dihindari. Ada kegelapan terdalam diantara mereka.

Sebetulnya Yukito menjadi penulis bayangan agar bisa menyembunyikan identitasnya kalau dia adalah anak laki-laki dari Hongo Daihaku-sensei. Dia sendiri yang mengatakannya pada Kaizuka. Entah apa rahasia kelam yang terjadi diantara keduanya.

Ketika jam makan siang, Etsuko menyesal karena telah melakukan salah pada Yukito. Beberapa detik kemudian Yukito meneleponnya. Yukito meminta maaf karena beberapa hari lalu bersikap kasar dengan pergi begitu saja.

Etsuko bilang tidak masalah, bukan apa-apa. Yukito mengajaknya ketemuan hari Minggu ini. Etsuko menyanggupinya.

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s