Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 7 Part 2

Kono dan Yukito pergi ke akuarium. Mereka melihat-lihat ikan, ketika itu tanpa sengaja mendengar seorang anak kecil memanggil ayahnya. Yukito dan Kono memperhatikan mereka,

Tanpa sadar Kono mengatakan, Yukito.. pa pa.. apa ada panda di sini?

Editor Kaizuka menemui Morio. Ia kemari ingin meminta bantuan Morio.

Yoneoka dibantu Nobuyoshi mengecek jadwal kereta. Nobuyoshi tidak menyangka kalau prosesnya serumit dan sejauh ini. Yoneoka menjelaskan kalau memang salah harus dibenarkan.

Kaizuka menjelaskan tentang Kono yang sampai mengoreksi judul penulisnya. Morio juga menyayangkan kenapa Senpai-nya tidak mengerti hal mendasar tentang itu?. Kono menyarankan Kaizuka untuk memberikan naskah ini ke Morio untuk ditinjau.

Setelah memikirkannya matang-matang, Kaizuka pikir sarannya Koetsu ada benarnya juga, maka ia kemari meminta bantuan Morio. Morio bilang akan membacanya, jika memang sesuai untuk Lassy ia akan merekomendasikannya ke Kepala editor.

Kaizuka sangat berterima kasih pada Morio.

Morio kemudian menunjukkan foto-fotonya Yukito. Awalnya dia bingung mau menggunakan foto yang mana, namun ia akhirnya bisa memutuskan. Karena baginya sekarang ia mengerti, kalau tidak mengambil resiko maka tidak akan melakukan apa-apa.

Tampaknya Yoneoka sudah mentok, ia meminta maaf pada Masamune Nobuyoshi sampai ia mintai bantuan.

*~ Jimi Ni Sugoi ~*

      Yukito dan Kono sudah kembali. Kono hendak mengatakan sesuatu, tapi yang keluar dari mulutnya malah betapa senangnya ia diajak ke akuarium dan melihat ikan-ikan. Yukito memberikannya mainan yang ia beli tadi ke Kono. Yukito pamit pulang.

Kono terkejut pada dirinya sendiri, hampir saja tadi bertanya. Ia sungguh penasaran tapi tidak boleh bertanya mengenai Hongo-sensei ke Yukito.

     Kono kembali berkutat dengan essay milik Hongo-sensei. Ia membaca di bagian Hongo-sensei membelikan sarung tangan kidal karena anaknya kidal.

Beberapa saat yang lalu Takehara-san menerima panggilan dari Kitano-sensei. Setelah menerima hasil proofreading Yoneoka ia akan memperbaiki naskahnya. Kitano-sensei mengungkapkan kalau pikirnya tidak apa-apa tidak tahu jadwal kereta, namun ia tidak bisa menutup mata demi kebaikan pembaca setianya, juga kedepannya.

Takehara-san menasehati, pekerjaan mengoreksi karya orang-orang memang penuh resiko namun itu semua dilakukan demi hasil karya itu sendiri.

    Yoneoka mengungkapkan kalau ia memiliki keberanian mengoreksi jadwal kereta tersebut berkat Kono-san. Karena Kono-san orangnya tidak takut mengambil resiko.

Kono yang di mejanya langsung teringat pada Yukito. Ia ingin sekali melakukan apa yang mengganggu benaknya selama ini.

Kono mengambil mantelnya dan pamit pergi. Fujiwa yang biasanya melarang sekarang malah mengucapkan hati-hati. Membuat yang lainnya bingung dengan perubahan sikap yang drastis ini.

Setelah Etsuko pergi, Takehara balik tanya ke Fujiwa. Bukannya Fujiwa-san juga bilang hati-hati. Fujiwa langsung bingung, lho..

     Etsuko menghubungi Yukito untuk bertemu. Mereka bermain lempar tangkap bola. Ragu-ragu Etsuko mengatakan maksudnya. Ia sebagai Proofreader dari Departemen Koetsu Keibonsha ingin mengkonfirmasi, apakah saat berumur 3 tahun Yukito sering menggunakan tangan kirinya dan pernah dibelikan sarung tangan khusus kidal oleh ayahnya, Hongo Daihaku-sensei?.

Yukito terkejut, tapi ia langsung menjelaskan. Saat kecil ia memang sering menggunakan tangan kirinya ketimbang yang kanan, namun lambat laun ia membiasakan menggunakan tangan kanannya karena lebih mudah melakukan sesuatu dengan tangan kanan. ( Berarti Yukito ambidextroy? )

Karena suasana agak canggung, Etsuko kemudian meminta Yukito menganggapnya sekarang berbicara dengan Ecchan. Ia meminta Yukito menemui Hongo-sensei, selama ini Hongo-sensei menunggunya. 20 tahun tidak bertemu, Hongo-sensei ingin sekali berjalan bersama anaknya di bawah jembatan Tappi.

Etsuko ingin Yukito mempertimbangkan hal tersebut.

Morio mengatakan kalau Kepala Editor suka dengan novelnya, cocok untuk pembaca Lassy. Kaizuka senang sekali atas bantuannya Morio,

ia juga memegangi tangan Morio. Lain kali ia akan mentraktirnya makan. ( Modus! Pedekate.. Pedekate..  HHHH)

Morio bingung, tapi kenapa tiba-tiba?. Kaizuka jadi tidak enak, ia bilang hanya bersemangat karena terbawa suasana. Namun tanggapan Morio diluar dugaan, ia bilang tidak apa-apa kog.

 ( Lampu ijo tuh! Cepet respon, kalau enggak… dijutekin mati kutu lu… (╭ ̄.) )
“Hah? Bohong?” Kaizuka tidak percaya

~* Pretty Proofreader Kono Etsuko *~

Saat itu Hongo-sensei dalam ceritanya mengatakan kalau anaknya tertidur melihat teater musikal. Tapi versinya Yukito berbeda, seingatnya dulu ayahnya lah yang tertidur karena dengkurannya mengganggu penonton yang lainnya.

Baiklah, mari kita lihat ingatan siapa yang paling kuat. Yukito ingin bertemu dengan Hongo-sensei. Etsuko terenyuh mendengarnya, ia kemudian ingin menghubungi Kaizuka. Tako.. Tako.. Tako.. eh dikontaknya tidak ada yang namanya Tako. Kaizuka. Membuat Yukito tertawa.

Hongo-sensei dan Yukito bertemu sekarang. Yukito mengungkapkan ketakutannya selama ini, ia ini hanya penulis yang setengah-setengah. Tiap kali melihat nama ayahnya ia berusaha untuk kabur. Ia ketakutan melihat dunia ayahhnya.

Sebagai penulis, Hongo-sensei menasehatinya. Ia juga sudah membaca semua bukunya Yukito. Dan sebagai seorang ayah ia memuji selera Yukito terhadap wanita bagus juga. Hongo-sensei meminta Etsuko untuk menjaga Yukito dengan baik. Bukankah dia ini pacarnya Yukito?

Yukito serba salah, tidak mengiyakan dan tidak bilang tidak. Yukito malu-malu. Etsuko awalnya ingin menyangkal tapi langsung menyanggupi akan menjaga Yukito dengan baik.

Yukito pamit pindah dari tempatnya Morio. Ia meminta maaf telah merepotkannya selama ini, juga berterima kasih atas kebaikan Morio. Yukito kagum dengan ketegaran Morio, ia telah belajar banyak dari Morio.

Karena kata-kata Yukito sudah mulai kemana-mana, Morio mendorongnya keluar dari rumah. Membuat terharu saja, Morio segera mengusirnya.

Hongo-sensei akhirnya memperbaiki tulisannya. Ia jatuh tertidur dan mengganggu penonton yang lainnya. Judulnya yang semula Hari yang menyedihkan menjadi hari paling membahagiakan.

Takehara berterima kasih kepada Kono, sekali lagi sebuah karya terselamatkan. Yoneoka menyindir-nyindir enaknya Etsuko yang mendapat pujian dari seorang penulis. Aku juga ingin…!

“Aaa Kitano sensei selanjutnya juga ingin berbicara kepada Yoneoka-kun atas koreksi revisiannya.”

Yoneoka senang sekali. Takehara dapat telepon, nominasinya sudah ditentukan.

Semua orang di Koetsu departemen bersemangat. Kaizuka datang, dia tanya ke Etsuko soal daftar kan sudah diumumkan, harusnya perasaannya membaik. Etsuko membanting pulpennya dan mendekati Kaizuka.

Apa maksudnya dengan kegelapan yang sangat dalam?. Kaizuka bilang itu rahasia terdalam antara Hongo-sensei dan Yukito. Gara-gara pemikirannya Kaizuka yang aneh itu, Etsuko sampai berpikir yang tidak-tidak.

Kaizuka bilang, pada akhirnya semuanya berjalan dengan lancar kan?. Lalu dia kabur dari Kono.

K O M E N T A R:

Maaf kalau ada typo ya.. ^^

     Menurutku kalau novelnya memang mengambil latar tempat sungguhan, seperti misalnya monas itu ada emasnya.. saat itu blablabla, kalau novel berlatar 1980an.. monas dalamnya justru mall kan malah diprotes banyak orang :v, okelah perlu dilihat faktanya tahun segitu beneran ada itu dan cocok tidak? Tempatnya, gaya bahasa sewaktu itu, sejarahnya, yang terkhusus orang-orang di masa itu tahu. Kalau agak semi fiksi yang tidak sampai menyebutkan tempat nyata, namun cukup general, cuman sekedar jalan, kantor, Jakarta, blablaba.. gak usah dikulik karena memang tidak detail. Nah.. kalau yang fiksi fantasi, kita harus ngikutin arahannya si penulis maunya dibawa kemana? (hubungan kita? Heol.. XD , eeh)

    Juga soal sejarah, kita harus cek dari dua sisi antara penjajah dan yang dijajah. Pasti perspektifnya beda, entah mana yang benar dan bagian mana yang dilebih-lebihkan.. tapi dua-duanya menawarkan history. Itulah kenapa sejarah disebut history dari kata His dan story. Sejarah adalah soal sudut pandang, bukan cerita eksak yang pasti jika a bilang a maka benar a, namun karena kita tidak mengalaminya sendiri.. juga sebab ingatan manusia itu rapuh, jadilah kita percaya namun tetap harus skeptis bertanya-tanya sembari membuktikan, caranya? Ya belajar dong.. tapi jangan fokus ngapalin tahun doang, wkwkwk gw ditanya tahun-tahun juga gak ngeh.. pengen gw lempar bunga beserta potnya tuh orang-orang (¬_¬”), die sendiri gak inget.. sok sok an tanya gw. Menurutku gak perlu bener-bener dihapalin teks book, tapi lebih seperti memahami dan mencintainya.. tanpa sadar nanti nyantol ke otak sendiri. Kalau Hongo-sensei ingetnya anaknya yang ketiduran dan Yukito ingetnya ayahnya yang ketiduran kan beda.. namanya juga his story. Kita ngomongin sudut pandang. Berarti kalau ada 2 orang berantem kita harus dengerin cerita masing-masing dari mereka baru bisa mengambil kesimpulan yang bijak.

     Gak kaget sih soal Yukito ternyata anaknya Hongo-sensei. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Gen itu beneran nurun. Soalnya gen adalah semacam perekam kehidupan manusia. Kebiasaanmu, apa yang sering kamu lakukan, plus minus, hidupmu semuanya terekam di gen. Maka dari itu, ketika dua orang punya anak.. anaknya secara otomatis akan mewarisi gen orang tuanya. Biasanya ayah dominan menurunkan fisik, sedangkan ibu dominan nurunin sifat ke si anak.

      Drama ini entah bagaimana endingnya, 3 episode lagi ending. Kono mulai menikmati pekerjaannya, akan adil kalau dia bisa dapetin keinginannya menjadi Editor Lassy tapi sepertinya sudah sangat enjoy dengan Koetsu Dept. Terkadang dalam pekerjaan ada istilah kamu baik dalam melakukannya meski tak menyukainya atau kamu tidak menargetkan tempat tersebut tapi kamu mampu dan baik dalam hal tersebut. Dan tentu saja, entah suka atau tidak, asal kita mampu dan bisa mengerjakannya dan memberikan manfaat bagi yang lain, kenapa enggak?

Komentarku gak usah di-iya-in gapapa, ini hanya opini yang punya blog, yang punya blog siapa? Kan gw.. wkwkwk suka-suka yang punya dong…  (‘) (‘)┌, 

Gracias and ciao~

Advertisements

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 7 Part 1

  Sedari tadi Yoneoka terus mendesah sebal, membuat Etsuko tidak bisa berkonsentrasi. Ia bertanya ke Yoneoka apa yang sedang terjadi? Apakah patah hati karena anak percetakan itu?

Tidak tidak, bukan begitu. Yoneoka meminta Kono mendekat. Yoneoka sedang frustasi mengerjakan naskah “Kisah Detektif di Sekitaran Jalan”, seri terkenal dari Kitano Shoutaro-sensei. Dalam kasusnya menggunakan jadwal pemberangkatan kereta untuk penyelesainnya, dan masalahnya Kitano-sensei tidak memperhatikan jadwal pemberangkatan kereta yang baru.

Kalau begitu tinggal koreksi saja kan, usul Kono. Yoneoka bilang tidak bisa semudah itu, karena harus memperhatikan apakah hujan, terik matahari, kondisi pembangunan daerah sekitar juga. Ini sungguh menjengkelkan, Yoneoka juga tidak mau ambil resiko. Benar-benar membikin frustasi.

     Kono setuju, tapi bukankah kalau sudah dikoreksi nanti kita akan menemukan solusi penyelesaiankan bukan?

     “Koetsu!”

Editor Kaizuka memprotes tindakan Kono yang mengoreksi judul. Apa-apaan ini?. Kono menjelaskan bahwa selama ia memproofreading naskah ini ia merasa judulnya tidak cocok, “Takeko yang Tidak Disukai Setiap Harinya” padahal diceritanya si Takeko ini makin hari makin banyak menerima cinta dari orang-orang terdekatnya. Jadi tidak benar-benar dibenci.

Kaizuka naik darah, apa Kono bercanda? Judul adalah wajahnya buku! Dan kau menyama-nyamakan judul buku ini dengan wajahku!!??

     Yoneoka terguncang memperhatikan perdebatan Kono dan Kaizuka. Mengkoreksi judul?? Aku  tidak  bisa melakukan peninjauan yang  beresiko seperti itu. Ia mulai menangis dan membanting-banting barang di mejanya.

~* Jimi Ni Sugoi *~

Yukito dipakaikan jas dan rapi, semuanya senang karena Yukito cocok untuk projek mereka ini.

Yukito tidak nyaman mengenakan jas dan dasi yang ketat. Ia juga tidak sabar pemotretan segera dilakukan supaya segera berakhir. Morio mengingatkan Yukito untuk jangan mengeluh seperti amatiran begitu, karena Yukito sudah profesional.

     Kono, Yukito, dan yang lainnya merayakan keberhasilan Yukito menjadi modelnya Lassy. Yukito merendah, ini bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan. Semuanya tidak setuju, kedengarannya menjadi model itu menyenangkan.

Yukito tanya adakah matsutake Taisho? Karena Yukito suka aneka jamur. Dengar kata suka membuat Kono teringat saat Yukito bilang suka padanya.

Karena Kono tak segera merespon, Yukito menghindar dengan cara bilang mau ke sana dulu. Sampai jumpa.

   Kono menimbang-nimbang apa itu sungguhan atau tidak?. Yukito menjadi model berkat usaha keras Morio, Morio pasti senang sekali sekarang.

Kono mulai bercerita mengenai impiannya yang ingin menjadi desainer dan mengadakan fashion show di Milan. Yukito tanya, apa pantat nanti tidak sakit? Kan perjalanan ke Milan cukup jauh?

“Taisho tolong tacos kinchaku.” Pesan Yukito

“Oke”

Kono jadi tersadar. Sedangkan para pria asyik mengobrol

*~ Pretty Proofreader ~*

Hongo-sensei datang, ia mencari Kono. Seperti biasanya Etsuko selalu ceria, Etsuko bahkan memuji syal Hongo-sensei yang manis. Kaizuka mengingatkan Kono untuk jangan bertindak yang tidak sopan.

     Hongo-sensei secara khusus datang ke Departemen Koetsu untuk menyerahkan essay miliknya untuk ditinjau oleh Etsuko. Essay tersebut nantinya akan diterbitkan ke dalam majalah bulanannya K-Bon.

    Mereka mengantarkan Hongo-sensei keluar. Etsuko minta ditraktir makan setelah selesai menggarap essay Hongo-sensei. Shesiru berterima kasih pada Hongo-sensei atas oleh-olehnya.

Disaat yang sama Yukito terlihat, “Bahaya!” Kaizuka langsung panik dan berusaha menghalangi pandangan Hongo-sensei ke Yukito.

“Sensei! Terima kasih banyak untuk hari ini.”

Kaizuka langsung bertingkah lebay. Semuanya bingung dengan tingkah Kaizuka.

Yukito memanggil Etsuko. Air mukanya langsung berubah dari ceria ke sebaliknya ketika berpandangan dengan Hongo-sensei. Tanpa diminta Etsuko langsung menjelaskan siapa Yukito, penulis Korenaga Koreyuki dan juga modelnya Lassy.

Hongo-sensei berkomentar, penulis yang benar-benar masih muda.

Kaizuka langsung tidak nyaman, ia mengantarkan Hongo-sensei pergi. Sedangkan Yukito mengambil card dan langsung meninggalkan Kono di lobi.

*~ Simpleness is Great! ~*

 

Yukito menyela sebentar, ia minta nama aslinya jangan digunakan. Ia beralasan agak malu dengan nama aslinya.

Kepala Editor menyetujuinya, Penulis Korenaga Koreyuki dan model Yukito. Menarik juga, terkesan misterius dan menimbulkan rasa penasaran.

Kono takjub, ia bertepuk tangan berkali-kali. Proofreader yang lain penasaran ada apa? Kono menjelaskan mengenai essay milik Hongo-sensei yang amat menyentuh hati dan menyenangkan. Hongo-sensei sangat hebat! Tapi masalahnya judulnya tidak sesuai dengan isinya yang menghangatkan ketimbang menyedihkan.

Ketika Kono hendak mengoreksi judulnya, Takehara mencegahnya. Semua judul essay yang akan terbit di majalah bulanan dibuat oleh para sensei-nya sendiri, jadi Takehara mohon Kono jangan mengkoreksi judulnya. Cukup itu saja yang dibiarkan. (Wkwkkk)

Sumire, sumire, sumire.. apa itu sumire? Kono bingung dengan kalimat anak laki-lakiku menggunakan sumire untuk menyendok kuah ramen. Apa itu sumire sejenis bunga atau apa? Bukankah nanti kalau digunakan malahan tumpah?

Benar juga, Kono dan Yoneoka memikirkan hal yang sama. Fujiwa berpikir, jangan-jangan itu renge (merupakan sendok mangkuk yang biasa digunakan saat makan ramen.). Barangkali Hongo-sensei keliru menulis rengen menjadi sumire.

Tapi Kono belum sepenuhnya yakin. Akan jadi masalah besar kalau penulis sekelas Hongo-sensei melakukan kesalahan semacam itu. Jadi Kono memutuskan untuk mengeceknya sendiri.

Ia memakai jaketnya, pamit pergi ke atasannya. Atasannya santai sekali memintanya hati-hati. Fujiwa protes, apakah Takehara-san tidak terlalu santai?. Takehara bilang ia keceplosan saja. Lalu ngomong-ngomong Kono mau ke mana?

Hari terburuk dalam kehidupanku. Adalah saat istriku memintaku untuk menjaga anak laki-lakiku. pertama kalinya aku menghabiskan waktu bersamanya dengan mengajaknya keluar. pada hari itu, aku.. agar terlihat menjadi ayah yg keren, aku membuat rencana hebat untuknya.

pertama, demi manga kesukaan anak laki-ku, kami datang ke tempat kerja mangakanya. untuk bisa bertemu langsung dengan mangakanya. tapi, anakku langsung bilang gambar ojiisan payah. aku langsung mengusap keringat.

Etsuko memperhatikan gambar-gambar yang ada. Semuanya dikhususkan untuk anak-anak namun Etsuko tidak yakin apa anak-anak mengerti maksud gambar-gambar ini.

Setelah itu. waktu itu aku menulis sebuah karya orisinil, tentang pertunjukan musikal. Tapi, pikirku apa anakku menyukainya tidak, tersentuh, tertidur. saat dia naik panggung, aku langsung melarangnya.

Kono mengeceknya dengan meteran. Tinggi anak 3 tahun kira-kira 97 cm. Karena panggung ini tingginya 60 cm maka masuk akal juga. Konfirmasi oke!

saat makan siang, aku mengajaknya ke restoran tradisional yg sudah kupesan saat bekerja. Spesial di waktu makan siang anak-anak.Tapi anakku tidak mau, ia ingin makan ramen. Anak laki-lakiku memakai sumire untuk memakan makanan kecil di kuah ramen,

Kono bertanya ke pegawai di sana soal renge. Pegawai membenarkan itu bukannya sumire. Kono tidak menyangka itu memang renge.

    Di kedainya Taisho. Kono menceritakan keasyikannya mengecek tempat-tempat yang kunjungi untu melakukan konfirmasi essay. Makanan Taisho hari ini enak sekali.

Yukito kemudian meminta Etsuko mengambilkan sumire yang ada di dekatnya Etsuko. Etsuko bingung tapi tetap ia ambilkan. Yukito, ini namanya renge.

Yukito menceritakan kalau semenjak kecil ibunya sering menyebut ini sumire di rumah. Jadilah kebiasaan sampai sekarang. Menyebut renge sebagai sumire. Kono terkejut sekali, kebetulan apa ini? Hari ini ia mengerjakan essaynya Hongo-sensei. Ini aneh, beliau juga menyebut renge dengan sumire. Kono kira itu kesalahan ketik atau semacamnya.

Aneh. Ternyata di dunia ini adalh yang menyebut renge sebagai sumire. Yukito merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Ia memukulkan renge ke wadah.

“Bisakah dihentikan? Pembicaraan itu”

“Eee kenapa memangnya?”

Etsuko berpikir kalau jangan-jangan Yukito membenci Hongo-sensei. Tadi suasananya juga canggung ketika bertemu di lobi. Tapi kenapa? Hongo-sensei kan hebat dan baik orangnya? Apa karena beliau lebih terkenal dari Yukito sehingga membuatnya kesal?. Yukito makin tidak nyaman dengan pembicaraan ini, ia meletakkan makanannya dan meninggalkan kedai.

    Morio masih bekerja, ia menjadi sibuk sekali tapi sangat menikmatinya. Yukito ikut senang, ia akan membuatkan Morio kopi. Morio mengingatkan soal tempat tinggal Yukito. Yukito sedang memikirkan hal tersebut.

Kono merasa bersalah, apa ia tadi sudah keterlaluan pada Yukito. Ia kemudian membaca essay Hongo-sensei lagi, saat itu anaknya berumur 3 tahun dan terakhir kali bertemu dengannya adalah 20 tahun yang lalu. Umur anaknya sekarang berusia 23 tahun. Lalu Kono terkejut mengingat umur Yukito sekarang 23 tahun, juga hal-hal yang terlampir di data diri Yukito mirip dengan ciri-ciri anaknya Hongo-sensei.

     Etsuko menarik dari Kaizuka dan meminta izin Takehara-san untuk menggunakan ruangan sebentar. Takehara meminta pendapat Fujiwa. Fujiwa mengizinkan mereka 5 menit saja.

Etsuko berterima kasih dan kembali menarik Kaizuka ke ruangan. Fujiwa mencari-cari timer, ia benar-benar member waktu 5 menit saja.

Di dalam. Kono bicara serius, ia sampai-sampai memanggil Editor Kaizuka dengan namanya, karena biasanya ia memanggilnya Tako.

“Kaizuka-san”

“Kaizuka (-san) ?”

“Anosa…”

Kaizuka-san yang dipepet mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ia mengelak tidak bisa berbuat seperti itu.

“Karena aku senpai mu. Sudah berpengalaman akan hal itu. hmm boleh kok, coba katakan”

“Apa? Kenapa aku harus mendengarkan saran dari pekerja kantoran sepertimu. Dasar Tako! Berisiknya! kenapa selalu saja mengatakan hal seperti itu.. beneran nih !”

Di luar semuanya menguping pembicaraan keduanya.

“Gara gara kamu aku gagal membeli Yakisoba tahu.”

“Halah kemarin juga makan Yakisoba gitu”

Keduanya berdebat tidak jelas. “Sudah 3 menit!” Kata Fujiwa mengingatkan. Kono kesal, ia lalu mengutarakan pikirannya ke Kaizuka, Hongo Daihaku itu ayahnya Yukito kan?. Kaizuka terkejut bagaimana Kono mengetahuinya?. Kono berkesimpulan kalau Hongo-sensei tidak mengetahuinya.

Kaizuka mengingatkan jangan sampai Kono membeberkan rahasia ini. Di perusahaan hanya ia dan Kono yang tahu fakta ayah anak tersebut. Kaizuka meminta Kono jangan melibatkan persoalan tentang Hongo-sensei ke Yukito. Bagi Korenaga pembicaraan tentang Hongo-sensei harus benar-benar dihindari. Ada kegelapan terdalam diantara mereka.

Sebetulnya Yukito menjadi penulis bayangan agar bisa menyembunyikan identitasnya kalau dia adalah anak laki-laki dari Hongo Daihaku-sensei. Dia sendiri yang mengatakannya pada Kaizuka. Entah apa rahasia kelam yang terjadi diantara keduanya.

Ketika jam makan siang, Etsuko menyesal karena telah melakukan salah pada Yukito. Beberapa detik kemudian Yukito meneleponnya. Yukito meminta maaf karena beberapa hari lalu bersikap kasar dengan pergi begitu saja.

Etsuko bilang tidak masalah, bukan apa-apa. Yukito mengajaknya ketemuan hari Minggu ini. Etsuko menyanggupinya.