[K-Movie] Life Risking Romance – Part 2

    Jason Chen baru pindah, dia di lantai atas. Kamar 602. Kebiasaannya saat mandi adalah sambil menonton film, maaf jika suaranya terdengar sampai ke Jane. Jason pergi, Yumi mendekat dan terkagum-kagum. Tidak menyangka pria sempurna itu tinggal di sini.

Namun Jane masih mencurigai ada yang aneh. Yumi tidak habis pikir, khayalannya Jane ini sudah keterlaluan. Lebih baik idenya itu digunakan untuk menulis novel saja. Ckckck

 “Jadi kau akan menulis tentang pembunuh berantai di Itaewon?”

“Yap”

“Teruskan.”

“Seorang wanita dibunuh. Dan novelis yang tinggal di lantai bawah adalah saksi kejahatan. Tapi tidak satupun, termasuk polisi,”

“Karena.”

“Karena. Dia menangis serigala satu kali terlalu banyak, dan melaporkan semua orang di kota.”

“Penulis itu melaporkanku juga, ada penganggu di Itaewon.” Kata atasannyannya dengan nada bercanda.

“Menangkap si pembunuh dengan mengikuti aturan cerita…  akan percaya padanya. Jane Han luar biasa kembali! 100% percaya kejahatan ketegangan ekstrim, Thriller ( cerita seru menegangkan )”

Sajanng-nimnya berkomentar kalau penulis dan pembunuhnya jatuh cinta, harus menggunakan cinta untuk mendekatinya. Ini adalah cara termudah untuk menangkap pembunuhnya.

    Jane berandai-andai jika ia benar bisa menangkap pembunuh sebenarnya bagaimana?. Sajang-nim  pikir Jane pasti akan menjadi penulis buku terlaris seperi Nona Byeon. Karena jika itu terjadi.. maka orang-orang akan penasaran dengan buku yang ditulis dari cerita yang sebenarnya tersebut.

     Jane mulai bertingkah, dia mengotori kaca jendela dan bertingkah seperti detektif, mulai menganalisa dan saling mengaitkan apa yang dia ketahui.

Bahkan mengobrak-abrik sampah Jason. Dominasi, manipulasi dan control adalah cirri-ciri umum dari pembunuh brantai. Jason adalah keturunan Amerika – cina dan menyewa kamar 602 untuk 2 bulan. Lokhan bertanya ke pemilik tempat sementara Jane di luar.

Pemilik kesal pada Jane karena beberapa waktu lalu dilaporkan Jane ke polisi padahal tidak bersalah. Tanpa disangka-sangka Jason datang dengan senyuman dan payung, bertanya sedang apa Jane disini. Menyuruhnya pulang agar tidak sakit.

Jason meninggalkan payungnya ke Jane dan kembali ke mobilnya. Jane penasaran apakah Jason memang pembunuh? Dari kasus sebelumnya di Itaewon memiliki kemiripan tersangka. Seorang warga asing pindah ke suatu daerah, dan tak lama kemudian ditemukan jasad dengan ciri-ciri yang sama. Seorang wanita dimasukkan ke dalam koper,

Jane meneropong Jason, malam hari pria itu sedang berolah raga. Memuji-muji badannya yang memiliki pack. Lokhan kesal, ia bilang kalau man dada ayam dan olah raga sedikit pasti akan punya tubuh kotak-kotak begitu. Semua orang juga bisa!

   Jane tidak setuju, lantas mana kotak-kotaknya Lokhan?. Lokhan merebut teropongnya Jane. Ia melihat Yumi dan memuji-muji dadanya. Jane mengambil teropongnya melihat Yumi, itu bukan karena aslinya besar. Tapi karena pakai push up bra sehingga terdorong. Lokhan melihat branya Jane di sana, ia penasaran kapan Yumi mengutil branya Jane..

Jane marah, ia memukuli Lokhan dan memitingnya, dan keduanya saling mengancam dengan pasal kekerasan dan pelecehan seksual.

       Lokhan membantu Jane membukakan mobil Jason. Sambil memukul-mukul jendela ia menyebutkan kalau perusakan properti bisa dikenai 3 tahun penjara. Sialnya mobil terbuka, Jane heran melihat Jason punya foto otopsi. Lokhan masih mengoceh, pencarian illegal akan kena 5 tahun penjara. Sudah 8 tahun hitungannya!

Jane tidak peduli. Jason datang menuju mobilnya. Jane dan Lokhan bersembunyi di bagasi, karena jarak mereka menjadi sangat dekat.. Lokhan berusaha mengambil kesempatan itu dengan mengikuti sarannya Yumi, satu ciuman saja mereka akan bisa keluar dari friendzone. Momennya rusak seketika karena Jane buang angin.

Jason bahkan sampai membuka atap mobilnya karena baunya tidak enak.

*~ Life Risking Romance ~*

Lokhan masuk ke ruangan seminar, kesemuanya adalah petinggi kepolisian. Lokhan terjatuh dan bergelung dengan tirai, kebingungan karena melihat atasannya. Ia mulai memberikan hormat, atasannya sangat malu. Jason adalah pembicara di sana, ia mempersilakan Lokhan duduk.

Lokhan gagu, malah menduduki atasannya. Lalu ia menuju Jane, keduanya sama-sama baru baru kalau Jason adalah Profiler FBI. Jane dan Lokhan membuntutinya, Nona Byeon mengobrol dengan Jason.

Lokhan pura-pura menjadi pelayan dan meletakkan alat penyadap. Keduanya menguping, Nona Byeon mengajak Jason ke acara peluncuran novelnya besok, ada pesta juga. Kalau boleh Nona Byeon juga ingin ke tempatnya Jason, ia menggodanya. Ingin tahu jenis buku apa yang dibaca Profiler FBI. Jason megiyakannya.

     Jason dikerubungi para wanita. Mereka mengobrol dan kemudian Jane datang mempesona Jason dengan kata-kata kutipan dari orang yang terkenal, Anton Chekov. Byeon menyela Jane kenapa kemari, bukankah acara ini untuk penulis? Tapi Jane sunbae selama 5 tahun ini tidak menulis apapun.

Jane justru menanggapinya dengan mengatakan kalau Victor Hugo saja selama 16 tahun menghasilkan Les Miserables, jane menyenggol Byeon. Kemudian Jason memperkenalkan dirinya secara resmi, ia terkejut bukankah Jane Han penulis buku Psikology of Murder?

Karen Jason sangat antusias dan senang bertemu Jane, kagum bagaimana detailnya Jane menuliskan tentang pedofil. Byeon  yang cemburu akhirnya sengaja menyenggol pelayan yang membawa wine, nyaris mengenai Jane.

Jason cukup sigap melindungi Jane.

    Byeon diantarkan pulang. Ia menangis karena tidak mau pulang. Sebaliknya, Jane mendapatkan kehormatan ke rumah Jason. Jane masih berusaha membuktikan pemikirannya tentang Jason adalah pembunuh berantai.

Sementara Jason sibuk, Jane menggeledah tempat Jason yang mencurigakan. Ia menemukan koper, namun belum sempat dibukanya Jason sudah kembali, Jane pura-pura tertidur dan mengantuk karena kebanyakan minum.

Ia izin ke kamar mandi sebentar.

   Jane mencari sidik jari, mengambil helai rambut Jason. Terjengkang karena tidak sengaja menghidupkan televisi. Rupanya Jason benar-benar menonton film ketika mandi.

     Jane kembali, ia melihat koper di kasur. Jason sudah lama menyadari gelagat Jane,  , melaporkannya sebagai pembunuh, membuntutinya, dan mencari-cari bukti di tempatnya. Jane yang terkejut aksinya diketahui, ia mundur dan terjatuh di dekat koper. Jason bertanya, jika ia benar pembunuh lantas apa yang  akan Jane lakukan?

Jason mengeluarkan sesatu dari balik badannya. Jane menjerit, dipikinya itu adalah pisau atau semacamnya.

“Jane Han-Jagga. Bisa aku minta tanda tanganmu, tolong?” Kata Jason sambil tersenyum. Selama ini Jason memang tahu kalau dibuntuti Jane, ia merasa kalau pembunuhnya masih berkeliaran di luaran sana.

   Yumi keluar malam, ia merasa ada yang membuntutinya. Ketika seseorang itu mendekatinya ia berlari, ia dikagetkan dengan Lokhan. Keduanya sama-sama menjerit.

    Jason dan Jane masih membicarakan soal pembunuhan, paling tidak pembunuhnya akan muncul di rumah kosong dan akan ada jasad baru. Jane berpikiran kalau jasad selalu dalam keadaan telanjang dan diposisikan seperti bayi di dalam kandungan. Jason terkejut dengan kesimpulan Jane, imajinasinya luar biasa.. pantas saja ia penulis yang hebat. Dengan senyuman Jason yang manis, Jane dalam hati terus menerus menyadarkan dirinya untuk jangan terbuai.

(Kalau disenyumin semanis ini siapa yang bisa kuat XD, manisnya… ❤ , saya bisa diabetes kalau disenyumin seperti ini tiap hari *Kyaaaa… )

     Jason mengantarkan Jane keluar. Ia harap selanjutnya mereka bisa berkencan sungguhan, bukan sebagai tersangka dan penulis.

    Lokhan menentang kalau Jane dan Jason akan berkencan sungguhan. Ia tidak mau ikut dalam penyelidikan ini lagi.

Jane merasa bingung dengan pujian Jason, juga dengan kata-kata Jason soal pembunuhnya masih ada di luar sana dan akan muncul di rumah kosong. Ia akhirnya tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk menuju rumah kosong yang ia ketahui.

     Jane mengganti pakaiannya dengan gaun putih yang ada di rumah kosong tersebut. Disaat yang sama pembunuhnya ada di sana. Pembunuhnya awalnya hampir tertipu karena Jane mirip dengan manekin biasanya.

Mereka kejar-kejaran, di ruangan pemberkatan. Jane bersembunyi, ia tanpa sengaja menekan tombol musik pernikahan (Hahahahahaha! Horor komedi XD )

Jason datang dengan tampannya, berjas rapi dan kalem. Jane kabur dari pria berpisau (Hahahahahaha! )

Sementara itu musiknya makin mengalun dengan indahnya. Jason dan Jane seolah sedang berdansa padahal menghindar serta menyerang pembunuhnya. Jason mengangkat Jane dan menggunakannya sebagai senjata melawan pembunuhnya. Jane syok, pingsan.

Pembunuhnya ditangkap. Jason dielu-elukan Komisaris. Jane sedari tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jason. Lokhan mengkhawatirkan Jane karena telah bertindak gegabah, namun Jane merasa terselamatkan karena Jason mengikutinya.

    Keduanya diwawancarai.

Di hari berikutnya. Jane menceritakan Jason pada Sajang-nim. Jane bangga melihat siarannya di televisi (yang padahal ekspresinya seperti idol lagi promosi lagu baru XD, gak ada elegannya sama sekali XD )

Sajang-nim memintanya untuk mulai menulis, tentang Penulis dan FBI yang saling jatuh cinta.

    Jane mulai menulis, dan ia mulai gila. Jason ada di mana-mana dengan kerennya. (Hahahaha!)

Seperti sekarang di depannya melawan penjahat, lalu menunjukkan identitasnya sebagai FBI.

     Sampai pagi Jane sebenarnya masih ragu apakah Hor Jong Gu memang pembunuh berantainya.

Jason mengutarakan keraguannya. Dari profilnya diselidiki bahwa Hor Jong Gu sama sekali tidak cocok disebut pembunuhnya karena dari tingkat kecedasan, penampilannya, terindetifikasi kalau ia hanyalah pencuri biasa. Jason merasa Jane juga berpikiran sama dengannya.

Yumi mengantarkan pesanan dengan kasar. Lokhan mengawasi dengan tidak senang, Yumi mengomporinya.

“Dia baru saja bertemu dan membawa pacarmu”

Lokhan pergi begitu saja.

Jane menyesalkan, ia ingin menangkap pembunuh sebenarnya dan menulis novelnya. Jason memintanya jangan khawatir, karena Jane punya agen FBI di lantai atasnya.

Mereka menuju tempat terakhir diketahuinya korban.

“Sebagian orang mengatakan kalau ada kesamaan. Antara cinta dan benci. Dalam kedua situasi, hanya satu orang yang diinginkan. Satunya akan menjadi sasaran.”

Mereka menyelidiki sembari berkencan. Ke taman hiburan untuk mengkonfirmasi tempatnya, hari itu adalah hari ulang tahun korban.

“Bagaimana dia terpikat dengan korban?” Tanya Jason

“Mungkin dia cukup menarik. Seperti kau.”

Mereka ada di aula pernikahan. Sayang sekali harus mengunjungi tempat ini bukan dalam nuansa khidmat penuh kebahagiaan, namun kasus pembunuhan. Pelakunya seolah melakukan sebuah penghinaan atas cinta dan pernikahan karena jasad disembunyikan di sana. Jason bercerita kalau di Miami pernah ada kasus serupa, ia terlibat dalam penyelidikan tersebut namun  tersangkanya meninggal dalam kecelakaan mobil.

   Pelakunya. Dia sering disiksa oleh ibunya di masa kecil. Ibunya seorang pelacur, membawa orang-orang ke rumahnya.. Jadi setiap kali dia menyembunyikan dirinya di dalam sebuah koper besar. Dan itulah mengapa dia memilih perempuan bermoral untuk dibunuh. dan meletakkan mereka di dalam tas.

“Itu sangat menyedihkan.” Komentar Jane

“Apa?”

“Jika dia menjadi seorang anak yang bahagia, dia tidak akan pernah membunuh seorang perempuan.”

“Jadi menurutmu, dia bukan dilahirkan untuk kejahatan.”

“Tidak satupun dilahirkan untuk kejahatan.”

>>> [K-Movie] Life Risking Romance – Part 3

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s