“Semoga dia ada di rumah” gumam Etsuko.

“Dia datang! Hai!” Seru Shesiru

Morio datang, dia terkejut melihat Etsuko dan Shesiru “Hah! Senpai!”

Di belakangnya ada Yukito mengikuti, “Apa ini tidak kebanyakan untuk dua orang?” tanyanya ke Morio sambil melihat daun bawang belanjaan mereka.

Canggung. Supnya mendidih, semuanya diam. Shesiru mencoba memecah keheningan dengan mengajak semuanya makan.

“Apa ini?” Tanya Etsuko datar

Shesiru menjelaskan ini adalah sup kimchi yang baik untuk kesehatan dan kecantikan kulit senpai!. Jelas Shesiru dengan tawa namun tak ada yang bereaksi. Tegang, canggung..

Shesiru serba salah, dia memilih diam saja.

Morio mencoba menjelaskan “Ano… Ketika aku merekrutnya menjadi model di Lassy. dia baru saja dikeluarkan dari apartemennya, dan tak punya tempat tujuan. Jadi, aku menawarkan kamar kosong  di rumahku untuk dia tumpangi. Sampai dia mendapatkan kontrak eksklusif dan bisa menyewa apartemen. Jadi, mohon jangan berpikir yang aneh-aneh. Bukankah aku pernah bilang kalau aku punya pacar?”

Etsuko tampaknya masih belum puas dengan penjelasan Morio.

“Menumpang?”

“Ya”

“Berbagi rumah?”

“Ya”

“Kohabitasi?”

“Tidak, itu berbeda… Bukan hidup bersama seperti itu, tapi seperti saudara. Iya, kan?” Tanya Morio ke Yukito. Yukito tidak menanggapinya.. justru menyantap makanannya yang masih panas.

“Panas! Panas!”

Lalu ia meraih minuman dan mulai meminta maaf. “Ecchan, maafkan aku. Pokoknya, aku minta maaf.”

Etsuko tidak merespon, langsung memekik selamat makan!. Berpura-pura tidak ada yang terjadi, Etsuko mencoba berpikiran positif, Morio baik hati bersedia menampung Yukito yang baru saja ditendang dari rumahnya.

*~ Jimi Ni Sugoi! ~*

     Takehara berencana menerbitkan majalah anak-anak berisi anime dan semacamnya yang bisa menarik minat pembaca anak-anak. Terdapat craft yang jika dilipat sesuai instruksi akan menghasilkan bentuk-bentuk yang menarik.

Takehara berharap departemen ini bisa membantunya untuk memproofreading apakah sudah layak atau belum. Melihat apa yang dikerjakan Fujiwa menarik, Etsuko merebutnya. Ia pikir ia lebih cocok mengerjakan ini, lihat! Hasil lipatan Fujiiwa yang tidak pas menurut Etsuko.

Namun Fujiwa menariknya kembali, ini bukan soal lipatannya. Ini soal sense of visualnya.

sekarang Morio tiap melihat Etsuko jadi serba salah. Ia bertatap-tatapan dengan Etsuko dan berusaha menjelaskan soal Yukito kemarin. Etsuko mengalihkan pembicaraan dimana Morio beli tasnya? Lucu sekali??. Morio beli di Olshop, Etsuko langsung bilang ia akan cek olshopnya nanti karena sebelumnya tidak ada model yang ini.

“Semoga harimu menyenangkan!” Kata Etsuko

“Iya”

“Senpai! Hei senpai!” Morio pergi. Shesiru memanggil Etsuko.

“Benar-benar tidak peka. Benar-benar payah. Kau baru saja bertemu dengan “striker” itu.”

“Eh, ada apa?”

“Seorang pria dan wanita berada di rumah yang sama. Tidak mungkin tak terjadi sesuatu.”

“Seshiru, kekasihmu dari Amore tidak meracuni pikiranmu, kan?”

“Senpai yang sudah diracuni. Mustahil ada persahabatan antara pria dan wanita.”

“Curiga berlebihan untuk seorang wanita itu tidak baik. Akan membuat pria lari darimu.” (Tapi terlalu positif thinking juga gak baik.. dibilang gak cemburu nanti dikira gak sayang.. dibilang cuek, dibilang cemburu nanti dikira over. Maunya apa??? Mau gw kasih kadal? 😀 Hayuuk.. sini.. )

Etsuko mengatakannya dengan manis, mencubit pipi Shesiru sampai seperti menempeleng. Etsuko kemudian pamit kembali ke ruangannya, sepertinya ada yang ketinggalan.

Shesiru khawatir, seharusnya Senpai cemburu. Yuri bergumam, kalau sepertinya ada sedikit perasaan khawatir di diri Etsuko.

Etsuko ke toilet, ia melampiaskan depresinya.

“Tidak ada… Iya, iya, iya! Mungkin mustahil! Mungkin benar ada! Tidak mungkin… Menumpang dengan seorang wanita karena tak ada uang? Tak ada perasaan romantis? Itu tidak masuk akal!”

Etsuko tidak mengerti, ia masih berusaha mencari penjelasan yang lebih logis baginya.

“Atau salah satunya… Yukito… Karena kau penulis? Karena dia penulis “Linear Motor Cow”? Ah bukan… Jadi apa?! Tidak, aku tak mengerti. Aku tak tahu alasannya”

Etsuko kesal sekali, dari ruangan sebelah ia mendengar suara jeritan.

Rupanya Editor Kaizuka. Sama-sama sedang frustasi.

Keduanya makan di warungnya Taisho. Taisho bisa melihat mereka sama-sama sedang tidak bersemangat. Kaizuka ke toilet, tak lama kemudian Yukito datang. Ia hendak menjelaskan ke Etsuko. Tapi Kaizuka keluar, terkejut melihat Korenaga di sini. Lalu mengajak Yukito keluar untuk bicara.

Yukito meminta maaf karena mengabaikan telepon Kaizuka. Rasanya canggung ketika bertemu. Kaizuka menceritakan kesulitannya sekarang karena atasannya tidak ingin melanjutkan projek Korenaga Koreyuki, Kaizuka berusaha melindungi penulis yang berbakat namun atasannya nampak tidak sependapat, yang terpenting adalah soal keinginan pasar, mari hentikan projeknya Korenaga Koreyuki.

Kaizuka menyesalkan, padahal saat Yukito 15 tahun ia sangat berbakat.

“Bagaimana dengan pekerjaan barumu? Apakah masih dalam proses branding personal?”

“Menurutmu, apakah aku penulis berbakat? Aku ingin tahu sampai mana penilaian akhir bukuku yang dikoreksi.”

“Hei, hei. Ayolah, maafkan aku. Masih proses.”

Etsuko melamun, sepertinya Yukito tidak akan kembali lagi kemari. Taisho bertanya apa Ecchan suka pada orang yang namanya Yukito itu? Menurut Taisho Yukito itu misterius. Etsuko sependapat, sejak awal mengenal Yukito memang sudah misterius, bagaimana kebiasaannya.., sedang apa, tempat seperti apa yang akan dia kunjungi. Kesemuanya itu menjadi misteri bagi Etsuko, Etsuko merasa ia tidak mengerti apapun mengenai Yukito.

“Tidak, kukira inilah yang dinamakan cinta?” Komentar Taisho

Etsuko terhenyak sejenak mendengarnya.

*~ Pretty Proofreader Kono Etsuko ~*

       Etsuko jengkel dengan kata-kata aneh di kalimat ini tidak cocok sama sekali untuk buku anak-anak, akan sulit dipahami oleh mereka. Fujiwa tanya Etsuko sedang baca yang mana? Etsuko kemudian membacakan larik yang menurutnya aneh.

Namun Fujiwa pikir kata-kata yang indah tersebut cukup mudah dipahami anak-anak, kalau terlalu sederhana penggunaan katanya itu hanya cocok untuk pengungkapan ekspresi polos. Sayangnya Kono masih tidak setuju, kalimat semacam ini masih tetap sulit dan malah menyurutkan minat baca anak-anak.

“Maaf, kita tak ada hak untuk melakukannya.” Sela Fujiwa

“Jadi, kita juga tidak boleh ikut campur. Pertama, riwayat penulis Saionji, memangnya dia itu penulis untuk anak-anak?”

“Pasti Kaizuka-san yang bertanggung jawab sudah diberitahu.”

Etsuko keluar untuk mengkonfirmasinya ke Editor Kaizuka. Fujiwa geram, pekerjaan Proofreader dimulai dari meja dan berakhir di meja. Ckckck

Yoneoka pamit keluar mau mengkonfirmasi pengrajin tembikar. Tak lama kemudian Aoki, Sakashita, dan Meguro juga pamit mau mengkonfirmasi. Takehara dengan senang hati mempersilakan anak buahnya pergi.

Fujiwa makin geram, semenjak Kono bekerja di sini, orang-orang jadi sering pergi keluar.

Takehara tidak masalah, justru orang-orang terlihat bersemangat dan lebih hidup.

Etsuko mencari-cari Editor Kaizuka tapi tidak ketemu juga. Ia melihat Yukito, Yukito mendekati anak kecil yang terjatuh dan menenangkannya. Ia juga mengguyoni anak tersebut, ibunya datang dan berterima kasih pada Yukito.

Shesiru ikut nimbrung memperhatikan Yukito. Etsuko sudah mantap, ia akan mengkonfirmasi Yukito.

Pukul 10.30 Yukito bermai gateball di Nanpaku Park. 11.20 pesta karaoke di Mori.

12.30 Yukito turnamen panco di Central Park. Jelas-jelas curang karena main dengan anak-anak.

Yukito berkilah, anak-anak ini perlu 1 juta tahun lagi untuk menang lawan Yukito. Seorang wanita datang dan meminta izin ikut ado panco. Yukito kalah telak. Etsuko heran, tidak menyangka, inilah kelemahannya Yukito. Heran kenapa ia begitu terpesona pada Yukito, sebagai wanita ia bertanya-tanya bisakah mendapatkan Yukito?

Kaizuka datang, tanya kenapa Etsuko di sini. Yukito dan anak-anak pergi.

Etsuko menceritakan kegiatannya Yukito dari tadi. Kaizuka heran, pasti Yukito sedang tidak ada kerjaan, seharusnya sebagai penulis dia melakukan sesuatu.

Etsuko berpendapat soal Saionji-Sensei tidak cocok dilibatkan dalam proyek majalah kartun bulanan untuk anak-anak. Karyanya cukup sulit dimengerti anak-anak, apa betul dia ini penulis anak-anak?. Kaizuka tetap tidak bisa tidak melibatkan Saionji-sensei karena dia penulis terkenal, tentu saja namanya menjual dan majalah mereka akan diminati banyak orang.

Etsuko kesal mendengar kata laku terjual dari Kaizuka, bisa tidak sih Kaizuka tidak mengatakan hal semacam itu terus menerus?, yang ada dipikirannya hanyalah laku tidaknya tiap berdebat dengan Kaizuka.

Seseorang datang, ia adalah Kiritani. Ia mengantarkan barang pada Etsuko. Kaizuka terkejut melihat Kiritani, ia bertanya di mana Kiritani sekarang. Kiritani tampaknya juga tidak suka dengan ucapan Kaizuka perihal yang terpenting adalah laku dijual.

Kiritani mengungkapkan jadi penulis, ia sudah menyerah dengan impian tersebut.

Malam harinya Kaizuka mengunjungi Kiritani. Kiritani menceritakan pekerjaannya sekarang, ia tampak sudah benar-benar menyerah. Tapi ini sudah kebiasaannya, ia menyukainya. Terikat dalam sesuatu yang disebut “penulis” ketika banyak membuang waktu, Kiritani merasa tidak layak disebut penulis. Kiritani merasa tidak berbakat.

Disaat yang sama Yukito melihat-lihat rak buku. Termenung sendiri memandangi tumpukan buku.

    Kaizuka mencoba menyemangati Kiritani, menurutnya Kiritani tidak boleh pesimis seperti ini. Ia yakin Kiritani bisa menulis karya yang bisa laku terjual, ia minta izin untuk membaca tulisannya Kiritani. Mendengar itu membuat Kiritani dingin, apa Editor Kaizuka sering mengatakan hal-hal arogan semacam ini?. Kiritani meminta Kaizuka pulang saja.

Etsuko bekerja, ia kesulitan dengan novel kali ini. Banyak kata-kata yang tidak dimengertinya. Yukito menelepon Etsuko, tanya sedang apa. Karena Etsuko bilang sedang mengerjakan proofreading, Yukito pamit. Etsuko mencegahnya. Ia meminta maaf, ia seharian mengikuti Yukito dan merasa tidak enak. Ia curiga mengenai Morio, namun didepan orang-orang Etsuko bersikap biasa saja. Syukurlah tidak ada apa-apa.

Yukito mengerti, besok ia ingin bertemu Ecchan dan berbicara yang sesungguhnya. Pukul 19.00 di Asakusa.

      Yukito pulang. Morio tampak ceria sekali, firasatnya mengatakan kalau besok Yukito akan menang sebagai model pria Lassy. Morio mengajak Yukito minum untuk merayakannya.

Yukito tidak yakin menang, lagipula pengumuman resminya kan baru besok. Morio pikir tidak masalah, kinerja Morio selama ini banyak dipuji berkat Yukito, itulah yang membuatnya optimis Yukito menang.

K O M E N T A R:

Ini, tinggal bareng.. ketemuan tiap hari. Kerjanya juga bareng, mustahil untuk Etsuko tidak cemburu ataupun curiga pada Morio.

     Posisinya Yukito menjadi serba tidak jelas, mungkin dia sedang mengalami kegalauan karena tidak tahu sebenarnya apa yang dia cari dalam hidup ini (cieilah alay bahasa gw XD).

     Karena sebagus apapun buku kalau tidak ada yang baca tidak ada gunanya bagi penerbit, inilah kenapa kita bicara selera pasar. Kadangkala yang kelihatan hebat dan sedang naik daun bukan karena memang hebat, hanya saja banyak yang menggemarinya atau karena yang menghujatnya banyak atau.. ehem! Boneka pencitraan, Pssstt.. macam anak SMA yang ngomongin agama warisan itu. Semisal.. kaosnya Lee Min Ho/Rain yang gak dicuci seminggu pasti laku jutaan, bukan kaosnya yang penting.. tapi itu punya Lee Min Ho  jeeeeng, Lee Min Ho lho Jeng… Wkwk

     Kalau kita bertanya yang berbakat tidaknya.. tentu saja ada banyak orang dianugerahi kemampuan mengolah kata sedemikian rupa indahnya, tidak semua namun sepersekian persen dari manusia di bumi siih~. Namun yang beruntung dan hidup bergantung dengan itu kemudian dicap “Profesional” adalah sedikit orang saja yang bisa. Hakikatnya kata profesional itu berarti “Kamu bisa hidup dari apa yang kamu kerjakan/profesimu”, karena saya selama ini cukup ya.. agak ilfil ketika kebanyakan orang mengartikan profesional adalah ketika kamu cakap/jago/mahir serta menguasai dengan apa yang kamu kerjakan/bidang tertentu, ya kan? Banyakan pada mengartikan hal tersebut. Padahal artinya cukup sederhana, kamu menghasilkan materi dari profesimu dan bisa menghidupi. Itu namanya profesional. Dari kata dasar Profesi

     Kebanyakan orang di bidang ini yang bergelut dibidang literatur mengungkapkan bahwa menjadi penulis itu mudah, menerbitkan buku itu juga mudah. Yang sulit adalah menjual buku, membuat buku tersebut laris terjual. Percaya tidak, memang begitulah kebenarannya..

Setelah di episode sebelum-sebelumnya kita disuguhkan oleh novelis yang sukses, kita di episode ini diberitahu kalau ada juga yang kurang beruntung meski dinilai mampu dan berbakat.

Sastra semacam “Membaca yang tak terbaca” could you?

 

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s