Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 3 Part 2

     Etsuko penasaran sekali dari mana Fujiiwa mendapatkan pakaiannya yang ia kenakan sekarang.

     Yukito membawakan segelas minuman untuk Morio. Morio teringat perintah Kepala Editornya, Kamei-san ingin Morio membuat Yukito tampil ke publik sebagai novelis sebelum pemungutan suara untuk model diselenggarakan.

Morio bertanya kenapa Yukito menjadi penulis novel misterius?. Yukito bercerita dirinya memenangkan penghargaan sebagai pendatang baru ketika usianya 15 tahun, ia pikir akan merepotkan jika teman-teman sekolahnya tahu. Itulah salah satu alasan Yukito menyembunyikan identitasnya sebagai penulis.

“Kenapa? Jadi siswa SMA sekaligus penulis kedengarannya keren.” Pancing Morio.

Yukito menjawab itu tidak keren. Rasanya akan sulit diterima teman-teman sepermainan dalam bermain bola atau klub bandnya sekolah. Walhasil dia malah akan di rumah saja dan rajin menulis novel, tidak keren sama sekali.

“Benarkah?” Morio lalu duduk di sebelah Yukito, sekarang kan Yukito bukan siswa sekolah lagi.. harusnya tidak masalah memproklamirkan dirinya sebagai penulis.

“Untuk apa?” tanya Yukito tajam.

“Selain penampilanmu, untuk menghimpun suara para pembaca kau butuh daya tarik lainnya” Morio sangsi Yukito hanya menang dengan penampilannya saja karena pesaingnya punya track record yang banyak.

“Aku bisa memasak dengan baik. Aku punya pekerjaan paruh waktu di coffee shop dan dan aku pandai membuat pasta dan pilaf.” Terang Yukito.

“Lebih dari itu, novel macam apa yang kau tulis?” Morio melihat Yukito fokus mengetik. Yukito bertanya ke Morio apa ingin membacanya?. Morio mengangguk.

      Etsuko datang ke rumahnya Shijo-sensei. Dipersilahkan masuk setelah mengatakan identitasnya sebagai proofreader dari Keibonsha.

Morio membaca novelnya Yukito sampai ketiduran, novelnya jatuh tersenggol dan Morio mengambilnya. Mendesah tidak mengerti apa maksud novelnya (ahahahaha… genre novelnya Yukito itu apa’an sih? Komedinya yang model bagaimana??, linear motor cow selalu membuatku ketawa, apalagi gambarnya >_<)

Morio lalu keluar kamar “Oo…, kau menulis selama ini?” melihat Yukito yang masih di depan layar laptopnya. Morio meletakkan novelnya Yukito. Yukito tanya pendapatnya Morio bagaimana. Morio menyebut novelnya Yukito tidak nyata dan lucu.

“Benarkah?”

“Iya,”

“Terimakasih,”

Morio pamit mau mandi. Yukito memandangi novelnya.

     Takehara-san mendapatkan telepon dari Shijo-sensei. Ia diminta memberikan draft selanjutnya dari novel Shijo-sensei ke Fujiiwa Rion. Fujiiwa menolak dengan pura-pura kondisinya sedang tidak fit akhir-akhir ini.

Takehara-san menyayangkan Fujiiwa tidak bisa melakukannya, padahal Shijo-sensei lah yang menunjuk Fujiiwa sendiri.

“Eh? Dia memilihku?” Fujiiwa terkejut, ia menduga ini pasti ulahnya Etsuko. Etsuko bilang dia hanya mengatakan ke Shijo-sensei kalau notes yang terakhir kali beliau puji bukanlah miliknya Etsuko, lalu Shijo-sensei meminta pendapat Etsuko bagaimana kalau proof keduanya ditangani Fujiiwa saja?.

“Aku tidak bisa melakukannya!” tegas Fujiiwa.

“Kenapa?”

“Itu peraturan bagi seorang proofreader”

“Tapi kau ingin melakukannya, ‘kan?. Jika kau ingin melakukannya, maka kau harus melakukannya. Monyet berkacamata pecinta buku!” Ejek Etsuko pada Fujiiwa.

     Fujiiwa berteriak waaaa!! Kenapa Kono Etsuko bisa tahu nama itu?. Etsuko menyebut itu nama samarannya Fujiiwa-san ketika menuliskan surat penggemar ke Shijo-sensei. Shijo-sensei mengetahuinya karena tulisan tangan di sticky notes mirip dengan surat dari penggemar Monyet berkacamata pecinta buku.

Untuk seseorang yang menyukai sesuatu dari dalam lubuk hati terdalamnya, Etsuko pikir Fujiiwa-san lah yang pantas melakukan proofreadingnya, terlepas dari peraturan proofreader yang dilarang menangani naskah penulis favoritnya. Takehara-san pun tidak keberatan dengan itu, hanya orang yang menyukainya lah yang mampu menyelesaikannya, Takehara-san berniat merubah peraturan pertukaran galley jika proofreader dapat milik penulis idolanya.

“Fujiiwa-san, maukah kau mengerjakan proof kedua dari Shijo-sensei?.” tanya Takehara-san. Segera secepatnya setelah kondisi tubuh Fujiiwa-san membaik. Dengan penuh hormat Fujiiwa menerimanya, lalu segera mengerjakannya.

     Morio bertelfon dengan seseorang, mereka akan bertemu di hari Sabtu. Panggilan selesai. Ketika berbalik Morio dikejutkan dengan kehadiran Etsuko yang tidak Morio sadari sejak tadi.

“Kau punya pacar?”

Morio tidak bisa menjawabnya. “Ayo pergi.” Ajak Etsuko

Mereka mengobrolkan pacarnya Morio di warung odennya Taisho. Pacarnya Morio lebih tua dari Morio, mereka sudah berkencan sekitar setahun ini. Karena keduanya terlalu sibuk mereka jarang bisa bertemu.

“Setidaknya kau punya pacar. Sudah lama sekali, aku tidak punya pacar Taisho!?”

“Itu benar” Tanggap Taisho dengan tertawa.

Etsuko iri dengan Morio yang bekerja sebagai Editor Lassy, sekarang iri karena Morio punya pacar sekaligus bekerjasama dengan Yukito. Iri dan dengki.

“Apa kau serius soal Yukito?” tanya Morio.

“Aku tidak tahu. Untuk sekarang, aku hanya bisa bilang, aku ingin lihat wajahnya lebih sering.”

“Hanya wajahnya?” tanya Taisho.

Etsuko membenarkannya, ia tidak tahu banyak tentang Yukito. Taisho mengingatkan pria itu bukan hanya wajahnya, yang terpenting adalah hatinya. Taisho memukul dadanya sendiri untuk menegaskan ucapannya.

Etsuko mulai berceloteh, ia juga tahu itu!. Bukan berarti penampilan lebih penting daripada kepribadiannya, hanya saja bagi Etsuko penampilan juga penting.

“Senpai kau terlalu jujur”

Etsuko tetap berceloteh. Tidak, daripada bilang kau suka wajahnya, kau bilang kau suka kepribadiannya, itu malah seperti memperlakukannya seperti benda berharga. Itu kan cara pandang dalam dunia ini!. Taisho langsung meminta maaf pada Etsuko atas ucapannya tadi. Etsuko tidak masalah, ia memesan lagi.

     Di lain sisi Morio tengah melamunkan sesuatu.

Yukito mengecek novelnya, lalu berbaring di kursi. Mendesah lelah akan sesuatu lalu tidur.

     Editor Kaizuka memberitahukan pada semuanya kalau karyanya Shijo Marie-sensei dinominasikan ke Penghargaan Marukawa.

Semuanya terkejut, mendapatkan 6 kali nominasi. Takehara-san tahu bukunya yang diterbitkan oleh penerbit Meidansha. Etsuko tidak mengerti, tapi kan itu dari penerbit lain!. Kaizuka menerangkan, Kono itu tidak tahu apa-apa ya?, meskipun penghargaan diraih oleh novel sebelumnya dari penerbit lain.. itu akan menjadi keuntungan bagi Keibonsha yang dalam proses menerbitkan seri terakhirnya, novel akan laku keras.

Bagaimana pun juga karya setelah kemenangan pertamanya yang luar biasa!. Etsuko tahu, itu sistem penjualan yang ikut-ikutan. Kaizuka menyuruh Etsuko jangan menyebut sistemnya seperti itu, sebut saja komersial kode.

“Sama sajalah”

Shijo-sensei hendak menghelat pesta tunggu dan para proofreader diajak menghadirinya. Etsuko senang sekali tentunya dia akan ikut. Fujiiwa bilang dirinya tidak bisa menghadirinya, Etsuko dan Yoneoka membujuknya baru Fujiiwa mau datang. Etsuko tanya ngomong-ngomong apa itu pesta tunggu?

Sontak pertanyaannya membuat proofreader lain syok jatuh dari tempat duduk masing-masing.

“Kau tidak tahu?!” tanya Kaizuka.

Takehara-san menjelaskan kalau Pesta Tunggu biasanya diadakan pada hari acara perhelatan sebuah Acara Penghargaan dalam dunia literatur yang diatur sebagai proklamir diri hasil penghargaan. Tujuannya utamanya tersebut selain makan-makan dan minum-minum bersama. Menunggu apakah penulisnya akan menang atau kalah.

“Tapi apa yang akan dilakukan jika kalah?” tanya Etsuko polosnya.

“Jangan mengatakan hal seperti itu!” bentak Fujiiwa. Maiden dari Indochina merupakan pernghargaan masterpiece sepanjang sejarah. Fujiiwa yakin Shijo-sensei akan memenangkan penghargaannya.

     Pesta akan diselenggarakan pukul 4 nanti. Yoneoka menanyakan pakaian seperti apa yang akan dikenakan Etsuko?. Etsuko tentunya telah bersiap dengan pakaian yang modis seperti biasanya. Yoneoka bertanya lalu bagaimana dengan Fujiiwa-san?

Fujiiwa bilang dengan pakaiannya sekarang tidak masalah bukan?. Ini cocok untuk acara apapun.

     Etsuko terperangah tidak mengerti, Fujiiwa akan mengenakan pakaiannya sekarang ini?. Itu adalah pakaian kerjanya, sedangkan nanti mereka akan menghadiri pesta penulis favorit Fujiiwa-san lho!. Pakaian ini tidak cocok sama sekali.

 Fujiiwa berpendapat dia ini tidak perlu mempernik diri seperti Kono Etsuko untuk menutupi otaknya yang kosong. Yoneoka langsung geli, pastinya Fujiiwa bukan orang yang tidak tahu apa-apa seperti Konocchi. (kkkkkkk)

Etsuko tersinggung apa-apaan maksudnya Yoneoka?.

Fujiiwa berpikiran seperti ini karena ia ketika kecil, ibunya pernah berkata padanya kalau terlalu modis itu bodoh. Ucapan Fujiiwa langsung membuat para proofreader lainnya membeku, karena Fujiiwa terlalu terang-terangan.

Etsuko tersinggung, ia menarik Fujiiwa keluar dari ruangan. Mengajaknya ke bagian Editor majalah fashion.

      Etsuko mendekati Morio, ia tahu Morio sedang sibuk akan tetapi Etsuko sedang butuh bantuan demi Fujiiwa. Adakah baju di sini yang bisa dipinjam?. Morio bilang ada beberapa untuk pemotretan. Bagus! Tunjukkan padaku! Etsuko senang mendengarnya.

Morio mengajak mereka ke bagian pakaian dan perlengkapannya. Mempersilahkan meminjam beberapa yang diperlukan.  Etsuko antusias ini di editor fashion, barang-barangnya bagus.

Morio menanyakan ukuran sepatunya Fujiiwa. Fujiiwa menjawab 26. Besarnya! Pekik Morio terkejut, ia memberikan sepasang sepatu ke Fujiiwa. Etsuko memilah-milah, ia tertarik dengan sepatu bercorak macam tutul. Morio tidak masalah jika Etsuko meminjam yang itu karena Morio lah yang membelinya.

      Etsuko tidak menyangka Morio membeli yang seperti ini. Dengan malu Morio bilang dia sudah cukup puas menjajalnya sekali. Etsuko bertanya di mana tempat untuk ganti dan berias. Morio menjawab ruang rapatnya kosong jadi mereka bisa menggunakannya, karena itu untuk pemotretan Morio harap semua barang yang dipinjam dikembalikan lagi dalam keadaan bersih.

Fujiiwa dan Etsuko berterimakasih. Etsuko memilih-milih pakaian, Fujiiwa amat terharu dengan bantuannya Etsuko.

~Jimi Ni Sugoi~

     Yoneoka mengirimkan pesan, ia tanya Etsuko sedang apa? Takehara-san mencarinya!. Etsuko balas dia sedang mempermak Fujiiwa-san. Shesiru mendandani Fujiiwa sembari menasehatinya untuk merawat kulit, kulit Fujiiwa yang sekarang ini normalnya dimiliki wanita 50 60 tahunan.

Etsuko memuji Shesiru yang lebih pantas menjadi BA: Beauty Adviser daripada resepsionis. Shesiru juga sering dengar kata-kata itu dari pacarnya, lebih cocok jadi BA ketimbang resepsionis.

Pacarnya bilang cara bicaranya Sheshiru seperti orang-orang yang menjajakan perlengkapan kosmetik di lantai satu department store.

“Kau punya pacar?” tanya Esuko baru tahu.

“Aku punya.”

Etsuko heran lantas kenapa Shesiru selalu main dengan Etsuko di akhir pekan?.  Shesiru bilang itu karena dia masih muda, dia tidak ingin menambatkan hati pada satu orang pria, itu rasanya pasti akan membosankan. Etsuko tahu, merasa tidak enak membicarakan hal semacam itu di depan orang yang tidak muda lagi (Fujiiwa). Fujiiwa menanggapi, harusnya mereka yang masih muda jangan terlalu melebihkan pembicaraan mereka kalau memang tidak merasa enak. Shesiru keceplosan menyebut Tetsupan lucu sekali!

     Shesiru merasa bersalah, ia lalu undur diri karena tadi kemari membantu di jam istirahat. Etsuko harap Fujiiwa jangan terlalu memasukkannya ke dalam hati. Fujiiwa tidak masalah dengan Tetsupan, ia sudah lama tahu orang-orang menyebutnya seperti itu, Tetsupan… seorang wanita yang mengenakan celana dalam besi.

Etsuko keluar dari ruangan untuk mencuci cincinnya yang kena noda. Di luar, dua karyawan uring-uringan mencari barang yang tidak ada. Mungkin ada di ruang meeting.

      Dua orang dari Lassy. Mereka lalu mengecek ruangan rapat, tidak jadi masuk karena melihat Fujiiwa-san. Mereka permisi keluar dan menertawakan Fujiiwa yang mengenakan make up, Fujiiwa dari dalam juga bisa mendengarkan cemoohan mereka. Fujiiwa yang dikira mencoba lebih fashionable dan harusnya tadi memotretnya untuk ditunjukkan ke orang-orang.


Etsuko kembali, ia tidak tinggal diam Fujiiwa diejek. Kebetulan Yukito dan Morio ada di luar, mereka mendengar apa yang terjadi di dalam. Etsuko bertanya ke dua karyawan tersebut apakah mereka tahu sebenarnya apa tetsupan?

     Tetsupan adalah celana dalam besi, disebut juga sabuk kemurnian. Disebut begitu karena menjaga diri demi pasangannya dengan tulus, tidak melakukan hubungan seksual dengan yang lain. Sebuah dalaman dengan alat pengunci keamanan untuk menahan menghindari dari penyaluran hasrat kepada selain pasangan entah istri atau kekasih yang sedang tinggal berada di tempat lain.

       Selama beberapa tahun, mereka juga melakukan SM play (S*dom*sokis/BDSM/sebuah hubungan s*ks dimana menempatkan salah satu pihak sebagai budak/submisive dan pihak lainnya majikan/dominant). Dua pegawai  itu tidak mengerti kenapa Etsuko tahu hal semacam itu.  Salah satunya menduga jangan-jangan Etsuko itu termasuk yang sering melakukan SM play.

Etsuko membentak mereka, bukan! Itu karena dia ini merupakan seorang proofreader dan tahu hal itu dari proofreading draft yang ia kerjakan. Etsuko tahu orang-orang memanggil Fujiiwa tetsupan karena dikiranya Fujiiwa wanita yang keras, tapi kenyataannya sebaliknya.. sebutan itu makna sebenarnya adalah seorang wanita yang atraktif dan sangat mencintai pasangannya. Etsuko memperingatkan mereka, kalau tidak mengerti apa maksudnya Tetsupan jangan menyebut Fujiiwa seperti itu!, mengerti!!?

Keduanya lalu pergi karena merasa tidak nyaman.

Morio dan Yukito pergi juga. Etsuko kembali ke dalam mendandani Fujiiwa. Fujiiwa-san berterimakasih, Etsuko kembali ceria dan bilang dia tidak masalah karena suka mendandani rambut.

“Kono-san, apa kau tahu kenapa orang-orang memanggilmu Oshakawa?”

Etsuko bilang tahu, itu karena dia modis dan imut, tapi itu kan memang benar.. bukannya julukan yang buruk. Salah! Fujiiwa mengatakan artian sebenarnya adalah bukannya modis dan imut, di departemen proofreading yang sederhana… jadi modis dan imut itu tidak ada gunanya, maksudnya orang-orang mencela Etsuko.

Etsuko kesal sekali mendengarnya, orang-orang itu benar-benar keterlaluan!.

 “Kedinginan? Kenapa kau tidak memakai apa-apa?” tanya Morio karena Yukito bersin-bersin.

“Tubuhku tidak kedinginan, hatiku yang kedinginan” jawab Yukito.

“Bicara apa sih?”

Yukito mensoroti model selalu tampil keren di depan layar tapi nyatanya mereka berbeda di belakang layar. Ia terpukau dengan Kono Etsuko tadi, menakjubkan sekali.

“Eh?”

“Tetsupan.”

Morio tertawa mengingat kejadian tadi, Senpai memang selalu seperti itu orangnya. Tipikal orang yang bicara tanpa berpikir dulu. Entah ke siapapun tak terkecuali guru-guru.

“Itu keren.” Puji Yukito

Yukito lalu dipanggil untuk memakai baju pemotretan, ia naik ke lantai atas.

     Fujiiwa memuji rumah Shijo-sensei yang menawan. Etsuko menyebut ini seperti istana ya?. Fujiiwa saking terpukaunya ia rasa akan tepar kelelahan untuk sekedar berkeliling rumah ini. Kaizuka mendekati Shijo-sensei akan tetapi Fujiiwa bersembunyi malu bertemu Shijo-sensei.

Etsuko menariknya paksa. Seseorang menelfon Shijo-sensei, ia dia memenangkan Murakawa Awards, Shijo-sensei senang sekali, seluruh orang di ruangan sama bergembiranya apalagi Fujiiwa terharu sekali. Etsuko memperkenalkan Fujiiwa ke Shijo-sensei, orang yang menaruh sticky notes sebenarnya.

Shijo-sensei mendekatinya, kau monyet berkacamata pecinta buku ‘kan?.

Shijo-sensei senang akhirnya bisa bertemu dengan fansnya, ia telah begitu mengharapkan pertemuan ini selama 20 tahun lamanya. Selama ini Shijo-sensei terbantu sekali dengan adanya Fujiiwa, ia bisa sampai seperti ini berkat dukungan fansnya. Fujiiwa merendah dirinya ini hanyalah fans pada umumnya. Shijo-sensei tidak, sejak debut sampai sekarang dan jatuh bangunnya… ia rasa tidak akan bisa seperti itu tanpa adanya fans, ia mungkin berhenti menulis jika tanpa ada dukungan.

Shijo-sensei meminta kerjasamanya, lalu semua orang yang ada di sana berfoto bersama. Di proofreading departemen, mereka menonton Shijo-sensei yang mengucapkan terimakasih atas penghargaannya.

     Takehara-san dan yang lainnya cukup takjub dengan tampilan Fujiiwa-san yang berubah drastis, Etsuko berbangga hati ini semua berkat tangan dinginnya mendandani Fujiiwa-san, mereka harus berterimakasih banyak pada Kono Etsuko. Yoneoka sudah menduga pasti Kono akan mengatakan hal semacam itu. Fujiiwa membela itu memang benar, ia sangat berterimakasih pada Kono Etsuko, ini pertama kalinya berdandan seperti ini, tidak menyangka rasanya bisa menaikkan moodnya yang buruk. dan mengerti kenapa dulu ayah ibu membohongi Fujiiwa soal modis itu bodoh, Fujiiwa dibohongi hanya agar supaya Fujiiwa fokus untuk belajar saja.

      Kono menjelaskan kecintaannya Fujiiwa-san pada karya-karyanya Shijo-Sensei adalah sama rasanya Kono Etsuko suka terhadap fashion dan membaca majalah fashion. Etsuko pikir ia bisa melakukannya karena itu fashion adalah sesuatu yang dia sukai, mengacu ke keinginannya menjadi editor majalah Lassy. Lalu Etsuko beralih ke Takehara-san, meminta Takehara-san mentransfernya ke Departemen editorial majalah Lassy. Fujiiwa berkomentar itu tidak akan pernah bisa terjadi, Etsuko masih berharap pada Takehara-san. Takehara-san hanya tersenyum saja, mengajak semuanya beres-beres kemudian pulang.

     Etsuko hendak pulang, Yukito memanggilnya. Mereka saling menyapa selamat malam. Yukito bertanya apa Kono-san sudah selesai bekerja?. Kono bilang iya dia baru mau pulang. Yukito tanya apa Kono-san ada waktu sebentar?. Etsuko dengan antusias menjawab, kalau pun tidak ada waktu dia akan usahakan ada waktu. (kkkkkk)

Yukito tanya lagi, haruskan kita cari keringat sama-sama?. Etsuko tidak mengerti apa maksudnya.

      Etsuko dan Yukito bermain pingpong. “Jika kau menyukainya, maka kau harus melakukannya. Itu kata-kata yang bagus” Puji Yukito.

Etsuko mengatakan hal tersebut karena sangat ingin menjadi Editor Majalah fashion. Yukito heran, apa Kono-san mengatakan hal tersebut di depan para proofreader?. Etsuko sembari men-smash! bolanya dengan semangat “Ya!”

Bolanya melewati Yukito begitu saja, membuat Yukito takjub. “Keren…”, Yukito mengambil bolanya dan izin bertanya. Etsuko mempersilakan apa saja tanyalah!. “Apa bukuku menarik?” tanya Yukito.

Etsuko terbengong mendengar pertanyaan itu. Sedangkan Yukito yakin Kono-san pasti akan menjawab pertanyaannya dengan jujur, maukah Kono-san menjawabnya?.

    Bola digulirkan kembali, permainan berjalan santai. Etsuko tidak langsung menjawabnya, lalu ia men-smash! Bolanya kembali “itu membosankan!”

Waktu seakan berhenti sesaat, tampaknya Yukito cukup terkejut. Etsuko pun menyadari air muka Yukito sekarang berubah tidak seceria tadi.

Komentar:

    Mungkin pacarnya Morio adalah Editor Kaizuka *kkkkk, seru! Aku suka drama yang ada temanya jelas seperti ini. Bukan hanya dapet hiburannya, tapi penonton juga dapat edukasinya.yukitoorihara

Thanks bagi readers yang telah membaca sinopsis ini, silahkan like FP nya untuk mendapatkan update-an terbarunya>>>>> FANPAGE

Real Post: 26 Desember 2016

Re-Post: 19 Juli 2017

 

Advertisements

About Karissa Yi

Someone who can't live without drama. ["chariszha.com" - Can't Life without drama ]

Posted on 19 July 2017, in Jimi Ni Sugoi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s