Sinopsis Koe Koi (Voice Love) Episode 11

koi17

Episode 11: Mengungkapkan Perasaan.

     Makoto Hyodo menunggu Yuiko datang, sesaat ia merasa gelisah. Yuiko datang, ia meminta maaf karena membuat Kaichou menunggu lama. Makoto tidak apa-apa, dianya saja yang datang terlalu cepat.

Disaat yang sama Kaori dan Matsubara jalan bersama, Kaori menyesali tindakannya semasa SD dulu. Ia telah berkata kasar, menyebut Shu Matsubara pembohong karena menyembunyikan wajahnya dari semua orang. Jadi ketika kembali ke Jepang satu hal yang Kaori ingin lakukan adalah meminta maaf pada Shu. Matsubara menjawab tidak apa-apa

Di sisi lain, Kaichou dan Yuiko tampak asyik mengobrol. Kaichou berceramah betapa pentingnya sarapan (kkkk, kalau aku gak suka sarapan! XD ahahahaha bikin ngantuk..)

Langkah Kaichou dan Yuiko terhenti, kedua pasangan saling pandang. Mereka ke kuil dan berdo’a.

     Kaichou melirik Yuiko yang ada di sampingnya ketika berdo’a. Lalu melirik Matsubara dengan enggan dan kembali berdo’a sendiri. Yuiko dan Matsubara berdo’a lama sekali, keduanya meminta maaf pada pasangan masing-masing. Kaichou hendak mengatakan sesuatu tapi dipotong Kaori, Kaori dan Matsubara ingin pergi ke tempat lain.

Mereka pamit pergi duluan. Yuiko lalu diajak Kaichou untuk mencoba Omikuji. Makoto kesal sekali, ia melemparkan kertasnya, kenapa kutukan lagi???. Yuiko tidak masalah dengan itu, namun Makoto bersikeras ini tidak bisa! Yoshioka harus mencoba ambil satu lagi.

Yuiko mengambil satu, hasilnya kutukan lagi. Makoto benar-benar meminta maaf, ia bahkan mau membuka semuanya mencari selain kutukan (kkkkkk)

     Kaori bertanya apa yang hendak Shu katakan di kuil tadi?. Matsubara bilang ia selama ini terus memikirkan kata-kata Kaori tentang kantong kertasnya ini sama saja membohongi semua orang yang ditemui Shu. Kaori hendak meminta maaf. Shu balas mengatakan itu bukan kesalahannya Kaori, ia juga meminta maaf karena telah memberikan kenangan yang membngungkan bagi Kaori. Matsubara ingin berubah.

    Kalau dapat kutukan omikuji, jika dikembalikan ke Kamisama (dewa) kita tidak akan apa-apa. Yuiko dan Makoto menalikan kertas kutukan yang mereka dapatkan tadi. Karena mereka terlalu dekat, Makoto menjadi malu.

    Matsubara mengungkapkan kata-kata Kaori tentang Matsubara yang terus membohongi orang-orang jika seperti ini, dan justru membuat Matsubara sakit… namun sejujurnya Matsubara pun ingin bertatap muka dengannya (Yuiko), sehingga saling memahami perasaan masing-masing. Kaori menduga nya yang dimaksud Shu bukanlah dirinya, itu Yoshioka-san ‘kan?

Kaori mengaku ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Shu saat itu. Kaori tahu Shu yang ia kenal dulu sekarang sudah tidak ada, ia tidak sadar telah membuat Shu dewasa merasa tertekan. Dan suatu hari nanti Kaori ingin bertemu Shu yang sebenarnya. Matsubara mengiyakannya, Kaori pergi dengan berlinang air mata.

     Yuiko berdo’a dan Makoto memandanginya diam-diam, segera memalingkan wajahnya ketika Yuiko membuka mata.

     Yuki dan dua asistennya tampaknya sedang sibuk di ruang OSIS. Dua asistennya (anggap saja begitu, karena saya gak tahu namanya *kkkkkkk), keduanya khawatir pada Hyodo-senpai. Namun Yuki yakin Kaichou sekarang sedang berusaha keras. Yuki kembali ke pekerjaannya dan sekilas memandang kursi yang sepertinya sering diduduki Makoto Hyodo.

    Makoto da Yuiko menuruni tangga. Makoto penasaran apa yang sebenarnya Yuiko khawatirkan sehingga berdo’anya lama sekali. Yuiko meminta maaf karena membuat Kaichou khawatir.

“Yoshioka-san itu… Orang yang sangat baik, jadi… jika aku berbicara seperti ini. Mungkin aku akan membuat masalah untukmu. Masalahnya untukku kalau melihatmu dari jauh, itulah hal yang terbaik… Tapi… aku hanya ingin memberitahumu,”

Makoto berjalan beberapa langkah mendekati Yuiko.

“Yoshioka-san, aku… jatuh cinta padamu.”

Yuiko agak terkejut. Makoto sepertinya tahu akan seperti ini, ia tidak ingin melihat Yoshioka merasa terganggu, ia hanya ingin Yoshioka tetap tersenyum dan merasa senang. Yuiko menjawab bukan begitu.

    Makoto meski sedih, ia tidak memaksa Yoshioka untuk memberikan jawaban. Apapun yang terjadi, Makoto hanya ingin memberitahukan perasaannya ke Yoshioka. Apa yang terjadi setelah mengaku, tentu saja Makoto takut. Tapi, ia tidak ingin perasaannya kepada Yoshioka berakhir hanya dia seorang yang tahu dan tersiksa akan perasaannya sendiri. Ketika pikiran itu menghantuinya, secara ajaib memberikan kekuatan pada Makoto untuk berani menyatakannya pada Yuiko. Sekarang ia telah menyampaikan perasaannya.

“Kaichou-san…”

Makoto senang Yoshioka mau mendengar pengakuannya, juga bersyukur Yoshioka mau datang dan menemuinya.

    Yuiko membungkuk dalam-dalam. Setelahnya Makoto kembali ke kuil dan mengambil Omikuji, kali ini mendapatkan kertas bertuliskan “Berkat”.

Yuiko duduk di kursi, sedih akan sesuatu. Matsubara di tempat lain, ia tampak resah juga.

~Voice Love – Koe Koi~

   Di sekolah, Yuiko mempersilahkan Aki pulang duluan. Aki pulang sambil senyum-senyum mengerti, ia keluar kelas. Begitu pun dengan Matsubara, ia mempersilahkan Yuichi pulang duluan karena ada sesuatu yang harus dilakukan.

Matsubara dan Yuiko lalu ke atap, Matsubara ingat Yoshioka pernah bertanya kenapa ia mengenakan kantung kertas. Matsubara telah memutuskan untuk memberitahu alasannya sekarang.   Maukah Yoshioka mendengarkan ceritanya?.

Waktu kelas 3 SD ayahnya meninggal, dan keluarganya pindah. Matsubara sangat sedih, tapi ia tidak ingin membuat ibunya sedih. Jadi diibaratkan sebagai program, Matsubara membiarkan wajahnya secara default tersenyum dalam bentuk kantung kertas. Ia tidak bisa lagi mengungkapkan perasaan aslinya ke dalam ekspresinya.

Orang-orang disekeliling Matsubara bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dalam kepalanya ketika Matsubara sangat sedih sampai tidak berekspresi. Lalu waktu kelas 4 SD di kelas kesenian.

    Jika hanya menggambar ekspresi apa yang mereka inginkan, ia akan menggambar senyum di sepotong kantong kertas. Menyembunyikan wajahnya di dalam kantong tersebut. Ia mengenakannya dan membuat teman-temannya mendekat penasaran.

Itu membuatnya senang, tanpa ekspresi wajah aslinya sedikit demi sedikit ia mulai bisa mengobrol dengan yang lainnya lagi. Tentu saja orang-orang masih mengejek Matsubara di belakangnya, namun Matsubara tidak merasa masalah.

    Kemudian bertemu dengan Yoshioka, itu membuat Matsubara takut. Karena Yoshioka selalu ingin tahu apa yang tersembunyi dalam diri Matsubara. Maka dari itu, jika Yoshioka telah tahu alasannya Matsubara mengenakan kantung kertasnya…

“Aku adalah orang yang lemah seperti ini, dan tahu bahwa aku orang yang mengecewakan. Selalu”

“Matsubara-kun”

“Matsubara-kun, kau itu… daripada disebut orang yang lemah. Kau adalah orang yang tahu akan kelemahan. Kelemahan orang yang berada disekitarmu, kamu memahami mereka dengan baik. Itulah kenapa kau selalu membantuku.”

Tanpa Yuiko mengatakan apapun, ketika ia sedang dalam kesulitan, Matsubara selalu tahu.

“Aku hanya..” Kata Matsubara.

“Satu-satunya orang yang ada di dalam lubuk hatiku, itu kau, Matsubara-kun. Karena kau selalu seperti ini, Matsubara-kun… Karena itu, aku jatuh cinta padamu. Aku ingin mengenalmu lebih baik, aku ingin mendengar suaramu bahkan lebih… itulah mengapa”

Yuiko bilang itulah sesuatu yang selalu ada dipikirannya. Ketika Matsubara hendak mengatakan sesuatu, Yuiko langsung pergi.

    Antara lega dan merasa malu karena sudah menyatakan cintanya. Yuiko bingung harus apa sekarang.

Like FP nya blog ini untuk tahu update-annya!>>>>>FANPAGE

Koe Koi|| Eps 1  | Eps 2 | Eps 3 | Eps 4 | Eps 5 | Eps 6 | Eps 7 | Eps 8 | Eps 9 

Advertisements

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 10 Part 1

hoshinogakky


      Mikuri dan Hiramasa pergi ke mini mart, Mikuri membeli daun bawang. Ketika keluar ia ditanya Hiramasa kenapa beli daun bawang?. Mikuri bilang ini untuk tambahan membuat soba.

Mereka lalu berjalan pulang beriringan, Hiramasa yang membawakan daun bawangnya. Mikuri tiba-tiba langsung menggenggam tangan Hiramasa-san. Hiramasa-san terkejut dan berhenti berjalan, Mikuri sambil tersenyum mengatakan ini genggaman tangan sebagai sepasang kekasih. Mereka lalu berjalan kembali.

Dalam hati Hiramasa ia merasa khawatir, sebenarnya tadi ia tanpa sadar mengatakan ingin memeluk Mikuri sampai pagi, ia tidak sengaja.

Mikuri dan Hiramasa makan soba. “Sampai pagi, apa yang akan kami lakukan?” kata Hiramasa dalam hati (kkkkkk gw jawab ya Om… ngeronda! -_- sambil main catur/ngopi2 nonton bola lalu teriak-teriak goal ganggu tetangga. Hahahahaha! Gw lagi nyindir orang yg suka begadang nontonin bola ceritanya *kkkkk)

Hiramasa-san mulai memikirkan apa-apa saja yang mungkin ia dan Mikuri lakukan. Pertama mungkin mengisi Sudoku bersama?

Atau sampai pagi main Wii (sejenis game Mario bross yang balapan *maybe)

Menonton sebuah robot yang bernama RoBoHon menari Koi dance (whooaaaa!, lucuu….), merupakan smarphone yang berbentuk robot mungil. Bagi Hiramasa itu semua menyenangkan, “sekarang bukan waktunya melakukan itu,” masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. (O’ow iklan yg keren! Disisipkan ke cerita tapi gak kelihatan menjijikkan/maksa, semenjak Pepper-kun, lalu game Wii dan RoBoHon *Sugoiii-ne!)

      Mikuri dalam hati pun penasaran apa yang akan dilakukan Hiramasa-san?, menurut Mikuri Hiramasa-san tidak akan bertahan lama. Mikuri membersihkan sisa-sisa makan malam mereka, apa mungkin mereka hanya akan tidur bersama sampai pagi?. Kalau memang begitu Mikuri tidak masalah sama sekali. Ia juga senang.

     Hiramasa-san mondar-mandir di dalam kamarnya, apa yang akan dia lakukan, sampai sejauh mana dia harus melakukannya. Benar-benar memusingkan bagi Hiramasa-san. Lalu ia ingat sesuatu, ia mencari-cari hadiah dari Hino tahun lalu. Kata Hino trial pack itu adalah produk yang adiknya kembangkan, Hino berlarian ke sana kemari membagikannya ke semua rekannya.

    Hiramasa-san walau saat itu tidak punya pasangan, dengan mudahnya membawa trial pack itu pulang ke rumah. Sejauh ini Hiramasa-san sudah sangat tahu prosedurnya melakukan itu, bahkan untuk memastikannya sekali lagi mencari di google. Baru hendak menyalakan komputernya, Mikuri sudah memanggilnya dari luar.

“Hiramasa-san?”

Hiramasa-san langsung duduk di kasurnya. Mikuri minta izin bolehkah masuk ke kamarnya sekarang?. Dengan gugup Hiramasa mempersilahkan Mikuri masuk ke kamar.

Mikuri masuk ke kamar dan duduk di samping kiri Hiramasa-san. Sesaat suasana menjadi hening, Mikuri meraih tangan Hiramasa dan menggenggamnya.

Lalu anehnya Hiramasa-san malah lari di tengah malam (hahahahaha membuatku ingin nari koi dance). Hiramasa menyesali pelariannya ini, kenapa dia melarikan diri?.

       Mikuri dan Hiramasa-san tidur bersama, Mikuri bilang ini bau Hiramasa-san. Hiramasa-san bilang tapi ia sudah mandi.

“Aku suka” Mikuri memejamkan mata dan menghirup aroma Hiramasa lebih dalam lagi. Membuatnya merasa tenang. Hiramasa-san balas mengatakan “Aku juga, tidak” ia masih gugup.

    Mikuri lalu memiringkan tubuhnya dan semakin mendekat ke Hiramasa-san. Bertanya apakah mereka tidak akan bercinta?. Hiramasa-san meminta maaf, ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya.

Mikuri: Kalau dipikir-pikir lagi, jika kita bercinta. Siapapun pasti tidak pernah mengira kita akan melakukannya.

Ketika Mikuri bicara yang dishoot boneka, ketika Hiramasa yang berbicara yang dishoot adalah robotnya.

Hiramasa: Tentu saja, bagaimana bisa bercinta sangat berisik..

Mikuri: Hei..

Hiramasa: Ah..

Mikuri: Hehehe…

Hiramasa-san: Aduh, geli.

Mikuri: Inilah bercinta.

Hiramasa: Jadi begini..

Mikuri: Hiramasa-san juga.

Hiramasa: Kalau begitu, permisi.

Mikuri: Ah!

Hiramasa: Ah, maaf.

Mikuri: Tidak apa-apa.

Hiramasa: Indahnya…

Lalu Hiramasa-san bicara dalam hati “Setelah itu, memang itulah yang seharusnya terjadi. Biar bagaimanapun, ini sudah separuh jalan.”

Hiramasa-san berlari keluar dari rumah, ia tahu ini akan terjadi. Itulah kenapa ia khawatir, takut gagal sehingga ia membuat dinding tebal diantaranya dan Mikuri dibalik kata-kata jomblo profesional, sengaja yang ia pegang selama ini.

     Hiramasa-san ingin tahu bagaimana perasaan Mikuri sekarang. “Apa yang dia pikirkan? Dia mungkin melarikan diri. Walaupun melarikan diri itu hal yang memalukan. Tetap bertahan adalah hal yang lebih penting. Pada masalah ini, keberatan maupun bantahan juga tidak bisa diterima.”

Lalu Hiramasa-san sadar kalau jika ia tetap di sini tidak ada gunanya, ia tidak boleh melarikan diri dari orang yang paling berharga bagi hidupnya. Hiramasa-san pulang ke rumah dengan segenap keberaniannya.

Ia sudah sampai di depan pintu apartemennya. Sudah bertekad apapun yang terjadi, tidak mau kehilangan Mikuri, meski canggung, walau malu…

Hiramasa-san masuk ke dalam dan menuju kamarnya, Mikuri masih berbaring di ranjang.

     Mikuri ditanya apa sudah tidur?. Tidak ada jawaban, Hiramasa-san duduk di tepian ranjang dan beberapa saat kemudian Mikuri bangun.

“Bukankah tidak ada alasan aku tidak bisa tidur? Kau meninggalkanku sendiri.”

Hiramasa-san lalu duduk berhadapan dengan Mikuri, ia meminta maaf dan bilang kali ini tidak akan melarikan diri. Mereka berpelukan, berciuman.. dan terjadilah…

    Hiramasa-san san heran dengan dirinya sendiri, entah mengapa bisa berhasil melewati dinding buatannya sendiri selama ini.

-We Married As Job-

    Pagi harinya, ketika bangun tidur Hiramasa-san langsung menerima ucapan selamat dari Mikuri. Hiramasa-san bingung. Mikuri mengatakan selamat karena hari ini hari ulang tahunnya Hiramasa-san. Hiramasa-san tampaknya baru ingat hari ini adalah hari lahirnya.

    Mikuri mendaratkan satu kecupan ke pipi Hiramasa dan bermanja-manja di dekatnya. Hiramasa-san merasakan kebahagiaan yang berbeda, di umurnya yang ke 36 tahun ini akhirnya ia merakan sebuah pagi yang baru.

    Yuri berangkat kerja, ia menatap banner iklan Epinal. Teringat malam saat ia menangis tanpa sadar dan Kazami menutupinya.

Yuri menyingkirkan tangan Kazami, minta maaf karena dirinya tidak apa-apa. Kazami ingin mengantar Yuri pulang. di taksi mereka tidak banyak bicara, sesampainya di tempat Yuri taksi pergi.

Tampaknya Kazami juga memikirkan malam itu bersama Yuri. Numata tanya ke Hino di mana Tsuzaki-kun, Hino bilang ia akan masuk siang. Numata teringat keputusannya untuk merestrukturisasi Tsuzaki Hiramasa.

     Tsuzaki datang, Numata memanggilnya ingin bicara serius. Sejak tadi Numata raut wajahnya sedih, tapi karena melihat ada yang berbeda dengan senyuman Tsuzaki.. ia jadi ketularan tersenyum. Numata penasaran apa yang membuat Tsuzaki ceria hari ini?

Tsuzaki masih dengan senyuman, mengatakan mungkin karena cuacanya sangat bagus, perasaanku jadi baik. (kkkkkk)

“Bukankah cuacanya mendung?” Hino membenarkan Tsuzaki.

Tiba-tiba Tsuzaki melebarkan lengannya dan menghirup udara dalam-dalam, tampak bahagia sekali.

“Udaranya juga sangat enak” Katanya Tsuzaki, masih belum sadar juga kalau cuacanya sedang mendung. Numata sekali lagi bertanya apa yang sebenarnya terjadi?. Tsuzaki menjawab tidak ada yang istimewa. Ia tadinya tidak mau mengatakannya, terpaksa mengatakannya, hari ini ia berusia 36 tahun (gw tambahin lagi, dan semalam menerima hadiah yang indah sekali XD)

     Hino mengucapi selamat ke Tsuzaki, Numata kesal sendiri tidak jadi mengatakan sesuatu ke Tsuzaki, ia khawatir jika setiap tahun ulang tahunnya Tsuzaki… Tsuzaki akan memaki Numata jika ingat hari ini.

“Aku tidak bisa melakukannya!” kata Numata sambil berlutut ala jaman kerajaan (lol)

Hino merasa ada yang aneh dengan Numata-san, lebih aneh daripada biasanya. Sementara itu Tsuzaki memuji kopi dari mesin yang enak sekali “Kopinya juga enak sekali”

Tsuzaki masih belum sadar juga, sepertinya karena terlalu senang ia menjadi agak sinting. Di situasi ini hanya Hino yang sama seperti biasanya, ia bingung melihat Numata berlututu seperti di depan raja, Tsuzaki-san terus memuji apa saja dan banyak tersenyum, dan Kazami-san merenung nelangsa akan sesuatu.

     Hino kesal “Apa-apaan ini?,” Ia di dekatnya Kazami yang masih melamun. Lalu kembali ke kursi tempat ia sering makan siang bersama yang lain. “Apa-apaan ini!” Hino bingung.

Komentar:

    Wait wait wait!, itu pas dishoot robot: Hiramasa dan boneka unyu: Mikuri dan narasi mereka di kamar. Aku gak yakin apa memang sudah terjadi atau cuma khayalanku saja *ahahahahaha. Hiramasa langsung keluar kamar dan lari, putus asa kenapa dulu dia balikin obat kuat ekstra kobra ke Hino. Dan sedih sendiri, inilah kenapa dia membuat batasan sebagai “JOMBLO PROFESIONAL” karena ia takut membuat Mikuri kecewa, takut gagal *Owwwwhhhh I see I See, ya… dia kan sepertinya bukan tipe olah raga-holik ya?, kerjaannya kan sebagai engineer system di depan komputer terus. Mengingat umurnya pun sudah tidak muda, 36 tahun Boooo’

Tapi kayaknya gak deh, kayaknya pas di kamar mereka cuman bercanda doang sambil mengobrolkan kenapa bercinta bisa berisik ini dan itu dan sebagainya. Tapi kenapa Hiramasa-san bilang ini sudah separuh jalan? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi???? Apakah memang benar sudah separuh jalan tapi Hiramasa sudah kecapek’an? #GwSotoy! #mintaDitimpukBantal atau Hiramasa menyerah sebelum perang? *Haha!

    Dan dia di jembatan masih tanya gimana perasaannya Mikuri? Omegat!. Dari yang kudengar dari orang yang sudah berpengalaman, mereka bilang merasa kehilangan dan ditinggalkan jika di pagi hari bangun sendirian setelah malam pertama, apalagi si pihak perempuan. Apalagi Mikuri ditinggal begitu saja sebelum mulai apa-apa?, aku pengen tabur bunga ke Hiramasa-san  dan nyanyi lagu “Syukur” tahu ‘kan? Orang Indonesia masa’ ga tahu? itu lho yg Dari yakin kuteguh… hati ikhlasku penuh~

-_____- XD XD XD. -_____- XD XD XD.

Di episode ini saya tidak menyensor apapun, memang mereka ciumannya gak diperlihatkan ‘kok.

Entah kenapa komentarku cerewet sekali part ini? Kkkkkkk biarlah… blog-blog punya siapa?*kkkkkk. Walau sempat kesal dengan Hiramasa, aku memakluminya… pada akhirnya toh hubungannya dengan Mikuri naik ke level paling atas, Yeay! #Nari_Koi_dance!

Percayalah, drama ini suka naikin tensi ketawa dan tiba-tiba membuat sedih, seperti sebelumnya aku haru sekali melihat Yuri dan kabar Hiramasa akan dipecat tapi di part ini lucu sekali, entah apa yang terjadi part selanjutnya.

    Oh iya! mb Rizka Fadhilatin bilang Hiramasa-san mirip Yoo Jae Suk, kkkk saya juga sudah lama mikirnya gitu.. mau ditulis di komentar tapi lupa terus, syukurlah ternyata ada yang sepemikiran denganku XD, coba bandingin dua gambar di bawah ini. Aslinya Hoshino Gen gak pakai kacamata, menurutku Om Hoshino lebih cocok pakai kacamata karena matanya kecil.

Like FP nya blog ini untuk tahu update-annya!>>>>>FANPAGE

1-1  |  1-2  |  1-3  |  2-1  |  2-2  |  2-3  |  3-1  | 3-2  |  3-3 |  4-1  |  4-2  |  4-3  | 5-1  |  5-2  |  5-3  |  6-1  |  6-2  |   6-3  |  7-1  | 7-2  | 7-3   |  8-1  |  8-2  |  8-3  |  9-1  |  9-2