Mikuri menyebut ibu dan ayah terlihat menyenangkan sekali mencintai seperti itu. Ibu bilang itu tidak mudah, lho!. Mereka saling berusaha. Mikuri tidak mengerti apa maksudnya ibu.

     Ibu menjelaskan kalau ayah dan ibu hanyalah dua orang asing sebelumnya, mendedikasikan diri untuk cinta yang tak berbalas itu sulit. Makanya kedua pihak harus saling berusaha mencintai. Orang-orang bilang sepasang kekasih itu jodoh atau semacamnya, namun ibu tidak percaya dengan hal semacam itu. Jodoh itu harus diusahakan. (jodoh ada di tangan Tuhan, kalau gak diambil ya selamanya akan di tangan Tuhan… gitu kan maksudnya? 😀 )

“Tak bisa melanjutkan karena tak ada ketetapan hati itu… menurutku sama saja di pekerjaan dan di rumah tangga.” Kata ibu.

     Yuri dan Kazami dalam perjalanan mengantarkan Tsuzaki. Kazami bilang berkat Tsuzaki-san dia teringat cerita di masa lalu. Yuri tanya apa cerita yang menyenangkan?. Kazami menjawab, sebenarnya cerita yang agak sedih. Yuri kalau begitu menolak mendengar ceritanya Kazami.

Namun Kazami tetap cerita. Waktu SMP dirinya populer, pacar pertamanya adalah seorang gadis yang disebut dengan biasa. Kazami sangat menyukai gadis tersebut.

Gadis tersebut menolak bersama dengan Kazami, karena dia keren dan jago olah raga serta disukai banyak gadis. Gadis itu merendah, dirinya ini tidaklah menarik dan manis dan orang-orang pasti akan bertanya-tanya kenapa mereka bersama?

       Kazami menyuruh gadis itu tidak usah memikirkan omong orang.

“Kazami-san tidak akan pernah mengerti!!. Kazami-san dan aku benar-benar berbeda.” bentaknya.

Saat itu Kazami terpekur tidak bisa melakukan apapun. Meski masalah tidak adanya kepercayaan diri di gadis itu merupakan masalah gadis itu sendiri. Kazami menyesali sikapnya saat itu yang malah diam saja, harusnya dia mengatakan ini

“Tak peduli seberapa banyak orang yang tak suka padamu… aku tetap menyukaimu.”

Bagi gadis itu yang selalu memperhatikan Kazami, tidak memperdulikan perasaan Kazami. Kazami tidak tahu apa yang seharusnya dia katakan saat itu. Tsuzaki di belakang juga mendengarkan ceritanya Kazami. Sama persis seperti keadaannya Tsuzaki Hiramasa dengan Mikuri sekarang ini.

     Sesampainya di rumah, Hiramasa meminum segelas air dari keran. Setelah merasa lega dia mengambili semua makanan yang ditinggalkan Mikuri. Berbagai macam menu dan pesan-pesan ceria di setiap kotaknya. Hiramasa memanaskan semuanya di microwace dan mulai memakannya.

Ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana perasaannya Mikuri ketika membuat semua masakan ini. Apa yang Mikuri rasakan ketika meninggalkan rumah ini. Waktu itu saat mereka berpelukan…  Mikuri-san apa yang dipikirkannya saat itu?.

Hiramasa menyadari dirinya terlalu memikirkan perasaannya sendiri, egois sampai-sampai tidak mau menyentuh semua masakannya Mikuri.

      Mikuri di malam yang sama keluar rumah untuk memandangi bulan purnama di langit Tateyama. “Terus mencintai seseorang dengan tulus… mungkin adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kau tak bisa mengubah perasaan seseorang, tetapi… kau yang memegang kendali hidupmu”

Yuri mengantarkan Kazami pulang. Kazami heran Yuri mengambil rute perjalanan yang jauh. Yuri bilang dia hanya sedang ingin kelihatan melankolis.

“Menyenangkan, ‘kan? Lewat jalan ini.”

“Ya.” Jawab Kazami.

Yuri berkata anak muda jaman sekarang jarang yang punya mobil. Kazami bilang dirinya tidak masalah tidak punya mobil.

“Kau akhirnya bilang juga.”

“Kita bisa pergi ke hampir semua tempat dengan kereta api atau bus.”

“Itu benar. Namun, kau tahu… kau bisa pergi jauh, lebih jauh dari yang kaukira.”

Kazami tersenyum setelah mendengarkan kata-kata Yuri tersebut.

     Mikuri membantu ayah menjemur. Ibu terdengar agak kecewa karena semua orang akhirnya pulang juga. Mikuri tidak mengerti dengan ibu, padahal sebelumnya mengeluh kenapa orang-orang kemari.

“Mikuri,” panggil ibu ketika Mikuri berjalan ke dalam rumah.

“Tidak apa-apa jika kau ingin di sini selamanya,”

“Terimakasih,” jawab Mikuri dengan terenyuh.

     Hiramasa menelfon Mikuri. Mikuri tidak langsung mengangkatnya.

“Moshi-moshi”

“Ini Hiramasa-san.”

“Iya,”

“Maafkan aku.”

“Begini… Aku sudah cukup menerima permintaan maaf.”

“Maaf. Ah, bukan… maafkan aku. Ah, bukan…” Hiramasa terus salah bicara. Hiramasa ada yang ingin dikatakan pada Mikuri. Mikuri memotongnya, ia ingin bicara duluan. Apapun kesimpulan yang dibuat Hiramasa-san… Mikuri yakin dengan perasaannya Mikuri.

“Aku… mencoba menguraikan perasaanku. Jika aku menghilangkan hal-hal yang tak perlu, apa yang tersisa?”

Hiramasa menduga pasti dengan faktorisasi prima, ‘kan?. Mikuri membenarkannya. Untuk pekerjaan dan juga gaji, apa yang kuinginkan dan apa cita-citaku… aku memikirkan berbagai macam hal, dan juga…

Lalu kata-kata Mikuti disela Hiramasa. Kalau dipikirkan lagi, Hiramasa lah yang menelfon duluan, jadi ia berhak berbicara pada Mikuri lebih dahulu.

“Aku yakin dengan perasaanku..” desak Mikuri.

“Aku yang menelepon,” tegas Hiramasa. Mikuri mengalah. Hiramasa mulai membuat pengakuan.

“Aku… tak punya pengalaman dengan perempuan. Meski begitu, aku hidup tanpa berpikir itu sesuatu yang buruk. Akan tetapi, malam itu… hal pertama yang kupikirkan adalah… bagaimana kalau aku gagal.”

Dan yang lebih menyedihkan lagi Hiramasa tidak pikir dibimbing oleh seseorang yang 10 tahun lebih muda. Bagaimana perasaannya Mikuri ketika ditolak Hiramasa sama sekali tak terpikirkan oleh Hiramasa. Hiramasa meminta maaf untuk itu.

    Hiramasa sesungguhnya juga takut Mikuri tahu dirinya yang tak berpengalaman ini. Mikuri menanggapi dirinya sudah mengetahui itu semenjak mengobrol dengan ibunya Hiramasa-san. Mikuri menggabungkan kepingannya dan menyambungkannya, kesimpulannya Hiramasa tidak berpengalaman terhadap perempuan. Hiramasa tercenung sesaat karena mengetahui Mikuri tahu dirinya yang tidak berpengalaman.

Mikuri menambahkan, baginya tidak masalah dengan fakta tersebut. Akan tetapi penolakan itu benar-benar membuat Mikuri terkejut.  Mikuri berpikir bisa menjadi dewan kota Tateyama. Tsuzaki bingung mendengarnya. Mikuri menjelaskan dirinya bertemu dengan dewan kota Tateyama yang seumuran dengan Mikuri, memikirkan kemungkinan menjadi dewan kota dan menjalani hidup seperti itu membuat Mikuri merasa lega.

     Hiramasa langsung menoleh ke poster yang Maksud.

“Ada jalan lain. Tak apa-apa gagal di jalan yang sedang dijalani. Sekarang… aku berpikir untuk kembali ke apartemen 303. Itu adalah jawaban yang kudapat saat semuanya kuhilangkan. Mungkin ini akan mengganggumu, tetapi… aku tak ingin mengakhirinya seperti ini. Aku ingin bertemu lagi dengan Anda dan berbicara serius…”

“Kita bisa bertemu!” Sela Hiramasa.

“Hah?”

“Aku sekarang di sini, sangat dekat. Bertemu… lalu berpelukan hari Selasa!”

“Baik!”

Hiramasa berlari kencang menuju rumah keluarga Moriyama. Mikuri juga mulai bergerak. Hiramasa sudah sampai di depan rumah Mikuri. Ayah Tochio mengurusi jemuran, terkejut menantunya datang.

     Mikuri menelfon Hiramasa menanyakan di mana sekarang. Hiramasa bilang ada di Tateyama, Mikuri ada di mana?.

“Aku sekarang di depan rumah kita!”

Hiramasa syok. Ayah Tochio langsung memeluk menantunya dan mengayunkannya “Akhirnya kau datang juga!”

“Hiramasa-san, pelukannya?” tanya Mikuri. Hiramasa tampak pasrah dipeluk ayah mertua. (ahahahaha… tampangnya asli lucu banget! XD. Gak perlu dipeluk Mikuri~ kan sudah dipeluk Tuan Moriyama… kkkkk)

“Saat ini aku sedang dipeluk… oleh ayahmu”

“Apa?!” Mikuri kesal. Mikuri masuk ke rumah, dilihatnya semua wadah makanan sudah dicuci, itu artinya Hiramasa memakan masakan Mikuri. Mikuri tersenyum mengetahuinya.

Hiramasa sendiri sedang diajak makan ayah dan ibunya Mikuri. Hiramasa mencoba menolak diberi minum karena harus pulang hari ini juga. Ibu dan ayah bilang tidak apa-apa, ‘kan? Besok Tsuzaki libur. Di rumah ini juga ada banyak kasur!.

Ayah dan ibu menawarkan Tsuzaki melihat albumnya Mikuri dan video olah raganya Mikuri yang dirangkum menjadi 5 jam!. Dirangkum selama 5 jam?!, Hiramasa syok mendengarnya, itu artinya dia memang tidak boleh pulang malam ini *kkkkk

Hiramasa mengirimkan pesan ke Mikuri, meminta maaf karena tidak bisa pulang. Mikuri balas menjawab, maaf orangtuaku terlalu memaksa. Ayah menyuruh Hiramasa melihat Mikuri, ibu bilang itu mungkin hanya bintik kecil.. Mikuri mungkin tidak kelihatan, ya?. Ayah ngeyel bisa lihat kok!.

“Ah, imut sekali!” seru ibu.

Hiramasa mengirimkan pesan lagi, janji besok akan pulang. Mikuri antusias, enaknya besok memasak apa ya?, mengobrolkan apa ya?. Lalu ia membalas pesan Hiramasa ‘Aku akan menunggu’.

Hiramasa tersenyum melihat jawabannya Mikuri. Mikuri senang sekali seperti anak kecil. Hiramasa membalas ‘Tolong tunggu aku.”

Mikuri dengan senang hati sabar menunggu datangnya esok hari.

Komentar:

      Aku suka kata-kata Yuri soal analogi tentang mobil dan perjalanan jauh yang tak terkira, nasehat lembut yang coba mengatakan kalau hidup dipegang kendalinya oleh manusianya sendiri.

Hiramasa dan Mikuri tidak pernah mengecewakan, selalu bikin ngakak. Kamu di sana… aku di sini… kita kapan ketemuannya??? Ahahahahaha… Mikuri pulang eh.. Hiramasa malah ke Tateyama. XD

      10 tahun lebih muda ya? Katanya dalam ilmu Psikologi jarak segitu keren banget dalam berhubungan. Karena pria secara psikologis mentalnya lebih muda 4 tahun dari umur aslinya dan wanita 4 tahun lebih tua usia mentalnya. Umur 27 tahunnya pria berarti 23 tahunnya wanita, jadi kalau pria+wanitanya seumuran katanya sih justru banyak cek coknya karena pria akan dianggap si wanita terlalu kekanakan dan pria menganggap si wanita terlalu menggurui dan menyebalkan karena terlalu dewasa.

Readers pernah dengar, ‘kan? Istilah tak perduli berapa pun umur pria mereka tetaplah seorang bocah laki-laki.

Akan tetapi itu penelitian masih relevan tidaknya di tahun-tahun ini aku tidak begitu tahu, yang jelas kalau menurutku pribadi umur itu tidak menjadi masalah, benar-benar tergantung pada orangnya seperti apa, entah yang lebih tua si pria atau si wanitanya semuanya tidak masalah.

Untukku sendiri sih lebih suka berpasangan dengan yang seumuran saja, lebih tua beberapa bulan/1 tahun lebih tua. Kalau pendapat Readers bagaimana?we-married-as-job

Jangan lupa Like FPnya untuk tahu updatenya dan memberikan semangat! >>>>> FANPAGE

 

Advertisements

8 thoughts on “Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 3

  1. aku lebih suka yang lbh tua minimal 5 tahun. Mski tua blm tentu dewasa tp pengalaman hidup lbh bnyak. Biar bisa ngemong aja hehee
    Makasih kak Karissa atas sinopsinyaa

  2. makasih sinopnya karissa. dri awal aq tertrik dg drama ini krn cowoknya yg umur 35th msih jomblo, ngingetin aq sma suamiq yg wktu ktmu aq dlu jga umur sgtu. pngen ngakak aja bwaannya…..
    mnurutq pnya psangan lbih tua itu bnyak enaknya cz gak bnyak ngalah. sudah dia yg ngalah, nggak kyak ksusnya mikuri. hahahaha…

  3. setelah bolak balik… akhirnya muncul jg…. mksih charisza…. aq jg dpt ahjusi lho… beda 13 taun malah… tp ga terlalu byk prbedaan rsanya… ttp nyambung… seneng bgt… krna lbh sering dmnjakan… oiya ttp semgat bikin sinopsisnya ea…. charisza… sehat selalu…

  4. Karissa_san,sankyuuu….ak baca sinopsis yg ini berkali2 sambil bayangin wajah lucunya tsuzaki.ahahaha asli itu lucu banget.
    Sehat slalu ya…biar bisa lanjutin sinopsisnya. Sankyu…

  5. Berapa aja selisih umur kyanya ngga masalah selama omongannya nyambung,setuju bgt kata ny moriyama ….otto san mleluknya agresif bgt,,,,h h h h itu hiramasa kaya jd mungil bgt dpeluk otto san…ok Karissa trims byk sinopnya dtunggu dgn sabar eps selanjutnya,sehat terus ya,BANZAI!!!

  6. Kupikir tidak ada yg salah dengan masalah usia dorama ini justru terlihat sangat tulus sejak awal finally

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s