Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 3

      Mikuri menyebut ibu dan ayah terlihat menyenangkan sekali mencintai seperti itu. Ibu bilang itu tidak mudah, lho!. Mereka saling berusaha. Mikuri tidak mengerti apa maksudnya ibu.

     Ibu menjelaskan kalau ayah dan ibu hanyalah dua orang asing sebelumnya, mendedikasikan diri untuk cinta yang tak berbalas itu sulit. Makanya kedua pihak harus saling berusaha mencintai. Orang-orang bilang sepasang kekasih itu jodoh atau semacamnya, namun ibu tidak percaya dengan hal semacam itu. Jodoh itu harus diusahakan. (jodoh ada di tangan Tuhan, kalau gak diambil ya selamanya akan di tangan Tuhan… gitu kan maksudnya? 😀 )

“Tak bisa melanjutkan karena tak ada ketetapan hati itu… menurutku sama saja di pekerjaan dan di rumah tangga.” Kata ibu.

     Yuri dan Kazami dalam perjalanan mengantarkan Tsuzaki. Kazami bilang berkat Tsuzaki-san dia teringat cerita di masa lalu. Yuri tanya apa cerita yang menyenangkan?. Kazami menjawab, sebenarnya cerita yang agak sedih. Yuri kalau begitu menolak mendengar ceritanya Kazami.

Namun Kazami tetap cerita. Waktu SMP dirinya populer, pacar pertamanya adalah seorang gadis yang disebut dengan biasa. Kazami sangat menyukai gadis tersebut.

Gadis tersebut menolak bersama dengan Kazami, karena dia keren dan jago olah raga serta disukai banyak gadis. Gadis itu merendah, dirinya ini tidaklah menarik dan manis dan orang-orang pasti akan bertanya-tanya kenapa mereka bersama?

       Kazami menyuruh gadis itu tidak usah memikirkan omong orang.

“Kazami-san tidak akan pernah mengerti!!. Kazami-san dan aku benar-benar berbeda.” bentaknya.

Saat itu Kazami terpekur tidak bisa melakukan apapun. Meski masalah tidak adanya kepercayaan diri di gadis itu merupakan masalah gadis itu sendiri. Kazami menyesali sikapnya saat itu yang malah diam saja, harusnya dia mengatakan ini

“Tak peduli seberapa banyak orang yang tak suka padamu… aku tetap menyukaimu.”

Bagi gadis itu yang selalu memperhatikan Kazami, tidak memperdulikan perasaan Kazami. Kazami tidak tahu apa yang seharusnya dia katakan saat itu. Tsuzaki di belakang juga mendengarkan ceritanya Kazami. Sama persis seperti keadaannya Tsuzaki Hiramasa dengan Mikuri sekarang ini.

     Sesampainya di rumah, Hiramasa meminum segelas air dari keran. Setelah merasa lega dia mengambili semua makanan yang ditinggalkan Mikuri. Berbagai macam menu dan pesan-pesan ceria di setiap kotaknya. Hiramasa memanaskan semuanya di microwace dan mulai memakannya.

Ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana perasaannya Mikuri ketika membuat semua masakan ini. Apa yang Mikuri rasakan ketika meninggalkan rumah ini. Waktu itu saat mereka berpelukan…  Mikuri-san apa yang dipikirkannya saat itu?.

Hiramasa menyadari dirinya terlalu memikirkan perasaannya sendiri, egois sampai-sampai tidak mau menyentuh semua masakannya Mikuri.

      Mikuri di malam yang sama keluar rumah untuk memandangi bulan purnama di langit Tateyama. “Terus mencintai seseorang dengan tulus… mungkin adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kau tak bisa mengubah perasaan seseorang, tetapi… kau yang memegang kendali hidupmu”

Yuri mengantarkan Kazami pulang. Kazami heran Yuri mengambil rute perjalanan yang jauh. Yuri bilang dia hanya sedang ingin kelihatan melankolis.

“Menyenangkan, ‘kan? Lewat jalan ini.”

“Ya.” Jawab Kazami.

Yuri berkata anak muda jaman sekarang jarang yang punya mobil. Kazami bilang dirinya tidak masalah tidak punya mobil.

“Kau akhirnya bilang juga.”

“Kita bisa pergi ke hampir semua tempat dengan kereta api atau bus.”

“Itu benar. Namun, kau tahu… kau bisa pergi jauh, lebih jauh dari yang kaukira.”

Kazami tersenyum setelah mendengarkan kata-kata Yuri tersebut.

     Mikuri membantu ayah menjemur. Ibu terdengar agak kecewa karena semua orang akhirnya pulang juga. Mikuri tidak mengerti dengan ibu, padahal sebelumnya mengeluh kenapa orang-orang kemari.

“Mikuri,” panggil ibu ketika Mikuri berjalan ke dalam rumah.

“Tidak apa-apa jika kau ingin di sini selamanya,”

“Terimakasih,” jawab Mikuri dengan terenyuh.

     Hiramasa menelfon Mikuri. Mikuri tidak langsung mengangkatnya.

“Moshi-moshi”

“Ini Hiramasa-san.”

“Iya,”

“Maafkan aku.”

“Begini… Aku sudah cukup menerima permintaan maaf.”

“Maaf. Ah, bukan… maafkan aku. Ah, bukan…” Hiramasa terus salah bicara. Hiramasa ada yang ingin dikatakan pada Mikuri. Mikuri memotongnya, ia ingin bicara duluan. Apapun kesimpulan yang dibuat Hiramasa-san… Mikuri yakin dengan perasaannya Mikuri.

“Aku… mencoba menguraikan perasaanku. Jika aku menghilangkan hal-hal yang tak perlu, apa yang tersisa?”

Hiramasa menduga pasti dengan faktorisasi prima, ‘kan?. Mikuri membenarkannya. Untuk pekerjaan dan juga gaji, apa yang kuinginkan dan apa cita-citaku… aku memikirkan berbagai macam hal, dan juga…

Lalu kata-kata Mikuti disela Hiramasa. Kalau dipikirkan lagi, Hiramasa lah yang menelfon duluan, jadi ia berhak berbicara pada Mikuri lebih dahulu.

“Aku yakin dengan perasaanku..” desak Mikuri.

“Aku yang menelepon,” tegas Hiramasa. Mikuri mengalah. Hiramasa mulai membuat pengakuan.

“Aku… tak punya pengalaman dengan perempuan. Meski begitu, aku hidup tanpa berpikir itu sesuatu yang buruk. Akan tetapi, malam itu… hal pertama yang kupikirkan adalah… bagaimana kalau aku gagal.”

Dan yang lebih menyedihkan lagi Hiramasa tidak pikir dibimbing oleh seseorang yang 10 tahun lebih muda. Bagaimana perasaannya Mikuri ketika ditolak Hiramasa sama sekali tak terpikirkan oleh Hiramasa. Hiramasa meminta maaf untuk itu.

    Hiramasa sesungguhnya juga takut Mikuri tahu dirinya yang tak berpengalaman ini. Mikuri menanggapi dirinya sudah mengetahui itu semenjak mengobrol dengan ibunya Hiramasa-san. Mikuri menggabungkan kepingannya dan menyambungkannya, kesimpulannya Hiramasa tidak berpengalaman terhadap perempuan. Hiramasa tercenung sesaat karena mengetahui Mikuri tahu dirinya yang tidak berpengalaman.

Mikuri menambahkan, baginya tidak masalah dengan fakta tersebut. Akan tetapi penolakan itu benar-benar membuat Mikuri terkejut.  Mikuri berpikir bisa menjadi dewan kota Tateyama. Tsuzaki bingung mendengarnya. Mikuri menjelaskan dirinya bertemu dengan dewan kota Tateyama yang seumuran dengan Mikuri, memikirkan kemungkinan menjadi dewan kota dan menjalani hidup seperti itu membuat Mikuri merasa lega.

     Hiramasa langsung menoleh ke poster yang Maksud.

“Ada jalan lain. Tak apa-apa gagal di jalan yang sedang dijalani. Sekarang… aku berpikir untuk kembali ke apartemen 303. Itu adalah jawaban yang kudapat saat semuanya kuhilangkan. Mungkin ini akan mengganggumu, tetapi… aku tak ingin mengakhirinya seperti ini. Aku ingin bertemu lagi dengan Anda dan berbicara serius…”

“Kita bisa bertemu!” Sela Hiramasa.

“Hah?”

“Aku sekarang di sini, sangat dekat. Bertemu… lalu berpelukan hari Selasa!”

“Baik!”

Hiramasa berlari kencang menuju rumah keluarga Moriyama. Mikuri juga mulai bergerak. Hiramasa sudah sampai di depan rumah Mikuri. Ayah Tochio mengurusi jemuran, terkejut menantunya datang.

     Mikuri menelfon Hiramasa menanyakan di mana sekarang. Hiramasa bilang ada di Tateyama, Mikuri ada di mana?.

“Aku sekarang di depan rumah kita!”

Hiramasa syok. Ayah Tochio langsung memeluk menantunya dan mengayunkannya “Akhirnya kau datang juga!”

“Hiramasa-san, pelukannya?” tanya Mikuri. Hiramasa tampak pasrah dipeluk ayah mertua. (ahahahaha… tampangnya asli lucu banget! XD. Gak perlu dipeluk Mikuri~ kan sudah dipeluk Tuan Moriyama… kkkkk)

“Saat ini aku sedang dipeluk… oleh ayahmu”

“Apa?!” Mikuri kesal. Mikuri masuk ke rumah, dilihatnya semua wadah makanan sudah dicuci, itu artinya Hiramasa memakan masakan Mikuri. Mikuri tersenyum mengetahuinya.

Hiramasa sendiri sedang diajak makan ayah dan ibunya Mikuri. Hiramasa mencoba menolak diberi minum karena harus pulang hari ini juga. Ibu dan ayah bilang tidak apa-apa, ‘kan? Besok Tsuzaki libur. Di rumah ini juga ada banyak kasur!.

Ayah dan ibu menawarkan Tsuzaki melihat albumnya Mikuri dan video olah raganya Mikuri yang dirangkum menjadi 5 jam!. Dirangkum selama 5 jam?!, Hiramasa syok mendengarnya, itu artinya dia memang tidak boleh pulang malam ini *kkkkk

Hiramasa mengirimkan pesan ke Mikuri, meminta maaf karena tidak bisa pulang. Mikuri balas menjawab, maaf orangtuaku terlalu memaksa. Ayah menyuruh Hiramasa melihat Mikuri, ibu bilang itu mungkin hanya bintik kecil.. Mikuri mungkin tidak kelihatan, ya?. Ayah ngeyel bisa lihat kok!.

“Ah, imut sekali!” seru ibu.

Hiramasa mengirimkan pesan lagi, janji besok akan pulang. Mikuri antusias, enaknya besok memasak apa ya?, mengobrolkan apa ya?. Lalu ia membalas pesan Hiramasa ‘Aku akan menunggu’.

Hiramasa tersenyum melihat jawabannya Mikuri. Mikuri senang sekali seperti anak kecil. Hiramasa membalas ‘Tolong tunggu aku.”

Mikuri dengan senang hati sabar menunggu datangnya esok hari.

Komentar:

      Aku suka kata-kata Yuri soal analogi tentang mobil dan perjalanan jauh yang tak terkira, nasehat lembut yang coba mengatakan kalau hidup dipegang kendalinya oleh manusianya sendiri.

Hiramasa dan Mikuri tidak pernah mengecewakan, selalu bikin ngakak. Kamu di sana… aku di sini… kita kapan ketemuannya??? Ahahahahaha… Mikuri pulang eh.. Hiramasa malah ke Tateyama. XD

      10 tahun lebih muda ya? Katanya dalam ilmu Psikologi jarak segitu keren banget dalam berhubungan. Karena pria secara psikologis mentalnya lebih muda 4 tahun dari umur aslinya dan wanita 4 tahun lebih tua usia mentalnya. Umur 27 tahunnya pria berarti 23 tahunnya wanita, jadi kalau pria+wanitanya seumuran katanya sih justru banyak cek coknya karena pria akan dianggap si wanita terlalu kekanakan dan pria menganggap si wanita terlalu menggurui dan menyebalkan karena terlalu dewasa.

Readers pernah dengar, ‘kan? Istilah tak perduli berapa pun umur pria mereka tetaplah seorang bocah laki-laki.

Akan tetapi itu penelitian masih relevan tidaknya di tahun-tahun ini aku tidak begitu tahu, yang jelas kalau menurutku pribadi umur itu tidak menjadi masalah, benar-benar tergantung pada orangnya seperti apa, entah yang lebih tua si pria atau si wanitanya semuanya tidak masalah.

Untukku sendiri sih lebih suka berpasangan dengan yang seumuran saja, lebih tua beberapa bulan/1 tahun lebih tua. Kalau pendapat Readers bagaimana?we-married-as-job

Jangan lupa Like FPnya untuk tahu updatenya dan memberikan semangat! >>>>> FANPAGE

 

Advertisements

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 2

     Tsuzaki Hiramasa ada di luar, dia menikmati makanannya sendirian. Ibu mengiriminya pesan, sebuah fotonya dengan cucu dari tetangga mereka, ibu penasaran kapan memiliki cucu sendiri (#ngodeMintaCucu >_<).

Hiramasa dalam hati meminta maaf pada ibunya, ia tidak dalam posisi bisa memberikan cucu… mulai saja belum. Hanya berhasil sampai di pelukan dan ciuman saja.  Hirasama pikir ia tidak bisa mengimbangi Mikuri yang 10 tahun lebih muda.

Dalam hati terdalam Tsuzaki ia ingin sekali hubungannya dengan Mikuri berjalan damai-damai saja seperti sebelumnya. Tanpa perlu mengkhawatirkan angan-angan Mikuri. Hiramasa tidak bisa berimajinasi seperti itu.

     Mikuri mendekati seekor kucing dengan hati-hati dan mengelusnya. Di sini tenang sekali pikirnya. Sayangnya tidak ada pekerjaan di sini. Lalu dia mulai berkhayal lagi, Mikuri yang menjadi seorang pengangguran.

Santai-santai di kamar. Entah sudah berapa lama dia tidak keluar, setengah tahun?. Dia bahagia, makan tiga kali sehari, tidur siang, dan main game sepuasnya. Tiap hari merasa puas. (kkkkk)

Mikuri ngeri sendiri membayangkannya. Pokoknya harus bekerja! Harus cari pekerjaan!.

     Mikuri saat berjalan tanpa sengaja melihat poster bertajuk ‘Impian wanita 26 tahun! Anggota dewan Kota Tateyama. Ceramah Noguchi Mayu’

Lalu Noguchi Mayu keluar dari bangunan di depan Mikuri. Mikuri memanggilnya “Noguchi Mayu-san!”

Noguchi Mayu’ bigung sendiri tapi tetap menerima salaman Mikuri.

“Halo”

“Senang bertemu dengan anda” kata Mikuri antusias.

     Yasue datang ke rumah keluarga Moriyama mengantarkan pesanan sayuran. Ibu Sakura tanya di mana Hirari-chan. Yasue bilang Hirari dirawat neneknya. Aoi mengambil akar teratai yang berkualitas baik, ibu Sakura jadi ngidam pengen makan chikuzenni (semur ayam dengan talas, wortel, dan lain-lain)

Ayah Tochio terkejut, Chikuzenni? Apa tidak bisa sesuatu yang lebih mudah?. Ibu Sakura menyilangkan kedua tangannya, menolak!.

     Mikuri pulang ke rumah. Tidak menyangka Yassan benar datang kemari. Yassan bilang kemari ingin diajarkan membuat selai sayuran oleh Mikuri. Mikuri lalu menarik Yasue, membisikinya jangan sampai bilang-bilang soal pernikahan kontrak Mikuri dan Tsuzaki. Yasue janji akan merahasiakannya.

     Chigaya pulang. Dia mengeluh tidakkah terlalu banyak orang di sini? Mikuri kenapa pula pulang?. Mikuri menjawab, memangnya kenapa?. Lalu Chigaya disapa Yasue.

“Ah… namamu itu… Yassan si Yankee” (Pffft…. Yankee: Orang amerika? *lol)

Mikuri membenarkan, Yassan dari Yasue. Chigaya tidak perduli.. lagipula sama saja. Chigaya mendekati ibu untuk menanyakan keadaan kakinya apa sudah baikan?.

Yasue kesal kenapa Abangnya Mikuri masih belum berubah sifatnya. Mikuri menanggapi, kali ini Yassan boleh menjepit Chigaya ke tembok.

    Menjepitnya ke tembok?. Aoi tidak mengerti dengan pembicaraan itu. Mikuri menjelaskan bukan menjepit dalam artian romantis. Yasue lalu mempraktekkannya. “Seperti ini. BANG!” (wkwkwk Yasue kan mantan preman.)

Aoi juga ikut menirukan meski bingung.

Ayah Tochio mengusulkan untuk telfon Tsuzaki-kun sekalian karena besok libur. Mikuri menegaskan Hiramasa-san besok ada sesuatu yang harus dikerjakan.

“Kalau dia “wuuus” naik kereta dia akan “wuuus” pergi!” Kata Ayah sambil menengok berkali-kali jauh ke belakang untuk mendemonstrasikan kecepatannya.

“Meski menggunakan efek suara, jaraknya tak sedekat itu!” Kata Mikuri.

     Ibu tanya kalau telfon gratis kan?. Mikuri melarangnya, pokoknya tidak boleh bertelfon berlebihan! Itu akan menambah-nambahi tagiahan telefon!. Chigaya jadi curiga, aaaa…. Chigaya mengerti sekarang, Mikuri dan suaminya pasti sedang bertengkar. Dengan sok bijaknya Chigaya menasehati adiknya, harusnya Mikuri memperlakukan suami yang lelah bekerja dengan baik.

Chigaya menepuk pundak Mikuri menasehati.

“Mikuri.” Kata Yasue

“Tolong bantuannya,” Mohon Mikuri.

Yasue lalu hendak mendekati Chigaya dan menjepitnya ke tembok seperti izin Mikuri tadi. Akan tetapi Yasue kedahuluan oleh istrinya Chigaya, Aoi beraksi!. Dia menjepit suaminya yang menyebalkan ke tembok.

      “Tolong… berlakulah yang pantas!” Bentak Aoi dengan menggelegar, membuat Chigaya ketakutan.

Semuanya yang ada di ruangan terkejut.

 (the power of wife!, istri marah rumah akan jadi neraka. Akakakakaka…)

     Chigaya dan Ayah Tochio akhrinya memasak bersama. Chigaya sambil memegangi kertas resep heran kenapa juga harus melakukan yang beginian?.

“Kenapa kau jadi begini, ya.” Kata ayah sambil mengirisi sayuran.

“Eh? Aku bahagia, lho.”

“Akan lebih baik kalau orang-orang di sekitarmu bahagia.” Wejangan dari ayah Tochio.

“Kalau kau sendiri tak bahagia, kau tak bisa membuat orang lain bahagia.” Ayah dan Chigaya beda pemikiran.

“Kau… mengatakan sesuatu yang bagus ya.”

Chigaya menyebut itulah kenapa dia ini anaknya ayah!. Lalu mereka bersalaman. Mikuri sebal menyaksikan kakak dan ayahnya yang tertawa. Menjijikkan.

     “Jadi untuk membuat selai, kau melumurinya dengan garam, ya?.” Yasue sambil mencatat.

“Ya, kau juga harus mengukus labu dengan biji di dalamnya. Setelah itu akan menjadi selai yang enak, lho.”

“Oh, ya?”

Mikuri memberikan peralatan ke kakak iparnya.Kemudian duduk, ayah dan abangnya saling memuji dan itu menurut Mikuri mengerikan. Keduanya memiliki pendirian yang teguh. Ibu Sakura mengingatkan waktu kecil Mikuri juga seperti itu. Mikuri mejawab bagian dirinya yang itu sudah terkikis oleh sekolah dan pergaulan.

“Bukankah itu normal?. Chigaya-san secara ajaib bisa melewatinya tanpa kurang sesuatu.” Kata Aoi.

Mikuri bilang itu suatu kebahagiaan. Dan Yasue pun tidak mau terluka parah tapi Yasue juga ingin Hirari sedikit tergores. Ibu Sakura setuju, untuk pengalaman mungkin lebih baik pernah merasakannya (rasa sakit, kegagalan/penolakan dan semacamnya yang membuat seseorang down)

Aoi ikut berkomentar, berarti tergantung kadarnya.

Dalam hati Mikuri menyimpulkan sendiri. Luka kecil akibat tergores, meski demikian.. kalau seseorang mengalaminya berkali-kali… itu akan menjadi luka yang serius. Mikuri sudah lelah.

Ia teringat saat Hiramasa menolak mendengarkan cerita Mikuri tentang Kazami. Berat rasanya mencintai orang yang memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah seperti Hiramasa Tsuzaki. Mikuri mencoba tersenyum meski habis ditolak, berpura-pura semuanya baik-baik saja.

“Makanya, menurutku… menjadi kandidat anggota dewan kota juga bisa menjadi pilihan.” Kata Mikuri. Yasue, Aoi dan ibu terkejut. Ibu berkomentar “Bukankah itu bagus?”

Aoi penasaran sebelum kata “Makanya” yang Mikuri ucapkan itu apa?. (wkwkwk sebelum ‘Makanya’ adalah ratapan seorang istri yang tak dianggap XD )

Mikuri menyebutkan nama Noguchi Mayu-san yang merupakan anggota dewan kota yang seumuran dengan Mikuri. Yasue tanya memangnya jadi dewan kota gampang?. Dengan entengnya Mikuri bilang dia pernah membayangkan berpidato untuk pemilihan sebelumnya (pas ngajakin Hiramasa pacaran itu? Yakin optimis hanya dengan itu? XD )

“Kau kelihatannya sudah paham benar.”  Kata Ibu.

“Bukankah hebat jika kau dibayar untuk memajukan dunia dan orang di dalamnya?”

Lalu Aoi mengujinya dengan pertanyaan. “Mau tanya. Aku punya pertanyaan untuk kandidat anggota parlemen, Mikuri. Apa pendapatmu tentang wanita pekerja yang membesarkan anak?”

Mikuri lalu mengajak bagaimana kalau debat langsung?. Ibu juga siap, dia akan berakting menjadi Tahara si moderator debat terkenal. Ibu bahkan mengubah gaya rambutnya agar terlihat mirip.

>>>>>>Siaran Langsung Menuju Akhir yang Pahit!

“Diskusi panas! Tentang wanita pekerja yang membesarkan anak”

Ibu Sakura sebagai moderator membuka acara, kemudian langsung dibuka dengan pernyataan Aoi Moriyama perwakilan dari Keluarga Berpendapatan Ganda.

Aoi: “Tuntutan masyarakat saat ini berlebihan. Bekerja, melahirkan, membesarkan anak. Mereka menyuruh kami hidup anggun sebagai wanita, tetapi berapa pun tubuh yang kami miliki tak akan cukup.”

Ibu Sakura: “Akan tetapi, jika wanita tidak melahirkan, angka penurunan kelahiran akan semakin parah. Di sisi lain, sebagian kaum wanita ingin bekerja.

Moriyama Mikuri sebagai Kandidat anggota parlemen menanggapi.

Mikuri: “Kalau begitu, bagaimana kalau semua orang\Nmelahirkan saat SMA?”

Tanaka Yasue sebagai perwakilan dari ibu tunggal, perwakilan dari mantan IRT terkejut dengan ide anehnya Mikuri itu, “Apa?”

Mikuri: “Dibandingkan membesarkan anak saat bekerja, kupikir lebih mudah membesarkan anak saat masih sekolah. Kita bisa membuat penitipan bayi di kelas kosong dan meninggalkan anak-anak di sana waktu sekolah. Lalu, menyusui saat istirahat. Meski mengambil cuti melahirkan, jika mengikuti kelas tambahan di libur musim panas… kau bisa mengejar pelajaran di kelas.”
Ibu Sakura: “Kau bisa membuat baju atau makanan bayi di kelas Ekonomi Rumah Tangga, ‘kan?”

Mikuri: “Ya. Dengan begitu, seluruh sekolah membesarkan anak…”

“Mikuri-chan,” panggil Aoi. “Iya,” debat selesai. Menurut Aoi idenya Mikuri itu menarik, tapi jika Mikuri mencalonkan diri dengan ide semacam itu… Aoi yakin Mikuri tidak akan dipilih. Yasue juga sependapat, setidaknya orang-orang ingin menikmati masa muda di SMA.

Mikuri bingung, kalau begitu kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk melahirkan?. Apakah memang sulit membagi waktu menjadi anggota masyarakat sambil membesarkan anak?.

Menurut ibu pilihan satu-satunya adalah kerja sama dari pasangan, masyarakat atau orang-orang di sekitar si ibu.

“Itu tidak terlalu efektif, sih” Sambung Aoi.

“Kalau laki-laki… bisa melahirkan juga, mungkin bisa lebih nyaman.”

Mikuri terkejut, Ibu setuju jika istri dan suami berganti-gantian melahirkan anak. Aoi sependapat dengan ide gila itu, jika suami maupun istri bisa memilih siapa yang akan melahirkan.. antara mereka berdua bisa saling merawat.

“Ah, sial… harusnya aku jadi peneliti saja.” Keluh Mikuri.

       Chigaya dan Tuan Tochio sejak tadi mendengarkan pembicaraan aneh para wanita.

“Mereka membicarakan hal menjijikkan itu…” Kata Chigaya.

“Aku juga ingin melahirkan.”

~Married as Job~

     Trio kwek kwek 😀 lagi minum-minum bersama. Numata tidak menyentuh minumannya, Hino menyuruhnya ikut minum. Tapi Numata justru mengatakan dia bahkan dengan minum tidak akan mengatakan apapun sekalipun minum. Kazami curiga, jadi ada sesuatu yang ingin Numata katakan?

Numata agak terkejut. (hhh! Kazami orangnya curiga’an)

“Apa, apa? Apa yang ingin kau pesan? Ah… ini! Aku mau makan tulang muda goreng!. Aku mau makanan renyah. Kriuk, kriuk, kriuk, kriuk…” Hino heboh sendiri.

“Hino-kun!.”

“Ya?”

“Tenangkan dirimu sebentar. Ini hanya kedai minum.”

Hino heboh sendiri karena ni sangat menyenangkan, selama ini kalau ada acara minum-minum Hino tidak bisa ikut karena anaknya sakit. Hino kemudian menelfon Tsuzaki, tidak diangkat dan Hino meninggalkan pesan di kotak suara. Tsuzaki-san! Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kemari!

“Di mana istri dan anak-anakmu?” Tanya Kazami ke Numata. Numata menjawab mereka ada di rumah orangtua istrinya. Rupanya ada acara pengisi suara di dekat sana, itu adalah kegemaran istrinya Numata.

     Tsuzaki sudah menerima pesannya Hino, Hino memaksanya ikut biar lebih dekat dan akrab lagi, berbagi karakter langka. Tsuzaki berpikir keras sebelum memutuskan, dengan kondisinya sekarang Tsuzaki yakin jika dia minum sake mungkin saja bisa kelepasan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan. Akan tetapi dia berhutang dengan Hino.

Tsuzaki beranjak dari tempatnya duduk, kemudian duduk lagi. Akan tetapi kondisinya sekarang tidak bagus. “Akan tetapi, Hino-san..” dia berdiri lagi, duduk lagi. Tapi Hino bilang tadi berbagi karakter langka… Tsuzaki berdiri lagi, lalu duduk lagi.

Merenungi dirinya yang tidak bisa mengambil keputusan dan mulai menyalahkan diri sendiri “Seorang laki-laki yang tidak bisa mengambil keputusan. Wajar saja Mikuri bosan denganku.”

(dia bukannya bosan -_- dia menunggu dan mencoba untuk memahamimu sampai capek sendiri dan memilih pergi. Om Hiramasa gak perlu berpikir terlalu keras… cukup terima saja perasaannya Mikuri, pengen gw jitak om om satu ini biar sadar -_- youw readers~ jitak bareng-bareng yuk!, Kzl!!!)

~We Married as Job~

       Tsuzaki akhirnya datang. Ia dipesankan Numata lap basah dan segelas bir. Hino masih antusias, dia menyuruh Tsuzaki mengimbangi mereka yang sudah minum-minum sejak tadi. Numata bilang juga mengundang Yuri-chan.

“Yuri-chan?” Tanya Tsuzaki.

Numata bilang dirinya dan Yuri saling memanggil Yuri-chan dan Numa-chan. “Sejak kapan kalian…” kata Tsuzaki sambil minum. Numata bilang Yuri-chan tidak bisa minum karena menyetir. Kazami agak terkejut ternyata Yuri menyetir sendirian. Hino iri sekali, ia ingin bertemu dengan Yuri-chan dan Mikuri-chan.

Dengar nama Mikuri disebut membuat Tsuzaki terkekeh getir. Ia tidak tahu menau bisa tidaknya Hino bertemu Yuri-san, akan tetapi Hino takkan bisa bertemu dengan Mikuri-san lagi. Pasti. Tsuzaki yakin dengan perkataannya barusan.

“Pertemukan kami, dong…” Pinta Hino. Numata dan Kazami bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi tapi mereka hanya memandang Tsuzaki yang terlihat sedih.

    Chikuzenni sudah dihidangkan. Ibu memberikan nilai 1 bintang untuk masakan ayah dan Chigaya. Chigaya lumayan kesal kenapa diberi nilai sekejam itu. Ayah meminta maaf, bagaimana pun juga tidak mungkin bisa menandingi chikuzenni buatan ibu, kan?.

“Chigaya-san, buat lagi di rumah ya?”

“Apa?” Chigaya terkejut dengan permintaan Aoi. Yasue lalu menggoda Chigaya akan dijepit ke tembok lagi oleh Aoi kalau protes (wkwkwkwk). Aoi lalu memasang kedua tinjunya, Chigaya takut dan menyalahkan ini semua gara-gara Yassan. Ibu mengajak semuanya makan, mereka lalu makan.

    Kazami, Hino, Numata, dan Tsuzaki masih bersama (trio kwek kwek dan Manajernya :v). Hino tiba-tiba bertanya soal pekerja rumah tangga yang Kazami bicarakan sebelumnya, bukankah Kazami naksir wanita itu?. Kazami bilang wanita tersebut meminta cuti seminggu.

“Akan tetapi, dia mengambil hari cuti, kan?” Kata Numata.

Akan tetapi Kazami pikir tidak sesederhana itu. Wanita tersebut adalah tipe orang yang bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya. Kazami yakin pasti ada sesuatu yang tidak tertahankan sehingga membuatnya minta cuti.

Kazami mengatakannya sambil memandang Tsuzaki sekilas, Tsuzaki hanya menunduk pasrah karena pikir ini semua salahnya.

     Hino tanya ke Kazami misalnya apa?. Kazami menjawab tidak tahu sampai sejauh itu sih. Tsuzaki yang sedari tadi diam dan menenggak minumannya langsung angkat bicara, kalau Kazami tidak tahu maka tidak perlu berkomentar apapun. Kazami menanggapi, dia mungkin tidak tahu… tapi Kazami tahu dirinya ini lebih mengenal Mikuri ketimbang Tsuzaki.

Tsuzaki tidak sependapat, mereka melihatnya dengan cara yang berbeda. Kazami adalah orang yang percaya dirinya tinggi sedangkan Tsuzaki sebaliknya. Menurut Tsuzaki, cara ia dan Kazami hidup serta cara pandang mereka semuanya berbeda. Kita pada dasarnya… tidak sama.

Hino dan Numata berkomentar semua orang berbeda dan semuanya baik, ayo minum minum minum!. Hino dan Numata lalu membicarakan belut goreng yang murah.

     Tsuzaki tepar di mobil Yuri. Yuri memarahi para pria sebenarnya ngapain sih di umur mereka yang segini?.

“Misi’!” kata Numata mabuk,

“Terima kasih banyak!” sambung Hino yang juga setengah mabuk. Kazami entah mengapa merasa bertanggung jawab, ia akan ikut dengan Yuri untuk mengantar Tsuzaki.

     Mikuri mempersiapkan tempat tidur untuk ibu. Mikuri tanya apa Ibu tidak terlalu kejam dengan ayah?. Ibu menjelaskan saat dia menjalani pemeriksaan reguler dokter menyarankan untuk periksa kesehatan secara menyeluruh.

Mikuri harap-harap cemas dengan jawabannya ibu. Ibu bilang dia tidak apa-apa, sebelum hasil tesnya keluar ibu sudah berpikiran macam-macam, bagaimana kalau ibu pergi duluan dari ayah?. Jadi Ibu pikir ini adalah kesempatan bagus untuk melatih kemandirian ayah melakukan tugas rumah tangga, mempertimbangkan kemungkinan jika ibu pergi terlebih dahulu.

Mikuri protes kenapa tidak bilang saja ke ayah?. Ibu tidak memberitahu ayah karena takut ayah akan khawatir dengan kemungkinan semacam itu.

Komentar:

       Do you miss me? Haha! Me too… :)) ❤

aku suka sekali saat Aoi menjepit Chigaya di tembok, Chigaya memang cerewet dan ngeselin, wajar kalau Aoi jengkel dengan suaminya itu *wkwkwkwkwkwe-married-as-job

Jangan lupa Like FPnya untuk tahu updatenya dan memberikan semangat! >>>>> FANPAGE