[Unimportant] Review Goblin Eps 3:  The Lonely and Great God.

     Saat aku masih kecil aku tidak terlalu perduli dengan bunga, hanya sekedar menikmati keindahannya dan oh ya… that’s enough, flower is beauty. Tapi saat bertambahnya waktu aku merasa bunga itu indah, apapun jenisnya dan tiap jenis bunga memiliki maknanya sendiri, punya makna dan maksud yang berbeda. Karena di Goblin ada bunga soba yang maknanya adalah kekasih.., aku jadi teringat pada bunga favoritku dan menjadi logo blog ini. Primrose… bunga merah muda di header blog ini adalah primrose.

primrosee

Primrose dalam bahasa bunga punya arti yang sangat mendalam. Sepertinya kamu sudah benar-benar mentok dengan orang ini. Bunga ini berkata, “Saya tidak bisa hidup tanpamu”.

Review Ep 1>>>>[Unimportant] Review Goblin Episode 1, the Greatest Drama for This Year!.

Okeh review!, wkwkwkwk kupikir aku akan hanya menyukai The legend of the Blue Sea saja di akhir tahun. Dugaanku salah, Goblin lebih entertaining dan menghiburku, bromance yang keren sekali! Wanjong daebak!. Dan selalu membuatku tidak sabar melihat Deok Hwa, Kim Shin, dan Wang Yeo dalam satu scene, pasti sukses membuatku tertawa.

     Chemistry…, aku tidak merasakannya di Gong Yoo dan Kim Go Eun. Bukan karena aku envy Gong Yoo beromansa dengan Kim Go Eun di drama ini, tapi memang benar aku tidak merasakan adanya ketertarikan dan keterikatan yang pokoknya mereka harus ketemu. Rasanya belum bisa berkomentar “gak afdol kalau Eun Tak dan Kim Shin gak bersama”, ostnya saat mereka pandang-pandangan dan saling merindu itu bagus banget, romantis! Bahkan boleh dibilang sebuah lagu yang mungkin bisa mengingatkanmu bagaimana rasanya jatuh cinta, sayangnya sampai episode 3 aku belum menemukan sense of romance dari Eun Tak dan Kim Shin. Kenapa ya? Ada apa sebenarnya ini?, semoga kedepannya di episode 5 ke atas diantara Gong Yoo dan Kim Go Eun bisa dapet feel biar chemistry nya jadi.

     Rating episode 1 sampai 3. Aku ingatkan sekalian, kalau mau menonton drama jangan perdulikan rating, akan tetapi rating bisa dipertimbangkan untuk melihat kualitas dan seberapa banyak sih orang yang menonton drama tersebut di jam tayang Korea Selatannya? Di jam asli drama tersebut tayang untuk pertama kalinya. Seberapa populerkah drama tersebut? Maka cek saja ratingnya. Bagus tidaknya suatu drama benar-benar tergantung selera, bisa jadi saya bilang Goblin lebih bagus dari The Legend of the Blue Sea sedangkan kamu bilang TLOBS lebih bagus daripada Goblin.

  • Episode 1 ratingnya 6,32%. Keren sekali bukan? Baru tayang perdana sudah setinggi itu di TV kabel pula!.
  • Episode 2 berating 7,9%. Wow! Peningkatan yang signifikan. Aku menonton ulang episode 2 berkali-kali lho, menyenangkan sekali lihat bromancenya ^^
  • Episode 3 dapet rating 12,47%. Can you believe it? 12,47% ratings on TV cabel? That was amazing!. Selama ini TV kabel memiliki stigma kalau rating 5 dan 6 sudah bisa dianggap sebuah prestasi tersendiri. Rating 10 an ke atas hanya bisa diraih oleh TV publik, namun Goblin menghapus stigma tersebut. Tidak perduli di manapun tayang dramanya… jika memang bagus maka ratingnya akan tinggi. Yaps! Itu baru bener :))

Tiga episode pertama mereka tidak pelit durasi waktu, dapat tayang spesial dengan 1 jam lebih. Untuk mengenalkan jalan cerita dan para tokohnya. Ini tayangan TV yang kualitasnya Movie, sangat menghibur.

K-Dictionary:

  • Dokkaebi: Goblin
  • Jeosang-Saja: Malaikat pencabut nyawa.
  • Cheonsa: Malaikat
  • Samchoon: Paman (biasanya panggilan untuk yang lebih muda dari ortu kita)
  • Ahjussi: Paman/Pak/Mr. (lebih sering digunakan untuk orang asing)

My Favorit Scene:

  • Setelah menyelamatkan Eun Tak, Shin dan Wang Yeo jalan bersama Eun Tak. Sementara Eun Tak masih marah dan syok, Wang Yeo dan Shin mengobrol dalam hati yang tidak bisa Eun Tak dengar, Wang Yeo kesal kenapa Eun Tak tidak berterimakasih malah marah dan Shin yang jengkel dengan Wang Yeo langsung membentaknya “Diam!”. Kkkkk Eun Tak terkejut, kenapa kau berteriak? *asliBikinNgakak

 

  • Kakeknya Deok Hwa berkunjung ke rumahnya Kim Shin dan kebetulan Wang Yeo ada di sana. Si Deok Hwa membangun scenario kalau Wang Yeo temannya Samchoon-nya dan kemari lagi main sekalian mengucapkan selamat tinggal karena Shin mau ke luar negeri. Wang Yeo dadah dadah kaku,

 “Selamat tinggal. Jaga kesehatanmu. Jangan datang lagi.  Kuharap kau bahagia sampai kau mati di sana…” hahahahaha! >_< dan Shin pun juga sambil dadah dadah balas menjawab

“Selamat tinggal. Kita tidak terlalu dekat. Cepat pergi dari rumahku. Jangan pernah kembali lagi.” Lalu dia senyum manis bangeeeet setelah mengusir Malaikat pencabut nyawa itu dengan halus/kocak. Deok Hwa sok sok membela, Paman kenapa begitu dengan temanmu?, Shin juga ngusir Deok Hwa sekalian “Kau juga pergilah. Yang sangat cepat sekali.” kkkkkkkk

  •        Di kafe, Shin menyihir dua orang sekarakter (sama-sama tipe yang merugikan dan menyebalkan) jatuh cinta dan sama-sama saling ngaku masih jomblo padahal punya pacar. Melihat yang romantis-romantis membuat Eun Tak malah nyorakin “Popohae! Popohae! Popo POPO popohae!” cium! Cium! Cium! Wkwkwk kalau aku jadi Eun Tak aku juga nyorakin mereka buat ciuman lho *ROFL >_<.    Eun Tak tanya apa Shin itu cupid? Tapi Shin bilang mereka tadi itu reinkarnasi, di kehidupan lampau sama-sama membuat menderita orang lain jadi kalau keduanya berpasangan maka menjadi neraka bagi masing-masing. Terkadang dewa seperti Shin mempertemukan dua orang dan manusia sebut itu seperti sihir.
  • Ketika seorang nenek/wanita cantik yang aku masih belum tahu apa jenisnya dia. Malaikat? Malaikat pencabut nyawa? Goblin? Penyihir? Atau peramal?… dia sengaja mempertemukan Jeosang-saja dengan Sunny.

Secara ajaib Joesang-saja Wang Yeo menangis melihat cincin giok yang dijual mb mb cantik itu, kebetulan Sunny juga ingin membeli cincin tsb. Wang Yeo tidak mau mengalah, ia ingin Sunny meninggalkan cincin tersebut.

 Sunny (Yoo In Na) rela ngalah jika dapat no HPnya Wang Yeo tapi Wang Yeo bilang gak punya HP. Akhirnya Sunny yang kasih dia no HP.

 Aku menduga mb mb cantik itu wujud aslinya nenek-nenek tapi bisa berubah bentuk ke muda dengan suatu alasan tertentu. Kata-kata yang dia ucapkan itu makna multitafsir “Tidak masalah siapa yang membayar. Kalian berdua akan membayarnya dengan sangat mahal” mwo? Insaeng? Dengan takdir mereka?. Cincin tersebut adalah cincin yang Ratu kenakan di eps 1 (cameo Kim So Hyun).

 

  • Di akhiran ketika Shin menemukan Eun Tak di pinggir laut, tempat mereka bertemu pertama kali. Eun Tak saat itu sedang seidh karena difitnah dan dimarahi gurunya.

Shin datang memayunginya, hujan terjadi karena Shin sedang sedih dan hujan berhenti saat suasana hati Shin membaik. Eun Tak jadi tidak enak, sekarang kalau melihat hujan dia akan berpikir Shin sedang sedih, kalau hujan lebat pasti Shin sedihnya tak terkira. Shin menjelaskan tidak semuanya hujan karena Shin, tapi itu kehendak alam.

      Eun Tak memberikannya laminating daun maple, Shin menepuk-nepuk kepala Eun Tak. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tidak merasakan terlalu mendalam… harusnya bisa lebih dari ini, backsongnya gila! Cocok banget! XO, aku tidak meragukan sama sekali akting keduanya, tapi lama-lama aku merasanya hubungan Eun Tak dengan Shin seperti anak SMA yang berkeliaran di dekatnya om om ( Ahjussi). Kkkkkk… please, naikin lagi chemistry-nya… yayayayaya?. Episode 4 sudah mulai up sih, tapi masih kurang… naikin lagi please!, biar penonton ikut lumer menontonnya.

  • Ketika Eun Tak menunjuk pedang yang tertancap di tubuh Shin.

Di episode 4 aku tidak rela Shin berpikiran untuk pergi, mengakhiri hidupnya. Karena tidak ingin terlalu merasakan kebahagiaan bersama Eun Tak sehingga membuatnya semakin lama ingin hidup. Kalau semisal Eun Tak mencabut pedang dari tubuhnya… kuharap Shin masih tetap ada dan merasakan kebahagiaan, melupakan bebannya selama beratus tahun menjadi Dokkaebi (Goblin). Semoga!

Like FPnya untuk dapatkan update-annya>>>>> FANPAGE

 

Advertisements

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 1

       Tidak seperti biasanya, hari ini Tsuzaki makan siang dengan nasi kepal yang biasa dijual di mini mart. Hino datang dan bertanya kenapa bekalnya Tsuzaki-san tidak seperti biasanya, Kazami juga ada di tempat yang sama dan sama bingungnya. Numata lalu ikut nimbrung.

     Dengan sok tahunya Numata menjelaskan, Hino ini tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi sebenarnya. Tsuzaki-san sebenarnya membuat bekalnya sendiri selama ini, Numata dengan ke-sok tahuannya lagi mengibaratkan seperti orang yang membeli coklat untuk dirinya sendiri ketika valentine dan menaruhnya di lokernya sendiri.

“Aku tidak akan melakukannya” kata Hino.

“Aku juga,” Sambung Tsuzaki.

Numata menebak lagi, Mikuri-san itu hanya orang sewaan!, sengaja Tsuzaki sewa saat Kazami dan Numata berkunjung tempo hari lalu. Tsuzaki, Kazami dan Hino heran mendengarnya.

 Kazami berkomentar sebenarnya Mikuri dan Tsuzaki begini saja sudah mesra (Ho’oh~ terlepas dari semua scene konyolnya tanpa kusadari aku selalu ngiri melihat mereka pelukan XD )

Tapi Numata tidak percaya. Hino hanya berpikir kalau Tsuzaki dan istrinya hanya sedang bertengkar kecil seperti pasangan lainnya.

    Sebenarnya yang terjadi adalah, setelah malam mereka berciuman dan berpelukan dan berpotensi besar melakukan hal yang lebih lagi…

Mikuri bersikap seperti biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hari-hari mereka berjalan seperti biasanya, tapi suatu hari ketika Hiramasa pulang ke rumah, dia melihat memo dari Mikuri. Mikuri pergi dari rumahnya Hiramasa.

    Kazami dan Yuri bertemu di sebuah bar, mereka membicarakan soal Mikuri. Mikuri datang ke tempat Kazami di hari Senin, melakukan tugas bersih-bersihnya tanpa mengatakan apa-apa. Dan Yuri terakhir kali bertemu Mikuri di hari yang sama dan mengembalikan anggur esnya.

Yuri tidak mengerti kenapa Mikuri mengembalikannya, apa tidak enak?. Anggurnya mahal dan masih banyak tapi Mikuri tidak tega membuangnya, dia memilih mengembalikannya saja ke Yuri. Rasanya Mikuri ingin mati melihat anggur tersebut. (maluuuuuu…. Banget!, siapa sih yg gak malu? Mikuri terang2ngan memberikan lampu hijau pada Hiramasa dan malahan ditolak mentah2 *nyesekkk!!)

     Yuri dan Kazami yakin ada yang tidak beres dalam hubungan Mikuri dan Tsuzaki. Kazami bilang kalau saja ia yang jadi pasangannya, ia pikir ini bisa lancar seperti bisnis. Yuri tidak ngeh apa maksud Kazami. Kazami menerangkan ini hanya persoalan sederhana, tentang mengungkapkan perasaan.

Yuri agak kesal dengan pemikirannya Kazami, bisa tidak sih.. Kazami jangan mengulang kata-kata seperti itu?. Kazami menyuruh Yuri-san menelfon Mikuri saja kalau begitu.

    Mikuri menelfon Yuri. Yuri bertanya kapan Mikuri kembali?. Mikuri bilang bukan saat ini yang pasti, karena akan ada kemungkinan bercerai. Yuri syok! Cerai? Tidak menyangka sudah separah itu hubungan mereka.

Lalu terdengar teriakan ibu Sakura. Ibu Sakura memarahi ayah Tochio karena salah mencuci baju, kenapa ayah mencuci pakaian yang mudah luntur dengan yang tidak?!, kan sudah tertulis di pakaiannya ‘perhatikan saat mencuci’.

Ayah beralasan kalau mengecek satu-satu nanti waktunya habis. Tapi Ibu marah sekali, makanya ayah harus mengecek satu persatu karena tidak tahu, sekarang pakaian kesayangannya ibu yang mahal jadi rusak!, sepuluh tahun ini ibu mengganti kancingnya dan merawat bajunya dengan baik!.

    Yuri memanggil-manggil Mikuri yang tidak menanggapi. Mikuri sedari tadi memperhatikan ayah dan ibunya yang sedang berdebat. Mikuri meminta maaf ke Yuri, ia akan menghubungi Yuri nanti lagi.

Mikuri mengingatkan ibunya tidak perlu berteriak seperti itu. Ibu berteriak karena jengkel pada ayah, sudah dua hari ini mencucinya tidak ada yang beres!. Ayah mengadu ke Mikuri, “Aku lupa.”

“Tak ada alasan!” kata ibu sambil melemparkan pakaian kesayangannya yang sudah rusak ke ayah. Lalu menatap ayah dengan penuh amarah.

     Ayah melamun di beranda, Mikuri ikut duduk di samping ayah. Meminta ayah jangan khawatir karena ibu hanya sedang sedikit kesal. Sedikit? Ayah pikir tidak sedikit. Mikuri lalu mengoreksi kata-katanya, yah lumayan kesal. Mikuri rasa ibu kesal sendiri karena ibu sebelumnya selalu sehat dan tidak pernah cedera kakinya.

Ibu ada di kamar, kesulitan memindahkan kakinya ke dalam selimut. Mendesah sebal, sepertinya tidak suka kalau sakit.

     Ayah bilang dirinya senang Mikuri kemari. Mikuri sebenarnya juga terbantu karena kemari, sebenarnya setelah kejadian malam anggur itu Mikuri berusaha keras melanjutkan hidup seperti tidak pernah terjadi apapun di malam itu.

Mikuri berusaha keras melupakannya tetapi tidak bisa. Ia menjemur pakaian dan teringat kembali lalu stres sendiri, membersihkan rumah dan melihat sofa jadi teringat kembali,

mencuci piring dan melihat botol anggur membuatnya frustasi, berusaha tidur pun rasanya ingin mati karena terlalu memalukan.

    Mikuri mulai berkhayal lagi, ia kali ini menjadi atlet bidang olah raga “Percintaan kelas 47 kg”. Mikuri diwawancarai oleh berbagai media. Mikuri menyesali aksinya, kalau saja Mikuri tidak mengatakan hal itu mungkin hari akan berakhir dengan menyenangkan.

    Mikuri saat itu menjadi tamak dan berpikir mungkin akan diterima. “Aku wanita yang tersakiti…” katanya sambil menahan tangis.

“Bertahanlah! Bertahanlah!” Seru para suporter yang datang.

Mikuri meminta maaf. Lalu reporter bertanya bagaimana perasaannya Mikuri terhadap TSuzaki saat itu?.

    Mikuri menjawab, Tsuzaki adalah orang yang hebat dan Mikuri sangat menghormatinya. Mulai sekarang Mikuri akan bekerja keras dan teliti. Para suporter menyoraki Mikuri “Ya, begitu!”

“Kau pasti bisa! Kau pasti bisa!”

Mikuri berterimakasih atas dukungannya. Selesai! Khayalan itu berakhir dan Mikuri optimis akan melakukan pekerjaannya dengan baik dan teliti!!. Mikuri berpindah posisi tidurya

    Mikuri mencoba menganggap malam itu hanyalah seperti acara lawak dan mengirimkannya ke dalam angannya, Mikuri yakin pasti bisa melupakannya.

     Meski begitu tetap saja sulit. Saat hari Selasa waktunya membuang sampah daur ulang, ia yang sebelumnya bahagia tiap hari tersebut kini menjadi gila. Mikuri berjongkok frustasi setelah membuang sampah. Di rumah ketika mengantarkan Tsuzaki sampai ke pintu ia berakting normal seperti biasanya, selepas Hiramasa pergi Mikuri kembali merasa gila. Rasanya ingin minggat saja, ke mana saja boleh, asal yang jauh. Jauh dari Tsuzaki Hiramasa.

     Chigaya menelfon Mikuri memberitahukan kalau ibu mereka jatuh dari tangga dan kakinya patah tulang. Mikuri khawatir, bagaimana dengan pekerjaan rumah tangganya?. Chigaya bilang ayah yang melakukannya, selain patah tulang ibu mereka tidak apa-apa, jadi Mikuri tidak perlu ke sana.

Mata Mikuri berbinar cerah, ada secercah harapan untuk kabur dari Hiramasa.

    Mikuri mengolah semua bahan makanan dan membuatkan persediaan untuk Hiramasa. Mikuri mengipasinya dulu sebelum ia simpan ke lemari pendingin. Saat bekerja, di sekolah, maupun di klub sekolah Mikuri tidak pernah membolos sekalipun, dan itu merupakan satu-satunya yang bisa Mikuri banggakan.

Dan saat ini adalah pertama kalinya dalam hidup Mikuri mengabaikan pekerjaan, jadi paling tidak Mikuri harus mempersiapkannya dengan sempurna. Mikuri menyeterika baju, ia terkejut melihat waktu menunjukkan pukul 18:00 waktunya Hiramasa Tsuzaki pulang dari kantor.

    Mikuri menuliskan memo ke Hiramasa, Isinya Mikuri diminta ke Tateyama oleh ibunya karena kaki ibu patah tulang, Mikuri telah menyiapkan makanan di lemari es.

     Mikuri pergi, mengunci pintu rumah tapi saat hendak pergi tali tasnya malah terjepit dengan pintu. Membuat Mikuri kesulitan. Apapun yang terjadi asal Mikuri bisa kabur dan melarikan diri dari hari Selasa.

Ketika Hiramasa keluar dari bus, Mikuri justru baru memasuki bus. Untungnya mereka tidak sempat saling melihat dan menyadari.

      Mikuri tidak ingin melihat dirinya dalam situasi yang menyedihkan, dan mungkin saja dia tidak akan pernah kembali ke tempatnya Hiramasa. Hiramasa di rumah, dia melihat tumpukan makanan di kulkas dan tampak terluka karena kepergiannya Mikuri.

     Dalam bus Mikuri merenungkan situasinya, sisi lain dirinya mengatakan bahwa ini juga bagian dari hidup.

      Ibu memandangi potongan buah apelnya yang aneh. Ini hasil potongan Tochio-san dan ibu tidak menyangka kemampuan suaminya hanya segini. Mikuri berkomentar apa ayah tidak pernah memasak dan berkemah?.

Ibu bilang, kalau dipikir-pikir ibulah yang memotong sayuran dan membuat kari. Mikuri tahu ayah hanya membuat apinya saja.

“Aku tertipu” keluh Ibu.

Ayah Tochio datang membawakan minuman, ia bilang tidak menipu Sakura-san. Sakura-san sendirilah yang salah paham. Ibu kesal, seharusnya lebih banyak menyuruh Tochio-san mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Ayah juga bantu sedikit kan?” tanya Mikuri.

“Aku membuang sampah.”

Mikuri dan Ibu saling pandang, mereka tidak merasa membuang sampah itu termasuk pekerjaan rumah tangga. Ayah juga ikut membersihkan kamar mandi juga, sebulan dua kali. Ibu dan Mikuri pikir itu tidak masuk hitungan.

Di luar sana Aoi istrinya Chigaya berkomentar “Lihat betapa sombongnya  dia karena kadang-kadang membersihkan kamar mandi, ya.” Kata Aoi sambil menggendong Kozue. Ayah, ibu, dan Mikuri melihat Aoi. Ayah langsung mengajak Kozue main bersama.

Aoi tadi bilang begitu karena teringat pada Chigaya yang juga seperti ayah mertuanya. Mikuri mendesah, oh jadi kakaknya tidak pernah melakukan apapun. Aoi membela Chigaya bukannya begitu, sampai rumah Chigaya akan mengeluh lelah dan minta dipijit.

Ibu pikir para ibulah yang justru perlu dipijit. Aoi bilang tidak masalah sih, tapi bulan depan dia harus kembali bekerja, mengasuh Aoi dan bekerja… dan bahkan mengasuh Chigaya. Aoi bertanya-tanya sanggupkan Aoi melakukannya bersamaan.

     Ibu Sakura meminta maaf karena tidak membesarkan Chigaya dengan baik. Aoi bilang bukan begitu, ia jadi tidak enak sendiri dengan mertuanya *kkkkk. Ibu Sakura mengakui dia merasa kalau pekerjaan rumah tangga sudah seperti hobi saja baginya dan melakukannya secara berlebihan.

Mikuri bilang dia juga mengerjakan semuanya. Ibu menanggapi, itu karena Mikuri yang bilang “Biar kubantu, Bu!”

“Begitu, ya?”

“Iya”

    Lalu bunyi mesin cuci pertanda cucian sudah selesai mengejutkan semuanya. Ibu menoleh dan mengingatkan ayah Tochio. Mikuri dan Aoi hendak membantu namun dilarang ibu, tidak boleh! Biar ayahmu saja yang melakukannya!.

“Aku akan melakukannya!” Kata ayah.

Ayah menjemur cuciannya dengan tetap diawasi ibu. Ayah tidak mengibaskannya, ibu menyuruh ayah mengibaskannya dulu pakkk! Paaakk! Dan ayah menuruti instruksi ibu dengan patuh.

     Aoi menanyakan ke Mikuri bagaimana Hiramasa-san dengan pekerjaan rumah tangga? Apa dia ikut membantu?. Mikuri menjawab Hiramasa banyak membantunya. Aoi jadi iri mendengarnya, beruntungnya…

Mikuri tentu saja bohong. Dia kan digaji untuk melakukan pekerjaan rumah tangga… ia tidak bisa mengatakan kebenarannya kepada orang-orang yang melakukan tugas rumah tangga tanpa dibayar.

     Horiuchi dan Umehara merasa tidak senang karena ada yang cuti melahirkan dan itu artinya tugas mereka akan bertambah. Yuri bilang dirinya tidak merasa terbebani, dia justru merasa berterimakasih karena ada yang mewakilkannya melahirkan (LMFAO XD). Umehara dan Horiuchi heran dengan Yuri, apa Yuri tidak iri?. Yuri menanggapi, jika Horiuchi dan Umehara ada di usianya Yuri sekarang… tidak ada lagi yang namanya rasa iri.

“Berkata ini dan itu karena kita semua lahir dari perempuan.” Kata Horiuchi.

“Kau tidak perlu mempedulikannya. Karena, untuk bagian itu, kau bisa bekerja. Kau bisa bayar pajak!. Jadi, kalian jangan menggerutu. Saat ini, perusahaan yang memahami cuti melahirkan itu bagus. Selain itu, memiliki program kesejahteraan berarti kalian masih aman.”

    Numata menyidang Pak Direktur, Nabe dan Takenaka. Pak! Apa perusahaan kita ini sebenarnya baik-baik saja?.

Direktur heran kenapa Numata bisa tahu?. Nabe meminta maaf, ini pasti karena gerak-geriknya yang mencurigakan. Takenaka pun juga tidak bisa membantah Numata. Pak Direktur mereka kesal setengah mati pada Numata, dasar insinyur infrastruktur!

Numata bilang kelangsungan perusahaan tergantung dengan Numata. Lalu Nabe menyinggung Numata yang pernah menjadi penanggungjawab infrastruktur keamanan nasional. Numata mengingat-ingat masa itu, itu pekerjaan yang berat dan saat gaji naik dua kali lipat itu artinya stresnya lima kali lipat.

“Pasti saat itu sulit, ya.” Kata Direktur.

“Bukannya sampai sekarang masih? Ada apa?” tanya Numata curiga.

“Itu… klien kita, Company M, kemungkinan dibeli sahamnya.” Kata pimpinan penuh harap ke Numata. Nabe khawatir kalau itu terjadi dan perjanjian bisnisnya dengan perusahaan kita dibatalkan…

Takenaka menambahkan, berarti 40% dari penjualan perusahaan kita akan hilang.

“Ah. Benar juga” Kata Pak Direktur dengan santai.

Numata geram, merememehkan sekali!

“Jika memburuk, kupikir memecat beberapa orang akan membantu.”

“Beberapa? Akan kuhancurkan peladennya sekarang, Pak Direktur!”

“Hal itu belum pasti, akan tidak baik jika membuat semua orang khawatir. Rahasiakan ini”

Numata masih setengah kesal. Pak Direktur mengancam Numata, kalau sampai dia tertangkap tangan menjadi informan apa bisa Numata bertanggungjawab?. Kunci mulutmu! Ini perintah Direktur!

Numata langsung mengunci mulutnya seperti resleting. Numata makan siang dengan Hino, Kazami ada di sekitaran mesin makanan. Numata tidak segera memakan panininya dan membuat Hino heran. Numata bukannya menanggapi tapi malah pindah ke sisi lain.

“Numata-san!” Panggil Hino ke Numata yang lagi jaga jarak. Karena tidak ditanggapi Hino lalu memanggil nama depannya “Yoritsuna!”

Tidak ada tanggapan lagi, Hino tak habis ide ia lalu memanggil Numata seperti memanggil ayam “Ckckckck!” (huwaahahahaaha!… aku jadi inget episode pas Numata teriak kaget dan teriakannya seperti ayam dicekek lehernya XD )

Numata ngambek, “Bisakah kau menjauh dariku?”

Kazami bertanya di mana Tsuzaki-san?.dance

Trivia:

      Baru bisa segini saja. Maaf ya…, part 2 dan 3 coming soon. Do’a kan saja jangan sampai sakit karena akhir-akhir ini kurang fit T_T #pancaroba #butuhDipelukGongYoo #DayDreaming

Gong Yoo – Goblin

Saat ini aku lagi naksir berat dengan Gong Yoo  ^^ #berbunga-bunga

Like FPnya untuk dapatkan update-annya>>>>> FANPAGE